Anda di halaman 1dari 18

 

ANALISA TITIK IMPAS, ANALISA SENSITIVITAS,


DAN ANALISA RESIKO

 Pada Bab terdahulu selalu diasumsikan bahwa nilai-nilai parameter 


dalam model ekonomi teknik diketahui dengan pasti ⇒ Pada
kenyataannya, berbagai parameter seperti horizon perencanaan,
MARR, aliran kas, dan sebagainya hanya tersedia dalam bentuk 
estimasi yang masih mengandung ketidakpastian

 Pada bab ini akan dipertimbangkan berbagai konsekuensi yang akan


ditimbul bila estimasi parameter ternyata tidak benar.

ada empat faktor yang dianggap menjadi sumber ketidakpastian dalam studi
ekonomi teknik, yaitu:
1. Kemungkinan estimasi yang tidak akurat digunakan dalam studi atau
analisa. Apabila hanya tersedia sedikit sekali informasi informasi faktual
tentang aliran kas masuk maupun keluar maka estimasi akan bisa akurat,
tergantung pada cara estimasi yang digunakan. Estimasi yang diperoleh
dengan prosedur-prosedur ilmiah yang mempertimbangkan berbagai
faktor secara sistematis tentu akan lebih baik daripada yang sekedar 
diperkirakan.
2. Tipe bisnis dan kondisi ekonomi masa depan. Beberapa tipe bisnis akan
mengandung ketidakpastian yang lebih tinggi dibandingkan dengan tipe
 bisnis yang lain. Perusahaan-perusahaan hiburan misalnya, relatif 
menanggung ketidakpastian yang lebih tinggi dari perusahaan grosir yang
 besar. Ketidakpastian ini akan bertambah tinggi bila data-data historis
tidak tersedia dan kondisi ekonomi mendatang berubah cukup dramatis
karena siklus bisnis yang sulit dikendalikan.
3. Tipe pabrik dan peralatan yang digunakan. Fasilitas-fasilitas produksi
yang dirancang untuk fungsi-fungsi khusus relatif lebih tinggi resikonya
dibandingkan dengan fasilitas-fasilitas untuk fungsi umum ( general 
 purpose). Cara mengestimasikan aliran kas masuk maupun keluar dan
kedua tipe ini juga tidak sama.
4. Panjang periode studi (horizon peréncanaan) yang dipakai. Semakin
 panjang periode studi (pada kondisi lain yang tetap) maka ketidakpastian
akan semakin tinggi juga.

Ada metode yang bisa digunakan untuk menangani ketidakpastian yang


diakibatkan oleh empat faktor di atas, yaitu :

1. Analisa Titik Impas ( Break Even Analysis).


Analisa ini digunakan apabila pemilihan alternatif-alternatif sangat
dipengaruhi oleh satu faktor tunggal yang tidak pasti, misalnya utilisasi
kapasitas. Titik impas dari faktor tersebut akan ditentukan sedemikian
sehingga kedua alternatif sama baiknya ditinjau dan sudut pandang
 

ekonomi. Dengan
alternatif yang lebihmengetahui titik impas
baik pada suatu maka dan
nilai tertentu akanfaktor
bisa yang
ditentukan
tidak 
 pasti tersebut.
2. Analisa Sensitivitas.
Analisa sensitivitas cocok diaplikasikan pada permasalahan yang
mengandung satu atau lebih faktor ketidakpastian. Pertanyaan utama yang
akan dijawab pada analisa sensitivitas adalah (1) bagaimana pengaruh
yang timbul pada ukuran hasil (misalnya nilai NPW) bila suatu faktor 
individual berubah pada selang ( X%), dan (2) berapakah besarnya
 perubahan nilai suatu faktor sehingga mengakibatkan keputusan pemilihan
suatu alternatif bisa berubah.

3. Analisa Resiko.
Apabila nilai-nilai suatu faktor dianggap mengikuti suatu distribusi
 probabilitas yang merupakan fungsi dari variabel random maka analisa
resiko perlu dilakukan. Dengan mengetahui fungsi distribusi probabilitas
dari hasil-hasil yang mungkin dicapai setiap alternatif maka pengambil
keputusan akan bisa menentukan keputusan terbaik dengan
mempertimbangkan faktor resiko tersebut.

