BAB II
PEMBAHASAN
A. Tasybih Dhimni
1. Contoh-contoh
a. Abu Tamam berkata :
َف الَّسْيُل َح ْر ٌب ِلْلَم َك اِن الَع اِلي#ال ُتنكري َع َط َل الَك ِر يِم ِمَن الِغ َن ى
Jangan kau ingkari bila orang yang dermawan tiada memiliki kekayaan, sebab banjir itu adalah musuh bagi
tempat yang tinggi.
b. Ibnu Rumi berkata :
َأْن ُيَر ى الَّنْو ُر ِفي اْلَقِض ْيِب الَّر ِط ْيِب#َقْد َيِش يُب اْلَفَتى َو َلْيَس َع ِج ْيبًا
Kadang-kadang seorang pemuda beruban, dan hal ini tidaklah menghe. rankan. Bunga (pun) dapat keluar
pada dahan yang muda dan lembut
c. Abu Thayyib berkata :
َم ْن َيُهْن َيْسُهل اْلَهَو اُن َع َلْيِه َم ا ِلُجْر ِح ِبَم ِّيِت إيالم
orang hina senang saja menerima kehinaan, karena luka pun tidak ada menyakitkan orang mati
B. Pembahasan
Pada syair ini, tidak ada kata-kata yang secara langsung mengandung bentuk perumpamaan (tasybih).
Namun, kita dapat memahami bahwa terdapat konsep perumpamaan yang tersirat di dalamnya. Syair ini
menyerupakan orang yang mulia dengan tempat yang tinggi dan menyerupakan kekayaan dengan banjir yang
membawa segala jenis kotoran. Di sisi lain, banjir tidak mau naik ke tempat yang tinggi, begitu juga
kekayaan tidak mau bersama orang-orang mulia, seperti yang dijelaskan dalam syair tersebut.
Dalam kalimat tersebut, terdapat sebuah tasybih yang tersirat. Penyair, Abu Tammam, secara implisit
menyamakan seorang dermawan yang tidak memiliki kekayaan dengan puncak gunung yang tidak pernah
tergenangi air banjir. Meskipun penyair tidak menyatakan ini secara langsung, makna tersebut tersirat dalam
kalimatnya dan dapat diidentifikasi sebagai perumpamaan implisit yang menggambarkan sifat dermawan
yang tidak kaya seperti puncak gunung yang tidak pernah terendam banjir.
Ibnur-Rumi menyatakan bahwa terkadang, seorang pemuda bisa memiliki rambut beruban sebelum
usianya. Ini bukanlah sesuatu yang luar biasa, karena kadang-kadang cabang yang masih muda dan lembut
dapat menghasilkan bunga. Dalam kalimat ini, Ibnur-Rumi tidak secara eksplisit menyamakan seorang
pemuda yang beruban dengan dahan muda yang berbunga, tetapi ia menyiratkan hubungan tersebut secara
tak langsung.
Abuth-Thayyib menyatakan bahwa seseorang yang terbiasa merendahkan diri akan lebih mampu
menerima perlakuan yang merendahkan dan tidak akan terlalu terpukul olehnya. Pendapat ini, meskipun
tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang tidak berdasar, karena ketika tubuh yang sudah mati terluka, tidak
akan merasa sakit. Kalimat ini mengandung unsur tasybih, meskipun tidak diungkapkan dengan jelas.
Dengan demikian, ketiga kutipan di atas mencakup elemen-elemen perbandingan, tetapi tidak diuraikan
dalam bentuk taysbih yang eksplisit. Jenis tasybih ini dikenal sebagai tasybih dhimni.
C. Kaidah-kaidah
menurut sayyid Ahmad Al-Hasyimi tasybih dimni ialah:
بل يلحمان في التركيب,تشبيه ال يوضع فيه المشّبه والمشّبه به به في صورة من صورة التشبيه المعروفة
Tasybih yang tidak ada pemisahan antara musyabbah dan musyabbah bihnya dalam bentuk tasybih
yang dikenal, tetapi keduanya digabungkan dalam struktur kalimat.
menurut ali al-jarim musthafa amin adalah:
َو َه َذ ا النوع ُي ؤتى. تشبية ال ُيْو َض ُع ِفيِه الُم شَّبُه َو الُم شَّبُه ِبِه في صورة من صور التنبيه الَم ْعُروَفة َبْل ُيْلَم َح ان في التركيب:التشبيه الضمني
.به اليفيدان الحكم الذي أسند إلى المشبه ممكن
Tasybih dhimni adalah tasybih yang kedua tharaf-nya tidak dirangkai dalam bentuk tasybih yang telah
kita kenal, melainkan keduanya hanya berdampingan dalam susunan kalimat. Tasybih jenis ini didatangkan
untuk menunjukkan bahwa hukum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adanya.
jadi, Tasybih Dhimniy, adalah tasybih yang kedua tharafnya (musyabbah dan musyabbah bihnya) tidak
dirangkai dalam bentuk tasybih seperti yang sudah sebelumnya dijelaskan, dan bahwa susunan kalimatnya
tidak disertakan „adat al-tasybih, hanya saja keduanya berdampingan dalam susunan kalimat.
