Anda di halaman 1dari 8

A.

     Latar Belakang
            Al-Qur’an merupakan sumber penggalian dan pengembangan ajaran Islam
dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Untuk melakukan penggalian dan
pengembangan pemahaman Ayat-ayat Al-Qur’an, kemampuan tertentu guna
mengasilakan pemahaman yang baik mengenai berbagai perilaku kehidupan manusia.
            Dalam bingkai ajaran Islam, aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh manusia
untuk dikembangkan memiliki beberapa kaidah dan etika atau moralitas dalam
syari’at Islam. Allah telah menurunkan rizki ke dunia ini untuk dimanfaatkan oleh
manusia dengan cara yang telah dihalalkan oleh Allah dan bersih dari segala
perbuatan yang mengandung riba.
            Kata riba berasal dari bahasa Arab, secara etimologis berarti tambahan
(azziyadah). Riba adalah tambahan yang berasal dari usaha haram yang merugikan
salah satu pihak dalam suatu transaksi. Pada dasarnya transaksi riba dapat terjadi dari
transaksi hutang piutang, namun bentuk dari sumber tersebut bisa berupa pinjaman,
jual beli dan lain sebagainya. Para ulama menetapkan dengan tegas dan jelas tentang
pelarangan riba, disebabkan riba mengandung unsur eksploitasi yang dampaknya
merugikan orang lain, hal ini mengacu pada Kitabullah dan Sunnah Rasul serta ijma’
para ulama.
       Bahkan dapat dikatakan tentang pelarangannya sudah menjadi aksioma dalam
ajaran Islam. Dalam makalah ini, penyusun akan memaparkan topik-topik yang
berhubungan dengan riba mulai dari: Pengertian. Ayat Riba.Hukum Riba, Jenis-jenis
Riba, Faktor Penyebab diharamkannya Riba dan Dampak yang timbul dari riba.
Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Riba?
2.      Bagaimana Hukum Riba?
3.      Apa saja jenis-jenis dari Riba?
4.      Apa saja Faktor Penyebab memakan dan diharamkan perbuatan Riba?
5.      Bagaimana dampak dari adanya Riba?
Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian Riba
2.      Untuk mengetahui Hukum Riba.
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis dari Riba.
4.      Untuk mengetahui faktor penyebab memakan dan diharamkan perbuatan
Riba.
5.      Untuk mengetahui dampak dari adanya Riba.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Riba

‫ رباء‬-‫ربا –يربو‬ Di dalam bahasa Indonesia berarti “ bertambah”/ “ Tumbuh”.


            Di dalam bahasa Arab ada beberapa kata yang berakar dari susunan huruf -‫ب‬-‫ا‬

‫ر‬yang mempunyai arti berbeda akan tetapi menggambarkan arti dasar yang sama
yaitu “ lebih” dan akan di gambarkan oleh 4 buah kata sebagai contoh.

            ‫ابيرا‬Dalam surah Ar Ra’ad : 17 yang artinya ( mengapung )di atas. Kata


“mengapung” menggambarkan lebih tingginya sesuatu di atas permukann air.

             ‫رابيه‬ Dalam surah Al Haqqah:10 yang artinya ( siksaan ) yang amat berat .


Dari kata “ siksaan” menggambarkan berambambahny derita yang tidak dikehendaki.

            ‫ربواه‬ Dalam surah Al- Baqarah : 265 yang artinya( dataran tinggi). “Dataran
tinggi menggambarkan lebih tingginya tanah dari dataran tanah yang lainnya.

            ‫اربي‬ Dalam surah An-Nahl : 92 yang artinya ( lebih banyak )

‫الرب‬  secara etomologi artinya “ tumbuh”, “tambahan”/”membesar”.


            Adapun menurut istilah teknis , riba berarti pengambilan tambahan dari harta
pokok atau modal secara bathil, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam
meminjam atau yang bertentangan dengan prisip muamalah dalam islam.
            Dalam al-Qur’an ditemukan kata riba sebanyak delapan kali dalam empat
surat,diantaranya yaitu 30:39, 4:160, 3:130 dan juga dalam ayat yang lainya. Tiga
diantarannya turun setelah Nabi Hijrah dan satu ayat lagi ketika beliau masih di
Makkah. Yang  di Makkah walaupun menggunakan kata riba 30:39, ulama sepakat
bahwa riba yang dimaksud di sana bukan riba yang haram karena ia diartikan sebagai
pemberian hadiah, yang bermotif memperoleh imbalan banyak dalam kesempatan
yang lain.
            
