Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI PERTANIAN KULTUR ORGAN

Nama Nim

: Aminatus Sholikah : 115040213111035

Kelompok : Kamis/ 06.00 Asisten : Putu Santiawan Prayogo

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dengan semakin berkembangnya teknologi pertanian penyediaan benih tidak hanya dapat diperoleh dari sumber benih, akan tetapi dapat dikembangkan dengan teknologi kultur jaringan. Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian tersebut dalam media buatan secara aseptis yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup dan tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum Bioteknologi Pertanian Kultur Organ adalah sebagai berikut: Mengetahui definisi dari isolasi eksplan Mengetahui definisi dari inkubasi eksplan Mengetahui tahap kultur jaringan Mengetahui faktor penentu keberhasilan kultur jaringan Mengetahui macam-macam kultur organ Mampu mempraktekan sendiri bagaimana penanaman eksplan dari kultur organ

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Isolasi Eksplan Isolasi Eksplan adalah Pemisahan atau pengucilan sel yang akan dieksplan terhadap bahan yang akan ditanam pada media kultur. Isolasi Eksplan adalah Perlindungan atau penyekatan yang dilakukan pada bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan tanam pada sebuah media tanam (plantlet). (Zulkifli, 2003). 2.2 Definisi Inkubasi Eksplan Inkubasi merupakan tahapan kegiatan kultur yang bertujuan untuk menumbuhkan eksplan yang telah ditanam dalam botol kultur (Prihandana dan Hendroko, 2006). Kegiatan inkubasi kultur bertujuan untuk menumbuhkan eksplan yang telah ditanam dalam botol kultur (Wahyuningsih, 2008). 2.3 Tahap Kultur Jaringan Dalam pelaksanaan kultur jaringan, menurut Prihandana dan Hendroko (2006), secara berurutan langkah kerja yang harus dilakukan adalah sebagai berikut: a. Pemilihan dan persiapan tanaman induk sumber eksplan Sebelum melakukan kultur jaringan untuk suatu tanaman, kegiatan pertama yang harus dilakukan adalah memilih tanaman induk yang hendak diperbanyak.

Tanaman tersebut harus jelas jenis, spesies dan varietasnya, serta harus sehat dan bebas dari hama dan penyakit. Selanjutnya harus mempersiapkan dan mengondisikan tanaman induk sedemikian rupa agar eksplan yang digunakan dapat tumbuh baik pada waktu dikulturkan secara in vitro. b. Sterilisasi alat dan medium Sterilisasi merupakan upaya untuk menghilangkan kontaminan mikroorganisme yang menempel di permukaan eksplan. Peralatan yang akan digunakan untuk kultur jaringan harus disterilkan terlebih dahulu. Setelah dicuci dan dikeringkan, kemudian peralatan dibungkus dengan kertas payung atau aluminium foil dan disterilkan di dalam autoklaf dengan suhu 121oC, tekanan 15 psi (Pounds per Square Inch) dan lama sterilisasi 20-30 menit. Botol-botol eksplan yang sudah berisi medium setelah ditutup dengan aluminium foil, kemudian disterilkan. Sterilisasi medium lebih singkat waktunya dibandingkan dengan sterilisasi peralatan, yakni 15 menit tetapi suhu dan tekanannya sama. c. Pembuatan media kultur (media preparasi) Media kultur yang akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanamannya. Untuk mempermudah menggunakan media kultur, maka sebaiknya perlu dibuat larutan induk atau larutan stok. Pembuatan larutan stok terdiri dari: induk hara makro untuk persenyawaan NH4NO3, KNO3, CaCl2.2H2O, MgSO4.7H2O, KH2PO4, FeSO4.7H2O dan Na2EDTA. MnSO4.H2O, ZnSO4.7H2O, Na2MoO4.2H2O. H3BO3, KI dan

