Anda di halaman 1dari 31

KISTA DAN ABSES

BARTHOLINI
Fauzul Azmi 1010312101
Joko Purnama 1740312423

Pembimbing:
dr. Syahrial Syukur, Sp.OG.
BAB I
Latar Belakang
• Kelenjar bartholin  mengeluarkan lendir yang berfungsi
sebagai pelumas vulva dan vagina saat koitus.
• Obstruksi duktus Bartholin  retensi sekret kelenjer
bartholin sehingga terjadinya dilatasi duktus dan
terbentuklah kista
• Infeksi kista akan  terbentuknya abses ditandai dengan
gejala nyeri hebat, dispareunia, demam dan keterbatasan
aktivitas fisik
• Pemeriksan fisik teraba massa berfluktuasi (kistik)
• ada discharge dari kelenjar  dikultur dan uji sensitivitas
• Sering Bacteroides spp. dan Escherichia coli.
• Penatalaksanaan konservatif antara lain warm sitz bath,
kompres, pemberian analgesik dan antibiotik jika
diperlukan
• Marsupialisasi juga dapat digunakan
• Komplikasi : relaps, nyeri hebat, dispareunia, kesulitan
dalam berjalan, trauma psikologis dan ketidakharmonisan
perkawinan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
• Anatomi
- Kelenjar Bartholini : organ genitalia eksterna, berada di
sebelah dorsal dari bulbus vestibulli
- Saluran keluar bermuara pada celah diantara labium
minus pudendi dan tepi hymen.
- Kelenjar ini tertekan saat coitus dan sekresinya untuk
membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian
caudal.
Anatomi
• Perdarahi : arteri bulbi vestibuli; dipersyarafi : N.
pudendus dan N. hemoroidal inferior.
• Tersusun dari jaringan erektil dari bulbus  sensitif saat
rangsangan seksual mensekresi mukoid sebagai
lubrikan.
• Normalnya kelenjar Bartholini tidak teraba pada
pemeriksaan palpasi
Histologis
• Di bentuk O/ epitel kolumnair atau kuboid.
• Duktus nya epitel transisional secara embriologi 
daerah transisi antara traktus urinarius dg traktus genital
Fisiologi
• Berfungsi mensekresikan cairan ke permukaan vagina.
Mukosa kelenjar dilapisi oleh sel-sel epitel kubus
• Oleh sel-sel epitel transisional. Duktus ini bermuara
diantara labia minor dan himen dan dilapisi epitel
skuamosa. Sehingga kelenjar ini dapat menjadi Ca sel
skuamosa dan adenokarsinoma.
Fisiologi
• Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan
pelumas vagina.
• Kelenjar Bartholini mengeluarkan lendir yang relatif
sedikit sekitar 1 atau 2 tetes cairan sebelum seorang
wanita orgasmeCairan sedikit membasahi permukaan
labia dan vagina, sehingga kontak dengan daerah sensitif
menjadi lebih nyaman bagi wanita
Definisi
• Kista kantung isinya cairan atau bahan semisolid
terbentuk di bawah kulit atau suatu tempat dalam
tubuh.
• Jika saluran kel. infeksi  saluran kelenjar 
melekat satu sama lain timbulnya sumbatan
• Cairan yang dihasilkan akan terakumulasikelenjar
membengkak dan membentuk suatu kista.
• Abses Bartolinia adalah penumpukan nanah yang
membentuk benjolan (pembengkakan) di salah satu
kelenjar Bartholin yang terletak di setiap sisi lubang
vagina.
Epidemologi
• Kista Bartholini, umum terjadi pada labia minora. Involusi
bertahap dapat terjadi pada saat seorang wanita
mencapai usia 30 tahun.
• Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista
Bartholini atau abses di dalam hidup mereka
• Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20
sampai 30 tahun
Etiologi
• ketika saluran keluar dari kelenjar Bartholini tersumbat.
Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar kemudian
terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan
membentuk suatu kista
• Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.
• Penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore
Etiologi
• Obstruksi distal saluran Bartholini bisa mengakibatkan
retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus
dan pembentukan kista
• Kista Bartholini tidak selalu harus terjadi sebelum abses
kelenjar.
• Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab umum
kista dan abses tersebut
Patofisiologi
• Kista bartholini terjadi karena adanya sumbatan pada
salah satu ductus bartholini sehingga mukus yang
dihasilkan tidak dapat disekresi akumulasi cairan
sekresi.
• Sumbatan disebabkan oleh mukus yang mengental,
infeksi inflamasi kronik.
• Dinding kelenjar / kista mengalami peregangan dan
meradang pembuluh darah pada dinding kista
terjepit  tidak mendapatkan pasokan darah
sehingga jaringan menjadi mati (nekrotik).
• Karena letaknya di vagina bagian luar, kista akan
terjepit t saat duduk & berdiri rasa nyeri disertai
dengan demam
Diagnosis
• Anamnesis
- Kista kelenjar Bartholini kecil dan tanpa gejala
- Saat lesi menjadi besar dan infeksi  nyeri berat pada
vulva  menghalangi saat berjalan, duduk atau
melakukan aktivitas seksual
- Gejala akut biasanya terjadi akibat dari infeksirasa
sakit, nyeri, dan dispareunia. Jaringan sekitarnya menjadi
membengkak dan meradang
- Penyakit ini cukup sering rekurens. Dapat terjadi
berulang, akhirnya menahun dalam bentuk kista Bartholin
• Panas
• Gatal
• Sudah berapa lama gejala berlangsung
• Kapan mulai muncul
• Faktor yang memperberat gejala
• Apakah pernah berganti pasangan seks
• Keluhan saat berhubungan
• Riwayat penyakit menular seks
• Riwayat penyakit kulit dalam keluarga
• Riwayat keluarga mengidap penyakit kanker kelamin
• Riwayat penyakit yang lainnya misalnya diabetes dan
hipertensi
• Riwayat pengobatan sebelumnya.
Kista Terinfeksi
• Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik, atau
berhubungan seksual.
• Umumnya tidak disertai demam
• Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari
• Biasanya ada sekret di vagina, kira-kira 4 sampai 5 hari
pasca pembengkakan
• Dapat terjadi ruptur spontan
• Teraba massa unilateral pada labia mayor sebesar telur
ayam, lembut, dan berfluktuasi, atau terkadang tegang
dan keras
Pemeriksaan Fisik
• Saat inspeksi tampak pembesaran pada kelenjar
Bartholin dapat menyerupai massa vulvovaginal
• Kebanyakan kista unilateral, bulat atau lonjong, keras
• Disekeliling abses ada eritem dan sakit pada palpasi.
• Massa nya terlokalisasi di labia mayor posterior atau
vestibula bawah
• Asimetri dari anatomi labial, beberapa kista kecil
terdeteksi dengan palpasi.
• Abses Bartholin yang pecah akan memperlihatkan suatu
area yang lembut  akan lebih mudah ruptur
Pemeriksaan Penunjang
• Pewarnaan gram, kultur, dan test VDRL.
• Pemeriksaan darah rutin untuk melihat adanya tidaknya
leukositosis.
• Mengambil sampel sekresi dari vagina atau servix untuk
mengetahuiadanya infeksi menular seksual, gonore, sifilis
atau infeksi menular seksual lainnya
• Kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidentifikasi jenis
bakteri
• Biopsi dari massa untuk mengetahui adanya sel-sel
kanker, bagi pasien
Diagnosis Banding
Diagnosis Banding Terhadap Lesi Kistik dan Padat pada Vulva
Lesi Lokasi Karakteristik
KistaBartolini Vestibule Umumnya unilateral; tidak memberikan gejala
jika ukurannya kecil
Kista Epidermal Labia majora Jinak, mobile, kendur; terjadi karena trauma atau
obstruksi pada duktus pilosebaceous