B.     Hukum Riba

            Adapun hukum “ riba” , ulama sepakat  mengharamkannya sesuai dengan


penjelasan al- Quran . Berikut salah satu dalil keharaman riba dalam surah 

·         Al- Baqarah ayat 275.

‫الَّ ِذينَ يَْأ ُكلُونَ الرِّ بَا اَل يَقُو ُمونَ ِإاَّل َك َما يَقُو ُم الَّ ِذي يَتَ َخبَّطُهُ ال َّش ْيطَانُ ِمنَ ْال َمسِّ ٰ َذلِكَ بَِأنَّهُ ْم قَالُوا ِإنَّ َما‬

‫البَ ْي ُع ِم ْث ُل ال ِّربَا‬               
ْ
‫َوَأ َح َّل هَّللا ُ ْالبَ ْي َع َو َح َّر َم الرِّ بَا فَ َم ْن َجا َءهُ َموْ ِعظَةٌ ِم ْن َربِّ ِه فَا ْنتَهَ ٰى فَلَهُ َما َسلَفَ َوَأ ْم ُرهُ ِإلَى هَّللا ِ َو َم ْن عَا َد‬
ٰ ‫ُأ‬
ِ َّ‫فَ ولَِئكَ َأصْ َحابُ الن‬
‫ار هُ ْم فِيهَا خَالِدُون‬
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti
berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan
mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),
sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual
beli dan mengharamkan riba.Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari
Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah.
Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya.”.(QS Al Baqarah:275)
                        
Penjelasan Ayat

ّ‫الَّ ِذينَيَْأ ُكلُونَالرِّ بَااَل يَقُو ُمونَِإاَّل َك َمايَقُو ُمالَّ ِذييَتَ َخبَّطُهُال َّش ْيطَانُ ِمن َْال َمس‬ -
            Dikatakan kepada orang yang menggunakan harta (uang) orang lain: Akalahu
wa Hadhamahu, artinya ia menggunakan uang tersebut dengan leluasa karena tidak
ada harapan uang tersebut bisa dikembalikan lantaran ia telah memakannya.
Yang dimaksud dengan keadaan orang-orang yang memakan riba di dunia ini, seperti
orang yang sengaja melakukan perbuatan lantara mereka gila, karena mereka
dimabukkan oleh kecintaan harta. Dan, setelah harta mampu memperbudak
pikirannya, maka jiwanya menjadi ganas, ingin sekali mengumpulkan harta sebanyak
mungkin, dan harta menjadi tujuan pokok kehidupannya. Mereka menganggap tidak
perlu susah-susah dengan menjalankan riba, dan meninggalkan usaha lainnya.
Sehingga, jiwa mereka keluar dari garis pertengahan yang banyak dianut orang.

ْ ‫ٰ َذلِ َكبَِأنَّهُ ْمقَالُواِإنَّ َم‬


َ‫االبَ ْي ُع ِم ْثاُل ل ِّربَا َوَأ َحاَّل للَّه ُْالبَ ْي َع َو َح َّر َمالرِّ بَافَ َم ْن َجا َءهُ َموْ ِعظَةٌ ِم ْن َربِّ ِهفَا ْنتَهَ ٰىفَلَهُ َما َسلَف‬
            Jika mereka memakan riba, maka riba akan dianggap sebagai yang dihalalkan,
sama seperti jual beli. Dalam keyakinan si pemakan, hal tersebut sama bolehnya
dengan seseorang menjual barang dagangan yang harganya sepuluh dirham, misalnya
dengan bayaran kontan, atau dua puluh dirham dengan kredit. Karena anggapan
membolehkan tadi, maka dalam keyakinan mereka dibolehkan pula memberikan
sepuluh dirham terhadap orang yang membutuhkannya, dengan syrat ia akan
mengembalikannya menjadi dua puluh dirham setelah setahun. Sebab dibolehkannya
ini (dua mu’amalah ini) menurut keyakinan adalah sama, yakni perbedaan waktu.
            Demikianlah alasan mereka, menurut apa yang mereka khayalkan. Padahal
menurut analogi mereka sama sekali tidak benar. Karenanya, Allah berfirman yang
menegaskan bahwa riba adalah haram, sedang jual beli adalah halal. Jual beli
dibolehkan karena tidak ada yang dirugikan dan adanya kerelaan antara penjual dan
pembeli. Sedangkan dalam riba diambil secara paksa, bukan berdasarkan kerelaan.

