Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK

KONSEP DASAR ANALISIS KUALITATIF

NAMA

: ADRIANI RIFAATUL MAHMUDAH M.

NIM

: H 311 08 267 H 311 08 272

KELOMPOK

: III (TIGA)

HARI/TGL PERC. : RABU/16 MARET 2011

LABORATORIUM KIMIA ANALITIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan berdasarkan sifat-sifat kation itu terhadap beberapa reagensia. Dengan memakai apa yang disebut reagensia golongan secara sitematik, dapat kita tetapkan ada tidaknya golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golongan ini untuk pemeriksaan lebih lanjut. Selain merupakan cara yang tradisional untuk menyajikan bahan, urutan-urutan ini juga memudahkan dalam mempelajari reaksi-reaksi, karena ion-ion dengan sifat yang analog, dibahas bersama sama dalam satu golongan. Terdapat sejumlah bagan bersistem untuk menentukan kation dan anion apa yang terdapat dalam contoh. Kebanyakan melibatkan pemisahan kedalam beberapa grup sebelum mengidentifikasikan satu-satu. Beberapa bagan

memisahkan anion kedalam grup-grup tetapi mayoritas menggunakan uji individu untuk sejumlah terbatas ion. Dalam analisa kualitatif dikenal suatu cara untuk menentukan ion (kation/anion) tertentu dengan menggunakan pereaksi selektif dan spesifik. Pereaksi selektif adalah pereaksi yang memberikan reaksi tertentu untuk beberapa jenis kation/anion, sedangkan pereaksi spesifik adalah pereaksi yang memberikan reaksi tertentu untuk satu jenis kation/anion. Untuk lebih jelasnya, dalam percobaan ini akan dilakukan percobaan tentang analisis kualitatif dengan menguji pereaksi spesifik terhadap kation dan mengamati perubahan khas yang terjadi.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.2.1 Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan mempelajari pemisahan dan identifikasi kation dengan metode analisis kimia. 1.2.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah: 1. Untuk memisahkan dan mengidentifikasi kation dalam suatu sampel dengan menggunakan pereaksi yang spesifik. 2. Untuk mengidentifikasi kation-kation dengan mengamati perubahan yang terjadi saat penambahan pereaksi spesifik. 1.3 Prinsip Percobaan Memisahkan dan mengidentifikasi kation dengan mereaksikannya menggunakan berbagai pereaksi spesifik, kemudian mengamati perubahan yang terjadi seperti timbulnya perubahan warna, terbentuknya endapan, ataupun timbulnya gas serta bau. 1.4 Manfaat Percobaan Dari percobaan ini kita dapat mengetahui cara mengidentifikasi kation dengan menggunakan pereaksi spesifiknya masing-masing serta kita dapat mengetahui cara pemisahan kation berdasarkan golongannya dan mengetahui pereaksi spesifik yang digunakan untuk mengidentifikasi kation tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kimia analitik bisa dibagi menjadi bidang-bidang yang disebut analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif berkaitan dengan identifikasi zat-zat kimia, mengenali unsur atau senyawa apa yang ada dalam suatu sampel. Umumnya dalam kuliah kimia, para mahasiswa pertama kali dihadapkan dengan analisa kualitatif ketika sejumlah unsur dipisahkan dan diidentifikasi melalui pengendapan dengan hidrogen sulfida. Produk-produk organik yang disintesis dalam laboratorium bisa diidentifikasi dengan menggunakan teknik-teknik instrument seperti spektroskopi inframerah dan resonansi magnetik nuklir (Harjadi, 1990). Dalam beberapa hal kedua cabang analisa kimia mempunyai persamaan tetapi dipihak lain juga terdapat perbedaan. Persamaannya yakni tahap-tahap analisanya sama, hanya berbeda dalam tahap pengukuran yang dalam analisa kualitatif menjadi tahap identifiasi, kedua-duanya memiliki sifat tertentu dan harus memiliki ketelitian kerja, kemurnian bahan dan kebersihan alat (Bassett, dkk., 1994). Cara lain untuk analisa campuran ialah dengan mempergunakan reaksireaksi selektif. Pada pokoknya tujuannya ialah memisahkan segolongan (sekelompok) kation dari yang lain. Misalnya bila suatu pereaksi menyebabkan sebagian kation mengendap dan sisanya tetap larut, maka setelah endapan disaring, terdapatlah dua kelompok campuran, yang isinya masing-masing kurang dari campuran sebelumnya. Bila kemudian larutan maupun endapan ditambah

