Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah member petunjuk, bimbingan dan arahan, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun dalam
rangka memenuhi tugas KIMIA

Makalah ini tersusun dari berbagai sumber reverensi baik dari


media cetak maupun internet. Dengan adanya makalah ini diharapkan
dapat membantu dalam proses pembelajaran. Penulis menyadari bahwa
makalah yang sudah penulis kerjakan masih sangat jauh dari kata
sempurna, Oleh karena itu kritik, saran serta pendapat dari ibu Wita
Kristiana, ST., MT yang bersifat membangun selalu penulis harapkan
dengan tujuan supaya tugas - tugas yang selanjutnya dapat penulis
kerjakan dengan lebih baik lagi.
DAFTAR ISI

KATAPENGANTAR………………………………....………………
…............................................….......….i

DAFTARISI……………………...……………........…………………
….............................................……........i

BAB
PENDAHULUAN...................................................................................
......1

A. Latar Belakang.......................................................................
………...............
................................................1
B. Rumusan
Masalah...............................................................................................1
C. Tujuan................................................................................................
..................1

BAB II PEMBAHASAN
STOIKIOMETRI...........................................................2

A. Hukum hukum Dasar


kimia..............................................................................2
B. Teori Atom Dalton .....................…………….……........…
.………....…........6
C. Massa Atom Dan Massa Molekul Relatif ..…...……
.……………....…….....7
D. Konsep Mol.............................................................
.…………….....................8
E. Rumus Empiris Dan Rumus Molekul.............
.…………….............................9
F. Molalitas....................................................
.……………..................................10
G. Persen Massa............................................
.……………..................................10
H. Fraksi mol.......................................................
.……………............................11

BAB IV CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN....


.……………....................12

BAB III PENUTUP.......................................


.……………..................................14

A. Kesimpulan......................................
.……………..........................................14
B. Saran.............................................................
.……………..............................15

DAFTAR PUSTAKA...........................................
.……………..........................16

ii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui bahwa air adalah salah satu


senyawa paling sederhana dan paling dijumpai serta paling penting.
Bangsa Yunani kuno menganggap air adalah salath satu dari empat
unsur penysun segala sesuatu (disamping, tanah, udara, dan api).
Bagian terkecil daria air adalah molekul air.

Stoikiometri behubungan dengan hubungan kuantitatif antar


unsure dalam satu senyawa dan antar zat dalam suatu reaksi. Istilah
itu berasal dari Yanani, yaitu dari kata stoicheion, yang berarti unsur
dan mentron yang artinya mengukur. Dasar dari semua hitungan
stoikiometri adalah pengetahuan tentang massa atom dan massa
molekul. Oleh karena itu, stoikiometri akan dimulai dengan
membahasa upaya para ahli dalam penentuan massa atom dan massa
molekul.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Massa Atom , Jumlah Partikel , dan Mol


2. Bagaimana konsep Massa Atom Relatif ( Ar) ?
3. Bagaiman konsep Molekul Relatif ( Mr) ?
4. Bagaimana konsep Rumus Empiris dan rumus molekul
5. Bagaimana konsep persen massa

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahi dasar- dasar Kimia


2. Mengetahui lebih mendalam tentang stoikiometri yang kita
temukan dalam kehidupan.
1

BAB II
PEMBAHASAN STOIKIOMETRI

A. HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA


Ilmu kimia merupakan bagian ilmu pengetahuan alam yang
mempelajari materi yang meliputi susunan, sifat, dan parubahan
materi serta energi yang menyertai perubahan materi. Penelitian yang
cermat terhadap pereaksi dan hasil reaksi telah melahirkan hukum-
hukum dasar kimia yang menunjukkan hubungan kuantitatif atau
yang disebut stoikiometri. Stoikiometri berasal dari bahasa Yunani,
yaitu stoicheon yang berarti unsur dan metrain yang berarti
mengukur. Dengan kata lain, stoikiometri adalah perhitungan kimia
yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam
reaksi. Hukum-hukum kimia dasar tersebut adalah hukum kekekalan
massa, hukum perbandingan tetap, hukum perbandingan volume, dan
hukum perbandingan berganda. Hukum-hukum dasar kimia itu
merupakan pijakan kita dalam mempelajari dan mengembangkan
ilmu kimia selanjutnya.

