Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PRAKTIKUM PETROLOGI

NAMA NPM PELAJARAN PRODI

: VERDI PARULIAN S. : 1003024 : PRATIKUM PETROLOGI : TEKNIK EKSPLORASI PRODUKSI MIGAS

POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG 2010 / 2011


Verdi Parulian S. 1003024

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan anugrah-Nyalah saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah Pratikum Petrologi yang berjudul Batuan Beku Dalam.

Pada kesempatan ini, saya selaku penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang terkait, terutama Asisten Dosen dan Dosen Pembimbing Bapak Roby Cahyadi, ST yang telah banyak membantu kami mulai dari perencanaan hingga sampai penyusunan maakalah ini. Saya pun berbahagia seandainya mahasiswa Akamigas semakin antusias mengikuti pembelajaran pratikum petrologi ini.

Dan juga saya selaku penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam bentuk penyajian maupun dalm bentuk ilmiah yang saya sajikan, dan meminta kepada semua pihak agar memberikan kritik dan sarannya, guna menyempurnakan makalah ini, dan saya berharap ini dapat bernanfaat bagi mahasiswa/i Akamigas khususnya bagi jurusan Teknik Eksplorasi dan Produksi Migas.

Palembang, Agustus 2011

Penyusun

Verdi Parulian S. 1003024

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... DAFTAR ISI ............ BAB I PENDAHULUAN A. TUJUAN DAN KEGUNAAN...... B. RUMUSAN MASALAH.. C. TUJUAN PUSTAKA ............ D. METODE PENULISAN... BAB II. PEMBAHASAN A. PETROLOGI BATUAN BEKU....... B. PENGERTIAN BATUAN BEKU C. PEMBENTUKAN BATUAN BEKU .. D. KLASIFIKASI BATUAN BEKU............................................................................ D.1 Berdasarkan Tempat Terjadinya ........................................................................ D.2 Kadar Silika .. E. STRUKTUR BATUAN ... F. TEKSTUR BATUAN .. BAB III. INTI PEMBAHASAN 1. BATUAN BEKU DALAM .................................................................................... 1.a. Pengertian Batuan Beku Dalam ... 1.b. Contoh batuan .. 2. BATU GRANIT 2.a. Indentifikasi Granit .. 2.b. Terbentuknya Granit 2.c. Determinasi batuan .. 2.d. Kegunaan Batuan ..... BAB IV. PENUTUP KESIMPULAN... BAB V. DAFTAR PUSTAKA ..

Verdi Parulian S. 1003024

BAB I PENDAHULUAN

A. TUJUAN DAN KEGUNAAN Tujuan dan kegunaannya adalah untuk mengetahui pengertian, jenis-jenis, dan kegunaan dari batuan yang di bahas pada makalah ini, sehingga dapat memudahkan pembaca atau penulis untuk menambah ilmu dalam pelajaran Petrologi

B. RUMUSAN MASALAH Petrologi Batuan Beku Pengertian Batuan beku Pembentukan Batuan Beku Klasifikasi Batuan Beku Struktur Batuan Tekstur Batuan Batu Granit

C. TUJUAN PUSTAKA Tujuan Pustaka dari penulisan makalah ini adalah memberikan mamfaat khususnya kepada penulis sendiri dan pada umumnya untuk pembaca dan rekan rekan mahasiswa sekalian. Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan.

D. METODE PENULISAN Metode yang digunakan oleh penulis adalah dengan mengumpulkan teori teori yang terkait dengan isi makalah ini baik dari buku bacaan ataupun dari internet.

Verdi Parulian S. 1003024

BAB II PEMBAHASAN

A. PETROLOGI BATUAN BEKU Petrologi adalah bidang geologi yang berfokus pada studi mengenai batuan dan kondisi pembentukannya. Ada tiga cabang petrologi, berkaitan dengan tiga tipe batuan: beku, metamorf, dan sedimen. Kata petrologi itu sendiri berasal dari kata Bahasa Yunani petra, yang berarti "batu". Petrologi batuan beku berfokus pada komposisi dan tekstur dari batuan beku (batuan seperti granit atau basalt yang telah mengkristal dari batu lebur atau magma). Batuan beku mencakup batuan volkanik dan plutonik. Petrologi batuan sedimen berfokus pada komposisi dan tekstur dari batuan sedimen (batuan seperti batu pasir atau batu gamping yang mengandung partikel-partikel sedimen terikat dengan matrik atau material lebih halus). Petrologi batuan metamorf berfokus pada komposisi dan tekstur dari batuan metamorf (batuan seperti batu sabak atau batu marmer yang bermula dari batuan sedimen atau beku tetapi telah melalui perubahan kimia, mineralogi atau tekstur dikarenakan kondisi ekstrim dari tekanan, suhu, atau keduanya).