‫َوَأ ْم ُرهُِإلَىاهَّلل‬
            Allah akan menghukumi masalah tersebut dengan keadilan-Nya. Juga
merupakan suatu keadilan apabila Allah tidak menghukum para pemakan riba
sebelum adanya larangan tersebut, atau belum sampainya nasehat Allah padanya.
Dalam ayat ini terkandung isyarat yang menunjukkan bahwa dibolehkannya hal-hal
yang telah lalu dari hasil riba, adalah sebagai rukhshah lantaran darurat, dan
mengambil bunga yang sudah dimakan sebelum adanya larangan ini, adalah teka yang
mulia.

ٰ ‫ُأ‬
ِ َّ‫َ و َم ْن َعادفَ ولَِئ َكَأصْ َحابُالن‬
َ‫ارهُ ْمفِيهَاخَالِ ُدون‬ َ
            siapa saja yang kembali seperti sedia kala, yakni memakan riba setelah adanya
pengharaman, maka orang yang melakukan itu termasuk orang yang tidak mau
mendengar nasehat Allah. Padahal Allah tidak sekali-kali melarang mereka kecuali
lantaran hal yang sangat membahayakan diri mereka. Dan mereka (yang memakan
riba), adalah penghuni neraka, yang tetap didalamnya.
Pendapat Ulma tentang ‘illat Riba
Ulama sepakat menetapkan Riba Fadhl pada tujuh barang seperti terdapat pada nash,
yaitu emas, perak, gandum syair, kurma, garam dan anggur kering. Pada benda-benda
ini, adanya tambahan pada pertukaran sejenis adalah diharamkan. Adapun pada
barang selain itu, para ulama berbeda pendapat:
1.         Zhahiriyah hanya mengharamkan ke tujuh benda tersebut.
2.         Menurut pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad dan Abu Hanifah, riba
fadhl terjadi pada setiap jual beli barang sejenis dan yang ditimbang.
3.         Imam Syafi’i dan sebagian imam Ahmad berpendapat bahwa riba fadhl
dikhususkan pada emas, perak, dan makanan meskipun tidak ditimbang.
4.         Said ibn Musayyah dan sebagian riwayat Ahmad mengkhususkan pada
makanan jika di timbang.
5.         Imam Malik mengkhususkan pada makanan pokok.
 Untuk lebih jelas nya perbedaan pendapat tersebut akan dijelaskan di bawah ini:
1.         Mazhab Hanafi
Illat riba fadhl menurut ulama hanafiyah adalah jual beli barang yang ditakar atau
ditimbang serta barang yang sejenis, seperti emas, perak, gandum, syair, kurma,
garam dan anggur kering. Dengan kata lain jika barang-barang yang sejenis tersebut
ditimbang utuk diperjualbelkan dan terdapat tambahan dari salah satunya, terjadilah
riba fadhl.
Ulama Hanafiyah mendasarkan pendapat mereka pada hadis sahih dari Said al-Khudri
dan Ubadah Ibn Shanit r.a bahwa Nabi SAW. Bersabda:
“(jual-beli)emas dengan emas, keduanya sama,tumpang terima, (apabila ada)
tambahan adalah riba, (jual-beli) perak dengan perak keduanya sama, tumpang terima
(apabila ada) tambahan adalah riba, (jual-beli) syair dengan syair, keduanya sama,
tumpang terima (apabila ada) tambahan adalah riba, jual beli kurma dengan kurma,
keduanya sama, tumpang terima (apabila ada) tambahan adalah riba, (jual-beli) garam
dengan garam, keduanya sama, tumpang terima (apabila ada) tambahan adalah riba.”
 1.        Mazhab Malikiyah
Illat diharamkannya riba menurut ulama Malikiyah pada emas dan perak adalah
harga, sedangkan mengenai illat riba dalam makanan mereka berbeda pendapat dalam
hubungannya dengan riba nasi’ah dan riba fadhl.
Illat diharamkannya riba nasi’ah dalam makanan adalah sekedar makanan saja
(makanan selain untuk mengibati), baik karena pada makanan tersebut terdapat unsur
penguat (makanan pokok) dan kuat disimpan lama atau tidak ada kedua unsur
tersebut.
Illat diharamkannya riba fadh pada makanan adalah makanan tersebut dipandang
sebagai makanan pokok dan kuat disimpan lama.
Alasan ulama Malikiyah menetapkan illat diatas antara lain, apabila dipahami agar
tidak tidak terjadi penipuan di antara manusia dan dapat saling menjaga, makanan
tersebut haruslah dari makanan yang menjadi pokok kehidupan manusia yakni
makanan pokok seperti gandum, padi, jagung dan lain-lain.
 1.        Madzhab Syafi’i
Illat riba pada emas dan perak adalah harga yakni kedua barang tersebut dihargakan
atau menilai harga suatu barang. Illat pada makanan adalah sesuatu yang bisa
dimakan dan memenuhi 3 kriteria sbb :
1.         Sesuatu yang biasa ditujukan sebagai makanan atau makanan pokok.
2.         Makanan yang lezat atau dimaksudkan untuk melezatkan makanan, seperti
ditetapkan dalam nash adalah kurma, diqiyaskan padanya, seperti tin dan anggur
