SKRIPSI
PENGARUH PERMAINAN MONOBANI (MONOPOLI ANAK
BERANI) TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP ANAK
LAKI-LAKI TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN
SEKSUAL DI SD 43 KECAMATAN KURANJI
TAHUN 2019
Penelitian Keperawatan Anak
MUHAMMAD RONI
1811316032
PEMBIMBING
1. Dr. Ns. Meri Neherta, S,Kep., M.Biomed
2. Ns. Feri Fernandes, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
SKRIPSI
PENGARUH PERMAINAN MONOBANI (MONOPOLI ANAK
BERANI) TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP ANAK
LAKI-LAKI TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN
SEKSUAL DI SD 43 KECAMATAN KURANJI
TAHUN 2019
Penelitian Keperawatan Anak
MUHAMMAD RONI
1811316032
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
ii
SKRIPSI
PENGARUH PERMAINAN MONOBANI (MONOPOLI ANAK
BERANI) TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP ANAK
LAKI-LAKI TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN
SEKSUAL DI SD 43 KECAMATAN KURANJI
TAHUN 2019
Penelitian Keperawatan Anak
MUHAMMAD RONI
1811316032
PEMBIMBING
1. Dr. Ns. Meri Neherta, S,Kep., M.Biomed
2. Ns. Feri Fernandes, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
SKRIPSI
PENGARUH PERMAINAN MONOBANI (MONOPOLI ANAK
BERANI) TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP ANAK
LAKI-LAKI TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN
SEKSUAL DI SD X KECAMATAN KURANJI
TAHUN 2019
Penelitian Keperawatan Anak
SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
pada Fakultas Keperawatan
Universitas Andalas
MUHAMMAD RONI
1811316032
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2020
iii
iv
v
UCAPAN TERIMA KASIH
“Alhamdulillah” Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan semua rahmat serta hidayahNya kepada seluruh mahlukNya
terkusus kepada peneliti, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Pengaruh Permainan Monobani (Monopoli Anak Berani) Terhadap Pengetahuan
dan Sikap Anak Laki-Laki Tentang Pencegahan Kekerasan Seksual di SD 43
Kecamatan Kuranji Tahun 2019”. Sholawat serta salam tak lupa kita haturkan
pada junjungan Nabi Muhammad SAW, Nabi akhir Zaman yang kita nantikan
syafaatnya kelak di akhirat.
Ucapan terima kasih peneliti ucapkan kepada pembimbing Ibu
Dr. Ns. Meri Neherta, S.Kep., M.Biomed dan Bapak Ns. Feri Fernandes, S.Kep.,
M.Kep., Sp.Kep.J yang telah bersedia membimbing dan memberikan arahan
kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini. Terima kasih pada
Ibu Esi Afriyanti, S.Kp., M.Kes selaku pembimbing akademik yang telah
memberikan motivasi dan nasehat pada peneliti selama mengikuti perkuliahan di
Fakultas Keperawatan Universitas Andalas. Selain itu peneliti mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Ibu Prof. Dr. dr. Rizanda Machmud, M.Kes., FISPH., FISCM selaku Dekan
Fakultas Keperawatan Universitas Andalas
2. Ibu Ns. Yanti Puspita Sari, S.Kep, M.Kep selaku Ketua Program Studi S1
Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Andalas
vi
3. Dewan Penguji Ibu Hermalinda, M.Kep., Ns. Sp.Kep, Bapak Ns. Randy
Refnandes, S,Kep., M.Kep dan Ibu Ns. Bunga Permata Wenny, S.Kep.,
M.Kep yang telah bersedia menjadi penguji dalam sidang skripsi ini.
4. Seluruh Staf dan Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas yang
telah membantu peneliti dalam proses penyusunan skripsi.
5. Kepala SD Negeri 43 Sungai Sapih Ibu Marianis, S.Pd yang telah
memberikan izin untuk melakukan penelitian.
6. Orang tua dan keluarga tercinta yang selama ini memberikan dukungan
maksimal dan do’a kepada peneliti dalam proses penyusunan skripsi ini.
7. Fasilitator yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian Anggi
Persadanta, T.Rahmadani, Minah Sari, Poppy Tia Andria, Mawarni, dan
seluruh rekan-rekan yang telah membantu saya.
8. Sahabat tercinta dan semua teman – teman Angkatan B 2018 Fakultas
Keperawatan Universitas Andalas atas kekompakan, semangat, dan
kebersamaan yang diberikan kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna.
Sehingga peneliti mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
menyempurnakan skripsi ini.
Padang, Januari 2020
Peneliti
vii
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
JANUARI 2020
Nama : Muhammad Roni
No.Bp : 1811316032
Pengaruh Permainan Monobani (Monopoli Anak Berani) Terhadap Pengetahuan
dan Sikap Anak Laki-Laki Tentang Pencegahan Kekerasan Seksual
ABSTRAK
Kejadian kekerasan seksual pada anak laki-laki di Indonesia mengalami
peningkatan setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan anak laki-laki dianggap tidak
beresiko mengalami kekerasan seksual, sehingga kurang mendapat pendidikan
seksual. Pendidikan seksual penting diberikan sejak dini kepada anak dengan
tujuan anak tahu dan mampu bersikap terhadap tindak kekerasan seksual.
Pendidikan pada anak hendaknya diberikan dengan media yang menarik, seperti
simulasi permainan yaitu monopoli. Monobani (Monopoli Anak Berani)
merupakan permainan monopoli yang sudah dimodifikasi dengan materi
pencegahan kekerasan seksual yang sesuai dengan anak usia sekolah. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan monobani terhadap
pengetahuan dan sikap anak dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak laki-
laki. Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan pendekatan one group
pretest dan post test. Sampel penelitian ini adalah anak siswa kelas 3 dan 4
berumur (9-10) tahun yang berjumlah 24 anak. Penelitian ini dilakukan selama 5
bulan dari bulan Agustus – Januari 2020. Pengumpulan data menggunakan
kuesioner pengetahuan dan sikap. Hasil penelitian diperoleh selisih nilai tengah
pengetahuan anak 2,5 dan sikap 3,0. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat
pengaruh pendidikan seksual terhadap pengetahuan dan sikap siswa tentang
pencegahan kekerasan seksual pada anak, p value=0,000 (p<0,05). Diharapkan
kepada tenaga kesehatan dapat menjadikan monobani sebagai alternatif media
pandidikan kesehatan pada anak usia sekolah.
Kata kunci : anak SD, kekerasan seksual, pendidikan kesehatan, permainan
monopoli
Daftar pustaka : 74(2009-2019)
viii
NURSING FACULTY
ANDALAS UNIVERSITY
JANUARY, 2020
Name : Muhammad Roni
Registered Number : 1811316032
The Effects of Monobani (Brave Child Monopoly) Game of Knowledge and
Attitudes Boys About the Prevention of Sexual Violence In Children
ABSTRACT
The incidence of sexual violence against boys in Indonesia has increased every
year. This makes the importance of efforts to prevent sexual violence, one of
which is the provision of sexual education with various media such as the game
Monobani (Brave Child Monopoly). The purpose of this study to determine the
effect of monobani games on children's knowledge and attitudes in preventing
sexual violence on boys. This type of research is a quasi experiment with one
group pretest and postest approaches. The population of this study was students
in grades 3 and 4 aged (9-10) years with a total sample of 24 children. This
research was conducted for 5 months from August - December 2019. Data were
collected in the form of a questionnaire that was processed and analyzed with the
Wilcoxon test. The result showed that the middle value of children's knowledge
before given health education was 6.00 and after given health education was 8.50.
The mean value of children before given health education was 5.00 and after give
health education was 8.00. The results of this study, there was an influence of
sexual education on students of knowledge and attitudes about preventing sexual
violence on children, p value = 0,000 (p <0.05). It is hoped that parents and
teachers can provide sexual education using monobani media as an effort to
prevent sexual violence against boys.
Keywords : elementary school children, sexual violence, health education,
monopoly games.
References : 74(2009-2019)
ix
DAFTAR ISI
SAMPUL DEPAN ……………………………………………………………..…... i
SAMPUL DALAM …………………………………………………………..….... ii
LEMBAR PERSYARATAN GELAR ………………………………………….... iii
PERSETUJUAN SKRIPSI..........................................................................................i
PENETAPAN PANITIA PENGUJI...........................................................................v
UCAPAN TERIMA KASIH..................................................................................... vi
ABSTRACT.............................................................................................................. viii
ABSTRAK................................................................................................................ ix
DAFTAR ISI.............................................................................................................. x
DAFTAR BAGAN.................................................................................................xiii
DAFTAR TABEL................................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR................................................................................................xv
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................... 9
C. Tujuan Penelitian.....................................................................................................9
1.Tujuan Umum.......................................................................................................9
2.Tujuan Khusus......................................................................................................9
D. Manfaat Penelitian................................................................................................ 10
1.Bagi Peneliti........................................................................................................10
2.Bagi keperawatan...............................................................................................10
3.Bagi peneliti selanjutnya...................................................................................10
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Kekerasan Seksual............................................................................. 11
1.Pengertian............................................................................................................11
2.Faktor-faktor penyebab kekerasan seksual.....................................................11
3.Bentuk kekerasan seksual................................................................................. 13
4.Dampak kekerasan seksual...............................................................................14
x
5.Pencegahan kekerasan seksual.........................................................................16
B. Konsep Tumbuh Kembang.................................................................................. 17
1.Pengertian Anak Usia Sekolah.........................................................................18
2.Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah...........................................................18
3.Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan........19
C. Pendidikan Seksual Dengan Metode Monopoli................................................19
1.Pendidikan kesehatan........................................................................................ 19
2.Pendidikan seksual anak usia sekolah.............................................................22
3.Metode permainan monopoli............................................................................23
D. Pengetahuan dan Sikap Anak Dalam Mencegah Kekerasan Seksual............ 28
1.Pengetahuan anak...............................................................................................28
2.Sikap anak........................................................................................................... 33
BAB III KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Teori...................................................................................................... 38
B. Kerangka Penelitian.............................................................................................. 42
C. Hipotesis................................................................................................................. 42
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian...................................................................................................43
B. Populasi dan Sampel................................................................................ 44
1.Populasi............................................................................................................... 44
2.. Sampel............................................................................................................... 44
C. Lokasi dan Waktu Penelitian...............................................................................46
D. Variable Penelitian dan Definisi Operasional................................................... 47
E. Instrument Penelitian............................................................................................ 48
F. Etika Penelitian......................................................................................................48
G. Metode Pengumpulan Data..................................................................................49
H. Tekhnik Pengolahan Data.................................................................................... 52
I. Analisis Data..........................................................................................................53
J. Penyajian Data ............................................................................................ 53
xi
BAB V HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Penelitian................................................................................55
B. Karakteristik Responden...................................................................................... 55
C. Analisa Univariat...................................................................................................55
1.Pengetahuan Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan.......56
2.Sikap Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan................... 56
D. Analisa Bivariat..................................................................................................... 57
1.Uji Normalitas.................................................................................................... 57
2.Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Siswa tentang
Pencegahan Kekerasan Seksual.......................................................................... 58
3.Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Sikap Siswa tentang Pencegahan
Kekerasan Seksual................................................................................................ 58
BAB VI PEMBAHASAN
A. Pengetahuan Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan
Menggunakan Media Permainan Monobani..................................................... 60
B. Sikap Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan Menggunakan
Media Permainan Monobani................................................................................65
C. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Monobani
Terhadap Pengetahuan Anak Laki-laki tentang di SD 43 Sungai Sapih....... 68
D. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media Monobani
Terhadap Sikap Anak Laki-laki tentang di SD 43 Sungai Sapih....................71
E. Keterbatasan Penelitian........................................................................................ 72
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan............................................................................................................ 73
B. Saran.......................................................................................................................74
1.Ilmu Keperawatan..............................................................................................74
2.Intitusi Pendidikan atau Sekolah Dasar.......................................................... 74
3.Peneliti selanjutnya............................................................................................74
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................75
LAMPIRAN
xii
DAFTAR BAGAN
Bagan 3.1 Kerangka Teori …………………………………………….……… 38
Bagan 3.2 Kerangka Penelitian ………………………………………..……… 39
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Desain penelitian ……………………………..……………………… 40
Tabel 4.2 Jumlah sampel tiap kelas …………………………………………….. 42
Tabel 4.3 Variabel dan definisi operasional …………………………………… 42
Tabel 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur...................................... 55
Tabel 5.2 Pengetahuan Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan
tentang Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Laki-laki SD 43
Sungai Sapih Menggunakan Media Permainan Monobani.................. 56
Tabel 5.3 Sikap Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan tentang
Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Laki-laki SD 43 Sungai
Sapih Menggunakan Media Permainan Monobani.............................. 56
Tabel 5.4 Uji Normalitas Pengetahuan dan Sikap Sebelum dan Sesudah dilakukan
Pendidikan Kesehatan tentang Pencegahan Kekerasan Seksual pada
Anak Laki-laki SD 43 Sungai Sapih Menggunakan Media Permainan
Monobani.............................................................................................. 57
Tabel 5.5 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan tentang
Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Laki-laki SD 43 Sungai
Sapih Menggunakan Media Permainan Monobani.............................. 58
Tabel 5.6 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Sikap tentang Pencegahan
Kekerasan Seksual pada Anak Laki-laki SD 43 Sungai Sapih
Menggunakan Media Permainan Monobani........................................ 58
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Bagian tubuh yang tidak boleh disentuh ……………..…………… 31
Gambar 2.2 Sikap terhadap pelaku kekerasan seksual …..…………...………… 37
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Jadwal Kegiatan
Lampiran 2 Surat Izin Penelitian
Lampiran 3 Anggaran Dana Penelitian
Lampiran 4 Kartu Bimbingan
Lampiran 5 Lembar Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 6 Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 7 Kuesioner Penelitian
Lampiran 8 Satuan Acara Penyuluhan
Lampiran 9 Permainan Monobani
Lampiran 10 Master Tabel
Lampiran 12 Hasil Uji Statistik
Lampiran 13 Curiculum Vitae
Lampiran 14 Dokumentasi
xvi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut World Health Organization (WHO) kekerasan seksual
merupakan semua tindakan yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh
tindakan seksual atau tindakan lain yang diarahkan pada seksualitas seseorang
dengan menggunakan paksaan tanpa memandang status hubungannya dengan
korban (WHO, 2017). Kekerasan seksual pada anak di dunia perlu perhatian
yang serius dari berbagai pihak agar angka kejadian kekerasan dapat ditekan.
Menurut laporan United Nations Emergency Children’s Fund
(UNICEF) di 28 negara Eropa, terdapat 2,5 juta wanita muda yang melaporkan
pernah mendapatkan tindakan pelecehan seksual baik secara kontak fisik atau
tidak sebelum usia 15 tahun (UNICEF, 2017). WHO memperkirakan pada
tahun 2017, ada sekitar 1 miliar anak dibawah umur antara usia 2 - 17 tahun
telah mengalami kekerasan fisik, emosional, dan seksual (WHO, 2017).
Informasi kekerasan seksual pada anak di Indonesia masih terbatas,
dikarenakan belum terintegrasinya sistem pelaporan antar instansi terkait. Data
yang dikeluarkan sesuai laporan yang diterima masing-masing instansi dan
tidak semua korban melaporkan kejadian yang menimpanya. Berdasarkan
laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2017 tercatat
sebanyak 116 korban kekerasan yang terjadi pada anak (LPSK, 2018).
Persentase kekerasan seksual anak laki-laki sebesar 56,46 persen, sedangkan
1
2
persentase pada anak perempuan sebesar 43,54 persen (KPAI, 2017). Menurut
KPAI pada tahun 2018 angka korban kekerasan seksual pada anak meningkat
menjadi 177 anak, sebanyak 135 korban merupakan anak laki-laki dan 42
korban merupakan anak perempuan (KPAI, 2018). Sedangkan pada tahun
2019 tercatat dari bulan januari hingga bulan Juni telah terjadi kekerasan
seksual pada anak sebanyak 97 kasus (LPSK, 2019). Hal ini menunjukkan
bahwa prevalensi kejadian pada anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan
dengan anak perempuan.
Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi dengan angka
kekerasan pada anak yang cukup tinggi. Menurut data Dinas Pemberdayaan
Perlindungan Perempuan dan Anak (DPPPA) Sumatera Barat pada tahun 2017
terdapat 118 kasus kekerasan terhadap anak (Silvia, 2019). Pada Tahun 2018
tercatat sebanyak 304 korban kekerasan seksual yang terjadi pada anak - anak
Sumatera Barat (Ditreskrimum Polda Sumbar, 2018). Pada tahun 2019
Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak
(SIMFONI PPA) tercatat dari bulan Januari sampai September korban
kekerasan seksual pada anak yang melapor dan ditangani di Sumatera Barat
sebanyak 116 (SIMFONI PPA, 2019). Sedangkan menurut kasus yang
ditangani oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan
Anak (UPTD PPA) Sumbar dari bulan Januari hingga bulan September
terdapat 50 korban kekerasan seksual pada anak, 27 diantaranya adalah anak
laki-laki dan 23 anak perempuan (UPTD PPA Sumbar, 2019).
3
Menurut data Ditreskrimum Polda Sumbar tahun 2018, kota Padang
merupakan kota dengan angka kejadian kekerasan seksual pada anak yang
tertinggi pada tahun 2018 sebanyak 53 kasus, diikuti dengan kota Padang
Pariaman sebanyak 34 kasus, dan kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 33 kasus.
Pada tahun 2019 korban kekerasan di kota Padang terhitung dari bulan Januari
hingga Agustus jumlah 34 kasus (SIMFONI PPA, 2019). Data yang diperoleh
dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (Unit PPA) Polresta Padang, pada
tahun 2018 terdapat 4 kasus sodomi pada anak laki-laki dan pada tahun 2019
(Januari-September) terdapat 3 kasus sodomi pada anak laki-laki (Unit PPA
Polresta Padang, 2019). Kecamatan kuranji menurut Sistem Informasi Layanan
Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak (SI LARAS) Kota Padang,
merupakan kecamatan yang memiliki angka kekerasan tertinggi dengan 4
kasus (SI LARAS Kota Padang, 2019).
Tingginya angka kekerasan seksual pada anak laki-laki menurut Wakil
Komisi Perlindungan Anak Indonesia dikarenakan anak laki-laki dianggap
tidak beresiko menjadi korban kekerasan seksual sehingga kurangnya
sosialisasi pendidikan seksual (KPAI, 2017). WHO menjelaskan terdapat
beberapa faktor yang memicu terjadinya kekerasan seksual pada anak
diantaranya adalah umur anak yang masih muda, orang tua atau pengasuh,
hubungan anak dengan pelaku, faktor komunitas, dan sosial (WHO, 2016).
