Anda di halaman 1dari 12

Bab IV Perkembangan Penduduk Dunia dana Transisi Demografi

4.1 PERTUMBUHAN PENDUDUK DUNIA Sebenarnya hingga kini tidak terdapat data perkembangan penduduk dunia yang dapat dipercaya, terutama mengenai gambaran demografi pada abad-abad permulan kehidupan manusia. Beberapa ahli (Thompson dan Lewis, 1965; Hutchincson, 1967; Bland dan D. E. Lee, 1976; Tomlinson, 1965; dan Bogue, 1969) membuat estimasi tentang jumlah penduduk dan perkembangann penduduk dunia pada waktu yang lampau, cukup dapat digunakan sebagai pegangan. Perkembangan jumlah penduduk dunia sangat erat kaitannya dengan perkembangan peradaban manusia dalam berinteraksi dengan alam sekitarnya. Ada tiga tahap perkembangan peradapan manusia hingga kini: Pertama,jaman ketika manusia mulai mempergunakan alat-alat menanggulangi kehidupannya. Hal ini membedakan dengan jelas antara Homo sapiens dengan Kera. Jaman ini berlangsung beberapa juta tahun., dan dapat lagi dibagi menjadi jaman peralatan batu tua, batu muda, dan perunggu. Kedua jaman ketika manusia mulai mengembangkan usaha pertanian menetap. Jaman ini merubah kehidupan perburuhan menjadi kehidupan pertanian atau kehidupan yang sifatnya nomadis menjadi kehidupan menetap disekitar daerah pertanian. Ketiga jaman mulainya era industrialisasi, yaitu sekitar pertengahan abad ke-17 sesudah Masehi,. Jaman ini ditandai dengan tumbuhnya pusat-pusat industry, dan semakin berkembangnya lkota-kota sebagai tempat permukiman manusia (Tomlinson, 1965). Dalam kerangka kerja perkembangan kebudayaan manusia itulah, beberapa tahapan atau periode sejarah pertumbuhan penduduk dunia dirumuskan oleh para ahli. Angka pertama yang dikemukakan mengenai jumlah penduduk dunia adalah 125.000 orang, yang hidup kira-kira satu juta tahun yang lalu (Devevy dalam Bland dan Dwight E. Lee, 1976). Angka ini berkembang menjadi kira-kira satu juta orang setelah mengalami proses pertumbuhan selama 700.000 tahun kemudian. Tingkat pertumbuhan penduduk setiap tahun dalam era ini nyaris tidak berarti sama sekali, yakni 0,00001 persen. Tingkat pertambahan penduduk sebesar ini berlangsung kira-kira hingga tahun 8000 sebelum Masehi. Pada waktu itu jumlah absolute penduduk dunia diperkirakan sebesar 5,3 juta jiwa (Jones, 1981). Hampir 99 persen dari sejarah pertumbuhan manusia, penduduk dunia hanya bertambah 5-10 juta (jumlah ini, menurut ahli Antropologi yang mampu ditopang oleh aktifitas berburu, menangkap ikan, dan mengumpulkan hasil-hasil hutan). Lambatnya permubuhan penduduk pada era ini disebabkan karena tingginya tingkat kematian. Menurut Bogue (1969) hamper setengah dari bayi yang lahir, meninggal sebelum mencapai umur satu tahun, sedangkan sisanya, dalam perjalanan hidupnya banyak yang meninggal karena kelaparan, epidemi, dan peperangan.

