Anda di halaman 1dari 17

OBAT-OBATAN YANG

MENYEBABKAN NEFROTOKSIK
GINJAL
Obat dapat menginduksi gangguan fungsi
ginjal dgn 2 cara:
1. Kerusakan langsung pada ginjal
2. Kerusakan tidak secara langsung, melalui
efek pada aliran darah ginjal.

Fungsi ginjal:
- Homeostatis elekrolit
- Ekskresi zat racun/metabolit
 Volume darah ke ginjal dalam jumlah besar.
Dalam melaksanakan fungsinya : Ginjal
terpapar : berbagai bahan kimia termasuk
- hormon endogen, protein, zat nefrotoksik.
Aliran darah Ginjal :
- 650 ml/menit,  paparan zat toksik
- 20 % di filtrasi di glomerulus  tubulus
 paparan ZAT TOKSIK glomerulus

Tubulus reabsorpsi  filtrat 10X [plasma]


 efek toksik pada tubulus sel tubulus
Ginjal merupakan organ yg rentan terjadi kerusakan akibat
pemakaian obat-obatan maupun zat- zat kimia lainnya,
disebabkan karena :
Ginjal mendapat suplai darah terbesar didalam tubuh 
pengaliran obat-obatan ke ginjal tinggi sekali.
Mempunyai permukaan endotel yg sangat luas  menjadi
tempat pengendapan kompleks imun pd proses
imunologik.
Sel tubulus permukaan baso-lateral (bagian dalam)
maupun permukaan luminal (“brush border”) sering
mengalami kontak dengan obat-obatan.
Paparan terhadap obat-obatan bertambah bila fungsi
ginjal menurun,  terjadi karena adanya perlambatan
pada eliminasi obat-obat yg potensial bersifat
nefrotoksik.
• Beberapa keadaan yg dpt menimbulkan disfungsi ginjal
akibat obat- obatan adalah : perubahan perfusi ginjal,
perubahan filtrasi glomerulus, kerusakan sel tubulus
dan obstruksi tubulus.

Mekanisme nefrotoksisitas, terjadi melalui beberapa


mekanisme, diantaranya:
– Efek pada aliran darah ginjal.
– Efek toksik pada sel tubulus
– Kelainan Imunologik
– Obstruksi pada tubulus atau ureter.
 Efek toksik obat yg mengenai pembuluh darah ginjal 
sbbkn pe aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus ;
– misalnya : endometasin memblokir produksi vasodilator
prostaglandin.

 Zat/obat di tubulus bersinggungan langsung dgn


permukaan sel tubulus atau masuk ke sel tubulus pada
proses reabsorpsi atau sekresi  shg terjadi: ^kerusakan
“brush border”, ^berbagai organel sel, ^inaktivasi enzim
– misalnya efek toksik aminoglikosida, sefaloridin, logam
berat dll.
Efek toksik menurut Lokasi;
1. Pre-Renal :  Ggg. Hemodinamik
 Kerusakan tipe iskemik
 Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS), Siklosporin A

2. Renal :  Tubular Toksisitas


 Aminoglikosida, Ciplastin,
Radio Kontras, OAINS

3. Post Renal  Aliran Urine terggangu


 Endapan pada tubulus :
- MTX
- Asam Urat
- Oxalat
Macam Obat- obatan Nefrotoksik
1. Aminoglikoside : Efektif untuk gram negatif, tetapi
Nefrotoksis. Pemakaian pada GGK dan GGK end stage yang
Hemodialisa :
– Dosis sama, interval diperpanjang
– Dosis kecil interval sama
– Monitor ureum/creatinin dn kadar obat dalam plasma

2. Sulfonamid : Ekskresi lewat ginjal, sering dipakai pada


HIV/AIDS. Bila terpaksa dipakai:
– Mempertahankan hidrasi  diuresis 1500 cc/24 jam
– Alkalinasi dengan sodium bicarbonat pH urine > 7,5
– Pemeriksaan urine berkala mendeteksi adanya
Hematuria.
3. Amphotericyn B : Obat jamur sangat Nefrotoksik, larut
dalam air. Bila terpaksa dipakai :
– Mencampur dengan intralipid
– Dopamin agonis
– Suplementasi garam infus
– Dosis titrasi

4. Rimfampisin : Obat TBC, toksitas tergantung lama


pemakaian bersifat reversible

5. Asiklovir : Anti virus tidak larut air, terjadi presipitasi


pada tubulus  obstruksi bersifat reversible

6. Penisilin, Sefalosforin, Betalaktam : Tidak langsung


Nefrotoksik, tetapi terjadi Nefropati terutama
metisilin, Penisilin, dan Ampisilin. Sefalosforin bila dosis
tinggi dapat Nefrotoksis.
7. Vankomisin : Sangat toksis, bila terpaksa dipakai
harus monitoring yang ketat; urine, plasma darah,
ureum / kreatinin.

8. NSAID : Menghambat efek Prostaglandin.


Prostaglandin menimbulkan dilatasi kapiler ginjal,
menurunkan resistensi kapiler ginjal, meningkatkan
perfusi ginjal

9. Tetrasiklin : Menimbulkan Fanconis’s Syndrome,


Hiperkatabolik degan kenaikan urea

10. Metotrexate : Dosis tinggi menimbulkan Tubular


Nekrosis Akut dan pengendapan di Tubulus.
Kerusakan ginjal akibat Obat Nefrotoksik
Efek samping akibat interaksi obat- Penyakit
Prinsip penanggulangan dan Terapi

◦ konservatif

◦ Cronik Kidney Disease

◦ – glomerular filtration rate (GFR) ≤ 60


ml/minute/1.73m2 atau GFR ≥ 60
ml/minute/1.73m2 disertai adanya
kerusakan ginjal selama lebih dari 3 bulan.
• Hiperurikemia sering terjadi pada CKD  disebabkan
oleh me ekskresi asam urat akibat me faal ginjal.
Pengaturan diet atau obat seperti allopurinol dpt atasi
hal ini.

• Penggunaan obat- obat nefrotoksik harus dihindari.


– Antibiotika golongan aminoglikosida bersifat
nefrotoksik langsung.
– Diuretika secara tidak langsung sbbkn kontraksi
cairan ekstraseluler  shg me faal ginjal.
– Obat-obat gol analgetika khususnya gol. penghambat
siklooksigenase seperti indometasin, aspirin, dapat
secara cepat menurunkan faal ginjal.
Hipertensi pada CKD

– Diuretic bermanfaat pd hipertensi akibat kelebihan


cairan. Diuretika umumnya menurunkan LFG 10-15%. Obat
dari gol. tiazida efektif bila LFG diatas 25-30 ml/menit.
Bila LFG dibawah nilai ini, dan kadar kreatinin serum >2
mg/dl, maka dipilih obat dari gol loop diuretic seperti
furosemid atau bumetanid.

– ACE inhibitor seperti captopril dpt memberi perlindungan


pd ginjal terutama pd peny. ginjal diabetik, dpt
menurunkan proteinuria tanpa memperburuk profil lipid
dan gula darah penderita, bahkan memperbaiki sensitivitas
jar perifer terutama hati dan otot rangka trhadap insulin.
• Calcium antagonis seperti nifedipine, amlodipine
memberi perlindungan yang cukup baik pada ginjal,
juga dilaporkan dpt menurunkan proteinuria, efek
netral terhadap profil lipid dan metabolism glukosa.