100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
375 tayangan26 halaman

Peningkatan Motorik Halus Anak dengan Playdough

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak TK Islam Azzurofah melalui kegiatan membentuk dengan playdough. Masalahnya adalah keterampilan motorik halus anak belum berkembang dengan optimal. Tujuannya adalah meningkatkan keterampilan motorik halus anak dengan metode praktek langsung membentuk playdough. Manfaatnya adalah sebagai bahan acuan guru, melatih keterampilan motor

Diunggah oleh

Be no
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
375 tayangan26 halaman

Peningkatan Motorik Halus Anak dengan Playdough

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak TK Islam Azzurofah melalui kegiatan membentuk dengan playdough. Masalahnya adalah keterampilan motorik halus anak belum berkembang dengan optimal. Tujuannya adalah meningkatkan keterampilan motorik halus anak dengan metode praktek langsung membentuk playdough. Manfaatnya adalah sebagai bahan acuan guru, melatih keterampilan motor

Diunggah oleh

Be no
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK


PADA KEGIATAN MEMBENTUK DENGAN MEDIA
PLAYDOUGH MELALUI METODE PRAKTEK
LANGSUNG DI TK ISLAM AZZUROFAH
KOTA TEGAL TAHUN 2021/2022

Nama Mahasiswa : Ratnasari


NIM : (836594007)
Alamat Email : Sari08764@gmail.com

ABSTRAK

Dalam perbuatan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah PKP
program S1 PG PAUD Universitas Terbuka dan untuk meningkatkan Motorik Halus
anak pada kelompok A TK Islam Azzurofah melalui kegiatan membentuk dengan
menggunakan playdough. Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan secara
bertahap sesuai dengan prosedur umum dan dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap
siklus dibuat 5 RPPH. Adapun manfaat penelitian ini adalah untuk memperbaiki kegiatan
belajar anak, meningkatkan kenerja, kreatifitas dan pemahaman guru, meningkatkan
mutu pembelajaran disekolah. Hasil dari peningkatan kemampuan anak adal
perkembangan Motorik Halus dari siklus I diperoleh nilai BSB 1 anak (10%), BSH 2
anak (20%), MB 4 anak (40%) dan BB 3 anak (30%), dan Siklus II diperoleh nilai BSB 4
anak (40%), BSH 5 anak (50%), MB 1 anak (10%) dan tidak ada yang nilai BB.
Kesimpulan dari penelitian II adalah bahwa melalui kegiatan membentk dengan
menggunakan playdough dapat kesempatan kepada anak untuk kreatifitas dalam setiap
kegiatan pembelajaran. Dengan kegiatan tersebut dapat meningkatkan kemampuan
Motorik Halus anak melalui dengan menggunakan playdough dapat memberikan
inspirasi dan mewujudkan model pembelajaran yang kreatif.

Kata kunci: motorik halus, usia 4-5 tahun, media playdough

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan anak usia dini adalah upaya yang dilakukan untuk menstimulasi,
membimbing, mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan mengasah
kemampuan dan keterampilan anak. Pendidikan bagi anak usia dini merupakan sarana
yang memberikan pengalaman bagi anak untuk belajar berinteraksi dengan
lingkungan sekitar atau lingkungan sosialnya. Didalam pendidikan anak usia dini
berfokus pada pengembangan fisik-motorik, kognitif, sosial, dan emosional, dan
bahasa anak. Tentunya fokus pada pemberian stimulasi untuk anak usia dini haruslah
disesuaikan dengan usia dan tahapan perkembangana anak. Pada dasarnya pendidkan
anak usia dini itu adalah upaya yang dilakukan oleh orangtua dan guru dalam
menciptakan lingkungan yang kondusif untuk anak dapat mengeksplorasi segala
sesuatu yang bertujuan untuk perkembangan aspek- aspek perkembangannya.
Selain kesempatan dan lingkungan yang kondusif dalam pendidikan anak usia
dini, media pembelajaran juga menjadi hal yang sangat mendasar bagi pendidikan
anak usia dini. Dalam kamus besar bahasa indonesia, media diartikan sebagai alat
perantara maupun penghubung. Pemahaman ini sahih, mengingat media berjalan
sebagai delegasi atau kontak antara satu individu dengan individu lainnya. Dalam
pembinaan remaja sangat penting pemanfaatan media untuk menyampaikan materi
tayangan dan mata pelajaran untuk anak, media pembelajaran remaja harus media
pembelajaran yang edukatif dan imajinatif, media pembelajaran imajinatif dan
edukatif mengandung pengertian media atau perangkat yang digunakan oleh guru
untuk menyampaikan topik pembelajaran kepada siswa. anak-anak harus memiliki
pilihan untuk menarik keuntungan anak-anak untuk mengikuti pengalaman yang
berkembang dan media juga harus memiliki nilai instruktif yang dapat mengajar dan
meningkatkan kapasitas formatif pada anak-anak. Salah satu media pembelajaran
yang inovatif dan edukatif yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran remaja
adalah media pembelajaran playdough, dengan media pembelajaran playdough anak-
anak dapat berimajinasi untuk membuat dan membuat sesuatu sesuai dengan pikiran
dan keinginan kreatifnya. Playdough adalah alat permainan edukatif yang cocok
untuk anak-anak dan dapat membantu perkembangan semua bagian remaja. Anak-
anak dapat menggunakan tangan dan perangkat keras untuk membingkai campuran
melalui pengalaman, anak-anak mengembangkan penggunaan ketangkasan,
kemampuan adaptasi telapak tangan dan jari, memperkuat penggunaan telapak tangan
dan jari-jari dan mempelajari penggunaan media dan latihan yang dapat menjiwai
kemajuan mesin halus anak-anak untuk menulis dan menggambar . Kemajuan kaum
muda, khususnya anak-anak yang berusia 3-4 tahun, saat ini sedang perkembangan
dan pertumbuhan pada aspek motoriknya.
Beberapa pengaruh penting motorik terhadap perkembangan individu
dikemukakan oleh Hurlock sebagai berikut:
a. Dengan gerakan yang terkoordinasi, anak-anak dapat melibatkan diri dan akan
mendapatkan sensasi kegembiraan. Misalnya, anak-anak merasa bahagia dengan
memiliki apa yang diperlukan untuk bermain dengan boneka, melempar dan
menangkap bola, atau bermain dengan mainan lain.
3

b. Dengan gerakan-gerakan yang terkoordinasi, anak-anak muda dapat berpindah dari


