Anda di halaman 1dari 53

REFERAT

TERAPI INSULIN
Pembimbing:

dr. I Ketut Sujana, Sp. PD


dr. Amanda Trixie Hardigaloeh, Sp. PD
Disusun oleh:

Iqnasia Windy Novitasari, S. Ked


I11111059
KEPANITERAAN KLINIK MAYOR
STASE ILMU PENYAKIT DALAM
RSUD SULTAN SYARIF MUHAMMAD ALKADRIE
PONTIANAK
2016

SEKRESI INSULIN
Sekresi insulin dapat dibagi menjadi sekresi
insulin basal dan insulin prandial.
Insulin basal
jumlah insulin eksogen per unit
waktu yang diperlukan untuk mencegah
hiperglikemia puasa akibat glukoneogenesis serta
mencegah ketogenesis yang tidak terdeteksi.
Insulin prandial
jumlah insulin yang
dibutuhkan untuk mengkonversi bahan makanan
ke dalam bentuk energi cadangan sehingga tidak
terjadi hiperglikemia postprandial.

FARMAKOKINETIK OBAT
INSULIN
Human
Insulin

1. Insulin basal

Insulin
Insulin kerja menengah (intermediate-acting
Analog
insulin) atau kerja panjang (long-acting
insulin)

2. Insulin prandial
. Insulin kerja cepat (insulin reguler/shortacting insulin) atau kerja sangat cepat (rapid/
ultra-rapid acting insulin)

FARMAKOKINETIK
SEDIAAN INSULIN
Insulin / Insulin Analog
Kerja sangat cepat (ultra-rapidacting)
Insulin lispro (Humalog)
Insulin aspart (Novorapid)
Insulin glulisine (Apidra)
Kerja pendek (short-acting)
Reuler (Human) Humulin
R/ Actrapid
Keja menengah (intermediateacting)
NPH (Human) Humulin
N/ Insulatard
Kerja panjang (long-acting)
Insulin glargine (Lantus)
Insulin detemir (Levemir)

Nama & Tempat


Pabrik

Profil Kerja
(Jam)
Awal

Punca
k

0.2-0.5
0.2-0.5
0.2-0.5

0.5-2
0.5-2
0.5-2

Eli Lilly Novo Nordisk

0.5-1

2-3

Eli Lilly Novo Nordisk

1.5-4

4-10

1-3
1-3

Tanpa
punca

Eli Lilly
Novo Nordisk
Aventis
Pharmaceutials, Inc

Aventis
Pharmaceutials, Inc

FARMAKOKINETIK INSULIN
Insulin / Insulin Analog

Nama & Tempat


Pabrik

Profil Kerja
(Jam)
Awal

Punc
ak

Campuran (mixtures,
manusia)
Eli Lily/ Novo Nordisk
0.5-1 3-12
70/30 Humulin/ Mixtard
(70% NPH, 30% reguler)
Eli Lily/ Novo Nordisk
0.5-1 3-12
50/50 Humulin
(50% NPH, 50% reguler)*
Campuran (mixtures,
Eli Lily
0.21-4
insulin analog)
0.5
75/25 Humalog
Eli Lily
1-4
(75% NPL, 25% lispro)
0.250/50 Humalog
Novo Nordisk
0.5
1-4
(50% NPL, 50% lispro)
70/30 Novomix 30
0.2(70% protamine aspart,
0.5
30% aspart)
50/50 Novomix
NPH =(50%
Neutral
Protamine Hagedon;
protamine
aspart,NPL = Neutral Protamine Lispro; * = belum beredar

INDIKASI TERAPI
INSULIN

Mencegah kerusakan endotel


Menekan proses inflamasi
Mengurangi kejadian apoptosis
Memperbaiki profil lipid

Insulin
Analog

Jenis yang baik karena


memiliki profil sekresi
yang sangat mendekati
pola sekresi insulin
normal atau fisiologis.

INDIKASI TERAPI
INSULIN
Awalnya ditujukan untuk pasien

DMT1
Pada pasien DMT 2 dengan:
Kegagalan terapi oral
Kendali kadar glukosa darah yang buruk
(A1c>7,5 % atau kadar glukosa darah puasa
>250 mg/dL)
Riwayat pankreatektomi, atau disfungsi
pankreas
Riwayat fluktuasi kadar glukosa darah yang
lebar
Riwayat ketoasidosis
Riwayat penggunaan insulin >5 tahun
Penyandang DM >10 tahun

ALUR PEMBERIAN
INSULIN
Kapan mulai

diberikan?
Pasien DMT1
injeksi harian multipel, bisa
menggunakan pompa insulin/ CSII.
Jika kadar glukosa darah tidak terkontrol dengan
baik (A1C > 6.5%) dalam jangka waktu 3 bulan
dengan 2 obat oral terapi kombinasi OAD dan
insulin.
Bila kadar GDP >250g/dL, kadar GD2PP
>300mg/dL, A1C >10%, atau ditemukan
ketonuria
terapi insulin & intervensi pola
hidup.