tiamin HCl, asam nikotinat, piridoksin HCl dan glisin. dan sitokinin. d. Pembuatan bahan eksplan (Inisiasi) Eksplan merupakan bahan tanam yang akan dikulturkan. Dalam perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, eksplan merupakan faktor penting sebagai penentu keberhasilan. Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih eksplan adalah: kultur jaringan. Eksplan dari jaringan tanaman yang masih muda secara fisiologis, umumnya lebih baik daripada jaringan tanaman tua. pertumbuhan juvenil menuju fase dewasa. Fase juvenil adalah periode pembungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan perlakuan yang biasa digunakan untuk merangsang pembungaan. Umumnya eksplan yang diambil dari tanaman induk yang masih juvenil karena mudah beregenerasi. Sedangkan fase dewasa (adult atau mature) adalah masa perkembangan tanaman sudah mampu berbunga. Daya regenerasi eksplan dari tanaman induk dewasa umumnya lebih rendah dibandingkan dengan eksplan dari tanaman juvenil. Artinya jika eksplan diambil dari tanaman induk yang sudah dewasa atau sudah mampu berbunga, eksplan tersebut umumnya lebih sulit membentuk tunas dibandingkan dengan eksplan yang diambil dari tanaman induk yang masih juvenil, walaupun secara fisiologis jaringannya sama-sama masih muda.

kontaminasi lebih tinggi dibandingkan dengan yang berukuran kecil, tetapi kemampuan hidupnya lebih besar dan tumbuhnya lebih cepat. Sebaliknya, eksplan yang berukuran kecil (meristem atau tunas pucuk) kemungkinan terkontaminasinya jauh lebih kecil, tetapi tumbuh lebih lambat. ya bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Jaringan yang masih muda mempunyai daya regenerasi lebih tinggi, sel-selnya masih aktif membelah diri dan relatif lebih bersih (mengandung lebih sedikit kontaminan). Sementara itu, jaringan tanaman yang sudah tua lebih sulit beregenerasi dan biasanya mengandung lebih banyak kontaminan. Bagian tanaman yang dapat digunakan sebagai eksplan adalah biji atau bagian-bagian biji seperti aksis embrio atau kotiledon, tunas pucuk, potongan batang satu buku (nodal explant), potongan akar, potongan daun, potongan umbi batang, umbi akar, empulur batang, umbi lapis dengan sebagian batang dan bagian bunga. Inisiasi merupakan upaya penumbuhan meristem atau bagian tanaman (mata tunas, ujung akar, ujung daun muda, keping biji dan sebagainya) agar tumbuh dalam botol yang bebas hama dan penyakit. Tahap inisiasi ini dilakukan dengan metode inokulasi. Inokulasi adalah kegiatan penanaman eksplan ke dalam botol kultur atau penanaman ulang eksplan pada media dengan jenis yang sama atau tahap pertumbuhan selanjutnya. Inokulasi bisa dilakukan di dalam laminar air flow cabinet (LAFC) atau entkas. Sebelum digunakan, semua peralatan harus disterilisasi terlebih dahulu. Tujuan utama dari tahap ini adalah mengusahakan kultur yang aseptik berarti bebas dari mikroorganisme.

e. Penumbuhan tanaman kultur atau eksplan (inkubasi) Inkubasi merupakan tahapan kegiatan kultur yang bertujuan untuk menumbuhkan eksplan yang telah ditanam dalam botol kultur. Botol kultur yang akan digunakan harus disiapkan terlebih dahulu kemudian diletakkan pada rak inkubasi berdasarkan kelompok jenis tanaman, kultivar, tahapan dan perlakuan khusus lain. Selanjutnya dilakukan penyetelan terhadap cahaya, kelembaban dan suhu. Sebagai langkah terakhir, dilakukan pengontrolan. Apabila ada botol kultur yang terkontaminasi, maka botol tersebut harus dikeluarkan dari ruang inkubasi. Tahap ini juga sering disebut poliferasi atau multiplikasi merupakan tahap penumbuhan tunas hasil inisiasi yang dirangsang dengan memotong plantlet dengan media kultur baru. Tahap ini dilakukan dengan metode subkultur yaitu usaha untuk menggantikan media tanaman kultur jaringan dengan media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan kalus dapat terpenuhi. Subkultur dapat dilakukan beberapa kali sampai jumlah tunas yang dihasilkan sesuai dengan yang kita harapkan. Subkultur yang terlalu banyak dapat menurunkan mutu tunas, seperti terjadinya vitrifikasi (suatu gejala ketidaknormalan fisiologis) dan aberasi (penyimpangan) genetik. Keadaan ini terjadi karena semakin banyak subkultur dilakukan berarti semakin sering tanaman dikondisikan dalam media yang mengandung sitokinin, sehingga daya regenerasinya meningkat. f. Pengadaptasian plantlet atau hardening dengan metode aklimatisasi Aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap lingkungan baru (di luar