kondisi ketidakberdayaan dalam rentang kehidupan utama yang panjang, ke keadaan
yang lebih bebas.
c. Melalui perbaikan mesin, anak-anak dapat menyesuaikan diri dengan iklim umum,
salah satunya adalah iklim sekolah.
d. Melalui pengembangan mesin biasa, ini memungkinkan anak-anak untuk bermain
atau bergaul dengan teman-teman mereka, sementara peningkatan mesin yang tidak
biasa atau mengalami masalah akan membuat anak-anak tidak dapat hidup
berdampingan dengan teman-teman mereka, bahkan mereka akan terlepas atau
menjadi anak-anak kecil. ).
Dilihat dari persepsi di TK AZZUROFAH TEGAL ISLAM, bahwa 90% dari
10 anak berusia 4-5 tahun di Gathering A memiliki gerakan koordinasi halus yang
rendah. Hasil 90% dapat ditunjukkan dengan kesulitan anak-anak mengendalikan
perkembangan tangan menggunakan otot polos, misalnya anak-anak memegang dan
meremas dengan telapak tangan mereka saat melakukan latihan memetik,
melengkung, memutar, dan menekan. Dalam latihan membentuk dengan playdough,
anak-anak umumnya masih mengajukan pertanyaan saat melakukan latihan. Anak-
anak sebenarnya mengalami masalah mengosongkan pikiran ke dalam benda,
sehingga anak-anak masih dibantu oleh instruktur. Latihan dengan media playdough
masih jarang dilibatkan oleh pendidik dalam latihan framing. Terkait dengan masalah
ini, penting untuk mengembangkan lebih lanjut teknik pembelajaran yang seharusnya
dapat meningkatkan peningkatan mesin halus anak-anak, terutama dalam latihan
pembentukan. Dengan demikian, para ilmuwan memilih strategi melalui latihan
pengaturan dengan playdough sebagai cara untuk bekerja pada peningkatan mesin
yang baik pada anak-anak.
Dari kegiatan ini peneliti menawarkan solusi terkait permasalahan yang ada di
TK AZZUROFAH TEGAL ISLAM. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
informasi dan pengetahuan tentang metode atau pendekatan yang lebih baik dalam
merangsang keterampilan motorik halus pada anak usia 4-5 tahun.
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka peneliti mencoba melakukan
penelitian lebih lanjut mengenai masalah ini dengan judul penelitian:
“MENINGKATKAN KAMAMPUAN MOTORIK HALUS PADA KEGIATAN
MEMBENTUK DENGAN MEDIA PLAYDOUGH MELALUI METODE
PRAKTEK LANGSUNG DI TK ISLAM AZZUROFAH”
4

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah keterampilan motorik halus melalui
kegiatan membentuk dengan playdough anak belum berkembang dengan optimal.
Maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
”Bagaimanakah meningkatkan keterampilan motorik halus melalui kegiatan
membentuk dengan media playdough pada anak usia 4-5 tahun di TK ISLAM
AZZUROFAH TEGAL?”
C. Tujuan Pebaikan
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus
melalui kegiatan membentuk dengan media playdough metode praktek langsung pada
anak usia 4-5 tahun di TK ISLAM AZZUROFAH TEGAL?
D. Manfaat Perbaikan
1. Manfaat Bagi Guru
Dapat dijadikan sebagai salah satu bahan acuan guru untuk pengembangan
kemampuan motorik halus anak dengan menggunakan media yang kreativ dan
edukatif.
2. Manfaat Bagi Anak
Pemberian kegiatan membentuk menggunakan playdough dapat melatih
keterampilan motorik halus anak.
3. Manfaat Bagi Orang Tua

Dengan penelitian ini diharapkan orang tua memperhatikan belajar anak-anak


agar dapat mencapai hasil belajar yang maksimal, pada penelitian dalam aspek
perkembangan motorik halus anak.

KAJIAN PUSTAKA
A. Keterampilan Motorik Halus
1. Pengertian Motorik Halus
Motorik halus adalah kemampuan aktual yang meliputi otot jari, koordinasi
mata, tangan (pergelangan tangan, pangkal lengan atas) dan persendian pada bahu.
Gerakan terkoordinasi yang baik dapat disiapkan dan diciptakan melalui latihan dan
kegembiraan rutin, seperti bermain puzzle, menyusun balok, memasukkan objek ke
dalam bukaan seperti yang ditunjukkan oleh bentuknya, dll.
5

Menurut Moelichatoen, Motorik halus adalah gerakan yang memanfaatkan


otot-otot halus jari tangan dan tangan. Perkembangan ini merupakan keahlian yang
bergerak. Sementara itu, menurut Nur Salam, peningkatan mesin halus adalah
kemampuan seorang anak untuk memperhatikan sesuatu dan melakukan
perkembangan yang mencakup bagian tubuh tertentu dan otot-otot kecil, sehingga
tidak membutuhkan banyak tenaga.

2. Fungsi Perkembangan Motorik Halus

Perkembangan Keterampilan motorik berkembang sejalan dengan


kematangan saraf dan otot. Dengan cara ini, setiap perkembangan yang dibuat oleh
seorang anak, terlepas dari seberapa sederhana sebenarnya adalah konsekuensi dari
contoh komunikasi yang membingungkan dari berbagai bagian dan kerangka dalam
tubuh yang dibatasi oleh pikiran. Seperti yang dikemukakan oleh Mudjito,
memberikan beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik halus, yaitu:

a. Keterampilan Motorik, anak-anak dapat melibatkan diri dan mendapatkan sensasi


kegembiraan. Seperti anak-anak merasa ceria dengan memiliki kemampuan bermain
boneka, melempar dan menangkap bola atau bermain mainan lainnya.

b. Keterampilan Motorik, anak dapat berpindah dari kondisi suka menolong


(defenseless) pada masa-masa awal kehidupan, ke kondisi otonomi (bebas, tidak
bergantung). Kondisi ini akan menjunjung tinggi rasa percaya diri.

c. Keterampilan Motorik, anak dapat menyesuaikan diri dengan iklim sekolah. Pada
masa pra taman kanak-kanak (TK) atau kelas awal sekolah dasar, anak-anak saat ini
dapat dipersiapkan untuk menggambar, melukis, berbaris, dan menyusun rencana.