B. PENGERTIAN BATUAN BEKU Batuan beku merupakan batuan yang terjadi dari pembekuan larutan silica cair dan pijar, (yang kita kenal atau sering disebut dengan nama magma) yang membeku. Karena tidak adanya kesepakatan dari para ahli petrologi dalam mengklasifikasikan batuan beku mengakibatkan sebagian klasifikasi dibuat atas dasar yang berbeda-beda. Perbedaan ini sangat berpengaruh dalam menggunakan klasifikasi pada berbagai lapangan pekerjaan dan menurut kegunaannya masing-masing. Bila kita dapat menggunakan klasifikasi yang tepat, maka kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Verdi Parulian S. 1003024

C. PEMBENTUKAN BATUAN BEKU Magma yang merupakan asal batuan beku bersifat panas dan secara kimiawi mengandung campuran unsur yang kompleks. Ketika magma membeku, mineral-mineral yang berbedabeda akan terbentuk. Bahkan, dua magma yang memiliki komposisi yang sama dapat membentuk kumpulan mineral yang berbeda, tergantung pada kondisi kristalisasinya. Ketika magma membeku, mineral pertama yang terbentuk adalah mineral-mineral yang stabil pada kondisi temperatur tinggi (umumnya olivin dan anortit, salah satu tipe mineral felspar). Komposisi dari mineral pertama ini akan berbeda dengan komposisi asal magma. Konsekuensinya, mineral ini akan mengambil sebagian unsur dari magma dalam proporsi tertentu, hasilnya komposisi sisa pada magma juga berubah. Proses ini dikenal dengan nama diferensiasi magma. Terkadang, mineral-mineral yang terbentuk pertama kali ini terpisah dari magma asal, baik terendapkan pada dapur magma, atau melalui kompresi yang memisahkan magma dari mineral tersebut. Ketika temperatur magma semakin menurun, mineral lainnya akan terbentuk dengan baik (seperti piroksen dan bitownit, salah satu tipe mineral felspar). Bagaimanapun juga, mineral yang pertama terbentuk tidak dapat berada di dalam magma bersama dengan mineral yang terbentuk kemudian. Apabila mineral pertama yang terbentuk tidak terpisah dari magma, mineral tersebut akan bereaksi atau terlarut kembali ke dalam magma. Proses ini berulang beberapa kali sepanjang temperatur magma yang semakin menurun hingga pada kondisi dimana mineral terakhir dapat terbentuk. Kumpulan akhir mineral yang terbentuk dari proses pendinginan magma ini dipengaruhi oleh tiga faktor: komposisi asal dari magma, derajat pendinginan dari mineral yang telah terbentuk saat terpisah dari magma asal, dan kecepatan pendinginan magma.

Verdi Parulian S. 1003024

D. KLASIFIKASI BATUAN BEKU Penggolongan batuan beku dapat didasarkan pada tiga patokan utama yaitu berdasarkan tempat terjadinya, dan berdasarkan kadar silika yang terkadung pada batuan tersebut.

D.1 Berdasarkan Tempat Terjadinya Batuan beku terdiri atas kristal-kristal mineral dan kadang-kadang mengandung gelas, berdasarkan tempat kejadiannya (genesa) batuan beku terbagi menjadi 3 kelompok yaitu: a. Batuan beku dalam (pluktonik), terbentuk jauh di bawah permukaan bumi. Proses pendinginan sangat lambat sehingga batuan seluruhnya terdiri atas kristal-kristal (struktur holohialin). b. Batuan beku korok (hypabisal), terbentuk pada celah-celah atau pipa gunung api. Proses pendinginannya berlangsung relatif cepat sehingga batuannya terdiri atas kristal-kristal yang tidak sempurna dan bercampur dengan massa dasar sehingga membentuk struktur porfiritik. c. Batuan beku luar (efusif) terbentuk di dekat permukaan bumi. Proses pendinginan sangat cepat sehingga tidak sempat membentuk kristal. Struktur batuan ini dinamakan amorf.

D.2 Bedasarkan Kadar Silika Berdasarkan komposisi kimianya batuan beku dapat dibedakan menjadi: a. Batuan beku ultra basa memiliki kandungan silika kurang dari 45%. Contohnya Dunit dan Peridotit. b. Batuan beku basa memiliki kandungan silika antara 45% - 52 %. Contohnya Gabro, Basalt. c. Batuan beku intermediet memiliki kandungan silika antara 52%-66 %. Contohnya Andesit dan Syenit. d. Batuan beku asam memiliki kandungan silika lebih dari 66%. Contohnya Granit, Riolit.

