Anda di halaman 1dari 20

KEHAMILAN EKTOPIK

DAN
MOLA HIDATIDOSA

Nama Kelompok :
Abdul Rosyid
Suripto
Lina
Sri Murni
Andriana Sujani
Veby R
KEHAMILAN EKTOPIK

Apa itu Kehamilan Ektopik??

Kehamilan ektopik juga dikenal dengan istilah


kehamilan di luar kandungan. Alasannya cukup masuk
akal yakni karena pada kasus kehamilan ektopik, sel
telur yang sudah dibuahi oleh sperma tidak
berkembang di dalam rahim melainkan tetap berada di
saluran telur (tuba falop)i. Jika sel telur yang sudah
dibuahi tetap berada pada saluran tersebut, saluran
telur tersebut dapat pecah seiring berkembangnya sel
telur tersebut menjadi janin. Kehamilan ektopik dapat
menimpa 1 dari 50 kehamilan.
PENYEBAB
• Penyebab kehamilan ektopik pada satu wanita dan
wanita lainnya dapat berbeda. Bahkan pada seorang
wanita yang mengalami kehamilan ektopik bisa
terjadi oleh adanya satu bahkan lebih dari satu
faktor penyebab kehamilan ektopik. Beberapa
penyebab kehamilan ektopik, yaitu:
• Infeksi atau inflamasi yang terjadi di saluran telur
atau yang disebut dengan tuba falopi sehingga
menyebabkan terjadinya penyumbatan pada saluran
tersebut.
• Penggunaan alat kontrasepsi.
• Riwayat penyakit atau inflamasi yang terjadi pada
bagian pelvis.
• Bekas luka pada jaringan akibat infeksi atau operasi
yang terjadi pada tuba falopi bisa menghalangi
pergerakan sel telur.
• Prosedur operasi yang pernah dilakukan di area
pelvis bisa menyebabkan pelengketan pada saluran
tersebut.
• Ketidaknormalan bawaan lahir yang terjadi pada
tuba falopi.
• Ada riwayat kehamilan ektopik sebelumnya.
• Terjadinya penyakit seksual yang menular seperti
gonorrhea.
• Operasi sterilisasi atau ligase yang kurang berhasil
sehingga dapat menimbulkan efek penyumbatan
pada saluran telur.
• Penggunaan obat – obatan penyubur.
• Melakukan treatment untuk mengurangi atau
menghilangkan kesuburan seperti in vitro
fertilization.
GEJALA

 Kram pada bagian bawah yang menimbulkan rasa


sakit yang sangat tajam.
 Sakit yang sangat pada bagian leher, bahu dan atau
anus.
 Sakit pada salah satu bagian tubuh.
 Rasa pusing dan rasa lemah yang sering terjadi.
 Sakit pada perut bagian bawah.
 Rasa mual dan muntah yang disertai dengan rasa
sakit.
 Pendarahan ringan pada vagina.
 Pendarahan berat juga dapat terjadi jika tuba falopi
atau saluran telur pecah yang dapat juga
mengakibatkan pingsan.
DIAGNOSA

 Tes kehamilan
Untuk \mengetahui apakah benar-benar mengalami kehamilan
ektopik, selanjutnya dokter akan menganjurkan untuk
menjalani tes kehamilan sebagai langkah pertama untuk
mendiagnosa kehamilan ektopik.
 Pemeriksaan area pelvis
Pemeriksaan area pelvis ditujukan untuk melihat apakah ada
ketidaknormalan pada kehamilan anda atau tidak.
 Tes menggunakan ultrasound
Tes ultrasound ini dilakukan untuk melihat apa yang terjadi
pada saluran telur atau tuba falopi dan juga untuk mendeteksi
jika ada ketidaknormalan pada bagian uterus. Tes ultrasound
juga digunakan untuk melihat apakah fetus atau janin tumbuh
di tempat yang benar atau tidak.
 Pemeriksaan hormone hCG
Tes atau pemeriksaan hormone hCG juga sangat penting.
Hormon hCG atau human chorionic gonadotropin adalah sebuah
hormone yang hanya diproduksi saat seorang wanita hamil.
Tingkat hormone hCG yang rendah juga bisa menjadi indikasi
bahwa kehamilan adalah kehamilan ektopik.
 Pengecekan hormone progesterone
Pengecekan hormone progesterone juga dapat dilakukan
untuk mendiagnosa apakah seorang wanita mengalami
kehamilan yang normal atau tidak. Apabila ketika seorang
wanita yang sedang hamil memiliki tingkat hormone
progesterone rendah, maka bisa diindikasi bahwa ada yang
tidak normal pada kehamilannya.
 Culdocentesis
Culdocentesis merupakan sebuah prosedur medis yang
dilakukan sebagai salah satu cara untuk mendiagnosa
terjadinya kehamilan ektopik. Saat dilaksanakannya
prosedur ini, dokter akan memasukan sebuah jarum ke
bagian atas vagina, tepatnya di belakang uterus, dan di
depan rectum atau anus. Jarum tersebut digunakan untuk
mengambil sampel darah yang dapat menjadi indikasi
adanya pendarahan dari pecahnya tuba falopi.
PENGOBATAN