Analisa Titik Impas

• Sangat populer digunakan terutama pada sektor-sektor industri yang padat


karya. Analisa ini akan berguna apabila seorang akan mengambil
keputusan pemilihan alternatif yang cukup sensitif terhadap variabel atau
 parameter dan bila variabel-variabel tersebut sulit diestimasi nilainya.
• Melalui analisa titik impas seseorang akan bisa mendapatkan nilai dari
 parameter tersebut yang menyebabkan dua atau lebih alternatif dianggap
sama baiknya, dan oleh karenanya bisa dipilih salah satu diantaranya.
•  Nilai suatu parameter atau variabel yang menyebabkan dua atau lebih
alternatif sama baiknya disebut nilai titik impas (break even point ,
disingkat BEP). Apabila nantinya pengambil keputusan bisa mengestimasi
 besarnya nilai aktual dan variabel yang bersangkutan (lebih besar atau
lebih kecil dari nilai BEP) maka akan bisa ditentukan alternatif mana yang
lebih baik.

Metode titik impas ini bisa digunakan untuk melakukan analisis pada
 berbagai macam permasalahan, diantaranya adalah:
1. Menentukan nilai ROR dimana dua alternatif proyek sama baiknya.
Misalkan kedua alternatif proyek tersebut sama baiknya pada ROR 
sebesar 12% maka titik impas dan ROR kedua alternatif tersebut adalah
12%. Bila ROR ternyata lebih besar atau lebih kecil dari 12% maka
alternatif yang satu akan lebih baik dari alternatif yang lain.
2. Menentukan tingkat produksi dari dua atau lebih fasilitas produksi yang
memiliki konfigurasi ongkos-ongkos yang berbeda sehingga pada
 

tingkat tersebut,
fasiitas yang ongkosfasilitas
satu dengan tahunanyang
yang terjadiMisalkan
lainnya. adalah dua
sama antara
alternatif 
fasilitas produksi akan mengakibatkan ongkos ongkos tahunan yang
sama pada tingkat produksi 2000 unit per tahun maka tingkat produksi
2000 unit per tahun ini disebut tingkat produksi impas. Bila ternyata
 perusahaan harus berproduksi pada tingkat 3000 unit per tahun atau
1500 unit per tahun maka salah satu alternatif tersebut akan lebih baik 
dan yang lainnya.
3. Melakukan analisa jual-beli. Pada tingkat produksi tertentu, biaya-
 biaya yang terjadi akan sama antara membeli suatu komponen atau
membuatnya sendiri. Jadi, pada tingkat impas ini, pilihan untuk 
membuat sendiri suatu komponen atau peralatan akan sama efisiennya
dengan pilihan untuk membelinya dari luar perusahaan. Bila
 perusahaan membutuhkan jumlah komponen yang lebih besar dari titik 
impas tadi maka biasanya biaya membuat akan lebih murah dan biaya
membeli untuk tiap satuan komponen.
4. Menentukan berapa tahun yang dibutuhkan (atau berapa produk yang
harus dihasilkan) agar perusahaan berada pada titik impas, yaitu biaya-
 biaya yang dikeluarkan sama persis dengan pendapatan-pendapatan
yang diperoleh. Bila suatu alternatif proyek bisa berproduksi di atas
titik impas ini maka alternatif tersebut layak dilaksanakan.

Analisa Titik Impas pada Permasalahan Produksi

• Biasanya digunakan untuk menentukan tingkat produksi yang


mengakibatkan perusahaan berada pada kondisi impas ⇒ fungsi biaya dan
fungsi pendapatannya bertemu maka total biaya sama dengan total
 pendapatan.
• Dalam melakukan analisa titik impas, sering kali fungsi biaya maupun
fungsi pendapatan diasumsikan linier terhadap volume produksi.
• Ada tiga komponen biaya yang dipertimbangkan dalam analisa ini yaitu:
 Biaya-biaya tetap ( fixed cost ) yaitu biaya-biaya yang besarnya tidak 
dipengaruhi oleh volume produksi. Beberapa yang termasuk biaya tetap
adalah biaya gedung, biaya tanah, biaya mesin dan peralatan, dan
sebagainya.
 Biaya-biaya variabel (variabel cost ) yaitu biaya-biaya yang besarnya
tergantung (biasanya secara linier) terhadap volume produksi. Biaya-
 biaya yang tergolong biaya variabel diantaranya adalah biaya bahan
 baku dan biaya tenaga kerja langsung.
 Biaya total (total cost ) adalah jumlah dan biaya-biaya tetap dan biaya-
 biaya variabel.
 

Ongkos variabel untuk membuat X buah produk adalah:


VC = cX
Karena ongkos total adalah jumlah dan ongkos-ongkos tetap dan ongkos-
ongkos variabel maka berlaku hubungan
TC =FC+Vc
=FC+cX
dimana:
TC = ongkos total untuk membuat X produk 
FC = ongkos tetap
VC = ongkos variabel untuk membuat X produk 
C = ongkos vanabel untuk membuat satu produk.

