Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN DENGUE HEMORRAGIC FEVER

A. DEFINISI

DHF (Dengue Hemorragic Fever) adalah penyakit demam akut


yang disebabkan oleh empat serotipe virus dengue dan ditandai dengan
empat gejala klinis utama yaitu demam tinggi, manifestasi perdarahan,
hepatomegali dan tanda kegagalan sirkulasi sampai timbul renjatan
(sindrom renjatan dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang
dapat menyebabkan kematian(Soegeng Soegijanto, 2018).

DHF (Dengue Hemorragic Fever) adalah merupakan penyakit anak


yang disebabkan oleh virus dengue yang termasuk golongan arbovirus
melalui gigitan nyamuk Aedes aegipty betina.(Soedarto, 2018).

DHF (Dengue Haemorragic Fever) atau demam berdarah dengue


(DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegipty (Kristina 2019).

DHF (Dengue Hemorragic Fever)  ialah penyakit yang terdapat


pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi
dan biasanya memburuk setelah 2 hari pertama. (Soedarmo, 2018).

Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit yang


disebabkan oleh virus dengue I, II, III, dan IV yang ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegepti dan Aedes albopictus(Soegeng Soegijanto, 2018).
B. ANATOMI FISIOLOGI
Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat didalam
pembuluh darah yang warnanya merah. Warna merah itu keadaannya tidak
tetap tergantung pada banyaknya O2dan CO2 didalamnya. Darah yang
banyak mengandung CO2 warnanya merah tua. Adanya oksigen dalam
darah diambil dengan jalan bernafas, dan zat ini berguna pada peristiwa
pembakaran/metabolisme didalam tubuh.
Darah terdiri dari elemen-elemen dan plasma dalam jumlah setara.
Elemen-elemen yang tersebut adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah
putih (leukosit), dan Keping Darah (Trombosit).
a. Fungsi Darah
1. Sebagai alat pengangkut yaitu :
 Mengambil oksigen/zat pembakaran dari paru-paru untuk
diedarkan keseluruh jaringan tubuh.
 Mengangkut karbon dioksida dari jaringan untuk dikeluarkan
melalui paru-paru.
 Mengambil zat-zat makanan dari usus untuk diedarkan dan
dibagikan keseluruh jaringan/otot tubuh.
 Mengangkat/mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh
untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal.
2. Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit dan racun dalam
tubuh dengan perantasan leukosit dan antibodi/zat-zat anti racun.
3. Menyebarkan panas keseluruh tubuh.
b. Bagian bagian darah

Jika darah dilihat begitu saja maka ia merupakan zat cair yang
warnanya merah, tetapi apabila dilihat dibawah mikroskop maka nyatakah
bahwa dalam darah terdapat benda-benda kecil bundar yang disebut sel-sel
darah, sedang cairan berwarna kekuning-kuningan disebut plasma. Jadi
nyatalah bahwa darah terdiri dari dua bagian yaitu :

1. Sel-sel darah
 Eritrosit (sel darah merah)
 Leukosit (sel darah putih)
 Trombosit (sel pembeku darah)
2. Plasma darah
 Air : 91%
 Protein :  3% (albumin, globulin, protrombin dan fibrinogen)
 Mineral : 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam
fosfat,magnesium), kalsium, dan zat besi).
 Bahan organik :  0,1% (glukosa, lemak, asam urat, kreatinin,
kolesterol, dan asam amino).