Pertumbuhan penduduk terlihat meningkat pada kira-kira 6000-9000 tahun yang lampau, ketika teknik bertani sudah dikenal dan mulai menyebar di beberapa bagian dunia. Kondisi ini memungkinkan untuk meningkatkan produksi pangan, yang berarti meningkatkan kemakmuran manusia. Arus suplai bahan pangan semakin lancer dari daerah-daerah pertanian ke pusat-pusat pemukiman penduduk. Pada awal tahun Masehi, jumlah penduduk masih sekitar 200 juta jiwa, dan pada tahun 1650 jumlah penduduk dunia diperkirakan sebesar 500 juta jiwa. Setelah tahun 1650 pertumbuhan penduduk dunia mulai meningkat (Tabel 4.1). hal ini berkaitan erat dengan mulainya berlangsung revolusi industry di Negara-negara Barat. Era mulai tahun 1650 hingga sekarang dikenal sebagai era modern kependudukan dunia. Tabel 4.1 Perkiraan Pertumbuhan Penduduk Dunia Hingga Tahun 1960 Tahun Perkiraan Jumlah Penduduk Rata-rata Pertumbuhan Penduduk dari tahun yang Mendahuluinya Jumlah Tahun Penduduk Berlipat Dua Dari Jumlah Penduduk Tahun Yang Mendahuluinya Sangat lama sekali Idem Idem Idem 1.000 300 230 180 140 120 90 40

10.000.000 B.C. 5.000 B.C. 0 1.300 1.650 1.700 1.750 1.800 1.850 1.900 1.950 1.960 Sumber: Tomlinson (1965)

100 ribu-10 juta 5 juta-20 juta 200 juta 400 juta 500 juta 600 juta 700 juta 900 juta 1.200 juta 1.600 juta 2.400 juta 2.800 juta

Lebih rendah dari 0,05 Idem Idem Idem 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.8 1.7

Sejalan dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi dalam pengolah sumber daya alam yanga da, tingkat kehidupan manusia menjadi semakin baik. Hal ini sangat mempengaruhi penurunan tingkat mortalitas penduduk. Seperti banyak dikemukakan oleh para ahli demografi, behwa ledakan penduduk yang terjadi pada abad-abad terakhir ini terutama karena menurunnya tingkat kematian dengan cepat, sementara tingkat kelahiran belum dapat dikontrol dengan baik.

Dengan hanya membutuhkan waktu lebih dari tiga abad sejak tahun 1650, jumlah penduduk dunia sudah menjadi sekitr 2.400 juta jiwa, dengan tingkat pertumbuhan penduduk setiap tahun sekitar satu persen (lihat Gambar 6). Bogue (Kammeyer, 1971) memperhitungkan tingkat pertumbuhan penduduk dunia setelah tahun 1650 sebagai berikut. Pada periode tahun 1650-1750 tingkat pertumbuhan penduduk dunia sekitar 0,34 persen per tahun, dan pada periode tahun 1900-1920 meningkat menjadi 0,65 persen dan pada dekade 1950-an meninngkat menjadi 1,81 persen, dan pada periode tahun 1995-2000 menurun menjadi 1,3 persen (United Nation, 1998). Bogue membedakan tingkat pertumbuhan penduduk antara Negara-negara industri dengan Negara-negara sedang berkembang (non industri) sebagai berikut. Pada periode tahun 1650-1750 tingkat pertumbuhan penduduk kedua kelompok Negara tersebut hamper sama., tetapi setelah tahun 1750, tingkat pertumbuhan penduduk Negara-negara industri lebih tinggi dibandingkan dengan Negara-negara sedang berkembang. Keadaan ini berlanjut hingga dekade ketiga abad ke20, dan tingkat pertumbuhan penduduk tertinggi untuk Negara-negara industry terjadi pada abad ke 18 dan ke 19. Hal ini disebabkan karena tingkat kematian sudah menurun sedngkan tingkat kelahiran masih tetap tinggi, dan selisih antara tingkat kelahiran dan tingkat kematian yang menghasilkan tingkat pertumbuhan penduduk alami (rate of natural increase) sampai batas tertentu akan terus meningkat.