Dampak kekerasan seksual yang terjadi terhadap anak dapat
mengakibatkan gangguan kesehatan yang besar diantaranya cedera fisik,
gangguan seksual (infeksi HIV dan penyakit reproduksi lainnya), gangguan
4
psikologis, gangguan kesehatan jangka panjang (Kurniasar, 2017). Menurut
hasil penelitian Sari, et al., (2018) dampak psikologis yang dialami oleh korban
kekerasan seksual diantaranya adalah depresi, mimpi buruk, fobia, mudah
curiga terhadap orang lain dalam waktu yang tidak singkat, bahkan dapat
berakibat terganggunya hubungan dengan orang lain. Sedangkan menurut hasil
penelitian yang dilakukan oleh Sofian (2018) di Panti Sosial Mardi Putra
(PSMP) dan Panti Rehabilitasi Sosial AnaK (PRSA) milik Kemensos yang
berlokasi di Jakarta Timur, Magelang, Makasar, dan Mataram. Didapatkan
sebanyak 22% pelaku kekerasan seksual mengaku pernah menjadi korban
kekerasan seksual dalam bentuk diperlihatkan gambar/film pronografi oleh
orang lain, diminta untuk melakukan aktivitas dan berhubungan seksual 28%,
selebihnya memiliki pengalaman disentuh/diraba-raba organ vitalnya,
diperlihatkan alat kelamin oleh orang lain, dan diajak untuk membuat film/foto
pornografi.
DPPPA Sumatera Barat terus melakukan upaya pencegahan kekerasan
pada anak dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat maupun instansi
terkait, salah satunya yaitu peluncuran program Sekolah Ramah Anak (SRA)
dan pengeluaran Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2013 tentang perlindungan
perempuan dan anak (DPPPA Sumatera Barat, 2018). Selain dari pembuatan
peraturan untuk menghukum para pelaku, dibutuhkan pemberian pendidikan
seksual sedini mungkin untuk membekali anak agar tidak menjadi korban
kekerasan seksual. Menurut Koordinator Divisi Layanan Nurani Perempuan
pencegahan kekerasan seksual pada anak dapat dilakukan dengan memberikan
5
pemahaman pendidikan seks kepada masyarakat terutama anak-anak mengenai
bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain (Nasution &
Wahyudi, 2018).
Pengetahuan merupakan tingkat ranah kognitif yang paling dasar,
meliputi tahu, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi (Evelyn,
Mawarni, & Dharminto, 2016). Pengetahuan diperoleh melalui proses
pengindraan panca indra, akan tetapi sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh dari penglihatan dan pendengaran (Notoatmodjo, 2012). Pengetahuan
erat hubungannya dengan pendidikan, dimana semakin tinggi pendidikan maka
semakin luas pengetahuan (Wawan & Dewi, 2010).
Sikap adalah umpan balik atau respon seseorang yang masih tertutup
terhadap suatu rangsangan atau stimulus (Notoatmodjo, 2012). Sikap terdiri
dari tiga komponen yaitu kognitif (pengetahuan, keyakinan), afektif (perasaan
emosional), dan konatif (kecenderungan untuk berperilaku sesuai dengan sikap
seseorang) (Azwar, 2000 dalam Wawan & Dewi, 2010). Menurut Rosenberg
(1964) dalam Wawan & Dewi (2010) dalam proses pengubahan sikap yang
harus diubah terlebih dahulu adalah komponen kognitif sehingga komponen
afektifnya juga berubah.
Pada anak usia sekolah (6-12) tahun mengalami perkembangan
psikososial, personalitas, dan motorik yang sangat pesat, seperti anak mulai
membina hubungan dengan teman sebaya, anak ingin punya pencapaian dan
terlibat dalam suatu tugas, dan pola berfikir mulai mempertimbangkan
lingkungannya (Wong, et.al., 2009). Pada tahap ini dibutuhkan stimulasi yang
6
sesuai agar anak dapat mendayagunakan emosional dan sosialnya secara
maksimal (Setiyaningrum, 2017).
Metode pendidikan kesehatan yang dapat digunakan untuk anak usia
sekolah ada beberapa macam diantaranya curah pendapat (brain storming),
diskusi kelompok, bola salju (snow balling), kelompok kecil (bruzz group),
bermain peran (role play), permainan simulasi (simulation game)
(Notoatmodjo, 2012). Salah satu media yang dapat digunakan sebagai media
pendidikan pada anak adalah permainan (Setiyaningrum, 2017). Menurut hasil
penelitan yang dilakukan oleh Sara, Nurfitriyanti, & Adriana (2016)
didapatkan bahwa permainan simulasi efektif dalam media pendidikan
kesehatan pada anak sekolah.
Permainan simulasi (simulation game) merupakan perpaduan roleplay
dengan diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan dikemas dalam bentuk
permainan seperti ular tangga, ludo, monopoli, dll (Notoatmodjo, 2012).
Monopoli merupakan sebuah permaian yang menggunakan papan berisikan
petak-petak yang dimainkan dengan tujuan untuk menguasai seluruh petak-
petak sebagai kekayaan (Ulfaeni, 2017). Monopoli yang digunakan dalam
penelitian ini adalah monopoli hasil modifikasi oleh peneliti yang diberi nama
MONOBANI (Monopoli Anak Berani). Monobani berisi materi tetang
pencegahan kekerasan seksual yang sesuai untuk anak usia sekolah.
Diharapkan monobani dapat menjadi salah satu pilihan media permainan
simulasi yang dapat digunakan untuk memberikan pendidikan seksual pada
anak.
7
Permainan monopoli memiliki beberapa kelebihan, antaralain, siswa
lebih mudah memahami pelajaran dikarenakan menyenangkan, siswa lebih
diberikan kebebasan dalam mengeksplor pengetahuan, dapat menuntun secara
aktif untuk berpartisipasi, memberikan suasana belajar yang menyenangkan
tanpa mengeyampingkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan ilmiah
(Rosdiana, Hidayat, & P, 2017). Menurut Rakhmayanti & Subagio (2019)
permainan dan simulasi memiliki beberapa kelebihan antara lain, permainan
sangat menyenangkan untuk dilakukan, permainan menimbulkan partisipasi
siswa dalam belajar, permainan mampu melatih interaksi sosial antara siswa,
permainan bersifat luwes sehingga ketika proses pembelajaran berlangsung
siswa tidak merasa tegang atau monoton.
Berdasarkan hasil penelitian Davidi (2018) bahwa penggunaan media
permainan monopoli berbasis PBL (Problem Based Learning) dengan tema
upaya pelestarian lingkungan pada siswa kelas 5 SD dinyatakan layak untuk
pembelajaran didalam kelas dan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam
berfikir kritis. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Fitriana & Siti (2019)
yang membandingkan efektivitas antara metode permainan monopoli dan
dongeng sebagai media dalam memberikan penyuluhan menyikat gigi pada
anak usia 9-10 tahun, setelah diintervensi didapatkan nilai rata-rata anak yang
mendapatkan penyuluhan dengan metode monopoli lebih tinggi dibandingkan
anak yang mendapatkan penyuluhan dengan metode dongeng.
Monopoli juga sudah digunakan dalam pendidikan kesehatan terhadap
anak salah satunya penelitian oleh (Hutami, et al., 2019) yang menerapkan
8
permainan Molegi (Monopoli Puzzle Kesehatan Gigi) sebagai media
pendidikan kesehatan gigi dan mulut siswa SD Negeri 1 Bumi kelas IV.
Setelah dilakukan intervensi terjadi peningkatan nilai siswa sebanyak 29,4%,
kemudian dilakukan uji statistic penggunakan paired independent t-test
didapatkan nilai p>0,05 yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara
Pendidikan Molegi terhadap peningkatan pengetahuan siswa.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di 4 sekolah
dasar negeri kecamatan Kuranji yang memiliki jumlah siswa terbanyak,
didapatkan SDN 43 Sungai Sapih dengan peringkat pengetahuan dan sikap
tentang kekerasan seksual terendah. Hasil yang didapatkan pada 10 anak laki-
laki kelas 3 dan 4; 8 siswa tidak tahu bagian tubuh yang tidak boleh disentuh
orang lain. Sedangkan 7 dari 10 siswa tidak setuju untuk melaporkan pada
orang tua jika ada lawan jenis atau orang lain yang memegang tubuhnya,
Kekerasan seksual memliki dampak yang buruk terhadap anak baik
jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga dibutuhkan pencegahan yang
serius untuk mencegah kekerasan seksual pada anak. Berdasarkan uraian
tersebut peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian “ Pengaruh
Permainan Monopoli Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Anak Laki-Laki
Tentang Pencegahan Kekerasan Seksual Di SD 43 Kecamatan Kuranji Tahun
2019”.
9
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “ apakah ada pengaruh
permainan monopoli terhadap pengetahuan dan sikap anak laki-laki tentang
pencegahan kekerasan seksual di SD 43 kecamatan kuranji tahun 2019.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini yaitu diketahuinya pengaruh permainan
monopoli terhadap pengetahuan dan sikap anak laki-laki tentang
pencegahan kekerasan seksual di SD 43 kecamatan kuranji tahun 2019.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui gambaran pengetahuan anak laki-laki tentang pencegahan
kekerasan seksual sebelum dan seseduah diberikan pendidikan seksual
melalui permainan monopoli.
b. Diketahui gambaran sikap anak laki-laki tentang pencegahan kekerasan
seksual sebelum dan sesudah diberikan pendidikan seksual melalui
permainan monopoli.
c. Diketahui pengaruh pendidikan seksual terhadap pengetahuan anak
laki-laki tentang pencegahan kekerasan seksual setelah diberikan
pendidikan seksual menggunakan permainan monopoli.
d. Diketahui pengaruh pendidikan seksual terhadap sikap anak laki-laki
tentang pencegahan kekerasan seksual setelah diberikan pendidikan
seksual menggunakan permainan monopoli.
10
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi peneliti mengenai
media edukasi yang baik mengenai pencegahan kekerasan seksual serta
mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan selama mengikuti kegiatan
perkuliahan.
2. Bagi keperawatan
Dapat dijadikan sebagai dasar penerapan media informasi dalam
memberikan pendidikan pencegahan kekerasan seksual pada anak sekolah
dengan metode bermain monobani.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Sebagai data dasar pencegahan kekerasan seksual dalam
mengembangan media permainan pendidikan kesehatan kekerasan seksual
yang sesuai dengan perkembangan anak sekolah.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Kekerasan Seksual
1. Pengertian
Kekerasan seksual adalah sebuah bentuk ancaman dan pemaksaan
seksual atau kontak seksual yang tidak dikehendaki oleh salah satu pihak
(Yuwono, 2015). Kekerasan terhadap anak menurut Undang-Undang No 35
Tahun 2014 merupakan tindakan terhadap anak yang dapat mengakibatkan
timbulnya penderitaan atau kesengsaraan baik secara fisik, psikis, seksual,
dan/atau penelantaran terhadap anak, termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan, maupun perampasan hak kemerdekaan yang
melawan hukum (PUSDATIN RI, 2019). Menurut Sugijokanto (2014)
kekerasan seksual pada anak adalah keadaan merampas atas hak anak yang
membahayakan nyawanya yang umumnya dilakukan oleh orang terdekatnya
atau orang yang telah dikenal anak.
2. Faktor-faktor penyebab kekerasan seksual
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kekerasan seksual pada
anak menurut Madani (2014) dibagi menjadi faktor genetik dan faktor
lingkungan.
Faktor genetik diantarnaya adalah :
a. Perilaku orang tua yang membawa sifat-sifat yang berkaitan dengan
akhlak dan tempramen yang turun-temurun.
11
12
b. Hubungan seksual orangtua.
Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kejadian kekerasan
seksual pada anak antara lain :
a. Ketidaktahuan orangtua akan pendidikan seks pada anak.
b. Rangsang seksual pada keluarga yang dapat memberikan stimulus-
stimulus secara tidak sengaja yang dapat merusak pandangan perilaku
seksual anak.
c. Anak tidak terlatih untuk meminta izin saat akan memasuki kamar
orangtuanya, sehingga apabila anak melihat hubungan seksual orangtua
akan membekas pada ingatan anak.
d. Anak tidur satu ranjang dengan orangtua atau tempat tidur anak yang
berdekatan dengan orangtua.
e. Mencontoh perilaku seks.
f. Melarang anak bertanya masalah seks.
g. Berciuman dan memegang atau menyentuh bagian organ seksual.
h. Terabaikannya pengawasan terhadap media informasi.
i. Teman yang memiliki perilaku buruk.
j. Pendidikan dan pemahaman seks yang keliru pada anak.
13
Selain faktor-faktor diatas, menurut Ibrahim (2017) faktor resiko
terjadinya kekerasan seksual dibagi menjadi 4:
a. Usia
Usia yang paling beresiko mengamai kekerasan seksual adalah
7-13 tahun, lebih dari 20% anak mengakami kekerasan seksual sebelum
usia 8 tahun.
b. Tempat
Umumnya kekerasan seksual terjadi di rumah, sekolah, dan
tempat umum.
c. Pelaku
Pelaku kekerasan yang banyak terjadi adalah orang terdekat
korban atau orang yang dikenal korban. Kekerasan seksual yang
dilakukan oleh orang terkekat akan lebih membekas dan bisa
menimbulkan trauma yang mendalam.
d. Status Ekonomi
Anak yang berasal dari social ekonomi rendah akan lebih
beresiko 3 kali lipat menjadi korban kekerasn seksual.
3. Bentuk kekerasan seksual
Beberapa bentuk kekerasan seksual yang bisa dilakukan pada anak
laki-laki antara lain sodomi, oral genital, memperlihatkan alat kelamin,
foto pornografi, berkata “jorok’pada anak, menyuruh anak tidak memakai
baju, mengintip anak mandi/tidur, membujuk anak menonton porno
(Sari, 2018). Menurut pendapat lain bentuk kekerasan yang dapat
14
dilakukan pada anak-anak adalah meraba-raba alat kelamin, mencolek
bokong, memaksa melakukan oral sex, melakukan sodomi, menggunakan
anak dalam promosi dan distribusi pornografi (KEMENSOS RI, 2018).
Menurut pendapat lain kekerasan seksual pada anak-anak adalah sentuhan
atau meraba bagian pribadi anak, pemaksaan anak agar memperlihatkan
bagian pribadinya, memaksa melakukan hubungan seksual dengan anak,
memperlihatkan alat kelamin/bagian pribadi pada anak (Sukimah, 2017).
4. Dampak kekerasan seksual
Kekerasan seksual memiliki banyak dampak yang buruk terhadap
pertumbuhan dan perkembangan anak dimasa yang akan datang. Menurut
Huraerah (2012) dalam Oktavianda (2019) dampak yang di timbulkan dari
kekerasan seksual terhadap anak dapat dikelompokkan menjadi:
a. Dampak fisik
Dampak kekerasan dapat berupa luka lecet, lebam pada organ
kelamin, dan patah tulang.
b. Dampak psikologis
Akibat kekerasan seksual pada anak yaitu depresi, hilangnya
kepercayaan diri, stress akibat trauma, gangguan pola makan,
gangguan sosial.
c. Dampak seksual
Dampak seksual akibat kekerasan seksual diantaranya adalah
penyebaran infeksi penyakir seperti HIV, Infeksi menular seksual,
aborsi, hamil tidak diinginkan, dan ganguan reproduksi lainnya.
15
Dampak kekerasan seksual pada anak menurut (Sukimah, 2017)
dibagi menjadi tiga antara lain:
a. Fisik
Dampak pada fisik anak yang mengalami kekerasan seksual
adalah mengantuk, pucat, lesu, dan kesehatan menurun.
b. Emosi
Pada emosi dampaknya adalah mudah tersinggung, merasa
takut, rendah diri, dan merasa bersalah.
c. Hubungan
Selain fisik dan emosi dampak yang bisa terjadi pada anak
yang mengalami kekerasan seksual adalah malas berinteraksi dan sulit
mempercayai orang lain.
Dampak jangka Panjang yang ditimbulkan pada korban kekerasan
seksual pada anak menurut penelitian yang dilakukan oleh (Sofian, 2018)
di Panti Sosial Mardi Putra (PSMP) dan Panti Rehabilitasi Sosial Anak
(PRSA) milik kemensos yang berlokasi di Jakarta Timur, Magelang,
Makasar, dan Mataram. Dari hasil penelitian pada sebanyak 22% pelaku
kekerasan seksual mengaku pernah menjadi korban kekersan seksual
dalam bentuk diperlihatkan gambar/film pronografi oleh orang lain,
diminta untuk melakukan aktivitas dan berhubungan seksual 28%,
selebihnya memiliki pengalaman disentuh/diraba-raba organ vitalnya,
diperlihatkan alat kelamin oleh orang lain, dan diajak untuk membuat
film/foto pornografi.
16
5. Pencegahan kekerasan seksual
Pencegahan kekerasan seksual dapat dikategorikan menjadi tiga
menurut National Sexual Violence Resource Center (NSVRC) (2018)
antaralain:
a. Pencegahan Primer
Merupakan pencegahan yang dilakukan sebelum terjadinya
kekerasan seksual. Pencegahan ini ditujukan kepada anak-anak yang
memiliki resiko menjadi objek kekerasan seksual. Pencegahan dapat
dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan dan sikap anak melalui
pendidikan kesehatan reproduksi sesuai umur maupun pengenalan
pendidikan seksual.
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan ini memiliki tujuan diantaranya memperkecil
dampak yang diakibatkan kekerasan seksual. Bentuk tindakannya
berupa membawa anak ke pelayanan kesehatan dan melaporkan
tindakan kekerasan seksual.
c. Pencegahan tersier
Upaya pencegahan tersier dapat diartikan sebagai tinda lanjut
untuk mengembalikan anak kondisi semula. Upaya ini dapat berupa
mengajak anak untuk berinteraksi dengan lingkungan dengan
pendampingan.
17
Pencegahan kekerasan seksual juga membutuhkan peran serta
orangtua, menurut Sukimah (2017) ada beberapa hal yang dapat dilakukan
orangtua untuk mencegah kekerasn seksual pada anak antaralain:
a. Mengikutsertakan anak dalam membuat rencana kegiatan keluarga,
membuat keputusan, dan memecahkan masalah dalam keluarga.
b. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman anak tentang Pendidikan
seksual sesuai dengan usia.
c. Meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama.
d. Mendampingi anak saat ada masalah.
e. Berkomunikasi dan berdialog dengan anak secara rutin,
f. Mengingatkan anak untuk waspada terhadap kekerasan seksual saat
sendiri.
g. Menjalin hubungan erat dengan keluarga dan menanamkan nilai moral
serta agama.
h. Mengenal teman-teman anak termasuk dalam lingkungan sekolah.
B. Konsep Tumbuh Kembang
Menurut Andriana (2011) pertumbuhan adalah proses dimana
bertambahanya ukuran dan jumlah sel baik sebagian maupun keseluruhan.
Sedangkan perkembangan adalah proses perluasan dan perubahan menuju
kopleksitas serta kematangan emosional, intelektual, dan tingkah laku sebagai
hasil interaksi dengan lingkungan sekitar (Wong, 2012).