Eritrosit (sel darah merah) kalau kita periksa dan lihat dibawah
miskroskop maka nyatalah bahwa eritrosit dapat diterangkan sebagai
berikut : Bentuknya seperti cakram/bikonkaf dan tidak mempunyai inti,
ukuran diam eter kira-kira 7,7 unit (0,007 mm) tidak dapat bergerak.
Banyaknya kira-kira 5 juta dalam 1 mm3 (4½ juta) warna kuning kemerah-
merahan, karean didalam mengandung zat yang disebut hemoglobin,
warna ini akan bertambah merah jika didalamnya banyak mengandung
oksigen, fungsinya mengikat O2 dari paru-paru untuk diedarkan keseluruh
jaringan tubuh dan mengikat karbon dioksida (CO 2) dari jaringan tubuh
untuk dikeluarkan melalui paru-paru.
Leukosit (sel darah putih), bentuk dan sifat leukosit berlainan
dengan eritrosit apabila kita lihat dibawah mikroskop maka akan terlihat
bentuknya yang dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantara
kaki palsu (pseudopodia) mempunyai bermacam-macam inti sel sehingga
ia dapat dibedakan menurut inti selnya, warnanya bening (tidak berwarna,
banyaknya dalam 1 mm3 darah kira-kira 6.000 – 9.000. Funsginya :
sebagai serdadu tubuh yaitu membunuh dan memakan bibit
penyakit/bakteri yang masuk kedalam jaringan RES (sistem
retikuloendotelial) tempat pembiakannya di dalam limpe dan kelenjar
limpe ; sebagai pengakut yaitu mengangkut/membawa zat lemak dari
dinding usus melalui limpe terus kepembuluh darah. Sel leukosit
disamping beredar dipembuluh darah juga terdapat diseluruh jaringan
tubuh manusia. Pada kebanyakan penyakit disebabkan oleh masuknya
kuman/infeksi maka jumlah leukosit yang ada didalam daerah akan lebih
banyak dari biasanya. Hal ini disebabkan sel leukosit yang biasanya
tinggal didalam kelenjar limpe, sekarang beredar didalam darah untuk
mempertahankan tubuh dari serangan penyakit tersebut jika jumlah
leukosit dalam darah melebihi 10.000/mm3 disebut leukostosis dan kurang
dari 6.000/mm3 disebut leukopenia.
Macam-macam leukosit, meliputi
Agranulosit
 Limfosit
 Monosit
Granulosit
 Neutrofil atau polimorfonukleat leukosit
 Basofil
 Eusonofil
Trombosit (sel pembeku) merupakan benda-benda kecil yang mati
yang bentuk dan ukurannya bermacam-macam, ada yang bulat ada yang
lonjong, warnanya putih, normal pada orang dewasa   200.000 –
300.000/mm3, fungsinya memegang peranan penting dalam pembekuan
darah. Jika banyak kurang dari normal, maka kalau ada luka darah tidak
cepat membeku sehingga timbul perdarahan terus menerus. Trombosit
lebih dari 300.000 disebut trombositosis. Tetapi jika kurang dari 200.000
disebut trombositopenia. Didalam plasma darah terdapat suatu zat yang
turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah, yaitu Ca2t dan
fibrinogen. Fbrinogen mulai bekerja apabila tubuh mendapat luka.
Plasma darah merupakan bagian cairan darah yang membentuk
sekitar 5% dari berat badan, merupakan media sirkulasi elemen-elemen
darah yang membentuk sel darah merah, sel darah putih dan sel pembeku
darah juga sebagai media transportasi bahan organik dan anorganik dan
suatu organ atau jaringan. Hampir 90% dari plasma terdiri dari air,
disamping itu terdapat pula zat-zat yang larut didalamnya. Untuk
mendapatkan plasma darah jika harus mencampurkan dulu sedikit sitras
natrikus kedalam darahm, supaya darah tidak membeku sesudah itu
dipasang suatu alat dan dibiarkan beberapa lama, maka akan kelihatan
beberapa sel-sel darah turun atau mengendap dan bagian diatasnya tinggal
cairan bening yaitu plasma darah yang didalamnya terdapat serum darah.
Kalau darah yang keluar dari tubuh kita dibiarkan membeku maka
bagian bawah bekuan tadi terdapat cairan yang juga warnanya bening,
