Anda di halaman 1dari 17

PENGANTAR METODOLOGI STUDI ISLAM

Makalah ini Disusun Untuk memenuhi Tugas


Mata Kuliah Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu: Musa, M.E

Disusun Oleh
Nurul Fitriah (2131105)
MARDIANTO (2131118)

FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM


PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH KELAS 3D
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK
BANGKA BELITUNG
2022
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dan puji syukur kami ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan baik dan tepat waktu. Tanpa ridha dan petunjuk dari-Nya mustahil makalah ini
dapat dirampungkan.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pengajar mata
kuliah Metodologi Studi Islam sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul ”Pengantar Metodologi Studi Islam”.

Besar harapan kami bahwa makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan
sebagai pegangan dalam mempelajari materi tentang Metodologi Studi Islam. Juga
merupakan harapan kami dengan hadirnya makalah ini, akan mempermudah semua pihak
dalam proses perkuliahan pada mata Metodologi Studi Islam.

Sesuai kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”, kami mengharapkan saran dan
kritik, khususnya dari rekan-rekan mahasiswa dan mahasiswi. Kesempurnaan hanyalah
milik Allah SWT. Akhir kata, semoga segala daya dan upaya yang kami lakukan dapat
bermanfaat, amin.

Penyusun,

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan Pembahasan ....................................................................... 2
BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Metodologi .................................................................. 3
B. Pengertian Studi Islam ................................................................... 4
C. Urgensi Mempelajari Studi Islam ................................................. 6
D. Sejarah Pertumbuhan Studi Islam ................................................. 8
E. Aspek-Aspek Sasaran Studi Islam ................................................. 12

BAB III : PENUTUP


A. Kesimpulan ................................................................................... 13
B. Saran ............................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup di dunia dengan memiliki hak
dan kewajiban. Hak tersebut salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan adalah
suatu proses panjang yang bertujuan menghantarkan seorang yang memiliki
kekuatan spritual dan intelektual. Tempat dalam mencapai cita-cita melalui
pendidikan itu sendiri adalah sekolah. Sekolah merupakan bagian pokok atau utama
untuk mengembangkan berbagai karakter, sikap, kemampuan serta keterampilan
seorang individu. Dalam sekolah terdapat aktivitas untuk mengembangkan ilmu
pengetahuan, melatih mental, serta mengembangkan potensi. Pada dasarnya setiap
manusia mempunyai potensi, sehingga manusia mampu untuk hidup berkembang
dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran sangat dibutuhkan tiga hal
penting yaitu materi pembelajaran, proses pembelajaran, dan hasil pembelajarannya.
Setiap sekolah memberikan materi pelajaran sesuai dengan tingkatannya.
Mengupas sedikit tentang akidah akhlak, Pokok dari akhlak terhadap Allah
adalah meyakini keberadaan Allah SWT dengan melalui keesaan-Nya serta sifat
kesempurnaan-Nya. Islam merupakan agma yang sanga kompleks. Sehingga dalam
memahaminya pun dibutuhkan cara yang tepat agar dapat tercapai suatu
pemahaman yang utuh tentang islam. Di indonesia sejak islam masuk pertama kali
sampai saat ini telah timbul berbagai macam pemahaman yang berbeda mengenai
islam. Sehingga dibutuhkan penguasaan tentang cara-cara yang digunakan dalam
memahami islam. Maka dari itu, dalam makalah ini akan membahas mengenai
metodologi serta beberapa hal yang berkaitan dengan metodologi studi islam.

1
B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan metodologi?


2. Apa yang dimaksud dengan studi islam?
3. Mengapa studi islam penting untuk dipelajari?
4. Bagaimana sejarah pertumbuhan studi islam?
5. Apa saja aspek sasaran-sasaran studi islam?