 Dalam analisa titik impas selalu diasumsikan bahwa total pendapatan


(total revenue) diperoleh dan penjualan semua produk yang diproduksi.

TR = pX (6.3)

dimana:
TR = total pendapatan dan penjualan X buah produk 
P = harga jual per satuan produk 

Titik impas akan diperoleh apabila total ongkos-ongkos yang terlibat persis
sama dengan total pendapatan.

TR = TC

atau

 pX= FC+cX
 

dimana X adalah volume produksi yang menyebabkan perusahaan pada titik 


impas (BEP).

Contoh 6.1
PT. ABC Indonesia merencanakan membuat sejenis sabun mandi untuk kelas menengah.
Ongkos total untuk pembuatan 10.000 sabun per bulan adalah Rp. 25 juta dan ongkos total
untuk pembuatan 15.000 sabun per bulan 30 juta. Asumsikan bahwa ongkos-ongkos
variabel berhubungan secara proporsional dengan jumlah sabun yang diproduksi.

Hitunglah:

a. Ongkos variabel per unit dan ongkos tetapnya

 b. Bila PT. ABC Indonesia menjual sabun tersebut seharga Rp. 6000 per unit, berapakah
yang harus diproduksi per bulan agar perusa haan tersebut berada pada kondisi impas

c. Bila perusahaan memperoduksi 12.000 sabun per bulan, apakah perusahaan untung atau
rugi? Dan berapa keuntungan atau keru giannya?

Solusi

a. Ongkos variabel per unit adalah :

= Rp. 1.000 per unit

Ongkos tetap dapat diperoleh dengan cara :

Untuk X = 10.000 berlaku ⇒TC = FC + X


25 juta = FC + 1.000 (Rp/unit) x 10.000 (unit)
FC = Rp. 15 juta

Atau, untuk X = 15.000 diperoleh ⇒ TC = FC + cX


30 juta = FC + 1.000 (Rp/unit) x 15.000 (unit)
FC = Rp. 15 juta
 

 b. Bila p = Rp. 6.000 per unit maka jumlah yang harus diproduksi per bulan agar 
mencapai titik impas adalah:

X = 3.000 unit per bulan

Jadi, volume produksi sebesar 3.000 unit per bulan menyebabkan perusahaan berada
 pada titik impas.

c. Bila X = 12.000 unit per bulan maka total penjualan adalah:

TR = pX
= Rp. 6.000 / unit x 12.000 unit
= Rp. 72 juta per bulan

dan total ongkos yang terjadi adalah:

TC = FC+cX
= Rp. 15 juta + Rp. 1.000/unit x 12.000 unit
= Rp. 27 juta per bulan

Jadi, perusahaan berada dalam kondisi untung karena dengan memproduksi 12.000 unit
 per bulan maka total penjualan akan lebih tinggj dan total ongkosnya. Besarnya
keuntungan adalah Rp. 72 juta - Rp. 27 juta = Rp. 45 juta per bulan.

Contoh 6.2
Misalkan PT. ABC Indonesia merencanakan untuk memproduksi produk baru yang
membutuhkan ongkos awal sebesar Rp. 150 juta dan ongkos-ongkos operasional dan
 perawatan sebesar Rp. 35.000 per jam. Disamping itu perusahaan harus membayar 
ongkos-ongkos lain sebesar Rp. 75 juta per tahun. Berdasarkan waktu standar yang
diperoleh dan studi teknik tata cara dan pengukuran kerja, dapat diestimasikan bahwa
untuk memproduksi 1000 unit produk dibutuhkan waktu 150 jam. Selanjutnya
diestimasikan juga bahwa harga per unit produk adalah Rp. 15.000 dan investasi
diasumsikan akan berumur 10 tahun dengan nilai sisa nol. Dengan MARR 20%,
hitunglah berapa unit yang harus diproduksi agar perusahaan mi berada pada kondisi
impas.

Solusi
 Misalkan x adalah jumlah produk (unit) yang harus diproduksi dalam setahun agar 
mencapai titik impas.
 Dengan menggunakan ongkos-ongkos tahunan (AC = annual cost) dan penjualan
tahunan (AR = annual revenue) maka kondisi impas akan diperoleh bila:

AC = AR 
dimana:
AC = 150 juta (A/P. 20%, 10) + 75 juta + 0,150 (35.000) X
= 150 juta (0,2385) + 75 juta + 5.250 X
= 110,778 juta + 5.250 X dan

AR=15.000X
 

sehingga:
110,778 juta + 5.250 X = 15.000 X
110,778 juta = 9.750X
X = 11.362 unit per tahun

Jadi, PT. ABC Indonesia harus memproduksi sebanyak 11.362 unit per tahun agar 
 berada pada kondisi impas. Dengan demikian maka perusahaan harus berproduksi di
atas 11.362 unit per tahun agar berada pada kondisi untung.