pereaksi selektif lain, sehingga sebagian dari larutan mengendap, sedang sebagian dari endapan semula larut kembali, maka terbentuk empat kelompok yang makin sedikit isinya masing-masing. Kalau perlu setiap kelompok dipisah-pisahkan lagi menjadi kelompok yang makin kecil, setiap kali menggunakan reaksi selektif baru. Dengan jalan itu akhirnya setiap kation dapat terpisah satu sama lain. Tidak perlu pemisahan dilanjutkan sejauh itu, karena bila kelompoknya kecil, maka sering dapat dicari reaksi yang dapat membedakan anggota-anggota kelompok itu (Harjadi, 1990). Bagan terpopuler untuk analisis campuran kation menggunakan ion sulfide untuk mengendapkan dua grup ion. Konsep yang hakiki dari salah satu ikhtisar sulfide bersistem ini dapat dilukiskan dengan memerikan strategi pemisahan grupgrup ion secara bertahap. Metode ini diterapkan kepada suatu campuran dari sekurangnya 25 kation yang berlainan.: Ag+, Al3+, As3+, Ba2+, Bi3+, Ca2+, Cd2+, Co2+, Cr3+, Cu2+, Fe2+, Hg+, Hg2+, K+, Mg2+, Mn2+, Na+, Ni2+, NH42+, Pb2+, Sn2+, Sb3+, Sr3+. Suatu campuran yang mengandung semua ion ini dapat dengan mudah dipisahkan menjadi 5 grup. (Keenan, 1982). Identifikasi ion satu demi satu dalam masing-masing grup dilakukan dengan memisahkan tiap ion dari anggota-anggota lain dari grupnya dan membuat tiap ion itu membentuk suatu senyawaan khas yang mempunyai ciri-ciri yang unik. (Keenan, 1982) Menurut Svehla (1990), dengan memakai apa yang disebut reagensia golongan secara sistematik, dapat kita tetapkan ada tidaknya golongan-golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golongan ini untuk pemeriksaan lebih lanjut. Kelima golongan kation ini antara lain:

a.

Golongan I, terdiri dari timbel, merkurium(I), dan perak. Golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer.

b.

Golongan II, terdiri dari merkurium(II), tembaga, bismuth, cadmium, arsenic(III), arsenic(V), stibium(III), stibium(V), timah(II), timah(IV). Golongan ini membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer.

c.

Golongan

III,

terdiri

dari

kobalt(II),

nikel(II),

besi(II),

besi(III),

kromium(III), aluminium, zink, mangan(II). Golongan ini membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam suasana netral atau amoniakal. d. Golongan IV, terdiri dari kalsium, stronsium, dan barium. Golongan ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. e. Golongan V, terdiri dari magnesium, natrium, kalium, amonium, litium, hidrogen. Golongan ini tidak bereaksi dengan reagensia-reagensia golongan sebelumnya. Menurut Harjadi (1990), apabila diadakan pemisahan-pemisahan menjadi kelompok-kelompok yang cukup kecil, lalu dilakukan pembuktian mengenai ada atau tidaknya kation-kation dalam setiap kelompok. Dengan jalan ini, kita melakukan analisa secara sistematis. Reaksi-reaksi di sini menyebabkan terjadinya zat-zat baru yang berbeda dari zat semula dan dikenali dari perbedaan sifat fisiknya, antara lain: a. b. c. Membentuk endapan dari suatu larutan. Melarutkan zat yang berbentuk padat/endapan. Zat yang berwarna lain.

d. e.