Gambar 6 Perkembangan Pertumbuhan Dunia Sejak Permulaan Tahun Masehi Berkaitan dengan tahap perkembangan teknologi maupun peristiwa-peristiwa sosial ekonomi yang penting yang dialami penduduk dunia sejak tahun 1650, maka Thompson dan Lewis (1978) membagi periode perkembangan penduduk dunia ke dalam lima periode: 1. Periode 1650-1800 2. Periode 1800-1850 3. Periode 1850-1900

4. Periode 1900-1930 5. Periode 1930 hingga sekarang Periode 1650-1800, ditandai ndengan pengembangan teknik-teknik pertanian baru, pendirian pabrik-pabrik dalam tahap awal, serta pengembangan saran transportasi dan perhubungan, disertai dengan kestabilan politik yang relatif terjadi di banyak negra di dunia. Faktor-faktor tersebut memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pertumbuhan penduduk, terutama di Negara-negara Barat. Penduduk dunia pada akhir periode ini diperkirakan sebanyak 900 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduk 0,4 persen per tahun. Pdaa periode 1800-1850, pertumbuhan pendduduk dunia sudah menunjukan variasi antara Negara satu dengan Negara yang lain maupun antara satu kawasan benua dengan kawasan benua yang lain. Negara-negara di Eropa pada umumnya menunjukan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Dalam waktu hanya 50 tahun, penduduknya bertambah sekitar 33,3 persen. Peningkatan penataan kehidupan politik dengan ekonomi bangsa-bangsa pada masa ini mendorong stabilnya penyediaan pangan yang cukup bagi penduduk, disamping kesadaran akan kesehatan lingkungan. Salah satu hal penting yang patut dicatat dalam periode ini adalah kesadaran untuk mengontrol laju pertumbuhan penduduk, khususnya di Perancis. Periode 1850-1900 ditandai dengan sudah banyaknya Negara di dunia yang melaksanakan sensus penduduk secara lengkap, sehingga data kependudukan dunia sudah semakin banyak dan reabilitasinya semkin tinggi. Kemajuan teknologi pada periode ini semakin mendorong peningkatan produktivitas manusia. Pengorganisasian kehidupan sosial, ekonomi, dan politik penduduk Negara-negara barat semakin nampak, terutama di daerah-daerah urban. Perubahan yang paling penting terjadi pada periode ini ialah telah mulai menurunnya tingkat fertilitas di beberapa Negara Barat. Di Eropa, misalnya, sudah timbul kesadaran dan keyakinan bahwa pertumbuhan penduduk sepenuhnya dapat dikendalikan melalui usaha penurunan tingkat kelahiran dan tingkat kemaatian. Dalam periode 1900-1930, peristiwa dunia yang membawa pengaruh demografis yang besar ialah Perang Dunia I. Dalam peristiwa ini banyak penduduk yang meninggal di medan perang, ataupun meninggal karena buruknya keadaan ekonomi. Banyak Negara yang dilanda penyakit yang banyak menyebabkan kematian, terutama penyakit infeksi. Dalam periode ini perkembangan penduduk dunia secara garis besar dapat dipisahkan atas tiga wilayah. Wilayah pertama, mencakup Negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Kedua Negara ini sudah nampak rapi dan dalam pengendalian pertumbuhan penduduknya, melalui pengendalian kelahiran dan kematian. Wilayah kedua, mencakup Negara-negara Eropa Timur, Afrika Utara, Amerika Latin dan Jepang. Di Negara-negara ini usaha penurunannya tingkat kelahiran belum banyak berhasil dibandingkan dengan penurunan tingkat kematian, sehingga masih terjadi pertumbuhan penduduk yang relatif besar. Oleh para ahli, di Negaranegara inilah terjadinya transisi demografi pada awal bad ke-20. Dapun wilayah ketiga, yang merupakan sisa dari wilayah pertama dan kedua, masih mengalami tingkat kelahian dan kematian yng tinggi. Variasi pertumbuhan penduduk antaara Negara dalam wilayah ini npada