1. HUKUM KEKEKALAN MASSA (HUKUM LAVOISIER)

Pada awal abad ke- 18, para kimiawan dalam usahanya


mempelajari kalor dan pembakaran menemukan hal yang sangat
aneh. Contohnya, jika kayu dibakar, maka akan menghasilkan residu
abu (padatan) yang jauh lebih ringan daripada kayu semula. Akan
tetapi, jika logam dibakar di udara bebas, maka akan menghasilkan
oksida yang lebih berat dibandingkan dengan logam semula. Untuk
menjawab keanehan tersebut, para kimiawan mengembangkan
metode eksperimen secara cermat dengan menggunakan neraca

kimia dalam mengukur volume atau massa gas, cair dan padat yang
terjadi pada reaksi kimia. Oleh karena itu, massa reaktan dan hasil
reaksi dapat diukur dengan cermat. Hasil eksperimen tersebut
menyajikan fakta kepada pengamat dan menuntut mereka ke
perumusan hukum fundamental (dasar ) yang menguraikan sifat
kimia. Hukum dasar yang diperoleh dikenal dengan hukum
kekekalan massa, yaitu sebagai berikut.

’’ Massa tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan dalam


perubahan materi apa pun.’’

Fakta hukum dasar kekekalan massa sudah dibuktikan pada tahun


1756 oleh ilmuwan Rusia, M.V. Lomonosov. Mungkin karena
masalah bahasa, karyanya tidak dikenal di Eropa Barat secara
meluas. Secara terpisah pada tahun 1783, seorang kimiawan besar
Prancis, Antoine Lavoisier melakukan hal yang sama dengan
menggunakan neraca kimia untuk menunjukkan bahwa jumlah dari
massa hasil reaksi kimia sama dengan jumlah massa reaktannya.

Lavoisier melakukan eksperimen dengan memanaskan mrerkuri


dalam labu tertutup yang berisi udara. Setelah beberapa hari,
terbentuk zat yang berwarna merah yaitu merkuri(II) oksida. Gas
dalam tabung massanya berkurang dan tidak dapat lagi menyangga
pembakaran (lilin dalam tabung tidak menyala lagi) dan hewan akan
mati jika dimasukkan ke dalamnya. Hal itu menunjukkan bahwa gas
oksigen dalam tabung sudah habis. Sekarang diketahui bahwa gas
yang tersisa adalah nitrogen, sedangkan oksigen dari udara dalam
tabung telah habis bereaksi dengan merkuri. Selanjutnya, Lavoisier
mengambil oksida merkuri tersebut dan memanaskannya sehingga
terurai kembali.
Kemudian dia menimbang merkuri dan gas yang dihasilkan.
Ternyata massa gabungannya sama dengan massa merkuri(II) oksida
yang digunakan semula. Akhirnya setelah beberapa kali dilakukan
eksperimen dan hasilnya sama, Lavoisier menyatakan hukum
kekekalan massa yaitu sebagai berikut.

’’ Dalam setiap reaksi kimia, massa zat sebelum dan sesudah


reaksi selalu sama.’’

2. HUKUM PROUST ATAU HUKUM PERBANDINGAN


TETAP

Pada tahun 1799 kimiawan Prancis, Joseph Proust, melalui


berbagai percobaan menemukan suatu ketetapan yang dikenl dengan
hukum Proust, yaitu sebagai berikut.
“perbandingan massa unsur-unsur pembentuk senyawa selalu tetap,
sekali pun dibuat dengan cara yang berbeda”
Pada waktu itu Proust menemukan bahwa tembaga karbonat, baik
dari sumber alami maupun sintetis di laboratorium mempunyai
susunan yang tetap.