3. Karakteristik Perkembangan Motorik


Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2007:6) karakteristik
perkembangan yang berhubungan dengan motorik halus adalah:
a) Dapat mengoleskan margarin pada roti.
b) Dapat dibingkai dengan memanfaatkan kotoran atau plastisin.
c) Pegang kertas dengan satu tangan dan guntinglah.
d) Cermin runtuh beberapa lipatan kertas.
e) Variasikan gambar sesuka Anda.
f) Memegang pastel atau pensil dengan lebar yang ideal.
6

Berikut ini akan dipaparkan tingkat pencapaian kemajuan anak yang dapat
dicapai oleh anak-anak berusia 4-5 tahun dalam perkembangan motorik halusnya..
Sesuai Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tingkat pencapaian perkembangan
motorik halus anak usia 4-5 tahun adalah:
a) Mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan perkembangan yang
kompleks.
b) Tempatkan diri Anda di luar sana dengan membuat karya menggunakan media
yang berbeda.
c) Melakukan pengembangan manipulatif untuk menyampaikan struktur
menggunakan media yang berbeda.
d) Buat garis lurus ke atas, genap, bengkok ke kiri/kanan, miring ke kiri/kanan, dan
lingkaran.
e) Mengontrol perkembangan tangan dengan memanfaatkan otot polos (mengambil,
membelai, meremas, menggenggam, memutar, melengkung, menekan).
f) Mengikuti bentuk.
Dari penggambaran di atas, ilmuwan hanya memeriksa pengendalian
perkembangan tangan menggunakan otot polos dan mengkomunikasikan pikiran
mereka menggunakan media yang berbeda, melakukan perkembangan manipulatif
untuk membuat struktur menggunakan media yang berbeda, merencanakan mata dan
tangan untuk melakukan perkembangan yang kompleks, dan membuat garis.
4. Tujuan Motorik Halus
Sesuai Sujiono dalam Marliza, (2012) berpendapat bahwa "alasan
kemampuan terkoordinasi yang baik adalah untuk membuat anak-anak siap untuk
menjadi imajinatif seperti memotong, menggambar, mengarsir, dan berliku-liku atau
menjahit". Seperti yang dikemukakan oleh Madiarti, (2013) tujuan perbaikan mesin
halus untuk anak usia 4-6 tahun adalah:
a. Siap untuk membina kemampuan motorik halus yang baik terkait dengan
pengembangan kemampuan dua tangan.
b. Siap untuk menggerakkan bagian tubuh yang terhubung dengan perkembangan
jari: seperti dasar untuk mengarang dan menggambar.
c. Siap mengatur deteksi mata dan tangan.
d. Siap untuk menguasai perasaan dalam latihan motorik halus yang bagus.
7

Jadi motivasi di balik gerakan terkoordinasi yang baik adalah kemampuan


untuk menggerakkan pelengkap mereka yang menggabungkan koordinasi mata dan
tangan untuk bekerja dengan baik.

B. Kegiatan membentuk
1. Arti Membentuk
Menurut Sumanto membentuk adalah cara paling umum bekerja dengan
pengerjaan yang sepenuhnya dimaksudkan untuk menghasilkan karya tiga lapis (tri-
matra) yang memiliki volume dan ruang dengan media lumpur, dalam rangkaian aksi
komponen visual yang indah dan kreatif. Framing adalah gerakan imajinatif sebagai
enkapsulasi dari sebuah pemikiran, sebuah pemikiran dari struktur yang ada atau
ciptaan lain (tidak dipalsukan). Menurut Hajar Pamadhi, moulding adalah pembuatan
struktur, baik struktur terapan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari
maupun struktur imajinatif sebagai karya seni murni. Pembingkaian dalam latihan
pengerjaan adalah interpretasi dalam bahasa Belanda "boestseren" atau bahasa Inggris
"menampilkan". Pada umumnya, bahan yang digunakan untuk mencetak adalah
bahan halus seperti lumpur, playdough, plastisin dan semacamnya (Pelatihan
Kerajinan Cindelaras). ekspresi yang tidak dipalsukan.
2. Tujuan Membentuk
Tiga tujuan yang ingin dicapai melalui mata pelajaran pengerjaan. Pertama-
tama, anak-anak akan terlibat dengan pengalaman menggambar, melukis, menyanyi,
dan menggunakan bahan-bahan seperti tanah/playdough bukan untuk menjadi
seorang pengrajin melainkan untuk mengomunikasikan perasaan mereka. Kedua,
pengalaman menggambar atau membuat sesuatu dari playdough pada umumnya akan
menimbulkan sensasi kegembiraan pada anak. Ketiga, anak-anak membuat sesuatu,
tetapi mereka juga mengenal show-stoppers sebagai barang manusia yang menarik.
Menurut Sumanto menggambarkan alasan pembentukan, khususnya:
a. Sebagai media yang elaborasi, sebuah karya untuk mendapatkan rasa keagungan
(style) yang dapat memberikan pemenuhan, keterlibatan, sejumput cita rasa yang
indah, rasa kemahiran bagi saksi mata, kegembiraan, kepuasan untuk mempercantik
melalui peragaan model.
b. Sebagai media adat, mengenalkan jenis seni pahat antara lain diharapkan sebagai
rangkuman dari sisi positif keyakinan, kesucian, dan kebenaran dari para pemeluk
ajaran.
8

c. Sebagai mekanisme artikulasi, lambang keluarnya sentimen (artikulasi) dari


pembuatnya yang bebas, tidak terbatas, dan pribadi. Pekerjaan cetakan dapat
menghadirkan struktur unik sebagai karya artikulasi murni, atau merupakan
konsekuensi dari pembuatan/duplikasi struktur yang ada.
d. Sebagai dedikasi/tengara, contoh melindungi, menyebarkan, mengingat peristiwa-
peristiwa yang dapat diverifikasi dari insentif utama dan representatif untuk suatu
negara dan lokal.
Dari kajian di atas, diduga bahwa alasan membentuk adalah penegasan
perasaan atau jiwa seseorang dalam tiga bidang pekerjaan yang berlapis, yaitu bebas,
tidak terikat, dan pribadi.
3. Peralatan untuk Latihan Membentuk
Menurut Sumanto roda gigi yang digunakan untuk membentuk disesuaikan
dengan jenis bahan yang dipilih dan tata cara pembuatannya. Pembentukan
menggunakan jenis bahan yang halus dilakukan dengan cara yang keras dan
membutuhkan peralatan, khususnya spatula atau alat biji-bijian, alat pembubut seperti
pembuatan tembikar atau keramik. Menurut Mary Ellis memahami penggunaan
barang-barang keluarga yang dapat digunakan untuk membingkai dengan playdough,
lebih tepatnya, peniti, timbangan adonan, garpu, cuka, mangkuk, tisu, stik yogurt
beku, penggaris, digunakan kartu, botol percikan, pengering rambut. , kertas koran,
dll.
Dari kajian di atas dapat dimaklumi bahwa perangkat keras yang dapat
digunakan dalam latihan membentuk dapat berupa alat manual, spatula, butsir, alat
putar dan perlengkapan keluarga.
4. Prosedur Kegiatan Membentuk
Dalam kegiatan membentuk dengan playdough, ada langkah-langkah
pengerjaannya. Menurut Sumanto ada beberapa upaya untuk menyelesaikan kegiatan
playdough dengan playdough, antara lain sebagai berikut:

a. Pendidik merencanakan bahan playdough sebagai media balok atau lingkaran


untuk disebarkan ke setiap anak dan kertas koran untuk setting tempat atau tempat
untuk meletakkan kotoran.
b. Instruktur mengarahkan langkah-langkah fungsi moulding dengan memberikan
tampilan display bahan playdough dengan ukuran yang cukup besar agar lebih mudah
bagi anak-anak untuk memperhatikan bentuk. Pendidik dapat menyelesaikan pameran
9

dengan foto-foto gerakan menuju struktur model mainan dari berbagai bentuk yang
menempel di papan tulis dan contoh konsekuensi dari membingkai mainan yang
dibuat sangat banyak.
c. Instruktur mengingatkan anak-anak untuk melakukan latihan pencetakan secara
diam-diam dan setelah menyelesaikan proses pembersihan/pembersihan area tinjauan
dan pembersihan.
d. Setiap tahapan pembentukan item yang telah dibuat oleh anak muda diberikan
dukungan dan inspirasi oleh pendidik.
Dari gambaran di atas, dapat diduga bahwa ada beberapa gerakan kerja ke
arah latihan framing, khususnya merencanakan materi, mengarahkan dengan
memberikan peragaan bentuk, membersihkan tempat belajar dan memberikan
dukungan dan inspirasi.