botol kultur) sebelum ditanam di lahan yang sebenarnya. Pada tahap ini, plantlet atau tunas mikro dipindahkan ke lingkungan di luar botol, misalnya rumah kaca. Tahap ini merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, sangat jauh berbeda dengan kondisi iklim mikro di dalam botol. Kondisi di luar botol berkelembaban nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi di dalam botol. Sehingga planlet akan mengalami hardening yaitu penyesuaian secara bertahap dari tanaman yang ditumbuhkan secara in vitro ke kondisi eksternal. 2.4 Faktor Penentu Keberhasilan Kultur Jaringan Genotip tanaman Respon eksplan tanaman tergantung dari spesies, varietas, atau tanaman asal eksplan tersebut. Pengaruh genotip ini berhubungan erat dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan eksplan, seperti kebutuhan nutrisi, zat pengatur tumbuh, dan lingkungan kultur. Oleh karena itu, komposisi media, zat pengatur tumbuh dan lingkungan pertumbuhan yang dibutuhkan oleh masingmasing tanaman bervariasi meskipun teknik kultur jaringan yang digunakan sama (Luri S, 2009). Eksplan Eksplan merupakan potongan yang diisolasi dari tanaman yang dipergunakan untuk inisisasi suatu kultur in vitro. Eksplan yang baik memiliki syarat daya regenerasi yang tinggi, lebih baik merupakan bahan tanaman yang tertutup seperti pucuk dan meristem, sehat dan tidak mengandung bibit. Menurut Gamborg dan Shyluk (1981) hamper semua bagian jaringan tanaman dapat dijadikan sebagai eksplan. Organ yang biasa digunakan sebagai eksplan antara lain tunas pucuk, tunas ketiak (aksilar), akar, mata tunas, daun dan embrio. Tingkat keberhasilan dari

jenis organ yang digunakan tidak akan sama untuk setiap jenis tanaman. Media kultur in vitro Gunawan (1995) mengatakan faktor penentu di dalam media tumbuh adalah komposisi garam anorganik, zat pengatur tumbuh dan bentuk fisik media. Komposisi garam anorganik telah dikembangkan oleh beberapa ahli. Ada yang tinggi konsentrasinya garamnya, ada yang sedang dan ada yang rendah. Komposisi media tersebut pada umumnya diberi nama sesuai dengan nama penemunya, antara lain : medium dasar Murashige dan Skoog (MS), medium dasar Knop, medium dasar Nitsch dan Nitsch, medium dasar B5 atau Gamborg, medium dasar White, medium dasar Vacin Went (VW), medium dasar N6, medium dasar Heller, medium dasar Woody Plant Medium (WPM), medium dasar Knudson C, medium dasar Schenk dan Hildebrant, medium dasar Gresshof dan Day dan medium dasar Anderson. Komposisi garam dalam medium dasar Murashige dan Skoog (MS) merupakan media yang paling umum digunakan khususnya untuk morfogenesis, kultur meristem, dan regenerasi tanaman (Gamborg dan Shyluk 1981). Medium ini digunakan untuk hampir semua macam tanaman. Media ini punya konsentrasi garam-garam mineral yang tinggi dan senyawa N dalam bentuk NO3 dan NH4 +. Medium dasar Woody Plant Medium (WPM) dan Anderson digunakan untuk menanam tanaman dari eksplan yang keras, umumnya digunakan untuk tanaman berkayu (Hendaryono dan Wijayani, 1994). Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Zat pengatur tumbuh tanaman mencakup zat-zat endogen maupun zat-zat eksogen (sintetik) yang dapat mengubah pertumbuhan tanaman. Zat pengaturtumbuh