C. Tujuan penulisan

1. Mengetahui dan memahami tentang metodologi studi islam.


2. Mengembangkan pemikiran pembaca, tentang pentingnya mempelajari studi
islam.
3. Mengetahui sejarah pertumbuhan studi islam.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metodologi

Metode secara bahasa atau etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta
yang berarti sepanjang dan hodos yang berarti jalan. Bermaksud bahwa suatu jalan
yang di tempuh untuk dalam suatu hal untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian lain,
bahwa metode artinya suatu ilmu ataupun cara menyampaikan segala sesuatu
kepada orang lain. Apabila metode bergabung dengan kata logos yang maknanya
akan berubah. Logos bermakna “studi tentang” atau bisa juga diartikan “teori
tentang”. Maka secara keseluruhan metodologi diartikan sebagai metode atau cara-
cara yang berlaku dalam kajian atau sebuah penelitian. Terlihat jelas bahwa arti
metodologi merupakan suatu cara-cara yang digunakan untuk mengakaji suatu ilmu
ataupun permasalahan secara keseluruhan, sehingga menemukan titik temu.
Metodologi adalah studi tentang metode yang digunakan suatu bidang ilmu agar
memperoleh pengetahuan mengenai pokok persoalan dari ilmu melalui aspek
tertentu melalui penyelidikan. Penyelidikan inilah yang nantinya akan dijadikan
sebuah kunci jawaban atas segala perkara yang muncul.

Bahkan Metedologi juga suatu ilmu yang membicarakan bagaimana cara


menyampaikan atau menyajikan bahan pelajaran sehingga dapat diserap, dipahami
dan dikuasai oleh anak didik, maka mempelajari metedologi saja, memang belum
merupakan jaminan seorang guru akan berhasil dengan baik akan tugasnya. Sebagai
akibat dari perubahan sosial dan kemajuan dibidang teknologi, maka muncullah
berbagai persoalan baru yang menuntut kepada manusia untuk segera menyesuaikan
dengan perubahan-perubahan tersebut.1

Contoh kegiatan metedologi islam, pada abad ke-14 sampai ke-16 Masehi,
Aristoteles (384-322 SM) orang jenius melebihi dari Francis Bacon, Plato lebih
jenius dari Roger Baconn. Mengapa kedua orang Bacon itu menjadi salah satu

M. Ali Hasan, Studi Islam Al-Quran dan As-Sunnah, (Jakarta:Raja Grafindo Persada,2000), hal:213.
1

3
faktor dalam kemajuan sains, sekalipun kedua orang tersebut jauh lebih rendah ,
tetapi justru membawa kemajuan–kemajuan ilmiah dan kebangkitan. Sedangkan
kedua orang jenius tidak mampu membawa Eropa ke arah kemajuan, justru
sebaliknya, kedua orang tersebut membuat stagnasi dan kebodohan dunia.2

B. Pengertian Studi Islam

Metodologi perlu di sambung dengan studi agar berjalan secara selaras.


Studi ialah mempelajari sesuatu untuk mengerti level, mencari pengetahuan tentang
sesuatu di dalam hubungan sebab maupun akibatnya, ditinjau dari jurusan tertentu
dengan metode tertentu. Metodologi berkaitan dengan proses-proses kognitif yang
dituntut oleh masalah-masalah yang muncul dari ciri pokok studi itu sendiri. Dapat
dikatakan bahwa metode merupakan kombinasi sistematik dari proses-proses
kognitif. Proses kognitif dapat menjadikan sesuatu yang akan dikaji, lebih mudah.
Dalam mengkaji suatu ilmu harus dengan metode yang benar agar tidak terjadi
kekeliuran dan kesalahpahaman. Apalagi memahami studi islam ini, tidak boleh
sembarangan dan main-main. Namun harus melalui contoh dari Rasulullah SAW.
Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad diyakini dapat
terwujudnya kebutuhan manusia sejahtera lahir dan batin.
Islam yang mengatur segala sendi kehidupan, misalnya dari segi peradaban.
Peradaban kontemporer sangat menghargai ilmu pengetahuan karena sebagai alat
untuk mencapai kebenaran. Kebenaran dapat dikatakan apabila sudah sesuai dengan
yang Allah dan Rasul contohkan. Manusia yang ingin hidupnya terarah harus mau
mengikuti aturan islam, tentunya aturan islam ini harus dipahami dan juga harus
melihat situasi serta kondisi. Islam datang sebagai rahmatan lil a’lamin. Sesuai
dengan firman allah yang artinya ”dan kami tidak mengutus engkau (muhammad)
melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Islam juga bukan hanya
mengurusi sosial ibadah dan seluk beluk yang terkait dengannya saja, melainkan

Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer,(Jakarta:Pustaka Sinar Harapan,2010) hal:149


2

4
juga ikut terlibat memberikan jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi berbagai
masalah.3
Namun Studi Islam secara harfiah merupakan kajian tentang hal-hal yang
berhubungan atau berkaitan dengan agama Islam baik berkaitan dengan ajaran,
sejarah ataupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan
sehari-hari sepanjang sejarah peradabannya. Salah satu ajaran islam yang harus
diterapkan adalah keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah. Iman serta takwa
merupakan konsep yang sangat terpenting untuk diketahui serta dilaksanakan dalam
kehidupan manusia.
Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.
Studi islam adalah suatu upaya membimbing untuk merubah tingkah laku individu
agar menjadi pribadi yang lebih baik yang sesuai dengan tuntunan yang ada dalam
syariat islam.
Ajaran studi islam menjadi suatu kegiatan usaha (sengaja), sistematis, serta
berkesinambungan untuk mengembangkan potensi manusia yang berupa dorongan
untuk beragama Islam, memberikan sifat keislaman serta kecakapan, kecekatan
sesuai dengan tujuan pendidikan agama Islam. Sifat keislaman yang menyelaraskan
dengan studi hukum islam. Studi hukum Islam adalah cabang ilmu-ilmu keislaman
paling tua umurnya serta telah dikembangkan pada zaman tabi’in. Cabang ilmu ini
yang perlu di pelajari melalui pendidikan. Di dunia Islam banyak ahli-ahli ilmu
pengetahuan. Banyak ilmuan yang berjasa dalam memberikan dampak positif.
Dengan mengingat kegigihannya, maka akan menjadi motivasi kita. Selain itu, ada
kalangan ilmuan luar islam yang mengkaji studi islam. Para ahli studi Islam yang
berasal dari luar kalangan umat Islam (outsider) tersebut dikenal dengan kaum
orientalis atau orang-orang Barat yang melakukan pengkajian tentang dunia Timur
termasuk dunia Islam. Dahulu, St. John sebagai seorang penganut teologi Kristen
yang berpikir bahwa Islam adalah ajaran murtad. Namun, di masa sekarang ini
sepertinya para orientalis mulai berpindah haluan, banyak diantara mereka yang
memberikan berbagai pandangan yang objektif, kritis, serta ilmiah terhadap Islam

Abuddin Natta, Metodologi Studi Islam,(Jakarta: Raja Grafindo Persada,2010), hal:2-3


3

5
serta pemeluknya. Hal tersebut sangat berguna terhadap pengembangan studi Islam
di kalangan umat Islam sendiri (insider). Bahwa pemikiran dan studi Islam
senantiasa strukturnya terbuka, berubah, dan selalu siap untuk dikritisi serta
dikembangkan. Maka dalam hal ini, bahwa harus berfikir secara komprehensif.
Dengan cara berfikir demikian, maka orang tidak melihat dari sudut pandang
saja serta sadar dengan moral yang dimiliki. Studi Islam di dalam kalangan umat
Islam bertujuan untuk proses memahami, menggali, dan membahas ajaran-ajaran
islam supaya mereka dapat mengaplikasikannya serta mengamalkan ajarannya
dengan baik dan benar. Melalui kajian Islam yang objektif serta ilmiah, maka
ajaran-ajaran Islam bukan hanya sekedar dogma-dogma teologis tetapi ajaran yang
dipercaya sebagai ajaran abadi dan universal itu benar-benar berkembang, relevan,
dibutuhkan, serta mampu menjawab tantangan zaman yang dinamis. Sebagai umat
islam harus mengembangkan potensinya agar berfikir kritis.

