Anda di halaman 1dari 31

Dani el Bramantyo, S.

Ked


Pembi mbi ng : Dr. Al adi n S. Johan, Sp.B
TUMOR PAYUDARA
Definisi
Tumor atau neoplasma secara umum di artikan sebagai
benjolan atau pembengkakan yang disebabkan pertumbuhan sel
abnormal dalam tubuh. Pertumbuhan tumor dapat bersifat ganas
(malignan) atau jinak (benign).

Tumor jinak mammae ialah lesi jinak yang disebabkan
pertumbuhan sel abnormal yang dapat terjadi pada payudara.

Anatomi Payudara
Vaskularisasi & Persyarafan
Arteri
Payudara mendapat perdarahan dari:
a. Rami intercostales arterioles dari anteria thoracica interna, yaitu salah satu
cabang dari arteri subclavia
b. Arteri thoracica lateralis (a. mamania ekstema) dan arteri thoracoacromialis, yaitu
cabang dari arteri axillanis
c. Arteri intercostales posterior, cabang pars thoracica aortae dalam spatial
intercostales I, II. dan IV
Vena
Pada payudara terdapat tiga grup vena:
a. Cabang-cabang perforantes v. mammaria intema
b. Cabang-cabang v. aksilaris
c. Vena-vena kecil yang bermuara pada v. interkostalis

Limfe
Penyaluran limfe dan mammae sangat penting peranannya dalam
metastase sel kanker.
Bagian terbesar disalurkan ke nodi lymphoidei axillares, terutama ke
kelompok pectoral, tetapi ada juga yang disalurkan ke kelompok apical,
subskapular, lateral, dan sentral.
Terdapat enam grup kelenjar getah bening axilla:

Persyarafan
Persarafan kulit mammae diurus oleh cabang pleksus servikalis dan
nervus interkostalis. Jaringan kelenjar mammae sendiri dipersarafi oleh saraf
simpatik.
Ada beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubung dengan penyulit
paralisis dan mati rasa pasca bedah, yakni nervus interkostobrakialis, nervus
kutaneus brakialis medialis yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan
bagian medial lengan atas. Pada diseksi aksila, saraf ini sukar disingkirkan
sehingga sering terjadi mati rasa pada daerah tersebut. 4 syaraf nervus
pektoralis yang menginervasi muskulus pektoralis mayor dan minor, nervus
torakodorsalis yang menginervasi muskulus latissimus dorsi, dan nervus
torakalis longus yang menginervasi muskulus serratus anterior sedapat
mungkin dipertahankan pada mastektomi dengan diseksi aksila.

Fisiologi
1. Pubertas terjadi pembesaran payudara yang diakibatkan karena
bertambahnya jaringan kelenjar dan deposit jaringan lemak.

2. Siklus menstruasi pada fase premestruasi akan terjadi
pembesaran vascular dan pembesaran kelenjar, kemudian akan
terjadi regresi kelenjar pada fase pasca menstruasi.

3. Kehamilan dan laktasi : pada kehamilan tua dan setelah
melahirkan, payudara kolostrum sampai sekitar 3-4 han
postpartum, kemudian sekresi susu dimulai sebagai respon
terhadap rangsang penghisapan dan bayi (sucking refleks).

4. Monopouse : Lobulus beinvolusi. Lemak menggantikan
Jenis-Jenis Tumor Jinak Payudara
Fibroadenoma
INSIDENS : Fibroadenoma merupakan neoplasma jinak yang
terutama terdapat pada wanita muda berusia 15-25 tahun.
fibroadenoma terjadi secara asimptomatik pada 25% wanita.

ETIOPATOGENESIS : Etiologi dari fibroadenoma masih belum
diketahui pasti tetapi dikatakan bahwa hipersensitivitas terhadap
estrogen pada lobul dianggap menjadi penyebabnya. Usia
menarche, usia menopause dan terapi hormonal termasuklah
kontrasepsi oral tidak merubah risiko terjadinya lesi ini. Faktor
genetik juga dikatakan tidak berpengaruh tetapi adanya riwayat
keluarga (first-degree) dengan karsinoma mammae dikatakan
meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.
GAMBARAN KLINIS : Biasanya wanita muda menyadari terdapatnya
benjolan pada payudara ketika sedang mandi atau berpakaian.
Kebanyakan benjolan berdiameter 2-3 cm, namun FAM dapat
tumbuh dengan ukuran yang lebih besar (giant fibroadenoma). Pada
pemeriksaan, benjolan FAM kenyal dan halus. Benjolan tersebut
tidak menimbulkan reaksi radang (merah, nyeri, panas), mobile
(dapat digerakkan) dan tidak menyebabkan pengerutan kulit
payudara ataupun retraksi puting (puting masuk).