tanaman yang dihasilkan oleh tanaman (zat endogen) disebut fitohormon, sedangkan yang sintetik disebut zat pengatur tumbuh (Wattimena, 1988). Faktor yang perlu mendapat perhatian dalam penggunaan zat pengatur tumbuh antara lain jenis zat pengatur tumbuh yang akan digunakan, konsentrasi, urutan penggunaan dan periode masa induksi dalam kultur tertentu (Gunawan, 1995). Pertumbuhan dan morfologis tanaman secara in vitro juga dikendalikan oleh keseimbangan dan interaksi dari zat pengatur tumbuh yang berada dalam eksplan (fitohormon). Zat pengatur tumbuh adalah senyawa organik yang biasanya dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit dan dapat merangsang, menghambat atau mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman. ZPT ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ (Gunawan, 1987) Faktor Lingkungan Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangan kultur in vitro antara lain derajat keasaman (pH), kelembaban, cahaya dan temperature (Gunawan 1995). Faktor lingkungan tersebut berpengaruh terhadap proses pertumbuhan dan differensiasi. Kelembaban relatif (RH) lingkungan yang dibutuhkan biasanya mendekati 100%. RH di sekitar kultur akan mempengaruhi pola perkembangan (Gunawan, 1995). Bila kelembaban ruangan rendah, penguapan air dari media kultur akan terlalu besar. Dalam hal ini kelembaban perlu dinaikkkan. Sebaliknya apabila kelembaban udara kultur tinggi, akan menyebabkan pertumbuhan mikroba di luar wadah kultur (Wetherell, 1982). 2.5 Macam-Macam Kultur Organ Kultur Organ

Sumber eksplan dapat berupa bagian organ tanaman seperti tunas, akar, batang, biji, umbi, daun tangkai daun. Kultur Meristem Meristem dari tunas pucuk atau tunas aksiler, ruas batang. Kultur Sel yang mempunyai tipe khusus Serbuk sari (sel haploid), endosperm (triploid). Kultur Antera/Polen Anter atau Kepala sari mengandung polen. Kultur Embrio Memisahkan embrio yang belum dewasa dan menumbuhkan secara in-vitro. Tujuan Kultur Embrio: Memperpendek waktu berkecambah, menguji kecepatan viabilitas biji, memperbanyak tanaman langka seperti Kelapa kopyor (mempunyai embrio yang lunak).Memperoleh hibrid yang langka seperti Embrio pada keadaan normal sering mati pada awal tingkat perkembangannya. Kultur Protoplas Protoplas adalah sel hidup yang telah dihilangkan dinding sel nya (sel telanjang). Tujuan Kultur Protoplas: Mempelajari komponen penyusun sel (organela). Untuk dapat melakukan fusi protoplas. Mendapatkan tanaman hibrid dan cybrid somatic. Digunakan dalam trasplantasi dan transformasi genetic. Kultur Biji Tujuan Kultur Biji: Mempercepat waktu kecambah. Mengatasi masalah tanaman langka.

Mempelajari kecepatan pertumbuhan. Mendapatkan biji steril untuk mengatasi kontaminasi pada eksplan yang dibudidayakan. (Hendaryono,1994) Menurut Gamborg dan Shyluk (1981) hampir semua bagian jaringan tanaman dapat dijadikan sebagai eksplan. Organ yang biasa digunakan sebagai eksplan antara lain tunas pucuk, tunas ketiak (aksilar), akar, mata tunas, daun dan embrio. Tingkat keberhasilan dari jenis organ yang digunakan tidak akan sama untuk setiap jenis tanaman.

III.