ALUR PEMBERIAN
INSULIN
Pasien DM (poliuria, polidipsi, polifagia, &
penurunan BB) pada DMT1 & DMT2 dengan
defisiensi insulin yang berat
terapi insulin
(gejala hilang
OAD, insulin stop).

DOSIS TERAPI INSULIN


PADA DMT 1

Konsensus PERKENI 2006 dan Konsensus ADA EASD tahun 2006

BERBAGAI REJIMEN
SUNTIKAN INSULIN MULTIPEL

KOMBINASI TERAPI
INSULIN
Selama 3 tahun terakhir, efektivitas
menggabungkan GLP-1 reseptor agonis dengan
insulin basal telah dibuktikan; sedikit lebih
unggul untuk keberhasilan dengan
penambahan insulin prandial, dengan
penurunan berat badan dan hipoglikemia
berkurang. Data yang tersedia saat ini
menunjukkan bahwa baik GLP-1 reseptor agonis
atau insulin prandial dapat digunakan dalam
terapi ini, dengan obat sebelumnya bisa dibilang
lebih aman, setidaknya untuk hasil jangka
pendek.

KOMBINASI TERAPI
INSULIN
Pada pasien yang tidak merespon dengan
penambahan GLP-1 agonis reseptor & insulin
basal, penyuntikan insulin "basal bolus" harus
digunakan
sebagai
gantinya.
Penambahan
inhibitor SGLT2 pada pasien tahap ini mungkin
lebih meningkatkan kontrol dan mengurangi
jumlah insulin yang dibutuhkan. Hal ini terutama
bila dibutuhkan dosis insulin yang besar pada
pasien gemuk yang resisten insulin.

KOMBINASI TERAPI
INSULIN & OAD
Kombinasi OAD sering diberikan pada pasien
DMT2/ DMT1 yang memiliki resistensi insulin
(kebutuhan insulin >40 U/hari).
Pasien dengan kegagalan sekunder sulfonilurea
dini, penambahan insulin sebelum tidur cukup
mencapai sasaran glikemik.
Rejimen kombinasi antara insulin sebelum tidur &
OAD siang hari terbukti berhasil diterapkan pada
banyak pasien DMT2.

KOMBINASI TERAPI
INSULIN & OAD
Penggunaan metformin/ glitazon secara
bersamaan dengan insulin bermanfaat pada
pasien resistensi insulin.
Metformin dapat me peningkatan BB yang
sering ditemukan pada pasien yang
mendapatkan terapi insulin.
Penambahan obat golongan inhibitor alfaglukosidase juga dapat mengurangi jumlah
suntikan insulin per harinya.

PROFIL KADAR GULA YANG SERING


DITEMUKAN PADA PASIEN DM YANG
MEMERLUKAN INSULIN

PROFIL KADAR GULA YANG SERING


DITEMUKAN PADA PASIEN DM YANG
MEMERLUKAN INSULIN

* NPH = neutral protamine Hagedorn; OAD = oral antiglycemic drug.


Efikasi dan keamanan rejimen insulin dipilih sesuai dengan uji klinis (evidence-based
recommendation).
NPH dua kali/hari dipilih sebagai terapi pilihan pertama untuk menghindari mahalnya
insulin analog/ premixed insulin karena pada pasien ini sering dibutuhkan insulin dosis

TERAPI INSULIN UNTUK


PASIEN HIPERGLIKEMIA YANG
DIRAWAT DIAda
RUMAH
SAKIT
2

kelompok
I : Perlu perawatan di ruang intensif (pasien
ketoasidosis, pascaoperasi, atau sepsis).
Insulin infus (drip) IV
atau IM
II : Tidak perlu perawatan di ruang intensif
(pasien praoperatif atau pasien dengan penyakit
yang tidak gawat).
SC/ CSII dan OAD