C. Urgensi Mempelajari Studi Islam

Pada zaman modern banyak negara bersaing membentuk negara yang


semakin maju, oleh karena itu sangat dianjurkan setiap negara menciptakan generasi
muda yang berkulaitas. Apalagi sebagai mahasiswa yang di tuntut menjadi
bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan
yang sangat urgen yang harus di penuhi oleh seluruh umat manusia. Urgen yang
dimaksud yakni yang mengenai tentang metodologi studi islam. Pada saat ini umat
islam sedang menghadapi tantangan dari kehidupan dunia dan budaya modern, studi
keislaman menjadi sangat urgen. Studi islam dituntut untuk membuka diri terhadap
masuknya dan digunakannya pendekatan- pendekatan yang bersifat objektif dan
rasional. Dan secara bertahap meninggalkan pendekatan yang bersifat subjektif
doktriner.4 Proses pengajaran islam hingga saat ini belum tersusun secara sistematis
dan belum disampaikan menurut prinsip, pendekatan, dan metode yang
direncanakan dengan baik. Namun untuk kepentingan akademis, membuat islam

Yusuf Ali Anwar, Studi Agama Islam, (Bandung:Pustaka Setia,2003), hal:258


4

6
lebih responsive dan fungsional dalam memandu perjalanan umat islam, diperlukan
metode yang dapat menghasilkan pemahaman islam yang utuh dan komprehensif.

Pada abad pertengahan, eropa dalam keadaan stagnasi dan masa bodoh dalam
waktu seribu tahun. Tetapi stagnasi dan masa bodoh tersebut kemudian menjadi
kebangkitan revolusioner yang multifaset dalam bidang sains, seni, dan kehidupan
sosial. Revolusi yang mendadak dalam pemikiran manusia ini menghasilkan
peradaban kebudayaan. Sekarang apa yang terjadi pada dirinya yang menyebabkan
perubahan mendadak sehingga dalam waktu 300 tahun Eropa menemukan
kebenaran yang mereka peroleh dalam waktu seribu tahun yang lalu?

Seorang sarjana Iran, Ali Syariati mengatakan bahwa faktor utama yang
menyebabkan kemandekan dan stagnasi dalam pemikiran peradaban kebudayaan di
Eropa tersebut adalah metode pemikiran analogi aristoteles.5 Pada saat melihat
metode yang tepat masalah berubah, maka sains, masyarakat, dan juga dunia
berubah. Inilah pentingnya metode sebagai fektor fundamental dalam renaisans.

Begitu pentingnya peranan metode pemahaman ajaran islam dalam kemajuan dan
kemunduran pertumbuhan ilmu. Mukti Ali mengatakan bahwa yang menentukan
dan membawa stagnasi adalah metode yang digunakan. Sebagai contoh abab ke 14-
16 M Aristoteles lebih jenius bila dibanding Francis Bacon. Namun mengapa justru
bacon menjadi orang yang menyebabkan kemajuan dalam sains sekalipun dia lebih
rendah tingkat kejeniusannya disbanding Aristoteles? Hal ini dijawab oleh mukti ali
karena orang yang biasa- biasa saja seperti bacon dapat menemuka metode berpikir
yang benar dan utuh.

Hal demikian, bukan bermaksud untuk merendahkan orang- orang jenius.


Kejeniusan saja tidak cukup, namun harus dilengkapi dengan ketepatan memilih
metode yang digunakan untuk kerjanya dalam bidang pengetahuan. Pada dasarnya
metode digunakan untuk mencapai tujuan dalam mencari kebenaran ilmu dan
menggali kebenaran pengetahuan.Kewajiban pertama bagi peneliti adalah memilih

Yatimin Abdullah, Studi Islam Kontemporer(Jakarta:Pustaka Sinar Harapan,2010), hal:150


5

7
metode yang paling tepat untuk riset dan penelitiannya. Riset dan penelitian tidak
dapat dipisahkan dengan metode agar tercapai suatu kelogisan secara ilmiah.

D. Sejarah Pertumbuhan studi islam

1. Massa Rasulullah
a. Transformasi ilmu dilakukan secara lisan.
b. Rasul telah mengembangkan bibit pengembangan studi islam terutama tafsir
dan ushul fiqih. Hadis adalah penafsiran Rasul tarhadap Al-qur’an yang
didalamnya terdapat metode penerapan hukum.