C. Playdough
1. Arti Playdough
Menggenggam Playdough Play atau Bermain dalam bahasa Inggris, adalah
suatu tindakan yang terus dilakukan oleh anak-anak mulai dari remaja hingga dewasa
bahkan sepanjang hidupnya. Bermain adalah latihan setiap anak, termasuk teknik
mengenal dunia. Bermain tidak hanya menghabiskan waktu tetapi merupakan
kebutuhan anak-anak. Menurut Mayesty, bermain adalah tindakan yang dilakukan
anak-anak sepanjang hari karena bagi anak-anak bermain adalah hidup dan hidup
adalah permainan.
Playdough merupakan media yang tidak sulit didapat, wajar, dan untuk anak-
anak. Playdough juga dapat dibuat oleh instruktur yang digunakan sebagai media
pembelajaran. Terlebih lagi, playdough adalah permainan yang sangat menyenangkan
untuk anak-anak. Menurut Diyu, playdough adalah alat bantu belajar berupa adonan
mainan yang terbuat dari tepung terigu yang efektif dibentuk oleh anak-anak, yang
berguna untuk melatih ketangkasan.
Anik Pamilu mengungkapkan bahwa dengan memanfaatkan permainan
lumpur atau campuran tepung, anak-anak dapat membuat berbagai macam barang.
Dengan membuat berbagai bentuk yang disukai anak-anak, anak-anak
mengekspresikan perasaan mereka, tetapi juga mengembangkan kemampuan
koordinasi yang baik.
10

Salah satu latihan bermain yang diharapkan dapat lebih mengembangkan


koordinasi gerak halus anak adalah permainan menggunakan adonan atau sering
disebut dengan playdough. Latihan-latihan yang memanfaatkan media playdough
dapat memberikan hiburan bagi anak-anak, khususnya. Playdough (play-doh) adalah
mainan adonan (play = play, campuran = campuran) atau mainan plastisin yang
merupakan jenis mainan mud (tanah) yang mutakhir. Ini membingkai campuran lain
dengan perangkat keras bermain. Latihan yang menggunakan media playdough juga
tidak membuat anak lamban, karena anak-anak akan terus memanfaatkan
kreativitasnya untuk membuat bentuk-bentuk baru dan baru, selain itu latihan
bermain dengan menggunakan media playdough membutuhkan kemampuan adaptasi
dan engine linkage yang baik dari anak-anak dalam pelaksanaannya. Latihan bermain
menggunakan media playdough sangat sederhana dan wajar, karena media ini dapat
dibuat sendiri dari bahan yang mudah, efisien, dan mudah dilacak.
2. Kelebihan dan Kekurangan Playdough
Rachmawati, mengungkapkan bermain Playdough memiliki banyak manfaat,
khususnya saat yang sangat baik bagi anak-anak dan anak-anak dapat membentuk
struktur yang berbeda sesuai dengan keinginan anak dan topik yang diterapkan.
Seperti, mempermudah anak-anak untuk membentuk artikel yang disukainya.
Membuat tangan anak bergerak secara terbuka. Bagaimanapun, Playdough memiliki
hambatan bahwa seseorang tidak dapat membingkai bentuk dengan artikel yang
sangat besar karena membutuhkan ruang yang besar dan perawatan yang kacau.
3. Kelebihan Playdough
Keuntungan yang diperoleh saat menerapkan playdough, lebih spesifik:
sebuah. Kapasitas Aktual Mesin Halus Anak Muda
b. Buatlah sederhana bagi anak-anak untuk membingkai artikel yang ideal.
c. Mellow jari anak muda itu.
d. Membuat otot-otot ringan berfungsi dengan baik.
4. Bergerak menuju Terapkan Playdough
Rachmawati dan Kurniati mengungkapkan bahwa pemanfaatan media
playdough dimaknai menjadi dua bagian, yaitu pada saat kesiapan sebelum
pembelajaran dan pada saat pembelajaran. Untuk memulainya, perencanaan sebelum
pembelajaran mencakup penetapan tujuan pembelajaran, menyiapkan playdough.
Kedua, selama pembelajaran, pendidik mengisolasi anak-anak ke dalam beberapa
11

kelompok kecil, menyajikan media playdough, menyampaikan media playdough


untuk setiap anak, dan anak-anak diizinkan untuk membingkai item yang ideal.

D. Metode Praktek Langsung


1. Pengertian Metode Praktik Langsung
Praktik langsung, atau hands –on learning, adalah istilah khas dalam
pembelajaran sains. Praktek langsung adalah pertemuan instruktif yang melibatkan
anak-anak secara efektif dalam mengontrol item untuk memperluas informasi atau
pengalaman. Haury Rillero, 1994. Meinhard Haury Rillero, 1994 mengusulkan bahwa
latihan praktik langsung adalah latihan menggunakan objek, melalui benda hidup dan
tak bernyawa, yang langsung dapat diakses untuk digunakan. belajar. Flick Haury
Rillero, 1994 mengemukakan dua pandangan umum tentang praktik langsung,
khususnya pemahaman yang luas dan terbatas. Pertama-tama, praktik yang terlibat
secara komprehensif dicirikan sebagai cara berpikir tentang bagaimana dan kapan
menggunakan metodologi pertunjukan yang berbeda yang diharapkan untuk
mengawasi keragaman ruang belajar. Kedua, praktik langsung hampir tidak dicirikan
sebagai sistem bimbingan tertentu, khususnya ketika anak-anak secara efektif terlibat
dengan materi pengendalian. Haury Rillero, 1994. Sedangkan menurut Fatthurrahman
2007:64 praktek langsung adalah suatu teknik pemberian bahan ajar dengan
menggunakan alat atau bahan, misalnya ditunjukkan dengan keinginan siswa yang
jelas dan sederhana sekaligus memiliki pilihan untuk melatih materi yang dirujuk.
Dari beberapa definisi di atas, sangat mungkin beralasan bahwa strategi pembelajaran
langsung bekerja adalah suatu teknik dimana anak-anak dapat langsung terlibat dalam
pembelajaran melalui penyusunan materi dan kemudian dipertunjukkan
menggunakan suatu perangkat atau benda.
2. Manfaat Metode Praktik Langsung
Manfaat penggunaan metode praktik langsung seperti yang ditunjukkan oleh
Niffa 2014 adalah sebagai berikut:
a. Anak-anak akan lebih banyak menerapkan materi yang diperkenalkan oleh
pendidik.
b. Anak dapat mendemonstrasikan dan menerima hipotesis setelah ia mencobanya.
c. Anak-anak tidak bingung dengan hipotesis yang diperkenalkan.
d. Anak-anak segera dihadapkan dengan masalah nyata.
e. Kemampuan anak-anak naik ke level berikutnya
12