Analisa Titik Impas pada Pemilihan Alternatif Investasi

• Pemilihan alternatif-alternatif investasi sering kali akan mengakibatkan keputusan yang


 berbeda apabila tingkat produksi atau tingkat utilitas dan investasi tersebut berbeda.

• Dalam pemilihan fasilitas produksi misalnya, pada tingkat produksi rendah perusahaan
cenderung akan membeli mesin-mesin atau fasilitas lain yang harganya lebih murah
(walaupun angkos variabelnya lebih tinggi) bila tingkat produksinya cukup tinggi maka
 perusahaan akan lebih baik apabila membeli fasilitas-fasilitas berteknologi tinggi yang
ongkos investasinya lebih tinggi namun ongkos-ongkos variabelnya lebih rendah.

• Untuk mendapatkan keputusan yang baik dan persoalan yang seperti ini maka harus
dicari suatu titik yang menyatakan tingkat produksi dimana suatu alternatif A akan
impas (sama baiknya) dengan suatu alternatif B misalnya, dan kapan alternatif A lebih
 baik (atau lebih jelek) dari alternatif B.

• Sebagai contoh perhatikanlah gambar 6.3 yang menyatakan perilaku ongkos dua
alternatif (A dan B). Alternatif A meniiliki ongkos awal lebih tinggi namun ongkos-
ongkos variabelnya lebih rendah (ditunjukkan oleh gradien yang lebih kecil pada garis
ongkos). Sebaliknya altematif B memiliki ongkos awal (FC) yang lebih rendah tetapi
ongkos-ongkos variabelnya lebih tinggi. Kedua alternatif akan sama baiknya (impas)
 bila unit variabelnya (misalnya tingkat produksinya) adalah sebesar X. bila unit
variabelnya kurang dari X maka alternatif B yang lebih baik, dan bila unit variabelnya
lebih dari X maka alternatif A yang lebih baik.
 

• Analisa titik impas pada permasalahan-permasalahan seperti ini biasanya diselesaikan


dengan menggunakan alat bantu analisa EUAC atau nilai sekarang (PW). Langkah-
langkah menentukan alternatif berdasarkan analisa titik impas:

1. Definisikan secara jelas variabel yang akan dicari dan tentukan satuan atau unit
dimensinya.

2. Gunakan analisa EUAC atau analisa nilai sekarang untuk menyatakan total ongkos
setiap alternatif sebagai fungsi dari variabel yang didefinisikan.

3. Ekuivalenkan persamaan-persamaan ongkos tersebut dan carilah nilai impas dari


variabel yang didefinisikan.

4. Bila tingkat utilitas yang diinginkan lebih kecil dari nilai titik impas, pilih alternatif 
yang memiliki ongkos variabel yang lebih tinggi (gradiennya lebih besar) dan bila
tingkat utilitas yang diinginkan di atas nilai titik impas, pilih alternatif yang
memiliki ongkos ongkos variabel yang lebih rendah (gradiennya lebih kecil).

Contoh 6.3
Sebuah perusahaan pelat baja sedang mempertimbangkan 2 alternatif mesin pemotong
 plat yang bisa digunakan dalam proses produksinya. Alternatif pertama adalah mesin
otomatis yang memiliki 1 harga awal Rp. 23 juta dan nilai sisa Rp. 4 juta setelah 10
tahun. Bila mesin ini dibeli maka operator harus dibayar Rp. 12.000 per jam. Output
mesin ini adalah 8 ton per jam. Ongkos operasi dan perawatan tahunan diperkirakan
Rp. 3,5 juta. Alternatif kedua adalah mesin semiotomatis yang memiliki harga awal
Rp. 8 juta dengan masa pakai ekonomis 5 tahun dan tanpa nilai sisa. Ongkos tenaga
kerja per jam bila mesin ini dioperasikan adalah Rp. 24.000 dan ongkos-ongkos
operasional dan perawatannya Rp. 1,5 juta per tahun. Perkiraan outputnya adalah 6 ton
 per jam. MARR yang dipakai analisa adalah 10%.

a. Berapa lembaran logam yang harus diproduksi tiap tahun agar mesin otomatis lebih
ekonomis dari mesin semiotomatis

 b. Apabila manajemen menetapkan tingkat produksi sebesar 2.000 ton per tahun, mesin
mana yang sebaiknya dipilih?