Untuk menentukan susunan suatu senyawa, kita dapat menguraikan


suatu contoh senyawa yang telah kita timbang, kemudian senyawa-
senyawa itu diuraikan menjadi unsur-unsurnya. Masing-masing
unsur pembentuk senyawa itu kita timbang, ternyata diperoleh suatu
perbandingan tertentu. Jika hal tersebut diulang-ulang, maka akan
diperoleh perbandingan yang sama. Metode lain juga dapat
dilakukan, yaitu dengan menimbang massa senyawa yang terbentuk
dari persenyawaan unsur-unsur yang masing-masing unsur tersebut
4
massanya diketahui. Dari sekian banyak eksperimen mengenai
susunan unsur dalam senyawa, selalu menghasilkan pernyataan
berikut.
“Suatu senyawa murni selalu tersusun dari unsur-unsur yang
tetap dengan perbandingan massa yang tetap.”

3. HUKUM PERBANDINGAN BERGANDA

Ketertarikan John Dalton mempelajari dua unsur yang dapat


membentuk lebih dari satu senyawa ternyata Menghasilkan suatu
kesimpulan yang disebut hukum perbandingan berganda:

’’Bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, maka
perbandingan massaunsur yang satu, yang bersenyawa dengan
unsur lain yang tertentu massanya merupakan bilangan bulat dan
sederhana’’.

4. HUKUM PERBANDINGAN VOLUME

Hubungan antara volume-volume dari gas-gas dalam reaksi kimia


telah diselidiki oleh Joseph Louis Gay-Lussac dalam tahun 1905.
Pada penelitian itu ditemukan bahwa pada suhu dan tekanan tetap,
setiap satu volume gas oksigen akan bereaksi dengan dua volume gas
hidrogen menghasilkan dua volume uap air, dengan demikian
perbandingan antara volume hidrogen, volume oksigen dan volume
uap air berurut adalah 2:1:2. Contoh lain : satu volume gas hidrogen
akan bereaksi dengan satu volume gas klor menghasilkan dua
volume gas hidrogen klorida; perbandingan volume hidrogen,
volume klor dan volume hidrogen klorida berurut adalah 1:1:2.
5
Pada reaksi antara gas nitrogen dan gas hidrogen membentuk gas
amonik, maka perbandingan volume dari ketiga gas itu berturut
adalah 1:3:2 (N2 : H2 : NH3).

Berdasarkan uraian di atas,dapat disimpulkan bahwa:

“pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volume gas


pereaksi dengan volume gas hasil reaksi merupakan bilangan
bulat dan sederhana (sama dengan perbandingan koefisien
reaksinya)”.

B. TEORI ATOM DALTON

Mempelajari tentang teori atom sangatlah penting sebab atom


merupakan penyusun materi yang ada di alam semesta. Dengan
memahami atom kita dapat mempelajari bagaimana satu atom
dengan yang lain berinteraksi, mengetahui sifat-sifat atom, dan
sebagainya sehigga kita dapat memanfaatkan aam semesta untuk
kepentingan umat manusia.

Nama “atom” berasal dari bahasa Yunani yaitu “atomos”