SASARAN KENDALI
GLUKOSA DARAH
Terapi insulin intensif untuk mempertahankan
kadar glukosa darah < 110 mg/dL dapat
menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien di
unit perawatan intensif.
Puasa/ sebelum makan: 80-110 mg/dL
1 jam setelah makan: < 180 mg/dL
Pasien bedah dan keadaan kritis: 80-110 mg/dL

Clement, 2004; Campbell, 2004, modified

CARA PEMBERIAN
INSULIN
Dalam pemberian terapi insulin bagi pasien yang
dirawat di rumah sakit dikenal istilah insulin
koreksi atau insulin suplemen.
Insulin koreksi
jumlah insulin yang diperlukan
pasien di rumah sakit akibat kenaikan kebutuhan
insulin yang disebabkan adanya suatu penyakit
atau stres.

CARA PEMBERIAN
INSULIN
Kebutuhan insulin : insulin basal
50%
kebutuhan total insulin/ hari atau 0,02 U/kgBB;
insulin prandial
50% dari kebutuhan total
insulin/hari; dan insulin koreksi sekitar 10-20%
dari kebutuhan total insulin/hari.
Menghitung karbohidrat (carbohydrate counting).
Perhitungannya, untuk setiap 15 gr karbohidrat
(60 kal = dibutuhkan 1 unit insulin). Usia dan BB
mempengaruhi kebutuhan insulin untuk
karbohidrat yang dikonsumsi.

INSULIN INFUS
INTRAVENA
Sasaran & batas kadar glukosa darah untuk
memulai pemberian terapi insulin tergantung dari
setiap kasus yang dihadapi. Pada pasien bedah
yang kritis (sakit berat/gawat), sasaran kadar
glukosa darah lebih rendah daripada pasien
penyakit kritis nonbedah atau penyakit bedah
tidak kritis.
Indikasi insulin infus intravena : pada pasien
kritis/akut seperti hiperglikemia gawat darurat,
infark miokard akut, stroke, fraktur, infeksi
sistemik, syok kardiogenik, pasien transplantasi
organ, edema anasarka, kelainan kulit yang luas,

KISARAN SASARAN KADAR GLUKOSA DARAH

BATAS KADAR GLUKOSA DARAH PUASA UNTUK


MEMULAI TERAPI INSULIN DRIP INTRAVENA

INDIKASI INSULIN INFUS


INTRAVENA PASIEN BUKAN
HAMIL

Clement et al, 2004; Endocr Pract. 2004; 10 (Suppl 2): 71-80

PROTOKOL INSULIN INFUS INTRAVENA


BAGI PASIEN PASCABEDAH YANG
DIRAWAT DI RUANG INTENSIF

Van den Berghe, 2001

PROTOKOL INSULIN
INFUS INTRAVENA
Infus D5% 100cc/jam
Per syringe pump, siapkan 50 unit insulin reguler
(RI) dalam spuit berukuran 50 cc, encerkan
dengan larutan NaCl 0,9 % hingga mencapai 50
cc (1 cc NaCl = 1 unit RI). Bila diperlukan 1,5 unit
insulin/jam, petugas tinggal mengatur kecepatan
tetesan 1,5 cc/jam.
Dapat pula diberikan 125 RL dalam 250 ml
larutan NaCl 0,9%, yang berarti setiap 2 cc NaCl
= 1 unit RL.

PROTOKOL INSULIN
INFUS INTRAVENA
Bila tidak tersedia syringe pump, dapat
digunakan botol infus 500 cc larutan NaCl 0,9%.
Masukkan 12 unit RI ke dalam botol infus 500 cc
larutan NaCl 0.9%.
Bila dibutuhkan 1 unit insulin/jam, maka dalam
botol infus yang berisi 12 unit RI, diatur
kecepatan tetesan 12 jam/botol, sehingga 12 unit
RI akan habis dalam 12 jam. Bila dibutuhkan 2
unit perjam, kecepatan tetesan infus diatur
menjadi 6 jam/botol, karena 12 unit RI akan habis
dalam 6 jam, demikian seterusnya, tetesan diatur
sesuai permintaan.

PERALIHAN INSULIN INFUS


INTRAVENA KE INSULIN
SUBKUTAN
Terapi insulin infus intravena dapat dihentikan 2
jam setelah pemberian insulin subkutan.
Kebutuhan insulin subkutan dihitung berdasarkan
total kebutuhan insulin infus intravena dalam 24
jam. Dosis total harian insulin subkutan adalah
80% dari dosis total insulin infus intravena
selama 24 jam. Dosis total harian tersebut dibagi
menjadi dosis insulin basal dan insulin bolus
subkutan. Dosis insulin basal adalah sebesar 50%
dari dosis harian total.

