Anda di halaman 1dari 19

PENENTUAN BERAT MOLEKUL BERDASARKAN PENGUKURAN MASSA JENIS GAS I.

Tujuan Percobaan Menentukan berat molekul senyawa volatil berdasarkan pengukuran massa jenis gas. II. Dasar Teori Sifat gas secara umum dapat dinyatakan dengan persamaan keadaan. Persamaan keadaan secara matematik menunjukkan hubungan antara tekanan, temperatur, volume dan jumlah mol. Persamaan keadaan untuk gas ideal bersama-sama dengan massa jenis gas dapat digunakan untuk menentukan berat molekul senyawa volatil. Persamaan gas ideal dapat disusun ulang untuk mengukur massa satu mol molekul gas dari hasil pengukuran massa jenis gas, dimana jumlah mol gas dapat dinyatakan dengan rumusnya yaitu: m . Sehingga penurunan BM

PV = nRT atau PV =
Persamaan di atas dapat diubah menjadi

m RT BM

P (BM) = (
Keterangan : P = Tekanan (atm) V = Volume (Liter) n = Jumlah mol

m RT ) atau P (BM) = ( R T) V

R = Tetapan gas (0,08206 Liter atm mol-1 K-1) T = Temperatur (K) = Kerapatan gas (gram/Liter) Dalam hal ini kerapatan gas berbanding lurus dengan berat molekul (BM). Berat molekul gas dapat dinyatakan dengan beberapa cara yaitu dengan cara Regrault, Victor Meyer dan cara Dumas. (Sukardjo; 25-28). Percobaan ini merupakan alternatif lain dari metode penentuan massa jenis gas dengan alat Victor Meyer. Bila suatu cairan volatil dengan titik didih lebih kecil dari 100oC ditempatkan dalam labu Erlenmeyer bertutup yang mempunyai lubang kecil pada bagian tutupnya, dan

kemudian labu Erlenmeyer tersebut dipanaskan sampai 100oC maka cairan tersebut akan menguap dan uap itu akan mendorong udara yang terdapat pada labu Erlenmeyer keluar melalui lubang kecil tersebut. Setelah semua udara keluar, pada akhirnya uap itu sendiri yang akan keluar sampai akhirnya uap ini berhenti keluar bila keadaan keseimbangan telah tercapai. Keadaan keseimbangan ini dicapai apabila tekanan uap cairan dalam labu Erlenmeyer sama dengan tekanan uap udara luar. Pada kondisi keseimbangan ini, labu Erlenmeyer hanya berisi uap cairan dengan tekanan sama dengan tekanan atmosfer, volume sama dengan volume labu Erlenmeyer, dan suhu sama dengan titik didih air dalam penangas air. Labu Erlenmeyer ini kemudian diambil dari penangas air, didinginkan, dan ditimbang sehingga massa gas yang terdapat di dalamnya dapat diketahui. Kemudian berat molekul senyawa tersebut dapat ditentukan. Faktor koreksi dipentingkan di dalam perhitungan sebab nilai BM hasil perhitungan akan mendekati nilai sebenarnya, tetapi sebenarnya mengandung kesalahan. Ketika labu Erlenmeyer kosong ditimbang labu ini penuh dengan udara. Setelah dilakukan pemanasan yang dilanjutkan dengan pendinginan dalam desikator, maka tidak semua uap cairan berada dalam bentuk cairannya, sehingga akan mengurangi jumlah udara yang masuk kembali ke dalam labu Erlenmeyer. Oleh karena itu, massa cairan X sebenarnya harus ditambahkan dengan massa udara yang tidak dapat masuk kembali ke dalam labu Erlenmeyer karena adanya uap cairan yang tidak mengembun. Massa udara di atas dapat dihitung dengan mengasumsikan bahwa tekanan parsial udara yang tidak dapat masuk tadi sama dengan tekanan uap cairan X pada suhu kamar. Nilai ini dapat diketahui dari tabel (misalnya yang terdapat dalam HandBook of Phisics and Chemistry). Massa udara tersebut di atas dapat dihitung dengan mengasumsikan bahwa tekanan parsial udara yang tidak dapat masuk tadi sama dengan tekanan uap cairan pada suhu kamar, dengan faktor koreksi :