D. Bentuk Musyabbah dan Musyabbah Bih Tasybih Dhimni
Tasybih ini merupakan tasybih dengan cara yang berbeda dari aslinya.
Contoh:
َفِإَّن اْلِم ْس َك َبْعُض َد ِم اْلَغَزاِل# َفِإْن َتُفِق اَأْلَناُم َو َأْنَت ِم ْنُهْم
Artinya: "Jika engkau berhasil mengungguli manusia lain dan engkau adalah bagian dari mereka.
Sesungguhnya minyak misk (minyak kasturi) dibuat dari campuran darah kijang."
A) Musyabbah dalam tasybih dhimni biasanya merupakan kalimat pertama yang merupakan suatu peristiwa
nyata yang hendak diserupakan. Contoh dari teks diatas:
َفِإْن َتُفِق اَأْلَناُم َو َأْنَت ِم ْنُهْم
"Jika engkau berhasil mengungguli manusia lain dan engkau adalah bagian dari mereka."
Tasybih ini menyampaikan pesan tentang pentingnya tidak menganggap diri lebih baik daripada orang lain,
bahkan jika seseorang berhasil mencapai prestasi yang tinggi atau berada dalam kelompok yang dianggap
istimewa.
B) Musyabbah bih dalam tasybih dhimni biasanya merupakan kalimat kedua yang menganalogikan keadaan
uatu hal. Kalimatnya biasanya tidak berhubungan dengan kalimat pertama. Namun, inilah yang menjadi
keindahan dari jenis Tasybih ini
َفِإَّن اْلِم ْس َك َبْعُض َد ِم اْلَغَزاِل
"Sesungguhnya minyak misk (minyak kasturi) dibuat dari campuran darah kijang."
Perumpamaan yang digunakan adalah minyak misk (minyak kasturi) yang dihasilkan dari campuran darah
kijang. Ini mengilustrasikan bahwa bahkan bahan yang berharga dan harum seperti minyak misk berasal dari
asal-usul yang sama dengan bahan lainnya, yaitu darah kijang. Pesan tasybih ini mengajarkan kita untuk
tetap rendah hati dan menghormati orang lain, tanpa merasa lebih tinggi atau istimewa hanya karena berhasil
dalam suatu hal
E. Amal Tasybih Dhimni
Amal Tasybih Dhimni adalah menyampaikan makna kalimat melalui perbandingan yang tidak diungkapkan
dengan jelas antara musyabbah dan musyabbah bih-nya, sehingga meningkatkan daya tariknya. Biasanya
menggunakan gambar lebih kompleks dalam menjelaskan penggambaran suatu konsep atau objek.
Contoh:
َو اْلَم ْنَهُل اْلَع ْذ ُب َك ِثيُر الِّز َح اُم# َتْز َد ِح ُم اْلُقَّصاُد ِفي َباِبِه
"Orang-orang yang ingin bertemu dengannya berdesak-desakan di depan pintunya, sumber air minum yang
tawar itu selalu dipadati oleh orang-orang."
Tasybih ini menggambarkan situasi di mana banyak orang ingin bertemu dengan seseorang yang sangat
dihormati atau dianggap penting. Perumpamaan yang digunakan adalah pintu yang ramai oleh tumpukan
orang dan sumber air yang selalu dipadati oleh banyak orang yang haus.
Ini menggambarkan bahwa ketika seseorang memiliki status atau kedudukan yang tinggi, orang-orang akan
berdesak-desakan untuk mendapatkan kesempatan bertemu atau berinteraksi dengannya. Pesan tasybih ini
mencerminkan betapa pentingnya atau dihargainya seseorang dalam masyarakat, dan bagaimana popularitas
atau status seseorang dapat menciptakan situasi di mana banyak orang ingin mendekatinya.
F. Potongan Tasybih Dhimni dalam Ayat, Hadits dan Kalam Arabi
Al-Mutanabbi berkata:
َأْس َر ُع الُّسْح ِب ِفي اْلَم ِس يِر اْلَجَهاُم#َوِم َن اْلَخ ْيِر َبُطُء َس ْيِبَك َع ِّني
"Ada baiknya engkau melambatkan pemberian kepadaku. Awan yang paling cepat berjalannya adalah awan
yang tidak mengandung air."
Pesan tasybih ini mengajarkan pentingnya kebijaksanaan dalam memberikan atau memberikan sesuatu
kepada orang lain. Daripada terburu-buru atau terlalu cepat bertindak, lebih baik memastikan bahwa tindakan
atau pemberian tersebut benar-benar bermanfaat dan layak. Ini adalah pesan tentang berhati-hati dalam
tindakan dan pemikiran yang melibatkan pertimbangan yang matang sebelum bertindak.