umumnya hanya disebabkan oleh perbedaan tingkat kematian, oleh karena tingkat kelahirannya cenderung masih statis. Periode 1930 hinngga sekarang, merupakan periode peledakan penduduk dunia yang cukup besar, terutama setelah Perang Dunia II. Kecuali perang itu sendidi, hamper sudah tidak ada lagi penyebab pembunuh manusia yang berarti. Pelayanan kesahatan semakin jauh meningkat, terutama dengan penemuan berbagai jenis obat nti biotika. Penemuan-penemuan teknologi modern semakin mendorong peningkatan kualitas hidup. Di satu pihak keadaan ini semakin mensukseskan usaha pengendalian penduduk Negara-negara maju, namun sebalik nya di Negaranegara yang belum maju, terutama paada awal-awal periode ini, keadaan ini justru mendorong pertambahan penduduk yang cukup besar. Dalam periode inilah aangka 4 milyar dari jumlah penduduk dunia dicapai. Dalam periode ini pula, kesadaran akan penurunan tingkat kelahiran sebagai usaha-usaha menekan laju pertumbuhaan penduduk, menjadi program internsional yang mencaakup hampir semua Negara di dunia. 4.2 TRANSISI DEMOGRAFI Di atas telah diuraikan bahwa menjelang permulaan abad ke-20 dibeberapa Negara Barat terjadi penurunan tingkat kelahiran dan tingkat kematian. Pengalaman historis ini, melahirkan teori pokok dalam demografi yaitu transisi demografi. Transisi Demografi adalah perubahanperubahan tingkat kelahiran dan tingkat kematian dimulai dari tingkat kelahiran dan tingkat kematian tinggi, berangsur-angsur berubah menjadi tingkat kelahiran dan tingkat kematian rendah, dan tingkat kematian menurun lebih cepat dibandingkan dengan tingkat kelahiran. Bogue (1969) membuat tahapan transisi demografi menjadi tiga tahap: I. Pra-transisi (pre-transitional), dari A hingga B, dengan cirri-ciri tingkat kelahiran dan tinngkat kemtian sama-sama tinggi. Angka pertumbuhan penduduk alami sangat rendah (hampir mendekati nol). Pra-transisi ini terjadi sebelum tahun 1650, menyebabkan penduduk dunia stabil. II. Transisi (Transitonal), dari B ke E, dicirikan dengan penurunan tingkat kelahiran dan tingkat kematian, tingkat kematian lebih rendah daripada tingkat kelahiran, mengakibatkan tingkat pertumbuhan penduduk alami sedang atau tinggi. Fase transisi ini dibagi lagi menjadi tiga: a. Permulan Transisi (early transitional), dari B ke C, dicirikan dengan tingkat kematian menurun, tetapi tingkat kelahiran tetap tinggi, bahkan ada kemungkinan meningkat karna perbaikan kesehatan. b. Pertengahan transisi (mid-transitional), dari C ke D, tingkat kematian dan tingkat kelahiran kedua-duanya menurun, tetapi tingkat kematian menurun lebih cepat dari tingkat kelahiran. c. Akhir transisi (late transisi), dari D ke E, tingkat kematian rendah dan tidak berubah atau menurun hanya sedikit, dan angka kelahiran antara sedang dan rendah, dan berfluktuasi ataumenurun. Pengetahuan tentang kontrasepsi meluas.

III. Pasca-transisi (post transitional) dari E ke F, dicirikan oleh tingkat kematian dan tingkat kelahiran kedua-duanya rendah; hampir semuanya mengetahui cara-cara kontrasepsi dan dipraktekkan. Tingkat kelahiran dan tingkat kematian (vital rates) mendekati keseimbangan. Pertumbuhan penduduk alami amat rendah dalam jangka waktu yang panjang (Gambar 7). Teori transisi demografi telah dikembangkan oleh Waren Thompson dan Frank Notenstein (Chester Bland amd D. E. Lee, 1976). Kedua ahli ini bekeeja sendiri-sendiri dengan bertitik tolak pada tingkat fertilitas dan mortalitas di Eropa Barat mulai abad ke 17. Menurut David Lucas (1982) teori transisi ini mengandung beberapa kelemahan, karena pada masa tersebut di Eropa Barat sendiri terdapat variasi dalam beberapa hal. Pada masa pra-transisi, misalnya, fertilitas di Eropa sangat bervariasi disebabkan karena perbedaan pola-pola perkawinan, di samping itu beberapa Negara sudah dengan sengaja mengatur fertilitasnya. Sebagai contoh dikemukakan oleh Lucas, bahwa penurunan kelahiran di Perancis telah dimulai pada awal abad 19, yaitu sebelum industrialisasi dan urbanisasi mulai menyebar. Sedangkan di Negara-negara Eropa Barat lainnya baru 75 tahun kemudian terjadi penurunan kelahiran. Di samping itu, penurunan tingkat kelahiran dan tingkat mortalitas di Perancie terjadi daalam waktu yang hampir bersamaan.