Verdi Parulian S. 1003024

E. STRUKTUR BATUAN Struktur adalah kenampakan hubungan antara bagian-bagian batuan yang berbeda.pengertian struktur pada batuan beku biasanya mengacu pada pengamatan dalam skala besar atau singkapan dilapangan.pada batuan beku struktur yang sering ditemukan adalah: 1. Masif 2. Vesikular : Struktur batuan yang menunjukan batuan kompak dank keras. : Struktur batuan yang menunjukan adanya lubang-lubang bekas keluarnya gas. 3. Skoria : Struktur batuan yang mrmperlihatkan lubang-lubang yang tidak beraturan akibat pendinginan yang cepat. 4. Amigdaloidal : Struktur batuan yang menunjukan adanya lubang-lubang yang tidak teratur yang telah diisi oleh mineral lain. 5. Xenolitis : Struktur batuan yang menunjukan adanya mineral ikutan yang ikut membeku.

F. TEKSTUR BATUAN Pengertian tekstur batuan mengacu pada kenampakan butir-butir mineral yang ada di dalamnya, yang meliputi tingkat kristalisasi, ukuran butir, bentuk butir, granularitas, dan hubungan antar butir (fabric). Jika warna batuan berhubungan erat dengan komposisi kimia dan mineralogi, maka tekstur berhubungan dengan sejarah pembentukan dan keterdapatannya. Tekstur merupakan hasil dari rangkaian proses sebelum,dan sesudah kristalisasi. Pengamatan tekstur meliputi : a. Derajat kristalisasi Tingkat kristalisasi batuan beku dibagi menjadi: Holcorystalin : Jika mineral-mineral dalam batuan semuanya mengkristal. Hipocrystalin :Jika massa yang mengkristal lebih banyak dari massa glass. Hypohyalin Holohialin : Jika massa yang mengkristal lebih sedikit dari massa glass. : Jika seluruhnya terdiri dari gelas.

Verdi Parulian S. 1003024

b. Ukuran Butir Ukuran kristal adalah sifat tekstural yang paling mudah dikenali.ukuran kristal dapat menunjukan tingkat kristalisasi pada batuan. Faneritik : Butiran Kristal yang terbentuk relative besar dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Porfiritik Afaneritik : Butiran kristalnya sebagian besar dan sebagian halus. : Butiran kristal yang terjadi sangat halus sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. c. Bentuk Kristal Euhedral Subhedral Anhedral : Bentuk kristal dari butiran mineral mempunyai bidang kristal yang sempurna. : Bentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna. : Berbentuk kristal dari butiran mineral dibatasi oleh bidang kristal yang tidak sempurna. d. Hubungan Antar Kristal Equigranular Inequigranular : Ukuran butir kristal seragam. : Ukuran butir kristal tidak seragam.

Verdi Parulian S. 1003024

BAB III INTI PEMBAHASAN

1. BATUAN BEKU DALAM

1.a. Pengertian Batuan Beku Dalam Batun beku dalam terjadi di dalam perut bumi atau jauh dari permukaan bumi, dengan proses pembekuan yang sangat lambat sehingga kristal-kristalnya terbentuk dengan sempurna. Pada umumnya batuan jenis ini mempunyai tekstur holocrystalin, phanerik dan equigranular. 2.b. Contoh Batuan Beku dalam Contoh-contoh batuan beku dalam adalah batu basalt dan Granit adapun pengertian dari batuan-batuan tersebut yaitu: Batu Basalt

Batu basalt adalah batuan leleran dari gabro, minrealnya berbutur halus, berwarna hitam, berat jenisnya 2,9-3,1. Komposisi dan peresentase secara umum dari mineral pembentuk batuannya adalah: Plagioklas (labraorit) 40-60%, mineral mafis (klinopiroksen, olivin) 55-35 %.

Batu Garanit Batu granit adalah adalah jenis batuan intrusif, felsik, igneus yang umum dan banyak ditemukan dan cirri-cirinya batuan tersebut adalah berwarna cerah/terang tersusun oleh mineral kuarsa, felspar dan mika berukuran besar.

2. BATU GRANIT 2.a Identifikasi Granit Batu granit memiliki warna yang terang, bertekstur kasar dengan susunan mineral acak. Granit memiliki kilau yang bagus dan tahan cuaca serta hujan asam. Granit adalah jenis batuan intrusif, felsik, igneus yang umum dan banyak ditemukan. Granit kebanyakan besar, keras dan kuat, dan banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi bangunan. Kepadatan rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm dengan jangkauan antara 1,74 dan 2,80.