log P = (6,90328-1163,03)/(227,4 + t)
dimana , P = Tekanan uap (mmHg) t = suhu kamar (0C) Jadi, dengan menggunakan rumus di atas, tekanan uap pada berbagai suhu dapat diketahui. Dengan menggunakan nilai tekanan uap pada suhu kamar, bersama-sama dengan data mengenai volume labu Erlenmeyer dan berat molekul udara (28,8 gram/mol), dapat dihitung faktor koreksi, maka dapat diperoleh nilai berat molekulnya yang lebih tepat. III. Alat dan Bahan

Alat : Nama alat Erlenmeyer Gelas piala Aluminium foil Karet gelang Jarum Neraca analitik Desikator Pemanas Gelas ukur Termometer Statif + Klem Barometer Pipet tetes Bahan : Nama Bahan Air CHCl3 Eter Etanol IV. Prosedur Kerja
1.

Jumlah 2 buah 1 buah 1 lembar 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah Jumlah 3 mL 3 mL 3 mL

Ukuran 100 mL 1000 mL

5 mL 100oC

Konsentrasi

Labu Erlenmeyer berleher kecil yang bersih dan kering diambil. Labu Erlenmeyer tersebut ditutup dengan menggunakan aluminium foil, kemudian tutup tadi dikencangkan dengan menggunakan karet gelang, seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini: Lubang Kecil Karet Gelang Aluminium Foil Labu Erlenmeyer

2.

Labu Erlenmeyer, aluminium foil, dan karet gelang ditimbang dengan menggunakan neraca analitik. Kurang lebih 5 mL zat cair yang volatil yaitu CHCl3 dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer kemudian ditutup kembali dengan menggunakan aluminium foil dan dikencangkan kembali dengan karet gelang erat-erat sehingga tutup ini bersifat

3.

kedap gas. Lalu dibuat sebuah lubang kecil pada aluminium foil dengan menggunakan sebuah jarum, agar uap dapat keluar.
4.

Labu Erlenmeyer Direndam dalam penangas air bersuhu 100oC sedemikian rupa sehingga air 1 cm di bawah aluminium foil. Labu Erlenmeyer tersebut dibiarkan dalam penangas air sampai semua cairan volatil menguap. Suhu penangas air tersebut catat.

Proses Penguapan Zat Cair Volatil

5.

Setelah semua cairan voaltil dalam labu Erlenmeyer menguap, labu Erlenmeyer diangkat dari penangas dan air yang terdapat pada bagian luar labu keringkan dengan lap. Selanjutnya, didinginkan dalam desikator. Udara akan masuk kembali ke dalam labu Erlenmeyer melalui lubang kecil tadi dan uap cairan volatil yang terdapat dalam labu Erlenmeyer akan mengembun menjadi cairan.

6.

Labu Erlenmeyer yang telah dingin ditimbang dengan menggunkan neraca analitik (tutup aluminium foil beserta karet gelang tidak dilepas sebelum labu ditimbang).

7.

Volume labu Erlenmeyer ditentukan dengan jalan mengisi labu elenmeyer dengan air sampai penuh dan massa air yang terdapat dalam labu Erlenmeyer tersebut ditentukan.

8.

Suhu air dalam labu Erlenmeyer juga diukur, volume air bisa diketahui bila massa jenis air pada suhu air dalam labu Erlenmeyer diketahui dengan menggunakan rumus = m V

9.Tekanan atmosfir diukur dengan menggunakan barometer.


10. Prosedur kerja di atas juga dilakukan untuk zat volatil yang lain yaitu dietil eter

dan etanol.

V.