Gambar 7 Model Transisi Demografi Sebenarnya proses penurunan tingkat kematian dan kelahiran di beberapa Negara tidaklah sederhana. Di Eropa, penurunan tingkat mortalitas lebih berkaitan dengan perkembangan sosial ekonomi. Di Negara-negara sedang berkembang, turunnya tingkat mortalitas terutama disebabkan oleh tingginya efektifitas penggunaan obat-obatan modern dan anti biotika. Menurut David Lucas (1982) di Negara-negara sedang berkembang sektor pertanian merupakan sektor dominan, maka ia dan para penulis lainnya cenderung mengatakan bahwa modernisasi daripada industrialisasi sebagai penyebab penurunan tingkat fertilitas. Di sektor kesehatan, program kesehatan masyarakat telah melaksanakan secara intensif. Hampir di tiap-tiap kecamatan di Jawa dan di Bali begitu pula di beberapa daerah lainnya di Indonesia terdapat Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS), si sampiing itu program perbaikan gizi terutama bagi anak-anak di bawah lima tahun (Balita) dilaksanakan dengan baik, terutama tingkat kematian bayi. REPELITA IV ingin dijadikan landasan yang kuat oleh Pemerintah sehingga pada REPELITA VI Indonesia dapat diharapkan dapat tinggal landah. Adapun perkiraan komponen perubahan penduduk di Indonesia tahun 1980 hingga tahun 2000.

Perkiraan komponen perubahan penduduk di Indonesia dapat dibuat asumsi sebagai berikut: a. Dari tahun 1980 hingga tahun 2000 tingkat kelahiran turun rata-rata sekitar 2 pesen setiap tahun, sesuai dengan kecenderungan terjadi antara tahun 1967-1979. b. Tingkat kematian mulai tehun 1980 sampai 2000 juga turun sesuai dengan kecenderungan di masa lampau (1967-1979). c. Migrasi Internasional neto dianggap tidak ada. Pengukuran mengenai pencapaian tingkat transisi demografi disuatu wilayah belum dapat dilakukan karena perlu dipelajari lebih dahulu pengukuran-pengukuran komponen demografi baik yang bersifat statis (struktur penduduk) maupun komponen yang bersifat dinamis (proses penduduk).

BAB V Teori Kependudukan Pada tahun 1650 jumlah penduduk Negara-negara Eropa, Amerika Serikat, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan sebesar 113 juta jiwa, pada tahun 1750 menjadi 152,4 juta jiwa, dan kemudian pda tahun 1850 menjadi 325 juta jiwa. Tingginya laju pertumbuhan penduduk dibeberapa bagian dunia ini menyebabkan jumlah penduduk meningkat dengan cepat. Fenomena ini menggelisahkan beberapa ahli, dan masing-masing dari mereka berusaha mencari faktor faktor yang menyebabkan kemiskinan. Umumnya para ahli dikelompokkan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari penganut aliran Malthusian. Aliran Malthusian dipelopori noleh Thomas Robert Malthus, dan aliran Neo Malthusian di pelopori oleh Garreth Hardin dan Paul Ehrlich. Kelompok kedua terdiri dari penganut aliran Marxist yang dipelopori oleh Karll Marx dan Friedrich Engels. Kelompok ketiga terdiri dari pakar-pakar teori kependudukan mutakhir yang merupakan formulasi teori-teori teori kependudukan yang ada. 5.2 ALIRAN MALTHUSIAN Aliran ini dipelopori oleh Thomas Robert Malthus, hidup pada tahun 1766 hingga tahun 1834. Pada permulaan tahun 1798 lewat karangannya yang berjudul: Essay on Principle of Populations as it Affect the Future Improvement of Sociaty, with Remarks on the Speculations of Mr. Godwin, M. Condorcet, and Other Writers, menyatakan bahwa penduduk (seperti juga tumuh-tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan, akan berkembang biak dengann cepatdan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari permukaan bumi. Untuk dapat keluar dari permasalahan kekurangan pangan, pertumbuhan penduduk harus dibatasi. Menurut Malthus pembatasan tersebut, dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu prieventive checks, dan positive checks. Preventive checks adalah pengurangn penduduk melalui penekanan kelahiran. Positive checks adalah pengurangan penduduk melalui proses kematian. Pada umumnya gagasan yang dicetuskan Malthus dalam abad ke-18 pada masa itu dianggap sangat aneh. Asumsi yang mengatakan bahwa duna akan kehabisan sumber daya alam karena jumlah penduduk yang selalu meningkat, tidak dapat diterima oleh akal sehat.Beberapa kritik terhadap teori Malthus adalah sebagai berikut: 1. Malthus tidak memperhitungkan kemajuan-kemajuan transportasi yang menghubungkan daerah satu dengan yang lain. 2. Tidak memperhitungkan kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi. 3. Malthus tidak memperhitungkan usaha pembatasan kelahiran bagi pasangan-pasangan yang suddah menikah. 4. Fertilitas kan menurun apabila terjadi perbaikan ekonomi dan standard hidup penduduk dinaikkan.