PERALIHAN INSULIN INFUS


INTRAVENA KE INSULIN
SUBKUTAN
Jenis insulin yang diberikan biasanya long acting
insulin (lebih baik digunakan insulin yang tidak
memiliki puncak kerja/peak, seperti insulin
glargine atau detemir).
Dosis insulin bolus subkutan adalah 50% dari
dosis harian total subkutan. Dalam
pemberiannya, dosis dibagi rata sesuai jumlah
kali makan, umumnya 3 kali/hari. Jenis insulin
yang diberikan berupa short atau rapid acting
insulin.

CARA PERHITUNGAN
INSULIN SUBKUTAN

Bode et al, 2004

INSULIN SUBKUTAN
Ada beberapa bentuk pemberian insulin
subkutan:
Insulin terjadwal (scheduled atau programmed
insulin)
Insulin koreksi
Insulin terjadwal
kebutuhan insulin basal &
insulin prandial. Insulin basal diberikan
menggunakan CSII, insulin kerja intermediate
(NPH/ premixed) 2-4x sehari, atau insulin analog
kerja panjang. Insulin prandial dipenuhi dengan
insulin kerja cepat (insulin regular atau rapid
acting insulin analog). Insulin tersebut diberikan

TERAPI INSULIN
SUBKUTAN

Jika dimulai dengan pemberian NPH (bukan glargine/ detemir), maka dosis
yang diberikan 0,25 U/kgBB NPH saat makan pagi & sebelum tidur (0,15
U/kgBB bila kuatir terjadi hipoglikemia ; 0,35 U/kg untuk kondisi dengan
peningkatan kebutuhan insulin basal). Selain itu, tetap diberikan 0,1 U/kgBB

TERAPI INSULIN PADA


PASIEN PERIOPERARTIF
Kendali metabolik (kadar glukosa darah puasa <
140 mg/dL, kadar glukosa darah 2 jam setelah
makan <200 mg/dL), serta menentukan keadaan
kardiovaskular, neurologi, dan fungsi ginjal.
Penatalaksanaan pasien DM perioperatif
tergantung dari berat ringannya tindakan
pembedahan.
OAD/ insulin dapat
diteruskan bila
terkendali

OPERASI KECIL

Pasien
anestesi/dipuasakan:
Perlu infus insulin &
glukosa dan
pemantauan kadar
Pemberian infus insulinglukosa
& glukosa
darah/jam
dapat diberikan
secara terpisah, misalnya insulin kerja singkat
dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,9% dengan
konsentrasi 0,5 unit/ml & larutan dekstrose 5%
atau 10% tergantung keperluan.

OPERASI BESAR

Infus insulin ditambahkan pada infus dekstrosa


dan kecepatan infus disesuaikan dengan kadar
glukosa darah.
Pada operasi yang memerlukan pembatasan
cairan seperti pada pasien gagal ginjal dan
penyakit jantung kongestif, sebagai asupan

operasi jantung &


pintas
kardiopulmonar:
perlu dosis insulin
tinggi
Kadar glukosa darah yang baik
pada persiapan
dan selama operasi dipertahankan pada kadar
100125 mg/dL.

OPERASI BESAR

Hal yang perlu mendapat perhatian pada pasien


DM yang memerlukan tindakan operasi darurat
adalah waktu terakhir mendapat suntikan insulin
dan penilaian status metabolik melalui
pemantauan kadar glukosa darah.
Pasien yang akan menjalani operasi elektif,
pemberian insulin umumnya dimulai apabila
ditemukan kadar glukosa darah lebih dari 140

OPERASI BESAR
Pasien DM di ruang intensif yang akan menjalani
operasi, insulin dapat mulai diberikan bila kadar
glukosa darah >110 mg/dL.
Target kadar glukosa darah yang diinginkan untuk
pasien kritis yang akan menjalani operasi adalah
80 110 mg/dL, sementara untuk pasien dengan
operasi lainnya, target kadar glukosa darah
adalah 90-140 mg/dL.

PENATALAKSANAAN PASCA
TINDAKAN OPERASI
Operasi Besar:
Infus dekstrosa & insulin
diteruskan

Insulin subkutan sesuai


kebutuhan
Pasien yang memerlukan nutrisi enteral
insulin kerja singkat/6 jam
Pasien yang tidak bisa makan & harus mendapat
nutrisi parenteral
gangguan metabolik yang
berat
Kadar glukosa darah dipertahankan pada kisaran
80 110 mg/dL untuk pasien kritis dan kisaran 90
140 mg/dL untuk pasien operasi lainnya.