Solusi

a. Penyelesaian dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah di atas.

1. Misalkan X adalah jumlah lembaran logam (ton) yang diproduksi dalam setahun.
2. Ongkos-ongkos variabel tahunan untuk mesin otomatis adalah:

Sehingga ongkos ekuivalen tahunannya adalah:


EUAC1 = 23 juta (A/P, 10%, 10) - 4 juta (A/F, 10%, 10) + 3,5 juta + 12.000 X/8
= 23 juta (0,16275) - 4 juta (0,06275) + 3,5 juta + 12.000 X/8
= 6,992 juta + 1500 X

Dengan cara yang sama akan diperoleh ongkos variabel tahunan untuk mesin
semiotomatis adalah:
 

Sehingga ongkos ekuivalen tahunannya adalah:


EUAC2 = 8 juta (A/P, 10%, 5) + 1,5 juta + 4.000 X
= 8 juta (0,26380) + 1,5 juta + 4.000 X
= 3,610 juta + 4.000 X

3. Kedua persamaan EUAC tadi diekuivalenkan sehingga diperoleh:


EUAC1 = EUAC2
6,992 + 1.5000 juta X = 3,610 juta + 4.000 X
3,382 juta = 2500 X
X = 1.352,8 ton per tahun

Jadi, mesin otomatis akan lebih ekonomis dipakai bila dibandingkan dengan mesin
semiotomatis bila tingkat produksinya lebih besar dari 1.352,8 ton per tahun.

d. Apabila manajemen memutuskan tingkat produksi sebesar 2.000 ton per tahun
maka mesin otomatis yang harus dipilih (karena lebih besar dari titik impas).

Contoh 6.4
Asumsikanlah ada 3 alternatif proyek dengan data-data sebagai berikut :

Bila MARR adalah 10%, pada interval tingkat produksi per tahun berapa alternatif B
 paling ekonomis?

Solusi
Misalkan X adalah jumlah produk yang dibuat per tahun, maka:
EUACA = 100 juta (A/P, 10%, 10) + 20 juta + 200 X
= 100 juta (0,16275) + 20 juta + 200 X
= 36,275 juta + 200 X

EUACB = 150 juta (A/F, 10%, 10) + 16 juta - 25 juta (A/F, 10%, 10) + 150 x
= 150 juta (0,16275) + 16 juta - 25 juta (0,06275) + 150x
= 38,844 juta + 150 X

EUACC = 250 juta (A/P. 10%, 10) + 5 juta - 25 juta (A/F, 10%, 10) + 100 X
= 250 juta (0,16275) + 5 juta - 25 juta (0,06275) + 100x
= 44,119 juta + 100 X.

Bila digambar dalam diagram maka hubungan ongkos-ongkos dan ketiga alternative akan
tampak seperti gambar 6.4.
 

Gambar 6.4. Ilustrasi grafis dari ongkos-ongkos alternatif pada contoh6.4.

• alternatif B akan paling ekonomis apabila perusahaan berproduksi pada volume


 per tahun antara X1 dan X3.
• Bila volume produksi lebih dari X3 maka alternatif C yang paling ekonomis.
• Bila volume produksi kurang dari X1 maka alternatif A yang paling ekonomis.

Untuk menghitung nilai X1 dan X3 digunakan masing-masing dua persamaan sebagai


 berikut:
X1 didapat dengan mempertemukan garis A dan B sehingga:
36,275 juta + 200 X = 38,844 juta + 150 X
50 X = 2,569 juta
X =51.380 unit
Jadi, X adalah 51.380 unit per tahun.

X3  didapat dengan mempertemukan garis B dan C sehingga:


38,844 juta + 150 X = 44,119 juta + 100 X
50 X = 5,275 juta
X = 105.500 unit
Jadi, X adalah 105.500 unit per tahun.

Dengan demikian maka sebaiknya perusahaan memilih altematif apabila tingkat


 produksinya per tahun adalah antara 51.380 sampai 105.500 unit.

Analisa Titik Impas pada keputusan Buat-Beli

• Keputusan untuk membeli atau membuat sebuah komponen atau produk sering
harus didahului dengan analisa titik impas dan kedua alternatif tersebut.