2. Masa Pasca Rasulullah


a. Mulai muncul tradisi literer dimulai dengan pengumpulan Al-qur’an (masa
khulafaur rasyidin).
b. Hadis juga mulai dikumpulkan dan ditulis dalam sebuah kitab (masa dinasti
Abasiyyah). Para muhaddisin juga menyusun kriteria ilmiah bagi penerimaan
Hadis dengan kategori shahih, hasan dan dha’if.
c. Perkembanggan studi islam mencapai puncaknya pada masa Abasiyyah. Studi
islam yang dikembangkan hanya meliputi ilmu normatif islam yang
bersumber pada teks agama.6

3. Studi Islam di Dunia Barat


a. Kajian barat terhadap islam memunculkan orientalisme, yaitu kajian tentang
ketimuran. Kajian awal yang dilakukan orientalisme yang diselenggarakan
diperguruan tinggi dibarat memandang umat islam sebagai bangsa primitif.
b. Kajiannya difokuskan pada Al-qur’an dan pribadi nabi Muhammad secara
ilmiah yang hasilnya menyudutkan ajaran dan umat islam.

6
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan Masyarakat,(Jakarta:Gema Insani
Press,1995), hal:25-26

8
c. Pendekatan yang digunakan para orientalis bersifat lahiriah (eksternalisasi).
Agama islam hanya dipandang dari sisi luarnya saja menurut sudut pandang
barat.
d. Pada masa selanjutnya muncul karya-karya yang mengoreksi dan
merekonstruksi kajian orientalis lama, Karen adanya anomali (ketidaktepatan)
dalam studi islam. Tokohnya antara lain:Louis Massingnon, w. Montgomery
Watt, dan Wilfred Cantwell Smith.
e. Pendukung yang lengkap. Pendekatan yang digunakan antara lain: filologi,
antropologi, sejarah, sosiologi, psikologi, dan sebagainya. Islamic Studies
menjadi salah satu kajian yang dibuka di universitas barat dengan sarana.7

4. Studi Islam di Indonesia


a. Masa klasik (abad 7-15M)
 Melalui kontak informal, saluran perdagangan, perkawinan, dan tasawuf
 Para pedagang (arab, ppersia dan india) beberapa sebagai mubalighoh
 Materi pengajaran: kalimat syahadat, rukun iman, rukun islam
 Abad 13 muncul pendidikan langgar dan pesantren
b. Masa pra kemerdekaan
 Tahun 1909 muncul pendidikan madrasah yang didirikan oleh Syekh
Abdullah Ahmad di Palembang
 Tahun 1910, Syekh Tholib Umar mendirikan madrasah schoot di Batu
Sangkar tahun1923 diganti dengan dini’yah school dan tahun 1931 diganti
menjadi al-jam’iah al-islamiah
 Tahun 1915, Zainuddin Labib Al-Yunusi mendirikan madrasah diniyah di
Padang Panjang
 Muhammadiyah (berdiri tahun 1912) mendirikan HIS, sekolah guru, SD 5
tahun, dan madrasah.

7
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan Masyarakat,(Jakarta:Gema Insani
Press,1995), hal:26-27

9
 Al-irsyad (berdiri di Jakarta tahun 1913) mendirikan madrasah awaliyah
(3th), ibtidaiyah (4th), tajhizyah (2th), mualimmin (2th), dan takhassus (2th).
 Al-jami’ah Al-Wasliyah (berdiri tahun 1930 di Medan), mendirikan:
madrasah tajhiziyah (2th), ibtidaiyah (4th), tsanawiyah (2 th), qismul ali (3
th), dan takhassus (2th)
 Nidhamul ulama (didirikan tahun 1926). Mendirikan: madrasah awaliyah (
2th), ibtidaiyah (3th), tsanawiyah (3th), mu’alimmin wstha (2 th),
mu’alimmin ulya (2 th).
c. Pasca kemerdekaan
 Tahun 1952 studi islam pada tingkat dasar sampai menengah diseragamkan
melalui jenjang: MI (6 th), MTS 93 Th), dan MA (3 th).
 Pada tahun 1951 didirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negri (PTAIN)
yang kemudian menjadi Institute Agama Islam Negeri (IAIN) tahun 1960.

