Anda di halaman 1dari 45

Apa penyebab krisis ekonomi AS: 1. Penumpukan hutang nasional hingga mencapai 8.

98 trilyun dollar AS sedangkan PDB hanya 13 trilyun dollar AS 2. Terdapat progam pengurangan pajak korporasi sebesar 1.35 trilyun dollar. (mengurangi pendapatan negara) 3. Pembengkakan biaya Perang Irak dan Afganistan (hasilnya Irak tidak aman dan Osama Bin Laden tidak tertangkap juga) setelah membiayai perang Korea dan Vietnam. 4. CFTC (Commodity Futures Trading Commision) sebuah lembaga pengawas keuangan tidak mengawasi ICE (Inter Continental Exchange) sebuah badan yang melakukan aktifitas perdagangan berjangka.Dimana ECE juga turut berperan mengdongkrak harga minyak hingga lebih dari USD 100/barel 5. Subprime Mortgage: Kerugian surat berharga property sehingga membangkrutkan Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UFJ. 6. Keputusan suku bunga murah dapat mendorong spekulasi. Source Kompas 27 Jan 08

Kadin : Krisis Amerika Tidak Berdampak Besar


Kamis, 18 September 2008 | 20:01 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Runtuhnya bank investasi Amerika Serikat Lehman Brothers pada awal pekan ini diprediksi tidak berdampak langsung pada pasar uang di Indonesia. Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, M S Hidayat mengatakan portofolio yang dimiliki Lehman Brothers di Indonesia tidak dalam skala besar. "Secara langsung tidak akan ada pengaruh besar," ujarnya, hari ini. Namun dia berharap agar pelaku dan pemain pasar Indonesia menjaga pasar uang dalam negeri tetap stabil. Saat ini, kata dia, beberapa investor asing tiba-tiba melakukan aksi penjualan saham dan pergi dari pasar Indonesia. "Mereka membeli saham di Amerika Serikat dan Eropa untuk memulihkan keadaan di sana," ujarnya. Investor pasar uang yang meninggalkan pasar Indonesia, kata dia, kebanyakan pemain

asal Amerika Serikat. Beberapa dari mereka ada yang menjual Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan membeli dolar. Hidayat meminta pelaku para pelaku dan pemain pasar Indonesia tidak terpengaruh ikut menjual sahamnya dan membeli dolar. Tidak perlu panik, kata dia, semoga ini hanya suatu gejala sementara saja, "Sekarang juga pelan-pelan mulai rebound," ujarnya. Dia memprediksi krisis ini akan berlangsung selama tiga bulan. Namun dia mengharapkan krisis ini tidak menyebabkan kebangkrutan di bidang usaha dalam skala besar. Indeks harga saham memang jatuh 36 persen, kata dia, namun dasar perekonomian Indonesia saat ini cukup kuat, "Seperti tersedianya cadangan devisa." Selama tiga bulan itu, pelaku pasar diharapkan tidak bertindak emosional dan menjaga kepercayaan pasar modal. "Time to buy back," ujarnya. Terutama bagi BUMN untuk membeli saham-saham bluechips yang murah dan menahannya sampai beberapa bulan, "Pasti nilainya akan naik." Hidayat juga meminta pelaku pasar mewaspadai kondisi AIG agar tidak kolaps. Jatuhnya AIG akan berpengaruh cukup besar pada pasar saham Indonesia karena beberapa portfolionya ada di SUN. Untuk pengusaha, dia meminta tidak melakukan ekspansi dulu. Karena prosedur semakin ketat diikuti suku bunga yang terus melambung tinggi. "Pemerintah sebaiknya meminta sektor riil diam, selamatkan makro dulu," katanya. Sedangkan untuk ekspor, terutama komoditas pertanian, pemerintah diharapkan dapat menjaganya. Menurutnya Indonesia tidak lagi bisa berharap pada pasar Amerika. "Amerika tidak pernah investasi ke Indonesia, tapi pasar dalam negerinya hanya membuat sulit kita," ujarnya. Untuk komoditas lainnya, seperti tekstil diharapkan dapat dialihkan ke Jepang dan Afrika. Negara-negara di Asia, kata dia, memiliki kebijakan perdagangan yang sama, karenanya akan mudah bagi Indonesia untuk bertransaksi. Selama tiga bulan ekspor ke Amerika mengalami penurunan hingga 20 persen, "Namun pemerintah dan pengusaha masih mencoba diversifikasi," kata dia. CORNILA DESYANA

TOPIK
Jatuhnya lembaga-lembaga keuangan Amerika Serikat seperti Lehman Brothers, Merrill Lynch dan juga American International Group (AIG), secara tidak langsung berdampak pada industri keuangan Indonesia.

Ambruknya lembaga keuangan raksasa Amerika Serikat (AS) tentunya akan berdampak pada nilai ekspor Indonesia dengan negara tujuan Amerika Serikat. Hal itu akan berimbas pada menurunnya ekspor Indonesia ke AS. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan, krisis ekonomi Amerika Serikat tidak saja berimbas di Indonesia tapi juga akan berimbas ke semua negara di dunia. Dampak dari resesi ekonomi global itu adalah adanya penurunan permintaan ekspor. Karenanya, pemerintah akan menerapkan dua langkah antisipasi diantaranya, menfasilitasi kelancaran semua ekspor dan menerapkan regulasi ekspor yang mudah dan dipersingkat.

Krisis Amerika Bisa Pengaruhi Industri Nasional


Senin, 22 September 2008 | 18:25 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemerintah mengkhawatirkan krisis keuangan di Amerika Serikat akan mempengaruhi kegiatan industri di Indonesia. Menteri Perindustrian Fahmi Idris menyatakan, imbas yang bakal dirasakan adalah pada sektor keuangan, perbankan dan pembiayan. Kalau sektor perbankan kena, bisa merembet pada sektor lain misalnya industri, ujarnya, Senin (22/9). Pendapat yang sama juga diungkapkan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Mohamad S. Hidayat. Menurut dia, pada saar krisis, perbankan akan memperketat pengeluaran dananya dan menyebabkan ketatnya likuiditas. Pemerintah mesti mengusahakan peningkatan indeks saham di Indonesia, supaya tidak menekan kinerja sektor riil, katanya. Hidayat menambahkan, suku bunga, deposito dan bunga pinjaman saat ini sedang tinggi. Otomatis, pengusaha akan kesulitan mencari pinjaman dana. Ekspansi usaha akan sangat sulit, kata Hidayat. NIEKE INDRIETTA

Moh. Arifin Purwakananta


purwakananta.wordpress.com

Momentum Krisis Eknomi Amerika


October 6, 2008 in Tulisan Tags: krisis amerika

Amerika Serikat dirundung krisis ekonomi yang akut. Kiblat ekonomi dunia ini sedang berjuang mengjar ego keangkuhannya. Krisis ini pun segera menyebar kepada seluruh jejaring negeri Paman Sam ini, melalui virus dolar dan mitos modern tentang kejayaan ekonomi kapitalisme. Bagaimana Indonesia? Saya berharap dua hal. Yaitu kita cepat tersadar dan merubah kiblat ekonomi kemakmuran kita pada teori-teori, ukuran-ukuran dan mazhab kapitalisme dan pertumbuhan ekonomi yang bagus untuk dipidatokan dan di cetak tebal-tebal laporannya. Mau coba alternatif system ekonomi islam? Hal kedua adalah segera membei vaksin kepada ekonomi rakyat agar tak berimbas krisis yang menggurita ini. Lalu apa itu ekonomi rakyat? Ya ekonomi riil yang dierakkan konsumsi rakyat. YakinlahkKita perlu segara menyetop konsumsi dari impor dan ajari rakyat menjadi konsumen produk bangsanya sendiri. Jika kita tak mungkin kendalikan pasar bebas, maka kendalikan komunikasi dan iklan media impor. Kita dapat memberi ruang seluasnya pada produk rakyat untuk beriklan di media TV. Ini akan memfungsikan metode yang sudah ada seperti permodalan dan sector social seperti zakat yang turut menopang kekokohan para ekonom kecil. Profil konsumen Indonesia Perlu sebuah gerakan untuk mengubah pola konsumsi kita. Di sisi lain kita perlu menguatkan aspek produksi. Saya berharap kita dapat memfokuskan pada produk dengan nilai impor paling besar. Kita perlu membuat substitusi dengan produksi masal produk-produk tersebut dari tangan pribumi. Kita tak perlu mengandalkan penduduk kota yang kaya memulai gerakan ini, karena yang ada hanyalah perlawanan. Tak mudah melarang orang kota ke kafe. Maka yang perlu digerakkan adalah masyarakat umum di desa-desa. Kita berharap imbasnya di kota. Ini akan efektif bila gerakan ini disupport oleh media dan tangan besi pemimpin kepada oportinis politik. Politik Ekonomi

Saya meyakini Indonesia dengan potensi sebesar ini haruslah menjadi pemegang kendali bagi sumber daya dunia. Kepemimpinan ekonomi kita yang lemah bukan karena kita kurang akal dan kalah negosiasi ekonomi, kita hanya belum mampu merekrut borokrasi yang anti korupsi dan membela kepentingan ummat diatas kepentingan diri dan keluarga. Dengan menggeser isu ekonomi dari pertumbuhan menjadi isu distribusi, maka otomatis kemakmuran akan menjadi focus kita. Distriusi asset dan distribusi kemakmuran ini haruslah menjadi batu timbang bagi keberhailan ekonomi kita. Siapa yang mau buat debat terbuka : Keruntuhan Kapitalisme dan Bangkitnya Ekonomi Distribusi? Krisis Amerika Berdampak ke Perekonomian Indonesia
kompas/wisnu widiantoro

Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Artikel Terkait: Perlu Tingkatkan Daya Serap Ekonomi Indeks Saham Cerminkan Fundamental Ekonomi Harga Minyak Geser Kekhawatiran di Ekonomi AS Minyak Mentah Turun, Ekonomi AS Tumbuh Melambat OPEC Khawatirkan Kelesuan Ekonomi AS Selasa, 5 Februari 2008 | 15:36 WIB JAKARTA, SELASA-Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Negeri adidaya itu merupakan salah satu tujuan ekspor terbesar produk-produk Indonesia. Jika daya beli di negara itu lesu, ekspor Indonesia dipastikan juga lesu. Demikian disampaikan Ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) M. S Hidayat saat di temui pada acara pertemuan awal tahun 2008 KADIN Indonesia di Graha Niaga, Jakarta. Selasa, (5/2). "Permintaan ekspor dari Amerika cukup besar, untuk itu rencananya kita akan melakukan diversifikasi pasar. Dua bulan lagi KADIN akan mengadakan rapat dengan Menteri Perdagangan," kata Hidayat.

Pelajaran dari Krisis Keuangan Amerika


amerika Serikat sedang mengalami krisis keuangan terburuk sejak krisis keuangan atau depresi besar yang terjadi pada 1929.