• Secara normal, bila perusahaan membutuhkan produk atau komponen dalam


 jumlah yang cukup besar maka akan lebih efisien bila perusahaan membuat sendiri
 produk atau komponen tersebut. Sebaliknya bila kebutuhan suatu komponen atau
 produk hanya sedikit maka tidak akan ekonomis bila komponen atau produk 
tersebut dibuat sendiri karena dengan membuat sendiri berarti perusahaan harus
menanggung biaya-biaya tetap yang cukup signifikan per tiap produk atau
komponen yang dibuatnya.

• Biaya-biaya tetap berarti akan hilang bila perusahaan membeli produk dari luar 
 perusahaan. Biaya-biaya pemesanan (termasuk biaya biaya aspek legal) juga
termasuk biaya-biaya tetap bila perusahaan memutuskan untuk membeli produk 
 

atau komponen. Namun biaya biaya tetap pada alternatif membeli biasanya lebih
rendah dari biaya biaya tetap pada alternatif membuat sendiri.
Con toh 6.5
Seorang insinyur diserahi tugas untuk melakukan analisa buat beli pada 2 buah komponen
yang akan digunakan untuk melakukan inovasi pada produk-produk tertentu yang menjadi
andalan perusahaan. Setelah melakukan studi dan berhasil mengumpulkan data-data teknis
maupun ekonomis dari pembuatan kedua komponen tersebut diperoleh ringkasan data
seperti pada tabel 6.2.

Tabel 6.2 Data-data ongkos untuk alternat if pembuatan komponenA dan B.

Disamping itu masih ada biaya-biaya overhead yang besarnya Rp. 18 juta per tahun
untuk komponen A dan Rp. 15 juta per tahun untuk komponen B.
Disisi lain perusahaan juga mempertimbangkan tawaran dari suatu perusahaan untuk 
membeli komponen A dan B masing-masing seharga Rp. 10,000 dan Rp. 15.000 per 
unit. Bila diasumsikan tidak ada biaya-biaya lain yang terlibat dalam proses pembelian
 produk dan i = 15% untuk analisa, tentukanlah:

a. Pada kebutuhan berapa komponen per tahunkah perusahaan sebaiknya membuat


sendiri komponen tersebut?
 b. Bila kebutuhan masing-masing komponen adalah 2.000 unit per tahun, keputusan
apa yang harus diambil perusahaan berkaitan dengan permasalahan tersebut?

Asumsikan bahwa produksi komponen A independen terhadap produksi komponen B


dan tidak ada diskon untuk pembelian partai.

Solusi
a. Misalkan XA adalah kebutuhan komponen A dalam setahun dan XB adalah
kebutuhan komponen B dalam setahun.

Untuk komponen A:
• Biaya per tahun untuk alternatif membeli adalah kebutuhan per tahun dikalikan
dengan harga per unit yaitu:
UEAC beli = 10.000 XA
• Biaya per tahun untuk alternatif membuat sendiri adalah:

EUAC buat = 200 juta (A/P, 15%, 5) + 18 juta + (3.000 +2.000) XA 10 juta (A/F,15%,5)
= 200 juta (0,23097) + 5.000 XA -10 juta (0,18097)+ 18 juta
= 46,194 juta + 5.000 XA - 1,8097 juta + 18 juta
= 62,3843 juta + 5.000 XA

Untuk mencapai titik impas antara altematif membuat dan membeli maka harus
terpenuhi:
EUAC beli = UEAC buat
10.000 XA = 62,3843 juta + 5.000 XA
5.000 XA = 62,3843 juta
XA = 12.477 komponen.
 

Jadi, alternatif membuat akan sama ekonomisnya dengan alternatif membeli komponen
A pada kebutuhan sebesar 12.477 komponen per tahun.

Untuk komponen B:

• Biaya per tahun untuk alternatif membeli adalah:


EUAC beli = 15.000 X

• Biaya per tahun untuk altematif membuat sendiri adalah:


EUAC buat = 350 (A/P, 15%, 7) + (2.500 + 2.500) X -15 juta (A/F, 15%, 7) + l5juta
= 350 juta (0,24036) + 5.000 XB -15 juta (0,09036) + l5juta
= 97,7706 juta + 5.000 XB

Kedua alternatif akan sama ekonomisnya bila:


EUAC beli = EUAC buat
15.000 XB = 97,7706 juta + X
X = 9.777 komponen.
Jadi alternatif membeli atau membuat sendiri komponen B akan sama ekonomisnya
 bila permintaan per tahunnya adalah 9.777 komponen.

 b. Bila kebutuhan masing-masing komponen adalah 2.000 unit per tahun maka
 perusahaan lebih baik membeli komponen A maupun komponen B.

