Anda di halaman 1dari 40

SITOTEKNOLOGI

Menguji usapan/hapusan sel ,


untuk membuktikan adanya kanker dan
mendiagnosa penyakit dengan menganalisis
stuktur sel
SITOPATOLOGI
• Cabang ilmu patologi anatomi yang melakukan
pemeriksaan mikroskopis atau sel seseorang secara
keseluruhan yang diperoleh dari usapan atau
aspirasi jarum tajam.
• Lebih dikenal sebagai biologi sel, mempelajari
struktur sel, komposisi seluler dan interaksi sel dengan
sel lain hingga kematian sel.
BAHAN PEMERIKSAAN
• Darah
• Urine
• Cairan Serebrospinal
• Cairan tubuh lain yang ditarik keluar
melalui hisap ke jarum suntik dari tubuh
• Pap Serviks
• Sitologi mempunyai arti penting untuk :
1. Diagnosa kelainan patologi tertentu dari
organ tubuh, terutama keganasan, yang
terpenting adalah diagnosa dini dari
kanker, yang klinis tidak menimbulkan
gejala.
2. Pengaruh hormon ataupun kelainan
hormonal dari genetalia wanita.
3. Pemeriksaan sex chromatin.
Kelebihan pemeriksaan sitologi
• Mudah
• Murah
• Cepat
• Sederhana
• Pendarahan sedikit, bahkan tanpa rasa nyeri.
• Dapat dilakukan pada beberapa pasien dalam waktu singkat.
• Dapat dilakukan sebagai tindakan massal.
• Untuk screening lesi yang derajat keganasannya tinggiàtidak menimbulkan
stimulasi metastase.
• Efektif untuk diagnosis tumor saluran pencernaan, paru, saluran air kemih,
dan lambung.
• Dapat memberikan hasil positif meskipun pada pemeriksaan langsung dan
palpasi tidak menunjukkan kelainan. Karsinoma dapat terdiagnosis meskipun
masih dalam stadium in situ.
Kekurangan pemeriksaan sitologi
• Diagnosa sitologi hanya berdasar perubahan sitoplasma dan inti sel
• Perubahan yang terjadi harus dipastikan bukan akibat kesalahan teknis
• Hanya dapat untuk mendeteksi lesi yang letaknya di permukaan mukosa
mulut
• Hanya untuk lesi yang yang tidak tertutup keratin tebal
• Tidak efektif untuk digunakan pada lesi nonulseratif dan hiperkeratotik
karena sel-sel abnormal masih tertutup oleh lapisan keratin
• Hasil pemeriksaan sitologi yang mengindikasikan keganasan masih perlu
dikonfirmasi dengan biopsi
• Sering kali bahan yang terambil tidak representatif
• Diagnosa sitologi sering lebih sukar daripada diagnosa histologi, oleh karena
diagnosa sitologi hanya berdasar pada kelainan-kelainan dari sitoplasma
dan inti, perubahan-perubahan ini hanya akan berarti bila kelainan-kelainan
tersebut dapat dipastikan tidak disebabkan oleh kesalahan teknis.
• Diagnosa sitologi baru dapat ditegakkan dengan baik apabila dibantu
dengan data klinik yang lengkap. Untuk membuat diagnosa sitologi,
diperlukan adanya team yang disebut : “The Diagnostic Team” yang terdiri
dari :
1. Penderita.
2. Dokter (umum atau spesialis klinis).
3. Sitotechnologist.
4. Spesialis patologi.
5. Spesialis sitopatologi
• Hal yang perlu diperhatikan oleh pengirim bahan
adalah:
1. Mendapatkan bahan yang representatif
dari penderita dan difiksasi dengan baik.
2. Penjelasan singkat tetapi jelas tentang
keadaan penyakit penderita.
3. Mengirimkan bahan secepatnya ke
laboratorium sitologi.
BAHAN –BAHAN YANG DAPAT
DIPERIKSA SECARA SITOLOGI
1. Vaginal smear/ Pap test / Cervical smear
Untuk menentukan adanya :