Hasil Pengamatan Hasil Pengamatan untuk kloroform (CHCl3) Yang diamati


1. Massa labu Erlenmeyer kosong 2. Massa labu Erlenmeyer, aluminium

Hasil 64,619 gram 65,376 gram 69,485 gram 207,665 gram 143,046 gram 65,870 gram 4,109 30 oC 95,5 oC 760,2 mmHg (1,0026 atm)

foil, dan karet gelang. 3. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang dan CHCl3. 4. Massa labu Erlenmeyer dan air. 5. Massa air. 6. Massa Erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang + cairan setelah didinginkan dalam desikator. 7. Massa zat cair volatile (CHCl3) 8. Suhu air dalam labu Erlenmeyer. 9. Suhu penangas air setelah CHCl3 menguap semua. 10. Tekanan atmosfir. Hasil pengamatan untuk dietileter [(C2H5)2O] Yang diamati
1. Massa labu Erlenmeyer kosong 2. Massa labu Erlenmeyer, aluminium

Hasil 67,282 gram 68,157 gram 69,882 gram 194,157 gram 126,875 gram 68,280 gram 1,725 31 oC 96,1 760,2 mmHg (1,0026 atm)

foil, karet gelang. 3. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang dan (C2H5)2O. 4. Massa labu Erlenmeyer dan air. 5. Massa air. 6. Massa Erlenmeyer setelah didinginkan dalam desikator. 7. Massa zat cair volatile [(C2H5)2O] 8. Suhu air dalam labu Erlenmeyer. 9. Suhu penangas air setelah (C2H5)2O menguap semua. 10. Tekanan atmosfir.

Hasil Pengamatan untuk etanol (C2H5OH)

Yang diamati 1. Massa labu Erlenmeyer kosong 2. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, dan karet gelang. 3. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang dan C2H5OH. 4. Massa labu Erlenmeyer dan air. 5. Massa air. 6. Massa Erlenmeyer setelah didinginkan dalam desikator. 7. Massa zat cair volatil (C2H5OH) 8. Suhu air dalam labu Erlenmeyer. 9. Suhu penangas air setelah C2H5OH menguap semua. 10. Tekanan atmosfir. VI. Pembahasan

Hasil 64,619 gram 65,185 gram 67,362 gram 207,665 gram 143,046 gram 64,842 gram 2,743 30 oC 95,1 oC 760,2 mmHg (1,0026 atm)

Kombinasi antara massa jenis gas dengan persamaan gas ideal dapat digunakan untuk menentukan berat molekul suatu senyawa yang bersifat volatil. Massa jenis gas ini ditentukan melalui percobaan. Pada percobaan ini dilakukan penentuan berat molekul suatu senyawa volatil berdasarkan pengukuran massa jenis gas. Berat molekul senyawa yang akan ditentukan adalah berat molekul dari larutan klorofom (CHCl3), eter, dan etanol. Ketiga zat cair ini mudah menguap pada suhu di bawah 100oC. Tahap pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah menuangkan larutan klorofom yang tidak berwarna ini ke dalam Erlenmeyer yang ditutup dengan aluminium foil (sebelumnya berat dari labu sendiri telah diketahui). Pada aluminium foil dibuatkan sebuah lubang agar uap di dalam Erlenmeyer mudah keluar. Hal ini dilakukan bertujuan untuk mempermudah menyeimbangkan tekanan udara di dalam Erlenmeyer dan tekanan udara luar. Berikutnya, Erlenmeyer yang berisi larutan kloroform ini direndam dalam gelas kimia yang berisi air mendidih pada suhu 100 oC Pada pemanasan ini, semakin tinggi suhu air maka akan menyebabkan partikel udara di dalam Erlenmeyer bergerak dengan cepat sehingga udara terdorong keluar melalui celeh kecil pada aluminium foil. Setelah semua udara terdorong keluar, maka selanjutnya cairan volatil menguap dan keluar sampai akhirnya berhenti ketika keadaan kesetimbangan terjadi