6.3. Analisa Sensitivitas

← Karena nilai-nilai parameter dalam studi ekonomi teknik biasanya diestimasikan


 besarnya maka jelas nilai-nilai tersebut tidak akan bisa dilepaskan dan faktor 
kesalahan.

 Artinya, nilai-nilai parameter tersebut mungkin lebih besar atau lebih kecil
dan hasil estimasi yang diperoleh, atau berubah pada saat-saat tertentu.

 Perubahan-perubahan yang terjadi pada nilai-nilai parameter tentunya akan


mengakibatkan perubahan-perubahan pula pada tingkat output atau hasil
yang ditunjukkan oleh suatu alternatif investasi.

 Perubahan perubahan tingkat output atau hasil ini memungkinkan keputusan


akan berubah dan satu alternatif ke alternatif yang lainnya.

 Apabila berubahnya faktor-faktor atau parameter-parameter tadi akan


mengakibatkan berubahnya suatu keputusan maka keputusan tersebut
dikatakan sensitif  terhadap perubahan nilai parameter-parameter atau
faktor-faktor tersebut.

 Untuk mengetahui seberapa sensitif suatu keputusan terhadap perubahan faktor-faktor 


atau parameter-parameter yang mempengaruhinya maka setiap pengambilan keputusan
 pada ekonomi teknik hendaknya disertai dengan analisa sensitivitas.

 Analisa sensitivitas dilakukan dengan mengubah nilai dan suatu parameter pada suatu
saat untuk selanjutnya dilihat bagaimana pengaruhnya terhadap akseptabilitas suatu
alternatif investasi.

 Parameter-parameter yang biasanya berubah dan perubahannya bisa mempengaruhi


keputusan-keputusan dalam studi ekonomi teknik adalah ongkos investasi, aliran kas,
nilai sisa, tingkat bunga, tingkat pajak, dan sebagainya.
 

nilai sisa, tingkat bunga, tingkat pajak, dan sebagainya.

Contoh 6.6
Sebuah alternatif investasi diperkirakan membutuhkan dana awal sebesar Rp. 10 juta
dengan nilai sisa nol di akhir tahun ke lima. Pendapatan tahunan diestimasikan sebesar 
Rp. 3 juta. Perusahaan menggunakan MARR sebesar 12% untuk menganalisis
kelayakan alternatif investasi tersebut. Aliran kas dan alternatif ini terlihat pada gambar 
6.5. Buatlah analisa sensitivitas dengan mengubah nilai-nilai

a. tingkat bunga

 b. investasi awal

c. pendapatan tahunan

 pada interval ± 40% dan nilai-nilai yang diestimasikan di atas dan tentukan batas-batas
nilai parameter yang mengakibatkan keputusan terhadap alternatif tersebut bisa
 berubah (dari layak menjadi tidak layak atau sebaliknya).

Solusi
 Langkah pertama yang akan dilakukan disini adalah menentukan keputusan awal
(sebelum dilakukan analisa sensitivitas) dan alternatif tersebut dengan menghitung
nilai awal nettonya (NPW):

 NPW = -10 juta + 3 juta (P/A, 12%, 5)


= -10 juta + 3 juta (3,6048) = 0,8144 juta

Karena NPW > 0 maka alternatif tersebut layak dilakukan.

 Apabila parameter-parameter tadi berubah (misalnya tingkat suku bunga, investasi


awal, pendapatan tahunan, dan sebagainya) berubah maka kemungkinan alternatif 
tersebut menjadi tidak layak atau malah tambah menguntungkan, tergantung pada
arah perubahan yang terjadi.

a. Bila tingkat suku bunga berubah sampai (40% dan suku bunga yang diestimasikan
maka nilai NPW-nya akan menjadi:

1. bertambah 40%

 NPW = -10 juta + 3 juta (P/A, 16.8%, 5)


= -10 juta + 3 juta (3,2143)
= -0,3572 juta

2. bertambah 25%
 

 NPW = -10 juta + 3 juta (P/A, 15%, 5)


= -10 juta + 3 juta (3,3522)
= 0,0566 juta

3. berkurang 25%

 NPW = -10 juta + 3 juta (P/A, 9%, 5)


= -10 juta + 3 juta (3,8897) = 1,6691 juta

4. berkurang 40%

 NPW = -10 juta + 3 juta (P/A, 7,2%, 5)


= -10 juta + 3 juta (4,0787)
= 2,2361 juta.

Bila digambar dalam grafik yang menyatakan perubahan suku bunga terhadap NPW
maka diperoleh gambar 6.6.