5.3 ALIRAN MARXIST Alira ini dipelopori oleh Karl Marx dan Friedrich Engels. Pada waktu itu teori Malthus sangat berpengaruh di Inggris dan di Jerman. Menurut Marx tekanan penduduk yang terdapat di suatu Negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan penduduk terhadap kesempatan kerja. Kaum kapitalis akan mengambil sebagian pendapat dari buruh sehingga menyebabkan kemelaratan buruh tersebut. Selanjutnya Marx berkata, kaum kapitalis membeli mesin-mesin untuk menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh buruh. Jadi penduduk yang melarat bukan disebabkan karena kekurangan bahan pangan, tetapi karena kaum kapitalis mengambil sebagian dari pendpatan mereka dan mengganti peluang kerja dengan mesin-mesin. Untuk mengatasi hhal-hal tersebut maka struktur masyarakat harus diubah dari sistim kapitalis ke sistim sosialis. Menurut Marx dalam system sosialis alat-alat produksi dikuasai oleh buruh, sehingga gaji buruh tidak akan terpotong. Selanjutnya dia berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia semakin tinggi nproduksi yang dihasilkan, jadi dengan demikian tidak perlu diadakan pembatasan pertumbuhan penduduk: Marx dan Engels menentang usaha-usaha moral restraint yang disasarkan oleh Malthus. Setelah Perang Dunia II, dunia dibagi menjadi tiga kelompok, pertama, negar-negara kapitalis yang umunya ccenderung membenarrkan teori Malthus seperti Amerika Serikat, inggris, Perancis, Australia, Canada, dan Amerika Latin; kedua, Negara yang menganut system sosialis,seperti Unisoviet, Negara-negara Eropa Timur, Republik rakyat Cina, Korea Utara dan Vietnam; ketiga, Negara-negara nonblok seperti India, Mesir dan Indonesia. Beberapa kritik yang telah dilontarkan terhadap teori Marx antaranya: Marx menyatakan bahwa hokum kependudukan di Negara sosialis merupakan antithesa hokum kependudukan di Negara kapitalis. Menurut hukum ini apabila di Negara kapitalis tingkat kelahiran dan tingkat kematian sama-sama rendah maka di Negara sosialis anakan terjadi kebalikannya yaitu tinngkat kelahiran dan tingkat kematian sma-sama tinnggi. Namun kenyataannya tidaklah demikian, tingkat pertumbuhan penduduk di Negara Unisoviet hampir sama dengan Negara-negara maju yang sebagian besar merupakan Negara kapitalis. 5.4 ALIRAN NEO-MALTHUSIANS Pada akhir abad ke-19 dan permulaan dari abad ke-20, teori Mlthus mulai diperdebatkan lagi. Kelompok yang menyongkong aliran Malthus tetap lebih radikal disebut dengan kelompok NeoMalthusianism. Kelompok ini tidak sependapat dengan Malthus bahwa untuk mengurangi jumlah penduduk cukup dengan moral restraint saja. Untuk keluar dari perangkap Malthus, mereka manganjurkan menggunakan semua cara-cara preventive checks misalnya dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi untuk mengurangi jumlah kelahiran, pengguguran kandungan. Menurut kelompok ini (yang dipelopori oleh Garrett Hardin dan Paul Ehrlich). Pada abad ke20 (pada tahun 1950-an), dunia baru yang pada zamannya Malthus masih kosong kini sudah mulai penuh dengan manusia. Tiap minggu lebih dari satu juta bayi lahir di dunia, ini berarti satu juta lagi mulut yang harus diberi makan.