Pembentukan gas. Bentuk kristal yang khas. Sedangkan untuk analisa kuantitatif, para mahasiswa hanya berurusan

dengan penyusun (konstituen) utama suatu sampel makro. Mereka jarang melakukan analisis kuantitatif yang lengkap terhadap suatu sampel. Suatu analisis yang lengkap sebenarnya terdiri dari lima tahap utama yakni pencuplikan sampel, yaitu pemilihan suatu sampel yang representatif dari material yang dianalisis, kedua yakni pelarutan sampel, ketiga yaitu konversi analit menjadi suatu bentuk yang cocok untuk diukur, keempat yakni pengukuran dan kelima yaitu perhitungan dan penafsiran dari hasil pengukuran tersebut (Day dan Underwood, 2001).

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan Bahan yang digunakan adalah larutan sampel kation golongan I, larutan NH4OH 6 M, larutan HNO3 6 M, larutan HCl 6 M, larutan NaBz 0,5 M, larutan NH4Bz 0,5 M, larutan NH4NO3 1 M, larutan NaOH 6 M, larutan H2O2, larutan kawat Fe, larutan HgCl2 0,1 M, larutan H2C2O4 jenuh, larutan Na2S, larutan SnCl2 0,1 M, larutan K4Fe(CN)6, larutan alizarin, larutan etil asetat 1 M, larutan HCl : H2O2 50:50, larutan KOH, larutan K2CO3, larutan CH3COOH 6 M, larutan KI 0,1 M, larutan H3BO3 jenuh, larutan (NH4)2CO3, larutan CH3COONH4 3 M, larutan K2CrO4 1 M, larutan (NH4)2SO4 0,1 M, larutan ClCH2COOH 4 M, larutan (NH4)2C2O4 0,2 M, larutan NH4OH 15 M, larutan NH4OH 3 M, padatan NaBiO3, Na2SO3, NH4NCS, aseton, KCl jenuh, KNO2 6 M, larutan Na2S 0,1 M, akuades, serbuk NH4Cl, dan kertas lakmus. 3.2 Alat Percobaan Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah gegep, tabung reaksi, rak tabung, pipet tetes, gelas kimia 600 mL, pipet ukur 1 mL, pipet ukur 2 mL, gelas kimia 400 mL, neraca ohauss, sendok tanduk, kaca arloji, sentrifugasi, elektro mantel, gelas ukur 25 mL, labu semprot, kuvet, dan batang pengaduk. 3.3 Prosedur Percobaan A. Analisa Golongan Klorida Sebanyak 2 mL larutan sampel dimasukkan ke dalam tabung reaksi lalu dipanaskan sampai mendidih, kemudian ditambahkan dengan 3 tetes HCl 6 M

hingga tidak terdapat endapan setelah itu disentifuse selama 5 menit kemudian dipisahkan. Endapan Hg2Cl2 dan AgCl yang terbentuk ditambahkan 3 tetes NH4OH 6 M hingga terbentuk endapan hitan Hg, lalu disentrifuse dan buang endapannya, kemudian filtrat diasamkan dengan HNO3 hingga terbentuk endapan putih AgCl. B. Analisa Golongan Benzoat Filtrat yang terbentuk dipipet 2 mL, ditambahkan NH4OH 6 m sampai pH 3-4, lalu ditetesi dengan 2 tetes NH4Bz 0,5 M dan dipanaskan. Kemudian ditambahkan 5 tetes NaBz 0,5 M dan dididihkan. Setelah itu, disentrifuse dan dicuci dengan NH4NO3 1 M sampai bebas dari Cl. Endapan Fe(OH)Bz2, Al(OH)Bz2, Cr(OH)Bz2, H2SnO3, BiOCl, dan SbOCl ditambahkan 10 tetes HNO3 6 M, dipanaskan dan dicuci 2 kali dengan HNO3 6 M dan disentrifuse sementara larutan disimpan sebagai larutan I. Endapan H2SnO3 dan SbOCl yang terbentuk dilarutkan dalam HCl 6 M dan dibagi menjadi 2 bagian yaitu SnCl62- dan SbCl4-. Untuk larutan SnCl62ditambahkan kawat besi lalu dididihkan sampai volumenya sedikit setelah itu disentrifuse dan endapan dipisahkan. Kemudian filtrat ditetesi HgCl2 0,1 M sampai endapan berubah warna dari putih menjadi abu-abu yang menandakan ion Sn4+. Sementara untuk larutan SbCl4-, ditetesi 10 tetes H2C2O4 jenuh dan 1 tetes Na2S. Endapan orange adalah Sb2S2. Jika endapan hitam, sentrifuse larutan, cuci endapan 3 kali dengan NH4NO3 1 M, lalu pisahkan cucian dan endapan ditambahkan 6 tetes Na2S. Sentrifuse dan pisahkan endapan. Asamkan dengan HCl. Endapan orange adalah Sb2S3.