Pada krisis keuangan kali ini Pemerintah Amerika Serikat melakukan penyelamatan terbesar sejak krisis 1929 berupa pemberian dana talangan atau bantuan likuiditas kepada industri keuangannya yang bermasalah sebesar USD700 miliar atau setara dengan Rp6.500 triliun (bandingkan dengan krisis keuangan Indonesia tahun 1998-1999 yang memakan biaya sekitar Rp650 triliun). Bantuan dana talangan ini diputuskan melalui perdebatan panjang selama dua pekan, melibatkan para anggota Kongres dan kantor kepresidenan. Pelajaran berharga apakah yang dapat ditarik dari krisis keuangan tersebut? Manajemen Risiko Manajemen risiko yang baik dan perilaku yang hati-hati (prudential behaviour) tetap selalu diperlukan oleh setiap lembaga keuangan, termasuk oleh lembaga keuangan yang besar dan kuat seperti Lehman Brothers yang pernah menjadi konsultan ekonomi Indonesia. Tampaknya kelemahan di bidang manajemen risiko dan sikap yang kurang prudent menjadi penyebab utama timbulnya krisis keuangan di Amerika. Situasi ini diperburuk dengan diabaikannya unsur kualitatif di dalam manajemen risiko karena terlalu percaya pada unsur-unsur kuantitatif. Bahkan krisis yang terjadi di Amerika ini diwarnai juga dengan perilaku yang manipulatif, serakah, penipuan dan koruptif. Misalnya oknum lembaga keuangan yang memperoleh komisi dari setiap transaksi yang dilakukannya. Hal ini sedang diselidiki oleh penegak hukum di Amerika Serikat. Dengan terjadinya krisis ini kita dibuat sadar bahwa kita tidak boleh terlalu percaya pada reputasi atau mitos dari lembaga keuangan yang selama ini terkenal hebat dan "sakti" seperti Lehman Brothers. Manajemen risiko yang baik dan sikap yang hati-hati tetap diperlukan dalam pengelolaan dana masyarakat yang ada pada lembaga keuangan. Keterlibatan Wakil Rakyat Sejak awal terlihat bahwa penyelesaian krisis keuangan di Amerika Serikat melibatkan wakil-wakil rakyat yang ada pada Kongres yang terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representative) dan para senator (anggota Senat) yang mewakili seluruh negara bagian. Keterlibatan wakil rakyat ini sangat penting dan esensial karena beberapa alasan. Pertama, penyelamatan sistem keuangan dilakukan untuk kepentingan umum dengan menggunakan uang rakyat (tax payer), sehingga wakil-wakil rakyat harus diikutsertakan. Kedua, Kongres memiliki kewenangan legislasi (bersama presiden) dan berwenang mengawasi jalannya pemerintahan, sehingga melibatkan Kongres dalam penyelesaian masalah ini secara politis dan yuridis sangat menguntungkan untuk penyelesaian krisis.

Ketiga, dengan melibatkan Kongres yang di dalamnya ada anggota dari berbagai partai politik dan perwakilan negara-negara bagian, terlihat kekompakan legislatif dan eksekutif di dalam menyelesaikan masalah nasional yang berat itu. Banyak kalangan mengakui bahwa penyelesaian krisis ini juga menunjukkan kerja sama terbaik antara Partai Republik yang berkuasa (eksekutif) dan Partai Demokrat yang menguasai Kongres. Kerja sama ini menunjukkan, walaupun dari partai berbeda mereka dapat bersepakat memecahkan masalah nasional. Mereka menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan partai.Yang menarik adalah, walaupun partai yang berkuasa di Amerika Serikat berasal dari Partai Republik, tetapi sampai dengan putusan akhir Kongres masih ada sejumlah anggota Partai Republik yang tidak menyetujui pemberian dana talangan. Di Indonesia, kekompakan seperti ini agak sulit dicapai karena berbagai kepentingan partai politik yang terlalu bervariasi-yang sering kali mengabaikan kepentingan rakyat banyak. Misalnya penyelesaian masalah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) untuk mengatasi krisis yang terjadi sejak 1997 sampai sekarang belum tuntas walaupun sudah ada lima presiden yang memerintah sejak zaman Presiden Soeharto sampai pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan masalah BLBI ini dijadikan amunisi politik untuk menyerang lawan politiknya atau pemerintah yang sedang berkuasa. Sudah banyak sekali energi yang terbuang untuk menyelesaikan masalah ini, tetapi masalahnya tak kunjung selesai. Penyelesaian krisis keuangan yang terjadi 1997-1998 itu juga menunjukkan ketidakkompakan elite politik bangsa ini. Pada awalnya penyelesaian hanya melibatkan unsur eksekutif saja, tanpa keikutsertaan DPR. Belakangan keterlibatan DPR diperlukan untuk mengatasi perbedaan pendapat antara Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Keuangan mengenai penyelesaian biaya krisis yang dipergunakan untuk menyelamatkan industri perbankan, yaitu untuk membayar dana masyarakat pada bank-bank gagal dan rekapitalisasi perbankan. Keterlibatan DPR ini sangat penting karena penyelesaian krisis melibatkan berbagai pihak dan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Terlambatnya keterlibatan DPR membuat penyelesaian krisis menjadi lebih lama dan sulit. Untuk masa yang akan datang, keterlibatan DPR dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) perlu dilakukan sejak awal agar penyelesaian krisis memiliki dasar yang kuat dan dapat berjalan baik. Dalam hal ini diperlukan satu undang-undang yang mengatur bagaimana penyelesaian yang harus dilakukan kalau terjadi krisis sistemik pada sektor keuangan seperti telah diamanatkan oleh Pasal 11 ayat (5) Undang-Undang No 23/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No 3/2004 tentang Bank Indonesia.

Kurangnya Pengaturan Di berbagai belahan dunia biasanya sektor keuangan sangat diawasi oleh pemerintah (highly regulated industry) karena ada kepentingan umum yang harus dilindungi. Walau demikian, ternyata untuk masalah kucuran kredit untuk sektor perumahan yang berkualitas kurang prima (subprime mortgage) yang berisiko tinggi, pengaturannya kurang ketat. Bahkan ada upaya untuk melonggarkan ketentuan di bidang ini. Mungkin masih ada pengaruh paham liberal yang percaya bahwa pasar dan pelaku pasar tidak perlu banyak diatur. Ada invisible hand yang mengatur mekanisme pasar. Sikap mengendurkan pengaturan di bidang yang berisiko ini ternyata mengakibatkan dampak besar yang mengakibatkan ditutupnya berpuluh-puluh lembaga keuangan dan bank. Hal ini sekaligus membuktikan kegagalan otoritas keuangan di Amerika Serikat. Karena itu karakter industri keuangan yang highly regulated seharusnya tetap dipertahankan karena banyak dana masyarakat yang dikelolanya. Sehubungan dengan itu Bank Indonesia dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan perlu tetap mengeluarkan prudential regulation untuk melindungi industri dari risiko yang timbul dan akhirnya dapat merugikan kepentingan umum. (*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi Yunus Husein Kepala PPATK dan Dosen Hukum Perbankan pada Fakultas Hukum Beberapa Universitas (//mbs)

Krisis Amerika, Krisis Dunia


Globalisasi menyebabkan krisis yang terjadi di sebuah negara berdampak pada negara lainnya. Krisis yang terjadi di Amerika Serikat sedikit-banyak akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Tidak ada yang bisa meramalkan kapan krisis di Amerika itu akan berakhir. Dan kapan pula krisis lanjutan akan muncul lagi. Kenyataan ini semakin menyadarkan kita bahwa logika ekonomi tak selalu sejalan dengan kenyataan. Karena itu, tak ada yang bisa disombongkan dari kecanggihan teknologi dan pengetahuan yang telah diraih oleh negara maju seperti Amerika sekalipun. Kearifan dan kesediaan untuk bekerja sama dengan semua pihak, tanpa diskriminasi dan hegemoni, justru akan memperkuat sinergi dan menutup peluang-peluang terjadinya krisis. Amerika tidak bisa menyombongkan diri sebagai negara adikuasa. Kegagalan dan krisis bahkan bencana alam (topan) yang melanda Amerika belakangan ini menjadi bukti

nyata bahwa arogansi tak pernah menyelesaikan masalah. Dan seharusnya hal tersebut memunculkan kesadaran baru bagi pemerintah Amerika untuk bersikap egaliter terhadap negara lain. Karena itu, sebagai negara berkembang, Indonesia harus banyak belajar pada krisis yang melanda Amerika. Bahwa negara semaju Amerika pun tak bisa menjamin stabilitas perekonomiannya melalui logika semata. Menuhankan logika semata akan berbuah

kepanikan seperti yang dirasakan masyarakat Amerika saat ini, akibat krisis ekonomi yang muncul di luar perhitungan akal mereka. Itulah sebabnya, sebagai bangsa yang religius, bangsa Indonesia sejatinya tidak akan mudah panik, karena terbiasa dengan kesadaran-kesadaran alternatif sebagaimana diajarkan oleh agama. Dan hal tersebut harus didukung oleh langkah-langkah rasional dan penjelasan-penjelasan konstruktif yang dilakukan pemerintah sehingga masyarakat tidak panik dan cemas. Penjelasan tersebut, misalnya, terkait dengan fundamen ekonomi kita di tingkat nasional yang baik dan terkelola. Dalam keadaan seperti ini, yang penting, di samping kita terus melakukan antisipasi dan pengelolaan, kita harus bersinergi agar tidak terpuruk dalam krisis baru di tengah kita berjuang keluar dari krisis. Semoga. T.A. Budinata Jalan Ciputat Raya, Pamulang Tangerang

Perbandingan krisis amerika dan krisis asia tahun 1997


Lagi tertarik dengan masalah-masalah ekonomi nih.. maklum di sini lagi heboh soal kemungkinan krisis ekonomi yang disebabkan oleh krisis subprime mortgage alias kredit kepemilikan rumah yang mengalami kemacetan besar-besaran di seluruh penjuru negri. Baca-baca sedikit tentang ini, saya melihat kok banyak persamaannya ya? Disclaimer dulu, saya nggak ngerti banyak soal ekonomi dan nulis ini supaya dapat komentar jadi tambah pinter.. jadi buat yang ngerti jangan diketawain ya tapi dikomentarin ok? Dari bacaan di Wikipedia dan satu artikel bank dunia, salah satu teori tentang penyebab krisis ini adalah investasi yang berlebihan di bidang properti. Dana investasi ini dikucurkan oleh bank tanpa banyak peraturan. Kalo jaman krisis moneter Asia, misalnya di Indonesia, dituduhkan bahwa pemerintah jaman itu yang KKN abis menyebabkan dana investasi ini berakhir di tangan orang2 yang

tidak efisien dan tidak kompeten utk mengelola dana (atau kemaruk kali?) akhirnya, kredit ini tidak balik, menyebabkan krisis keuangan di tingkat bank, dan tentu saja merembet ke bidang real lainnya. Dampaknya ekonomi macet, mata uang menurun drastis karena orang2 pada panik juga, dan phk di mana-mana.. Krisis ekonomi Amerika kejadiannya hampir sama (walopun ini sebenarnya belum bisa dikatakan krisis ekonomi ya tapi masih dalam taraf krisis keuangan di tingkat bank). Dimulai dengan pelonggaran peraturan pengucuran kredit bank oleh pemerintah yang menyebabkan kredit bank bisa diakses dengan lebih mudah oleh orang2 dengan kualifikasi yang tidak meyakinkan dan jg oleh orang2 yang sebenarnya punya banyak hutang lain. Kebijakan ini juga mendorong spekulasi berlebihan atas properti yang menyebabkan harga properti melambung tinggi hanya dalam waktu beberapa tahun (rent apartment juga jadi naik tiap tahun bo).. satu waktu, harga2 ini tidak bisa lagi dijangkau oleh pasar, akhirnya penjualan rumah dan apartment merosot drastis, padahal tadinya dibeli dengan hutang utk dijual lagi dengan harga tinggi.. jadilah kredit macet yang buntutnya krisis keuangan di bank yang sekarang mulai terasa di tingkat real.. dampaknya sih belum separah krisis Asia. Paling yang kena phk ya karyawan badan keuangan penyalur kredit atau kontraktor properti yang kehilangan pekerjaan.. dampak yang lain adalah banyak orang tiba2 terlilit hutang bank dan rumah mereka yang buat spekulasi tadi disita oleh bank dan dijual murah.. tapi sedikit demi sedikit krisis ini sudah mulai terasa terutama di pasar saham.. harga indeks saham amerika merosot tajam.. hm.. pertanyaan saya, apa orang2 pinter yang ngatur kebijakan ekonomi negara itu nggak melihat ada tanda2 bakalan menuju krisis ya? pertanyaan ini juga mulai didengungkan di sini..