Selama penggal sejarah timbulnya Islam, peradaban dunia meliputi dua


kerajaan: yaitu Sasanid Persia dan Bizanti Roma yang bersuku Badui dan
pengembala unta yang hidupnya dengan cara berkabila-kabila dan berdagang. Suku
Quraisy yang hidup berdagang, yang mendominasi kota perdagangan Mekkah
dimana Muhammad juga memulai aktifitasnya dan di tempat itu pula islam pertama
kali diproklamirkan. Pendidikan Islam pada zaman awal dilaksanakan di masjid-
masjid. Mahmud Yunus menjelaskan bahwa pusat-pusat studi Islam klasik adalah
Mekkah dan Madinah (Hijaz), Bashrah dan Kufah (Irak), Damaskus dan Palestina
(Syam), dan Fistat (Mesir). Madrasah Mekkah dipelopori oleh Mu’adz bin Jabal;
madrasah Madinah dipelopori oleh Abu Bakar, Umar dan Ustman; madrasah
Bashrah dipelopori oleh Abu Musa al-Asy’ari dan Anas bin Malik; madrasah
Kuffah dipelopori oleh Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud; madrasah
Damaskus (Syiria) dipelopori oleh Ubadah dan Abu Darda; sedangkan madrasah
Fistat (Mesir) dipelopori oleh Abdullah bin Amr bin Ash’.
Pada zaman kejayaan Islam, studi Islam dipusatkan di ibukota negara, yaitu
Bagdad. Di Istana Dinasti Bani Abbas pada zaman al-Makmun (813-833), putra

10
Harun al-Rasyid, didirikan Bait al-Hikmah, yang dipelopori oleh khalifah sebagai
pusat pengembangan ilmu pengetahuan dengan wajah ganda; sebagai perpustakaan
serta sebagai lembaga pendidikan (sekolah) dan penerjemahan karya-karya Yunani
kuno ke dalam bahasa Arab untuk melakukan akselerasi pengembangan ilmu
pengetahuan. Di samping itu, di Eropa terdapat pusat kebudayaan yang merupakan
tandingan Bagdad, yaitu Universitas Cordova yang didirikan oleh Abdurrahman III
(929-961 M) dari Dinasti Umayah di Spanyol. Di Timur Islam, Bagdad, juga
didirikan Madrasah Nizhamiah yang didirikan oleh Perdana Menteri Nizham al-
Muluk; dan di Kairo, Mesir, didirikan Universitas Al-Azhar yang didirikan oleh
Dinasti Fatimiah dari kalangan Syiah.
Asal-Usul dan Pertumbuhan Studi Islam, Pendidikan Islam di Indonesia
tidak pernah lepas dari semangat penyebarana Islam yang dilakukan secara intensif
oleh para pendahulu dalam kerangka perpaduan antara konteks keindonesiaan
dengan keislaman.8 Pada awalnya pendidikan Islam, dalam bentuk halaqah-halaqah,
kemudian bentuk madrasah. Selain pesantren pendidikan Islam di Indonesia
diharapkan pada tantangan semakin berkembangnya model-model pendidikan.
Pertumbuhan minat untuk memahami Islam lebih sebagai tradisi keagamaan yang
hidup, yang historis. Ketimbang “kumpulan tatanan doktrin” yang terdapat dalam
Al-qur'an dan Hadis. Studi Islam kontenporer di Barat, berusaha keras menampilkan
citra yang lebih adil dengan mengandalkan berbagai pendekatan dan metode yang
lebih canggih dalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.

E. Aspek-aspek Sasaran Studi Islam

Antara agama dan ilmu pengetahuan masih dirasakan adanya hubungan yang
belum serasi. Dalam bidang agama terdapat sikap dogmatis, sedang dalam bidang
ilmiah terdapat sikap rasional dan terbuka. Oleh karena itu, aspek sasaran studi
Islam meliputi 2 hal yaitu:
1. Aspek sasaran keagamaan
Kerangka ajaran yang terdapat dalam Al-Qur'an dan hadits tetap dijadikan
sandaran sentralk agar kajian keislaman tidak keluar dan tercerabul dari teks dan
konteks. Dari aspek sasaran tersebut, wacana keagamaan dapat ditransformasikan