Mucous cyst of the Labia minora, Lunak, diameter kurang dari 2 cm, permukaan
vestibule vestibule, area rata, daerah superficial; soliter atau multisoliter;
periclitoris umumnya tanpagejala

Hidradenomapapill Antara labia majora Jinak, progresifitas lambat, ukuran nodul antara 2
iferum dan labia minora mm sampai 3 cm; dimulai dari kelenjar apokrin

Cyst of the canal Labia majora, mons Soft, compressible, peritoneum entrapped within
of Nuck pubis round ligament, may mimic inguinal hernia
Pentalaksanaan
Metode penanganan kista Bartholini :
• Insersi word catheter  u/ kista dan abses kel. Bartholini
• Marsupialization untuk kista kelenjar Bartholini.
• Antibiotik spektrum luas jika disertai selulitis.
• Biopsi eksisional untuk pengangkatan adenokarsinoma
pada menopause atau premenopause irreguler dan
massa yang nodular
Insisi Dan Drainase Abses
Cara :
• Disinfeksi abses dengan betadine
• Dilakukan anestesi lokal (khlor etil)
• Insisi abses dengan skapel pada titik maksimum
fluktuasi
• Dilakukan penjahitan
Word catheter
• Cara:
• Desinfeksi dinding abses sampai labia
• Dilakukan lokal anestesi - lidokain 1%
• Fiksasi abses dengan menggunakan forsep kecil sebelum
dilakukan tindakan insisi
• Insisi diatas abses dengan menggunakan mass no 11
• Insisi dilakukan vertikal pada bagian luar ring himen. Jika
insisi terlalu lebar, word chateter akan kembali keluar.
• Selipkan word chateter ke dalam lubang insisi
• Pompa balon word chateter dengan injeksi normal salin
sebanyak 2-3 cc
• Ujung word chateter diletakkan pada vagina
Marsupialisasi
• Marsupialisasi adalah suatu teknik membuat muara
saluran kelenjar Bartholini yang baru sebagai alternatif
lain pemasangan word kateter.
Antibiotik

Staphylococcus
Neisseria Chlamidia
Escherichia coli dan
gonorrhoe: trachomatis:
Streptococcus:
• Ciprofloxacin • Tetrasiklin 4x500 • Ciprofloxacin • Penisilin G
500 mg single mg/hari selama 500 mg single prokain injeksi
dose 7 hari, po dose 1,6-1,2 juta IU
• Ofloxacin 400 • Doxycylin 2x100 • Ofloxacin 400 im, 1-2 x hari
mg single dose mg/hari selama mg single dose • Ampisilin 250-
• Cefixim 400 mg 7 hari, po • Cefixim 400 mg 500 mg/dosis 4x/
oral oral hari, po
• Ceftriaxon 200 • Amoxixillin 250-
mg i.m 500 mg/dosis,
3x/hari, po
Komplikasi
• Komplikasi yang paling umum dari abses Bartholin adalah
kekambuhan. Pada beberapa kasus dilaporkan
necrotizing fasciitis setelah dilakukan drainase abses.
Perdarahan, terutama pada pasien dengan koagulopati
dan timbul jaringan parut.
Prognosis
• Jika abses dengan didrainase dengan baik dan
kekambuhan dicegah, prognosisnya baik. Tingkat
kekambuhan umumnya dilaporkan kurang dari 20%.
TERIMAKASIH