kering.
3.         Makanan yang dimaksudkan untuk menyehatkan badan dan memperbaiki
makanan yakni obat. Ulama Syafi’iyah antara lain beralasan bahwa makanan yang
dimaksudkan adalah untuk menyehatkan badan termasuk pula obat untuk
menyehatkan badan.
Dengan demikian riba dapat terjadi pada jual beli makanan yang memenuhi kriteria di
atas. Agar terhindar dari unsur riba, menurut ulama Syafi’iyah, jual beli harus
memenuhi kriteria :
1.Dilakukan waktu akad, tidak mengaitkan pembayarannya pada masa yang akan
datang.
2.Sama ukurannya.
3.Tumpang terima
Menurut ulama Syafi’iyah, jika makanan tersebut berbeda jenisnya seperti menjual
gandum dengan jagung, dobolehkan adanya tambahan, berdasarkan pada hadits
Rasulullah Saw bersabda, “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan
gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, keduanya
sama, tumpang terima. Jika tidak sejenis, juallah sekehendakmu asalkan tumpang
terima”.
Selain itu, dipandang tidak riba walaupun ada tambahan jika asalnya tidak sama
meskipun bentuknya sama, seperti menjual tepung gandum dengan tepung jagung.
 1.        Madzhab Hambali
Pada madzhab ini terdapat 3 riwayat tentang illat riba, yang paling masyhur adalah
seperti pendapat ulama Hanafiyah hanya saja ulama Hanabilah mengharamkan pada
setiap jual beli sejenis yang ditimbang dengan satu kurma.
Riwayat kedua adalah sama dengan illat yang dikemukakan oleh ulama Syafi’iyah.
Riwayat ketiga, selain pada emas dan perak adalah pada setiap makanan yang
ditimbang, sedangkan pada makanan yang tidak ditimbang tidak dikategorikan riba
walaupun ada tambahan. Demikian juga pada sesuatu yang tidak dimakan manusia.
Hal ini sesuai dengan pedapat Saib bin Musayyib yang mendasarkan pendapatnya
pada hadits Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada riba kecuali pada yang ditimbang
atau dari yang dimakan dan diminum”. (HR Daruquthni)
C.     Jenis-jenis Riba
Jumhur ulama membagi riba dalam 2 bagian yaitu riba fadhl dan riba nasi’ah :
•           Riba al-fadhl (riba pertukaran)
Menurut ulama Hanafiyah, riba fadhl adalah “Tambahan zat harta pada akad jual beli
yang diukur dan sejenis”
            Dengan kata lain, riba fadhl adalah berlebih salah satu dari dua pertukaran
yang diperjualbelikan. Bila yang diperjualbelikan sejenis, berlebih timbangannya pada
barang-barang yang ditimbang, berlebih takarannya pada barang-barang yang ditakar
dan berlebih ukurannya pada barang-barang yang diukur.
            Oleh karena itu, jika melaksanakan akad sharf (penukaran) antar barang yang
sejenis, tidak boleh dilebihkan salah satunya agar terhindar dari unsur riba.
Larangannya adalah menukar atau menjual komoditi yang sama (terkait dengan 6
komoditi yaitu emas, perak, gandum, biji-bijian, garam dan kurma) dengan jumlah
yang berbeda.
•           Riba nasi’ah
Menurut ulama Hanafiyah, riba nasi’ah adalah “Memberikan kelebihan terhadap
pembayaran dari yang ditangguhkan, memberikan kelebihan pada benda dibanding
utang pada benda yang ditakar atau ditimbang yang berbeda jenis atau selain dengan
yang ditakar dan ditimbang yang sama jenisnya”.
            Riba nasi’ah adalah melebihkan pembayaran atau barang yang dipertukarkan,
diperjualbelikan atau diutangkan karena adanya tambahan waktu pembayaran atau
penyerahan barang baik yang sejenis ataupun tidak.
            Namun, secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua, yaitu riba utang
piutang dan riba jual beli. Kelompok pertama terbagi menjadi riba qordh dan
jahiliyah, sedangkan kelompok kedua ada dua macam, yaitu riba fadl dan nasi’ah.
1.         Riba qardh adalah suatu manfaat yang disyaratkan terhadap yang berhutang
(muqtaridh).
2.         Riba jahiliyah adalah utang dibayar lebih dari pokoknya karena si peminjam
tidak dapat membayar pada waktu yang ditentukan.
3.         Riba fadl adalah pertukaran antara barang sejenis dengan kadar atau takaran
yang berbeda. Ini haram berdasarkan As-Sunnah dan ijma’ karena merupakan sarana
menuju riba nasi’ah.
4.         Riba nasi’ah adalah melebihkan pembayaran barang yang dipertukarkan,
diperjualbelikan, atau diutangkan karena diakhirkan waktu pembayarannya baik yang
sejenis maupun tidak.
            
D.    Faktor Penyebab di Haramkannya Riba

َ‫ ُمْؤ ِمنِين‬ ‫ ُك ْنتُ ْم‬ ‫ِإ ْن‬ ‫الرِّ بَا‬  َ‫ ِمن‬ ‫بَقِ َي‬ ‫ َما‬ ›‫ َو َذرُوا‬ َ ‫هَّللا‬ ‫اتَّقُوا‬ ‫آ َمنُوا‬  َ‫الَّ ِذين‬ ‫َأيُّهَا‬ ‫يَا‬
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba
(yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
. Sebab Turun Ayat
Ibnu Abbas berkata “Suatu ketika, bani mughirah mengadu kepada gubernur makkah,
Attab bin Usaid bahwa mereka menghutangkan hartanya kepada bani Amr bin Auf
dari penduduk Tsaqif. Kemudin, bani Amr bin Auf meminta penylesaian tagihan riba
mereka. Atas konflik ini, Atab mengirim surat laporan kepada Rasulullah. Sebagai
jawaban, turunlah ayat ini”(HR. Abu Ya’la dan Ibnu Mandah)

c. Penjelasan Ayat
Ayat ini adalah sebuah perintah, tetapi perintahnya
adalah  untuk  meninggalkan.  Di  dalam  ushul  fiqih  larangan terhadap
sesuatu  adalah  berarti  perintah  untuk  berhenti mengerjakan  sesuatu
tersebut.  Dalam  hal  ini  larangan  untuk  mengerjakan  riba  berarti perintah untuk
berhenti mengerjakan riba. Hukum asal setiap larangan adalah untuk pengharaman.[6]
E.     Dampak Riba

·         Riba dapat berdampak buruk terhadap:


·         Pribadi seseorang
·         Kehidupan masyarakat
Ekonomi
Dampak riba yang akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari:
1.Kekayaan hanya berputar di segelintir orang saja
2.Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin
3.Mustahik (penerima zakat) semakin meningkat dan muzakki (pembayar zakat)
semakin menurun
4.Terjadinya over produksi
5.Monopoli
6.Penimbunan barang
7.Matinya sedekah
8.Pengurangan timbangan
9.Makanan semakin tidak berkualitas dan syubhat
10.Cara penawaran barang (iklan) dusta
11.Sumpah palsu
12.Kerusakan harga
13.Upah semakin turun
14.Harga barang terus naik

BAB III
KESIMPULAN
            Riba secara bahasa bermakna :  Ziyadah / tambahan. dalam pengertian lain
secara linguistik, riba juga berarti Tumbuh dam membesar.
            Dalam al-Qur’an ditemukan kata riba sebanyak delapan kali dalam empat
surat,diantaranya yaitu 30:39, 4:160, 3:130 dan juga dalam ayat yang lainya
•           Riba berarti menetapkan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat
pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang
dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan).
Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok
atau modal secara bathil.
•           Riba diharamkan dalam semua agama samawi. Riba dilarang dalam Yahudi,
Nasrani dan Islam.
•           Macam-macam riba yaitu: Riba Jahiliyah, Riba Qardhi, Riba Fadli, dan Riba
Nasi’ah.
•           Dampak Riba pada ekonomi: Riba (bunga) menahan pertumbunhan ekonomi
dan membahayakan kemakmuran nasional serta kesejahteraan individual. Riba
(bunga) menyebabkan timbulnya kejahatan ekonomi (distorsi ekonomi) seperti resesi,
depresi, inflasi dan pengangguran.

Anda mungkin juga menyukai