yaitu ketika tekanan uap cairan di dalam labu Erlenmeyer hampir sama dengan tekanan udara luar. Selanjutnya ketika didinginkan di dalam desikator, tampak bahwa Erlenmeyer yang awalnya kosong menjadi berisi cairan. Hal ini disebabkan karena pada saat pemanasan cairan kloroform berubah menjadi uap dan kemudian mengembun kembali ketika didinginkan sehingga kloroform diperoleh kembali. Hasil perhitungan dalam penentuan nilai BM biasanya memiliki kesalahan. Hal ini disebabkan ketika Erlenmeyer kosong ditimbang, labu tersebut dipenuhi oleh udara. Namun setelah pemanasan dan pendinginan dengan desikator, tidak semua uap cairan kembali ke wujud cairnya sehingga akan mengurangi jumlah udara yang masuk kembali ke dalam labu. Hal ini menyebabkan massa Erlenmeyer dalam keadaan kosong lebih kecil dari massa Erlenmeyer dalam keadaan semua uap kembali ke wujud cair. Oleh karena itu, massa cairan volatil sebenarnya harus ditambahkan dengan massa udara yang tidak dapat masuk kembali ke dalam Erlenmeyer karena adanya uap cairan yang tidak mengembun. Massa udara ini dihitung dengan mengasumsikan bahwa tekanan parsial udara yang tidak dapat masuk tadi sama dengan tekanan uap cairan volatil pada suhu kamar dengan menggunakan rumus sebagai berikut. 6,90328 1163,03 227,4 + T Hal yang sama juga terjadi pada cairan etanol dan dietil eter. Dimana ketika log P = dipanaskan, cairan menguap dan diperoleh kembali pada pendinginan. Perhitungan massa molekul relatif atau berat molekul (BM): Cairan kloroform Yang diamati
1. Massa labu Erlenmeyer, aluminium

Hasil 69,485 gram 65,376 gram 4,109 gram Hasil 207,665 gram 64,619 gram 143,046 gram

foil, karet gelang dan kloroform. 2. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang. 3. Massa kloroform Yang diamati Massa labu Erlenmeyer dan air. Massa labu Erlenmeyer. Massa air.

1. 2.

3.

Yang diamati 1. Massa Erlenmeyer + aluminium foil + karet gelang + cairan setelah didinginkan dalam desikator. 2. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang. 3. Massa kloroform Yang diamati
1. Suhu air dalam labu Erlenmeyer.

Hasil 65,870 gram 65,376 gram 0,494 gram Hasil 30 oC = 303 K 100 oC 762 mmHg (1,0026 atm)

2. Suhu penangas air. 3. Tekanan atmosfir. Cairan dietil eter (C2H5)2O Yang diamati Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang dan dietil eter. 2. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang. 3. Massa dietil eter
1.

Hasil 69,882 gram 68,157 gram 1,725 gram Hasil 194,157 gram 67,282 gram 126,875 gram Hasil 68,280gram 68,157 gram 0,123 gram Hasil 30 C = 303 K 100,00 oC = 373,15 K 762 mmHg (1,0026 atm)
o

1. 2.

3.

Yang diamati Massa labu Erlenmeyer dan air. Massa labu Erlenmeyer. Massa air. Yang diamati

1. Massa labu Erlenmeyer, aluminium

foil, karet gelang dan dietil eter setelah didinginkan. 2. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang. 3. Massa dietil eter setelah dipanaskan Yang diamati 1. Suhu air dalam labu Erlenmeyer. 2. Suhu penangas air. 3. Tekanan atmosfir. Cairan etanol (C2H5OH) Yang diamati 1. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang dan etanol. 2. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang. 3. Massa etanol Yang diamati

Hasil 67,362 gram 64,619 gram 2,743 5 gram Hasil

4. 5.

6.

Massa labu Erlenmeyer dan air. Massa labu Erlenmeyer. Massa air.

207,665 gram 64,619 gram 143,046 gram Hasil 64,842 gram 64,619gram 0,223 gram Hasil 31 oC = 304 K 100,00 oC = 373,15 K 762 mmHg (1,0026 atm)

Yang diamati 7. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang dan etanol setelah didinginkan. 8. Massa labu Erlenmeyer, aluminium foil, karet gelang. 9. Massa etanol setelah dipanaskan Yang diamati Suhu air dalam labu Erlenmeyer. 11. Suhu penangas air. 12. Tekanan atmosfir.