Verdi Parulian S. 1003024

2.b Terbentuknya Granit Granit ditemukan dalam pluton-pluton besar pada benua, ketika kerak bumi telah mengalami pengikisan yang besar. Granit mengalami proses pendinginan yang sangat lambat pada kedalaman jauh dari permukaan tanah, untuk membentuk butiran-butiran mineral besar. Pluton yang ukurannya kurang dari 100 km2 disebut dengan galang dan yang lebih besar disebut batolit. Selain itu, granit juga terbentuk dari letusan gunung berapi yang mengeluarkan lava pijar. Ketika lava keluar dari dalam perut bumi dan memenuhi daratan bumi, tetapi lava dengan komposisi sama dengan granit hanya ke luar pada permukaan bumi. Ini berarti, granit harus terbentuk melalui pelelehan batuan benua yang dapat terjadi karena dua alasan, yaitu penambahan panas dan penambahan volatil (air atau karbon dioksida atau keduanya). Permukaan benua relatif panas karena mengandung sebagian besar uranium dan potasium yang memanaskan daerah sekelilingnya melalui peluruhan radiokatif. Proses lempeng tektonik terutama subduksi dapat menyebabkan magma basaltik naik di bawah benua. Selain panas, karbon dioksida ini melepaskan magma dan air yang membantu semua jenis batuan meleleh pada suhu lebih rendah. Diperkirakan bahwa sejumlah besar magma basaltik dapat menempel ke bagian bawah sebuah benua dalam proses yang disebut underplating. Dengan pelepasan panas dan cairan yang lambat, sejumlah besar kerak benua bisa berubah menjadi granit pada waktu bersamaan. Ada tiga hal yang membedakan granit dengan batuan lainnya, yaitu : 1) 2) Granit terbetuk dari butiran-butiran mineral besar yang bersatu erat. Granit selalu terdiri atas mineral kuarsa dan feldspar, dengan atau tanpa jenis mineral lain di dalamnya. 3) Hampir semua jenis granit berbentuk beku dan plutonik. Pengaturan acak butiran pada batu granit merupakan bukti otentik asal plutoniknya. Batuan dengan

komposisi yang sama seperti granit bisa terbentuk melalui proses metamorfisme batuan sedimen yang lama. Akan tetapi, jenis batuan ini memiliki corak yang kuat dan biasanya disebut dengan granit gneiss.

Verdi Parulian S. 1003024

2.c Determinasi Batuan Granit BATU GRANIT

1. Warna

: Putih ke-abu abuan

2. Jenis Batuan : Batuan beku asam 3. Srtuktur 4. Tekstur a. Derajat Kristalisasi b. Ukuran Butir c. Bentuk Kristal d. Hubungan Antar Kristal 5. Komposisi Mineral : Holokristalin : Porfiritik : Subhedral : Equigranular : - Kwarsa - Feldsfar - Mikha 2.d Kegunaan Batuan Dalam bidang industri dan rekayasa, granit banyak dipakai sebagai bidang acuan dalam berbagai pengukuran dan alat pengukur. Hal ini dikarenakan granit bersifat kedap air, kaku (rigid), non-higroskopis dan memiliki koefisien ekspansi termal yang sangat rendah. Salah satu penerapannya adalah pada mesin pengukur koordinat. : Massive

Verdi Parulian S. 1003024

BAB IV PENUTUP

KESIMPULAN Batuan Beku adalah batuaqn yang terbentuk dari proses pembekuan magma. Batu Beku Dalam adalah batuan yang terbentuk barada jauh di dalam bumi (15-50 km), proses pendinginan sangat lambat karena dekat dengan astenosfer sehingga batuan seluruhnya terdiri atas kristal-kristal. Dari segi warna, batuan yang komposisinya semakin basa akan lebih gelap dibanding yang komposisinya asam. Underplating adalah sejumlah besar magma basaltik dapat menempel ke bagian bawah sebuah benua. Dalam mengidentifikasi batuan beku, sangat perlu sekali mengetahui karakteristik batuan beku yang meliputi sifat fisik dan komposisi mineral batuan beku.

Verdi Parulian S. 1003024

BAB V DAFTAR PUSTAKA

Buku Panduan Pratikum Geologi Dasar Buku Panduan Pratikum Petrologi http://geologycika.blogspot.com/2009/03/petrologi-batuan-beku_30.html http://www.docstoc.com/DownloadDoc.aspx?doc_id=14748518/batuan beku.html http://wapedia.mobi/id/Batuan_beku_dalam.html http://wapedia.mobi/id/Petrologi Batuan.html http://ilmubatuan.blogspot.com/batu beku dalam/batu granit.html http://lionel08.wordpress.com/2011/02/22/batuan-granit.html

Verdi Parulian S. 1003024