 Prosedur operasi
Pemeriksaan tuba falopi dilakukan untuk melihat pecah atau
tidaknya tuba falopi, yang akan menentukan langkah
tindakan selanjutnya. Jika tuba falopi sudah terdampak dan
pecah, operasi yang dilakukan akan ditujukan untuk
mengangkat embrio atau janin.
Selain itu tuba falopi dan ovarium yang sudah rusak juga akan
ikut diangkat. Operasi bedah juga dilakukan untuk
menghentikan pendarahan yang terjadi.
 Pembedahan laparoscopic
Pembedahan laparoscopic dilakukan jika tuba falopi belum
pecah atau belum rusak. Prosedur semacam ini akan
mengharuskan pengangkatan embrio dan setelah itu tuba falopi
yang sudah rusak akan diperbaiki melalui
pembedahan laparoscopic ini.
 Pemberian Methotrexate
Methotrexate diberikan untuk menghambat pertumbuhan sel
janin sehingga tuba falopi bisa terhindar dari kerusakan. Selain
itu, methotrexate juga bisa memungkinkan tubuh untuk
menyerap jaringan kehamilan agar pertumbuhan embrio bisa
terhenti dan tuba falopi pun tidak terkena imbasnya.
 Pemberian obat
Jika usia kehamilan belum begitu lama serta tuba falopi pun
belum rusak, pemberian obat memungkinkan
untuk menghentikan pertumbuhan embrio.
 Tes darah
Tes darah sebagai upaya pengobatan kehamilan ektopik bisa
dilakukan setelah melakukan prosedur operasi atau
pembedahan. Tes darah dilakukan untuk mengetahui apakan
saluran telur sudah benar-benar di ambil dan tidak mengalami
infeksi atau pendarahan lanjutan.
Satu hal yang perlu diingat adalah, infeksi yang terjadi di dalam
tuba falopi atau di area pelvis bukanlah merupakan faktor
penyebab terjadinya kehamilan ektopik. Jika infeksi terjadi
pada saluran telur atau pada area pelvis, yang harus diwaspadai
adalah bekas luka dari infeksi tersebut. Upaya pengobatannya
pun harus benar – benar- diawasi karena takutnya akan
meninggalkan luka yang dapat menjadi penyebab tersumbatnya
saluran telur atau tuba falopi yang selanjutnya dapat
menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik.
PENCEGAHAN
Jika tidak ingin mengalami kehamilan ektopik, mulai
dari sekarang perlu melakukan hal-hal berikut ini
sebagai upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan
ektopik :
 Hindari melakukan hubungan seksual dengan
berganti-ganti pasangan karena dapat menularkan
penyakit seksual.
 Jaga kebersihan alat reproduksi untuk menghindari
terjadinya infeksi atau inflamasi pada area pelvis.
 Jika seorang perokok, berhentilah mulai sekarang
juga jika sedang berencana memiliki keturunan.
Berhenti merokok dapat mengurangi resiko
terjadinya ketidaknormalan pada janin serta
kehamilan.
 Berkonsultasi terlebih dahulu pada dokter sebelum
merencanakan kehamilan.
FAKTOR RESIKO
Ada beberapa wanita yang memiliki resiko tinggi
mengalami kehamilan ektopik. Tidak hanya perlu
mewaspadai, wanita yang masuk kategori di bawah ini
ada baiknya melakukan konsultasi diri ke dokter
sebelum merencanakan kehamilan. Berikut ini kategori
wanita yang beresiko tinggi mengalami kehamilan
ektopik:
 Memiliki riwayat kehamilan ektopik pada kehamilan
sebelumnya.
 Pernah menjalani operasi pelvis atau perut.
 Hamil di usia 35 tahun hingga 44 tahun.
 Pernah menjalani aborsi
 Menderita penyakit inflamasi pelvis
 Pernah menjalani prosedur treatment kesuburan
 Mengkonsumi obat – obat untuk treatment
kesuburan
 Wanita perokok
 Menderita endometriosis
KLASIFIKASI PEMBAGIAN TEMPAR-TEMPAT
KEHAMILAN EKTOPIK

 Kehamilan tuba
 Kehamilan intramuralis ( Intertisial )

 Kehamilan isthmus

 Kehamilan ovarial

 Kehamilan abdominal

 Kehamilan servikal
PERTANYAAN YANG SERING DIAJUKAN
Apakah seorang dengan riwayat kehamilan
ektopik bisa hamil kembali dengan normal?

 Ya, tentu saja. Ada anggapan yang berkembang di


masyarakat jika seorang wanita yang sebelumnya
mengalami kehamilan ektopik maka ia tidak bisa
mengalami kehamilan normal, bahkan ia tidak dapat
hamil lagi. Dan, ternyata anggapan tersebut adalah
salah.
 Walaupun seorang wanita pernah mengalami
kehamilan ektopik sebelumnya dan pernah menjalani
prosedur pengangkatan tuba falopi atau saluran
telur, ia tetap bisa hamil bahkan dengan normal
asalkan satu saluran telur lainnya tetap berfungsi
dengan normal. Maka ia masih memiliki
kemungkinan yang sangat besar untuk hamil dan
memiliki seorang anak.
Apakah kehamilan ektopik bisa kembali
lagi??

 Kehamilan ektopik bisa terjadi karena penyakit


menular, namun jika yang dialami oleh penyakit
seksual yang menular namun yang tergolong
dapat disembuhkan, maka pertama-tama anda
harus memastikan apakah benar-benar sudah
sembuh total dari penyakit tersebut jika ingin
hamil normal.
Apakah ada jangka waktu untuk hamil kembali,
setelah mengalami kehamilan ektopik?

 Jika telah mengalami kehamilan ektopik, akan ada jeda


waktu yang diberikan atau disarankan dokter sebelum
hamil kembali. Karena jeda waktu ini adalah ditujukan
untuk masa pemulihan fisik dan mental anda sebelum
hamil kembali. Biasanya dokter akan menyarankan waktu
tiga hingga enam bulan sebagai masa pemulihan.
 Pada selang waktu tersebut, pasien belum boleh hamil
kembali karena resikonya akan tinggi baik itu akan
mengganggu kesehatan atau bahkan bisa mengalami
kehamilan ektopik kembali. Pada setiap kasus kehamilan
ektopik, kemungkinan dokter akan menganjurkan masa
pemulihan yang berbeda. Jadi, tidak perlu khawatir
untuk tidak dapat hamil kembali.
MOLA HIDATOSA

 kelainan di dalam kehamilan dimana jaringan


plasenta (ari-ari) berkembang dan membelah
terus menerus dalam jumlah yang berlebihan.
PENYEBAB MOLA HILDATOSA

 Sejauh ini penyebabnya masih belum diketahui.


 Diperkirakan bahwa faktor-faktor seperti
gangguan pada telur, kekurangan gizi pada
ibu hamil, dan kelainan rahim berhubungan
dengan peningkatan angka kejadian mola.
 Wanita dengan usia dibawah 20 tahun atau
diatas 40 tahun juga berada dalam risiko tinggi.
 Mengkonsumsi makanan rendah protein, asam
folat, dan karoten juga meningkatkan risiko
terjadinya mola.
KOMPLIKASI MOLA

 Mual dan muntah yang parah yang


menyebabkan 10% pasien masuk RS.
Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan
usia kehamilan (lebih besar).
 Gejala – gejala hipertiroidisme seperti
intoleransi panas, gugup, penurunan BB yang
tidak dapat dijelaskan, tangan gemetar dan
berkeringat, kulit lembab4.Gejala – gejala pre-
eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan
tungkai, peningkatan tekanan darah, proteinuria
(terdapat protein pada air seni).
PENCEGAHAN HIDATIDOSA

 Karena pengertian dan penyebab dari mola


masih belum diketahui secara pasti maka
kejadian mola hidatidosa sulit untuk dicegah.
Bagaimanapun juga, nutrisi ibu yang baik dapat
menurunkan risiko terjadinya mola.
TRIMAKASIH