METODOLOGI

3.1 Alat, Bahan, dan Fungsi Pinset : Untuk mengambil benda berukuran kecil. Skalpel : Untuk memotong bahan. Petri disc : Sebagai wadah / tempat membuang carrier. LAF : Tempat melakukan kultur. Sprayer :Untuk menyemprotkan larutan. Matapisau : Untuk memotong ujung organ. Gelas Ukur 400 ml : Untuk meletakkan larutan. Botol Kultur : Sebagai tempat media. Saringan : Untuk menyaring larutan. Spatula : Untuk mengambil media kultur. Bunsen : Untuk mensterilkan media dan untuk membakar kontaminasi alat. Bahan Tunas Krisan : Sebagai tanaman yang akan di kultur. Deterjen : Untuk membersihkan bahan dari kotoran yang melekat. Bayclean : Untuk memutihkan bahan kultur. Aquades : Untuk pencampuran bahan Fungisida : Untuk mencegah tumbuhnya jamur pada bahan media. Etanol (C2H5OH) 700% : Sebagai bahan dalam media kultur organ. Dan juga untuk mensterilkan

bahan kultur agar tidak terjadi kontaminasi dari bakteri dan jamur. 3.2 Cara Kerja Sterilisasi Awal Ambil eksplan dari tanaman hidup Aduk eksplan dengan deterjen 10% (10 g/100 %) selama 5 menit Bilas dengan air yang biasanya mengalir Rendam dalam larutan fungisida 5 % (5 g/100 %) selama 5 menit Bilas dengan air yang mengalir Cuci dengan Clorox (Bayclean) 10 % Aduk dengan spatula Rendam dengan aquades steril Penanaman Eksplan Potong bagian eksplan Tanam pada medi MS Panaskan pinggir botol dan tutupnya dengan Bunsen Tutup botol, kemudian ikat dengan karet

Pengamatan 3 hari sekali selama 2 minggu Dokumentasi (lihat yang terkontaminasi)

3.3 Analisa Perlakuan Pada praktikum ini, hal yang perlu diperhatikan pertama adalah saat pembilasan air haruslah dengan air yang mengalir.Hal ini disebabkan agar eksplan tidak mudah terkontaminasi dengan air bekas bilasan yang telah digunakan.Kemudian pencucian dengan Clorox atau bayclean ditujukan karena bayclean memiliki kandungan yang dapat membersihkan eksplan dari berbagai macam kontaminan. Selanjutnya pada saat penanaman ekpslan, hal yang paling penting yang harus diperhatikan adalah sterilisasi. Setiap bahan yang akan kuta gunakan haruslah dalam kondisi yang steril. Termasuk juga kita. Sebelum kita elakukan penanama eksplan di dalam Laminar air Flow Cabinet, haruslah menyemprotkan alcohol ke tangan kita sesudah memakai sarung tangan lateks. Begitu juga dengan peralatan yang akan digunakan seperti pinset dan scalpel, haruslah direndam alcohol apabila tidak diunakan, dan apabila akan digunakan harus di panaskan terlebih dahulu di atasapi Bunsen. Semua ini dilakukan dengan tujun sterilisasi agar semua proses pengerjaan dilakukan dengan alat dan bahan yang steril karena penanaman eksplan ini sangatlah mudah terkena kontaminan yang dapat menggalalkan penanaman eksplan.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan No Botol Ke Dokumenta Kondisi Eksplan -si Kontamina Tidak Pengamat- -n Kontamin an -an Keterangan

1.

1.

Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Jamur Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada

2.

3.

4.

5.

Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Jamur Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan

2.

1.

2.

3.

4. -

5. -

: tidak ada 3. 1. Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Jamur Pertumbuhan : tidak ada

2.

3. Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada Jenis kontaminan : Bakteri Pertumbuhan : tidak ada

4.

5.

Keterrangan : Pengamatan hari pertama : 11 November 2012 Pengamatan hari kedua : 15 November 2012 Pengamatan hari ketiga : 19 November 2012

4.2 Pembahasan Dari keseluruahan botol kultur yang ditanami eksplan tersebut, tidak ada satupun eksplan yang tumbuh. Menurut Maanvis (2002), biasanya, kultur yang berhasil akan menunjukkan gejala pertumbuhan setelah 8-10 minggu. Eksplan akan terlihat tumbuh hijau dengan mata tunas yang membesar. Pertumbuhan eksplan ada yang langsung membentuk tunas-tunas kecil atau membentuk bulatan-bulatan yang dikenal dengan istilah plb (protocorm like bodies). Tunastunas ini akan terus memperbanyak diri sampai memenuhi seluruh media tanam. Sementara, eksplan-eksplan yang ditanam pada praktikum kultur organ kali ini, dari awal pengamatan (hari ketiga setelah tanam) dan pengamatan seterusnya, keseluruhan eksplan sudah menunjukkan warna kecoklatan dan botol kultur ketiga medianya terkontaminasi oleh jamur. Selain itu, botol 1, 3, 4, dan 5 terkontaminsi oleh bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa penanaman eksplan dari kultur organ yang dilakukan tidak berhasil ditumbuhkan dan sterilisasi bahan maupun lingkungan saat penanaman eksplan kurang optimal.