ADA APA DENGN AMERIKA


Seorang kawan mengeluh betapa anjloknya IHSG. Bahkan jadi yang terparah penurunannya se-Asia. Dampaknya, saham-saham yang dipegang kawan saya itu menurun poinnya dan terus menurun. Yang menjadi penyebab, tak lain adalah krisis Amerika yang konon terparah pada tujuh tahun terakhir ini, yang oleh beberapa orang dikatakan mirip dengan yang dialami Asia sepuluh tahun lalu. Bagaimana sebenarnya krisis ini bermula? Saya sedikit coba menceritakan awal anjloknya ekonomi Amerika. Mohon dikoreksi jika ada salah. Maklum,,masih belajar Masyarakat Amerika memiliki kepercayaan bahwa investasi di sektor riil, terutama properti, akan sangat menguntungkan. Akibatnya, orang berbondong-bondong investasi di sana. Sesuai hukum permintaan dan penawaran, saat demand tinggi sementara tidak dibarengi dengan supply yang tinggi pula, harga properti menjadi naik. Bank-bank utama Amerika menerapkan sistem credit rating, yaitu persyaratan yang harus dipenuhi debitur agar bisa meminjam sejumlah dana untuk membeli rumah. Di antara yang menjadi kriteria adalah jenis pekerjaan, tingkat disposable income, latar belakang keluarga, pendidikan, kesehatan sampai ras, golongan, dan agama.

Adalah yang dinamakan subprime mortgage, yaitu pinjaman kepada pembeli rumah di Amerika yang jaminannya kurang. Hal ini diberlakukan guna menjadi solusi bagi warga miskin di sana mendapatkan rumah. Ketatnya persyaratan kredit ditambah dengan proses yang tidak gampang, menyebabkan para warga miskin itu mengajukan kredit (hipotek) ke lembaga pembiayaan (seperti Fanni Mae, Fredie Mac, AIG, Merill Lynch, Lehman Brothers). Lembaga pembiayaan ini merupakan pihak penengah antara bank dengan calon pembeli (home loan). Sebenarnya uang tunai yang dimiliki pihak penengah ini hanya sedikit. Dengan agunan surat kepemilikan rumah dari para home loan, lembaga pembiayaan meminjam dana dari bank untuk kemudian dipinjamkan kembali pada para home loan. Dengan demikian, meskipun lembaga pembiayaan hanya memiliki uang satu juta dollar, telah dapat meminjami para home loan 10 juta dollar. Pertengahan 2008 lalu, harga minyak meroket tajam dan menyebabkan kenaikan biaya produksi. Dampaknya, banyak perusahaan harus memangkas biaya produksi yang bisa dipangkas, seperti memecat sejumlah karyawannya. Dampaknya lagi, karyawan itu tidak mampu membayar cicilan hipotek. Bagaimana bisa mencicil jika pekerjaan saja mereka tidak punya? Karena tidak bisa mencicil, lembaga pembiayaan menyita aset properti yang dihipotekkan. Jika yang terjadi hanya satu dua kasus saja, maka tidak akan ada masalah. Sayangnya, banyak home loan yang tidak mampu membayar cicilan. Akibatnya lembaga pembiayaan harus menyita lebih banyak rumah dan apartemen lagi. Sementara itu, di sisi lain, lembaga pembiayaan juga harus membayar pihak bank atas dana yang dipinjamnya. Karena tidak ada pemasukan berupa cicilan (uang tunai), lembaga keuangan hanya bisa membayar melalui aset properti hasil sitaan. Padahal, bank hanya mau menerima pembayaran berupa uang tunai. Mau tidak mau, akhirnya lembaga pembiayaan tersebut menjual aset hasil sitaan dengan harga murah. Dan sampai di titik tertentu mereka tidak mampu lagi membayar pinjamannya, hingga terjadi kredit macet (bad debt). Seperti kita tahu, sumber dana bank adalah dari tabungan dan bunga pinjaman kredit. Ketika masyarakat sudah tidak memiliki dana, mereka akan kesulitan untuk menabung. Ditambah lagi, dengan adanya kredit macet, maka bank-bank ini tidak mampu memperoleh dana untuk operasionalnya. Akibatnya, perbankan di sana kolaps dan krisis pun terjadi. Bush juga sudah mengakui terjadinya hal ini. Lalu, apa dampaknya bagi perekonomian Indonesia? Secara langsung maupun tidak, perekonomian Indonesia pasti akan terpengaruh. Di lantai bursa, misalnya, IHSG anjlok. Ekspor Indonesia yang ke Amerika pun pasti akan terpengaruh, entah itu sekadar berkurang atau malah terhenti sama sekali. Menurut Budiono, Gubernur BI (KOMPAS 6/10/2008), ada dua dampak utama sebagai imbas krisis ekonomi di AS, yaitu pengeringan likuiditas dan pelambatan ekonomi global. Dampak itu akan mulai dirasakan dalam enam bulan sampai setahun ke depan.

Pengeringan likuiditas, secara gampang boleh diartikan uang yang ada dalam bank akan semakin menyusut. Padahal, bank akan membutuhkan uang kas untuk operasional mereka. Untuk mengatasi permasalahan ini, bank mungkin akan menaikkan bunga deposito dengan harapan dapat menarik dana masyarakat masuk ke bank. Di sisi lain, bunga pinjaman juga akan dinaikkan, yang berarti para debitur bisa jadi akan menerima tagihan cicilan yang melonjak dibanding bulan-bulan sebelumnya. Dalam hal pelambatan ekonomi global, aliran kas akan melambat dan menyebabkan perputaran uang dalam dunia usaha juga melambat. Untuk perusahaan-perusahaan besar, mungkin tidak akan terlalu sulit menghadapi pelambatan ini. Yang mungkin perlu mendapat perhatian adalah UKM di Indonesia yang banyak jumlahnya itu Sejak September yang lalu, ekonomi dunia dihebohkan dengan berita keruntuhan ekonomi Amerika. Penyebab awalnya adalah adanya kredit macet pada sektor perumahan di sana. Masyarakat di sana sangat umum melakukan hipotek untuk rumah mereka. Kredit macet hipotek ini yang perlahan membuat lembaga pemberi kredit ambruk hingga menyebabkan ekonomi Amerika terguncang. Krisis yang terjadi di Amerika saat ini membuat saya memikirkan kembali pola konsumsi yang dilakukan kebanyakan masyarakat Indonesia. Meski hipotek jarang disebut di tanah air ini, istilah kredit sudah sangat familiar di telinga. Jika diingat, pasti sering kita mendapat tawaran kredit kendaraan, baik itu motor maupun mobil, yang mensyaratkan DP sangat rendah. Tak hanya itu. Barang-barang elektronik, hape, dan bahkan peralatan rumah tangga yang dijual melalui ibu-ibu arisan pun melayani pembayaran melalui kredit. Dengan mengeluarkan uang sedikit dahulu, sudah bisa memperoleh barang-barang berkelas, tentu sangat menggiurkan bagi kebanyakan masyarakat kita yang masih saja menempatkan gengsi dalam berpenampilan di urutan teratas.

Krisis Kredit Amerika, Kisah Kegagalan Sektor Finansial (4)


Lompat ke Komentar (sambungan dari part 3) Ketika saya menulis part 3 artikel seri ini, korban terakhir dari krisis Finansial adalah perusahaan finansial Bear Sterns. Waktu itu saya lalu berniat untuk menulis part 4 ini setelah ada perkembangan lebih lanjut yang sangat signifikan. Ternyata hanya dalam dua bulan sejak part 3 saya tulis, semakin banyak nama-nama besar di dunia finansial yang bertumbangan. Walaupun begitu, saya masih belum terlalu terpikir untuk melanjutkan artikel seri ini, karena beritanya masih relatif sama, yaitu perusahaan finansial tumbang.

Meskipun demikian, dalam satu minggu terakhir, saya membaca beberapa berita seram yang membuat saya berpikir Mungkin sudah saatnya saya meneruskan cerita tentang krisis kredit. Meskipun demikian, mungkin kini judul yang tepat bukanlah Krisis Kredit Amerika lagi, melainkan Krisis Kredit Global. oOo Berita seram pertama yang mungkin terlewatkan dari radar kebanyakan orang adalah berita mengenai keadaan di 2 negara bagian Amerika, yaitu Massachusetts dan California. Pengaruh krisis kredit telah begitu meluas dan dampaknya pun terasa ke sektor pemerintahan. Kedua negara bagian tersebut kini mengalami kesulitan keuangan untuk membayar berbagai pengeluaran rutinnya (spt gaji guru, polisi, pemadam kebakaran, dll). Gubernur California, Arnold Schwarzenegger, beberapa hari lalu menulis surat kepada Departemen Keuangan USA bahwa negara bagiannya mungkin membutuhkan pinjaman lunak darurat sebesar kira-kira US$7 Milyar. Tidak lama kemudian, Bendahara negara bagian Massachusetts pun menyatakan kemungkinan membutuhkan pinjaman lunak untuk menutupi defisit anggarannya. Dalam kondisi normal, negara bagian USA yang membutuhkan dana bisa dengan mudah mendapatkan dana tersebut dengan menerbitkan obligasi sendiri, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tetapi dalam krisis kredit saat ini, jalan ini bisa dikatakan tertutup. Mengapa demikian? Ini karena setelah tumbangnya berbagai lembaga finansial, berbagai perusahaan finansial yang tersisa mengalami trauma untuk meminjamkan uang kepada pihak lain. Uang yang mereka miliki akan mereka pegang erat-erat untuk berjaga-jaga. Sebagai ilustrasi, kondisi ini mungkin bisa kita ibaratkan seandainya kita adalah pemilik toko sembako dan lalu terjadi kelaparan yang sangat parah yang entah kapan akan berakhir. Dalam kondisi ini, seandainya kita mengalami kesulitan mendapatkan pasokan sembako, kita mungkin akan enggan untuk menjual barang dagangan kita dan memilih menyimpannya utk konsumsi keluarga kita sendiri. Singkatnya, kondisi saat ini bisa dikatakan dalam bahasa gaul Elu elu, Gue gue, jaga diri masing-masing. Sulitnya mendapatkan dana dari sektor finansial memaksa para gubernur negara bagian tersebut kini berpaling kepada pemerintah pusat untuk meminta bantuan. Meskipun demikian, belum ada kabar bagaimana jawaban pemerintah pusat terhadap permohonan bantuan pinjaman ini. Lalu apa yang akan terjadi seandainya bantuan pinjaman ini tidak diberikan ketika para negara bagian itu membutuhkannya? Tentunya negara-negara bagian tersebut tidak bisa membayar para pegawainya (polisi, guru, dll). Proyek-proyek pembangunan akan dikurangi sebagian. Ini semua akan berpengaruh negatif kepada ekonomi yang saat ini sudah ditimpa berbagai masalah lain.