10.

A. Tanpa Menggunakan Faktor Koreksi Penentuan Berat Molekul CHCl3 1. Menghitung volume labu Erlenmeyer Sebelum menghitung volume labu terlebih dahulu dihitung. Massa air = (massa labu Erlenmeyer + air) - massa labu Erlenmeyer = 207,665 gram - 64,619 gram = 143,046 gram Massa jenis air (air) pada suhu 300C = 0,9957 gram/cm3 = 995,7 gram/Liter Jadi, volume labu Erlenmeyer dapat dihitung sebagai berikut : Volume labu = volume air ` 2. mair 143,046 gram = = 0,1437 L iter air 995,7 gram / L Mengubah tekanan atmosfer dari mmHg menjadi atm Tekanan atmosfer = 3. 76,2 cmHg x 1 atm = 1,0026 atm 76,00cmHg

Menghitung massa jenis gas

gas =
= 4.

massa zat volatil volume labu 0,494 gram = 3,4377 gram Liter 0,1437 L

Mengubah suhu penangas air dari 0C ke K

Suhu penangas air = 100,00o C = (100,00 + 273,15) = 373,15 K 5. Menghitung berat molekul BM = . R . T 3,4377 g/L . 0,08206 atmLmol 1 K 1. 373,15 K = P 1,0026 atm = 104,993 g mol

Berat molekul CHCl3 secara teoritis adalah {(Ar C x 1) + (Ar H x 1) + (Ar Cl x 3)} {(12,01 x 1) + (1,01 x 1) + (35,45 x 3)} = 119,37 sehingga diperoleh KR sebagai berikut : KR = = BM hasil percobaan BM sec ara teoritis BM sec ara teoritis 104,993 119,37 119,37 100% 100%

= 12,04 % Penentuan Berat Molekul Dietileter 1. Menghitung volume labu Erlenmeyer Sebelum menghitung volume labu terlebih dahulu dihitung. Massa air = (massa labu Erlenmeyer + air) - massa labu Erlenmeyer = 194,1570 gram - 67,2820 gram = 126,8750 gram Massa jenis air (air) pada suhu 300C = 0,9957 gram/cm3 = 995,7 gram/Liter Jadi, volume labu Erlenmeyer dapat dihitung sebagai berikut : Volume labu = volume air ` mair 126,8750 gram = = 0,1274 L iter air 995,7 gram / L 76,20 cmHg x 1 atm = 1,0026 atm 76,00cmHg

2. Mengubah tekanan atmosfer dari mmHg menjadi atm Tekanan atmosfer =

3. Menghitung massa jenis gas

gas =

massa zat volatil volume labu

0,1230 g = 0,9654 gram Liter 0,1274 g / L

4. Mengubah suhu penangas air dari 0C ke K Suhu penangas air = 100,00o C = (100,00 + 273,15) = 373,15 K 5. Menghitung berat molekul BM = . R . T 0,9654 g/L . 0,08206 atmLmol 1 K 1. 373,15 K = P 1,0026 atm = 29,49 g mol

Berat molekul (C2H5)2O secara teoritis adalah {(Ar C x 4) + (Ar H x 10) + (Ar O x 1)} {(12,01 x 4) + (1,01 x 10) + (16 x 1)} = 74,14 sehingga diperoleh KR sebagai berikut : KR = = BM hasil percobaan BM sec ara teoritis BM sec ara teoritis 29,49 74,14 74,14 100% 100%