 Keputusan akan berubah dari layak menjadi tidak layak bila NPW yang dihasilkan
 berubah menjadi negatif. Batas perubahan ini akan diperoleh dengan menghitung
nilai ROR, yaitu suatu tingkat bunga yang menyebabkan NPW = 0. NPW = 0 bila:

-10 juta + 3 juta (P/A, i%, 5) = 0


(P/A, i%, 5) = 3,333
‘I = 15,25%

 Jadi, keputusan akan berubah bila tingkat suku bunga menjadi lebih besar dari 15,25%
atau bila meningkat sekitar 25% dan nilai i awal yang ditetapkan sebesar 12%.

Bila besarnya investasi awal diubah pada interval ± 40% maka nilai-nilai NPW akan
menjadi sebagai berikut:

1. bertambah 40%:

 NPW = -10 juta (1,4) + 3 juta (P/A, 12%, 5)


= -14 juta + 3 juta (3,6048)
= -3,1856 juta
 

2. bertambah 25%:
 NPW = -12,5 juta + 3 juta (3,6048)
= -1,6856 juta
3. berkurang 25%

 NPW = -7,5 juta + 3 juta (3,6048)


= 3,3144 juta

5. berkurang 40%

 NPW = -6juta + 3 juta (3,6048)


= 4,8144 juta

Bila diplot maka hubungan antara persentase perubahan nilai investasi awal terhadap
nilai NPW terlihat pada gambar 6.7.

Alternatif tersebut akan menjadi tidak layak bila perubahan nilai investasi awal
menyebabkan nilai NPW berubah menjadi lebih kecil dan nol. NPW akan sama dengan
nol bila besarnya investasi adalah :

P = 3juta(P/A,12%,5)
= 3 juta (3,6048)
= 10,8144 juta

Jadi, investasi tersebut menjadi tidak layak bila investasi yang dibutuhkan lebih dan
Rp. 10,8144 juta atau meningkat sebesar 8,144% dan investasi awal yang diestimasikan
sebesar Rp. 10 juta.

e. Bila pendapatan tahunan berubah pada interval ± 40% maka akibatnya pada NPW
akan terlihat seperti pada perhitungan beberapa titik sampel berikut:

1. bila pendapatan tahunan naik 40% maka:

 NPW = -10 juta + 3 juta (1.4) (P/A, 12%, 5)


= -10 juta + 4,2 juta (3,6048) = 5,140 juta

2. bila pendapatan tahunan naik 25%:


 

 NPW = -10 juta + 3,75 juta (P/A, 12%, 5)


= 3,518 juta

3. bila pendapatan tahunan turun 25%:

 NPW = -10 juta + 2,25 juta (P/A, 12%, 5)


= -1,8892 juta

4. bila pendapatan tahunan turun 40%:

 NPW = -109 juta + 1,8 juta (P/A, 12%, 5)


= -3,511 juta

Alternatif di atas akan menjadi tidak layak bila pendapatan tahunan turun sampai di bawah
2,774 juta per tahun atau bila terjadi penurunan sekitar 7,47%. Silakan anda hitung sendiri
dengan cara yang serupa di atas !!

Gambar6.8. Hubungan antara perubahan pendapatan tahunan terhadap nilaiNPW.


 

DEPRESIASI
7.1. Pendahuluan
Depresiasi dan pajak adalah dua faktor yang sangat penting dipertlmbangkan dalam studi
ekonomi tekuik. Walaupun depresiasi
tidak berupa aliran kas, namun besar dan waktunya akan mempengaruhi pajak yang akan
ditanggung oleh perusahaan. Pajak adalah aliran kas. OIeh karenanya pajak harus
dipertimbangkan seperti halnya ongkos-ongkos pelaratan, bahan, energi, tenaga kerja, dan
sebagainya. Pengetahuan yang balk tentang depresiasi dan sistem pajak akan sangat
membantu dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan inveslasi.
Depresiasi pada dasamya adalah penurunan nilai suatu properti atau aset karena waktu dan
 pemakaian. Depresiasi pada suatu properti atau aset biasanya disebabkan karena satu atau
lebih faktor-faktor berikut:
1. Kerusakan fisik akibat pemakaian dan alat atau properti tersebut.
2. Kebutuhan produksi atau jasa yang Iebih barn dan lebih besar.
3. Penurunan kebutuhan produksi atau jasa.
4. Properti atau aset tersebut menjadi usang karena adanya per kembangan teknologi.
5. Penemuan fasilitas-fasilitas yang bisa menghasilkan produk yang Iebih baik dengan
ongkos yang lebih rendah dan tingkat keselamatari yang lebih memadai.

Anda mungkin juga menyukai