Di tahun 1960-an dan 1970-an photo-photo yang diambil dari ruang angkasa menunjukkan bahwa bumi kita terlihat seperti sebuah kapal yang berlayar di ruang angkasa dengan persediaan bahan bakar dan bahan makanan yang terbatas. Pada suatu saat, kapal ini akan kehabisan bahan bakar dan bahan makanan, sehingga akhirnya malapetaka menimpa kapal tersebut. Paul Ehrlich dalam buku The Population Bomb pada tahun 1971, menggambarkan penduduk dan lingkungan yang ada di dunia dewasa. Pertama, dunia ini sudah terlalu banyak manusia; kedua, keadaan bahan makanan sangat terbatas; ketiga, karena terlalu banyak manusia di dunia ini lingkungan sudah banyak yang rusak dan tercemar. Pada t5ahun 1972, Meadow menerbitkan sebuah buku dengan judul The Limit to Growth. Bagi penganut Malthus, buku ini merupakan karya yang terbaik yang pernah diterbitkan, tetapi bagi penentang teori Malthus buku ini dapat mempengaruhi manusia dalam melihat masa depan dari dunia ini, yaitu dunia yang penuh kesuraman, dan pesimisme. Pertumbuhan penduduk akhirnya menurun sejalan dengan menurunnya persediaan sumber daya alam yang akhirnya menurut model ini habis pada tahun 2100. Ahli-ahli biologi dan ahli-ahli lingkungan menyambut baik buku The Limit to Growth ini, karena mempunyai kesamaan dengan dunia binatang dan tumbuh-tumbuhan di mana pertumbuhannya sangat dibatasi oleh daya tamping alam. Sebaliknya ahli-ahli ilmu sosial memberikan kritikan terhadap karya Meadow karena tidak memasukkan unsur-unsur sosialbudaya dalam pembuatan modelnya. Dengan memperhatikan kritik-kritik, Mesarovic dan Pestel (1974) merevisi model Meadow. 5.5 BEBERAPA TEORI KEPENDUDUKAN MUTAKHIR YANG LAIN Pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 diadakan formulasi kembali (Reformulations) beberapa teori kependudukan terutama teori kependudukan mutakhir. Teori ini dapat di bagi menjadi dua kelompok yaitu: 1) kelompok teori fisiologis dan sosial ekonomi; 2) teori teknologi. Beberapa tokoh ikut mengambil bagian dalam formulasi ini. 5.5.1 Teori Fisiologi dan Sosial Ekonomi a. John Stuart Mill John Stuart Mill, seorang ahli filsafat dan ahli ekonomi berkebangsaan Inggris dapat menerima pendapat Malthus mengenai laju pertumbuhan penduduk melampaui laju pertumbuhan bahan makanan sebagai suatu aksioma. Namun demikian dia berpendapat bahwa pada situasi tertentu manusia dapat mempengaruhi perilaku demografinya. Kalau pada suatu waktu di suatu wilayah terjadi kekurangan bahan makanan, maka keadaan ini hanyalah bersifat sementara saja. Memperhatikan bahwa tinggi rendahnya tingkat kelahiran ditentukan oleh manusia itu sendiri, maka Mill menyarankan untuk meningkatkan pendidikan penduduk tidak saja untuk golongan yang mampu tetapi juga untuk golongan yang tidak mampu.