Saya sendiri merasa bahwa perkembangan dari berita ini akan menarik untuk diikuti, terlebih setelah disetujuinya program Bailout terhadap sektor finansial. Jika sektor finansial bisa mendapatkan pertolongan bailout sedangkan negara bagian tidak, bisa diperkirakan akan timbul reaksi yang keras dari masyarakat Amerika. Tetapi jika satu negara bagian diberikan pertolongan, maka ada kemungkinan negara bagian lain juga akan antri meminta bantuan dari Depkeu. Ini akan semakin menambah besar beban pemerintah pusat yang sudah harus mengeluarkan uang banyak untuk program Bailout. oOo Berita seram lainnya yang membuat saya merasa harus menulis artikel ini terkait dengan satu negara kecil di Eropa, yaitu Islandia. Perdana Menteri Islandia, dalam satu keterangan pers mengucapkan suatu kalimat yang menimbulkan kehebohan, Islandia terancam bangkrut nasional. Penyebab timbulnya komentar yang mengagetkan ini tidak lain lagi-lagi adalah krisis kredit. Sama seperti negara lainnya, krisis kredit juga menimpa bank-bank di Islandia. Selama masa booming beberapa tahun terakhir, berbagai bank di Islandia melakukan ekspansi besar-besaran. Begitu hebatnya ekspansi ini, hingga kini hutang di sektor perbankan negara itu mencapai US$100 Milyar, jauh di atas Produk Domestik Bruto Nasionalnya yang cuma US$14 Milyar. Ketika krisis kredit mulai menyebar, bank-bank tersebut pun mulai sulit mendapatkan pinjaman. Pemerintah Islandia pun mengalami kesulitan yang besar untuk menolong bank-bank tersebut karena ukurannya yang terlalu besar dibandingkan dengan negaranya. Bantuan dari luar negeri pun sulit diharapkan karena negara-negara lain juga sedang sibuk memerangi krisis kredit di negara masing-masing. Kesulitan yang dialami oleh Islandia ini semakin menumpuk karena mata uangnya sudah melemah hingga 40% dalam tahun ini saja. Akibatnya beban hutang yang mereka tanggung semakin besar. Melemahnya mata uang Islandia ini juga mengancam kondisi perekonomian mereka yang sangat tergantung kepada import, karena menimbulkan inflasi tinggi akibat semakin mahalnya barang import. Berita terakhir menyatakan bahwa inflasi di negara ini telah mencapai 14%. oOo 2 tahun yang lalu, saya beruntung menemukan sebuah artikel yang membuat saya tersadar akan bahaya bubble properti di Amerika. Tidak lama setelah itu, saya kembali beruntung menemukan sebuah artikel yang menulis tentang betapa berbahayanya bubble di pasar instrumen derivatif seperti CDO, CDS, dll. Oleh karena itu ketika bubble ini akhirnya pecah, saya tidak kaget sama sekali karena memang sudah saya antisipasi sejak lama. Meskipun demikian, tidak pernah sekalipun saya terpikir bahwa krisis kredit saat

ini akan sampai bisa menggoyang sebuah negara bagian ataupun negara (sekalipun negara kecil seperti Islandia). Dengan perkembangan terakhir ini, saya pikir ada baiknya saya kembali mengulangi wanti-wanti saya kepada para pembaca blog ini. Seperti kita ketahui, saat ini mulai terjadi persaingan antar bank untuk memberikan bunga yang tinggi untuk deposito, di atas bunga yang dijamin oleh program LPS bahkan di atas bunga dari Obligasi ORI. Tentunya kita perlu mempertanyakan alasan mengapa bank-bank tersebut melakukan hal seperti ini. Umumnya, penyebab utamanya adalah bank-bank tersebut mengalami kesulitan menghimpun dana dari masyarakat dan ada kemungkinan keadaan keuangannya agak ketat. Jika bank-bank tersebut mengalami masalah, tentunya akan beresiko terhadap nasib uang yang kita tempatkan di bank itu, karena sudah tidak termasuk program penjaminan LPS. Pertimbangkan masak-masak sebelum teman-teman menempatkan uang di sana. Ingatlah bahwa tabungan dan deposito bukanlah tempat mencari hasil yang tinggi. Ingatlah bahwa fungsi utama dari instrumen tabungan dan deposito adalah keamanan dan likuiditas. Jangan sampai karena tergiur bunga lebih tinggi 1%-2% (per tahun), akhirnya menyesal karena timbul masalah yang tidak diinginkan.

Krisis Amerika, Dampaknya Bagi Indonesia


Oleh Tendi Haruman Krisis finansial di Amerika Serikat berubah menjadi krisis global yang berdampak negatif terhadap beberapa pasar modal utama dunia termasuk Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya interdependensi antarpasar modal sebagai dampak globalisasi ekonomi. Tulisan ini mencoba menjelaskan penyebab terjadinya krisis, dampak yang ditimbulkan, dan solusi bagi pasar modal Indonesia. Ada dua tipe customer perumahan di AS, yaitu prime customer yang berasal dari golongan menengah ke atas dan subprime customer yang umumnya pekerja dan berasal dari golongan menengah ke bawah. Kredit yang diberikan kepada subprime customer relatif tidak menggunakan prosedur yang ketat. Motivasi subprime customer mengambil kredit umumnya adalah berharap selisih lebih harga jual seandainya tidak mampu membayar. Aset piutang yang dimiliki bank kemudian diperjualbelikan (disebut sekuritisasi aset), di mana salah satu pemain utamanya adalah Lehman Brothers. Sumber dana yang digunakan Lehman Brothers untuk membeli aset piutang tersebut dengan menerbitkan surat utang.

Masalah mulai terjadi sejak kenaikan suku bunga di Amerika sejak 2003, disusul kondisi ekonomi Amerika dilanda resesi pada medio 2007 dan harga minyak bumi meningkat mengakibatkan debitur tidak mampu bayar (default). Subprime customer yang awalnya berharap bisa menjual rumah dan mendapatkan selisih harga, ternyata pada saat yang sama supply rumah juga tinggi sekali yang berakibat jatuhnya harga rumah, peristiwa ini dikenal dengan sebutan subprime loan crisis. Pada triwulan III 2008 Lehman Brothers menderita kerugian 3,9 miliar dolar AS yang bersumber dari gagalnya penagihan aset piutang berbasis kredit tersebut dan Lehman Brothers yang berusia 158 tahun, dengan aset 639 miliar dolar AS pun mengumumkan kebangkrutan. Lehman Brothers bukanlah satu-satu bank yang menderita kerugian, sebelumnya Citigroup dan Merrill Lynch, tetapi keduanya sementara selamat dengan solusi bail out, yaitu injeksi dana untuk menambah modal. Dampak krisis Berita kebangkrutan ini menjadi bad news yang direspons reaktif oleh pelaku pasar modal Amerika, Eropa, dan Asia. Indeks saham blue-chip DJIA (Dow Jones Industrial Average) turun 4,42 persen, indeks komposit Nasdaq merosot 3,60% dan indeks Standard & Poor`s 500 jatuh 4,71 persen. Di Eropa, London, indeks FTSE turun 3,92, Paris, indeks CAC 40 jatuh 3,78 persen dan Frankfurt, indeks DAX, merosot 2,74, serta Indeks Euro Stoxx 50 turun 3,67 persen. Di Asia, indeks Taiwan ditutup melemah 4,09 persen, Filipina 4,2 persen, dan Singapura 3,27 persen, tak ketinggalan Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada BEI jatuh pada level 1.700 an pada perdagangan hari Senin (15/9). Mengapa bad news di Amerika begitu cepat "menular"? Setidaknya ada empat argumen sebagai dasar jawaban, pertama terdapat interdependensi antarpasar modal dunia sebagai akibat globalisasi. Kedua, negara yang terkena dampak krisis, fundamental ekonominya tidak kuat. Ketiga, kondisi psikologis para pelaku pasar modal, dan keempat kombinasi faktor kedua dan ketiga. Untuk negara Amerika, Eropa, dan beberapa negara asia yang ekonomi dan pasar modalnya sudah mature, faktor fundamental dan psikologis berjalan simultan. Artinya, pelaku pasar modal akan segera merespons secara reaktif dengan melihat faktor fundamental yang tidak menguntungkan (misal, kondisi rugi) dan ekspektasi terhadap waktu dan prospek krisis. Dalam kasus saat ini kinerja fundamental yang buruk dan ekspektasi waktu krisis yang akan berlangsung lama menyebabkan investor melepas saham dengan cepat. Dampaknya bisa ditebak, indeks harga saham sebagai tersebut perwujudan firm value di negara-negara tersebut terkoreksi atau turun. Bagaimana Indonesia? Penulis berasumsi bahwa fundamental ekonomi cukup baik yang berarti kejatuhan pasar modal Indonesia disebabkan oleh kondisi psikologis berupa kepanikan pelaku pasar. Kenapa investor Indonesia panik? Sebagaimana kita ketahui bahwa pasar modal Indonesia tergolong pasar modal yang sedang berkembang. Parameter keputusan investasi oleh investor lebih dominan ditentukan oleh faktor persepsi (ekspektasi) daripada kinerja fundamental perusahaan sesungguhnya. Temuan konsultan Mc Kinsey &