diperkenalkan oleh Democritus yang artinya tidak dapat dibagi lagi
atau bagain terkecil dari materi yang tidak dapat dibagi lagi. Konsep
atom yang merupakan penyusun materi yang tidak dapat dibagi lagi
pertama kali diperkenalkan oleh ahli filsafat Yunani dan India.
Konsep atom yang lebih modern muncul pada abab ke 17 dan 18
dimana saat itu ilmu kimia mulai berkembang. Para ilmuwan mulai
menggunakan teknik menimbang untuk mendapatkan pengukuran
yang lebih tepat dan menggunakan ilmu fisika untuk mendukung
perkembangan teori atom.
6
John Dalton seorang guru berkebangsaan Ingris menggunakan
konsep atom untuk menjelaskan mengapa unsur selalu bereaksi
dengan perbandingan angka bulat sederhana (selanjutnya lebih
dikenal dengan hokum perbandingan berganda) dan mengapa gas
lebih mudah larut dalam air dibandingkan yang lain. Dalton
menyusun teori atomnya berdasarkan hukum kekekalan massa dan
hokum perbandingan tetap. Dimana konsep atomnya adalah sebagai
berikut:
 Setiap unsur tersusun dari partikel kecil yang disebut sebagai atom.
 Atom dari unsur yang sama adalah identik dan atom dari unsur
yang tidak berbeda dalam beberapa hal dasar.
 Senyawa kimia dibentuk dari kombinasi atom. Suatu senyawa
selalu memiliki perbandingan jumlah atom dan jenis atom yang
sama.
 Reaksi kimia melibatkan reorganisasi atom yaitu berubah
bagaimana cara mereka berikatan akan tetapi atom-atom yang
terlibat tidak berubah selama reaksi kimia berjalan.

Model atom Dalton ini biasanya disebut sebagai model atom bola
billiard dimana warna bola billiard yang berbeda-beda merupakan
symbol atom unsur yang berbeda-beda.

C. MASSA ATOM DAN MASSA MOLEKUL RELATIF

Atom adalah partikel yang sangat kecil sehingga massa atom juga
terlalu kecil bila dinyatakan dengan satuan gram. Karena itu, para
ahli kimia menciptakan cara untuk mengukur massa suatu atom,
yaitu dengan massa atom relatif. Massa atom relatif (Ar) adalah
perbandingan massa rata-rata suatu atom dengan satu per dua belas
kali massa satu atom karbon-12.
7
Unit terkecil suatu zat dapat juga berupa molekul. Molekul disusun
oleh dua atau lebih atom-atom yang disatukan oleh ikatan kimia.
Massa molekul relatif (Mr) adalah perbandingan massa rata-rata
suatu molekul dengan satu per dua belas kali massa satu atom
karbon-12.

Ar Y = massa rata-rata 1 molekul Y / (1/12 x massa 1 atom C-


12)

Dalam rumus di atas digunakan massa atom dan massa molekul


rata-rata. Kenapa menggunakan massa atom rata-rata? Karena unsur
di alam mempunyai beberapa isotop.
Jika diketahui massa atom relatif masing-masing unsur penyusun
suatu molekul, massa molekul relatifnya sama dengan jumlah massa
atom relatif dari seluruh atom penyusun molekul tersebut. Molekul
yang mempunyai rumus AmBn berarti dalam 1 molekul tersbut
terdapat matom A dan n atom B. Dengan demikian massa molekul
relatif AmBn dapat dihitung seperti berikut.

Mr AmBn = m x Ar A + n x Ar B

D. KONSEP MOL

Dalam mereaksikan zat, banyak hal yang perlu kita perhatikan


misalnya wujud zat berupa gas, cair dan padat. Cukup sulit bagi kita
untuk mereaksikan zat dalam ketiga wujud zat tersebut, dalam
bentuk padat dipergunakan ukuran dalam massa (gram), dalam
bentuk cair dipergunakan volume zat cair dimana didalamnya ada
pelarut dan ada zat yang terlarut. Demikian pula yang berwujud gas
memiliki ukuran volume gas.
8
Kondisi ini menuntut para ahli kimia untuk memberikan satuan
yang baru yang dapat mencerminkan jumlah zat dalam berbagai
wujud zat. Avogadro mencoba memperkenalkan satuan baru yang
disebut dengan mol. Definisi untuk 1 (satu) mol adalah banyaknya
zat yang mengandung partikel sebanyak 6.023 x 1023. Bilangan ini
dikenal dengan Bilangan Avogadro yang dilambangkan dengan
huruf N.