= 60,22 % Penentuan Berat Molekul C2H5OH 6. Menghitung volume labu Erlenmeyer Sebelum menghitung volume labu terlebih dahulu dihitung. Massa air = (massa labu Erlenmeyer + air) - massa labu Erlenmeyer = 207,665 gram - 64,619 gram = 143,046 gram Massa jenis air (air) pada suhu 300C = 0,9957 gram/cm3 = 995,7 gram/Liter Jadi, volume labu Erlenmeyer dapat dihitung sebagai berikut : Volume labu = volume air ` 7. mair 143,046 gram = = 0,1437 L iter air 995,7 gram / L Mengubah tekanan atmosfer dari mmHg menjadi atm Tekanan atmosfer = 8. 76,2 cmHg x 1 atm = 1,0026 atm 76,00cmHg

Menghitung massa jenis gas

gas =
= 9. 10.

massa zat volatil volume labu 0,223 gram = 1,5518 gram Liter 0,1437 L

Mengubah suhu penangas air dari 0C ke K Suhu penangas air = 100,00o C = (100,00 + 273,15) = 373,15 K Menghitung berat molekul BM = . R . T 1,5518 g/L . 0,08206 atmLmol 1 K 1. 373,15 K = P 1,0026 atm = 47,39 g mol

Berat molekul C2H5OH secara teoritis adalah {(Ar C x 2) + (Ar H x 6) + (Ar O x 1)} {(12,01 x 2) + (1,01 x 6) + (16,00 x 1)} = 46,08 sehingga diperoleh KR sebagai berikut : KR = = BM hasil percobaan BM sec ara teoritis BM sec ara teoritis 47,39 46,08 46,08 100% 100%

= 2,85 % B. Menggunakan Faktor Koreksi Nilai BM hasil perhitungan memang mendekati nilai sebenarnya, tetapi sebenarnya mengandung kesalahan. Ketika labu Erlenmeyer kosong ditimbang, labu ini penuh dengan udara. Setelah pemanasan dan pendinginan dengan desikator, tidak semua uap cairan kembali ke bentuk cairnya, sehingga akan mengurangi jumlah udara yang masuk kembali ke dalam labu Erlenmeyer. Jadi, massa labu Erlenmeyer dalam keadaan ini lebih kecil dari massa labu Erlenmeyer dalam keadaan semua uap cairnya kembali ke bentuk cairnya. Oleh karena itu massa CHCl3 maupun massa aseton sebenarnya harus ditambahkan dengan massa udara yang tidak dapat masuk kembali ke dalam labu Erlenmeyer karena adanya uap cairan yang tidak mengembun. Massa udara tersebut dapat dihitung dengan mengasumsikan bahwa tekanan parsial udara yang tidak dapat masuk tadi sama dengan tekanan uap cairan CHCl3 maupun aseton pada suhu kamar (28oC), dengan menggunakan rumus :

log P = 6,90328

1163,03 227,4 + T 1163,03 = 6,90328 227,4 + 28 = 6,90328 4,55376 = 2,34952 P = 223,62 mmHg 223,62 P = atm = 0,294 atm 760

Untuk menentukan BM dengan faktor koreksi dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut : Penentuan Berat Molekul CHCl3 1. Menentukan massa udara yang tidak dapat masuk PV = m .RT BM P . V . BM udara m= RT 0,294 atm . 0,1437 L . 28,8 = 0,08206 atmLmol 1 K 1 . 301,15 K = 0,049236 gram = 4,9236 x 10 2 gram Ket : BM udara = BM N2 = 28,8 g/mol T = 28oC = 301,15 K 2. Menghitung massa total zat cair volatil Massa total = massa zat cair volatil + massa udara yang tidak dapat masuk = (0,494 + 0,049236) gram = 0,54324 gram 3. Menghitung massa jenis gas mtotal 0,54324 g = = 3,780 g L Vlabu 0,1437 L

gas =

4. Menghitung Berat molekul senyawa volatile

3,780 . R . T BM = = P = 115,45 g mol KR = =

g . 0,08206 L atm mol 1 K 1 . 373,15 K L 1,0026 atm

BM hasil percobaan BM sec ara teoritis BM sec ara teoritis 115,45 119,37 100% 119,37