Co (1998) sangat mencengangkan bahwa current earning stream hanya memberi kontribusi 10% saja terhadap nilai pasar perusahaan publik, sisanya 90, adalah growth expectation. Temuan penulis di sektor manufaktur atas masukan Prof. Roy Sembel, juga menghasilkan angka di sekitar itu. Dengan demikian, harga pasar yang terbentuk sesungguhnya adalah harga yang semu yang ditentukan oleh keahlian memengaruhi persespi pasar dan sewaktu-waktu bisa terkoreksi atau terapresiasi bila terdapat bad news atau good news. Selain itu, dari sisi komposisi investor, ternyata investor yang bermain di pasar modal Indonesia dan berkapital besar serta memiliki keterampilan teknis investasi yang baik adalah investor asing yang jumlahnya diperkirakan 50%. Dengan demikian, sangat logis bila bad news di pasar global, akan direaksi secara negatif bahkan berlebihan. Inilah penyebab indeks harga saham di pasar modal Indonesia terkoreksi dengan cepat. Solusi Salah satu syarat menjadi negara yang disegani dalam konstelasi ekonomi dunia adalah keberadaan pasar modal yang sehat, kuat, dan mandiri sehingga tidak cepat goyah menghadapi hantaman krisis. Salah satu solusinya, memperkuat basis investor lokal secara kualitas dan kuantitas. Cara yang paling cepat dan efektif adalah edukasi yang benar kepada masyarakat tentang investasi di pasar modal sehingga memiliki kecerdasan berinvestasi. Investor yang cerdas dalam pengambilan keputusannya akan menggunakan pertimbangan rasional, bukan emosional seperti kebanyakan investor lokal saat ini. Kecerdasan inilah yang akan mendorong kualitas keputusan investasi yang diambil. Dengan demikian, suatu saat cerita suka (sukses investasi) lebih dominan dari cerita duka (gagal investasi). Bila ini terjadi, investor lokal akan semakin percaya bahwa investasi di pasar modal manageable dan menguntungkan. Emiten yang sahamnya dibeli investor, harus menerapkan good corporate governance sehingga laporan atau publikasi yang dikeluarkan mencerminkan keadaan sebenarnya. Hal ini akan menghilangkan asymmetric information yang selama ini sangat merugikan investor. Solusi ini harus terintegrasi sebab itu perlu sinergi berbagai pihak yang terkait, dalam hal ini adalah otoritas keuangan (Bapepam) sebagai representasi pemerintah, emiten dan investor, serta lembaga pendidikan. Insya Allah berhasil. *** Penulis, pengurus ISEI Cabang Bandung, dosen Universitas Widyatama. Penulis:

Moh. Arifin Purwakananta


purwakananta.wordpress.com

Momentum Krisis Eknomi Amerika


October 6, 2008 in Tulisan Tags: krisis amerika

Amerika Serikat dirundung krisis ekonomi yang akut. Kiblat ekonomi dunia ini sedang berjuang mengjar ego keangkuhannya. Krisis ini pun segera menyebar kepada seluruh jejaring negeri Paman Sam ini, melalui virus dolar dan mitos modern tentang kejayaan ekonomi kapitalisme. Bagaimana Indonesia? Saya berharap dua hal. Yaitu kita cepat tersadar dan merubah kiblat ekonomi kemakmuran kita pada teori-teori, ukuran-ukuran dan mazhab kapitalisme dan pertumbuhan ekonomi yang bagus untuk dipidatokan dan di cetak tebal-tebal laporannya. Mau coba alternatif system ekonomi islam? Hal kedua adalah segera membei vaksin kepada ekonomi rakyat agar tak berimbas krisis yang menggurita ini. Lalu apa itu ekonomi rakyat? Ya ekonomi riil yang dierakkan konsumsi rakyat. YakinlahkKita perlu segara menyetop konsumsi dari impor dan ajari rakyat menjadi konsumen produk bangsanya sendiri. Jika kita tak mungkin kendalikan pasar bebas, maka kendalikan komunikasi dan iklan media impor. Kita dapat memberi ruang seluasnya pada produk rakyat untuk beriklan di media TV. Ini akan memfungsikan metode yang sudah ada seperti permodalan dan sector social seperti zakat yang turut menopang kekokohan para ekonom kecil. Profil konsumen Indonesia Perlu sebuah gerakan untuk mengubah pola konsumsi kita. Di sisi lain kita perlu menguatkan aspek produksi. Saya berharap kita dapat memfokuskan pada produk dengan nilai impor paling besar. Kita perlu membuat substitusi dengan produksi masal produk-produk tersebut dari tangan pribumi. Kita tak perlu mengandalkan penduduk kota yang kaya memulai gerakan ini, karena yang ada hanyalah perlawanan. Tak mudah melarang orang kota ke kafe. Maka yang perlu digerakkan adalah masyarakat umum di desa-desa. Kita berharap imbasnya di kota. Ini akan efektif bila gerakan ini disupport oleh media dan tangan besi pemimpin kepada oportinis politik. Politik Ekonomi

Saya meyakini Indonesia dengan potensi sebesar ini haruslah menjadi pemegang kendali bagi sumber daya dunia. Kepemimpinan ekonomi kita yang lemah bukan karena kita kurang akal dan kalah negosiasi ekonomi, kita hanya belum mampu merekrut borokrasi yang anti korupsi dan membela kepentingan ummat diatas kepentingan diri dan keluarga. Dengan menggeser isu ekonomi dari pertumbuhan menjadi isu distribusi, maka otomatis kemakmuran akan menjadi focus kita. Distriusi asset dan distribusi kemakmuran ini haruslah menjadi batu timbang bagi keberhailan ekonomi kita. Siapa yang mau buat debat terbuka : Keruntuhan Kapitalisme dan Bangkitnya Ekonomi Distribusi? Possibly related posts: (automatically generated)
Edisi : Selasa, 07 Oktober 2008 , Hal.4

Perbedaan krisis ekonomi AS-Indonesia


Akhirnya DPR Amerika Serikat (AS) menyetujui rencana penyelamatan aset finansial oleh pemerintah AS dengan mengucurkan dana segar (bailout) untuk menolong sakitnya sektor finansial AS yang telah kronis agar tidak merembet ke seluruh tubuh perekonomian AS. Pemerintah AS akan menyuntikkan dana segar senilai US$700 miliar secara bertahap kepada institutional investor seperti bank komersial, asuransi, reksa dana, dan sebagainya sehingga derajat likuiditas lembaga perantara keuangan tersebut menjadi lebih baik, juga lebih sehat. Pada gilirannya sektor pasar finansial dapat kembali berfungsi normal sebagai pemasok kebutuhan dana bagi agen-agen ekonomi yang membutuhkannya, serta akan menghindarkan AS dari ancaman depresi ekonomi. Sejak fenomena sekuritas subprime mortgage (SM) muncul sebagai pemicu krisis ekonomi AS sekitar setahun lalu, komunitas global seakan disuguhi tontonan ekonomi berupa episode dimulainya krisis ekonomi di AS. Pembabakan ini sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 2004 yaitu ketika Fed mulai secara bertahap menaikkan suku bunganya, namun dampak dan kesejatiannya baru menyeruak tahun 2007. Dibandingkan dengan Indonesia, penahapan memasuki krisis terlihat lebih nyata dan berlangsung lebih lambat. Pada saat Indonesia pertama kali dilanda krisis ekonomi pertengahan tahun 1997, jarak antara faktor pemicu awal dengan dampaknya terasa sangat pendek dan berlangsung dengan cepat. Diawali dengan goncangan hebat atas nilai tukar bath Thailand terhadap dolar AS di pertengahan Mei 1997, kemudian hanya dua bulan berselang, perekonomian Indonesia kena getahnya di mana Juli 1997 menjadi tonggak dimulainya prahara ekonomi Indonesia yang hingga sekarang masih sangat terasa dampaknya. Di satu sisi, perekonomian AS masih ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuatPDB AS sekitar US$13,7 triliun merupakan terbesar di duniaserta mesin ekonomi pasar yang efektif. Di sisi lain, saat menghadapi krisis Indonesia tidak cukup memiliki fundamental ekonomi yang kuat. PDB Indonesia pada saat memasuki krisis hanya sekitar USD 43 miliar dengan cadangan devisa yang hanya berkisar USD 20 miliar. Selain itu perekonomian Indonesia juga dihinggapi berbagai distorsi pasar yang akut seperti KKN, monopoli dan lain sebagainya. Di tingkat fundamental ekonomi, kontribusi ekonomi sektoral terhadap PDB juga tidak merata, termasuk masih lebarnya kesenjangan pembangunan ekonomi antara wilayah Indonesia barat, tengah dan timur turut menyumbang bagi lemahnya fundamental ekonomi nasional. Faktor-faktor ini bisa menjadi jawaban mengapa Indonesia lebih rentan dan cepat terkena krisis dibandingkan AS.

Berbeda juga dengan AS, saat ini pemeran utama krisis di AS adalah sekuritas SM, sedangkan aktor penting pemicu krisis di Indonesia adalah defisit neraca berjalan serta besarnya utang luar negeri (ULN) terutama ULN jangka pendek. Surat utang SM yang sudah tidak marketable karena tingginya suku bunga dan banyaknya nasabah yang gagal bayartelah menyebabkan banyak lembaga perantara keuangan mengalami kerugian jutaan dolar AS. Makin besar kerugian yang diderita institusi keuangan, maka makin besar pula dana segar yang dibutuhkan untuk menjalankannya kembali. Injeksi fresh money dari pemerintah sangat penting agar lembaga keuangan tidak sampai menjual portofolio dan aset-aset produktif mereka yang dapat menyebabkan goncangan berlanjut ke sektor riil. Jadi, kelangkaan modal finansial sekarang ini berawal dari sepak terjang SM. Sedangkan untuk kasus Indonesia, krisis ditengarai dengan kelangkaan devisa yang berawal dari terdepresinya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Depresiasi rupiah yang sangat besar sempat menyentuh Rp 15.000/dolar AS pada Agustus 1997 setelah pemerintah mengambangkan nilai rupiah ke pasar telah menyebabkan membengkaknya defisit neraca berjalan serta meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk membayar ULN yang jatuh tempo. Selanjutnya secara simultan penurunan nilai rupiah ini mempengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat dengan perwujudan dampaknya antara lain menurunnya pasokan pasar domestik, melambungnya angka inflasi, meningkatnya PHK dan pengangguran, serta makin tingginya angka kemiskinan. Dalam hal krisis ekonomi di Indonesia, depresiasi rupiah telah menjadi penyebab awalnya. Peran IMF Tentang bagaimana mencari jalan keluar dari krisis, AS dan Indonesia juga memiliki cerita yang berbeda. Rencana bailout senilai USD 700 miliar yang dilakukan pemerintah AS bersumber dari keuangan pemerintah AS sendiri baik melalui mekanisme penjualan surat utang pemerintah di pasar uang, maupun melalui mekanisme anggaran belanja negara. Sebaliknya, pada situasi Indonesia tahun 1997, pemerintah meminta bantuan resmi dari IMF senilai US$40 miliar. Ini terjadi karena Bank Indonesia saat itu sudah tidak mampu lagi mengintervensi pasar karena cadangan devisa yang terus menipis untuk mendongkrak nilai tukar rupiah. Kendati prinsip penyelamatan yang dilakukan hampir sama yaitu dengan mengambil alih surat utang yang macet ataupun mengambil alih kepemilikan saham perusahaan/bank yang bermasalah, namun asal sumber daya yang digunakan untuk mengatasi masalah benar-benar berbeda. AS lebih memanfaatkan sumber daya internal, sedangkan Indonesia mengandalkan sumber daya eksternal. Selanjutnya, setting politik juga menjadi faktor pembeda yang urgen antara krisis ekonomi AS saat ini dengan yang dialami oleh Indonesia sepuluh tahun lalu. Situasi politik AS jelas lebih mapan dan stabil dibandingkan dengan Indonesia waktu itu. Meskipun proses pembahasan rencana bailout pemerintah AS mengalami perdebatan yang sangat sengit di tingkat Senat maupun DPR sebelum akhirnya divoting, namun dinamika adu kekuatan politik antara kubu partai Republik dengan partai Demokrat menjelang Pilpres AS bulan November nanti tidak sampai menimbulkan goncangan politik dan sosial yang berarti bagi publik AS. Sebaliknya, krisis ekonomi Indonesia yang disulut oleh goncangan moneter telah menjelma menjadi krisis sosial dan politik yang dahsyat yang berujung pada jatuhnya pemerintahan Orde Baru. Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya perilaku besaran-besaran ekonomi tidak sepenuhnya kedap pengaruh dari besaran-besaran sosial yang melingkupinya. Drama mengenai bekerjanya dapur ekonomi AS masih berlangsung. Bagi Indonesia sudah barang tentu tidak punya pilihan kecuali mempersiapkan berbagai langkah untuk meminimalisasi dampak yang akan ditimbulkan oleh krisis ekonomi AS manakala krisis di negeri adidaya tersebut berkepanjangan. Upaya tersebut juga perlu dilengkapi dengan mempersiapkan alternatif sumber pembiayaan eksternal ketika modal-modal yang berasal dari pasar finansial benar-benar mengering, seperti yang dikhawatirkan oleh banyak pihak. Oleh : BRM Bambang Irawan Dosen FE UNS Solo