yang disebut serum darah. Jadi serum merupakan plasma tanpa fibrinogen
yang didapat dengan membekukan darah.
Zat-zat dalam plasma darah :
a) Fibrinogen yang berguna dalam peristiwa pembekuan darah.
b) Garam-garam mineral (kalsium, kalium, natrium dan lain-lain) yang
berguna dalam metabolisme dan juga mengadakan osmotik.
c) Protein darah (albumin, globulin) meningkatkan viskositas darah dan
juga menimbulkan tekanan osmotik untuk memelihara keseimbangan
cairan dalam tubuh.
d) Zat makanan (asam amino, glukosa, lemak, mineral dan vitamin).
e) Hormon yaitu : suatu zat yang dihasilkan dan kelenjar tubuh.
f) Antibodi/antitoksin.
Darah terdiri dari plasma darah dan sel-sel darah, plasma darah
sebagian besar terdiri dari air dan zat-zat yang larut didalamnya (misalnya
zat makanan, hormon, antibodi dan lain-lain) sel-sel leukosit merupakan
pertahanan tubuh terhadap serangan penyakit.
C. ETIOLOGI
Penyebab demam berdarah dengue (DBD) atau dengue
haemorragic fever (DHF) adalah virus dengue. Di Indonesia virus tersebut
saat ini telah diisolasi menjadi 4 serompe virus dengue yang termasuk
dalam grup B. Dari arthopedi borne virus (arbovirus) yaitu DEN-1, DEN-
2, DEN-3, DEN-4. Ternyata DEN-2 dan DEN-3 merupakan serotipe yang
menjadi penyebab terbanyak. Di Thailand dilaporkan bahwa serotipe
DEN-2 adalah dominan sementara di Indonesia yang terutama deominan
adalah DEN-3 tapi akhir-akhir ini adalah kecenderungan dominan DEN-2.
Penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue  adalah virus Dengue dan
nyamuk aedes
1. Aedes Aegypti
Adalah nyamuk yang hidup di daerah tropis, terutama hidup dan
berkembang biak di dalam rumah, yaitu di tempat penampungan air
jernih atau tempat penampungan air di sekitar rumah. Nyamuk ini
sepintas tampak berlurik, berbintik bintik putih. Biasanya menggigit
pada siang hari, terutama pada pagi dan sore hari.
2. Aedes Albopictus
 Tempat habitatnya di tempat air bersih.
 Biasanya di sekitar rumah atau pohon-pohon, seperti pohon pisang,
pandan kaleng bekas.
 Menggigit pada waktu siang hari
 Jarak terbang 50 meter.
D. PATOFISIOLOGI
Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk kedalam tubuh
penderita adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami
demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal diseluruh tubuh, ruam
atau bintik-bintik merah pada kulit, hiperemi tenggorokan dan hal lain
yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah bening,
pembesaran hati  (hepatomegali) dan pembesaran limpa (splenomegali).
Peningkatan dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma,
terjadi hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia serta efusi dan
renjatan (Syok).
Hemokontrasi (peningkatan hematokrit 32%) menunjukkan atau
menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma (plasma leakage)
sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan
intravena. Oleh karena itu ada penderita Demam Berdarah Dengue (DHF)
sangat dianjurkan untuk memantau hematokrit darah berkala untuk
mengetahui berapa persen hemokonsentrasi yang terjadi.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah trombosit
menunjukkan kebocoran plasma telah teratasi sehingga pemberian cairan
intravena harus dikurangi kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah
terjadinya edema paru dan gagal jantung. Sebaliknya jika tidak mendapat
cairan yang cukup, penderita akan mengalami kekurangan cairan yang
dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa mengalami renjatan.
Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul
anoksia jaringan, metabolik asidosis dan kematian apabila tidak segera
diatasi dengan baik.
E. PHATWAY