3. Kelebihan dan Kekurangan Metode Praktik Langsung


a. Kelebihan
1. Belajar lebih penting karena anak-anak bisa langsung belajar dan menangani
masalah dengan mudah.
2. Metode ini sesuai dengan model pembelajaran konstruktivisme yang sedang
diciptakan dalam realisasi saat ini, yaitu menjiwai anak untuk berpikir dalam
menangani masalah.
3. Siswa lebih mudah dilihat tanpa henti.
4. Siswa dapat segera berlatih setelah mendapatkan hipotesis.
b. Kekurangan
1. Sesekali biayanya banyak, terutama dalam tindakan langsung perangkat tertentu.
2. Tanpa arahan yang baik, biasanya ada anak-anak yang mengalami masalah dan
tidak mendapatkan arahan yang sah dari instruktur.
3. Tidak adanya instrumen atau kerangka pendukung.
4. Langkah-Langkah Dalam Pelaksanaan Metode Praktek Langsung
a. Rencanakan instrumen dan bahan yang akan dipraktekan.
b. Pendidik berlatih di depan anak-anak dengan lugas.
c. Jika tidak berbahaya bagi anak, anak dapat mencoba untuk melatih apa yang telah
dipoles oleh pengajar di bawah arahan instruktur.
Melalui praktek langsung, anak-anak diharapkan memperoleh wawasan
melalui kolaborasi langsung dengan objek. Model: Pendidik menuangkan pasir ke
dalam kaleng. Pendidik menonjolkan kata-kata dalam jargon untuk berkenalan
dengan anak.
5. Manfaat Metode Praktik Langsung
Metode praktik langsung memiliki beberapa manfaat, khususnya:
a. Perkuat kapasitas esensial anak muda
b. Hidupkan kecenderungan dan pola pikir agar apa yang disadari anak bisa lebih
signifikan atau signifikan, pantas, dan berharga. Hal-hal yang disebutkan di atas dapat
berhasil jika anak juga mengetahui gambaran umum tentang dampak latihan dan
latihan atau penggunaannya untuknya.

RENCANA PERBAIKAN
A. Subjek Penelitian
1. Lokasi
13

Penelitian tersebut di lakukan di TK ISLAM AZZUROFAH yang


beralamat lengkap di JL. Salak no.115 Kelurahan Pekauman Kecamatan
Tegal Barat Kota Teagal. Semester 2 Tahun Pelajaran 2021/2022.
2. Waktu Pelaksanaan
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan dengan 2 siklus, setiap
siklusnya dilakukan 5 kali pertemuan, yaitu :
a. Pra Siklus : Senin, 11 April 2022
b. Siklus 1 : Selasa-Sabtu, 19-23 April 2022
c. Siklus 2 : Senin-Jumat, 9-13 Mei 2022
3. Tema
Dalam pelaksanaan Penelitian tindakan Kelas ini penelitian mengambil
Tema :
Siklus 1 Tema Pekerjaan (Petani)
Siklus 2 Tema Lebaran
4. Kelompok
Dalam penelitian ini sebagai subjek penelitian adalah anak Kelompok
A TK ISLAM AZZUROFAH Kota Tegal jumlah 10 anak yang terdiri dari 6
anak laki-laki dan 4 anak perumpuan.

Jenis Kelamin
No Nama Laki-
Perempuan
laki
1 Ahmad abdullah Al Haadii V
2 Alby Azka Rabbani V
3 Amanda Rafania Shakira V
4 Arun daya islam V
5 Fachrie Ramadhan V
6 Hanesa Untari Alfarizqi V
7 Muhamad Dio V
Muhammad Rasyiqul
8 V
Habibi
9 Nabila Nisa Faraithurohman V
10 Raras Ali Farzan V
14

5. Karakteristik anak
Karakteristik TK ISLAM AZZUROFAH Kota Tegal Kelompok TK A
antara lain : anak aktif dan energik, sangat unik karna masing-masing anak
memilii minat, karakter bawaan, dan anak memiliki kemampuan keterampilan
motorik halus yang masih rendah. Hasil 90% tersebut dapat dibuktikan
dengan kesulitan anak mengontrol gerakan tangan yang menggunakan otot
halus, misalnya anak menggenggam dan menekan dengan telapak tangan saat
kegiatan menjumput, memelintir, memilin, dan meremas. Dalam kegiatan
membentuk dengan playdough anak masih kesulitan menuangkan ide ke
dalam bentuk suatu benda, sehingga anak masih dibantu oleh guru.

B. Deskripsi Rencana Tiap Siklus


1. Rencana Pelaksanaan
a. Pra Siklus
1) Perencanaan
Dalam rencana kegiatan bermain playdough untuk meningkatkan
kemampuan motorik halus anak kelompok TK A TK Islam
Azzuroffah masih belum optimal, terutama dalam peningkatan aspek
motorik halus
a) Penyususnan Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran berdasarkan matrik semester 2, Rencana
Kegiatan Minggu (RKM), Rencana Pelaksanaan Pembelajarn
Hasil (RPPH), dan Evaluasi atau Penilaian
b) Mempersiapkan bahan ajar atau Materi Pengembangan
c) Materi yang diambil pada penelitian ini berdasarkan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada lingkup perkembangan
Motorik Halus. Dalam hal ini penelitian menpunyai keinginan
meningkatkan kemampuan Motorik Halus anak melalui bermain
Playdough
d) Menyiapan alat dan bahan berupa playdough
e) Menyiapan instrumen penelitian untuk melihat tingkat
keberhasilan anak didik
2) Pelaksanaan
a) Indikator yang dicapai
15