Edisi : Kamis, 09 Oktober 2008 , Hal.1

Pasar panik, BEI kacau


Jakarta (Espos) Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/10), memutuskan menutup
perdagangan saham karena hancurnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok hingga 10,38%.

Menyikapi hal ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memerintahkan BUMN untuk melakukan pembelian lagi sahamnya atau buy back sebanyak-banyaknya yang mereka mampu di tengah kondisi pasar saham yang sedang amburadul ini. BUMN yang tbk diminta buy back saham mereka sebanyak mereka mampu, ujar Ketua Kadin MS Hidayat seusai rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (9/10) dini hari. Apa saja saham yang akan di-buy back, menurut Hidayat akan ditentukan oleh Menneg BUMN. Sementara itu otoritas bursa saham belum memutuskan apakah perdagangan di BEI akan dibuka atau tidak pada Kamis (9/10) ini. Penutupan pasar saham akibat penurunan indeks yang tajam baru kali pertama ini dilakukan. Sebelumnya pasar saham pernah tutup karena force majeur akibat peledakan bom. Kami akan melihat dahulu perkembangan pasar di bursa regional yang hari ini (kemarin-red) juga banyak yang berjatuhan, kata Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah di Jakarta, Rabu. Namun Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan Bapepam LK, Robinson Simbolon seusai rapat di kantor Bapepam LK, Jakarta, Rabu malam, menyebutkan pelaku pasar menginginkan agar transaksi perdagangan saham tetap dihentikan hingga perdagangan Kamis. Ketika perdagangan saham ditutup pukul 11.08 WIB, IHSG merosot tajam hingga 168,052 poin atau 10,38 persen ke posisi 1.451,669. Posisi IHSG ini merupakan terendah sejak September 2006. Transaksi saham yang dicatatkan sebelum bursa disuspensi, sebanyak 27.494 kali dengan volume 1,129 miliar unit saham senilai Rp 988 miliar. Hanya enam saham yang naik harga, selebihnya 171 saham anjlok dan sembilan saham stagnan. Erry menjelaskan, pasar saham sudah tidak rasional lagi. Indeks jatuh lebih dari 10 persen pada sesi I perdagangan Rabu, namun nilai transaksinya hanya di bawah Rp 1 triliun. Ini sudah tidak rasional, karenanya BEI memutuskan untuk melakukan suspensi, ujarnya. Kami akan melakukan pemeriksaan atas anomali transaksi hari ini. Masih belum bisa dipastikan apakah ada transaksi ilegal. Namun jika melihat nilai transaksi hari ini yang hanya sebesar Rp 952 miliar, sedangkan IHSG anjlok hingga 10,38% sangat irrasional, lanjutnya. BEI menilai situasi pasar sangat panik dan investor sudah banyak melakukan langkah yang tidak rasional lagi. Bursa saham Nikkei Jepang yang turun 10 persen juga bursa Singapura yang biasanya relatif tenang, juga menunjukkan kepanikan. Kalau ini dibiarkan justru akan memperparah bursa saham Indonesia, karena itu kami putuskan suspensi, kata Erry. Erry juga minta para investor harus bertindak rasional dan berpikiran jernih dalam menyikapi krisis keuangan global terutama yang terjadi di Amerika Serikat. Situasi ini juga memaksa Menteri Keuangan Sri Mulyani batal menghadiri sidang IMF di New York dan segera kembali ke Tanah Air. Menkeu diminta pulang dan dijadwalkan memimpin rapat di kantor Menko Perekonomian Kamis (9/10) ini. Hal itu diungkapkan Edy Putra Irawady, Deputi Menko Perekonomian bidang Industri dan Perdagangan. Langkah tepat Sementara itu anjloknya indeks harga saham di BEI diyakini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak akan berlangsung lama dan bisa segera diatasi. Kita tetap optimistis ini segera bisa diatasi karena kondisi ekonomi kita sekarang berbeda dengan masa krisis 1998, kata Juru Bicara Presiden Andi Mallarangeng di Kantor Presiden Jakarta. Sedangkan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil menilai penghentian perdagangan saham di BEI pada Rabu merupakan langkah yang tepat. Jadi tidak ada masalah, karena dengan dihentikan membuat orang berpikir, karena turunnya sudah tidak wajar, ujarnya. Pada bagian lain, penghentian sementara perdagangan seluruh saham kemarin membuat sejumlah pengelola dana kewalahan menjawab pertanyaan investor. Riset Analis Bali Securities Ketut Tri Bayuna mengatakan para investor langsung panik dan langsung menanyakan perihal suspensi saham di BEI. Salah seorang relationship manager di bank asing mengatakan para nasabah yang berinvestasi di reksa dana saham juga banyak yang menelepon menanyakan posisi dananya terkait penutupan transaksi di BEI. Bahkan ada nasabah kami yang merugi Rp 7 miliar atau

45% periode 15 September sampai hari ini (kemarin-red), kata dia. Pergerakan IHSG Tanggal Composite Index 1 6 7 8 September 2.164,620 Oktober 1.648,74 Oktober 1.619,72 Oktober 1.451,67 (Posisi IHSG ini merupakan terendah sejak September 2006)

Sumber: www.idx.co.id, Bisnis Indonesia, Bloomberg Bursa Eropa (penutupan Rabu, 8/10) FTSE Inggris 100 turun 6,76% CAC Paris turun 8,18% DAX Frankfurt turun 6,32% SMI Zurich turun 3,45% Rusia turun 11% (distop lagi) Bursa Asia (Penutupan Rabu, 8/10) Malaysia turun 2,7% Singapura turun 6,61% Thailand turun 6,06% Hong Kong turun 8,2% Jepang turun 9,81% Australia turun 5% India turun 5,84% - Oleh : bisnis/dtc/Ant

Sektor Riil 2009-2010 Kondisi Kritis Ekonomi Indonesia


JAKARTA - Kondisi ekonomi dalam negeri pada tahun 2009 hingga 2010 merupakan kondisi yang cukup kritis. Pasalnya, perlambatan ekonomi global saat ini baru akan terasa dalam dua atau tiga kuartal mendatang. Plt Menko Perekonomian, Sri Mulyani, mengatakan dampak itu akan terlihat di neraca pembayaran 2009. Maka itu pemerintah akan menyusun RAPBN 2009 secara lebih hatihati. "Kita melihat tahun 2009 dan 2010 adalah tahun yang cukup kritis yang harus kita manage dari sisi kebijakan ekonominya dan respons kebijakan yang harus kita lakukan. Manajemen APBN dengan DPR akan lebih hati-hati lagi supaya tahun 2009 mendapatkan format yang terbaik," ujar Sri Mulyani, usai rakor di Gedung Depkeu, Jakarta (5/10/2008). Selain mencermati rancangan APBN 2009, pemerintah juga akan menjaga stabilitas

ekonomi bersama BI melalui tingkat inflasi, nilai tukar suku bunga. Hal ini untuk menciptakan kepastian atau kepercayaan dari pelaku usaha. Langkah lainnya yakni pemerintah akan memperbaiki dan mempercepat reformasi di sektor riil sehingga bisa berjalan lebih efektif. Pemerintah juga akan menjaga program kemiskinan, ketahanan pangan dan pengurangan pengangguran. Selain itu pemerintah memastikan kondisi ekonomi makro pada 2008 akan tetap terjaga meski saat ini hampir seluruh negara mengalami perlambatan ekonomi. Namun, pemerintah tetap akan waspada dalam menyikapi perkembangan ekonomi global. "Jadi kesimpulannya untuk ekonomi 2008 secara makro mungkin beberapa target masih akan bisa kita jaga dan tercapai namun tidak akan mengurangi waspada dan kehati-hatian sampai akhir 2008," ujarnya. (ahm)

Sektor Riil Krisis AS Tak Turunkan Target Ekspor 2008 Selasa, 7 Oktober 2008 - 19:45 wib Nuria - Okezone JAKARTA - Pemerintah memastikan krisis AS tidak akan menurunkan target ekspor 2008. Ekspor akan terpengaruh jika krisis berlanjut. Produk ekspor utama Indonesia ke AS seperti produk karet, udang, kopi, kakao dan sepatu diperkirakan tetap tumbuh walaupun ada beberapa produk yang mengalami penurunan seperti produk kayu olahan dan furnitur. Hal ini terkait menurunnya pembangunan perumahan di AS. Demikian dikemukakan Mendag Mari Elka Pangestu melalui siaran pers yang diterima okezone, di Jakarta, Selasa (7/10/2008). Mendag menjelaskan pasar ekspor Indonesia telah meluas. Selain itu penurunan harga dan permintaan komoditi telah diperhitungkan sejak awal tahun sehingga target ekspor nonmigas tahun 2008 sebesar 12,5 persen diperkirakan masih bisa tercapai. "Tujuan pasar ekspor Indonesia telah semakin terdiversifikasi, sehingga peran Amerika Serikat dan Uni Eropa semakin menurun. Oleh sebab itu, dampak langsung dari krisis finansial di Amerika Serikat tersebut belum begitu dirasakan," katanya. Mendag menjelaskan, bahwa upaya diversifikasi pasar telah dilakukan dalam lima tahun terakhir. Tujuan ekspor ke Eropa turun dari 17,1 persen pada 2003 menjadi 13,9 persen pada pertengahan tahun 2008. Dalam kurun waktu yang sama, ekspor AS turun dari 14,7