Arbovirus (melalui
Beredar dalam aliran darah Infeksi virus dengue (viremia)
nyamuk aedes
Membentuk & melepaskan Mengaktifkan system
PGE2 Hipothalamus
zat C3a, C5a komplemen

Hipertermi Peningkatan reabsorbsi Na+ Permeabilitas membrane


dan H2O meningkat

Kerusakan endotel Resiko syok hipovolemik


pembuluh darah

Renjatan hipovolemik
Merangsang &
mengaktivasi factor
pembekuan
Kebocoran plasma

DIC

Perdarahan

Resiko perfusi jaringan tidak


efektif

Hipoksia jaringan

Kekurangan volume cairan Ke extravaskuler

Hepar abdomen

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan
Nyeri Akut
tubuh

hepatomegali Assites
Mual, Muntah
Penekanan intra abdomen

F. MANIFESTASI KLINIK
Bentuk ringan demam dengue menyerang semua golongan umur
dan bermanivestasi lebih berat pada orang dewasa. Demam dengue pada
bayi dan anak berupa demam ringan yang disertai dengan timbulnya ruam
makulopapular. Pada anak besar dan dewasa, penyakit ini dikenal dengan
sindrom triase dengue yang berupa demam tinggi dan mendadak yang
dapat mencapai 40°C atau lebih dan terkadang disertai dengan kejang
demam, sakit kepala, anoreksia, muntah-muntah (vomiting), epigastrik
discomfort, nyeri perut kanan atas atau seluruh bagian perut dan
perdarahan, terutama perdarahan kulit, walaupun hanya berupa uji
tourniguet positif. Selain itu, perdarahan kulit dapat berwujud memar atau
juga berupa perdarahan spontan mulai dari petechiae (muncul pada hari-
hari pertama demam dan berlangsung selama 3-6 hari) pada ekstremitas,
tubuh, dan muka, sampai epistaksis dan perdarahan gusi, sementara
perdarahan gastrointestinal masih lebih jarang terjadi dan biasanya terjadi
pada kasus syok yang berkepanjangan. Pada masa konvalesens seringkali
ditemukan eritema pada telapak tangan dan kaki dan hepatomegali. Nyeri
tekan sering kali ditemukan tanpa ikterus maupun kegagalan peredaran
darah.
Adapun tanda dan gejala spesifiknya yaitu :
 Demam tinggi mendadak dan terus-menerus selama 2-7 hari.
 Pembesaran hati.
 Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit : petechie, ekimosis,
hematoma.
 Epistaksis, hematemesis, melena, hematuria.
 Mual, muntah, tidak ada napsu makan, diare, konstipasi
 Nyeri otot, tulang sendi, abdomen, dan uluh hati
 Sakit kepala
 Pembengkakan sekitar mata
 Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening
 Tanda dan renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah
menurun, gelisah, nadi cepat dan lemah

G. Klasifikasi DHF
Dengue Haemorragic Fever (DHF) diklasifikasikan menjadi 4 kategori
penderita menurut derajat beratnya sebagai berikut :
 Derajat I
Adanya demam tanpa perdarahan spontan, manifestasi perdarahan
hanya berupa touniket tes yang positif.
 Derajat II
Gejala demam diikuti dengan perdarahan spontan, biasanya berupa
perdarahan dibawah kulit dan atau berupa perdarahan lainnya.
 Derajat III
Adanya kegagalan sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah
penyempitan tekanan nadi (< 20 mmHg) atau hipotensi dengan
disertai akral yang dingin dan gelisah.
 Derajat IV
Adanya syok yang berat dengan nadi tak teraba dan tekanan darah
yang tidak terukur ( Soegeng Soegijanto, 2018)