Perkemampuan Motorik Halus dalam hal ini peneliti mempunyai


keinginan meningkatkan Motorik Halus anak dalam kegiatan
membentuk menggunakan media playdough.
b) Alat dan bahan
Alat yng digunakan berupa adonan playdough
c) Metode
Pelaksanaan penelitian dengan media playdough melalui metode
praktek langsung
d) Langkah-langkah pembelajaran
I. Kegiatan AwalPembelajaran (30 menit)
Penelitian menyiapkan alat dan bahan ajar yang akan
dilaksanakan
 Anak berbaris di depan kelas, melakukan fidik motorik
kasar, kemudian masuk dan duduk melingkar
 Melakukan sapaan dan salam terhadap anak
 Berdo’a sebelum melakukan kegiatan
 Menjelaskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan
II. Kegiatan Inti (60 menit)
 Anak duduk menghadap ke depan papan tulis dengan
posisi anak yang lebih kecil berada di barisan terdepan,
sedang guru duduk di depan menghadap anak-anak
 Peneliti memperlihatkan alat yang akan digunakan untuk
kegiatan
 Peneliti menjelaskan cara menggunakan playdough dan
memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba
 Peneliti memberikan arahan dan motivasi kepada anak
yang belum bisa
 Peneliti mendokumentarikan saat anak sedang
melakukan kegiatan
III. Kegiatan Penutup (30 menit)
 Peneliti kegiatan yang telah dilakukan
 Selesai kegiatan, berdo’a sebelum pulang, salam dan
penutup
16

3) Pengamatan
Sebelum diadakan penelitian masih terdapat beberapa anak
yang kesulitan mengontrol gerakan tangan yang menggunakan otot
halus, misalnya anak menggenggam dan menekan dengan telapak
tangan saat kegiatan bermain playdough.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dapat
disimpulkan bahwa guru belum berhasil dalam melalukan
pembelajaran, maka penelitian mengambil keputusan untuk
mengajakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
b. Deskripsi Siklus I
1) Perencanaan Tindakan
a) Penyusunan rencana pembelajaran
Pembuatan RPPH berdasarkan Program semester, RPPH
mengacu pada Kurikulum TK yang ada.
b) Menyiapkan bahan ajar yang diambil dari kurikulum bidang
pengembangan
c) Menyiapkan alat dan bahan
2) Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan didalam siklus I dengan langkah-langkah
KBM sebagai berikut :
a) Indikator yang dicapai
Anak mampu meniru bentuk (playdough)
b) Alat dan bahan
Alat yang digunakan berupa tepung terigu, minyak, pewarna, air,
dan baskom
c) Metode
Pelaksanaan pembelajaran menggunkan metode praktek
langsung.
d) Langkah-langkah
I. Kegiatan Awal (30 menit)
 Anak berbaris di depan kelas, melakukan fisik motorik
kasar, kemudian masuk dan duduk melingkar
 Melakukan sapaan dan salam terhadap anak
 Berdo’a sebelum melakukan kegiatan
17

 Menjelaskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan


II. Kegiatan Inti (60 menit)
 Anak duduk menghadap ke depan papan tulis dengan
posisi anak yang lebih kecil berada di barisan terdepan,
sedang guru duduk di depan menghadap anak-anak
 Peneliti memperlihatkan alat yang akan digunakan untuk
kegiatan
 Peneliti menjelaskan cara membuat adoanan playduogh
dan memperagakannya
 Peneliti memberi kesempatan kepada anak untuk
mencoba
 Peneliti memberikan arahan dan motivasi kepada anak
yang belum bisa
 Peneliti memberikan reward bagi anak yang berhasil
dengan bintang
III. Kegiatan Akhir (30 menit)
 Peneliti mengulas kegiatan yang telah dilakukan dengan
tanya jawab
 Peneliti melakukan Tepuk “Pekerjaan” dan anak
mengikutinya
 Selesai kegiatan, berdo’a sebelum pulang, salam dan
penutup
3) Pengamatan Tindakan
Dalam kegiatan membuat adonan playdough anak-anak sudah
mulai terlihat menyukai kegiatan tersebut.
Anak-anak terlihat aktif dan antusias mengikuti kegiatan,
sehingga pembelajaran bisa tercapai dengan hasil yang baik
dibantingkan sebelum diadakannya penelitian.
4) Refleksi
Dalam hal ini peneliti merasa hasil pembelajaran pencapaian
kemampuan Motorik Halus dengan cara membuat adonan playdough
yang dilakukan oleh anak-anak masih belum mendapatkan hasil
18

yang sesuai dengan harapan peneliti, maka dari itu peneliti


melakukan siklus II.
c. Diskripsi Siklus II
1) Perencanaan Tindakan
a) Penyusunan RPPH sama dengan Siklus I
b) Menyiapkan bahan ajar yang diambil dari kurikulum bidang
pengembangkan kelompok A
c) Menyiapkan alat dan bahan
d) Menyiapkan alat evaluasi untuk mengetahui hasil peningkatan
keberhasilan pembelajaran
2) Pelaksanaan Tindakan
a) Indikator yang dicapai
Melakukan eksplorasi dengan berbagai media dan kegiatan
b) Alat dan bahan
Alat yng digunakan berupa adonan playdough
c) Metode
Pelaksanaan pembelajaran menggunkan metode praktek
langsung.
d) Langkah-langkah
I. Kegiatan Awal (30 menit)
 Anak berbaris di depan kelas, melakukan fisik motorik
kasar, kemudian masuk dan duduk melingkar
 Melakukan sapaan dan salam terhadap anak
 Berdo’a sebelum melakukan kegiatan
 Menjelaskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan
II. Kegiatan Inti (60 menit)
 Anak duduk menghadap ke depan papan tulis dengan
posisi anak yang lebih kecil berada di barisan terdepan,
sedang guru duduk di depan menghadap anak-anak
 Peneliti memperlihatkan alat yang akan digunakan
untuk kegiatan
 Peniliti meminta anak untuk membentuk makanan
menggunakan playdough
19

 Peneliti memberi kesempatan pada setiap anak untuk


melakukan kegiatan secara mandiri
 Peneliti memberikan kesempatan pada anak untuk
menceritakan hasil temuannya dalam kegiatannya
III. Kegiatan penutup (30 menit)
 Peneliti mengulas kegiatan yang telah dilakukan dan
membahas hasil dengan anak
 Peneliti memberi arahan dn motivasi kepada anak
 Selesai kegiatan, berdo’a sebelum pulang, salam dan
penutup
3) Pengamatan Tindakan
Berdasarkan hasil penelitian penguasaan anak dalam
membentuk dengan menggunakan playdough sangat menyenangkan
bagi anak kelompok A TK Islam Azzuroffah Kota Tegal. Hasil
prestasi belajar anak juga meningkat. Anak sangat antusias dalam
mengikuti kegiatan membentuk menggunakan playdough.
4) Refleksi
Dalam hal ini peneliti merasakan hasil kegiatan pembelajaran
membentuk dengan menggunakan playdough yang dilakukan pada
Siklus II sudah dengan harapan, maka dari itu peneliti memutuskan
untuk mengakhiri penelitian di Siklus II.
2. Prosedur Pelaksanaan PTK
Dalam pelaksanaan PTK ini yang menjadi Supervisor dan penilai
adalah Ibu Zakiah Zahra, S.Pd. Tugasnya adalah membimbing, saran, dan
menilai kinerja guru dalam perencanaan, pelaksanaan, refleksi, dan
perbaikan.
3. Pencana Pengamatan dan Pengumpulan Data
a. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini yaiyu:
1) Sumber data dari anak sebagai subjek penelitian
2) Hasil pengamatan dari penelitian yang bertindak sebagai pengamat
dan data dari guru atau teman sejawat
b. Teknik dan Alat Pengukuran Data
20

