Anda di halaman 1dari 5

Ikramullah Mahmuddin / J111 12 269 / FKG UNHAS

ANODONTIA
PENDAHULUAN Genetika adalah ilmu tentang keturunan yang mempelajari berbagai problematia manusia seperti kesehatannya, cacat lahirnya jasmani maupun mental, pewarisan ciri-ciri dan kelainan bawaan, bahkan sampai merekayasanya. Kita ketahui bersama bahwa kehidupan manusia berawal dari pertemuan sel sperma laki-laki dan sel telur wanita dan menghasilkan suatu bentuk yang telah terbuahi (zigot) yang dalam psikologi islam disebut dengan nutfah, yaitu air mani (sperma) yang keluar dari laki-laki lalu melekat di rahim perempuan. Sperma dan sel telur ini disebut sel benih yang mengandug 46 kromosom yang dibentuk menjadi 23 pasang, dan dalam setiap pasang kromosom terdiri dari pihak ayah dan pihak ibu. Sel benih itulah yang nantinya akan tumbuh menjadi individu keturunan yang baru. Semua orang ingin mempunyai keturunan yang baik, sempurna jasmani rohaninya tanpa ada cacat. Tetatpi terkadang terdapat beberapa kelainan yang memang diwariskan dari kedua orang tua. Kelainan kelainan seperti ini merupakan kelainan genetik yang tidak dapat ditolak karena sulit untuk dideteksi dan dihindari. Tidak hanya di bidang kedokteran umum saja, tetapi ada juga beberapa kelainan genetik yang biasa ditangani oleh bidang kedokteran gigi. Antara lain yaitu anodontia. Penderita dengan kelainan seperti ini menyebabkan terdapat beberapa gigi yang tidak tumbuh karena tidak mempunyai benih gigi. Penderita dengan kelainan seperti anodontia ini sangatlah jarang terjadi, karena hanya terjadi pada orang-orang tertentu saja yang mungkin mempunyai faktor keturunan dari kedua orang tuanya. Baik itu dari ayah maupun ibunya.

PEMBAHASAN A. Pengertian Anodontia disebut juga sebagai anodontia vera adalah kelainan genetik (keturunan) berupa tidak tumbuhnya gigi karena tidak adanya benih gigi baik absennya semua gigi sulung maupun gigi sulung terbentuk lengkap namun semua gigi permanen tidak terbentuk sama sekali. Sedangkan bila yang tidak terbentuk hanya beberapa gigi saja, keadaan tersebut disebut hipodontia atau oligodontia. Terdapat 3 macam anodontia, yaitu complete anodontia, hipodontia dan oligodontia. (Adulgopar, 2009) Complete anodontia adalah kelainan genetik berupa tidak tumbuhnya semua gigi di dalam rongga mulut. Hipodontia adalah kelainan genetik yang biasanya berupa tidak tumbuhnya 1-6 gigi di dalam rongga

mulut. Oligodontia adalah kelainan genetik berupa tidak tumbuhnya lebih dari 6 gigi di dalam rongga mulut. Kondisi kelainan ini biasanya melibatkan gigi susu dan gigi permanen, namun seringkali pada gigi permanen (Lidral, 2002).

Gambar 1. Perbedaan Hipodontia, Oligodontia, dan Anodontia

Gambar 2. Anodontia

Gambar 3. oligodontia

Gambar 4. Hipodontia bilateral

Gambar 5. Pemeriksaan radiografik hipodontia bilateral

Gambar 6. Radiografik Anadontia

B. Penyebab Anodontia dan hipodontia disebabkan kelainan genetik tetapi mutasi gen yang spesifik tidak diketahui. Anodontia dan hipodontia kadang ditemukan sebagai bagian dari suatu sindroma, yaitu kelainan yang disertai dengan berbagai gejala yang timbul secara bersamaan, misalnya pada sindroma Ectodermaldysplasia. Hipodontia dapat timbul pada seseorang tanpa ada riwayat kelainan pada generasi keluarga sebelumnya, tapi bisa juga merupakan kelainan yang diturunkan. (Adulgopar, 2009).

Berikut merupakan pola pewarisan sifat anodontia yang terjadi pada manusia :

Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa tidak ada penyebab anodontia yang pasti. Ada beberapa peneliti yang mengusulkan dugaan bahwa partial atau complete anodontia adalah akibat evolusi yang akhirnya menghasilkan individu-individu yang tidak memiliki gigi (Susanto, 2009). Sampai saat ini, penyebab anodontia masih diteliti terus menerus oleh berbagai kalangan ilmuan yang kemungkinan terbesar penyebabnya adalah kelainan genetik yang menurun ataupun terjadinya mutasi gen. C. Gejala Anodontia ditandai dengan tidak terbentuknya semua gigi dan lebih sering mengenai gigi-gigi tetap dibandingkan gigi-gigi sulung. Pada hipodontia, gigi-gigi yang paling sering tidak terbentuk adalah gigi premolar dua rahang bawah, incisivus dua rahang atas, dan premolar dua rahang atas. Kelainan ini dapat terjadi hanya pada satu sisi rahang atau keduanya Diagnosa anodontia biasanya membutuhkan pemeriksaan radiografik untuk memastikan memang semua benih gigi benar-benar tidak terbentuk. Pada kasus hipodontia, pemeriksaan radiografik panoramik berguna untuk melihat benih gigi mana saja yang tidak terbentuk. D. Terapi Apabila diagnosa telah ditegakkan melalui pemeriksaan, terapi yang dapat dilakukan adalah pembuatan gigi tiruan sehingga fungsi dan estetis rongga mulut tetap terjaga. KESIMPULAN Anodontia adalah kelainan genetik yang menyebabkan tidak adanya benih gigi sehingga gigi sulung ataupun permanen tidak tumbuh. Baik itu seluruh gigi maupun sebagian gigi. Penyebab dari anadontia sampai saat ini diperkirakan karena faktor genetik keturunan yang kelainannya dibawa oleh kromosom X dan muncul dalam keadaan resesif. Dalam proses penanganannya yaitu penderita dibuatkan gigi tiruan sebagai pengganti gigi yang tidak tumbuh.

DAFTAR PUSTAKA Adulgopar. 2009. Anodontia.

http://adulgopar.files.wordpress.com/2009/12/anodontia.pdf Anonim. Pola-Pola Hereditas. http://prestasiherfen.blogspot.com/2009/11/polapola-hereditas.html. Diakses tanggal 12 Oktober 2012. Anonim. Anodonsia Penyakit Tidak Tumbuhnya Gigi.

http://rostianatia.blogspot.com/2011/07/anodonsia-penyakit-tidaktumbuhnya-gigi.html. Diakses tanggal 12 Oktober 2012. Anonim. Dental Condition.

http://www.silverstardental.com/dental_conditions.php. Diakses tanggal 12 Oktober 2012. Anonim. What Does Anodontia Look Like.

http://trialx.com/curebyte/2011/06/16/what-does-anodontia-look-like/. Diakses tanggal 12 Oktober 2012. Damayanti, Nita. 2012. Koas Gigi. http://id.scribd.com/doc/93016323/koas-gigi. Lidral AC, Reising BC (2002). The role of MSX1 in human tooth agenesis. J Dent Res 81:274-278.

Susanto.

2009.

Abnormalitas

Pada

Gigi.

http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/9da07198023c4f541871b5fc05 e4ffcb0da1a37a.pdf