persen menjadi 11,6 persen. Sedangkan ke Asia, Jepang dan Singapura cukup stabil. Namun tujuan ekspor ke Asia emerging countries cenderung meningkat. Ekspor ke Jepang tercatat dari 14,4 persen menjadi 12,5 persen, ke China dari 5,9 persen menjadi 7,6 persen, ke India dari 3,4 persen menjadi 6,5 persen dan ke Singapura dari 10,1 persen menjadi 9,8 persen. "Diversifikasi pasar akan digalakkan guna mengantisipasi resesi di AS dan Eropa serta kemungkinan terjadinya penurunan pertumbuhan negara-negara Asia karena resesi di negara-negara maju," jelas Mendag. (ade) Sektor Riil Ekspor Utama RI ke AS Masih Bisa Tumbuh Rabu, 8 Oktober 2008 - 13:58 wib Nurfajri Budi Nugroho - Okezone JAKARTA - Produk ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat diperkirakan masih dapat tumbuh, walaupun ada beberapa produk yang mengalami penurunan. Produk yang masih dapat tumbuh antara lain produk karet, udang, kopi, kakao, dan sepatu. Sedangkan yang diperkirakan mengalami penurunan antara lain produk kayu olahan dan furnitur. Hal ini berkaitan dengan menurunnya pembangunan perumahan di AS. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjelaskan, secara keseluruhan dalam tahun 2008 prospek ekspor Indonesia tetap baik, karena pasar tujuan ekspor Indonesia relatif terdiversifikasi dan produk ekspor utamanya, seperti energi dan produk pertanian, permintaanya masih cukup kuat. "Dengan kecenderungan melemahnya harga komoditi utama ekspor Indonesia di pasar internasional dan melemahnya permintaan dunia, dalam semester dua tahun 2008, ekspor Indonesia akan menghadapi tantangan yang cukup berat," papar Mari dalam keterangan pers yang diterima okezone, Rabu (8/10/2008). Kata Mari, pada dasarnya tantangan berat itu sudah diperhitungkan sejak awal tahun, sehingga target ekspor nonmigas tahun 2008 sebesar 12,5 persen sesuai proyeksi pertumbuhan pemerintah sebesar 6,3 persen, diperkirakan masih tercapai. Kinerja Ekspor Nilai ekspor Indonesia Agustus 2008 mencapai USD12,5 miliar atau mengalami penurunan sebesar 0,4 persen dibanding Juli 2008. Sementara itu, apabila dibandingkan dengan Agustus 2007, ekspor mengalami peningkatan sebesar 30,3 persen. Ekspor nonmigas Agustus 2008 mencapai USD9,6 miliar, turun 1,2 persen dibanding Juli

2008, sedangkan dibandingkan ekspor nonmigas Agustus 2007 naik 23,5 persen. Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Agustus 2008 mencapai USD95,4 miliar atau meningkat 29,9 persen dibanding periode yang sama tahun 2007. Adapun ekspor nonmigas mencapai USD73,5 miliar atau meningkat 22,4 persen. Perkembangan ekspor bulan Agustus dibandingkan bulan Juli 2008 cenderung bervariatif. Ekspor beberapa produk utama mengalami kenaikan terutama produk pertanian dan kehutanan, seperti lemak dan minyak nabati serta pulp. Beberapa bahan tambang dan industri juga mengalami kenaikan seperti bahan bakar mineral, besi dan baja, mesin/peralatan listrik, mesin-mesin/pesawat mekanik. Kinerja Impor Sementara itu, nilai impor Indonesia Agustus 2008 mencapai USD11,9 miliar atau turun 7,4 persen dibanding Juli 2008. Hal itu terdiri dari impor migas sebesar USD 2,9 miliar (pangsa 24.4 persen) dan impor nonmigas sebesar USD9,0 miliar (pangsa 75,6 persen). Selama Januari-Agustus 2008, nilai impor Indonesia mencapai USD89,8 miliar dengan impor migas sebesar USD23,3 miliar (pangsa 25,9 persen) dan impor nonmigas sebesar USD66,5 miliar (pangsa 74,1 persen). (jri)

Fiskal & Moneter Imbal Hasil Naik, Lelang SUN Dihentikan Rabu, 8 Oktober 2008 - 08:00 wib
JAKARTA - Departemen Keuangan (Depkeu) menghentikan lelang penerbitan surat utang negara (SUN) di pasar perdana untuk tahun ini. Kebijakan ini ditempuh lantaran tingginya volatilitas pasar keuangan global akhirakhir ini yang memicu penurunan harga dan kenaikan imbal hasil obligasi. "Pemerintah meniadakan lelang penerbitan SUN di pasar perdana pada 14 Oktober 2008 dan sisa penerbitan sampai dengan akhir 2008," kata Direktur Surat Berharga Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu Bhimantara Widyajala di Jakarta kemarin. Rencananya, Depkeu memiliki lima kali jadwal lelang SUN, yaitu pada 14 dan 28 Oktober, pada 11 dan 18 November,serta pada 9 Desember untuk memenuhi target penerbitan SBN neto tahun ini sebesar Rp117 triliun. Ini untuk menutup pembiayaan defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008 yang ditetapkan Rp94,5 triliun atau 2,1 persen dari produk domestik bruto (PDB),meski telah direvisi menjadi Rp78,1 triliun atau 1,7 persen dari PDB.

Bhimantara mengatakan, dengan penghentian lelang SUN ini pemerintah tidak akan lagi membiayai defisit APBN-P 2008 melalui SUN. Untuk menutup defisit, pemerintah akan mengoptimalkan pengeluaran negara. Keputusan ini diambil sebagai salah satu langkah menciptakan situasi pasar yang lebih stabil dan kondusif, menyusul guncangan hebat dalam sektor keuangan dunia. Namun demikian, pemerintah masih membuka peluang lelang SUN di pasar perdana bila pasar surat utang telah cukup stabil "Itu pun dalam rangka pengelolaan portofolio SUN,"ungkap Bhimantara. Sampai dengan pekan kedua September 2008, jumlah penerbitan SUN secara neto sudah mencapai Rp102,7 triliun, sehingga total penerbitan SUN neto sebenarnya sudah terpenuhi.Sementara untuk penerbitan SUN bruto, hingga saat ini telah mencapai Rp126 triliun sementara target selama 2008 mencapai Rp157 triliun sehingga masih terdapat kekurangan Rp31 triliun. Direktur Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Ditjen Pengelolan Utang Depkeu Dahlan Siamat mengatakan, pemerintah sudah tidak lagi memerlukan SUN, termasuk SBSN internasional yang belum diterbitkan. Pasalnya, pemerintah sudah merevisi turun defisit APBN-P 2008 menjadi 1,3 persen dari PDB. (sindo//rhs)

Fiskal & Moneter Kenaikan BI Rate Tak Pengaruhi Pelaku Pasar


JAKARTA - Kenaikan BI rate 25 basis poin (bps) tidak berpengaruh ke pelaku pasar. Pasalnya, suku bunga BI sudah tidak lagi menjadi acuan pasar dalam menentukan tingkat suku bunganya. "Tidak ada pengaruhnya ke perbankan karena suku bunga bank sekarang sudah tidak mengacu ke BI rate," kata Wadirut BI Soekatmo Padmo, saat dihubungi oleh wartawan hari ini, di Jakarta, Selasa (7/10/2008). Soekatmo melihat, BI rate memang seharusnya naik. Adapun di sektor perbankan juga sebelumnya telah menyesuaikan kenaikan BI rate ini dengan situasi keuangan yang terjadi saat ini. Sementara itu, Dirut BNI Gatot Suwondo mengatakan, kenaikan BI rate sudah diprediksi oleh perbankan sebelumnya. "Sudah diprediksi kenaikan BI rate ini dari awal," kata Gatot. Gatot melihat, kenaikan ini nantinya akan menyebabkan tingkat suku bunga peminjam atau lending rate akan menjadi lebih tinggi.

Mengenai hal tersebut, Gatot mengatakan pihaknya akan melihat kembali hal tersebut. "Pengaruhnya lending rate akan tinggi lagi, nanti kita akan lihat lagi," katanya. (ade)

Berita Terkait

Kenaikan BI Rate Belum Hilangkan Sentiman Pasar Boediono: BI Rate Naik Menjadi 9,5% RDG BI Harus Bijaksana Tentukan BI Rate Inflasi Melejit, BI Rate Perlu Dinaikkan BI Turunkan Suku Bunga Over Night

Darmin Pesimistis Target Pajak Nonmigas 2009 Tercapai Selasa, 7 Oktober 2008 - 14:51 wib Mochammad Wahyudi - Okezone JAKARTA - Dirjen Pajak Darmin Nasution tidak begitu optimistis dapat mencapai target penerimaan pajak nonmigas pada 2009 yang sebelumnya sudah disepakati dengan DPR. Hal ini ditenggarai karena imbas dari krisis keuangan global yang berporos di Amerika. "Kalau kita bicara pajak nonmigas saja, memang apa yang sudah disepakati di DPR tidak termasuk sangat optimistis, agak optimistis barang kali. Karena ini risiko pengaruh krisis di AS, meskipun tidak besar," ucap Direktur Jenderal Pajak Depkeu Darmin Nasution, saat ditemui seusai halal bihalal, di Lingkungan Ditjen Pajak, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (7/10/2008). Memang pada tahun depan diperkirakan target pertumbuhan ekonomi akan mengalami koreksi ke bawah, namun masih berada di kisaran enam persen. Selain itu, inflasi diperkirakan juga akan lebih tinggi. Sehingga, menurut Darmin, jika diterjemahkan pengaruhnya ke pajak, akan ada penurunan pada Pajak Penghasilan (PPh), namun Pajak Pertambangan Nilai (PPN) akan sedikit naik. Tahun depan, direncanakan penerimaan pajak di luar migas sekitar 20,5 persen atau jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan target penerimaan 2008 yang sebesar 34 persen dari penerimaan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi karena adanya amandemen UU PPh, PPN dan KUP. Menurut Darmin, Jika tidak ada amandemen, Ditjen Pajak masih berani tahun depan memasang target penerimaan pajak hampir 30 persen. "Sementara kalau bicara penerimaan pajak migas agak susah. Karena kelihatanya angka yang kita sepakati dengan DPR, tergantung crude oil berapa," imbuhnya. Menurut Darmin, sudah bisa dipastikan pajak dari sektor pasar modal yang paling terpengaruh krisis keuangan global. Kendati demikian, itu tidak terlalu mengganggu

target penerimaan tahun depan. Pasalnya, pajak dari sektor tersebut dinilai tidak terlalu siginifikan walaupun dia tidak menyebut besarannya. "Tidak sampai merubah besaran secara keseluruhan dengan syarat kerjanya lebih keras. Penerimaan 2009 di luar migas dianggap masih bisa tercapai asal konsisten," ucapnya. Seperti diberitakan sebelumnya, dalam rapat panitia anggaran DPR-RI bersama pemerintah telah disepakati penerimaan perpajakan pada 2009 Rp591,1 triliun. Di mana angka itu terdiri dari PPh nonmigas Rp300,6 triliun, PPN dan PPnBM Rp249,5 triliun. Kemudian Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Rp28,9 triliun, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Rp7,7 triliun dan pajak lainnya Rp4,2 triliun. (rhs)