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan


pengamatan selama pelaksanaan tindakan, metode yang dilakukan dalam
penelitian adalah sebagai berikut :
1) Observasi
2) Unjuk kerja
c. Analisis Data
Analisis data dapat dilakukan sepanjang proses penelitian.
Dalam kegiatan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa
memberikan kegiatan kepada anak harus menggunakan merode yang
variatif dan menyenangkan, guna membangun kreatifitas anak.
Langkah terakhir saat pengumpulan data adalah menganalisis
data, ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan suatu metode dalam
kegiatn penilaian. Pada Penelitian Tindakan Kelas ini digunakan analisis
deskripsi kuaitatif, yaitu suatu metode penelitian yang menggabarkan
kenyataan atau fakta yang sesuai dengan data yang diperoleh dan tujuan
untuk mengetahui tingkat keberhasilkan belajar yang dicapai anak, dan
juga untuk mengetahui respon anak terhadap kegiatan pembelajran serta
aktivitas anak selama pembelajaran berlangsung.
d. Indikator Kinerja
Keberhasilan pembelajaran pada peningkatan kemampuan Motorik Halus
melalui membentuk menggunakan playdough dengan metode praktek
langsung didasarkan pada kemampuan tiap anak. Kegiatan membentuk
menggunakan playdough melalui praktek langsung dapat meningkatkan
Motorik Halus anak Kelompok A TK Islam Azzurofah Kota Tegal, hal
tersebut dikatakan hasil apabila :
1) Terjadi perubahan sikap dan perilaku dalam proses pembelajaran
menggunakan metode praktek langsung dalam kegiatan membentuk
dengan menggunakan playdogh.
2) Peneliti mengelola proses pembelajaran dengn kegiatan yang ditandai
dengan keantusiasian anak dalam membentuk dengan menggunakan
playdogh.
4. Rencana Refleksi
21

a. Refleksi dilakukan oleh penulis setiap melaksanakan kegiatan perbaikan


pembelajarn sesuai dengan RPPH yang dimulai dari kegiatan Pra Siklus,
Siklus I, dan Siklus 2.
b. Cara melakukan refleksi dengan melihat hasil pelaksanaan pembelajaran,
dengan melihat teliti bagaimana reaksi anak ketika melakukan
pembelajaran kemudian peneliti dapat menemukan penyebab kegagalan
dan keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan oleh peneliti.
c. Refleksi dilakukan untuk menemukan penyebab kegagalan dan
kesuksesan dalam kegiatan pembelajaran, kelemahan dan kelebihan.
Setelah itu penulis mencoba untuk memperbaiki dan menyempurnakan
kegiatan pembelajaran yang dianggap sudah baik dan berusaha
meningkatka kualitas kegiatan pengembangan Motorik Halus anak maluli
kegiatan mambentuk dengan menggunakan playdough.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Perbaikan Perbaikan Pembelajaran/kegiatan pembahasan
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri
dari 5 RKH yang dilaksanakan selama 10 hari. Sebelum perbaikan pembelajaran
dilaksanakan , penulis terlebih dahulu mengumpulkan data tentang hasil belajar anak
didik dalam pembelajaran konsep sains sederhana. Berikut data hasil belajar pra
siklus, siklus I, dan siklus II pada perbaikan pembelajaran ini.Rekapitulasi hasil
belajar anak dari Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II diperoleh tabel sebagai berikut :
Rekapitulasi Hasil Belajar Anak Tiap Siklus

Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus dengan Membentuk Menggunakan Playdough


NO NAMA PRA SIKLUS SIKLUS I SIKLUS II
BB MB BSH BSB BB MB BSH BSB BB MB BSH BSB
1 Ahmad abdullah Al Haadii V V V
2 Alby Azka Rabbani V V V
3 Amanda Rafania Shakira V V V
4 Arun daya islam V V V
5 Fachrie Ramadhan V V V
6 Hanesa Untari Alfarizqi V V V
7 Muhamad Dio V V V
Muhammad Rasyiqul
8 V V V
Habibi
9 Nabila Nisa Faraithurohman V V V
10 Raras Ali Farzan V V V
Jumlah 8 2 0 0 3 4 2 1 0 1 5 4
Prosentase 80% 20% 0% 0% 30% 40% 20% 10% 0% 10% 50% 40%
ket = BB : Belum Berkembang BSH : Berkembang Sesuai Harapan MB : Mulai Berkembang BSB : Berkembang Sangat Baik
23

Berdasarkan tabel di atas dapat dikatakan bahwa kemampuan Motorik Halus


anak dalam memahami konsep membentuk menggunakan Playdough di kelompok A
TK Islam Azzurofah pada perbaikan pembelajaran siklus I dan siklus II terus
mengalami peningkatan yang signifikan dan sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini
terlihat dari semakin banyaknya anak-anak yang mendapat nilai keberhasilan baik dan
mencapai ketuntasan belajar pada siklus I dan Siklus II..
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan Motorik Halus dalam
memahami konsep membentuk dengan media Playdough menggunakan metode
praktek langsung pada Siklus II sudah sesuai dengan yang diharapkan guru selaku
penelit.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran/ kegiatan


pengembangan
1. Prasiklus
Dari kegiatan pengamatan sebelum perbaikan pembelajar, hasil perkembangan
Motorik Halus pada kegiatan membentuk dengan media playdough melalui metode
praktek langsung masih sangat rendah, terlihat pada hasil prosentase dari 10 anak
(100%) masih belum ada yang tertarik untuk melakukan kegiatan membentuk dengan
media playdough. Dari pengalaman kegiatan pembelajaran Prasiklus, guru perlu
melakukan kegiatan perbaikan yaitu Siklus I dan Siklus II.
2. Siklus 1
Berdasarkan data penelitian pada kondisi awal yang masih sangat rendah,
dengan begitu penulis memutuskan untuk mengadakan kegaiatan perbaikan
pembelajaran pada kegiatan membentuk dengan media playdough. Pada kegiatan
perbaikan pembelajaran Siklus I menggunakan media yang menarik dan mudah
didapatkan untuk membantu pemahaman anak. Dari hasil pengamatan pada beberapa
beberapa tahap pelaksanan perbaikan pembelajarn dalam kegiatan membentuk
dengan media playdough diperoleh prosentase nilai BSB 1 anak (10%), BSH 2 anak
(20%), MB 4 anak (40%) dan BB 3 anak (30%).
Pada kegiatan Siklus I ternyata mengalami perubahan perkembangn yang lebih
baik karna penggunaan media yang mampu menarik perhatian anak dan memotivasi
anak untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Dari hasil peningkatan pada Siklus I
ternayata masih belum sesuai dengan harapan guru, maka dari itu penulis
memutuskan untuk melakukan kegiatan perbaikan pembelajaran pada Siklus II.
24