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk menskrining penderita
demam dengue adalah melalui uji rumpel leede, pemeriksaan kadar
hemoglobin, kadar hematokrit dan hapus darah tepi untuk melihat
adanya limpositosis relatif disertai gambar limfosit plasma biru.
Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (metode cell
culture) atau pun deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-
PCR (Reverse Transcriptosi Polymerase Chain Reachon). Namun
ketika teknik yang rumit yang berkembang saat ini adalah uji serologi
(adanya antibodi spesifik terhadap antibodi total, IgM maupun IgG).
2. Pemeriksaan serologi ditujukan untuk deteksi antibodi spesifik
terhadap virus dengue. Pemeriksaan yang banyak digunakan adalah
berupa uji HI (Haemoglobin Inhibition test : uji hambatan
hemaglutinasi) yang merupakan standar WHO, kemudian uji indirect
ELica, uji captured Elisa untuk dengue baik IgM captured-Elisa
(MAC-ELISA) maupun IgG captured-ELISA. dnegue blot/dengue
stick/dot imunosial dengue dan uji SCT (immuno-enromotographie
test) antara lain dengue rapid test, sedangkan uji fiksasi komplemen
dan uji netralisasi sudah lama ditinggalkan karena rumit dan tidak
praktis.
3. Uji HI yang merupakan uji serologis yang dianjurkan menurut standar
WHO, dapat mendeteksi antibody anti-dengue, dimana infeksi virus
dengue akut ditandai dengan terdapatnya peningkatan titer empat kali
atau lebih antara sepasang sera yaitu serum akut dan serum
konvalesens, disamping itu 1 : 2.560 menunjukkan interpretasi infeksi
flovivirus skondes.
I. PENATALAKSANAAN
a. Penatalaksanaan Medik
1. Kasus Dengue Haemorragic Fever (DBD) yang diperkenakan
berobat jalan
Bila penderita mengeluh panas, tetapi keinginan makan dan
minum masih baik. Untuk mengatasi panas tinggi yang mendadak
diperkenankan memberi obat panas paracetamol 10-15 mg/kg BB
setiap 3-4 jam diulang jika gejala panas masih nyata diatas 38,5°C.
Obat panas salisilat tidak dianjurkan karena mempunyai resiko
terjadinya penyulit perdarahan dan asidosis. Sebagian besar kasus
Dengue Haemorragic Fever (DHF) yang berobat jalan ini adalah
kasus Dengue Haemorragic Fever (DHF) yang menunjukkan
manifestasi panas hari pertama dan hari kedua tanpa menunjukkan
penyulit lainnya.
Apabila penderita Dengue Haemorragic Fever (DHF) ini
menunjukkan manifestasi penyulit hipertermi dan konvalesens
sebaiknya kasus ini dianjurkan untuk dirawat inap.
2. Kasus Dengue Haemorragic Fever (DHF) derajat I dan II
Pada hari ke 3, 4, dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena
penderita ini mempunyai resiko terjadinya syok. Untuk
mengantisipasi kejadian tetesan berdasarkan tatanan 7,5%. Pada
saat fase panas penderita dianjurkan banyak minum air buah atau
oralit yang biasa dipakai untuk mengatasi diare. Apabila
hematokrit meningkat lebih dari 20% dan harga normal merupakan
indikator adanya kebocoran plasma dan sebaiknya penderita
dirawat diruang observasi dipusat rehidrasi selama kurun waktu
12-14 jam. Penatalaksanaan Dengue Haemorragic Fever (DHF)
derajat III , IV “Dengue Shock Syndrome” (sindrome renjatan
dengue) termasuk kasus kegawatan yang membutuhkan
penanganan secara cepat dan perlu memperoleh cairan pengganti
secara tepat. Biasanya dijumpai kelainan asam basa dan elektrolit
(hiponatremi). dalam hal ini perlu dipikirkan kemungkinan dapat
terjadi DIC. Terkumpulnya asam dalam darah mendorong
terjadinya DIC yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan
hebat dan renjatan yang sukar diatasi.
Penggantian secara cepat plasma yang hilang digunakan
larutanm garam isotonik (ringer laktat, 5% dekstrose, larutan ringer
asetat dan larutan normal garam faali) dengan jumlah 10-20
ml/kg/1 jam.
3. Obat penenang
Pada beberapa kasus obat penenang dibutuhkan terutama
pada kasus yang sangat gelisah. Obat yang hipatoksik sebaiknya
dihindari, chloral hidrat oral atau rektal dianjurkan dengan dosis
12,5-50 mm/kg (tetapi jangan lebih 1 jam) digunakan sebagai satu
macam obat hipnotik.
4. Terapi oksigen
5. Transfusi darah.
6. Kelainan ginjal
Dalam keadaan syok, harus yakin benar bahwa penggantian
volume intravaskuler telah benar-benar terpenuhi dengan baik. Apabila
diuresis belum mencukup 2 ml/kg BB/jam sedangkan cairan yang
diberikan sudah sesuai kebutuhan, maka selanjutnya furosemid 1
mg/BB dapat diberikan pemantauan tetap dilakukan untuk jumlah
diuresis, kadar ureum dan kreatinin. Tetapi apabila diuresis tetap
belum mencukupi, pada umumnya syok juga belum dapat dikoreksi
dengan baik maka pemasangan Centrol Venous Pressure (CVP) perlu
dilakukan untuk pedoman pemberian cairan selanjutnya.
b. Penatalaksanaan keperawatan
1. Tirah baring atau istirahat baring.
2. Diet makan lunak.
3. Minum banyak (2 – 2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh
manis, sirup dan beri penderita sedikit oralit, pemberian cairan
merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF.
4. Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl)
merupakan cairan yang paling sering digunakan.
5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan)
jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
6. Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.
7. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminopen.
8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
9. Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.
c. DHF tanpa Renjatan
 Beri minum banyak ( 1 ½ - 2 Liter / hari )
 Obat antipiretik, untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan
kompres.
 Jika kejang maka dapat diberi luminal ( anticonvulsan ) untuk anak
<1 th dosis 50 mg IM dan untuk anak >1th 75 mg IM. Jika 15
menit kejang belum teratasi , beri lagi luminal dengan dosis 3 mg /
Kg BB anak <1 th dan pada anak >1th diberikan 5 mg/ Kg BB.
 Berikan infus jika terus muntah dan hematokrit meningkat.
d. DHF dengan Renjatan
 Pasang infus RL
 Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander (
20 – 30 ml/ kg BB )
 Tranfusi jika Hb dan Ht turun
e. Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue.
 Panas 1-2 hari disertai dehidrasi ( karena panas, muntah, masukan
kurang ) atau kejang-kejang.
 Panas 3-5 hari disertai nyeri perut, pembesaran hati, uji tourniquet
positif / negatif, kesan sakit keras ( tidak mau bermain ), Hb dan
PCV meningkat.
 Panas disertai perdarahan
 Panas disertai renjatan.