E. RUMUS EMPIRIS DAN RUMUS MOLEKUL

Rumus kimia suatu zat dapat menjelaskan atau menyatakan jumlah


relatif atom yang ada dalam zat itu. Rumus kimia dibedakan menjadi
rumus molekul dan rumus empiris. Rumus empiris adalah rumus
yang paling sederhana dari suatu senyawa.Rumus ini hanya
menyatakan perbandingan jumlah atom-atom yang terdapat dalam
molekul.Rumus empiris suatu senyawa dapat ditentukan apabila
diketahui salah satu:
- massa dan Ar masing-masing unsurnya
- % massa dan Ar masing-masing unsurnya
- perbandingan massa dan Ar masing-masing unsurnya
Rumus molekul suatu zat menjelaskan jumlah atom setiap unsur
dalam satu molekul zat itu. Bila rumus empirisnya sudah diketahui
dan Mr juga diketahui maka rumus molekulnya dapat ditentukan.

 KEMOLARAN

Kemolaran Larutan (M)


 Kemolaran adalah suatu cara untuk menyatakan konsentrasi
(kepekatan) larutan.
 Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan,
9
atau jumlah mmol zat terlarut dalam tiap mL larutan.
 Misalnya : larutan NaCl 0,2 M artinya, dalam tiap liter larutan
terdapat 0,2 mol (= 11,7 gram) NaCl atau dalam tiap mL
larutan terdapat 0,2 mmol (= 11,7 mg) NaCl.

Rumus Pengenceran : V1.M1=V2.M2


Keterangan :
V1=Volume sebelum pengenceran(liter)
M1=Molaritas sebelum pengenceran(M)
V2=Volume sesudah pengenceran(liter)
M2=Molaritas sesudah pengenceran(M)

F. MOLALITAS

Molalitas menyatakan perbandingan mol zat terlarut dalam


kilogram pelarut. Molalitas dinyatakan antara jumlah mol zat
terlarut dengan massa dalam kg pelarut. Bagaimana simbol dari
molalitas zat? Molalitas disimbolkan dengan m
dengan
n = jumlah mol zat terlarut.........................(mol)
p = massa pelarut........................................(kg)
m = molalitas.............................................(mol kg-1)

G. PERSEN MASSA ( PERSENTASE UNSUR DALAM


SENYAWA )

Rumus kimia menunjukkan jumlah atom-atom penyusun


suatu zat. Oleh karena massa atom suatu unsur sudah tertentu,
maka dari rumus kimia tersebut dapat pula ditentukan persentase
atau komposisi masing-masing unsur dalam suatu zat.

10
Salah satu kegiatan penting dalam ilmu kimia adalah
melakukan percobaan untuk mengidentifikasi zat. Ada dua
kegiatan dalam identifikasi zat, yakni analisis kualitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk
menentukan jenis komponen penyusun zat. Sedangkan
analisis kuantitatif dilakukan untuk menentukan massa dari
setiap komponen penyusun zat. Dengan mengetahui jenis dan
massa dari setiap komponen penyusun zat, kita dapat
mengetahui komposisi zat tersebut. Komposisi zat dinyatakan
dalam persen massa (% massa). Perhitungan persen massa
berikut.

Persen massa komponen = (massa komponen : massa zat) x


100%

H. FRAKSI MOL

Fraksi mol merupakan satuan konsentrasi yang menyatakan


perbandingan antara jumlah mol salah satu komponen
larutan (jumlah mol zat pelarut atau jumlah mol zat terlarut)
dengan jumlah mol total larutan. Fraksi mol disimbolkan
dengan X . Misal dalam larutan hanya mengandung 2
komponen, yaitu zat B sebagai zat terlarut dan A sebagai
pelarut, maka fraksi mol A disimbolkan XA dan XB untuk
fraksi mol zat terlarut.