11
secara baik dan menajdikan landasan kehidupan dalam berperilaku tanpa
melepaskan kerangka normatif. Elemen dasar keislaman yang harus dijadikan
pegangan: pertama, islamn sebagai dogma juga merupakan pengamalan universal
dari kemanusiaan. Oleh karena itu sasaran study Islam diarahkan pada aspek-aspek
praktik dan emprik yang memuat nilai-nilai keagamaan agar dijadikan pijakan.
Kedua, Islam tidak hanya terbatas pada kehidupan setelah mati, tapi orientasi utama
adalah dunia sekarang. Dengan demikian sasaran study Islam diarahkan pada
pemahaman terhadap sumber-sumber ajaran Islam, pokok-pokok ajaran Islam
sejarah Islam dan aplikasinya dalam kehidupan. Oleh karena itu studi Islam dapat
mempertegas dan memperjelas wilayah agama yang tidak bisa dianalisis dengan
kajian empirik yang kebenarannya relatif.

2.  Aspek sasaran keilmuwan


Studi keilmuwan memerlukan pendekatan kritis, analitis, metodologis,
empiris, dan historis. Dengan demikian studi Islam sebagai aspek sasaran
keilmuwan membutuhkan berbagai pendekatan. Selain itu, ilmu pengetahuan tidak
kenal dan tidak terikat kepada wahyu. Ilmu pengetahuan beranjak dan terikat pada
pemikiran rasional. Oleh karena itu kajian keislaman yang bernuasa ilmiah meliputi
aspek kepercayaan normatif dogmatik yang bersumber dari wahyu dan aspek
perilaku manusia yang lahir dari dorongan kepercayaan.

8
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di rumah, sekolah, dan Masyarakat,(Jakarta:Gema Insani
Press,1995), hal:29

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Metode memahami yang pada intinya Islam harus dilihat dari berbagai
dimensi. Jika kita meninjau Islam dari satu sudut pandangan saja, maka yang
akan terlihat hanya satu dimensi saja dari gejalanya yang bersegi banyak.
Mungkin kita berhasil melihatnya secara tepat, namun tidak cukup bila kita
ingin memahaminya secara keseluruhan. Buktinya ialah Al-quran sendiri. Kitab
ini memiliki banyak dimensi, sebagiannya telah dipelajari oleh sarjana-sarjana
besar sepanjang sejarah. Satu dimensi, misalnya, mengandung aspek-aspek
linguistik dan sastra Al-quran. Para sarjana sastra telah mempelajarinya secara
terperinci. Dimensi lain terdiri atas tema-tema filosofis dan keimanan Alquran
yang menjadi bahan pemikiran hagi para filosof serta para teolog hari ini.
Dimensi al-quran lainnya lagi yang belum dikenal ialah dimensi manusiawinya,
yang mengandung persoalan historis, sosiofogis, dan psikologis. Dimensi ini
belum banyak dikenal, karena sosiologi, psikologi ilmu-ilmu manusia memang
jauh lebih muda dibandingkan ilmu-ilmu alam. Apalagi ilmu sejarah yang
merupakan ilmu termuda di dunia. Namun yang dimaksudkan dengan ilmu
sejarah di sini tidaklah identik dengan data historis ataupun buku-buku sejarah
yang tergolong dalam buku-buku tertua yang pernah ada.

3.2 Saran

Alhamdulillah, Akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami


berharap supaya makalah ini dapat berguna dan dapat dimanfaatkan oleh
kalangan banyak. Dan kami berharap kritik dan saran dari dosen pembimbing
dan teman-teman sekalian. Terima kasih.

13
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah,Yatimin.2010.Studi Islam Kontemporer.Jakarta:Pustaka Sinar Harapan.

Anwar,Yusuf Ali.2003.Studi Agama Islam.Bandung:Pustaka Setia.

Hasan, Muhammad Ali.2000.Studi Islam Al-Quran dan As-Sunnah.Jakarta:Raja


Grafindo Persada

Nahlawi,Abdurrahman An.1995.Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan


Masyarakat.Jakarta:Gema Insani Press.

Natta,Abudin.2010.Metodologi Studi Islam.Jakarta:Raja Grafindo Persada.

14

Anda mungkin juga menyukai