• · Peradangan dan penyebabnya
• · Perubahan praganas
• · Perubahan keganasan
• · Status hormonal
2. Sputum atau dahak, untuk menentukan keganasan serta jenis peradangan.
3. Bronchial washing dan brushing :
Untuk menentukan keganasan
Untuk menentukan peradangan
4. Urine, untuk menentukan adanya :
Tumor ginjal, tumor kandung kemih
Batu, infeksi saluran kemih
5. Cairan lambung, untuk menentukan adanya :
Gastritis acuta atau kronika
Keganasan
Intestinal metaplasi dari mukosa lambung, yang selalu mendahului
perubahan keganasan.
6. Cairan tubuh lain :
Cairan pleura
Cairan pericardium
Cairan ascites
Cairan cerebro spinal
Cairan sendi
• Untuk menentukan adanya :
Tumor primer atau metastatik
Peradangan
7. Apirasi jaringan tumor, untuk menetukan adanya :
Tumor
Peradangan
8. Inprint jaringan tumor untuk menentukan adanya :
Tumor
Peradangan
9. Skraping untuk menentukan adanya :
Seks kromatin, diambil dari mukosa rongga mulut
Status hormonal wanita, diambil dari dinding lateral vagina
Keganasan.
SAMPEL YANG DIGUNAKAN UNTUK
PEMERIKSAAN SITOLOGI DIPEROLEH
DENGAN CARA :
• Eksfoliasi : sel-sel yang terlepas secara fisiologis misalnya cairan ascites,
kerokan kulit, saliva.
• Scruffing : kerokan pada lapisan mukosa tertentu sehingga menimbulkan
traumatik yang sedikit mungkin, misalnya pap smear, kerokan dinding
hidung.
• Brushing : berupa bilasan dari rongga tertentu. Misalnya bronchial brushing.
• Biopsi jaringan biasa / Fine Niddle Aspiration Bioption (FNAB) : dengan
menggunakan jarum diameter 0,5 mm kemudian sel-sel diperiksa lebih
lanjut.
CARA PENGAMBILAN DAN
PENGIRIMAN BAHAN PEMERIKSAAN
1. Vagina smear / Pap test SITOLOGI :
• a. Isilah permintaan formulir dengan lengkap.
• b. Tuliskan nama penderita pada label yang ada.
• c. Sediakan botol atau tempat lain dengan bahan fiksasi ethyl alkohol 95%.
• d. Jangan melakukan vaginal lain sebelum mengambil smear.
• e. Jangan memakai bahan pelicin untuk speculum.
• f. Dengan speculum ambilah smear dengan mempergunakan “Ayre’s scraper”
• g. Buat pulasan yang rata pada obyek glass.
• h. Masukkan segara obyek glass tersebut kedalam bahan fiksasi biarkan paling sedikit
selama 30 menit, kemudian keringkan diudara terbuka.
• i. Masukkan slide pada tempat slide yang tersedia, kirimkan dengan amplop yang
tersedia bersama dengan formulir permintaan.
• j. Untuk evaluasi status hurmonal, dikerjakan prosedur yang sama, hanya scraping
tidak di portio, melainkan pada dinding lateral vagina, dengan syarat tidak ada
infeksi serta bila ada pengobatan hormonal telah dihentikan 2 minggu
sebelumnya.
2. Sputum atau dahak :
• a. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan 3x berturut-turut dengan jarak 3 hari.
• b. Sputum adalah hasil dari batuk yang dalam, dan berisi bahan yang
berasal dari bronchioli dan alveoli.
• c. Penderita diminta untuk batuk yang dalam dan mengumpulkan
sputumnya dalam tempat (botol) yang telah disediakan yang berisi
bahan fiksasi alcohol 70% kirim ke laboratorium sitologi.
• d. Bila sputum terlampau sedikit,penderita dapat diberi expectoransia
selama 3 hari dan diadakan sputum koleksi selama 24 jam dengan
fiksasi alcohol 70%.
• e. Untuk tempat-tempat yang jauh, pengiriman dapat dilakukan secara
kering ialah dengan jalan membuat sediaan apusan dari sputum yang
telah terkumpul pada 3 object glass yng bersih.
Untuk membuat apusan, pilihlah bagian yang mengandung garis darah atau
bagian yang padat. Kemudian masukkan dalam alcohol 95% selama 2 jam,
keringkan diudara dan dikirim ke laoboratorium Sitologi.
3. Urine
Urine terbagi
- direct voided urine = urine langsung
- urine hasil kateter.
• a. Paling sedikt 50 cc urine,fiksasi ethyl alcohol 50% aa- dikirim.
• b. Pengiriman kering
• c. Urine dengan alcohol 50% aa- centrifuge selama 10 menit, buat sediaan
dari endapan pada object glass yang telah diberi albumin dalam
alcohol 95% selama setengah jam dan keringkan dalam udara terbuka
– dikirim.
• d. Bila kelainan diduga terletak dalam ureter/ginjal, harus dipakai urine
kateter dari ureter.
• e. Untuk memperoleh bahan yang reprentatif, bila keadaan
memungkinkan,penderita dianjurkan exercise ringan sebelum
penampungan urine.
4. Cairan dari tubuh lain :
a. Pleural effusion = cairan pleura
b. Cairan pericardium
c. Cairan ascites
d. Cairan cerebrospinal
e. Cairan sendi
Cairan diatas difiksasi dalam ethyl alcohol 50% dan dikrim ke laboratorium
Sitologi.
Untuk memperoleh bahan yang representative, sebaiknya posisi penderita
diubah-ubah sebelum dilakukan fungsi.
5. Cairan lambung :
Cara memperoleh ialah dengan gastric lavage, prosedur sebagai berikut :
a. Persiapan penderita
1). Pengobatan dengan antasida, harus dihentikan 24 jam sebelum
lavage dilakukan.
2). Makanan malam hari sebelum pemeriksaan sebaiknya cair dan
jernih seperti air boullion atau the, susu cream tak
diperkenankan.
3). Minum 3 sampai 5 gelas sebelum tidur malam.Puasa pagi hari.
Gastric washing ini sebaiknya tidak dilakukan pada hari yang
sama dengan pemeriksaan X-ray lambung, oleh karena dapat
mengacaukan interprestasi masing-masing. Pada penderita
dengan obstruksi pylorus, harus dilakukan lavage beberapa kali
sampai cairan aspirasi bersih.
b. Alat-alat yang diperlukan
a) Lavin tube
b) Tabung suntikan 20 cc
c) Tabung kecil dengan tempat berisi es batu
d) Ringer solution
e) chemostrysin
c. Teknik lavage
a) Pemeriksaan sebaiknya pagi hari, mengingat penderita harus
puasa.
b) Lavin tube dimasukkan sampai tanda 70 cm. Jangan
mempergunakan bahan pelican kecuali glycerin.
c) Kemudian 500 cc larutkan ringer dimasukkan sedikit demi sedikit
dengan mempergunakan alat suntikan kemudian diaspirasi lagi
dan dibuang.
• Setelah itu 500 cc cairan ringer dimasukkan sedikit demi
sedikit (dapat pula dipakai larutan buffer acetat pada PH 5-
6 bila memakai chymotripsin).
• Kemudian penderita dirubah posisinya, dimana penderita
yang berbaring itu diputar 90º, setiap kali, hingga kembali
pada posisi semula. Cairan aspirasi setiap kali harus
dimasukkan tabung kecil-kecil yang direndam dalam es.
Pendinginan ini dimaksudkan untuk menghentikan aktivitas
enzyme dan dengan demikian menyelamatkan sel-sel
terhadap pengaruhnya. Kemudian fiksasi dapat dilakukan
dengan penambahan alcohol 95% aa dan kirim ke
laboratorium Sitologi.
PENGIRIMAN KERING DAPAT
DILAKUKAN SEBAGAI BERIKUT :

• Bahan yang diperoleh aspirasi diatas, dicentrifuge


dengan kecepatan 15.000/menit selama 15’. Dari
bahan endapan dibuat hapusan pada object glass
yang telah diberi albumin. Segera apusan tersebut
dimasukkan dalam bahan fiksasi alcohol 95%
selama 1 jam, kemudian keringkan dalam udara
terbuka dan dikirim ke laboratorium.
6. Sediaan apus pada rongga mulut
Secara umum dapat dikatakan bahwa sitologi apusan pada rongga mulut
merupakan cara yang cukup efektif sebagai evaluasi awal suatu lesi yang
mencurigakan pada rongga mulut. Cara ini memang tidak dapat
menggantikan biopsy dan tidak dapat digunakan sebagai diagnosa yang
definisi dan final. Sitologi usapan lebih berguna sebagai suatu cara screening
sejumlah besar pasien yang diduga menderita kanker mulut. Hal ini teritama
bila liokasi fasilitas diagnosa lengkap maupun pembedahan. Teknik ini juga
berguna untuk mengikuti perkembangan suatu kanker setelah dilakukan
radioterapi. Disamping itu juga untuk mendiagnosa kanker mulut, sitologi
usapan pada rongga mulut juga berguna dalam mendiagnosa berbagai
penyakit virus pada rongga mulut dan oropharynx seperti herpetic stomatitis,
herpangina dan herpes zoster. Juga untuk berbagai penyakit lain seperti
pemphigus atau lesi akibat jamur. Walaupun demikian , cara ini tidak dapat
digunakan untuk mendiagnosa beberapa tipe lesi hiperkeratotik, lesi dibawah
mukosa mulut yang diduga ganas dan lesi pada bibir dimana terdapat
lapisan keratin.
Teknik pengambilan sediaan
Pada rongga mulut, sediaan didapat dari hasil usapan atau
kerokan permukaan mukosa mulut. Alat yang efektif untuk
keperluan ini adalah kayu penekan lidah . ujungnya dapat
digunakan sebagai kerokan pada lesi yang akan dbuat
sediaannya.
Disamping itu alat ini ternyata dapat mengumpulkan jumlah
sel yang diperlukan untuk mendiagnosa. Kayu penekan lidah
diusapkan sepanjang permukaan lesi sebanyak beberapa
kali. Bila permukaan lesi kering, kayu ini dapat dibasahi dulu
dengan air atau ludah dari dasar mulut pasien yang
bersangkutan. Setelah itu ujung kayu diulaskan pada kaca
tersebut. Sediaan ini harus segera difiksasi.
Cara fiksasi adalah dengan memasukkan sediaan
tersebut dalam alcohol 70% atau ether alcohol
(50/50) selama 15-20 menit.Alcohol dapat juga
disiramkan pad sediaan tersebut dan dibiarkan tetap
tergenangi selama waktu seperti diatas. Sediaan
selalu dianginkan supaya kering dan segera
dilakukan pengecatan.
PERSIAPAN PREPARAT APUS

• Bahan yang diambil untuk preparat apus dapat berasal dari berbagai
tempat diseluruh tubuh dan sekresinya mempunyai komposisi yang
bervariasi. Prostat, mamae dan saluran genital wanita dan dahak
mempunyai cairan yang kental dan biasanya mengandung sejumlah sel
yang cukup tinggi. Oleh karena itu bahan-bahan ini dapat menyebar
secara langsung pada objek glass.
• Sebaliknya air seni, cairan bilas saluran pencernaan atau bronchus dan
eksudat dan bahan lainnya lebih encer serta mengandung sedikit sel.
Biasanya terhadap bahan-bahan ini perlu dilakukan centrifuge
(pemusingan) dalam waktu tertentu sehingga tampak endapan dengan
cairan yang jernih.
FIKSASI UNTUK BAHAN PEMERIKSAAN SITOLOGI
• Untuk memeriksa struktur sel dengan jelas dan dengan perubahan yang
minimal perlu suatu proses yang disebut sebagai fiksasi. Bahan fiksasi ini akan
mengeraskan sel sehingga tahan terhadap berbagai reagen yang akan
diberikan dan merubah susunan protein degenerasi yang disebabkan oleh
aktivitas bakteri
• Terdapat beberapa metode fiksasi yang dapat digunakan, akan tetapi
yang dipakai tergantung dari jenis bahan, pemeriksaan yang diperlukan,
tehnik pengecatan yang digunakan.
• Metode yang ditemukan oleh Papaniculaou untuk keperluan sitologi
eksfoliatif sangat mudah. Metode ini efektif oleh karena penetrasi yang
cepat dari sel oleh fiksasi yaitu larutan eter dan etil alkohol 95% dalam
volume yang sama. Jika bahan yang segar difiksasi dengan segera
perubahan sel akan minimal. Selanjutnya komposisi bahan fiksasi ini
digunakan untuk pengecatan Papaniculaou.
• Segera setelah bahan siap, celupkan bahan tersebut tanpa
dikeringkan kedalam larutan eter alkohol sampai akan
dilakukan pengecatan. Sebelum difiksasi sediaan tidak
boleh kering oleh karena dapat menyebabkan kerusakan
sel dan hilangnya afinitas untuk pewarnaan.
• Untuk fiksasi sel diperlukan waktu 15 menit akan tetapi bagi
sediaan yang cenderung lepas akan lebih melekat apabila
dicelupkan dalam fiksasi selama 1 jam lebih. Apabila bahan
yang digunakan dari dahak dan cairan yang akan difiksasi
dengan larutan eter alkohol terlebih dahulu dicampur
dengan alkohol segera setelah diletakkan pada objek glass
untuk difiksasi awal kemudian dikirim ke laboratorium.
PAPANICOLAOU
• Walaupun cara pengambilan bahan dan persiapannya berbeda-beda
ditiap laboratorium akan tetapi prinsip dasarnya sama.
• Pertimbangan utama pemilihan teknik ini adalah :
1. Akan mewarnai inti sel dengan jelas yang berguna untuk melihat
struktur inti apabila terdapat kemungkinan keganasan.
2. Pewarna banding yang akan menimbulkan warna pada
sitoplasma, sehingga warna inti lebih kontras.
3. Warna yang cerah dari sitoplasma akan memungkinkan untuk
melihat sel-sel lain dibawahnya yang kadang-kadang
bertumpuk atau berkelompok.
• Yang digunakan untuk mewarnai inti adalah Harris Hematoxylin. Chromatin
dan membran inti akan berwarna biru tua sampai ungu, sedangkan anak
inti berwarna merah, merah muda atau orange.
• Preparat hematoxylin ini bisa saja diganti untuk dapat memberikan warna
seperti yang diinginkan. Harris hematoxylin adalah preparat yang sangat
mudah dibuat dan siap dalam waktu 24 jam.
• Terdapat 2 pewarna banding yang baik untuk dipakai :
a. Orange G (Papaniculaou formula OG-6)
Mewarnai sitoplasma menjadi kuning atau orange jika ada
keratin. Sel yang mengandung keratin dapat bersifat jinak atau
ganas biasanya sel-sel banyak mengandung keratin sehingga
sitoplasmanya akan tampak bercorak, warna orange berkilat
kontras dengan warna inti yang gelap. Sel-sel tersebut akan
tampak nyata dibandingkan sel-sel lainnya pada sediaan.
• EA-50
Warna polikhromasi yang mengandung larutan eosin alkohol, light
green dan Bismark brown. Formula untuk pewarnaan polikhromasi aslinya
ditemukan oleh Papaniculaou untuk apus vagina, ditulis dengan kode EA-36.
Preparat komersil EA-50 dibuat dengan formula tadi kecuali pada pelarutnya
dan dapat digunakan bergantian dengan EA-36.

• EA-36 mengandung “less light green”, kadang-kadang ini digunakan untuk


sediaan non ginekologi, terutama apabila sediaannya tebal dan menyerap
terlalu banyak warna hijau. Formula-formiula yang dibuat diatas dapat
digunakan pada berbagai jenis sediaan.
• Berbagai faktor anatara lain pengeringan, pH cairan, tebal
apusan dapat merubah reaksi pewarnaan, oleh karena itu
untuk kriteria identifikasi morfologi sel lebih penting
daripada warna sitoplasma.
• Sel-sel yang mempunyai sitoplasma yang asidofil
memperlihatkan afinitas terhadap eosin yang bersifat asam,
sel-sel tersebut mengambil bayangan merah muda sampai
kuning. Sel yang mempunyai sitoplasma basofil akan
berwarna biru pucat atau biru kehijauan oleh light green
(warna basa). Kebanyakan sel-sel epitel gepeng berlapis
yang superfisial akan bersifat asidofilik sementara yang
lainnya lebih asidofil.
TEKNIK PENGECATAN
• Terdapat 2 teknik pengecatan :
1. Teknik ini berdasarkan metode Papanicolaou. Hematoxylin
digunakan secara regresif akan tampak sel-sel lebih terang
kemudian dipucatkan oleh asam HCl lemah agar dapat
tampak warna inti yang jelas dan untuk membuang sisa warna
dari sitoplasma. Air kran menetralkan asam dan menjadikan inti
biru tua.
2. Sediaan diwarnai dalam waktu yang singkat dengan hematoxylin
kuat, sehingga inti dapat dibedakan dan dipucatkan oleh
ammonia. Metode ini terutama baik digunakan untuk
pewarnaan urin dan lambung yang mempunyai
kecenderungan akan terhapus jika ditempatkan pada air
mengalir. Apabila apusan tebal diwarnai dengan teknik ini,
sitoplasma akan menahan hematoxilin dan merusak efek
pewarna banding.
CARA PENGECATAN
• Tahapan yang biasa dilakukan di laboratorium/ instalasi Patologi Anatomi
Cara pengecatan :
1. Pindahkan sediaan dari eter alcohol tanpa pengeringan ke
dalam tempat yang berisi alcohol 95%.
2. Masukkan ke dalam larutan 0,5% celloidin dalam eter alcohol
selama 2 menit.
3. Masukkan ke dalam etil alcohol 80%, 10 celupan.
4. Masukkan ke dalam etil alcohol 70%, 10 celupan.
5. Masukkan ke dalam etil alcohol 50%, 10 celupan.
6. Masukkan ke dalam larutan aquadest 10 celupan.
7. Masukkan kedalam larutan Harris hematoxylin yang diencerkan dengan
aquadest dalam volume yang sama selama 6 menit.
8. Masukkan ke dalam aquadest, cuci di 2 tempat untuk menghilangkan sisa
warna smapai bersih di air mengalir.
9. Masukkan ke dalam larutan HCl 0,25% 6 celupan.
10. Dibilas pada air kran yang mengalir selama 10 celupan.
11. Masukkan ke dalam lithium 10 celupan, cuci lagi dengan air 10 celupan.
12. Masukkan dalam larutan etil alcohol 50% 10 celupan.
13. Masukkan ke dalam larutan etil alcohol 70% 10 celupan.
14. Masukkan ke dalam larutan etil alcohol 80% 10 celupan.
15. Masukkan ke dalam larutan etil alcohol 95% 10 celupan.
16. Masukkan ke dalam larutan OG-6 selama 3 menit.
17. Masukkan ke dalam larutan etil alcohol 95%, cuci dalam 2 tempat 10
celupan, akan tetapi tidak boleh direndam dalam alcohol tersebut.
18. Masukkan dalam larutan EA-36, (EA-50) atau EA-65 bisa bergantian
selama 3 menit.
19. Masukkan ke dalam larutan etil alcohol 95%, cuci dalam 2 tempat dan
dikocok 10 celupan.
20. Masukkan ke dalam larutan etil alcohol 100%, celupkan atau hapus
dengan kertas serap, untuk menghilangkan alcohol.
21. Masukkan dalam larutan xylol 3 menit.
22. Tutup objek glass dengan deck glass/ cover glass.
HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA
PEMERIKSAAN SITOLOGI
1. CrossKontaminasi
Selama pengecatan diusahakan jangan terjadi cross
kontaminasi. Alat-alat yang digunakan untuk memindahkan
dahak atau sedimen ke objek glass harus selalu dibersihkan
sebelum dipakai kembali. Sel-sel yang terlepas selama
pengecatan sering menempel pada sediaan lain, untuk
menghindarinya pada waktu mencelupkan ke setiap larutan
hrus secara hati-hati. Kontaminasi dari pipet yang menyentuh
bahan sediaan pada waktu mounting, dapat terjadi apabila
pada waktu meneteskan bahan mounting dilakukan di
depanjang sediaan.
2. Pemeliharaan Larutan Pewarna.
Apabila tidak dipakai pewarna harus selalu ditutup rapat dan di dalam
botol yang gelap untuk mencegah penguapan dan luntur. Juga harus
sering diperkuat dengan menambahkan larutan yang tidak diencerkan
dapat dilakukan.

3. Pemasangan Kaca Penutup


Pada waktu pemasangan kaca penutup objek glass cairan xylol yang
terlebih dahulu harus dibuang karena dapat terjadi rongga-rongga
udara pada waktu xylol menguap. Supaya kaca melekat dengan erat
dapat dilakukan pemanasan di tempat penghangat atau oven
dengan temperature 37°.
4. Antiseptik.
Bahan cairan dan dahak ahrus ditangani dengan hati-hati untuk
mencegah terjadinya penyebaran infeksi kepada teknisi.
Alat pembawa bahan dan alat-alat yang digunakan untuk membuat
preparat apus, harus dicuci dengan antiseptic. Ruangan tempat
bekerja harus selalu bersih dan sediakan lap kertaas atau Koran agar
mudah dibuang.

5. Identifikasi Bahan.
Yang tak kalah pentingnyan adalah memberi tanda pada setiap
sediaan yang diterima termasuk pemberian tanda identifikasi pada
setiap alat yang dipakai selam pembuatan sediaan.
TEKNIK SITOLOGI TAMBAHAN
• Berikut beberapa alternative cara membuat sediaan
Fiksasi.
# Penggunaan ether kadang-kadang tidak amankarena mudah terbakar,
penggantinya adalah alcohol 95%.
# Etil alcohol mungkin terlalu mahal atau susah dicari, penngantinya dapat
digunakan methyl isopropyl atau preparat komersil yang mengandung
alcohol 95%.
Perlu diperhatikan apabila sputum difiksasi dengan isopropyl alcohol akan mengeras
dan susah dibuat preparat apus.
# Sediaan yang difiksasi dengan aseton 95% lebih mudah dan murah, juga berguna
untuk pengiriman asalkan dikeringkan setelah difiksasi.
# bahan fiksasi komersil lainnya yang dapat dipakai untuk keperluan pengiriman.