XA = fraksi mol pelarut

XB = fraksi mol zat terlarut

nA = jumlah mol pelarut

nB = jumlah mol zat terlarut

Jumlah fraksi mol pelarut dengan zat terlarut sama


dengan 1.

XA + XB = 1

11
BAB III
CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN
1. Suatu senyawa mempunyai rumus empiris CH3. Jika
mempunyai Mr senyawa tersebut 30, tentukan rumus
molekul dari senyawa tersebut.
Pembahasan:
Menentukan rumus molekul
(Mr RE) = Mr senyawa
(12 x 1 + 1 x 3)n = 30
(15)n = 30
n = 30/15 = 2
Maka rumus molekul nya : (CH3)2 = C2H6
2. Cuka perdagangan mengandung cuka 25%. Berapa mL air
yang harus ditambahkan kedalam 100 mL cuka tersebut
agar mengandung 5%.
Pembahasan:
%1 . V1 = %2 . V2
25 . 100 = 5(100 + x)
2500 = 500 + 5x
5x = 2000
X = 400 mL

3. Jumlah mol dan jumlah grek 10 g NaOH (Mr. 40) yang


dilarutkan dalam air hingga volume 100 mL adalah...

Pembahasan :
Jumlah mol NaOH = m / Mr = 10 / 40 = 0,25 mol
Jumlah grek NaOH = mol x b = 0,25 x 1 = 0,25 grek
4. Kemolaran dan normalitas 10 g NaOH (Mr. 40) yang
dilarutkan dalam air hingga volume 100 mL adalah...
Pembahasan:
12
Hitung terlebih dahulu mol NaOH:
NaOH = m / Mr = 10 / 40 = 0,25 mol
Molaritas (M) = n / V = 0,25 / 0,1 = 2,5 M
Normalitas (N) = M x b = 0,25 x 1 = 0,25 N

5. Jumlah mol dan grek 74 g Ca(OH)2 (Mr. 74) yang dilarutkan


dalam air hingga volume 1 L adalah...
Pembahasan
Mol Ca(OH)2 = m / Mr = 74 / 74 = 1 mol
Grek C(OH)2 = mol x b = 1 x 2 = 2 grek
Jawaban: B
6. Kemolaran dan normalitas 74 g Ca(OH)2 (Mr. 74) yang
dilarutkan dalam air hingga volume 1 L adalah...
Pembahasan:
Hitung terlebih dahulu mol Ca(OH)2
Mol Ca(OH)2 = m / Mr = 74 / 74 = 1 mol
Menghitung kemolaran dan normalitas:
Molaritas (M) = n / V = 1 / 1 = 1 M
Normalitas (N) = M x b = 1 x 2 = 2 N
7. Massa zat terlarut 50 mL HNO3 0,1 N (Mr. HNO3 = 63)
adalah..
Pembahasan :
M = N / a = 0,1 / 1 = 0,1 M
Mol HNO3 = volume HNO3 x kemolaran HNO3 = 0,05 x 0,1 =
0,005 mol
Massa HNO3 = mol x Mr HNO3 = 0,005 x 63 = 0,315 gram
8.Massa zat terlarut 3 L Ba(OH)2 0,2 N (Mr Ba(OH)2 = 171)
adalah.....