Abu Firas berkata:
َسَيْذ ُك ُر ِني َقْو ِم ي ِإَذ ا َج َّد ِج ُّد ُهْم * َوِفي الَّلْيَلِة الَّظْلَم اِء ُيْفَتَقُد اْلَبْد ُر
"Kaumku akan teringat kepadaku apabila mereka mengalami kesulitan dan kesusahan, pada malam yang
gelap bulan purnama baru dirindukan."
Pesan tasybih ini mengajarkan pentingnya saling mendukung dan mengingat orang-orang yang telah
berkontribusi dalam situasi-situasi sulit kita. Ini juga mengingatkan kita bahwa tindakan baik terhadap orang
lain seringkali membuat kita diingat dan dihargai ketika orang-orang membutuhkan bantuan atau dukungan.
َم ْن َيْز َر ْع الَّش ْو َك اَل َيْح ُص ْد ِبِه ِع َنًبا# ِإَذ ا َو َتْر َت اْمَر ًأ َفاْح َذ ْر َعَداَو َته
Artinya: "Jika engkau salah memperlakukan seseorang, hati-hati terhadap permusuhannya, Barangsiapa yang
menanam duri niscaya dia tidak mungkin akan memanen anggur."
Intinya adalah bahwa jika kita berperilaku buruk terhadap seseorang, kita dapat menghadapi konsekuensi
yang buruk seperti menanam duri yang tidak akan memberikan hasil yang baik.
ُطِوَيْت َأَتاَح َلَها ِلَساَن َح ُسْو ٍد# َوِإَذ ا َأَراَد ُهللا َنْش َر َفِض ْيَلٍة
َم ا َك اَن ُيْع َر ُف ِط ْيُب َع ْر ِف الُعْو ِد# َلْو اَل اْش ِتَع اُل الَّناِر ِفْيَم ا َج اَو َر ْت
Artinya: "Jika Allah hendak menebarkan anugrah-Nya, Dia biarkan lidah orang-orang yang dengki untuk
berkata-kata. Jika api itu tidak membakar yang di dekatnya, niscaya tidak akan dikenal harumnya kasturi."
Pesan tasybih ini adalah bahwa ketika seseorang memiliki kebaikan atau keutamaan, meskipun ada orang
yang iri hati atau tidak menyukainya, kebaikan tersebut akan tetap terlihat dan dikenal oleh orang lain,
sebagaimana wangi kayu gaharu yang muncul ketika dibakar, bahkan jika sebelumnya tidak tercium.
Contoh dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ِاَّن اَّلِذ ْيَن َك َّذ ُبْو ا ِبٰا ٰي ِتَنا َو ا ْسَتْك َبُرْو ا َع ْنَها اَل ُتَفَّتُح َلُهْم َاْبَو ا ُب الَّس َم ٓاِء َو اَل َيْدُخ ُلْو َن اْلَج ـَّنَة َح ّٰت ى َيِلَج اْلَج َم ُل ِفْي َسِّم اْلِخ َيا ِط ۗ َو َك ٰذ ِلَك َنْج ِزى اْلُم ْج ِرِم ْيَن
"Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak
akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke
dalam lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 40)
Artinya, mereka tidak akan masuk surga dalam kondisi apa pun kecuali unta dapat masuk melalui lubang
jarum, yang merupakan gambaran kemustahilan.
E. Tamrinat
: قال أبو تمام
د فإن صبرك قائلة اْص ِبْر َع َلى َم َض َض الَح سو
ِإن َلم َتِج ْد ما تأكله الَّناُر َتأُك ُل َبْع َضَها
1. Bersabarlah terhadap ulah orang yang dengki, karena sesungguhnya kesabaranmu itulah yang
memadamkannya. Api itu akan memakan dirinya sendiri bila tidak ada yang dilahapnya.
Ungkapan ini menyiratkan pesan tentang pentingnya bersabar dalam menghadapi orang yang iri atau
dengki terhadap kita. Dengan bersikap sabar, kita tidak memberikan reaksi negatif kepada orang
yang dengki, dan ini akan membuat perasaan dengki tersebut meredup. Ungkapan ini menggunakan
gambaran api yang akan padam jika tidak ada bahan bakar untuk dilahapnya sebagai analogi. Dalam
konteks ini, dengki dianggap sebagai "api" yang akan padam jika tidak ada reaksi negatif atau
provokasi dari pihak yang disasak. Dengan bersikap sabar, kita memadamkan perasaan dengki
tersebut dan menjaga kedamaian.
bila kita perhatikan dalam bait diatas seperti tidak ada tasybih karena tidak diungkapkan secara
langsung bahwa dengki itu bagaikan api namun dalam konteks tersebut mengandung tasybih secara
implisit.
referensi
Al-Jarim, A. (2023). Balaghah Wadhihah. Bandung: Penerbit Sinar Baru Algensindo Bandung.
Iin Suryaningsih , Hendrawanto,Ilmu Balaghah: Tasybih dalam Manuskrip “Syarh Fī Bayān al-
Majāz wa al-Tasybīh wa al-Kināyah, Jurnal AL-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA, Vol.
4, No. 1, 2017 hal. 5
al-hasyim, A. jauharul balaghah. maktabah `ashriyah. hal 240