3. Siklus II
Berdasarkan data penelitian pada Siklus II hasil perkembangan pada kegiatan
membentuk dengan media playdough ternyata kreativitas anak lebih meningkat.
Dalam melakukan kegiatan perbaikan, guru selalu memberi semangat dan motivasi
kepada anak sehingga selama kegiatan pembelajaran anak mempunyai rasa percaya
diri yang sangat tinggi untuk bisa melakukan dan melaksanakan kegiatan perbaikan
pembelajaran dengan baik. Dalam pelaksanaan kegiatan perbaik pembelajaran pada
Siklus II, guru menyiapkan media lebih dari satu agar anak dapat langsung mencoba
mempraktekan bersama temannya. Dengan begitu anak lebih senang dan dapat
meningkatkan kreativitas dan perekembangan pada kegiatan membentuk dengan
media playdough memalui praktek langsung.
Pada Siklus II terlihat adanya peningkatkan perkembangan anak yang melebihi
Siklus I. Anak terlihat sangat antusias dalam melakukan kegiatan perbaikan
pembelajaran pada Siklus II. Perilaku anak terlihat lebih kratif dari sebelumnya dan
tingkat ketertarikannya terhadap pada kegiatan membentuk dengan media playdough.
Pada kegiatan perbaikan pembelajaran Siklus II hasil penelitian mengalami
peningkatan, terlihat dari data yang memperoleh nilai BSB 4 anak (40%), BSH 5
anak (50%), MB 1 anak (10%) dan tidak ada yang nilai BB.
Maka secara umum dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajran dari
keseluruhan hasil sesuai dengan harapan guru dengan hasil pembelajaran yang
optimal.
Grafik Penilaian Kemampuan Anak Tiap Siklus

80%

70%

60%

50%

40% BB
MB
30% BSH
BSB
20%

10%

0%
PRA SIKLUS
SIKLUS I
SIKLUS II
25

Berdasarkan grafik diatas terlihat pada rekapitulasi hasil belajar anak


menunjukkan peningkatan perbaikan pembelajaran pada kegiatan membentuk dengan
media playdough melalui metode praktek langsung pada kelompok A TK Islam
Azzurofah Kota Tegal sudah dengan harapan guru.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilaksanakan, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan membentuk dengan playdough dapat
meningkatkan keterampilan motorik halus anak pada usia 4-5 tahun di TK Islam
Azzurofah Kota Tegal. Penerapan teknik membentuk dalam meningkatkan
keterampilan motorik halus melalui kegiatan membentuk dengan playdough pada
anak usia 4-5 tahun di TK Islam Azzurofah Kota Tegal diterapkan dengan langkah
langkah pembelajaran, di antaranya 1) pemberian aktivitas membentuk dengan
playdough, 2) memberikan stimulasi ide-ide terampil, 3) peneliti serta guru
memberikan dorongan, 4) motivasi, 5) reward, dan 6) dengan diberikannya kegiatan
membentuk dengan playdough secara bertahap dan berlanjut maka keterampilan anak
dapat berkembang optimal.

B. SARAN
Berdasarkan dari hasil paparan kesimpulan tersebut, maka untuk memperbaiki
pelaksanaan pembelajaran membentuk di TK Islam Azzurofah Tegal dalam upaya
meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak, diberikan saran diantaranya
adalah:
1. Bagi Guru
a. Dalam merencanakan kegiatan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus
pada anak, sebaiknya disiapkan dengan matang agar pembelajaran dapat dilaksanakan
dengan baik, sehingga keterampilan motorik halus anak dapat berkembang dengan
secara optimal.
b. Dalam peningkatan keterampilan motorik halus anak diperlukan jam pembelajaran
yang berpusat pada kegiatan tersebut agar anak dapat fokus dan tidak mudah lelah
saat mengikuti kegiatan membentuk dengan playdough, sehingga peningkatan
26

keterampilan motorik halus anak dalam membentuk dengan playdough terlaksana


dengan kondusif.
2. Bagi Kepala Sekolah
a. Kepala sekolah hendaknya memberi arahan dan memberi motivasi kepada guru
untuk bisa memberikan pembelajaran membentuk dengan playdough yang dilakukan
anak disekolah, mengingat keterampilan motorik halus merupakan faktor penting bagi
kehidupan anak.
b. Kepala sekolah hendaknya mendukung upaya guru dalam menggunakan kegiatan
yang tepat untuk mengembangkan kegiatan membentuk dengan playdough.

DAFTAR PUSTAKA
Tatminingsih, Sri. (2021). Panduan Pemantapan Kemampuan
Profesionalm(PAUD4501). Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
Nuazizah, Ajeng. (2015). Jurnal Guru Pendidikan Anak Usia Dini
Umar dan Susilowati. (2015). Mengembangkan Motorik Halus Anak
Saputra, Eka. (2016). Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 3-4 Tahun. Madiun:
Cendekia Kids School
Nanda, Wahyu. Saputra, Eka dan Setianingrum, Indah. (2016). Jurnal Care Volume
03 Nomor 2. Madiun: PG PAUD IKIP PGRI Madiun
Ariesta, Riany. (2011). Alat Permainan Edukatif Lingkungan Sekitar Untuk Anak
Usia 0-1 Tahun. Bandung: PT. Sandiatra Sukses
https://text-id.123dok.com/document/nq7ew4jkz-fungsi-dan-manfaat-keterampilan-
motorik-halus.html (20 Mei 2022)
https://text-id.123dok.com/document/wq233gnrz-kegiatan-membentuk-kajian-
teori.html (20 Mei 2022)
Erliansyah. (2017). Peningkatan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegaiatan
Membentuk Dengan Playdough Anak Usia 4-5 Tahun.(On-Line), Tersedia di:
http://journal.student.uny.ac.id
Sudiasih, Ni Wayan Yuni, et al. (2014). Penerapan Metode Pemberian Tugas
Berbantuan Media Playdough Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik
Halus. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Tersedia di:
https://ejournal.undiksha.ac.id/
https://text-id.123dok.com/document/1y9r97lry-pengertian-metode-praktik-langsung-
manfaat-metode-praktik-langsung.html ( 20 Mei 2022 )

Anda mungkin juga menyukai