13
Pembahasan:
M = N/a = 0,2 / 2 = 0,1 M
Mol Ba(OH)2 = 3 L x 0,1 M = 0,3 mol
Massa Ba(OH)2 = 0,3 x 171 = 51,3 gram
9. Sebanyak 20 mL larutan HCl dititrasi oleh larutan NaOH 0,1
M dengan menggunakan indikator fenolftalein, Jika perubahan
warna indikator menjadi merah muda memerlukan 25 mL
larutan penetrasi, maka kemolaran larutan HCl adalah...
Pembahasan:
Normalitas larutan NaOH, Nb = Mb = 0,1 M
Va x Na = Vb x Nb
20 x Na = 25 x 0,1
Na = 0,125 N
Jadi kemolaran HCL = Na = 0,125 M
10. Terdapat 50 mL H2SO4 yang memiliki pH = 2. Jumlah
NaOH (Mr = 40) yang diperlukan untuk menetralkan larutan
tersebut adalah...
A. 5 mg
B. 10 mg
C. 15 mg
D. 20 mg
E. 25 mg
Pembahasan
pH larutan H2SO4 = 2, artinya [H+] = 10-2 M
H2SO4 (aq) ---. 2H+ (aq) + SO42- (aq)
[H2SO4] = 1/2 x [H+] = 1/2 x 10-2 M
Normalitas H2SO4 = M x a = 1/2 x 10-2 x 2 = 10-2 N
mgrek H2SO4 = volume x Normalitas = 50 x 10-2 = 0,5 mgrek
mgrek NaOH = jumlah mgrek H2SO4 = 0,5 mgrek

14
mmol NaOH = jumlah mgrek NaOH = 0,5 mmol.Massa NaOH
= mmol NaOH x Mr NaOH = 0,5 x 40 = 20 mJadi untuk
menetralkan larutan tersebut diperlukan 20 mg NaOH

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian materi di atas, dapat ditarik beberapa


kesimpulan yaitu:
 Stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut
hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi.
 Konsep mol digunakan untuk menentukan rumus kimia suatu
senyawa, baik rumus empiris (perbandingan terkecil atom
dalam senyawa) maupun rumus molekul (jumlah atom dalam
senyawa)
 Rumus empiris dihitung gram atau persen masing-masing
penyusun senyawa dan angka tersebut dibagi dengan Ar
masing-masing diperoleh perbandingan mol terkecil dari unsur
penyusun senyawa.
 Rumus molekul dan rumus empiris suatu senyawa ada kalanya
sama, tetapi kebanyakan tidak sama.
 Menentukan rumus molekul senyawa ada dua hal yang harus
terlebih dahulu diketahui yaitu rumus empiris senyawa dan Mr
atau BM senyawa.
 Koefisien reaksi : Perbandingan mol seluruh zat yang ada pada
persamaan reaksi, baik reaksi ruas kiri maupun hasil di ruas
kanan.
 Jika salah satu zat sudah diketahui molnya, mk zat lain pada
persamaan reaksi dapat dicari dengan cara membandingkan
koefisien.
 Hukum-hukum gas Yaitu:
 Hukum Gay-Lussac (hukum perbandingan volume).

 Hukum Avogadro (pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas


yang bervolume sama akan memiliki mol yang sama).
 Keadaan Standar (setiap 1 mol gas apa saja pada suhu 0oC dan
tekanan 1 atm memiliki volume 22,4 liter (22,4 dm3)

B. Saran

Dengan adanya makalah ini semoga bisa menambah wawasan

DAFTAR PUSTAKA
 Brady, E.J. 1999. Kimia Universitas. Jakarta : Binarupa
Aksara.
 Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti.
Jakarta : Erlangga.
 Ompu, Marlan. 2002. Kimia SPMB. Bandung : Yrama Widya.
 Syukri, S. 1999. Kimia Dasar. Bandung : ITB.
 http : //www.google.co,id/kinetika kimia (diakses tanggal 10
Oktober 2010).
 Brady, E.J. 1999. Kimia Universitas. Jakarta : Binarupa
Aksara.
 Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti.
Jakarta : Erlangga.
 Ompu, Marlan. 2002. Kimia SPMB. Bandung : Yrama Widya.
 Syukri, S. 1999. Kimia Dasar. Bandung : ITB.
 http : //www.google.co,id/stoikiometri (diakses tanggal 10
Oktober 2010).
 Keenan, C. 1999. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Anda mungkin juga menyukai