Sementara larutan Bi3+, Fe3+, Al3+, dan Cr3+ yang terbentuk dibuat basa dengan NaOH 6 M dan ditambahkan 4 tetes H2O2 dan dididihkan selama 1 menit. Kemudian disentrifuse. Endapan Bi(OH)3 dan Fe(OH)3 yang terbentuk dilarutkan dalam HNO3 6 M lalu dibagi menjadi 2 bagian, bagian (1) dibasakan dengan NaOH 6 M lalu ditambahkan 1 tetes SnCl2 0,1 M. Endapan hitam menandakan B3+. Bagian (2) ditambahkan 1 tetes K4Fe(CN)6 dan endapan biru menandakan Fe3+. Sementara larutan AlO2- dan CrO42- dibagi menjadi 2 bagian juga. Bagian (1) diasamkan dengan HCl 6 M, ditambahkan 1 tetes larutan alizarin dan dibasakan dengan NH4OH 6 M. Endapan merah adalah Al3+. Bagian (2) ditambahkan 1 M metil asetat dan diasamkan dengan campuran 50:50 HCl:H2O2. Biru asetat menandakan Cr3+. C. Analisa Golongan Flourida Filtrat yang terbentuk dari hasil sentrifuse pada analisa golongan benzoat (larutan I), ditambahkan 5 tetes NaF jenuh lalu dibiarkan 5 menit dan disentrifuse. Larutannya disimpan sebagai larutan II, endapan yang terbentuk yaitu PbF2, MgF2, BaF2, SrF2, CaF2 dicuci dengan KOH dan K2CO3 lalu disentrifuse. Sentrifuse diulangi, filtrat dicampurkan. Larutan PbO22- diasamkan dengan asam asetat dan ditambahkan 1 tetes KI 0,1 M, endapan orange menandakan Pb2+. Sementara untuk endapan MgF2, BaF2, SrF2 dan CaF2 dilarutkan dengan 3 tetes HCl pekat dan 10 tetes H3BO3 jenuh, lalu dijenuhkan dengan NH4Cl padat dan dibasakan dengan NH4OH pekat 1 tetes. Panaskan dan tambah 5 tetes (NH4)2CO3 dan biarkan selama 3 menit lalu sentrifuse. Larutan Mg3+ yang terbentuk ditambahkan 10 tetes NaOH 6 M, lalu dipindahkan dalan casserole dan dipanaskan hampir kering untuk melepaskan NH3. Tambahkan HCl 6 M sampai pH asam dan 1 mL air serta 2 tetes reagen S

