Peritonitis Difus Akibat Apendisitis
Peritonitis Difus Akibat Apendisitis
Pembimbing:
dr. Hadiyana
Suryadi, Sp.B
IDENTITAS
KELUHAN UTAMA
Nyeri diperingan
Nafsu makan menurun
Perut terasa kembung + Muak +, muntah + dengan posisi kedua
+
kaki ditekuk (+)
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala serupa seperti pasien.
Tidak ada keluarga pasien yang memiliki penyakit kencing manis, tekanan
darah tinggi maupun sakit jantung.
PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda Vital
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital:
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 86 x/menit
Respirasi : 16 x/menit
Suhu : 35,8°C
Kepala : Normocephal
Mata : CA (-/-), SI (-/-) pupil bulat isokor, refleks pupil +/+
Hidung : discharge (-/-) deviasi septum (-/-)
Telinga : bentuk normal, otorea (-/-)
Mulut : mukosa hiperemis (-), lidah kotor (-), bibir kering (-)
Lidah : lidah berwarna merah, tidak ada coated tongue
Leher : trakea di tengah, pembesaran KGB (-)
STATUS GENERALIS
Cor
: Iktus kordis tidak terlihat
Inspeksi : Iktus kordis teraba pada sela iga 5 linea mid clavicula sinistra
Palpasi : Batas jantung normal
Perkusi : BJ I – II murni reguler, murmur (-), Gallop (-)
Auskultas
i
Pulmo
: Simetris dalam keadaan statis dan dinamis
Inspeksi : Fremitus vokal dan taktil pada hemithoraks kanan dan kiri
Palpasi simetris, tidak teraba massa dan tidak ada nyeri tekan.
: Sonor pada hemithoraks kanan dan kiri
: VBS ka=ki, Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)
Perkusi
Auskultasi
Abdomen
: tampak datar simetris
Inspeksi
: NT/NL +/+, Defans Muscular +, hepar dan lien tidak teraba
Palpasi
Perkusi membesar,Ballotement -/-, nyeri ketok CVA -/-
Auskultasi : Timpani diseluruh lapang abdomen
: BU (+)
: CVA : Nyeri tekan -/-, Nyeri ketok-/-
Punggung
: rectal touche tidak dilakukan
Genitalia
Ekstremitas : Edema (-/-), Sianosis (-/-), akral hangat
Atas : Edema (-/-), Sianosis (-/-), akral hangat
Bawah
Status Lokalis
• a/r Right Lower Quadrant (RLQ) Abdomen
• Inspeksi
– Datar
– Tidak tampak kemerahan/luka/bekas operasi
• Palpasi
– Massa (-)
– Nyeri tekan (+) dan nyeri lepas (+) di McBurney, NT
perut kiri
– Rovsing’s sign (+); psoas sign (+); obturator sign (+)
– Defense muscular (+)
• Perkusi
– pekak pindah (-), pekak samping (-)
• Auskultasi
– BU (+) menurun
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Rutin (20-06-2020) Serologi (19-12-2016 pukul 09.32)
Hemoglobin 14,5 gr/dl S. Thypi O 1/80
Hematokrit 44% S. Parathypi AO -
Leukosit 2.700 /mm3 S. Parathypi BO 1/80
Trombosit 365.000 /mm3 S. Parathypi CO 1/80
Eritrosit 6,10 juta/mm3 S. Thypi H 1/80
S. Parathypi AH 1/80
Diff Count S. Parathypi BH 1/80
S. Parathypi CH 1/80
Basofil 0%
Eosinofil 2%
Netrofil batang 3%
Netrofil segmen 61%
Lymfosit
25%
Monosit
9%
DIAGNOSIS BANDING
KHUSUS
O: -Infus RL 20gtt/menit
KS : CM -Ranitidin 2 x 50mg IV
S : 37,5 C
Drain <50cc/24jam
A:
Drain <50cc/24jam
A:
A:
O: -Ketorolac 3x30mg IV
KS : CM -Ondansteron 2x1amp IV
A:
1. retrocaecal (74%),
2. pelvic (21%),
3. patileal (5%),
4. paracaecal (2%),
5. subcaecal (1,5%)
6. preleal (1%).
DEFINISI
APPENDISITIS
GEJALA
Tanda-tanda
PE :
• Tanda vital tidak terlalu berubah (bila
berubah : tanda-tanda komplikasi)
• Demam ringan (37,5-38)
• Posisi tidur, berjalan
• Peristalsis normal atau sedikit menurun
• Nyeri yang menunjukan tanda rangsang
peritoneum lokal di Mc.Burney
• Nyeri tekan
• Nyeri lepas
• Defans muskuler
• Rovsing’s sign
• Obturator sign
• Psoas sign
Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang
lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks.
Pemeriksaan Fisik
• Colok dubur: jangan terlewatkan!!!
LED
(infilra
t)
Plain radiographic image of the
abdomenrevealing an appendicolith (arrow)
in
the right lower quadrant.
Graded compression ultrasound of the right lower quadrant reveals a non-
compressible, enlarged appendix(arrows). Definition of the bowel wall layers,
particularlythe echogenic submucosa, is lost, suggesting perforation.
ALVARAD SCORE
O
• SYMPTOM :
– Migrate point pain :1 •Nilai ≥7:
– ANOREXIA :1 Appendisitis akut yang perlu
– NAUSEA/VOMIT pembedahan dini
:1
• SIGN •Nilai 5-6:
– RLQ tenderness :2 Possible appendisitis tidak perlu
– Rebound :1 pembedahan antibiotik
– Temperature :1
•Nilai 1-4:
• Lab dipertimbangkan appendisitis
– Leukositosis :2 akutobservasi
– Left shift :1
PENATALAKSANAAN
Infeksi
Gastroenteriti panggul
Urolitiasis
pielium/
KET
ureter
kanan
Penyak it
saluran c rna
lainnnya
KOMPLIKASI
• Perforasi
Keterlambatan penanganan merupakan alasan penting terjadinya perforasi. Perforasi appendix akanmengakibatkan
peritonitis purulenta yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat meliputi seluruhperut dan perut
menjadi tegang dan kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler di seluruh perut, peristaltik usus menurun sampai
menghilang karena ileus paralitik (Syamsuhidajat, 1997).
• Peritonitis
Peradangan peritoneum merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun
kronis.Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari apendisitis. Bila bahan yang menginfeksi
tersebarluas pada permukaan peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis generalisata. Dengan begitu,
aktivitasperistaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan
danelektrolit hilang ke dalam lumen usus menyebabkan dehidrasi, gangguan sirkulasi, oligouria, dan
mungkinsyok. Gejala : demam, lekositosis, nyeri abdomen, muntah, Abdomen tegang, kaku, nyeri tekan, dan
bunyiusus menghilang (Price dan Wilson, 2006).
• Massa Periapendikuler
Hal ini terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi pendindingan oleh
omentum.Umumnya massa apendix terbentuk pada hari ke-4 sejak peradangan mulai apabila tidak
terjadi peritonitisgeneralisata. Massa apendix dengan proses radang yang masih aktif ditandai dengan
keadaan umum masihterlihat sakit, suhu masih tinggi, terdapat tanda-tanda peritonitis, lekositosis,
dan
pergeseran ke kiri. Massaapendix dengan proses meradang telah mereda ditandai dengan keadaan
umum telah membaik, suhu tidak tinggi lagi, tidak ada tanda peritonitis, teraba massa berbatas tegas
dengan nyeri tekan ringan, lekosit dannetrofil normal (Ahmadsyah dan Kartono, 1995).
PROGNOSIS
• Mortalitas:
- 0,1% pada appendicitis akut
- 3% bila ruptur
- 15% bila ruptur pada geriatri.
• Penyebab kematian: sepsis tidak terkontrol, emboli paru,
aspirasi.
• Komplikasi yang mungkin terjadi:
– Akut: infeksi luka operasi.
– Kronis: perlengketan, ileus obstruksi, hernia.
PERITO
NITIS
DEFINISI
PERITONITIS
ANAMNESIS
Onset akut
Nyeri bersifat tumpul, tidak jelas tajam,
terlokalisir
Demam
Anoreksia
Mual, Muntah
Perut kembung
Laboratorium
• Hemoglobin : Mungkin anemi
• Leukositosis/leukopenia
• Shift to the left
• Komplikasi : Ureum, kreatinin, gula darah, Natrium, Kalium, AGD
• Kultur : cairan peritoneum/ pus (abses/peritonitis tersier)
X ray
Foto 3 posisi: Free air, dilatasi, preperitoneal fat (-)
USG
USG = koleksi cairan (abses)
X-RAY
a. Terapi umum
Terapi suportif seperti : oksigenisasi jaringan,
dekompresi, resusitasi cairan dan elekrolit.
b. Terapi khusus
Terbagi menjadi dua yaitu terapi non bedah dan
terapi bedah.
Prinsip penatalaksanaan:
(1) mengontrol sumber infeksi
(2) menghilangkan bakteri dan toksinnya non operatif
(3) menstabilkan fungsi system tubuh
(4) mengontrol proses inflamasi
• ANAMNESA
– Nyeri perut (+)
– Berawal dari daerah epigastrium lalu kemudian berpindah
ke
– perut kanan bawah dan saat ini dirasakan di seluruh lapang
– perut.
– Nyeri dirasakan semakin berat dan
– Demam kurang lebih 1minggu SMRS.
– Demam dirasakan sepanjang hari.
– Mual (+),
Muntah >5x/hari,
– Flatus (+),BAB (+) sedikit-sedikit terakhir 3hari yang lalu, BAK (+)
Nafsu makan menurun (+),
dalam batas normal.
• Pemeriksaan fisik
– Keadaan umum : sakit sedang.
– Bising usus (+) menurun pada auskultasi,
– hipertimpani (+)
– Nyeri ketok di seluruh lapangan abdomen pada
perkusi,
– Nyeri tekan (+)
– defans muscular (+)
– Rovsing sign (+),
– Psoas sign (+),
– obturator sign (+).
• Dari pemeriksaan hematologi didapatkan jumlah
leukosit lebih dari batas normal yaitu 17.950 /mm3.
• Skoring alvarado pada pasien didapatkan :
– Migrating pain (+) = 1,
– anorexia (+) = 1,
– nausea/vomiting (+)= 1,
– tenderness in right iliac fossa (+)=2,
– rebound tenderness in right iliac fossa (+)=1,
– elevated temperature(+)=1,
– leukositosis (+)=2.