100%

= 3,278 % Penentuan Berat Molekul dietil eter (C2H5)2O 1. Menentukan massa udara yang tidak dapat masuk PV = m .RT BM P . V . BM m= RT = 1,0026 atm . 0,1274 L atm mol 1 K 1 . 28,8 0,08206 . 301,15

= 0,1488 gram = 1,488 x 10 1 Ket : BM udara = BM N2 = 28,8 T = 28oC = 301,15 K 2. Menghitung massa total zat cair volatil Massa total = massa zat cair volatil + massa udara yang tidak dapat masuk = (0,1230 + 0,1488) gram = 0,2718 gram 3. Menghitung massa jenis gas gas = m total 0,2718 = = 2,1334 g L Vlabu 0,1274

4. Menghitung Berat molekul senyawa volatil 2,1334 g . 0,08206 L atm 1 mol K 1 . 373,15 K . R . T L BM = = P 1,0026 atm = 65,16 g mol

Jadi, besarnya kesalahan relatif adalah:

KR = =

BM hasil percobaan BM sec ara teoritis BM sec ara teoritis 65,16 74,14 74,14 100%

100%

=11,95 % Penentuan Berat Molekul etanol (C2H5OH) 1. Menentukan massa udara yang tidak dapat masuk PV = m .RT BM P . V . BM m= RT

0,294 atm . 1,437 .10 1 L atm mol 1 K 1. 28,8 = 0,08206 . 301,15 Ket : BM udara = BM N2 = 28,8 2 = 0,0492 gram = 4,92 x 10 T = 28oC = 301,15 K 2. Menghitung massa total zat cair volatil Massa total = massa zat cair volatil + massa udara yang tidak dapat masuk = (0,223 + 0,0492) gram = 0,2722 gram 3. Menghitung massa jenis gas gas = m total 0,2722 = = 1,89 g L Vlabu 0,1437

4. Menghitung Berat molekul senyawa volatil 1,89 g . 0,08206 L atm 1 mol K 1 . 373,15 K . R .T L BM = = P 1,0026 atm = 57,86 g mol Jadi, besarnya kesalahan relative adalah: KR = = BM hasil percobaan BM sec ara teoritis BM sec ara teoritis 57,86 46,08 46,08 100% 100%

= 25,56 %

Berdasarkan perhitungan di atas berat molekul yang dihitung tanpa faktor koreksi dan dengan faktor koreksi terdapat sedikit penyimpangan dari berat molekul secara teoritis. Tanpa menggunakan faktor koreksi diperoleh bahwa besar kesalahan dengan menggunakan cairan kloroform adalah 12,04% dan dengan menggunakan faktor koreksi diperoleh bahwa besar kesalahan dengan menggunakan cairan kloroform adalah 3,278%. Hal ini berarti bahwa pada praktikum dengan menggunakan cairan kloroform, terjadi kesalahan dalam praktikum yang kemungkinan disebabkan karena ketidaktelitian dalam pengamatan ataupun pengukuran. Sementara pada etanol tanpa menggunakan faktor koreksi diperoleh bahwa besar kesalahan adalah 2,85% dan dengan menggunakan faktor koreksi diperoleh bahwa besar kesalahan 25,56 %. Sedangkan pada dietil eter tanpa menggunakan faktor koreksi diperoleh bahwa besar kesalahan adalah 60,2% dan dengan menggunakan faktor koreksi diperoleh bahwa besar kesalahan relatif adalah 11,95%. Kesalahan yang cukup besar ini, kemungkinan disebabkan oleh hal-hal berikut:
1.

Pada saat labu Erlenmeyer diangkat dari penangas air, kesetimbangan

yang diharapkan kemungkinan belum tercapai sehingga massa zat cair volatil yang diperoleh menjadi lebih besar. 2. ukur. 3.
4.

Terjadi kekurangtelitian pada saat membaca skala pengukuran pada alat Penggunaan persamaan gas ideal dalam perhitungan karena pada Kemungkinan masih terdapat air yang menempel pada dinding luar labu Proses pembulatan angka yang menyebabkan hasil perhitungan berbeda.

kenyataannya gas cairan volatil yang terbentuk bukan merupakan gas ideal. Erlenmeyer sehingga akan mempengaruhi massa terukur. 5.