dan O. Basakan dengan NaOH 6 M dan tambahkan 5 tetes lagi. Setelah itu sentrifuse. Endapan biru gelatin menandakan Mg2+. Sementara endapan BaCO3, SrCO3, dan CaCO3 yang terbentuk dilarutkan dengan asam asetat 6 M, lalu ditambahkan 2 tetes lagi serta 3 tetes CH3COONH4 3 M dan 2 tetes kalium kromat 1 M lalu disentrifuse. Endapan BaCrO4 yang terbentuk dilarutkan dengan HCl 6 M lalu 1 tetes (NH4)2SO4 0,1 M. Endapan putih menandakan BaSO4 dan jika dilarutkan dengan NaOH 6 M maka akan terbentuk ion Ba2+. Sementara itu, larutan Sr2+ dan Ca2+ yang terbentuk dibasakan dengan NH4OH 6 M lalu ditambahkan 1 tetes K2CrO4 1 M dan beberapa etanol 95 % lalu disentrifuse lagi. Endapan SrCrO4 yang terbentuk dilarutkan dalam HCl 6 M untuk menentukan ion Sr2+. Sementara larutan Ca2+ dievaporasi dengan 0,5 mL lalu diasamkan dengan ClCH2COOH 4 M 10 tetes dan dipanaskan serta ditambahkan 2 tetes (NH4)2C2O4 0,2 M. Kocok dan sentrifuse. Endapan putih menandakan CaC2O4. D. Analisa Golongan Hidroksida Larutan II dibasakan dengan NaOH 6 M dan dididihkan, ditambah 1 mL NaOH 6 M dan kocok. Sentrifuse lalu cuci dengan 1 mL air lalu sentrifuse lagi dan campur larutannya sebagai larutan III. Sementara itu endapan Co(OH)2, Cu(OH)2, Cd(OH)2, Ni(OH)2, Mn(OH)2, Fe(OH)2 dan HgO yang terbentuk dilarutkan dengan HCl 6 M dan ditambah NH4OH 15 M lalu dikocok dan sentrifuse. Cuci endapan dengan 10 tetes NH4OH 3 M lalu campurkan dan sentrifuse. Endapan Mn(OH)2, Fe(OH)2, dan HgNH2Cl dilarutkan dengan HNO3 6 M dan 5 tetes H2OH lalu dibagi menjadi 3 bagian. Bagian (1) dididihkan lalu

ditambahkan padatan NaBiO3 lalu dididihkan lagi dan disentrifuse. Larutan ungu menandakan ion MnO4-. Bagian (2) dididihkan dan ditambahkan 10 tetes H2O serta 5 tetes SnCl2 0,1 M endapan putih menjadi abu-abu menandakan ion Hg2+. Bagian (3) ditambahkan 1 tetes H2O2 3 % dan 1 tetes K4Fe(CN)6, endapan biru menandakan ion Fe2+. Sementara itu, larutan Cu(NH3)42+, Co(NH3)62+, Ni(NH3)62+, Cd(NH3)42+ di tambahkan HCl pekat sampai sangat asam lalu dididihkan dan ditambahkan padatan Na2SO3, didihkan. Ulangi penambahan sampai warna biru hilang lalu tambah 1 mL NH4NCS 1 mL dan sentrifuse. Endapan Cu2(NCS)2 dilarutkan dengan 9 tetes HCl pekat dengan 3 tetes HNO3 pekat. Lalu didihkan. Buat basa kuat dengan NH4OH pekat, Cu(NCS)42+ biru menandakan Cu2+. Sementara itu, endapan Co(NCS)64-, Ni(NCS)42-, Cd(NCS)42- ditambah 5 tetes aseton. Larutan biru, Co2+ lalu evaporasi sampai kering dan larutkan residu dengan 10 tetes KCl jenuh. Asamkan dengan asam asetat 6 M 2 tetes lalu 5 tetes KNO2 6 M. Biarkan 10 menit dan sentrifuse. Endapan K3Co(NO2)6 dilarutkan dengan HCl pekat dan ditambahkan 1 tetes NH4NCS 1 M dan 5 tetes aseton, larutan biru menandakan Co2+. Sementara itu, larutan Ni2+ dan Cd2+ dibasakan dengan NH4OH 6 M dan ditambahkan 1 mL DME lalu disentrifuse. Endapan Ni(C4H7O2N2)2 berwarna ros menandakan Ni2+ sedangkan larutan Cd2+ yang terbentuk ditambahkan 3 tetes Na2S 0,1 M dan endapan kuning CdS menandakan Cd2+. E. Analisa Golongan Amfoter Larutan III, diasamkan dengan HCl 12 M dan ditambahkan 1 mL NH4OH pekat lalu kocok dan sentrifuse. Cuci dengan 10 tetes NH4OH 3 M, campur

sentrifuse dan hasil cucian. Endapan Sn(OH)2 dilarutkan dengan HCl pekat lalu dididihkan dengan besi dan ditambahkan 10 tetes H2O dan ditambahkan 1 tetes HgCl2. Endapan putih menjadi hitam menandakan Sn2+. Sementara itu, larutan AsO2- dan Zn(NH3)42+ dibagi menjadi 2 bagian. Bagian (1) ditambahkan 10 tetes NaOH 6 M. Dan bagian (2) diasamkan dengan HCl 6 M, dibasakan dengan NH4OH 6 M, ditambahkan 2 tetes Na2S 0,1 M. Endapan putih menandakan Zn2+.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan 4.1.1 Golongan I (Klorida) Kation Hg22+ Ag+ Pereaksi Perubahan yang terjadi