KRISIS HIPERGLIKEMIA:
KETOASIDOSIS DIABETIK DAN
STATUS HIPERGLIKEMIA
HIPEROSMIOLAR
Kekuranga
n insulin

Komplikasi metabolik
akut paling serius
KAD

Hiperglike
mi berat
SHH

Hiperglikemia, dehidrasi Defisiensi insulin yang


yang berat, produksi
relatif (terhadap
keton meningkat serta
kebutuhan insulin)
asidosis. Diagnosis
menimbulkan
ditegakkan bila ditemukan dehidrasi dan akhirnya
hiperglikemia ( 250
menyebabkan kondisi
mg/dL), ketosis darah
hiperosmolaritas

Koreksi: Gangguan keseimbangan


cairan & elektrolit, kadar glukosa
darah, gangguan asam basa,
serta mengobati faktor pencetus

TERAPI

Prinsip:
Pemberian cairan, terapi insulin, koreksi kalium,
dan bikarbonat.

INSULIN INFUS IV DOSIS RENDAH


BERKELANJUTAN
Insulin regular IV memiliki waktu paruh 45 menit,
sementara pem-berian insulin IM atau SC memiliki
waktu paruh sekitar 24 jam.

INSULIN INFUS IV DOSIS


standar baku
RENDAH BERKELANJUTAN
pemberian insulin
Pemberian insulin infus IV dosis rendah 48
unit/jam meng-hasilkan kadar insulin sekitar 100
uU/ml dan dapat menekan glukoneogenesis dan
lipolisis sebanyak 100%.
Cara pemberian dikaitkan dengan komplikasi
metabolik seperti hipoglikemia, hipokalemia,
hipofosfatemia, hipomagnesema,
hiperlaktatemia, dan disequilibrium osmotik yang
lebih jarang dibandingkan dengan cara terapi
insulin dengan dosis besar secara berkala/
intermiten.

INSULIN
INTRAMUSKULAR
Terapi insulin intramuskular dosis rendah (5 U)
yang diberikan secara berkala (tiap 12 jam)
sesudah pemberian insulin dosis awal (loading
dose) sebesar 20 m juga merupakan cara terapi
insulin pada pasien KAD.
Cara tersebut terutama dijalankan di pusat
pelayanan medis yang sulit memantau
pemberian insulin infus intravena berkelanjutan.
Pemberian insulin intramuskular tersebut
dikaitkan dengan kadar insulin serum sekitar 60
90 U/dL.

PANDUAN CARA PEMBERIAN


INSULIN PADA PASIEN KAD
DAN SHH DEWASA

INSULIN SUBKUTAN
Apabila pasien dalam keadaan syok/ kadar
kalium awal <3,3 mEq/L, resusitasi dengan cairan
IV/ suplemen kalium harus diberikan lebih dahulu
sebelum infus insulin dimulai.
Insulin infus IV 5-7 U/jam seharusnya mampu
menurunkan kadar glukosa darah sebesar 5075
mg/dL/jam serta dapat menghambat lipolisis,
menghentikan ketogenesis, dan menekan proses
glukoneogenesis di hati.

INSULIN SUBKUTAN
Bila faktor-faktor lain penyebab penurunan kadar
glukosa darah sudah dapat disingkirkan &
penurunan kadar glukosa darah <50 mg/dL/jam,
maka kecepatan infus insulin perlu ditingkatkan.
Bila kadar glukosa darah sudah turun < 250
mg/dL, dosis insulin infus harus dikurangi menjadi
0,05-0,1 U/kgBB/jam sampai pasien mampu
minum/ makan.

KOMPLIKASI
1.
2.
3.
4.
5.

Hipoglikemia
Peningkatan berat badan
Edema insulin
Reaksi lokal terhadap suntikan insulin
Alergi

AN &
KERUGIAN
TERAPI
INSULIN
Diberikan sesuai
protokol
Ketrampilan
(skill-based)
Cara atau protokol
(rule-based)
Pengetahuan
(knowledge-based)

5 besar
high-risk
medication
Kesalahan
Hiperglikemia &
Hipoglikemia
Penyebab
Jatuh, mual, muntah,
respon hipertensi yang
mengakibatkan iskemia
miokard
Sebelum pembedahan
(DMT1) mengakibatkan

TERIMAKASIH