VII. Kendala-Kendala dan Solusi Adapun kendala-kendala yang kami alami dalam praktikum ini adalah: 1. belum. 2. belum. Kesulitan dalam mengamati uap yang keluar dari lubang kecil di kertas aluminium foil sehingga sulit menentukan kesetimbangan telah tercapai atau Kesulitan dalam mengamati zat cair volatil telah menguap semua ataukah

Adapun solusi yang dapat disampaikan yaitu sebaiknya digunakan zat cair volatil yang memiliki warna zat dan warna uap yang berbeda dari air agar lebih mudah menentukan kesetimbangan. VIII. Simpulan Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa: 1. 2. Berat molekul suatu zat cair volatil yang memiliki titik didih di bawah 1000C Untuk zat cair volatil CHCl3 dapat ditentukan dengan pengukuran massa jenisnya. a. BM yang dihitung tanpa faktor koreksi adalah 104,993 g/mol b. BM yang dihitung dengan faktor koreksi adalah 115,45 g/mol c. Kesalahan relatif BM yang dihitung tanpa faktor koreksi adalah 12,04 % d. Kesalahan relatif BM yang dihitung dengan faktor koreksi adalah 3,278% Jadi, BM yang dihitung dengan menggunakan faktor koreksi lebih besar daripada BM yang dihitung tanpa menggunakan faktor koreksi, sehingga kesalahan relatif dengan menggunakan faktor koreksi lebih kecil daripada kesalahan relatif tanpa menggunakan faktor koreksi. 3. Untuk zat cair volatil dietil eter (C2H5)2O a. BM yang dihitung tanpa faktor koreksi adalah 29,49 g/mol. b. BM yang dihitung dengan faktor koreksi adalah 65,16 g/mol. c. Kesalahan relatif BM yang dihitung tanpa faktor koreksi adalah 60,22 %. d. Kesalahan relatif BM yang dihitung dengan faktor koreksi adalah 11,95 %. Jadi, BM yang dihitung dengan menggunakan faktor koreksi lebih besar daripada BM yang dihitung tanpa menggunakan faktor koreksi, sehingga kesalahan relatif dengan menggunakan faktor koreksi lebih kecil daripada kesalahan relatif tanpa menggunakan faktor koreksi. 4. a. b. c. d. Untuk zat cair volatil etanol (C2H5OH) BM yang dihitung tanpa faktor koreksi adalah 47,39 g/mol. BM yang dihitung dengan faktor koreksi adalah 57,86g/mol. Kesalahan relatif BM yang dihitung tanpa faktor koreksi adalah 2,85%. Kesalahan relatif BM yang dihitung dengan faktor koreksi adalah 25,56%. Jadi, BM yang dihitung dengan menggunakan faktor koreksi lebih besar daripada BM yang dihitung tanpa menggunakan faktor koreksi, sehingga kesalahan relatif dengan menggunakan faktor koreksi lebih besar daripada kesalahan relatif tanpa menggunakan faktor koreksi.

DAFTAR PUSTAKA Barrow, Gardon M. 1996. Physical Chemistry. USA: Mc Graw-Hill. Bird, Tony. 1987. Penuntun Praktikum Kimia Fisika untuk Universitas. Jakarta: PT Gramedia. Petrucci, H. Ralph. 1987. Kimia Dasar. Bogor: Erlangga. Retug, Nyoman dan Dewa Sastrawidana. 2004. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Singaraja: IKIP N Singaraja. Rohman, Ijang dan Sri Mulyani. 2004. Kimia Fisika I. Jakarta : Universitas Pendidikan Indonesia. Sienko, Michel J. 1985. Eksperimental Chemistry. United States: Mc Graw-Hill. Sukardjo, Pr. 1997. Kimia Fisika. Yogyakarta : Kineka Cipta. Sukarjo, Pr. 1997. Kimia Fisika. Yogyakarta: Rineka Cipta.