4.1.2

Golongan II (Benzoat) Kation Sn4+ Sb3+ Bi3+ Fe3+ Al3+ Cr3+ Pereaksi Perubahan yang terjadi

4.1.3

Golongan III (Flourida) Kation Pb2+ Mg2+ Ba2+ Sr2+ Ca2+ Pereaksi Perubahan yang terjadi

4.1.4

Golongan IV (Hidroksida) Kation Mn2+ Hg2+ Fe2+ Cu2+ Ca2+ Ni2+ Cd2+ Pereaksi Perubahan yang terjadi

4.1.5

Golongan V (Amfoter) Kation Sn2+ As2+ Zn2+ Pereaksi Perubahan yang terjadi

4.2 Reaksi 4.2.1 Kation Golongan I (Klorida) Hg22+ + 2ClAg+ + 2ClHgCl2 AgCl2 Hg + Hg(NH2)Cl + NH4+ + Cl[Ag(NH3)2]+ + Cl-

HgCl2 + 2 NH3 AgCl2 + 2 NH3 [Ag(NH3)2]+ + HNO3

4.2.2

Kation Golongan II (Benzoat)

Sn4+ + 4 OHSn(OH)4 Bi3+ + NO3- + H2O Bi3+ + Cl- + H2O Sb3+ + OHSbO+ + Cl4.2.3

Sn(OH)4 H2SnO3 + H2O BiO(NO3) + 2H+ BiO.Cl + 2H+ SbO+ + H+ SbO.Cl

Kation Golongan III (Flourida) Pb2+ + NaF PbF2 + Na+

Mg2+ + NaF Ba2+ Sr2+ Ca2+ + NaF + NaF + NaF

MgF2 + Na+ BaF2 SrF2 CaF2 + Na+ + Na+ + Na+

Identifikasi PbF2 + 2 OHPb(OH)2 + 2 FPbI2 + 2 KOH Mg2+ + H2 Mg(OH)2 BaCO3 BaCrO4 SrCO3 SrCrO4 CaCO3

Pb(OH)2 + 2 KI Mg2+ + 2 H+ Mg2+ + 2 OHBa2+ Ba2+ Sr2+ Sr2+ Ca2+ 4.2.4 + CO32+ CrO42+ CO32+ CrO42+ CO32-

Kation Golongan IV (Hidroksida) Co2+ Cu2+ Cd2+ Ni2+ + 2 OH+ 2 OH+ 2 OH+ 2 OHCo(OH)2 Cu(OH)2 Cd(OH)2 Ni(OH)2 Mn(OH)2 Fe(OH)2 Hg(OH)2

Mn2+ + 2 OHFe2+ Hg2+ 4.2.5 + 2 OH+ 2 OH-

Kation Golongan V (Amfoter) Sn2+ + 4 OHZn2+ + 4 OHAs3+ + 4 OH[Sn(OH)4]2- + 2 HCl [Zn(OH)4]2- + 2 HCl [As(OH)4]- + HCl Sn(OH)2 + 2H2O + 2 ClZn(OH)2 + 2H2O + 2 ClAs(OH)3 + H2O + Cl-

4.3 Pembahasan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Bassett, J., Denny, R. C., Jeffrey, G. H., dan Mendham, J., 1994, Vogel Kimia Analitik Kuantitatif Anorganik, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta. Day, R. A. dan Underwood, A. L., 2001, Analisis Kimia Kuantitatif, Erlangga, Jakarta. Harjadi, W., 1990, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia, Jakarta. Keenan, J., Kleinfelter, D. C., dan Wood, H., 1989, Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta. Svehla, G., 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro, PT Kalman Media Pusaka, Jakarta.