DIAGNOSIS : Diagnosa bisa ditegakkan melalui pemeriksaan fisik
walaupun dianjurkan juga untuk dilakukan aspirasi sitologi. Fine-
needle aspiration (FNA) sitologi merupakan metode diagnosa yang
akurat.

PENATALAKSANAAN : Pada fibroadenoma dilakukan eksisi
dibawah pengaruh anestesi lokal atau general. Fibroadenoma
residif setelah pengangkatan jarang terjadi.
Kista Mammae
INSIDENS : Dikatakan bahwa kista ditemukan pada 1/3 dari
wanita berusia antara 35 sampai 50 tahun. Secara klasik, kista
dialami wanita perimenopausal antara usia 45 dan 52 tahun,
walaupun terdapat juga insidens yang diluar batas usia ini
terutamanya pada individu yang menggunakan terapi pengganti
hormon.

ETIOPATOGENESIS : Kista Mammae seperti fibroadenoma, kista
mammae merupakan suatu kelainan dari fisiologi normal lobular.
Penyebab utama terjadinya kelainan ini masih belum diketahui pasti
walaupun terdapat bukti yang mengaitkan pembentukan kista ini
dengan hiperestrogenism akibat penggunaan terapi pengganti
hormon. Patogenesis dari kista mammae ini masih belum jelas.
GAMBARAN KLINIS : Karekteristik kista mammae adalah licin dan teraba
kenyal pada palpasi. Kista ini dapat juga mobile namun tidak seperti
fibroadenoma. Gambaran klasik dari kista ini bisa menghilang jika kista
terletak pada bagian dalam mammae. Jaringan normal dari nodular
mammae yang meliputi kista bisa menyembunyikan gambaran klasik dari
lesi yakni licin semasa dipalpasi.

DIAGNOSIS : Diagnosis kista mammae ditegakkan melalui pemeriksaan
klinis dan aspirasi sitologi. Jumlah cairan yang diaspirasi biasanya antara 6
atau 8 ml. Cairan dari kista bisa berbeda warnanya, mulai dari kuning
pudar sampai hitam, kadang terlihat translusen dan bisa juga kelihatan
tebal dan bengkak. Mammografi dan ultrasonografi juga membantu
dalam penegakkan diagnosis tetapi pemeriksaan ini tidak begitu penting
bagi pasien yang simptomatik.

PENATALAKSANAAN : Eksisi merupakan tatalaksana bagi kista
mammae. Namun terapi ini sudah tidak dilakukan karena simple
aspiration sudah memadai. Setelah diaspirasi, kista akan menjadi
lembek dan tidak teraba tetapi masih bisa dideteksi dengan
mammografi. Walau bagaimanapun, bukti klinis perlu bahwa tidak
terdapat massa setelah dilakukan aspirasi. Terdapat dua cardinal
rules bagi menunjukkan aspirasi kista berhasil yakni (1) massa
menghilang secara keseluruhan setelah diaspirasi dan (2) cairan
yang diaspirasi tidak mengandungi darah.
Papilloma Intraduktus
INSIDENS : Papilloma Intraduktus soliter sering terjadi pada wanita
paramenopausal atau postmenopausal dengan insidens tertinggi
pada dekade ke enam.

ETIOPATOGENESIS : Etiologi dan patogenesis dari penyakit ini
masih belum jelas. Dari kepustakaan dikatakan bahwa, Papilloma
Intraduktus ini terkait dengan proliferasi dari epitel fibrokistik yang
hiperplasia.

GAMBARAN KLINIS : Hampir 90% dari papilloma intraduktus adalah
dari tipe soliter. Papilloma Intraduktus soliter sering timbul pada
duktus laktiferus dan hampir 70% dari pasien datang dengan nipple
discharge yang serous dan bercampur darah.

PENATALAKSANAAN : Umumnya, pasien diterapi secara konservatif
dan papilloma serta nipple discharge dapat menghilang secara
spontan dalam waktu beberapa minggu. Apabila hal ini tidak
berlaku, eksisi lokal duktus yang terkait bisa dilakukan. Eksisi duktus
terminal merupakan prosedur bedah pilihan sebagai
penatalaksanan nipple discharge.
Kelainan Fibrokistik
INSIDENS : Penyakit fibrokistik pada umumnya terjadi pada wanita
berusia 25-50 tahun (>50%).

GAMBARAN KLINIS : Kelainan ini terdapat benjolan fibrokistik
biasanya multipel, keras, adanya kista, fibrosis, benjolan konsistensi
lunak, terdapat penebalan, dan rasa nyeri. Kista dapat membesar
dan terasa sangat nyeri selama periode menstruasi karena
hubungannya dengan perubahan hormonal tiap bulannya. Wanita
dengan kelainan fibrokistik mengalami nyeri payudara siklik
berkaitan dengan adanya perubahan hormon estrogen dan
progesteron.