Kegagalan kultur jaringan dapat dilihat dari warna media tanamnya. Jika warnanya menjadi keruh seperti susu, kultur terkontaminasi oleh bakteri. Jika masih terlihat baik, belum lunak atau belum hancur, eksplan dapat dicuci atau disterilkan kembali, lalu ditanam (Maanvis, 2002). Jika di permukaan media terlihat lapisan putih atau kelabu kehitaman, media terkontaminasi oleh jamur. Apabila didiamkan, lapisan ini akan menutupi seluruh permukaan media. Jika kontaminasi jamur atau bakteri sudah parah, sebaiknya botol kultur dan tanamannya disterilkan dengan cara direbus sampai mendidih atau dimasukkan dalam autoklaf. Setelah itu dibuang di tempat yang aman (Maanvis, 2002). Sumber kontaminasi dapat berasal dari eksplan tumbuhan, organisme kecil yang masuk ke dalam media, alat yang tidak steril dan lingkungan kerja yang kotor. Sehingga harus dilakukan: sterilisasi lingkungan kerja, alat-alat, media dan bahan tanaman (Gunawan, 1988).

V.

PENUTUP

5.1 Kesimpulan Dari praktikum kultur organ kali ini, dapat disimpulkan bahwa kultur organ yang dilakukan tidak berhasil. Hal ini dapat dilihat dari eksplan yang tidak dapat tumbuh, indikatornya adalah berwarna kecokelatan dan tidak segar. Media yang digunakan juga menunjukkan kontaminasi oleh bakteri dan jamur. Maka dari itu, hal yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan kultur organ ini adalah steilisasi alat-alat maupun bahan tanam. Selain itu, lingkungan tumbuh eksplan juga harus diperhatikan. 5.2 Saran Ketersediaan alat-alat praktikum yang lengkap akan sangat menunjang kegiatan praktikum bioteknologi pertanian. Maka dari itu, mohon alat-alat laboratorium dilengkapi.

DAFTAR PUSTAKA
Gamborg, O.L. and J.P. Shyluk. 1981.Nutrition, media and characteristic of plant cell andtissue culture. In Thorpe, T.A. (ed) Plant tissue culture : Methods and application inagriculture. Academic Press. Inc. New York. Gunawan,L.W. 1995. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Jakarta : Gramedia Pustaka. Gunawan,L.W. 1988. Teknik Kultur Jaringan Tumbuhan. Laboratorium Kultur Jaringan PAU Bioteknologi. Bogor:Institut Pertanian Bogor. Hendaryono, Daisy P.Sriyanti; dan Ari Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta:Kanisius Luri, S. 2009a. Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Kultur Jaringan. http://kulturjaringan.blogspot.comDiakses tanggal 26 November 2012. Maanvis. 2002. Anggrek : Bunga Dengan Aneka Pesona Bentuk dan Warna. Jakarta :Redaksi Agromedia. Prihandana, R. dan R. Hendroko. 2006. Petunjuk Budidaya Jarak Pagar. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. pp.83. Wattimena GA. 1988. Zat Pengatur Tanaman. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Wetherell, D.F. 1982. Pengantar Propagasi Tanaman secara In Vitro (diterjemahkan dari : Introduction to In Vitro Propagation, penerjemah : Koensoemardiyah dan D. Gunawan). IKIP Semarang Press. Semarang. 110 hal. Zulkifli.2008.http://9fly.wordpress.com/2008/12/22/kultur-jaringantumbuhan/. Diakses tanggal 20 November 2012.