J. KOMPLIKASI

 Merasakan nyeri perut tidak tertahankan.

 Mengalami pendarahan pada lapisan kulit yang mengakibatkan kulit


tampak seperti memar.

 Mengalami pendarahan pada gusi.

 Mengeluarkan darah dari mulut dan hidung.

 Muntah-muntah dengan disertai darah.

 Mengalami pembengkakan dan kerusakan pada organ hati.

 Mengalami gangguan pada paru-paru dan jantung.

 Mengalami kegagalan pada sistem peredaran darah.

K. PENCEGAHAN
1. Menguras bak mandi seminggu sekali.
2. Bersihkan wadah penampung air lainnya.
3. Pasang kelambu nyamuk.
4. Jangan menumpuk atau menggantuk baju teralu lama.
5. Gunakan lotion atau krim anti nyamuk.
6. Fogging.
7. Pangkas dan bersihkan tanaman liar di halaman rumah.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Biodata
Biodata terdiri dari identitas klien, orang tua dan saudara kandung.
Identitas klien meliputi : nama, usia, jenis kelamin, pendidikan, agama,
tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, nomor register dan
diagnosa medik. Identitas orang tua meliputi : alamat, usia, jenis
kelamin, pendidikan agama, pekerjaan, alamat.Sedangkan identitas
saudara kandung meliputi nama dan usia.
2. Keluhan utama
Keluhan utama meliputi alasan klien di bawah ke rumah sakit seperti
demam, nyeri otot, mual,muntah, nyeri kepala, perut dan sendi disertai
perdarahan.
3. Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Klien menderita nyeri kepala, nyeri perut disertai mual
dan  muntah.
b) Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit yang pernah dialami klien seperti demam, tidak ada
riwayat alergi, tidak ada ketergantungan terhadap makanan/
minuman dan obat-obatan.
c) Riwayat penyakit keluarga
Penyakit DHF bisa dibawa oleh nyamuk jadi jika dalam satu
keluarga ada yang menderita penyakit ini  kemungkinan tertular itu
besar.
d) Riwayat kesehatan keluarga
Daerah atau tempat yang sering dijadikan tempat nyamuk ini
adalah lingkungan yang kurang pencahayaan dan sinar matahari,
banyak genangan air, vas and ban bekas.
4. Riwayat imunisasi
Riwayat imunisasi meliputi kelengkapan imunisasi seperti BCG, DPT,
Polio, Campak dan Hepatitis.
5. Riwayat tumbuh kembang anak
Sesuai dengan tumbuh kembang klien.
6. ADL
 Nutrisi
Dapat menjadi mual, muntah, anoreksia.
 Aktifitas        
Lebih banyak berdiam di rumah selama musim hujan dapat terjadi
nyeri otot dan sendi, pegal-pegal pada seluruh tubuh, menurunnya
aktifitas bermain.
 Istirahat tidur       
Dapat terganggu karena panas, sakit kepala dan nyeri.
 Eliminasi alvi        
Dapat terjadi diare/ konstipasi, melena.
 Personal hygiene
Pegal-pegal pada seluruh tubuh saat panas
dapat meningkatkan ketergantungan   kebutuhan perawatan diri.
7. Riwayat psikososial
Bagaimana kehidupan sosial dan lingkungannya, apakah keadaan
tempat tinggalnya memenuhi syarat kesehatan.
8. Riwayat spiritual
Apakah anggota keluarga rajin beribadah dan sering mengikuti
kegiatan keagamaan.
9. Pemeriksaan umum  : Suhu tubuh tinggi (39,4 – 41,1 0C), nadi cepat
dan lemah.
 Kulit                
Tampak bintik merah (petekil), hematom, ekimosit.
 Kepala
Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor (kadang).
 Dada
Nyeri tekan epigastrik, nafas cepat dan sering berat.
 Abdomen
Pada palpasi teraba pembesaran hati dan limfe pada keadaan
dehidrasi turgor kulit menurun.
 Anus dan genetalia
Dapat terganggu karena diare/ konstipasi.
 Ekstrimitas atas dan bawah : ekstrimitas dingin, sianosis.
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan di jumpai:
 Hb dan PCV meningkat (≥20%).
 Trombositopenia (≤100.000/ml).
 Leukopenia (mungkin normal atau leukositosis).
 Ig.D.dengue positif.
 Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukan : hipoprotinemia,
hipokloremia, dan hiponatremia.
 Urium dan PH darah mungkin meningkat.
 Asidosis metabolik: pCO <35-40 mmHg HCO rendah.
 SGOT/SGPT memungkinkan meningkat.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermi b/d peningkatan laju metabolisme
2. Nyeri b/d agen cidera biologis
3. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor
biologis
C. Intervensi Keperawatan
1. Hipertermi b/d peningkatan laju metabolisme
Intervensi
SLKI :
Thermoregulation
Kriteria hasil :
 Suhu badan dalam rentang normal
 Nadi dan RR dalam rentang normal
 Tdak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