DIAGNOSIS : Kelainan fibrokistik dapat diketahui dari pemeriksaan
fisik, mammogram, atau biopsi. Biopsi dilakukan terutama untuk
menyingkirkan kemungkinan diagnosis kanker. Perubahan
fibrokistik biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di
kuadran atas maupun bawah.

PENATALAKSANAAN : Medikamentosa simptomatis, operasi
apabila medikamentosa tidak menghilangkan keluhannya dan
ditemukan pada usia pertengahan sampai usia lanjut.


Tumor Filoides
INSIDENS : Tumor ini terdapat pada semua usia, kebanyakan pada
usia 45 tahun.

GAMBARAN KLINIS : Tumor filoides adalah tipe yang jarang dari
tumor payudara, yang hampir sama dengan fibroadenoma yaitu
terdiri dari dua jaringan, jaringan stroma dan glandular. Berbentuk
bulat lonjong dengan permukaan berbenjol-benjol, berbatas tegas
dengan ukuran yang lebih besar dari fibroadenoma. Benjolan ini
jarang bilateral (terdapat pada kedua payudara), dan biasanya
muncul sebagai benjolan yang terisolasi dan sulit dibedakan dengan
FAM. Ukuran bervariasi, meskipun tumor filodes biasanya lebih
besar dari FAM, mungkin karena pertumbuhannya yang cepat.


PENATALAKSANAAN : Tumor filoides jinak diterapi dengan cara
melakukan pengangkatan tumor disertai 2 cm (atau sekitar 1 inchi)
jaringan payudara sekitar yang normal. Sedangkan tumor filoides
yang ganas dengan batas infiltratif mungkin membutuhkan
mastektomi (pengambilan jaringan payudara). Mastektomi
sebaiknya dihindari apabila memungkinkan. Apabila pemeriksaan
patologi memberikan hasil tumor filodes ganas, maka re-eksisi
komplit dari seluruh area harus dilakukan agar tidak ada sel
keganasan yang tersisa. Bottom of Form

Adenosis Sklerosis
Adenosis adalah temuan yang sering didapat pada wanita dengan
kelainan fibrokistik. Adenosis adalah pembesaran lobulus payudara, yang
mencakup kelenjar-kelenjar yang lebih banyak dari biasanya. Apabila
pembesaran lobulus saling berdekatan satu sama lain, maka kumpulan
lobulus dengan adenosis ini kemungkinan dapat diraba. Adenosis sklerotik
adalah tipe khusus dari adenosis dimana pembesaran lobulus disertai
dengan parut seperti jaringan fibrous.

GAMBARAN KLINIS : Apabila adenosis dan adenosis sklerotik cukup luas
sehingga dapat diraba, dokter akan sulit membedakan tumor ini dengan
kanker melalui pemeriksaan fisik payudara. Perubahan histologis berupa
proliferasi (proliferasi duktus) dan involusi (stromal fibrosis, regresi
epitel). Adenosis sklerosis dengan karakteristik lobus payudara yang
terdistorsi dan biasanya muncul pada mikrokista multipel, tetapi biasanya
muncul berupa massa yang dapat terpalpasi.
PENATALAKSANAAN : Biopsi melalui aspirasi jarum halus biasanya
dapat menunjukkan apakah tumor ini jinak atau tidak. Namun
dengan biopsi melalui pembedahan dianjurkan untuk memastikan
tidak terjadinya kanker.

Galaktokel
Galaktokel adalah kista berisi susu yang terjadi pada wanita yang
sedang hamil atau menyusui atau dengan kata lain merupakan
dilatasi kistik suatu duktus yang tersumbat yang terbentuk selama
masa laktasi. Galaktokel merupakan lesi benigna yang luar biasa
pada payudara dan merupakan timbunan air susu yang dilapisi oleh
epitel kuboid. Seperti kista lainnya, galaktokel tidak bersifat seperti
kanker.

GAMBARAN KLINIS : Biasanya galaktokel tampak rata, Kista
menimbulkan benjolan yang nyeri dan mungkin pecah sehingga
memicu reaksi peradangan lokal serta dapat menyebabkan
terbentuknya fokus indurasi persisten. Benjolan dapat digerakkan,
walaupun dapat juga keras dan susah digerakkan.

DIAGNOSIS : Untuk menegakkan diagnosa dilakukan skrining
sonografi, dimana akan terlihat penyebaran dan kepadatan tumor
tersebut.

PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan galaktokel dilakukan
dengan aspirasi jarum halus untuk mengeluarkan sekret susu.
Pembedahan dilakukan jika kista terlalu kental dan sulit di aspirasi

Mastitis
Mastitis adalah infeksi yang sering menyerang wanita yang
sedang menyusui atau pada wanita yang mengalami kerusakan atau
keretakan pada kulit sekitar puting.