b. Arsene Dumont Arsene Dumont, seorang ahli Demografi bangsa Perancis yang hidup pada akhir abad ke-19. Pada tahun 1890 dia menulis sebuah artikel berjudul Depopulation et Civilization. Ia melancarkan teori penduduk baru yang disebut dengan teori kapilaritas sosial (theory fo sosial capillarity). Teori kapilaritas sosial dapat berkembang dengan baik pada Negara demokrasi, di mana tiap-tiap individu mempunyai kebebasan untuk mencapai kependudukan yang tinnggi di masyarakat. c. Emile Durkheim Emile Durkheim dalah seorang ahli sosiologis Perancis yang hidup pada akhir abad ke-19. Apabila Dumont menekankan perhatiannya pada faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk, maka Durkheim menekankan perhatiannya pada keadaan akibat dari adanya pertumbuhan penduduk yang tinggi. Dalam usaha memenangkan persaingan tiap-tiap orang berusaha untuk meninngkatkan pendididkan dan keterampilan, dan mengambil spelialisasi tertentu. Apabila dibandingkan antara masyarakat tradisional dan masyarakat industry, akan terlihat bahwa pada masyarakat tradisional tidak terjadi persaingan yang ketat dalam memperoleh pekerjaan, tetapi pada masyarakat industriakan terjadi sebaliknya. d. Michael Thomas Sadler dan Doubleday Kedua ahli inui adalah penganut teori fisiologis. Sadler mengemukakan, bahwa daya reproduksi manusia dibatasi oleh jumlah penduduk yang ada di suatu Negara atau wilayah. Thomson (1953) meragukan kebenaran dari teori ini setelah melihat keadaan di Jawa, Indida dan cina di mana penduduknya sangat padat, tetapi pertumbuhan penduduknya juga tinggi. Dalam hal ini Mlthus lebih konkret argumentasinya daripada Sadler. Malthus mengatakan bahwa penduduk di suatu daerah dapat mempunyai tingkat fertilitas tinggi, tetapi dalam pertumbuhan alaminya rendah karena tingginya tingkat kematian. Teori Doubleday hampir sama dengan teori Sadler, hanya titik tolaknya berbeda. Alau Sadler mengatakan bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan tingkat kepadatan penduduk, maka Doubleday berpendapat bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan bahan makanan yang tersedia. Menurut Doubleday, kekurangan bahan makanan akan merupakan perangsang bagi daya reproduksi manusia, sedang kelebihan pangan justru merupakan faktor pengekang perkembangan penduduk. 5.5.2 Penganut Kelompok Teknologi yang optimis Pandangan yang suram dan pesimis dari Malthus beserta penganut-penganutnya ditentang keras oleh kelompok Teknologi. Mereka beranggapan bahwa manusia dengan ilmu pengetahuannya mampu melipatgandakan produksi pertanian. Merreka mampu mengubah kembali (recycling) barang-barang yang sudah habis dipakai, sampaiakhirnya dunia ketiga mengakhiri masa transisi demografinya.

Ahli futurology Herman Khan (1976) mengatakan bahwa Negara-negara kaya akan membantu Negara-negara miskin, dan akhirnya kekayaan itu juga akan jatuh kepada orang-orang miskin. Dengan tingkat teknologi yang ada sekarang ini mereka memperkirakan bahwa dunia ini dapat menampung 15 miliun orang dengan pendapatan melebihi Amerika Serikat dewasa. Proses pengertian dan recycling akan terus terjadi dan era ini disebut dengan Era Subtitusi. Mereka mengkritik bahwa The Limit to Growth bukan memecahkan masalah tetapi memperbesar permasalahan tersebut. Kelompok Malthus dan kelompok teknolohi mendapat kritik dari kelompok ekonomi, karena kedua-keduanya tidak memperhatikan masalah-masalah organisasi sosial di mana distribusi pendapatan tidak merata. Orang-orang yang kelaparan, karena tidak meratanya distribusi pendapatan di Negara-negara tersebut.