SIKI :

1. Monitor warna dan suhu kulit


2. Monitor intake dan output
3. Monitor tanda tanda hiprtermi dan hipotermi
4. Monitor suhu setiap 2 jam sekali
5. Tingkatkan sirkulasi udara
6. Selimuti pasien
7. Berikan tapid sponge bath
8. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas
9. Berikan anti piuretik
10. Kolaborasi pemberian cairan intra vena

2. Nyeri b/d agen cidera biologis


Intervensi
SLKI :
Kriteria hasil :
 Mampu mengontrol nyeri ( tahu penyebab nyeri, mampu
menggunakan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
management nyeri
 Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri)

SIKI :

Pain management

1. Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi,


Karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi.
2. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
selanjutnya.
3. Obeservasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
4. Guanakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
5. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi
dan interpersonal).
6. Ajarkan teknik non farmakologi.
7. Tingkatkan istrahat.

Analgesic Administration
1. Tentukan lokasi karakteristik kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat.
2. cek instruksi dokter tentang jenis obat , dosis, dan frekuensi.
3. Cek riwayat alergi
4. Tentukan pilihan analgesic tergantung tipe dan beratnya nyeri.
5. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri.

3. Kekurangan volume cairan b/d kehilangan cairan aktif


Intervensi
SLKI :
Kriteria hasil :
 Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB.
 Tekana darah, nadi, dan suhu dalam batas normal
 Tidak ada tanda tanda dehidrasi
 Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada
rasa haus yang berlebihan.
SIKI :
1. Monitor status dehidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi
adekuat, tekanan darah ortostatik )
2. Monitor vital sign
3. Monitor intake dan output cairan
4. Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian
5. Monitor status nutrisi
6. Berika cairan IV pada suhu ruangan
7. Orong keluarga untuk membantu pasien makan
8. Kolaborasi pemberian IV
9. Kolaborasi dengan dokter

4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d faktor


biologis
Intervensi
SLKI :
Kriteria hasil :
 Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
 Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
 Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
 Tidak ada tanda tanda malnutrsi
 Menunjukan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
 Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

SIKI :

1. Kaji adanya alergi makan


2. Monitor turgor kulit
3. Monitor mual muntah
4. Monitor kalori dan intake nutrisi
5. Monitor adanya penurunan berat badan
6. Monitor interaksi orang tua selama makan
7. Anjurkan klien untuk meningkatkan protein dan vitamin c
8. Berikan makanan yang terpilih.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI 2017. Pencegahan Dan Pemberantasan Demam Berdarah


Dengue, Jakarta: Dirjen Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan
Lingkungan.

Kristina, dkk. 2019. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Litbang Depkes


RI

Notoatmodjo, S. 2016 Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta.

Sutaryo. Dengue. 2018 Yogyakarta: Medika FK UGM;

Suroso. T. Hadinegoro SR, 2018 Penyakit Demam Berdarah Dengue dan


Demam Berdarah Dengue.

Soedarto. 2018. Demam Berdarah Dengue Dengue Haemoohagic fever.


Jakarta:

Soegeng, Soegijanto. 2018. Demam Berdarah Dengue. Surabaya:


Airlangga University press.

Soedarmo, Sumarmo S. 2018. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi


dan Penyakit Tropis. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia..

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2014 Simposium & Workshop:


Update Demam Berdarah Dengue Pada Anak. Semarang: Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.1- 25.

WHO dan Depkes. RI. 2017, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai