Anda di halaman 1dari 5

FUNGSI DAN KEDUDUKAN HADITS TERHADAP AL-QURAN

Hadits itu bisa dijadikan hujjah atau dalil untuk menetapkan hukum secara mandiri. Allah SWT menutup risalah samawiyah dengan risalah Islam (Al-Quran). AlQuran adalah wahyu al-matluw (yang terbaca), sedangkan As-sunnah merupakan wahyu ghairu al-matluw (yang tidak terbaca). Iman Ibn Hazm berkata, bahwa AlQuran merupakan sumber utama syariat, maka di dalamnya kami menemukan kewajiban taat terhadap apa yang diperintahkan oleh Rasul SAW.1 A. Kedudukan Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam Al-Quran dan Hadits merupakan dua sumber hukum syariat Islam yang tetap, yang orang Islam tidak mungkin memahami syariat Islam secara mendalam dan lengkap dengan tanpa kembali kepada kedua sumber Islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang alimpun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan salah satu dari keduanya.2 Jumhur ulama menyatakan bahwa As-Sunnah atau Hadits menempati urutan yang kedua setelah Al-Quran. Untuk hal ini As-Suyuthi dan Al-Qasimi mengemukakan argumentasi rasional dan argumentasi tekstual. Diantara argumentasi itu adalah sebagai berikut :3 a. Al-Quran bersifat qathi al-wurud, sedangkan As-Sunnah bersifat zanni al-wurud. Karena itu yang qathi harus didahulukan daripada yang dzanni. b. Al-Sunnah berfungsi sebagai penjabaran Al-Quran. c. Al-Quran sebagai wahyu dari sang Pencipta, Allah SWT, sedang Hadits

1 Rina Daniati, Makalah Ulumul Hadits Fungsi dan Kedudukan $Hadits (Makalah Ulumul Hadits UIN Jakarta, 2005) 2 Drs. H. Mudasir, Ilmu Hadits, (Bandung : Pustaka Setia, 2005), h. 65. 3 Drs. Abuddin Nata, M.A., Al-Quran dan Hadits, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1993), h. 171.

2 berasal dari hamba dan utusan-Nya, maka selayaknya bahwa yang berasal dari sang Pencipta lebih tinggi kedudukannya daripada yang berasal dari hamba dan utusan-Nya. Selanjutnya, ada beberapa dalil, baik naqli dan aqli, yang memaparkan tentang kedudukan Hadits sebagai sumber hukum Islam, diantaranya :4 1. Dalil Al-Quran5 QS. Al-Hasyr [59]: 7

tBur N39s?#u Aq9$# nrs $tBur N39pktX $! mYt (#qgtFR$$s 4 (#q)?$#ur !$# ( b) !$# x >$s)9$#
Artinya : Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. QS. An-Nur [5]: 92

@% (#qr& !$# (#qr&ur tAq9$# ( c*s (#q9uqs? $yJR*s mn=t $tB @iHq N6n=tur $B OF=iHq ( b)ur nq? (#rtGgs? 4 $tBur n? t Aq9$# w) n=t79$# 7J9$#
Artinya : Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." 2. Dalil Al-Hadits6

4 H. Mudasir, Ilmu Hadits, h. 66. 5 Ibid, h. 69. 6 Ibid, h. 71.

Artinya : Aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu berupa kitab Allah dan Sunnah RasulNya. (HR. Malik) 3. Kesepakatan Ulama (Ijma)7 Kesepakatan umat Muslimin dalam mempercayai, menerima dan mengamalkan segala ketentuan yang terkandung di dalam Hadits ternyata sejak Rasulullah masih hidup. Sepeninggal beliau, semenjak masa Khulafa Al-Rasyidin hingga masa-masa selanjutnya, tidak ada yang mengingkarinya. Banyak di antara mereka yang tidak hanya memahami dan mengamalkan isi kandungannya, akan tetapi bahkan mereka menghafal, memelihara dan menyebarluaskan kepada generasi-generasi selanjutnya. 4. Sesuai dengan Petunjuk Akal8 Bila kerasulan Muhammad SAW telah diakui dan dibenarkan, maka sudah selayaknya segala peraturan dan perundang-undangan serta inisiatif beliau, baik yang beliau ciptakan atas bimbingan ilham atau atas hasil ijtihad semata, ditempatkan sebagai sumber hukum dan pedoman hidup. Selain itu secara logika kepercayaan kepada Muhammad SAW, sebagai Rasul mengharuskan umatnya mentaati dan mengamalkan segala ketentuan yang beliau sampaikan. B. Fungsi Hadits Terhadap Al-Quran Fungsi Hadits terhadap Al-Quran diantaranya dapat menjadi pelengkap di dalam menetapkan hukum yang terdapat dalam Al-Quran. Masalah-masalah yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits itu juga sangat penting untuk diimani, dijalankan,
7 Ibid, h. 73. 8 Ibid, h. 74.

4 dan dijadikan pedoman dasar oleh setiap muslim. Diantara masalah-masalah yang ada dalam Al-Quran dan dikemukakan pula dalam Al-Sunnah ialah kewajiban beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kewajiban melaksanakan ibadah shalat, kewajiban mengeluarkan zakat, kewajiban melaksanakan ibadah puasa.9 Selain itu, Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama banyak memuat ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global, kemudian disandingkan dengan kehadiran Hadits, sebagai sumber ajaran kedua yang tampil untuk menjelaskan (bayan) keumuman isi Al-Quran tersebut.10 Adapun menurut sebagian Ulama bayan dibagi menjadi beberapa macam, diantaranya:11 a. Bayan At-Taqrir Bayan At-Taqrir disebut juga dengan bayan al-takid dan bayan al-itsbat. Yang dimaksud dengan bayan ini, ialah menetapkan dan memperkuat apa yang telah diterangkan di dalam Al-Quran. Adapun contohnya tentang Hadits ketika melihat (ruyah), diperintahkan untuk berpuasa dan juga berbuka (HR. Muslim), memperkuat isi dari ayat Al-Quran surat Al-Baqarah: 185 : Maka barang siapa yang mempersaksikan pada waktu itu bulan, maka hendaklah ia berpuasa... b. Bayan al-Tafsir Bayan al-Tafsir ialah bahwa kehadiran Hadits berfungsi untuk memberikan rincian dan tafsiran terhadap ayat-ayat Al-Quran yang masih bersifat global (mujmal), memberikan persyaratan/batasan (taqyid), ayat-ayat Al-Quran yang bersifat mutlak, dan mengkhususkan (takhsish) terhadap ayat-ayat Al-Quran yang masih umum. Di antara contohnya ialah ayat-ayat Al-Quran yang masih mujmal, yaitu perintah mengerjakan shalat, puasa, zakat dan lain-lain.
9 Nata, Al-Quran dan Hadits, h. 175-177. 10 H. Mudasir, Ilmu Hadits, h. 75. 11 Ibid, h. 75-86.

5 c. Bayan at-Tasyri Bayan at-Tasyri adalah mewujudkan suatu hukum atau ajaran-ajaran yang tidak didapati dalam Al-Quran, atau dalam Al-Quran hanya terdapat pokok-pokoknya (ashl) saja. Hadits Rasul SAW dalam segala bentuknya (baik yang qauli, fili, maupun taqriri) berusaha menunjukkan suatu kepastian hukum terhadap berbagai persoalan yang muncul, yang tidak terdapat dalam Al-Quran. Contohnya Hadits Rasul SAW tentang perintah menunaikan zakat fitrah (HR. Muslim). d. Bayan al-Nasakh Bayan al-Nasakh berfungsi menjelaskan mana ayat yang menasakh (menghapus) dan mana yang dimansukhkan (dihapus) yang secara lahiriah bertentangan. Bayan Nasakh ini juga sering disebut bayan tabdil (mengganti suatu hukum atau menghapuskannya).12 Di dalam bayan ini terjadi perbedaan pendapat yang sangat tajam. Ada yang mengakui dan menerima fungsi Hadits sebagai nasikh terhadap sebahagian hukum AlQuran dan ada juga yang menolaknya. Bagi mereka yang menerima, terdapat contoh di dalam sebuah Hadits tentang Tidak ada wasiat bagi ahli waris. Kemudian Hadits ini menurut mereka menasakhkan firman Allah QS. Al-Baqarah [2]: 180 yang menjelaskan tentang wajibnya berwasiat.13

12 Nata, Al-Quran dan Hadits, h. 183. 13 H. Mudasir, Ilmu Hadits, h. 85-86.