18
1. Pengertian Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah merupakan anak usia 6-12 tahun dimana pada
periode ini anak mengalami kemajuan yang sangat pesat terhadap
intelektualnya sehingga sangat baik digunakan dalam proses pembelajaran
kepada anak (Setiyaningrum, 2017). Pada tahap ini anak mulai bertanggung
jawab atas tanggung jawab terhadap dirinya dalam berinteraksi dengan
orang tua, teman, dan lingkungan sekitarnya (Wong, 2009). Pada akhir
masa anak-anak menuju remaja terdapat beberapa perubahan yang terjadi
pada diri sang anak baik fisik maupun psikologisnya (Wong, 2012).
2. Tumbuh Kembang Anak Usia Sekolah
Motorik pada anak usia sekolah mengalami peningkatan
ketangkasan, meningkatnya minat dalam menggambar, menulis, mewarnai,
koordinasi ototnya semakin bagus (melompat, berlari), anak mulai dapat
menggunakan pakaian sendiri (Andriana, 2011). Perkembangan kognitif
anak mulai memiliki minat untuk membaca, mengeksplorasi konsep dasar,
jumlah dan, waktu serta pada tahap ini anak mulai memecahkan masalah
dengan logis (Wong, 2012). Perkembangan psikososial anak pada tahap ini
yaitu anak mulai tertarik terhadap lingkungan sosialnya, sehingga anak
ingin terlibat untuk berkontribusi dalam tugas sosialnya. Kemandirian yang
muncul pada anak harus difasilitasi agar tumbuhnya rasa percaya diri pada
anak dengan mulai memberi kepercayaan pada anak seperti
mengikutsertakan dalam kegiatan dalam keluarga, sehingga tugas
perkembangan ini dapat dipenuhi (Wong, Hockenberry, & Wilson, 2011).
19
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan menurut Andriana (2011) ada 2 yaitu:
a. Faktor internal yang mempengaruhi tumbuh kembang antaralain ras
(etnik) atau bangsa, keluarga, umur, jenis kelamin, genetik, dan
kelainan kromosom.
b. Faktor eksternal yang mempengaruhi tumbuh kembang antara lain
faktor prenatal, faktor persalinan, dan faktor pasca persalinan.
1) Faktor prenatal antaralain gizi ibu hamil, riwayat penyakit diabetes,
paparan radiasi, infeksi virus, kelainan imunologi, dan psikologi
ibu.
2) Faktor persalinan antara lain trauma kepala sewaktu persalinan dan
asfiksia.
3) Faktor pasca persalinan antaralain gizi bayi, pemberian ASI,
penyakit atau kelainan konginetal, lingkungan pengasuhan, dan
obat-obatan, serta stimulasi.
C. Pendidikan Seksual Dengan Metode Monopoli
1. Pendidikan kesehatan
a. Pengertian
Menurut WHO pendidikan kesehatan merupakan upaya yang
dilakukan dengan menitik beratkan pada perilaku sehat dengan tujuan
berubahnya perilaku masyarakat dari yang tidak sehat menjadi perilaku
20
yang sehat (WHO, 2019). Pendidikan kesehatan menurut DEPKES
merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat melalui pembelajaran diri untuk menolong
dirinya sendiri dan mengembangkan kegiatan sesuai dengan
kebudayaan setempat (Subaris, 2016).
b. Media pendidikan kesehatan
Media Pendidikan kesehatan merupakan alat bantu yang
digunakan dalam penyampaian pesan-pesan pada sasaran yang
bertujuan agar membuat penyampaian pesan-pesan kesehatan menjadi
lebih menarik, efektif, mudah diingat, serta agar memperjelas prosedur
atau tindakan dari materi pendidikan kesehatan (Akbar, 2019).
Beberapa media pendidikan kesehatan yang dapat digunakan
menurut (Notoatmodjo, 2012) di kategorikan menjadi tiga yaitu:
1) Berdasarkan stimulasi indera
Alat bantu yang memudahkan penerima menangkap pesan
yang disampaikan melalui indera penglihatan berupa visual.
Kemudian alat bantu dengar berupa audio yang membantu
penerima menangkap pesan melalui pendengaran. Selanjutnya
perpaduan antara alat bantu dengar dan visual yang memungkinkan
pendengar menangkap pesan melalui penglihatan dan pendengaran.
2) Berdasarkan pembuatan dan penggunaan
Alat peraga elektronik berupa video, slide prsentasi,
projector, atau media lain yang menggunakan daya listrik.
21
Berdasarkan pembuatannya alat bantu yang dapat dibuat dan
dirancang berdasarkan kebutuhan dari bahan-bahan yang tersedia.
3) Berdasarkan sasaran
a) Berbagai media cetak seperti koran, booklet, flyer, poster, flip
chart, foto, dan lain-lain.
b) Berbagai media elektronik seperti film pendek, animasi, game,
dan papan kesehatan.
c. Metode Pendidikan kesehatan pada anak
Beberapa metode yang bisa digunakan dalam memberikan
pendidikan kepada anak menurut Notoatmodjo (2012):
1) Curah pendapat (brain storming). Metode ini hampir sama dengan
metode diskusi kelompok, prinsipnya sama dengan diskusi.
Perbedaanya adalah pemimpin kelompok memberikan pertanyaan
atau statement kemudian anggota diminta untuk menjawab atau
memberikan pandangan.
2) Diskusi kelompok. Pada metode ini semua peserta ikut serta dan
duduk saling bertatap muka dalam bentuk lingkaran atau segi
empat. Ada pimpinan diskusi untuk memulai diskusi yang harus
memberikan pertanyaan atau kasus sehubungan dengan masalah
yang akan dipecahkan.
3) Bola salju (snow balling). Kelompok di bagi secara berpasang-
pasangan (1 pasang terdiri dari 2 orang) kemudian diberikan
pernyataan untuk didiskusikan, setelah 5 menit tiap 2 pasang
22
berkumpul menjadi satu. Kemudian membahas hasil diskusi dan
menyimpulkannya. Setelah itu 2 kelompok berkumpul kembali
menjadi satu dan seterusnya hingga menjadi satu bagian besar.
4) Kelompok kecil (bruzz group). Kelompok dibagi menjadi
kelompok-kelompok kecil yang kemudian diberi permasalahan
yang sama atau berbeda antar kelompok kecil untuk di pecahkan.
Setelah itu barulah dicari kesimpulan dari masing-masing
kelompok.
5) Bermain peran (role play). Permainan ini melibatkan beberapa
orang untuk memainkan peran/ berperan sesuai dengan peran tokoh
yang diberikan, untuk memperagakan cara berinteraksi antar
sesama tokoh.
6) Permainan simulasi (simulation game). Metode ini merupakan
perpaduan roleplay dengan diskusi kelompok. Pesan-pesan
kesehatan dikemas dalam bentuk permainan seperti ular tangga,
ludo, monopoli, dll. Beberapa anggota kelompok menjadi pemain
dan ada yang menjadi pemberi informasi.
2. Pendidikan seksual anak usia sekolah
a. Pengertian pendidikan seksual
Pendidikan seksual merupakan sebuah proses panjang harus
dilalui mulai dari usia bayi hingga akhir hayat. pada masa kanak-kanak
pendidikan kesehatan seksual sangat diperlukan karena setelah tahap ini
anak akan memasuki masa transisi yaitu masa pubertas dimana organ
23
reproduksi yang semula belum berfungsi dengan sempurna mulai
berfungsi. Pemberian informasi akan kematangan seksual ini sangat di
butuhkan untuk merendahkan perasaan malu, ragu, dan perilaku isolasi
saat pubertas (Wong, et.all, 2012).
b. Materi Pendidikan seksual pada anak usia sekolah
Menurut Neherta (2017) pendidikan seksual untuk anak dapat
berupa upaya pencegahan primer kekerasan seksual diantaranya:
1) Bagian tubuh penting yang boleh dan tidak boleh dipegang oleh
orang lain.
2) Memberitahu tindakan pelaku yang mungkin melakukan tindakan
kekerasan seksual pada anak.
3) Memberitahu modus atau rayuan yang digunakan oleh pelaku untuk
melakukan kekerasan seksual.
4) Mengajarkan usaha untuk menghindar dari resiko terjadinya
kekerasan seksual.
5) Sikap ketika anak ketika ada yang orang lain yang menyentuh organ
tubuh miliknya yang terlarang.
3. Metode permainan monopoli
a. Pengertian permainan
Adanya kontak antar satu orang pemain dengan pemain yang
lainnya untuk saling berinteraksi yang mengikuti aturan-aturan yang
berlaku demi mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan (Ningsih,
2018). Permainan merupakan cara atau alat yang bersifat mendidik
24
yang berupa suatu kegiatan yang sangat menyenangkan dan bermanfaat
serta meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya.
Ada beberapa komponen yang harus dimiliki dalam suatu permainan,
yaitu; memiliki pemain yang akan bermain, adanya interaksi antar
pemain dan antar lingkungan, memiliki aturan-aturan main, memiliki
tujuan yang akan dicapai (Cahyo, 2011).
Permainan sebagai salah satu media untuk pembelajaran
mempunyai beberapa kelebihan antaranya:
1) Dapat menjadi sarana hiburan yang menyenangkan.
2) Dapat melihat umpan balik dari permainan.
3) Dapat menerapkan bagaimana kehidupan yang sebenarnya di
masyarakat.
4) Memiliki sifat yang luwes.
5) Lebih mudah untuk memasukkan unsur pendidikan kedalamnya
(Ningsih, 2018).
b. Pengertian permainan monopoli
Monopoli merupakan sebuah permaian yang menggunakan
papan berisikan petak-petak yang dimainkan dengan tujuan untuk
menguasai seluruh petak-petak sebagai kekayaan dengan cara
pembelian, penyewaan, dan tukar menukar properti dalam sistem yang
sederhana. Untuk memenangkan permainan, pemain harus paham
dengan sistem ekonomi sederhana yang digunakan seperti pembelian,
25
penjualan maupun menukar properti sehingga seseorang bisa keluar
menjadi seorang pemenang (Ulfaeni, 2017).
Desain permainan yang peneliti buat yaitu monopoli yang sudah
dimodifikasi dengan materi pencegahan kekerasan yang diberi nama
“MONOBANI” yaitu (Monopoli Aku Berani). Permainan ini
diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap
pencegahan kekerasan seksual. Komponen permainan ini terdiri dari:
1) Sebuah papan permainan yang berukuran 35cm x 35cm yang
dilengkapi dengan petak strart 1 buah, petak informasi 8 buah, petak
kesempatan 4 buah, petak aku berani 4 buah, petak lapor orang tua 1
buah, petak lapor guru 1 buah, petak tidak berani melapor 1buah,
petak kartu aku berani 1 buah, petak kartu aku peduli 1 buah, dan
petak kartu kesempatan 1buah.
2) 1 buah dadu.
3) Satu set kartu kesempatan 8 buah, satu set kartu aku berani 8 buah,
satu set kartu aku peduli 7 buah.
4) 8 buah kartu kepemilikan informasi.
5) Uang mainan nominal Rp.5.000 – Rp.50.000
c. Kelebihan permainan monopoli
Monopoli memliki beberapa kelebihan antaralain:
1) Siswa lebih mudah memahami pelajaran dikarenakan materi
disampaikan melalui permainan sehingga menyenangkan.
2) Siswa lebih diberikan kebebasan dalam mengeksplor pengetahuan.
26
3) Monopoli dapat menuntun secara aktif siswa untuk berpartisipasi
dalam pembelajaran.
4) Memberikan suasana belajar yang menyenangkan tanpa
mengeyampingkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan ilmiah
(Rosdiana, et al., 2017).
Menurut Rakhmayanti & Subagio (2019) permainan dan
simulasi memiliki beberapa kelebihan antara lain:
1) Permainan sangat menyenangkan untuk dilakukan oleh anak.
2) Permainan menimbulkan partisipasi siswa dalam belajar.
3) Permainan mampu melatih interaksi sosial antara siswa.
4) Permainan bersifat luwes sehingga ketika proses pembelajaran
berlangsung siswa tidak merasa tegang atau monoton.
d. Peraturan permainan monopoli
1) Permainan monobani ini dimainkan oleh 5 pemain.
2) Dibutuhkan 1 pejabat bank selain dari pemain sebagai pemegang
dana bank.
3) Setelah mempersiapkan alat-alat permainan, pejabat bank
membagikan uang mainan pada masing-masing pemain sebanyak
50.000.
4) Setelah semua perlengkapan telah siap, terlebih dahulu peserta
diberikan kartu aku peduli yang berisi materi pencegahan kekerasan
seksual.
5) Lama permainan disesuaikan dengan kesepakan para pemain.
27
6) Untuk menentukan siapa yang dahulu bermain, masing-masing
pemain melempar dadu terlebih dahulu nilai yang besar berhak untuk
bermain terlebih dahulu.
7) Permainan dimulai dari petak start.
8) Pemain berjalan berdasarkan dengan giliran sesuai dengan arah
panah.
9) Pemain yang berhenti di petak “aku pedui” wajib mengambil kartu
“aku peduli’ dan membacakannya, setelah itu pemain berhak untuk
membeli petak dari bank sesuai ketetapan. Namun, jika sudah
dimiliki orang lain maka harus membayar denda.
10) Pemain yang berhenti pada petak “aku berani” maka waiib
mengambil kartu aku berani dan wajib untuk mempraktekkan
instruksi di kartu dan berhak menadapat bonus.
11) Pemain yang berhenti pada petak kesempatan maka wajib
mengambil kartu “kesempatan” dan harus menjawab pertanyaan.
Jika jawaban benar maka berhak menadapat bonus Rp.10.000 dan
apabila salah denda Rp.5.000.
12) Pemain yang berhenti di petak lapor pada guru dan lapor orang tua
maka berhak mendapat bonus.
13) Pemain yang berhenti pada petak aku tidak berani melapor mendapat
hukuman mundur 6 langkah.
14) Pemain yang kehabisan uang dapat menjual petak informasi
miliknya pada bank.
28
15) Pemain yang kehabisan uang maka dinyatakan kalah.
16) Pemain yang memiliki uang terbanyak dan harga petak informasi
maka menjadi pemenang.
D. Pengetahuan dan Sikap Anak Dalam Mencegah Kekerasan Seksual
1. Pengetahuan anak
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, yang didapatkan seseorang
setelah melakukan pengindraan pada sebuah objek tertentu (Notoatmodjo,
2012). Pengetahuan adalah sesala sesuatu yang dimiliki manusia tentang
segala sesuatu yang ada didunia termasuk manusia dan kehidupannya
(Lubis, 2014).
Tingkat pengetahuan pada setiap individu memiliki beberapa tingkatan
menurut Notoatmodjo (2012) antaralain:
a. Tahu (know) keadaan dimana individu dapat mengingat materi yang
dipelajarinya.
b. Memahami (comprehension) kemampuan individu yang mamapu untuk
menjelaskan dan menginterpretasikan sehingga dapat menjelaskan
dengan baik dan menyebutkan contohnya.
c. Aplikasi (aplication) kemampuan individu untuk menerapkan
pengetahuan yang sudah di terima dalam kehidupan.
d. Analisis (analysis) kemapuan individu dalam menguraikan masalah dan
mencari hubungan antar beberapa komponen yang ada dalam masalah
tersebut.
29
e. Sintesis (synthesis) keaadaan individu yang mampu untuk meringkas
suatu hubugan antar komponen pengetahuan yang dimiliki.
f. Evaluasi (evaluation) kemampuan individu dalam melakukan penilaian
terhadap suatu objek berdaasarkan standar-standar yang sudah dibuat
sebelumnya.
Pengetahuan setiap individu berbeda-beda antara satu dengan yang
lainya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, pendidikan, sumber
informasi (Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Bujuri (2018) tingkatan pengetahuan pada anak sekolah
dasar terdiri dari:
a. Usia 7 tahun (Kelas 1 SD)
Perkembangan anak pada usia ini berada pada tahap
pengetahuan dan pemahaman yang terbatas. Jika berdasarkan teori
bloom berada pada level C1 (mengingat) dan tahap awal C2
(memahami). Pada umur ini anak mampu fokus dalam belajar di
sekolah selama 2-3 jam perhari.
b. Usia 8 tahun (Kelas 2 SD)
Perkembangan kognitif pada usia ini anak sudah memasuki
tahap C2 (memahami) dan masuk tahap C3 (menerapkan). Pada usia ini
anak mampu fokus untuk belajar disekolah selama 2-3 jam perhari.
c. Usia 9 tahun (Kelas 3 SD)
Kemampuan kognitif anak pada usia ini lebih baik dimana anak
berada pada tahap C3 (menerapkan). Dengan kata lain anak sudah
30
mampu untuk menerapkan pengetahuan yang sudah ia pahami dalam
kegiatannya. Pada tahap ini anak mampu fokus selama 3-4 jam per hari.
d. Usia 10 tahun (Kelas 4 SD)
Pada usia 10 tahun, kemampuan anak dalam menerapkan (C3)
pengetahuan lebih baik dari pada tahap sebelumnya dan mulai
memasuki tahap C4 (menganalisis).
e. Usia 11-12 tahun (Kelas 4 dan 5 SD)
Pada usia ini anak anak tidak lagi berada pada fase operasional
konkret melainkan pada fase operasional formal. Pada usian 11 tahun
anak berada pada tahap C5 (mengevaluasi/menilai) dan C6 mencipta
dengan baik. Sedangkan pada usia 12 tahun kemampuan anak pada
tahap C5 (mengevaluasi/menilai) lebih baik dan C6 (mencipta) juga
lebih baik dari pada usia sebelumnya.
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara
atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari objek
penelitian atau responden. Selanjutnya Wawan & Dewi (2010)
menjelaskan tingkat pengetahuan secara umum dibagi atas 3 bagian :
a. Baik
Pengetahuan baik diartikan seseorang sudah mampu
mengetahui, memahami, mengaplikasikan, menganalisa, dan
menghubungkan antara sutu materi dengan materi lainnya (sintesis)
serta kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu objek
(evaluasi). Pengetahuan dikatakan baik apabila nilai : 76 – 100 %.
31
b. Cukup
Pengetahuan sedang diartikan apabila individu kurang
mampu untuk mengetahui, memahami, mengaplikasikan,
menganalisa, dan menghubungkan antara suatu materi dengan materi
lainnya (sintesis) serta kemampuan untuk melakukan penelitian
terhadap suatu objek (evaluasi). Pengetahuan dikatakan cukup
apabila nilai : 56 – 75%.
c. Kurang
Pengetahuan kurang diartikan apabila individu kurang
mampu untuk mengetahui, memahami, mengaplikasikan,
mengevaluasi dan menghubungkan antara suatu materi dengan
dengan materi lainnya atau objek. Pengetahuan kurang diartikan
apabila nilai : < 56%.
Sebagai upaya untuk mencegah kekerasan seksual pada anak adalah
pemberian bekal pengetahuan tentang seksualitas yang disesuaikan dengan
tahap perkembangan anak (Jatmikowati, 2015). Pengetahuan yang harus
dimiliki oleh anak-anak tentang pencegahan kekerasan seksual antaralain:
Gambar 2.1 Bagian tubuh yang tidak boleh disentuh
Sumber : Pencegahan Kekerasan seksual (KPAI, 2017)
32
Beritahu anak tentang sentuhan yang boleh dilakukan orang lain
ialah bagian kepala, tangan, dan kaki, dan bagian yang tidak boleh dilihat
dan dipegang orang lain adalah penis, mulut, dan bokong. Jelaskan pada
anak tentang cara menjaga privasi saat mandi, tidur, dan berpakaian.
Orangtua juga perlu memberitahukan bahwa ada saatnya orang lain
diperbolehkan melihat bagian pribadi tubuh dengan izin orangtua seperti
saat dokter/perawat/bidan memeriksa (Justica, 2016).
Beritahu anak contoh tindakan yang mungkin dilakukan oleh pelaku
kekerasan pada anak seperti:
a. Orang lain yang membuka pakaianmu atau menyuruh membuka
pakaianmu tanpa izin orangtua.
b. Orang lain yang melakukan sentuhan buruk seperti menyentuh, meremas,
dan mempermainkan bagian pribadimu yang membuatmu tidak nyaman
atau memasukkan sesuatu ke anus anak.
c. Memperlihatkan bagian tubuh pribadinya atau menyuruh anak untuk
memegang maupun memasukkan penis kemulut.
d. Orang asing yang memeluk, mencium, atau menyuruh anak duduk
dipangkuannya.
e. Orang yang mengikuti atau membujuk anak untuk ke tempat yang sepi
sendirian (Hemdi, 2010).
33
Menurut (Neherta, 2017) ada beberapa usaha yang bisa dilakukan
untuk mengurangi resiko tindakan kekerasan seksual pada anak:
a. Menutup dan mengunci kamar tidur dan kamar mandi saat berada
didalam.
b. Mengajarkan untuk menolak pemberian dari orang lain tanpa seizin
orangtua.
c. Tidak sendirian dan selalu bersama-sama teman-teman.
d. Tidak berada pada tempat yang sepi terutama saat sendiri.
e. Mengajarkan kepada anak agar bertingkah laku baik dan santun
f. Menggunakan pakaian yang sopan dan rapi.
2. Sikap anak
Sikap menurut Notoatmodjo (2012) umpan balik berupa respon
terhadap suatu stimulus atau rangsangan yang masih bersifat tertutup. Pendapat
lain sikap merupakan sebuah respon seseorang sebagai umpan balik terhadap
suatu kondisi (positif /negatif) yang dituangkan dalam bentuk emosional afektif,
mimik, dan tindakan (Sari, 2018).
Sikap terdiri dari tiga komponen yaitu kognitif (pengetahuan,
keyakinan), afektif (perasaan emosional), dan konatif (kecenderungan untuk
berperilaku sesuai dengan sikap seseorang) (Azwar, 2000 dalam Wawan &
Dewi, 2010). Menurut Rosenberg (1964) dalam Wawan & Dewi (2010) dalam
proses pengubahan sikap yang harus diubah terlebih dahulu adalah komponen
koognitif sehingga komponen afektifnya juga berubah. Sehingga diharapkan
dengan meningkatkan pengetahuan melalui pendidikan diharapkan sikap
34
seseorang dapat berubah seiring meningktanya pengetahuan. Hasil ukur sikap
menurut Azwar (2010) dapat dikategorikan menjadi 2 yaitu positif dan
negative. Positif apabila nilai ≥ median, dan negatif apabila nilai <median.
Sikap seseorang terhadap suatu stimulus juga dikategorikan menjadi
empat tingkatan menurut Notoatmodjo, (2012):
a. Menerima (Receiving)
Menerima dapat diartikan bahwa dalam menerima stimulus
seseorang mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan.
b. Merespons (Responding)
Merespon merupakan respon dari stimulus yang diberikan
berupa memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
mengegerjakan tugas yang diberikan apabila diberikan tugas.
c. Menghargai (Valuing)
Menghargai bisa diindikasikan seperti mengajak orang lain
untuk mengerjakan ataupun mendiskusikan stimulus yang diberikan.
d. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab merupakan tingkatan sikap yang paling
tinggi, dimana seseorang akan menerima semua resiko atas sesuatu
yang telah dipilihnya.
35
Menurut Wawan (2010) sikap dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai
berikut:
a. Pengalaman Pribadi
Sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi
tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, individu cenderung untuk memiliki sikap yang
konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.
Kecenderungan ini antra lain dimotivasi oleh keinginan untuk
nerafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang
dianggap penting.
c. Pengaruh kebudayaan
Tanpa disadari kebudayaan telah menambahkan garis pengarah
sikap terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap
anggota masyarakatnya, karena kebudayanlah yang memberi corak
pengalaman individu-individu masyarakat asuhannya.
d. Media massa
Dalam pemberitaan surat kabar maupun radio atau media
komunikasi lainnya, berita yang seharusnya aktual disampaikan secara
objektif cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya
berpengaruh terhadap sikap konsumennya.
36
e. Lembaga pendidikan dan lembaga agama
Konsep moral dan ajaran lembaga pendidikan dan lembaga
agama sangat menentukan sistem kepercayaan tidaklah mengherankan
jika kalau pada gilirannya konsep tersebut mempengaruhi sikap.
f. Faktor emosional
Suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi
yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan
bentuk mekanisme pertahanan ego.
Menurut (KPAI, 2014) sikap yang harus diketahui oleh anak dalam
upaya pencegahan kekerasan sesukal adalah:
a. Berkata “ Tidak mau” dan lari apabila anak mendapatkan pelakuan dari
orang dewasa ataupun dari keluarga korban memaksa.
b. Berani teriak” Tolong” dan lari saat anak dalam kondisi bahaya.
c. Berani “Lapor” ketika anak mendapatkan tindakan kekerasan seksual
ataupun tindakan yang menurut anak menganggu kenyamanan pada
orang tua ataupun pihak berwajib.
Menurut (Hemdi, 2010) sikap dan tindakan yang dapat diajarkan
pada anak-anak :
a. Anak harus melawan dan lari jika ada orang yang memaksa untuk
melakukan tindakan yang tidak boleh dilakukan padanya.
b. Menjauh dan cari pertolongan jika ada orang yang muncurigakan
mengikuti ditempat yang sepi.
37
c. Jika ada yang mendekati atau mendesak ditempat yang sepi maka anak
harus teriak “Tolong” dan lari.
d. Jika ada orang yang meringkus maka anak bisa memukul bagian
matanya, lehernya, ataupun tendang kemaluannya.
e. Jika ada orang yang memeluk dengan paksa maka gigit sekeras
mungkin.
Gambar 2.2 Sikap terhadap pelaku kekerasan seksual
Sumber : Preventing Child Abuse (UNICEF, 2014)
BAB III
KERANGKA KONSEP
A. Kerangka Teori
Kekerasan seksual merupakan bentuk ancaman dan pemaksaan
sesksual maupun kontak seksual yang dilakukan dengan keinginan satu pihak
(Yuwono, 2015). Anak usia sekolah merupakan anak berusia 6-12 tahun yang
sedang mengalami perkembangan intelektual yang sangat pesat sehingga
sangat baik untuk proses pembelajaran (Setiyaningrum, 2017).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadianya kekerasan seksual
antara lain usia, tempat, pelaku, status ekonomi (Ibrahim, 2017). Selain itu
menurut Agustina & Ratri (2018) faktor penyebab kekerasan seksual pada anak
diantaranya adalah kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak, kurangnya
kedekatan dan perhatian terhadap anak, pengasuhan orang tua yang tidak
seimbang, pengetahuan anak tentang seks sangat terbatas.
Menurut Huraerah (2012) dalam Oktavianda (2019) kekerasan seksual
dapat menimbulkan dampak yang cukup serius bagi korbannya seperti dampak
fisik (lebam, lecet organ kelamin, dan patah tulang), dampak psikologis (stres,
gangguan pola makan, dan sosial), seksual (infeksi penyakit kelamin, HIV).
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan antara lain pencegahan primer
(memberikan pendidikan seksual), pencegahan sekunder (mengurangi dampak
akibat kekerasan seksual), dan pencegahan tersier ( mengembalikan korban
kekerasan ke lingkungannya) (NSVRC, 2018).
38
39
Upaya pencegahan primer yang dapat dilakukan melalui memberikan
pendidikan seksual yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap
dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual.
Menurut Notoatmodjo (2012) metode pemberian Pendidikan kesehatan
dapat menggunakan metode curah pendapat (brain storming), diskusi
kelompok, bola salju (snow balling), kelompok kecil (bruzz group), bermain
peran (role play), dan permainan simulasi (simulation game).
Permainan simulasi (simulation game) merupakan perpaduan roleplay
dengan diskusi kelompok. Pesan-pesan kesehatan dikemas dalam bentuk
permainan seperti ular tangga, ludo, monopoli, dll (Notoatmodjo, 2012).
Permainan yang digunakan merupakan monopoli yang sudah
dimodifikasi dengan materi pencegahan kekerasan yang diberi nama
“MONOBANI” yaitu (Monopoli Aku Berani).
Pengetahuan yang harus dimiliki oleh anak laki-laki;
1. Mengetahui 3 organ tubuh tidak boleh dipegang orang lain.
2. Mengetahui sentuhan yang buruk.
3. Mengetahui pelaku kekerasan seksual pada anak.
4. Pencegahan untuk mengurangi resiko menjadi korban kekerasan seksual
(Justica, 2016); (Neherta, 2017);(Hemdi, 2010).
Menurut (KPAI, 2014);(Hemdi, 2010) sikap yang harus diketahui oleh
anak dalam upaya pencegahan kekerasan seskual adalah:
1. Berkata “ Tidak mau” apabila anak mendapatkan pelakuan dari orang
dewasa memaksa.
40
2. Berani teriak” Tolong” dan lari saat anak dalam kondisi bahaya
3. Berani “Lapor” ketika anak mendapatkan tindakan kekerasan seksual
ataupun tindakan yang menurut anak menganggu kenyamanan pada orang
tua ataupun pihak berwajib.
4. Jika ada orang yang meringkus maka anak bisa memukul bagian matanya,
lehernya, ataupun tendang kemaluannya.
5. Jika ada orang yang memeluk dengan paksa maka gigit sekeras mungkin.
41
Bagan 3.1 Kerangka Teori
Faktor-faktor penyebab kekerasan seksual pada anak: Kekerasan Seksual (Yuwono, 2015)
1. Usia
2. tempat,
3. pelaku Dampak Kekerasan seksual:
4. status ekonomi
5. Kurangnya pengawasan orang tua 1. Dampak fisik
6. Kurangnya kedekatan dan perhatian orang tua 2. Dampak psikologis
7. Pola asuh yang tidak seimbang 3. Dampak seksual (Huraerah 2012
8. Pengetahuan seks anak yang sangat rendah
dalam Oktavianda, 2019)
(Ibrahim, 2017) (Agustina & Ratri, 2018).
Pencegahan Kekerasan Seksual
1. Primer
2. Sekunder
3. Tersier (NSVRC, 2018)
Pendidikan kesehatan kekerasan seksual
1. Curah pendapat (brain storming)
2. Diskusi kelompok
3. Bola salju (snow balling)
4. Kelompok kecil (bruzz group)
5. Bermain peran (role play)
6. Permainan simulasi (simulation game). (Notoatmodjo, 2012)
Jenis permainan simulasi
1. Ular tangga
2. Ludo
3. Monopoli (Notoatmodjo, 2012)
Pengetahuan dan sikap dalam mencegah 4.
kekerasan seksual pada anak (Neherta, MONOBANI (Monopoli Anak Berani)
2017: Hemdi, 2010;Justica, 2016)
Ket : = Tidak diteliti
= Diteliti
(Yuwono, 2015; Setiyaningrum, 2017; Ibrahim, 2017; Huraerah 2012 dalam
Oktavianda, 2019; (Notoatmodjo, 2012);(NSVRC, 2018);Justica, 2016; Neherta,
2017;Hemdi, 2010;KPAI, 2014)
42
B. Kerangka Penelitian
Menurut Notoatmodjo (2014) kerangka konsep penelitian merupakan
hubungan antara suatu konsep atau variabel-variabel yang diamati (diukur)
melalui sebuah proses penelitian. Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu
dependen dan independen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah
Pendidikan kesehatan dengan media permainan monopoli. Sedangkan variabel
dependen pada penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap tentang pencegahan
kekerasan seksual pada anak sekolah.
Bagan 3.2 Kerangka Penelitian
Pendidikan kesehatan dengan
permainan monopoli
Pengetahuan dan sikap anak Pengetahuan dan sikap anak
sebelum diberikan Pendidikan sesudah diberikan Pendidikan
kesehatan kesehatan
C. Hipotesis
Hipotesis merupakan dugaan sementara dari rumusan maslah yang
disusun dalam penelitian (Notoatmodjo, 2014). Sesuai dengan teori yang
sudah dijelaskan maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ada pengaruh permainan monopoli terhadap pengetahuan dan sikap anak
laki-laki tentang pecegahan kekerasan seksual di SD 43 kecamatan
Kuranji.
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan quasi experiment dengan rancangan one
group pretest-posttest yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan
keadaan yang terjadi setelah adanya eksperimen dengan sebelumnya telah
dilakukan observasi pertama (Notoatmodjo, 2014). Dalam penelitian ini
peneliti memberikan pendidikan kesehatan tentang pencegahan kekerasan
seksual sebagai perlakuan. Pengukuran pengetahuan dan sikap siswa tentang
pencegahan kekerasan seksual dilakukan sebelum dan sesudah perlakuan.
Bentuk rancangan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Desain Penelitian
Pretest Perlakuan Posttest
01 X 02
Pengukuran Pertama Perlakuan atau Pengukuran Kedua
(pre test) Eksperimen (posttest)
Keterangan :
01 : Pengetahuan dan Sikap tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak.
X : Pendidikan Kesehatan tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak.
02 : Pengetahuan dan Sikap tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak.
43
44
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi merupakan subjek yang memenuhi kriteria yang telah di
tetapkan dalam penelitian (Nursalam, 2011). Berdasarkan data yang
diperoleh pada tahun 2019-2020 populasi penelitian ini adalah siswa laki-
laki kelas 3 dan 4 SD 43 kecamatan kuranji berjumlah 97 (52 kelas 3 dan
45 kelas 4).
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2001 dalam Siswanto, et.al.,
2014). Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan non-
probability sampling yaitu pusposive sampling yang memungkinkan
peneliti membuat kriteria yang dibutuhkan dalam penelitian (Notoatmodjo,
2014). Jumlah sampel ditentukan menggunaknan rumus Riyanto (2011)
sebagai berikut:
NZ(1-a/2)2σ2
n=
(N-1)d2+ Z(1-a/2)2 σ 2
Keterangan :
n : Besar sampel
N : Besar populasi
Z(1-a/2)2 : Nilai sebaran normal baku, besarnya tergantung tingkat
kepercayaan (TK), jika TK 90% =1,64 , jika TK 95%=1,96, dan
TK 99%=2,75.
σ : Nilai varian populasi.
45
D : Besar penyimpangan (absolut);(10),(5),dan (1).
Standar deviasi ditentukan berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Gumilang (2019). Bersarkan hasil penelitian tersebut
standar deviasi sebesar 16.
(97)(1,64)2(16)2
n=
(97-1)(5)2+ (1,64)21(16) 2
n= 66788,15
3088,538
n = 21,62452, dibulatkan menjadi n= 22 responden.
Untuk menghindari drop out, maka sampel ditambahkan 10% dari
jumlah minimal sampel, yaitu 2 orang. Sehinggan total sampel menjadi 24
responden. Untuk menentukan pengambilan sampel setiap bagian
menggunakan rumus:
Porporsi tiap kelas
Proporsi kelas = x Total sampel
Total populasi
Tabel 4.2 Jumlah sampel tiap kelas
Jumlah
Perhitungan Jumlah sampel
No Kelas Populasi
sampel (orang)
(orang)
52
1 III 52 X 24 13
97
45
2 IV 45 X 24 11
97
Jumlah 97 24
46
Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah:
a. Kriteria inklusi
1) Siswa laki-laki pada kelas 3 dan 4 SD
2) Mampu membaca, berhitung, dan menulis
3) Bersedia menjadi responden
b. Kriteria eksklusi
Siswa yang sakit saat penelitian
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD 43 kecamatan Kuranji kota Padang pada
bulan Agustus 2019 – Januari 2020.
47
D. Variable Penelitian dan Definisi Operasional
Tabel 4.3 Variabel penelitian dan Definisi operasional
Variabel Definisi operasional Cara Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur ukur
Independen Pemberian informasi Intervensi Pendidikan
Pendidikan terkait pendidikan kesehatan
kesehatan kesehatan tentang
tentang pencegahan kekerasan
pencegahan
seksual pada anak
kekerasan
seksual sekolah dasar
menggunakan media
permainan monopoli
Dependen 1. Pengetahuan anak Angket Kuesioner (Bagian Dinyatakan Rasio
1. Pengetahua tentang: I) Dengan skala dalam skor 0-
n anak a.3 bagian tubuh Guttman 10
tentang yang tidak boleh
dipegang orang Pernyataan positif:
pencegahan
lain. Benar=1 Salah=0
kekerasan
b.Sentuhan yang
seksual buruk. Pernyataan negatif:
c.Pelaku pelecehan Benar=0 Salah=1
seksual.
d.Pencegahan untuk
mengurangi resiko
menjadi korban
pelecehan seksual
2. Sikap anak 2. Sikap anak ketika Angket Kuesioner (Bagian Dinyatakan Rasio
dalam mendapat kekerasan II) Dengan skala dalam skor 0-
mencegah seksual: Guttman 10
a. Teriak “tidak mau”
kekerasan
b. Lari dan meminta Pernyataan positif:
seksua tolong Setuju=1
c. Memukul mata,
Tidak setuju=0
leher, dan tendang
alat kelamin
Pernyataan negatif:
pelaku.
d. Melaporkan ke Setuju=0
orangtua atau pihak Tidak setuju=1
yang berwajib
48
E. Instrument Penelitian
Instrument penelitian adalah alat bantu yang digunakan dalam
penelitan. Intrumen penelitan yang digunakann adalah lembar kuesioner dan
permainan monopoli sebagai media pendidikan kesehatan tentang seksualitas.
Kuesioner dalam penelitian ini adalah kuesioner pengetahuan dan sikap tentang
mencegah kekerasan seksual pada anak sekolah dasar yang diadopsi dari
(Neherta, 2015) yang sudah diakukan uji validitas dan reabilitas dengan nilai
Cronbach Alpha variabel pengetahuan 0,889 dan sikap 0,781 yang
menunjukkan angka lebih dari >0,60. Koesioner ini terdiri dari 2 bagian yang
pertama kuesioner pengetahuan dan bagian yang kedua kuesioner sikap yang
menggunakan skala Guttman. Skala Guttman adalah skala yang digunakan
untuk mendapatkan jawaban yang tegas (Sugiyono, 2013). Dalam kuesioner ini
apabila pernyataan positif maka nilai benar = 1, salah=0, setuju=1, dan tidak
setuju=0. Sedangkan untuk pernyataan negatif nilai jika pertanyaan benar=0,
salah=1, setuju=0, dan tidak setuju=1.
F. Etika Penelitian
Etika penelitian menurut (Supardi & Rustika, 2013) yang harus
dilakukan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian adalah:
1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for humandignity)
Setelah subjek mendapatkan penjelasan yang lengkap dan diberikan
kesempatan untuk mempertimbangkan dengan baik, subjek kemudian
menentukan apakah akan ikut serta atau menolak sebagai sunjek penelitian.
49
Prinsip ini tertuang dalam pelaksanaan inforned consent yaitu persetujuan
untuk berpartisipasi sebagai subjek penelitian setelah mendapatkan
penjelasan yang lengkap dan terbuka dari peneliti tentang keseluruhan
pelaksanaan penelitian.
2. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek (respect for privacy and
convidentiality)
Prinsip ini diterapkan dengan meniadakan identitas seperti nama dan
alamat subjek kemudian di ganti dengan kode tertentu.Dengan demikian
segala informasi yang menyangkut identitas subjek tidak terekspos secara
luas.
3. Menghormati keadilan dan inklusivitas (respect for justice inclusiveness)
Penelitian memberikan keuntungan dan beban secara merata sesuai
dengan kebutuhan dan kemampuan subjek.
4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing harm
and benefits)
Peneliti harus mempertimbangkan rasio antara manfaat dan kerugian
dari penelitian.
G. Metode Pengumpulan Data
1. Data primer
Data primer didapatkan langsung dari responden berupa data tentang
pengetahuan dan sikap siswa tentang pencegahan kekerasan seksual pada
anak laki-laki di SD 43 Kecamatan Kuranji menggunakan lembar kuesioner.
50
Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dibantu oleh fasilitator pada
masing-masing kelompok. Adapun tahapan dalam pengumpulan data dalam
penelitian ini sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Mengurus surat izin pengambilan data dan penelitian dari kampus
untuk kemudian diajukan ke Dinas Pendidikan Kota Padang.
2) Mengajukan surat ke SDN 43 Sungai Sapih untuk mendaptkan data
dan izin melakukan survey awal.
3) Melakukan survey awal kepada siswa laki-laki 5 orang kelas 3 dan
5 orang kelas 4.
4) Setelah mendapatkan data siswa, selanjutnya menentukan jumlah
sampel dengan teknik sampel yang sudah dipilih.
5) Mengumpulkan data siswa yang akan menjadi sampel dalam
penelitian.
6) Memberikan lembar informed consent pada wali kelas untuk
menyatakan persetujuan penelitian.
7) Mempersiapkan media permainan monobani.
8) Memberikan penjelasan dan simulasi tentang peraturan permainan
monobani kepada 5 orang fasilitator yang akan terlibat dalam
penelitian.
51
b. Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Pengambilan sampel
Peneliti melakukan pengambilan sampel sebanyak 24 siswa
kelas 3 dan 4 dengan bantuan wali kelas sesuai dengan kriteria
inklusi. Setelah itu membagi siswa mejadi 6 kelompok, masing-
masing 4 orang.
2) Mempersiapkan perlengkapan permainan dan setting tempat.
3) Pembukaan
Peneliti membuka dengan salam, kemudian
memperkenalkan diri serta memperkenalkan 5 orang fasilitator,
setelah itu dilanjutkan menjelaskan tujuan kegiatan dan melakukan
kontrak waktu.
4) Inti
Fasilitator membagikan kuesioner pretest kepada siswa dan
membimbing dalam pengisian. Setelah itu menjelaskan permainan
pada siswa yang dilanjutkan dengan pembagian kartu aku peduli
untuk dibaca oleh siswa sebelum permainan dimulai. Fasilitator
memandu jalannya permainan.
5) Penutup
Fasilitator mengulas materi tentang materi penyuluhan dan
menyimpulkan materi. Selanjutnya membagikan kuesioner posttest
52
pada siswa dan membimbing dalam pengisian. Menutup kegiatan
dan mengucapkan salam.
2. Data sekunder
Data sekunder diperolah peneliti dari wawancara, KPAI, DPPP
Sumbar, Ditreskrimum Polda Sumbar, SIMFONI PPA, UPTD PPA
Sumbar, Unit PPA Polresta Padang, DP3AP2KB kota Padang, Silaras
Kota Padang, dan Surat Kabar.
H. Tekhnik Pengolahan Data
Pengolahan data adalah proses penting dalam suatu penelitian,
sehingga perlu dilakukan dengan benar. Setelah data dikumpulkan, tahap
pengolahan data berikutnya adalah:
1. Pemeriksaan data (editing)
Editing dalam penelitian ini dilakukan untuk memastikan
kelengkapan data dari setiap pertanyaan meliputi kelengkapan jawaban,
kesalahan pengisian, konsistensi. Sehingga didapatkan semua data terisi
dengan lengkap dan benar
2. Koding data (Coding)
Koding dalam penelitian ini dilakukan dengan mengganti jawaban
responden dengan menggunakan angka. Untuk jawaban peryataan positif
apabila jawaban benar diberi kode 1 dan salah 0. Sedangkan untuk jawaban
negatif jika jawaban benar diberi kode 0 dan salah 1.
53
3. Memasukkan data (Entry)
Entry adalah memasukkan data yang sudah di-coding kedalam tabel
kerja dikomputer untuk memudahkan dalam membaca dan mengurangi
kesalahan dalam pemasukan data melalui program analisis data.
4. Membersihkan data (Cleaning)
Cleaning adalah mengecek kembali data yang sudah dimasukkan
untuk melihat ada kesalahan atau tidak. Cleaning dilakukan dengan cara
memeriksa masing-masing variabel dengan menyesuaikan dengan
klasifikasi yang dimiliki oleh peneliti.
I. Analisis Data
1. Analisa Univariat
Analisa Univariat bertujuan untuk menjelaskan karakteristik setiap
variabel penelitian (Notoadmojo, 2014). Analisa univariat pada penelitian
ini digunakan untuk melihat umur, data median (sebagai ukuran
pemusatan) dan mix, max (sebagai ukuran penyebaran) tiap-tiap variabel,
baik variabel dependen maupun variabel independen untuk melihat
distribusi frekwensi karakteristik sampel (Nursalam, 2011).
2. Analisa Bivariat
Data diolah secara komputerisasi dengan aplikasi SPSS 16 untuk
mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang pencegahan kekerasan
seksual (metode bermain). Hasil uji normalitas menggunakan Shapiro-
Wilk didapatkan data tidak berdistribusi normal sehingga data dianalisis
54
dengan uji Wilcoxon dan didapatkan nilai p=0,000. Karena nilai (p<0,05)
maka data tersebut dapat dikatakan berpengaruh (Notoatmodjo, 2014).
J. Penyajian data
Data yang disajikan dalam penelitian ini dalam bentuk distribusi
frekuensi dan persentase. Interpretasi data yang ditampilkan menggunakan
penafsiran data menurut Arikunto (2009) dengan perincian sebagai berikut :
1. 0% : tidak satupun responden
2. 1-26% : sebagian kecil
3. 27-49% : hampir setengah responden
4. 50% : setengahnya
5. 51-75% : sebagian besar
6. 76-99% : hampir seluruh responden
7. 100% : seluruhnya
BAB V
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Penelitian
Pengambilan data primer penelitian ini dilakukan di SDN 43 Sungai Sapih
kecamatan Kuranji kota Padang pada hari Selasa dan Rabu, tanggal 15 dan 16
Oktober 2019. Sampel dalam penelitian dipilih berdasarkan kriteria inklusi
sebnayak 24 orang.
B. Karakteristik Responden
Tabel 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur (n=24)
Umur Responden N Persentase (%)
9 Tahun 17 70,8 %
10 Tahun 7 29.2 %
Berdasarkan tabel 5.0 diatas diketahui bahwa dari 24 responden setelah
dilakukan analisis diapatkan sebagian besar responden berumur 9 tahun
sebanyak 17 anak atau sekitar (70,8%), sedangkan responden yang berumur 10
tahun sebanyak 7 anak dengan persentase (29,2%).
C. Analisa Univariat
Analisa univariat dalam penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan dan sikap anak tentang
pencegahan kekerasan seksual pada anak laki-laki SDN 43 Sungai Sapih
55
56
sebelum dan sesudah diberikan pendidikan seksual dengan media permainan
monobani.
Gambaran hasil dapat dilihat melalui tabel dibawah ini:
1. Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan
Tabel 5.2 Pengetahuan Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan
Kesehatan tentang Pencegahan Kekerasan Seksual pada
Anak Laki-laki SD 43 Sungai Sapih Menggunakan Media
Permainan Monobani
Pengetahuan n Min Max Median SD 95%CI
Pretest 24 4 8 6,00 1,274 5,13-6,20
Post test 24 6 10 8,50 1,176 8,09-9.08
Berdasarkan dari tabel 5.1 nilai tengah pengetahuan anak sebelum
mendapatkan intervensi adalah 6.00, dengan nilai terendah 4 dan tertinggi 8.
Sedangkan setelah mendapatkan intervensi nilai tengah anak menjadi 8,50,
dengan nilai terendah 6 dan tertinggi 10.
2. Sikap Sebelum dan Sesudah Diberikan Pendidikan Kesehatan
Tabel 5.3 Sikap Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan
tentang Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Laki-laki
SD 43 Sungai Sapih Menggunakan Media Permainan
Monobani
Sikap n Min Max Median SD 95%CI
Pretest 24 3 7 5,00 1,204 4,32-5,34
Post test 24 6 10 8,00 1,152 7,76-8,74
Berdasarkan dari tabel 5.2 nilai tengah sikap anak sebelum
mendapatkan diberikan intervensi adalah 5,00, dengan nilai terendah 3 dan
tertinggi 7. Sedangkan setelah mendapatkan intervensi nilai tengahnya
menjadi 8.00, dengan nilai terendah 6 dan tertinggi 10.
57
D. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian yaitu
apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan dengan media permainan monobani
terhadap pengetahuan dan sikap anak laki-laki tentang pecegahan kekerasan
seksual di SD 43 kecamatan Kuranji. Pengujian hipotesis dilakukan dengan
menguji skor pengetahuan dan sikap anak sebelum dan sesudah diberikan
intervensi. Analisa bivariat diawali dengan melakukan uji normalitas untuk
mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu uji Shapiro-Wilk. Uji Shapiro-Wilk
digunakan jika sampel penelitian kurang dari 50 (Dahlan, 2013). Jika data
distribusi normal maka dilakukan uji T-test, apabila distribusi tidak normal maka
dilakukan uji Wilcoxon.
1. Uji Normalitas
Tabel 5.4 Uji Normalitas Pengetahuan dan Sikap Sebelum dan Sesudah
dilakukan Pendidikan Kesehatan tentang Pencegahan
Kekerasan Seksual pada Anak Laki-laki SD 43 Sungai Sapih
Menggunakan Media Permainan Monobani
Shapiro-Wilk
Variabel
Df Sig.
Skor pretest pengetahuan 24 0,010
Skor posttest pengetahuan 24 0,013
Skor pretest sikap 24 0,037
Skor posttest sikap 24 0,048
Berdasarkan hasil uji normalitas yang telah dilakukan didapatkan
bahwa nilai pretest pengetahuan p=0,010 (p<0,05), nilai posttest
pengetahuan p=0,013 (p<0,05), nilai pretest sikap p=0,37 (p<0,05), dan nilai
posttest sikap p=0,048 (p<0,05). Dari hasil uji normalitas diatas, dapat
58
disimpulkan bahwa data pengetahuan (pretest dan posttets) dan sikap
(pretest dan posttest) tidak terdistribusi normal. Maka uji yang dilakukan
adalah menggunakan Uji Wilcoxon.
2. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Anak tentang
Pencegahan Kekerasan Seksual
Tabel 5.5 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan
tentang Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Laki-
laki SD 43 Sungai Sapih Menggunakan Media Permainan
Monobani
Variabel n Median SD Selisih P value
Pengetahuan pretest 24 6.00 1,274
2,50 0,000
Pengetahuan posttest 24 8,50 1,176
Berdasarkan tabel 5.4 diatas diketahui bahwa selisih antara nilai
tengah pengetahuan sebelum dan pengetahuan sesudah diberikan pendidikan
kesehatan adalah 2,50. Hasil uji statistik yang dilakukan dengan Uji
Wilcoxon didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05) maka hipotesis dalam
penelitian ini diterima, yang berarti ada pengaruh pendidikan kesehatan
menggunakan media permainan monobani terhadap pengetahuan tentang
pencegahan kekerasan seksual pada anak laki-laki SD 43 Sungai Sapih.
3. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Sikap Anak tentang
Pencegahan Kekerasan Seksual
Tabel 5.6 Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Sikap tentang
Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Laki-laki SD 43
Sungai Sapih Menggunakan Media Permainan Monobani
Variabel n Median SD Selisih Median P value
Sikap pretest 24 5,00 1,204
3,00 0,000
Sikap posttest 24 8,00 1,152
59
Berdasarkan tabel 5.5 diatas diketahui bahwa selisih antara nilai
tengah sikap sebelum dan sikap sesudah diberikan pendidikan kesehatan
adalah 3,00. Hasil uji statistik yang dilakukan dengan Uji Wilcoxon
didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05) maka hipotesis dalam penelitian ini
diterima, yang berarti ada pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan
media permainan monobani terhadap sikap tentang pencegahan kekerasan
seksual pada anak laki-laki SD 43 Sungai Sapih.
BAB VI
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dijelaskan menganai hasil penelitian yang telah
dilaksanakan tentang pengaruh pemberian pendidikan kesehatan menggunakan
media permainan monobani terhadap pengetahuan dan sikap siswa tentang
pencegahan kekerasan seksual pada anak laki-laki di SD 43 Sungai Sapih
kecamatan Kuranji kota Padang. Hasil penelitian ini akan dibandingkan dengan
teori dan penelitian yang sebelumnya sudah pernah dilakukan serta keterbatasan
dalam penelitian ini.
A. Pengetahuan Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan
Menggunakan Media Permainan Monobani
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan analisis univariat
didapatkan bahwa nilai tengah pengetahuan siswa sebelum diberikan
pendidikan kesehatan adalah 6,00. Sedangkan nilai tertinggi sebelum
diberikan intervensi adalah 8 sebanyak 1 anak dan nilai terendahnya adalah 4
sebanyak 6 anak.
Penyataan pengetahuan tentang pencegahan kekerasan seksual yang
banyak terjawab dengan benar oleh siswa sebelum diberikan pendidikan
kesehatan adalah penyataan nomor 9 sebanyak 19 anak yaitu jika ada
seseorang memegang tubuhmu (mulut, alat kelamin, bokong) kamu harus
segera memberi tahu orang tua/guru. Sedangkan pernyataan yang paling
sedikit terjawab oleh siswa sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah
60
61
pernyataan nomor 5 sebanyak 6 anak, yaitu tidak boleh orang lain
memperlihatkan bagian tubuhnya (mulut/alat kelamin/bokong) kepadamu.
Hal ini menunjukkan bahwa anak banyak tidak mengetahui bahwa orang
yang memperlihatkan organ pribadi kepadanya merupakan bentuk kekerasan
seksual pada anak. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Sukimah (2017)
bahwa bentuk-bentuk kekerasan seksual pada anak diantaranya adalah
menyentuh/meraba bagian pribadi anak, memaksa anak untuk
memperlihatkan bagian pribadi padanya, melakukan hubungan seksual
dengan anak, dan memperlihatkan bagian pribadinya pada anak. Minimnya
pengetahuan ini menjadikan alasan untuk memberikan pendidikan kepada
anak mengenai pencegahan kekerasan seksual.
Setelah diberikan pendidikan kesehatan, nilai tengah pengetahuan
siswa meningkat menjadi 8,50 dibandingkan dengan nilai sebelum diberikan
pendidikan kesehatan 6,00. Nilai tertinggi siswa setelah diberikan pendidikan
kesehatan adalah 10 sebanyak 7 anak, sedangkan nilai terendah adalah 6
sebanyak 1 anak. Meningkatnya nilai tengah pengetahuan siswa setelah
diberikan pendidikan kesehatan tentang kekerasan seksual, menunjukkan
bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan. Hal ini sesuai
dengan pendapat Notoatmodjo (2012) bahwa pengetahuan dipengaruhi
beberapa faktor salah satunya antaralain pendidikan. Pendapat ini diperkuat
dengan penelitian Sari, Ulfiana, & Dian (2012) yang hasilnya terjadi
peningkatan pengetahuan siswa setelah diberikan pendidikan kesehatan
dengan media ular tangga dalam menggosok gigi.
62
Setelah diberikan pendidikan seksual menggunakan media monobani
pada umumnya semua anak mengalami peningkatan pengetahuan. Akan
tetapi, tidak semuanya mengalami peningkatan secara signifikan. Terdapat 5
orang anak yang hanya mengalami peningkatan 1 point saja. Hal ini dapat
disebabkan saat diberikan pendidikan suasana kelas sedikit tidak kondusif
sehingga mempengaruhi konsentrasi anak dalam menerima materi. Hal ini
sesuai dengan teori Wawan & Dewi (2010) yang mengungkapkan seluruh
kondisi yang ada dilingkungan manusia dan pengaruhnya yang dilingkungan
akan mempengaruhi perilaku orang atau kelompok. Lingkungan secara tidak
langsung akan mempengaruhi seseorang dalam melakukan aktivitas, baik
pengaruh yang positif maupun yang negatif. Sehingga penting dalam
melakukan Pendidikan kesehatan untuk dapat mengkondisikan lingkungan
agar mendukung proses pemberian materi.
Peningkatan pengetahuan anak terjadi pada semua peryataan yang
diberikan oleh peneliti setelah diberikan pendidikan kesehatan, pernyataan
terbanyak yang dapat dijawab oleh siswa terdapat pada nomor 1,2,7,8, dan 9.
Pada peryataan nomor 1 anak harus berani mengatakan tidak dan segera
menjauh jika ada orang lain yang memaksa melakukan hal yang tidak disukai
meningkat dari 17 orang menjadi 23 anak. Pernyataan nomor 2 tidak boleh
ada orang lain memegang bagian tubuhmu (mulut/alat kelamin/bokong) yang
membuatmu tidak nyaman meningkat dari 15 menjadi 23 anak . Pernyataan
nomor 7 bagian tubuh yang tidak boleh dipegang orang lain selain orang tua
adalah mulut, alat kelamin, bokong meningkat dari 11 menjadi 23 anak.
63
Selanjutnya peryataan nomor 8 orang lain yang boleh memegang tubuhku
selain orang tua adalah dokter, perawat atau bidan saat aku sakit meningkat
dari 16 menjadi 23 anak. Terakhir peryataan nomor 9 jika ada seseorang
memegang tubuhmu (mulut, alat kelamin, bokong) kamu harus segera
memberi tahu orang tua/guru meningkat dari 19 menjadi 23 anak.
Peningkatan pengetahuan pada siswa bisa menjadi salah satu indikator
bahwa media permainan simulasi merupakan media yang efektif untuk anak.
Hal ini dikarenakan permainan memiliki beberapa kelabihan diantaranya
dapat menjadi sarana hiburan yang menyenangkan dan mudah memasukkan
unsur pendidikan kedalamnya (Ningsih, 2018). Sehingga dalam permainan
anak tidak merasa tegang dan lebih santai bersama temanya, sehingga materi
yang diberikan lebih mudah di tangkap oleh anak. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Sanderson (2018) bahwa karakteristik metode pencegahan
kekerasan seksual untuk anak yang efektif memiliki kriteria salah satunya
melibatkan pertisipasi aktif peserta (seperti role play, simulation game), dan
dilakukan secara berkelompok.
Dari 10 penyataan yang diberikan pada siswa terdapat 2 penyataan
yang mengalami peningkatan terbanyak, yaitu penyataan nomor 7 tentang
bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain selain orang tua dan
penyataan nomor 9 tentang melaporkan orang yang menyentuh bagian pribadi
pada orang tua dan guru. Pengetahuan diatas merupakan materi dasar yang
harus diketahui oleh anak, sehingga apabila anak disentuh bagian pribadinya
anak tau dan mau melapor pada orang tua maupun guru disekolah.
64
Banyak dari anak yang tidak mengetahui tentang materi dasar dalam
pencegahan kekerasan seksual sehingga rentan menjadi korban kekerasan
seksual. Menurut (Ibrahim, 2017) usia yang paling beresiko mengalami
kekerasan seksual adalah 7-13 tahun. Orangtua sebagai orang terdekat
memliki peran yang sangat penting dalam mencegah terjadinya kekersan
seksual pada anak. Menurut Sukimah (2017) orang tua sebagai orang yang
terdekat dengan anak memiliki beberapa peran anataralain, memberikan
pengetahuan seksual sesuai usia, menjalain hubungan dan berkomunikasi
dengan rutin dengan anak, serta selalu mengigatkan anak untuk waspada
terhadap kekerasan seksual saat anak sendiri. Komunikasi yang terjalin
dengan baik antara anak dan orang tua diharapkan membuat anak lebih
terbuka dalam menceritakan masalah yang dialaminya. Dengan demikian
apabila anak telah mengetahui tentang pencegahan kekerasan seksual,
diharapkan anak dapat menghindar dari tindakan kekerasan seksual dan mau
melaporkan kepada orang tua maupun guru apabila mendapat tindakan
kekerasan seksual.
Pengetahuan tentang kekersan seksual sangat penting didapatkan oleh
anak dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual pada dirinya sedini
mungkin. Pendidikan kekerasan seksual sebaiknya diberikan sesuai dengan
tahap perkembangan anak dan diberikan dengan berbagai cara yang
menyenangkan untuk anak sehingga anak tidak mudah bosan. Dengan
demikian semua materi yang diberikan dapat sepenuhnya diserap dengan baik
oleh anak.
65
B. Sikap Sebelum dan Sesudah diberikan Pendidikan Kesehatan
Menggunakan Media Permainan Monobani
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis univariat didapatkan
nilai tengah sikap sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah 5,00. Nilai
tertinggi sikap siswa yaitu 7 sebanyak 2 anak, sedangkan nilai terendah yaitu 3
sebanyak 3 anak.
Penyataan yang paling banyak terjawab dengan benar oleh anak adalah
pernyataan nomor 4 yaitu aku melawan (memukul dan mengigit) ketika ada
orang yang memaksa memegang tubuhku (mulut/bokong/alat kelamin) dan
membuatku tidak nyaman, sebanyak 15 anak menjawab dengan benar.
Sedangkan penyataan yang sedikit terjawab oleh anak adalah nomor 3 yaitu
aku menerima makanan/uang/mainan dari orang lain tanpa izin orang tua,
hanya 8 anak menjawab dengan benar dari 24 anak. Hasil ini memberikan
gambaran bahwa masih banyak anak memliki sikap negatif terhadap modus
dari kekerasan seksual. Penyebab negatifnya sikap anak dapat dikarenakan
masih minimnya pendidikan tentang kekerasan seksual yang anak dapatkan
baik dari sekolah maupun orang tua.
Hasil diatas sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Muflihah (2019) yang menyatakan penyebab rendahnya sikap anak dalam
pencegahan kekerasan seksual, bisa disebabkan karena anak belum pernah
mendapatkan pendidikan tentang pencegahan kekerasan seksual. Jika dilihat
dari faktor yang mempengaruhi sikap menurut Hemdi (2010) sikap dipengaruhi
oleh pengalaman pribadi, pengaruh orang yang dianggap penting, dan lembaga
pendidikan/lembaga agama. Pengalaman pribadi dapat diperoleh seseorang
66
salah satunya melalui pendidikan baik dari lembaga pendidikan maupun
lembaga agama. Semakin banyak anak mendapatkan pendidikan maka maka
akan meningkatkan pengalaman anak yang akan berdampak pada responnya
terhadap stimulus. Hal ini membuat pendidikan seksual sangat penting
diberikan pada anak untuk meningkatkan sikap anak dalam mencegah
kekerasan seksual sesuai dengan tahap perkembangannya.
Setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai tengah sikap anak
mengalami peningkatan menjadi 8,00 dibandingkan sebelum diberikan
pendidikan kesehatan yaitu 5,00. Nilai tertinggi sikap anak setelah diberikan
pendidikan kesehatan yaitu 10 sebanyak 3 orang, sedangkan nilai terendah
sikap anak adalah 6 sebanyak 2 orang. Pernyataan yang mengalami
peningkatan jawaban benar terbanyak setelah diberikan pendidikan kesehatan
terdapat pada nomor 6 sebanyak 12 anak. Peningkatan terjadi dari yang semula
hanya 11 anak meningkat menjadi 23 anak jawaban yang benar berisi tentang
sikap menolak “tidak mau diajak masuk mobil orang yang tidak dikenal tanpa
orang tua”.
Peningkatan sikap anak dalam penelitian ini dapat dipengaruhi oleh
pengetahuan anak yang meningkat setelah diberikan pendidikan seksual. Hal
ini sesuai dengan teori Allport yang menyatakan bahwa sikap terdiri dari tiga
komponen dasar salah satunya adalah pengetahuan yang memegang peranan
penting dalam pembentukan sikap (Notoatmodjo, 2013). Hasil ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Kumboyono, et.al (2014) yang hasilnya
menyatakan bahwa pendidikan kesehatan dengan metode simulasi berpengaruh
67
terhadap peningkatan sikap remaja dalam pencegahan penyimpangan prilaku
seks. Selain itu, hasil penelitian ini juga selaras dengan hasil penelitian yang
dilakukan oleh Neherta (2015) bahwa penerapan model intervensi promosi
kesehatan perawat komunitas dapat meningkatkan sikap anak. Dalam metode
permainan simulasi anak dituntut untuk secara aktif berpartisipasi dalam
permainan yang melibatkan emosional dalam menaggapi materi permainan
(Rosdiana et al., 2017). Sehingga pendidikan tersebut dapat menjadi
pengalaman yang dapat diingat oleh anak.
Peningkatan sikap pada anak setelah diberikan pendidikan kesehatan
tidak semuanya mengalami peningkatan yang signifikan. Terdapat 2 anak yang
mengalami peningkatan nilai sikap setelah diberikan pendidikan kesehatan
hanya 1 poin. Sedangkan ada 1 anak yang mengalami peningkatan yang sangat
signifikan sebanyak 7 poin. Hal ini dapat terjadi dikarenakan salah satu yang
mempengaruhi sikap adalah pengetahuan seseorang. Berdasarkan hasil
penelitian peningkatan nilai pengetahuan anak yang mengalami peningkatan
sikap yang sigfikan adalah 4 poin, sedangkan untuk peningkatan nilai
pengetahuan anak yang mengalami peningkatan nilai sikap yang tidak
signifikan adalah 1 poin dan 3 poin. Hal ini sesuai dengan pendapat Wawan
(2010) yang menyakatan bahwa sikap dipengaruhi oleh beberapa hal
diantaranya pengetahuan seseorang. Peningkatan pengetahuan diharapkan
dapat memberikan pengaruh terhadap sikap seseorang.
Pembentukan sikap diawali dari stimulus yang diterima oleh anak yang
kemudian memberikan umpan balik baik positif mapun negatif. Agar stimulus
68
tersebut direspon anak menjadi positif, hendaknya dalam pemberian stimulus
menggunakan cara yang disenangi anak yang tidak bersifat menekan ataupun
membuat anak bosan yang dapat memberikan kesan buruk oleh anak sehingga
memberikan respon negatif. Salah satu stimulus yang dapat berikan dalam
pencegahan kekerasan seksual adalah melalui pendidikan yang dikemas
melalui permainan simulasi. Dalam permainan simulasi anak lebih diberikan
keleluasaan dalam mengungkapkan perasaannya tanpa perasaan tertekan,
dengan demikian materi yang diberikan akan mudah diterima. Selian itu dalam
permainan simulasi monobani anak diberikan stimulus dalam berntuk
pertanyaan dan tantangan tentang sikap yang seharusnya dimiliki oleh anak,
hal ini secara tidak langsung akan merangsang anak untuk menanamkan sikap
tersebut dalam dirinya.
C. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media
Monobani Terhadap Pengetahuan Anak Laki-laki tentang di SD 43
Sungai Sapih
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai tengah pengetahuan
sebelum diberikan pendidikan kesehatan adalah 6,00, sedangkan setelah
diberikan pendidikan kesehatan nilai tengah pengetahuan anak menjadi 8,50.
Dari nilai tengah anak sebelum diberikan pendidikan kesehatan dan nilai
tengah anak sesudah diberikan pendidikan kesehatan didapatkan selisih nilai
tengah pengetahuan anak sebesar 2,50. Hasil uji statistic dengan Wilcoxon
diperoleh nilai p=0,000 (p<0,05), sehiingga dapat disimpulkan bahwa terdapat
pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media permainan monobani
69
terhadap pengetahuan tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak laki-
laki SD 43 Sungai Sapih.
Peningkatan pengetahuan anak memberikan gambaran bahwa materi
yang diberikan dapat diterima oleh anak melaui media permainan monobani.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Hutami, et al., 2019)
yang menggunakan media permainan monopoli dalam memberikan pendidikan
kesehatan gigi pada anak di SD Negeri 1 Bumi. Hasilnya terdapat peningkatan
nilai anak setelah diberikan pendidikan kesehatan sebanyak 29,4% dan hasil uji
statistik menggunakan paired independent t-test didapatkan p=0,000 (p>0,05)
hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara pemberian pendidikan
kesehatan gigi dengan media monopoli terhadap peningkatan pengetahuan
anak. Selain itu, menurut hasil penelitian Ulfaeni, et al (2017) bahwa
permainan monopoli dapat dikembangkan sebagai media pembelajaran yang
menyenangkan dan menarik perhatian anak sehingga dapat menumbuhkan
kemampuan pemahaman anak tentang konsep IPA.
Peningkatan pengetahuan anak dalam penelitian ini dapat terjadi
dikarenakan dalam satu kali permainan monobani anak mendapatkan materi
yang berulang-ulang baik melalui membaca dan mendengar. Materi dalam
permainan monobani didapatkan sebelum permainan dimulai, anak diberikan
kesempatan untuk membaca materi terlebih dahulu sehingga saat bermain anak
sudah punya bekal dalam bermain. Selanjutnya materi diperoleh dalam
permainan monobani melalui kartu aku berani, aku peduli dan kartu
kesempatan. Setiap anak berhenti pada kotak aku peduli anak diharuskan
70
mengambil kartu aku peduli yang berisi tentang materi dan membacakannya
agara teman-teman yang lain dapat mendegarkan materi. Pada kotak aku berani
anak harus mengambil kartu aku berani yang berisi tantangan yang harus anak
lakukan, dengan demikian materi yang diperoleh akan membekas pada ingatan
anak dan teman yang lain melalui melihat. Sedangkan pada kotak kesempatan
anak diharuskan mengambil kartu kesempatan yang berisi pertanyaan tentang
materi yang diberikan, apabila anak dapat menjawab maka akan mendapat
bonus dan apabila salah maka akan denda. Pemberian denda dan bonus
bertujuan agar anak tidak bosan akan materi yang diberikan berulang. Hal
tersebut justru akan memotivasi dan merangsang memori anak untuk dapat
lebih banyak mengingat materi yang diberikan agar dapat menjawab
pertanyaan dengan benar. Kemudian banyaknya indera yang menangkap
informasi dalam permainan monobani dapat membuat ingatan anak semakin
kuat akan materi yang telah diberikan.
Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa permainan monobani dapat
memberikan pengalaman bermain serta belajar yang menyenangkan bagi anak
yang membuat materi mudah diterima, ditambah materi yang diberikan dengan
berulang-ulang akan sangat membekas diingatan anak. Hal ini membuat
permainan ini dapat dijadikan salah satu alternaitf media yang dapat digunakan
orang tua maupun sekolah dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada
anak yang efektif.
71
D. Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Menggunakan Media
Monobani Terhadap Sikap Anak Laki-laki tentang di SD 43 Sungai Sapih
Nilai tengah sikap anak sebelum dan sesudah diberikan pendidikan
kesehatan mengalami peningkatan dari 5,00 menjadi 8,00, dari nilai tengah
sikap sebelum diberikan pendidikan kesehatan dan sesudah diberikan
pendidikan kesehatan didaptkan selisih nilai tengah tersebut sebesar 3,00.
Berdasarkan hasil uji statistik yang dilakukan dengan Uji Wilcoxon didapatkan
nilai p=0,000 (p<0,05) maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat
pengaruh pendidikan kesehatan menggunakan media permainan monobani
terhadap sikap tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak laki-laki SD
43 Sungai Sapih.
Perubahan sikap anak dalam penelitian ini terjadi dikarenakan
meningkatkan pengetahuan anak setelah diberikan kesehatan. Perubahan ini
sesuai dengan teori Rosenberg (1964) yang menyatakan bahwa seseorang yang
mengalami peningkatan pengetahuan maka diharapkan sikapnya akan berubah
juga (Wawan & Dewi, 2010). Pendapat tersebut sejalan dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh (Muflihah et al., 2019) bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan sikap anak sebelum dan sesudah diberikan pendidikan seksual
menggunakan media puzzle.
Pemberian pendidikan kesehatan yang efektif akan berdampak pada
peningkatan pengetahuan yang dapat mempengaruhi sikap seseorang. Sehingga
dalam pemberian pendidikan media sangat penting untk dipertimbangkan agar
materi yang diberikan dapat sepenuhnya diterima dengan baik., terlebih pada
usia anak-anak yang masih dalam fase bermain. Pemberian pendidikan
72
kesehatan dengan media permainan simulasi akan memberikan anak suasana
yang menyenangkan serta terlibat aktif dalam pemberian materi, sehingga anak
lebih mudah menerima materi yang diberikan. Hal ini akan berdampak
timbulnya respon sikap yang positif terhadap materi yang diberikan, dalam
penelitian ini respon yang dimaksud adalah respon positif terhadap pencegahan
kekerasan seksual.
E. Keterbatasan Penelitian
1. Penelitian ini dilakukan tidak melibatkan guru secara aktif.
2. Permainan ini membutuhkan waktu khusus dikarenakan waktu permainan
yang cukup lama sehingga dibutuhkan peran sekolah agar tidak menganggu
jam belajar.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan peneliti tentang pengaruh
pendidikan kesehatan dengan media permainan monobani terhadap
pengetahuan dan sikap anak laki-laki dalam mencegah kekerasan seksual pada
anak di SD 43 Sungai Sapih kecamatan Kuranji, maka hasil penelitian tersebut
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Terjadi peningkatan pengetahuan anak setelah diberikan pendidikan
seksual terlihat dari nilai tengahnya sebelum diberikan pendidikan adalah
6,00 kemudian setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai tengah
pengetahuan anak menjadi 8,50.
2. Terjadi peningkatan sikap anak setelah diberikan pendidikan seksual
terlihat dari nilai tengahnya sebelum diberikan pendidikan adalah 5,0
kemudian setelah diberikan pendidikan kesehatan nilai tengahnya menjadi
8,00.
3. Terdapat pengaruh yang bermakna pendidikan kesehatan dengan media
monobani tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak laki-laki
terhadap peningkatan pengetahuan anak dengan nilai p=0,000.
4. Terdapat pengaruh yang bermakna pendidikan kesehatan dengan media
monobani tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak laki-laki
terhadap peningkatan sikap anak dengan nilai p=0,000.
73
74
B. Saran
1. Ilmu Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat diaplikasikan oleh perawat dalam
memberikan pendidikan kesehatan pada anak laki-laki sebagai upaya
promotive dalam melakukan pencegahan kekerasan seksual pada anak.
2. Intitusi Pendidikan
Pendidikan kesehatan ini dapat dijadikan sebagai masukan dalam
materi tambahan disekolah, sebagai alternatif bentuk peran serta sekolah
dalam upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak.
3. Peneliti selanjutnya
Hasil pelitian ini dapat diteruskan dengan menambah populasi,
jumlah sampel, karakteristik sampel dan memodifikasi media permainan
yang digunakan dalam penelitian. Pendidikan kesehatan dapat melibatkan
guru, sehingga dapat diberikan secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, P. W., & Ratri, A. kusumaning. (2018). Analisis Tindak Kekerasan
Seksual Pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Kajian Teori Dan Praktik
Kependidikan, 3(2), 151–155. Retrieved from
http://journal2.um.ac.id/index.php/jktpk/article/download/4993/3540
Akbar, M. A. (2019). Asuhan Keperawatan Komunitas Melalui Pendidikan
Kesehatan dengan Penerapan metode Game Based Learning Dalam Upaya
Peningkatan Pengetahuan dan Sikap Mengenai Kekerasan Seksual Di SD
Negeri 16 Anduring Kota Padang. universitas Andalas.
Andriana, D. (2011). Tumbuh Kembang & Terapi Bermain Pada Anak. Jakarta:
Salemba Medika.
Arikunto, S. (2009). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Azwar, S. (2010). Sikap Manusia Teori dan Pengembangannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Bujuri, D. A. (2018). Analisis Perkembangan Kognitif Anak Usia Dasar dan
Implikasinya dalam Kegiatan Belajar Mengajar. LITERASI, IX(1), 37–50.
Retrieved from
https://www.researchgate.net/publication/328460960_Analisis_Perkembanga
n_Kognitif_Anak_Usia_Dasar_dan_Implikasinya_dalam_Kegiatan_Belajar_
Mengajar
Cahyo, A. N. (2011). Game Khusus Penyeimbang Otak Kanan dan Otak Kiri
Anak. Jogjakarta: FlashBooks.
Dahlan, M. S. (2013). Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Deskriptif,
Bivariat, dan Multivariat Dilengkapi Aplikasi Dengan Menggunakan SPSS
(5th ed.). Jakarta: Salemba Medika.
Davidi, E. I. N. (2018). PERMAINAN MONOPOLI BERBASIS PROBLEM-
BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN
BERPIKIR KRITIS. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan MISSIO, 10(1),
59–69. Retrieved from
http://ejournal.stkipsantupaulus.ac.id/index.php/jpkm/article/view/165/123
Ditreskrimum Polda Sumbar. (2018). Rekap Korban Tindak Kekerasan Menurut
Jenis Kekerasan se Sumatera Barat Tahun 2018.
DPPPA Sumatera Barat. (2018). Gubernur Menadatangani Deklarasi Model
Sekolah Ramah Anak. Retrieved from
http://dpppa.sumbarprov.go.id/details/news/31
75
76
Evelyn, T., Mawarni, A., & Dharminto. (2016). Gambaran Pengetahuan, Sikap,
dan Praktik Pencegahan Kekerasan Seksual Terhadap Anak Pada
Keterpaparan Program Yayasan Setara Dengan Media Video (Studi Kasus di
2 SD di Kota Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(4), 255–264.
Fitriana, R. J., & Salamah, S. (2019). Perbedaan Penyuluhan Metode Dongeng
Dan Permainan Monopoli Terhadap Pengetahuan Menyikat Gigi Pada
Kelompok Usia 9-10 Tahun Di Sdn 1 Palam Banjarbaru. Poltiteknik
Kesehatan Banjarmasin, 10(2), 82–90. Retrieved from
http://www.ejurnalskalakesehatan-
poltekkesbjm.com/index.php/JSK/article/view/219/169
Gumilang, J. R. (2019). Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran Monopoli
Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas III SD Negeri 1 Gondang. Jurnal
Ilmiah Pendidikan IPA, 1(2). Retrieved from
http://jurnal.stkippgritulungagung.ac.id/index.php/eduproxima/article/view/1
112
Hemdi, K. Y. (2010). Terhindar Dari Pelecehan Seksual : Saved From Sexual
Harrasment. Jakarta Timur.
Hutami, A. R., Dewi, N. M., Setiawan, N. R., Putri, A. P., & Kaswindarti, S.
(2019). Penerapan Permainan Molegi ( Monopoli Puzzle Kesehatan Gigi )
Sebagai Media Edukasi Kesehatan Gigi Dan Mulut Siswa SD Negeri 1 Bumi.
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia, 01(2).
Retrieved from https://jurnal.uai.ac.id/index.php/JPM/article/view/341/330
Ibrahim, N. . (2017). Risk Factors for Child Sexual Abuse and Perpetrator Related
Risk Factors at Adama Hospital Medical College, 3(3), 23–30.
https://doi.org/doi:10.11648/20170303.12
Jatmikowati. (2015). A Model and Material of Sex Education for Early-Aged-
Children (No.03, 434). Cakrawala Pendidikan.
Justica, R. (2016). Program Underwear Rules untuk Mencegah Kekerasan Seksual
Pada Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Usia Dini, 9(2), 217–232.
https://doi.org/doi:10.21009/JPUD.092.0
KEMENSOS RI. (2018). Buku Pintar Perlindungan Anak: Pertemuan
Peningkatan Kemampuan Keluarga (P2K2) Program Keluarga Harapan
(PKH). Retrieved from
https://pkh.kemsos.go.id/dokumen/DOCS20181010110255.pdf
KPAI. (2014). Indonesia Darurat Kejahatan Seksual Anak. Retrieved from
http://www.kpai.go.id/berita/indonesia-darurat-kejahatan-seksual-anak
KPAI. (2017). Kekerasan Seksual pada Anak Laki-laki Lebih Tinggi dari
77
Perempuan. Retrieved from http://www.kpai.go.id/berita/kekerasan-seksual-
pada-anak-laki-laki-lebih-tinggi-dari-perempuan
KPAI. (2018). KPAI: Korban Kekerasan Seksual Anak Didominasi Laki-Laki.
Retrieved from
https://www.idntimes.com/news/indonesia/indianamalia/kpai-korban-
kekerasan-seksual-anak-didominasi-laki-laki/full
Kumboyono, Hanafi, M., & Lestari, E. P. (2014). Perbedaan Pengaruh Pendidikan
Seks Metode Simulasi Dan Diskusi Kelompok Terhadap Sikap Remaja Pada
Upaya Pencegahan Perilaku Seks Menyimpang. Jurnal Kedokteran
Brawijaya, XX(1), 46–49.
Kurniasar, A. (2017). Prevalensi kekerasan terhadap anak laki-laki dan anak
perempuan di indonesia. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan
Kesejahteraan Sosial, 6(3). Retrieved from
https://ejournal.kemsos.go.id/index.php/SosioKonsepsia/article/view/740/621
#
LPSK. (2018). Kesaksian Media Informasi Perlindungan Saksi dan Korban :
Kekerasan Seksual pada Anak Dominan Edisi 1 Tahun 2018. Retrieved from
https://www.lpsk.go.id/assets/uploads/files/de8b1f08815e343ba790192b863
2f0c2.pdf
LPSK. (2019). Lindungi Anak Indonesia dari Kekerasan Seksual di Keluarga.
Retrieved from https://www.lpsk.go.id/berita/berita_detail/3030
Lubis, A. . (2014). Filsafat Ilmu Klasik Hingga Komputer. Depok: Rajawali Pers.
Madani, Y. (2014). Pendididkan Seks Usia Dini Bagi Anak Muslim. Jakarta:
Zahra Publishing House.
Muflihah, H. F., Shaluhiyah, Z., & P, P. N. (2019). Pengaruh Permainan Puzzle
Dan Metode Diskusi Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Anak Usia Dini (5-6
Tahun) Mengenai Seksualitas (Studi Di Tk Kelurahan Bugangan, Semarang
Timur, Kota Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat, 7(1), 483–490.
Retrieved from
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm/article/view/23071/21083
Nasution, M. S., & Wahyudi, I. (2018, April 7). Upaya Melindungi Perempuan
Minang dari Ancaman Kekerasan. Antaranews. Retrieved from
https://sumbar.antaranews.com/berita/223703/upaya-melindungi-perempuan-
minang-dari-ancaman-kekerasan
National Sexual Violence Resource Center (NSVRC). (2018). Sexual Assult In
The United States.
78
Neherta, M. (2015). Model Intervensi Promosi dan Pencegahan Kekerasan
Seksual Oleh Perawat Komunitas Terhadap Anak Sekolah Dasar Di Kota
Padang. Universitas Andalas.
Neherta, M. (2017). Modul Intervensi Pencegahan Kekerasan Seksual Terhadap
Anak. Padang: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Retrieved from
file:///D:/jurnal/,,,/New folder/PENGARUH PERMAINAN LUDO “AKU
BISA JAGA DIRI”.pdf
Ningsih, M. W. (2018). Pengembangan Media Permainan Monopoli Trut And
Dare Untuk Meningkatkan Self Confidence Pada Siswa-Siswi SMP Negeri 1
Balongbendo. Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya.
Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan : Edisi
Revisi 2012. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2013). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan (3rd ed.). Jakarta:
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2014). Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam. (2011). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keprawatan : Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian
Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Oktavianda, R. (2019). Pengaruh Permainan Ludo “Aku Bisa Jaga Diri” Dalam
Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Pencegahan Kekerasan
Seksual Pada Anak Di Kabupaten Tanah Datar Tahun 2019. Universitas
Andalas.
PUSDATIN RI. (2019). Infodatin Kekerasan Seksual Pada Anak dan Remaja.
Rakhmayanti, E., & Subagio, F. M. (2019). Efektivitas Penggunaan Media
Monopoli Tematik Terhadap Aktivitas dan Hasil Belajar Kognitif Siswa
Kelas IV Di SD Negeri Sumput Sidoarjo. JPGSD, 07(03), 2975–2984.
Riyanto, A. (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan Dilengkapi Contoh
Kuesioner Dan Laporan Penelitian. Yogyakarta: Nuha Medika.
Rosdiana, M., Hidayat, J. N., & P, R. F. N. (2017). Pengembangan Media
Pembelajaran Permainan Monopoli Sains Pada Siswa Kelas IV SDN Pragaan
Laok I. ALPEN: Jurnal Pendidikan Dasar, 1(2).
Sanderson, D. J. (2018). Child-focused Sexual Abuse Prevention Programs. How
Effective Are They In Preventing Child Abuse?, (April).
Sara, P., Nurfitriyanti, A., & Adriana. (2016). Efektifitas Pendidikan Kesehatan
Dengan Simulasi Permainan Ular Tangga Terhadap Perubahan Sikap
Tentang Kesehatan Gigi Dan Mulut Anak Usia Sekolah di SDN 03
Singkawang Tengah. Kedokteran Universitas Tanjungpura.
79
Sari, E. K., Ulfiana, E., & Dian, P. (2012). The Effect Of Health Education Using
Modified Snake Ladders Simulation Game Methods Towards
Toothbrushing’s Knowledge, Attitude, And Action Application Changes For
School Age Children. Indonesian Jurnal of Community Health Nursing, 1(1),
1–11. Retrieved from https://e-
journal.unair.ac.id/IJCHN/article/view/11902/6824
Sari, E., Ningsih, B., & Hennyati, S. (2018). Kekerasan Seksual Pada Anak DI
Kabupaten Karawang. Jurnal Bidan “Midwife Journal,” 4(02), 56–65.
Retrieved from http://jurnal.ibijabar.org/wp-
content/uploads/2018/08/KEKERASAN-SEKSUAL-PADA-ANAK-DI-
KABUPATEN-KARAWANG.pdf
Sari, S. (2018). Pengaruh Media Permainan Ular Tangga Terhadap Pengetahuan
Dan Sikap Anak Tentang Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak.
Universitas Andalas.
Setiyaningrum, E. (2017). Buku Ajar Tumbuh Kembang Anak 0-12 tahun.
Sidoarjo: Indomedia Pustaka.
SI LARAS Kota Padang. (2019). SI LARAS Kota Padang (Sistem Informasi
Layanan Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak Kota Padang).
Retrieved from http://silaras.padang.go.id/grafik.php
Silvia, N. (2019). Sumbar Darurat Kekerasan Seksual. Padang. Retrieved from
https://padek.co/koran/padangekspres.co.id/read/detail/124615/Sumbar-
Darurat-Kekerasan-Seksual
SIMFONI PPA. (2019). Rasio Anak Korban Kekerasan. Retrieved from
https://kekerasan.kemenpppa.go.id/ringkasan
Siswanto, Susilo, & Suyanto. (2014). Metodologi Penelitian Kesehatan dan
Kedokteran. Yogyakarta: Bursa Ilmu.
Sofian, A. (2018). Kekerasan Seksual oleh Anak Terhadap Anak : Child on Child
Sexual Abuse. PKS, Vol 17(1), 1–20. Retrieved from
file:///C:/Users/WINDOWS 10/Downloads/1223-4219-1-PB.pdf
Subaris, H. (2016). Promosi Kesehtan, Pemberdayaan Masyarakat, Dan Modal
Sosial. Yogyakarta: Nuha Medika.
Sugijokanto, S. (2014). Cegah Kekerasan Pada Anak. Jakarta: PT.Elek Media
Komputindo.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
80
Sukimah. (2017). Seri Pendidikan Orang Tua:Melindungi Anak Dari Kekerasan
Seksual. KEMENDIKBUD. Retrieved from
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/uploads/Dokumen/5502_201
8-01-08/MELINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN SEKSUAL.pdf
Supardi, S., & Rustika. (2013). Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: TIM.
Ulfaeni, S., Wakhyudin, H., & Saputra, H. J. (2017). Pengembangan Media
MONERGI (Monopoli Energi) Untuk Menumbuhkan Kemampuan
Pemahaman Konsep IPA Siswa SD. Profesi Pendidikan Dasar, 4(2), 136–
144. Retrieved from
journals.ums.ac.id/index.php/ppd/article/view/4990/3618%0D
UNICEF. (2017). A familiar face Violence in the lives of children and adolescents.
New York. Retrieved from
https://www.unicef.org/publications/files/Violence_in_the_lives_of_children
_and_adolescents.pdf
Unit PPA Polresta Padang. (2019). Laporan Kasus Kekerasan Perempuan dan
Anak Unit PPA Polresta Padang.
UPTD PPA Sumbar. (2019). Data Korban Kekerasan Seksual pada Anak UPTD
PPA Tahun 2019.
Wawan, A. (2010). Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Manusia, Yogyakarta. Yogyakarta: Nuha Medika.
Wawan, A., & Dewi, M. (2010). Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap, Dan
Perilaku Manusia : Dilengkapi Contoh Kuesioner. Yogyakarta: Nuha
Medika.
WHO. (2016). Child Maltreatment. Retrieved from https://www.who.int/en/news-
room/fact-sheets/detail/child-maltreatment
WHO. (2017a). A Look At Child Abuse On The Global Level. Retrieved
September 29, 1BC, from https://www.pbc2019.org/protection-of-
minors/child-abuse-on-the-global-level
WHO. (2017b). Sexual Violence. Retrieved from http://apps.who.int/violence-
info/sexual-violence
WHO. (2019). Child Sexual Abuse Statistics.
Wong, D. L. (2012). Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta:
EGC.
Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., & Schuartz,
P. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong Edisi 6 Vol.1. Jakarta:
EGC.
81
Wong, D. L., Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2011). Wong’s Nursing Cre Of
Infants And Children Edition 9 (9th ed.). America: ELSEVIER.
Wong, & Et.all. (2012). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. (Edisi 6 Vo).
Jakarta: EGC.
Yuwono, I. D. (2015). Penerapan Hukum dalam Kasus Kekerasan Terhadap
Anak. Yogyakarta: Medpress Digital. Retrieved from
https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=SuyBDwAAQBAJ&oi=fnd
&pg=PA1&dq=+kekerasan+seksual+pada+anak+sd&ots=boIK4lJaAv&sig=
NDkmj0oHfJ4AKmWzSXAdE5P3B3U&redir_esc=y#v=onepage&q=kekera
san seksual pada anak sd&f=false
Lampiran 1 Jadwal Kegiatan
Pengaruh Permainan Monobani (Monopoli Anak Berani) Terhadap Pengetahuan dan Sikap
Anak Laki-laki Tentang Pencegahan Kekerasan Seksual di SDN 43
Kecamatan Kuranji Tahun 2019
Bulan / Minggu
No Kegiatan Juli Agustus September Oktober November Desember Januari
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Mengajukan Judul
2 Acc Judul
3 Konsultasi Proposal
4 Seminar Proposal
5 Perbaikan Proposal
6 Pengumpulan Data
7 Pengolahan Data
8 Penyusunan Skripsi
9 Konsultasi Skripsi
10 Ujian Sidang Skripsi
11 Perbaikan Skripsi
12 Pengumpulan Skripsi
Pembimbing I Pembimbing II Padang, Januari 2019
Dr. Ns. Meri Neherta, S,Kep., M.Biomed Ns. Feri Fernandes, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J Muhammad Roni
Lampiran 2 Surat Izin Penelitian
Lampiran 3 Anggaran Dana Penelitian
RENCANA ANGGARAN BIAYA
Judul : Pengaruh Permainan Monobani (Monopoli Anak Berani) Terhadap
Pengetahuan Dan Sikap Anak Laki-Laki Tentang Pencegahan
Kekerasan Seksual Di Sd 43 Kecamatan Kuranji Tahun 2019
Peneliti : Muhammad Roni
No. BP : 1811316032
No Kegiatan Biaya
1 Biaya administrasi dan studi awal Rp. 50.000,-
2 Penyusunan proposal penelitian Rp. 150.000,-
3 Penggandaan proposal dan ujian proposal Rp. 400.000,-
4 Instrumen penelitian dan pelaksanaan penelitian Rp. 450.000,-
5 Penyusunan skripsi Rp. 150.000,-
6 Perbaikan setelah ujian skripsi Rp. 100.000,-
7 Penggandaan skripsi Rp. 350.000,-
8 Transportasi Rp. 50.000,-
9 Biaya lain-lain Rp. 50.000,-
Total Rp.1.750.000,-
Lampiran 4 Kartu Bimbingan
Lampiran 5 Lembar Permohonan Menjadi Responden
Lampiran 6 Lembar Persetujuan Menjadi Responden
Lampiran 7 Kuesioner Penelitian
Kuesioner Penelitian
Pengaruh Permainan Monopoli Terhadap Pengetahuan dan Sikap
Anak Laki-Laki Tentang Pencegahan Kekerasan Seksual
di SDN 43 Kecamatan Kuranji Tahun 2019
Petunjuk pengisian:
Isilah pertanyaan dibawah ini dengan benar. Data yang disampaikan pada
kuesioner ini akan dijamin kerahasiannya.
I. Identitas responden:
1. Nama : ……………………….
No.Responden:
2. Umur : …… Tahun
3. Jenis kelamin : L
4. Alamat : ………………………
5. Kelas : ………………………
II. Pengetahuan
Jawablah pernyataan di bawah ini dengan cara memberi tanda centang
(√) pada kolom benar jika jawaban benar dan kolom salah bila jawaban
salah.
No Pernyataan Benar Salah
Kamu harus berani mengatakan tidak dan segera
1 menjauh jika ada orang lain yang memaksamu √
melakukan hal yang tidak kamu sukai
Tidak boleh ada orang lain memegang bagian
2 tubuhmu (mulut/alat kelamin/bokong) yang √
membuatmu tidak nyaman
Boleh menerima permen/makanan/mainan/ uang
3 dari orang yang tidak kita kenal tanpa izin orang √
tua
Kamu boleh melihat dan memegang alat kelamin
4 √
orang lain
Tidak boleh orang lain memperlihatkan bagian
5 √
tubuhnya (mulut/alat kelamin/bokong) kepadamu
Tidak boleh ada orang lain yang memaksamu
6 √
membuka pakaianmu di tempat sepi
Bagian tubuh yang tidak boleh dipegang orang
7 lain selain orang tua adalah mulut, alat kelamin, √
bokong
Orang lain yang boleh memegang tubuhku selain
8 orang tua adalah dokter, perawat atau bidan saat √
aku sakit
Jika ada seseorang memegang tubuhmu (mulut,
9 alat kelamin, bokong) kamu harus segera √
memberi tahu orang tua/guru
Jika ada orang yang memegang tubuhmu
(mulut/alat kelamin/bokong) membuatmu
10 √
merasa tidak nyaman, gelisah, murung, dan takut
bertemu orang lain.
III. Sikap
Isilah pertanyaan di bawah ini yang di anggap sesuai dengan cara
memberi tanda centang (√) pada kolom berikut:
Tidak
No Pernyataan Setuju
Setuju
Katakan “tidak” dan segera menjauh jika
seseorang memegang tubuhku (mulut/alat
1 √
kelamin/bokong) dengan cara yang tidak aku
sukai
Aku berteriak “tidak” dan menghindar ketika
orang lain memegang tubuhku (mulut/alat
2 √
kelamin/bokong) dan membuatku merasa
terganggu
Aku menerima makanan/uang/mainan dari
3 √
orang lain tanpa izin orang tua
Aku tidak melawan (memukul dan mengigit)
ketika ada orang yang memaksa memegang
4 √
tubuhku (mulut/bokong/alat kelamin) dan
membuatku tidak nyaman
Aku tidak berteriak dan menghindar ketika
orang lain yang lebih tua memintaku memegang
5 √
bagian tubuh (mulut/bokong/alat kelamin)
orang tersebut
Aku tidak mau diajak masuk mobil orang yang
6 √
tidak dikenal tanpa orang tua
Aku mengusir orang lain yang masuk kamar
7 √
mandi saat aku didalamnya
Aku melaporkan kepada orang tua jika ada
lawan jenis memegang tubuhku
8 √
(mulut/bokong/alat kelamin) yang membuatku
tidak nyaman
Aku menolak ajakan orang yang mengajakku
9 √
bermain di tempat yang sepi
Aku selalu berhati-hati dan menjauh apabila ada
10 orang asing yang mengikutiku di tempat yang √
sepi
Lampiran 8 Satuan Acara Penyuluhan
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik Bahasan : Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Laki-Laki
Sub Topik Bahasan : Pengaruh Permainan Monobani(Monopoli Anak Berani)
Sasaran : Siswa Laki-Laki Sekolah Dasar Kelas 3 dan 4.
Tempat : SDN 43 Kecamatan Kuranji Kota Padang
Hari/Tanggal : Oktober 2019
Waktu : 70 menit
A. Latar Belakang
Kekerasan seksual merupakan tindakan yang dilakukan dengan tujuan
untuk memperoleh tindakan seksual atau tindakan lainnya yang mengarah
pada kepuasan seksualnya dengan cara paksaan tanpa memandang setatus
hubungan sosial dengan korban (WHO, 2017). Fenomena kekerasan seksual
pada anak merupakan salah satu permasalahan yang saat ini menjadi salah
satu pusat perhatian. Hal ini dibuktikan dengan tingginya angka kekerasan
seksual pada anak. Pada tahun 2018 angka kekerasan seksual pada anak
tercatat sebanyak 177 kasus dengan 135 kasus pada anak laki-laki dan 42
kasus pada anak perempuan (KPAI, 2018). Hal ini menjadi perhatian baru
dikarenakan anak laki-laki yang semula dianggap memiliki potensi yang
rendah dibandingkan dengan anak perempuan, tenyata banyak mengalami
kekerasan seksual. Menurut Wakil KPAI tingginya kejadian kekerasn seksual
pada anak laki-laki dikarenakan kurangnya sosialisai Pendidikan seksual pada
anak laki-laki, sehingga dibutuhkan Pendidikan seksual pada anak laki-laki
juga (KPAI, 2017).
B. Tujuan Umum
Setelah mengikuti penyuluhan siswa diharapkan mampu mengetahui dan
memahami cara pencegahan kekerasan seksual pada anak.
C. Tujuan Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan siswa diharapkan dapat:
1. Menyebutkan bagian tubuh pribadi yang tidak boleh dilihat dan disentuh
oleh orang lain.
2. Menyebutkan orang boleh menyentuh bagian pribadi.
3. Menyebutkan cara mencegah kekerasan seksual.
4. Menyebutkan sikap dalam pencegahan kekerasan seksual.
D. Materi (terlampir)
E. Metode
1. Game Monobani
2. Tanya jawab
F. Media
1. Papan permainan Monobani dan perlengkapannya
2. Kuesioner
G. Setting Tempat
Keterangan:
: Papan Permainan Monobani
: Siswa
: Fasilitator/Penyuluh
H. Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan Kegiatan Fasilitator/Penyuluh Siswa
1. Menjawab salam
1. Salam Teraupetik
2. Mendengarkan
Pembukaan 2. Memperkenalkan diri
1 3. Memperkenalkan diri
(10 menit) 3. Menjelaskan tujuan
4. Menyepakati kontrak
4. Melakukan kontrak waktu
waktu
1. Memberikan kuesioner
1. Mengisi koesioner
(sebelum)
2. Mendengarkan dan
2. Menjelaskan permainan
memperhatikan
Inti 3. Memberikan kartu aku peduli
2 3. Melakukan permainan
(60 menit) 4. Memandu permainan
4. Menanyakan materi
5. Memberikan kesempatan
yang belum jelas
siswa bertanya
1. Mengulas kembali tentang
1. Ikut serta mengulas
materi penyuluhan
materi
2. Menyimpulkan materi
Penutup 2. Menyimak
3 3. Membagikan Kuesioner
(10 menit) kesimpulan
(setelah)
3. Mengisi kuesioner
4. Menutup dan Mengucapkan
4. Menjawab salam
salam
I. Kriteria Evaluasi
1. Evalausi struktur
a. Siswa laki-laki yang hadir di kelas
b. Sarana dan prasarana penyuluhan
c. Setting tempat sesuai rencana
2. Evaluasi proses
a. Siswa aktif dan mengikuti jalannya permainan.
b. Siswa mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan
3. Evaluasi hasil
a. Siswa mampu menyebutkan 3 bagian tubuh yang tidak boleh
disentuh dan dilihat oleh orang lain.
b. Siswa mampu menyebutkan orang yang boleh melihat dan
menyentuh bagian pribadinya.
c. Siswa mampu menyebutkan bentuk-bentuk kekerasan seksual
d. Siswa mampu menyebutkan sikap dalam mencegah kekerasan
seksual
Materi Pendidikan Seksual
A. Pengertian Pendidikan Seksual
Sebagai upaya untuk mencegah kekerasan seksual pada anak adalah
pemberian bekal pengetahuan tentang seksualitas yang disesuaikan dengan
tahap perkembangan anak (Jatmikowati, 2015). Pengetahuan yang harus
dimiliki oleh anak-anak tentang pencegahan kekerasan seksual antaralain:
Gambar 1 Bagian tubuh yang tidak boleh disentuh
Sumber : Pencegahan Kekerasan seksual (KPAI, 2017)
Beritahu anak tentang sentuhan yang boleh dilakukan orang lain
ialah bagian kepala, tangan, dan kaki, dan bagian yang tidak boleh dilihat
dan dipegang orang lain adalah penis, mulut, dan bokong. Jelaskan pada
anak tentang cara menjaga privasi saat mandi, tidur, dan berpakaian. Orang
tua juga perlu memberitahukan bahwa ada saatnya orang lain diperbolehkan
melihat bagian pribadi tubuh dengan izin orang tua seperti saat
dokter/perawat/bidan memeriksa (Justica, 2016).
Beritahu anak contoh tindakan yang mungkin dilakukan oleh pelaku
kekerasan pada anak seperti:
a. Orang lain yang membuka pakaianmu atau menyuruh membuka
pakaianmu tanpa izin orang tua.
b. Orang lain yang melakukan sentuhan buruk seperti menyentuh,
meremas, dan mempermainkan bagian pribadimu yang membuatmu
tidak nyaman atau memasukkan sesuatu ke anus anak.
c. Memperlihatkan bagian tubuh pribadinya atau menyuruh anak untuk
memegang maupun memasukkan penis kemulut.
d. Orang asing yang memeluk, mencium, atau menyuruh anak duduk
dipangkuannya.
e. Orang yang mengikuti atau membujuk anak untuk ke tempat yang sepi
sendirian (Hemdi, 2010).
Menurut (Neherta, 2017) ada beberapa usaha yang bisa dilakukan
untuk mengurangi resiko tindakan kekerasan seksual pada anak:
a. Menutup dan mengunci kamar tidur dan kamar mandi saat berada
didalam.
b. Mengajarkan untuk menolak pemberian dari orang lain tanpa seizin
orang tua.
c. Tidak sendirian dan selalu bersama-sama teman-teman.
d. Tidak berada pada tempat yang sepi terutama saat sendiri.
e. Mengajarkan kepada anak agar bertingkah laku baik dan santun
f. Menggunakan pakaian yang sopan dan rapi.
B. Sikap anak
Sikap merupakan sebuah respon seseorang sebagai umpan balik
terhadap suatu kondisi (positif /negatif) yang dituangkan dalam bentuk
emosional afektif, mimik, dan tindakan (S. Sari, 2018).
Menurut (KPAI, 2014) sikap yang harus diketahui oleh anak dalam
upaya pencegahan kekerasan sesukal adalah:
a. Berkata “ Tidak mau” dan lari apabila anak mendapatkan pelakuan dari
orang dewasa ataupun dari keluarga korban memaksa.
b. Berani teriak” Tolong” dan lari saat anak dalam kondisi bahaya.
c. Berani “Lapor” ketika anak mendapatkan tindakan kekerasan seksual
ataupun tindakan yang menurut anak menganggu kenyamanan pada
orang tua ataupun pihak berwajib.
Menurut (Hemdi, 2010) sikap dan tindakan yang dapat diajarkan
pada anak-anak :
a. Anak harus melawan dan lari jika ada orang yang memaksa untuk
melakukan tindakan yang tidak boleh dilakukan padanya.
b. Menjauh dan cari pertolongan jika ada orang yang muncurigakan
mengikuti ditempat yang sepi.
c. Jika ada yang mendekati atau mendesak ditempat yang sepi maka anak
harus teriak “Tolong” dan lari.
d. Jika ada orang yang meringkus maka anak bisa memukul bagian
matanya, lehernya, ataupun tendang kemaluannya.
e. Jika ada orang yang memeluk dengan paksa maka gigit sekeras
mungkin.
Gambar 2 Sikap terhadap pelaku kekerasan seksual
Sumber : Preventing Child Abuse (UNICEF, 2014)
Lampiran 9 Permainan Monobani
Lampiran 10 Master Tabel
MASTER TABEL
PENGARUH PERMAIANAN MONOBANI (MONOPOLI ANAK BERANI) TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP ANAK LAKI-LAKI TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL DI SD 43 KECAMATAN KURANJI
PENGETAHUAN SEBELUM PENGETAHUAN SESUDAH SIKAP SEBELUM SIKAP SESUDAH
UMUR
NO INISIAL Kelas
(Tahun) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TOTAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TOTAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TOTAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 TOTAL
1 RH 4 9 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 4 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 8 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 3 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 7
2 MR 4 10 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 5 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 7 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 4 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 7
3 RI 4 9 0 1 1 1 0 0 0 0 1 0 4 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 8 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 4 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9
4 GP 4 10 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 4 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 8 0 1 1 1 0 0 1 0 0 0 4 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 9
5 DP 3 9 0 0 0 0 0 1 1 1 0 1 4 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 7 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 5 1 0 1 1 0 1 0 0 1 1 6
6 DA 3 9 1 1 1 0 0 1 0 1 0 0 5 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 8 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 4 1 1 0 1 1 1 0 1 1 1 8
7 AD 3 9 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 4 1 1 0 1 1 0 0 1 1 0 6 0 0 1 0 1 0 0 1 0 1 4 1 0 1 0 1 1 1 1 0 0 6
8 RA 3 9 0 1 0 1 1 1 0 0 1 1 6 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9 1 0 0 1 0 1 0 1 1 1 6 0 1 1 0 1 1 1 1 1 1 8
9 WA 4 10 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 7 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 8 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 6 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 8
10 MA 3 9 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 4 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 9
11 HL 3 9 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 5 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9
12 HR 3 9 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 4 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 8 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 4 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1 8
13 MF 3 9 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 6 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 9 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 5 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 7
14 JD 3 9 1 0 1 1 0 0 0 1 1 0 5 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 9 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 3 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 8
15 AY 4 10 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 8 1 1 0 1 1 0 0 1 0 1 6 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 9
16 DN 3 9 1 1 0 1 0 0 0 1 1 0 5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 9 0 0 0 0 1 0 0 1 1 0 3 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10
17 AF 3 9 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 0 0 1 1 1 0 0 1 0 0 4 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 8
18 AZ 3 9 1 0 1 1 0 0 1 1 1 0 6 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 7 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 5 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 7
19 IL 3 9 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 7 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 8 0 1 0 1 1 0 1 0 1 1 6 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9
20 FR 4 10 1 1 1 0 1 1 1 0 1 1 8 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 7 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 8
21 MC 4 9 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0 5 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9
22 MI 4 9 1 1 1 1 0 1 0 0 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 1 0 1 1 0 1 0 7 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 9
23 YF 4 10 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10
24 MZ 4 10 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 6 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10
JUMLAH 17 15 17 18 6 8 11 16 19 9 23 23 19 22 16 12 23 23 24 21 12 11 8 15 12 11 12 9 10 10 20 20 13 22 20 23 22 19 21 18
Keterangan Tabel Pengetahuan dan Sikap Negatif : Benar = 0
Positif : Benar = 1 Salah = 1
Salah = 0
Lampiran 12 Hasil Uji Statistik
Statistics
kelas umur PTotpre PTotPost STotPre STotPost
N Valid 24 24 24 24 24 24
Missing 0 0 0 0 0 0
Mean 3.46 9.29 5.67 8.58 4.83 8.25
Median 3.00 9.00 6.00 8.50 5.00 8.00
Std. Deviation .509 .464 1.274 1.176 1.204 1.152
Variance .259 .216 1.623 1.384 1.449 1.326
Minimum 3 9 4 6 3 6
Maximum 4 10 8 10 7 10
Sum 83 223 136 206 116 198
Kelas
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 3 13 54.2 54.2 54.2
4 11 45.8 45.8 100.0
Total 24 100.0 100.0
Umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 9 17 70.8 70.8 70.8
10 7 29.2 29.2 100.0
Total 24 100.0 100.0
PTotpre
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 4 6 25.0 25.0 25.0
5 5 20.8 20.8 45.8
6 5 20.8 20.8 66.7
7 7 29.2 29.2 95.8
8 1 4.2 4.2 100.0
Total 24 100.0 100.0
PTotPost
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 6 1 4.2 4.2 4.2
7 3 12.5 12.5 16.7
8 8 33.3 33.3 50.0
9 5 20.8 20.8 70.8
10 7 29.2 29.2 100.0
Total 24 100.0 100.0
STotPre
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 3 3 12.5 12.5 12.5
4 8 33.3 33.3 45.8
5 5 20.8 20.8 66.7
6 6 25.0 25.0 91.7
7 2 8.3 8.3 100.0
Total 24 100.0 100.0
STotPost
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 6 2 8.3 8.3 8.3
7 4 16.7 16.7 25.0
8 7 29.2 29.2 54.2
9 8 33.3 33.3 87.5
10 3 12.5 12.5 100.0
Total 24 100.0 100.0
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
PTotpre 24 100.0% 0 .0% 24 100.0%
PTotPost 24 100.0% 0 .0% 24 100.0%
STotPre 24 100.0% 0 .0% 24 100.0%
STotPost 24 100.0% 0 .0% 24 100.0%
Descriptives
Statistic Std. Error
PTotpre Mean 5.67 .260
95% Confidence Interval for Lower Bound 5.13
Mean
Upper Bound 6.20
5% Trimmed Mean 5.64
Median 6.00
Variance 1.623
Std. Deviation 1.274
Minimum 4
Maximum 8
Range 4
Interquartile Range 3
Skewness .005 .472
Kurtosis -1.311 .918
PTotPost Mean 8.58 .240
95% Confidence Interval for Lower Bound 8.09
Mean Upper Bound 9.08
5% Trimmed Mean 8.64
Median 8.50
Variance 1.384
Std. Deviation 1.176
Minimum 6
Maximum 10
Range 4
Interquartile Range 2
Skewness -.305 .472
Kurtosis -.704 .918
STotPre Mean 4.83 .246
95% Confidence Interval for Lower Bound 4.32
Mean Upper Bound 5.34
5% Trimmed Mean 4.81
Median 5.00
Variance 1.449
Std. Deviation 1.204
Minimum 3
Maximum 7
Range 4
Interquartile Range 2
Skewness .184 .472
Kurtosis -.936 .918
STotPost Mean 8.25 .235
95% Confidence Interval for Lower Bound 7.76
Mean Upper Bound 8.74
5% Trimmed Mean 8.28
Median 8.00
Variance 1.326
Std. Deviation 1.152
Minimum 6
Maximum 10
Range 4
Interquartile Range 2
Skewness -.349 .472
Kurtosis -.490 .918
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
PTotpre .186 24 .032 .883 24 .010
PTotPost .190 24 .025 .890 24 .013
STotPre .214 24 .006 .911 24 .037
STotPost .201 24 .013 .916 24 .048
a. Lilliefors Significance Correction
Pengetahuan Pretest
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Kurang 11 45.8 45.8 45.8
Cukup 12 50.0 50.0 95.8
Baik 1 4.2 4.2 100.0
Total 24 100.0 100.0
Pengetahuan posttest
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Cukup 4 16.7 16.7 16.7
Baik 20 83.3 83.3 100.0
Total 24 100.0 100.0
Sikap Pretest
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Negatif 11 45.8 45.8 45.8
Positif 13 54.2 54.2 100.0
Total 24 100.0 100.0
Sikap Post test
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Negatif 6 25.0 25.0 25.0
Positif 18 75.0 75.0 100.0
Total 24 100.0 100.0
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
PTotpre 24 5.67 1.274 4 8
PTotPost 24 8.58 1.176 6 10
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
PTotPost - PTotpre Negative Ranks 0a .00 .00
Positive Ranks 24b 12.50 300.00
Ties 0c
Total 24
a. PTotPost < PTotpre
b. PTotPost > PTotpre
c. PTotPost = PTotpre
Test Statisticsb
PTotPost -
PTotpre
Z -4.328a
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Based on negative ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test
Descriptive Statistics
N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
STotPre 24 4.83 1.204 3 7
STotPost 24 8.25 1.152 6 10
Ranks
N Mean Rank Sum of Ranks
STotPost - STotPre Negative Ranks 0a .00 .00
Positive Ranks 24b 12.50 300.00
Ties 0c
Total 24
a. STotPost < STotPre
b. STotPost > STotPre
c. STotPost = STotPre
Test Statisticsb
STotPost -
STotPre
Z -4.315a
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
a. Based on negative ranks.
b. Wilcoxon Signed Ranks Test
Lampiran 13 Curiculum Vitae
Curiculum Vitae
A. Biodata Pribadi
Nama : Muhammad Roni
Tempat/Tanggal Lahir : Tumijaya/04 Maret 1997
Agama : Islam
Daerah Asal : Sukajadi Rt.003 Rw.001 Desa Tumi Jaya
Kecamatan Jayapura Kabupaten OKU
Timur
Pekerjaan : Mahasiswa
Nama Ayah : Ashari
Nama Ibu : Sri Rahayu
Email : ronimuhammad999@gmail.com
B. Riwayat Pendidikan
1. SD Negeri 04 Jayapura : 2003-2009
2. SMP Negeri 1 Jayapura : 2009-2012
3. SMA Negeri 3 Martapura : 2012-2015
4. Poltekkes Kemenkes Palembang : 2015-2018
5. Fakultas Keperawatan UNAND : 2018-sekarang
Lampiran 14 Dokumentasi