ETIOPATOGENESIS : Kerusakan pada kulit sekitar puting tersebut
akan memudahkan bakteri dari permukaan kulit untuk memasuki
duktus yang menjadi tempat berkembangnya bakteri dan menarik
sel-sel inflamasi. Sel-sel inflamasi melepaskan substansi untuk
melawan infeksi, namun juga menyebabkan pembengkakan
jaringan dan peningkatan aliran darah.


GAMBARAN KLINIS : Pada mastitis menyebabkan payudara menjadi
merah, nyeri, dan terasa hangat saat perabaan. Terkadang sukar
dibedakan dengan karsinoma, yaitu adanya massa berkonsistensi
keras, bisa melekat ke kulit, dan menimbulkan retraksi puting susu
akibat fibrosis periduktal, dan bisa terdapat pembesaran kelenjar
getah bening aksila.

PENATALAKSANAAN : Pada mastitis dengan kondisi ini diterapi
dengan antibiotik. Pada beberapa kasus, mastitis berkembang
menjadi abses atau kumpulan pus yang harus dikeluarkan melalui
pembedahan.


Ductus Ectasia
INSIDENS : Ektasia duktus adalah kondisi yang biasanya menyerang
wanita usia sekitar 40 sampai 50 tahun dan di anggap sebagai
variasi normal proses payudara wanita usia lanjut.

GAMBARAN KLINIS : Adanya massa berupa ductus yang membesar
dicirikan dengan sekresi puting yang berwarna hijau atau hitam
pekat, dan lengket. Pada puting serta daerah disekitarnya akan
terasa sakit serta tampak kemerahan.

PENATALAKSANAAN : Kondisi ini umumnya tidak memerlukan
tindakan apapun, atau dapat membaik dengan melakukan
pengkompresan dengan air hangat dan obat-obat antibiotik.
Apabila keluhan tidak membaik, duktus yang abnormal dapat
diangkat melalui pembedahan dengan cara insisi pada tepi areola.

Nekrosis Lemak
Nekrosis lemak terjadi bila jaringan payudara yang berlemak rusak,
bisa terjadi spontan atau akibat dari cedera yang mengenai payudara.
Ketika tubuh berusaha memperbaiki jaringan payudara yang rusak, daerah
yang mengalami kerusakan tergantikan menjadi jaringan parut.

GAMBARAN KLINIS : Nekrosis lemak berupa massa keras yang sering agak
nyeri tetapi tidak membesar. Kadang terdapat retraksi kulit dan batasnya
tidak rata.

DIAGNOSIS : Karena kebanyakan kanker payudara berkonsistensi keras,
daerah yang mengalami nekrosis lemak dengan jaringan parut sulit untuk
dibedakan dengan kanker jika hanya dari pemeriksaan fisik ataupun
mammogram sekalipun.

PENATALAKSANAAN : Dengan biopsi jarum atau dengan tindakan
pembedahan eksisi


DIAGNOSIS
SADARI (Pemeriksaan payudara sendiri)

Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri adalah mendeteksi
dini apabila terdapat benjolan pada payudara, terutama yang
dicurigai ganas, sehingga dapat menurunkan angka kematian.
Meskipun angka kejadian kanker payudara rendah pada wanita
muda, namun sangat penting untuk diajarkan SADARI semasa muda
agar terbiasa melakukannya di kala tua. Wanita premenopause
(belum memasuki masa menopause) sebaiknya melakukan SADARI
setiap bulan, 1 minggu setelah siklus menstruasinya selesai.

Diagnosis Pasti
Diagnosa pasti hanya dapat ditegakan dengan pemeriksaan
histopatologis. Bahan pemeriksaan dapat diambil dengan beberapa
cara, yaitu
Biopsi aspirasi (fine needle biopsy)
Needle core biopsi dengan jarum Silverman
Excisional biopsy dan pemeriksaan frozen section (potong beku) waktu
operasi
Pemeriksaan potong beku (frozen section) waktu operasi banyak dilakukan
di senter-senter pendidikan. Ketepatan cukup tinggi 97,65 % dengan tidak
ada false positif dan hanya 0,6 % false negatif.

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat, R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3,
Jakarta, EGC, 2010, hal : 475-478.

Pierce A.G, Neil R.B, At a Glance Ilmu Bedah, Edisi 3, Jakarta,
Erlangga, 2007.

Staf pengajar bagian ilmu bedah FKUI, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah,
Jakarta, Penerbit FKUI, 2010, hal : 324-326; 333-334.

http:// emedicine.medscape.com/article/435779-overview

http://www.holoogic.com/benign-breast-tumors/