Berita Terkait

Ditjen Pajak Baru Terima Satu Perusahaan Pemberlakuan PP No 62 Hilangkan Potensi Pajak F-PG akan Hilangkan Pajak Lingkungan Perubahan UU Perpajakan Hilangkan Rp47 T BBN-KB Gunakan Single Rate

Fiskal & Moneter Imbal Hasil Naik, Lelang SUN Dihentikan JAKARTA - Departemen Keuangan (Depkeu) menghentikan lelang penerbitan surat utang negara (SUN) di pasar perdana untuk tahun ini. Kebijakan ini ditempuh lantaran tingginya volatilitas pasar keuangan global akhirakhir ini yang memicu penurunan harga dan kenaikan imbal hasil obligasi. "Pemerintah meniadakan lelang penerbitan SUN di pasar perdana pada 14 Oktober 2008 dan sisa penerbitan sampai dengan akhir 2008," kata Direktur Surat Berharga Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu Bhimantara Widyajala di Jakarta kemarin. Rencananya, Depkeu memiliki lima kali jadwal lelang SUN, yaitu pada 14 dan 28 Oktober, pada 11 dan 18 November,serta pada 9 Desember untuk memenuhi target penerbitan SBN neto tahun ini sebesar Rp117 triliun. Ini untuk menutup pembiayaan defisit dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2008 yang ditetapkan Rp94,5 triliun atau 2,1 persen dari produk domestik bruto (PDB),meski telah direvisi menjadi Rp78,1 triliun atau 1,7 persen dari PDB. Bhimantara mengatakan, dengan penghentian lelang SUN ini pemerintah tidak akan lagi membiayai defisit APBN-P 2008 melalui SUN. Untuk menutup defisit, pemerintah akan mengoptimalkan pengeluaran negara.

Keputusan ini diambil sebagai salah satu langkah menciptakan situasi pasar yang lebih stabil dan kondusif, menyusul guncangan hebat dalam sektor keuangan dunia. Namun demikian, pemerintah masih membuka peluang lelang SUN di pasar perdana bila pasar surat utang telah cukup stabil "Itu pun dalam rangka pengelolaan portofolio SUN,"ungkap Bhimantara. Sampai dengan pekan kedua September 2008, jumlah penerbitan SUN secara neto sudah mencapai Rp102,7 triliun, sehingga total penerbitan SUN neto sebenarnya sudah terpenuhi.Sementara untuk penerbitan SUN bruto, hingga saat ini telah mencapai Rp126 triliun sementara target selama 2008 mencapai Rp157 triliun sehingga masih terdapat kekurangan Rp31 triliun. Direktur Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Ditjen Pengelolan Utang Depkeu Dahlan Siamat mengatakan, pemerintah sudah tidak lagi memerlukan SUN, termasuk SBSN internasional yang belum diterbitkan. Pasalnya, pemerintah sudah merevisi turun defisit APBN-P 2008 menjadi 1,3 persen dari PDB. (sindo//rhs)

Berita Terkait

Pemerintah Tiadakan Lelang Penerbitan SUN BI: Surat Utang 007 Belum Dicabut Pemerintah Manfaatkan Koreksi SUN Kinerja Bank, Setelah Harga SUN Jatuh Penurunan Jumlah Target SUN Dilakukan saat Pasar Tertekan

ekonomi global Obama-McCain Debat Soal Krisis Keuangan Rabu, 8 Oktober 2008 - 11:03 wib Nurfajri Budi Nugroho - Okezone NASHVILLE - Dua kandidat presiden Amerika Serikat, Barack Obama dan John McCain, beradu argumentasi soal krisis ekonomi. Keduanya berkali-kali berselisih pandangan tentang sebab dan penanganan krisis ekonomi yang terburuk dalam 80 tahun ini. Perdebatan itu berlangsung Selasa malam waktu setempat atau Rabu (8/10/2008) pagi hari WIB. Demikian seperti dikutip dari Associated Press. Dalam perdebatan itu, McCain menyerukan langkah pemerintah untuk melindungi para pemilik rumah dari penyitaan hipotek. "Ini yang saya ajukan. Ini bukan usulan Senator Obama, bukan usulan Presiden Bush,"

kata McCain dalam debat yang dia harapkan dapat menaikkan popularitasnya di atas Obama yang kini lebih unggul. Sedangkan Obama menyatakan, krisis yang terjadi saat ini merupakan ujung dari kegagalan kebijakan ekonomi selama delapan tahun belakangan ini. "Di mana Presiden Bush didukung oleh Senator McCain," tuding Obama. Obama, yang merupakan jago Partai Demokrat, menyatakan Bush, McCain, dan beberapa orang yang menderegulasi industri keuangan, telah membuat pasar berlari liar, sementara kesejahteraan tidak turun merata kepada masyarakat. Tak mau kalah dengan rivalnya itu, McCain menuduh Obama adalah senator terbesar kedua yang menerima donasi individu dari Fannie Mae dan Freddie Mac, dua raksasa hipotek yang beberapa waktu lalu bangkrut. Perdebatan ini merupakan yang kedua dari tiga debat antara jago dari dua partai yang berbeda ini. Debat kali ini adalah satu-satunya dengan format di mana para pemilih duduk beberapa kaki dari dua kandidat. Debat dilakukan di Belmont University, empat pekan sebelum Election Day (hari pemilihan). Kedua pemimpin itu terlihat santun, meski ketegangan terlihat. Dalam satu kesempatan, McCain menyebut Obama sebagai "that one", ketimbang menyebut namanya. (jri)

Berita Terkait

Gedung Putih Pertimbangkan Kepemilikan Sejumlah Bank The Fed, BoE, & ECB Serentak Pangkas Suku Bunga Inggris Kucurkan Dana, Hong Kong Pangkas Bunga Bailout Tak Efektif Atasi Krisis Finansial AS AIG Bangkrut, Para Eksekutifnya Malah Rekreasi

iskal & Moneter Makroekonomi Belum Sejahterakan Daerah Sabtu, 4 Oktober 2008 - 10:17 wib Mochammad Wahyudi - Okezone JAKARTA - Perbaikan makroekonomi yang selama beberapa tahun terakhir ini dialami Indonesia ternyata tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat di daerah. Pasalnya, ada sejumlah hal yang diyakini bisa menyejahterakan masyarakat daerah, belum diupayakan secara maksimal oleh pemerintah pusat. "Yang diperlukan untuk peningkatan sebenarnya adalah geliat mikro ekonomi dan sektor riil. Dan itu belum menyenangkan dilakukan oleh pemerintah pusat," ucap Anggota DPD-RI dari Provinsi Lampung Kasmin Tri Putra, di Jakarta, Pekan lalu.

Sejatinya, menurut Kasmin, banyak faktor yang bisa dijadikan modal daerah untuk memakmurkan warganya. Namun, itu belum bisa dilakukan karena terkendala oleh kewenangan yang masih terbatas. Itu berbanding terbalik dengan falsafah desentralisasi atau otonomi daerah. Di mana ada ruang untuk daerah berkreasi dan mengambil inisiatif untuk mengembangkan potensinya. "Contohnya, semua Undang-Undang SDA sentralistik. Kemudian penanaman modal yang sempat dikejar-kejar daerah tetapi ditarik kembali ke pusat bahkan menimbulkan kerancuan," ujar Kasmin. Menurutnya, inisiasi-inisiasi daerah untuk mengembangkan potensi daerahnya, belum tentu berujung kepada restu pemerintah pusat. Contohnya, dalam hal pembuatan Perda untuk meningkatkan pendapatan daerah, tidak semua mendapat persetujuan pusat. Ada saja Perda yang mesti direvisi atau bahkan dibatalkan karena dinilai tidak bersahabat untuk investor. Sebagai informasi, per 20 Agustus 2008, Depkeu telah membatalkan sekira 2.091 perda atau sekira 29 persen dari sekira 7.298 Perda yang dievaluasi. Adapun sekira 5.207 perda sisanya (71 persen) disetujui untuk dilaksanakan. (ade)

Fiskal & Moneter SBY Berikan 10 Arahan Hadapi Krisis Finansial AS Senin, 6 Oktober 2008 - 19:48 wib Amirul Hasan - Okezone JAKARTA - Krisis keuangan yang terjadi di Amerika ternyata menjadi fokus pertemuan di Istana antara pemerintah, KADIN, BUMN, pengamat ekonomi, sektor keuangan, dan pengusaha. Adapun hasil dari pertemuan tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan 10 arahan yang disampaikan Presiden di Gedung Utama Setneg di Jakarta, Senin (6/10/2008). Ke-10 arahan tersebut di antaranya adalah Presiden mengimbau untuk optimistis, bersatu, dan bersinergi untuk mengelola, serta mengawasi dampak krisis yang melanda Amerika. Kedua, menyerukan untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang mencapai enam persen. Ketiga, mengoptimalkan APBN 2009 untuk tetap memacu pertumbuhan ekonomi dan membangun social safety, efisiensi, dan batasi pembelanjaan yang konsumtif, serta pembelanjaan yang bisa ditunda. Keempat, dunia usaha atau sektor riil harus tetap bergerak supaya pajak dan penerimaan

negara tetap terjaga. Sehingga pengangguran tidak bertambah. Kewajiban BI adalah menjamin kredit dan likuiditas, sedangkan kewajiban pemerintah pada kebijakan regulasi, iklim, dan insentif agar sektor riil tetap berjalan. Kelima, cerdas menangkap peluang untuk lakukan perdagangan dan kerjasama ekonomi dengan negara lain. Keenam, melakukan kampanye besar-besaran untuk konsumsi produk dalam negeri. Ketujuh, adanya sinergi kemitraan antara pemerintah, BI, dan pihak swasta. Kedelapan, menghentikan sikap ego sektoral dan budaya bisnis usually. Kesembilan, pada 2008-2009 adalah tahun politik dan pemilu, sehingga Presiden menyerukan, untuk melakukan politik yang nonpartisan dalam menghadapi dampak krisis global ini. Kesepuluh, melakukan komunikasi tepat dan bijak kepada masyarakat. SBY menjelaskan, arahan ini sebagai respon pemerintah terhadap semua masukan yang disampaikan oleh peserta pertemuan. (jri Finance Ekonomi RI Bisa Lebih Mengerikan Rabu, 8 Oktober 2008 - 12:04 wib Ade Hapsari Lestarini - Okezone JAKARTA - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang disuspensi ini diklaim untuk menyelamatkan pasar. Pelaku pasar Indonesia saat ini hanya bisa melihat dan menunggu. "We can't do anything. Kita hanya bisa wait and see. Perdagangan di bursa Rusia juga belum dicabut suspensinya," ujar analis Lautandhana Securindo Sanny Gunawan, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Rabu (8/10/2008). Dia pun mengatakan, dampak dari disuspensinya perdagangan di BEI ini merupakan permulaannya saja, di mana kondisi ke depannya bisa dikatakan lebih mengerikan lagi. "Ini baru permulaan dan ini indikasi, kemungkinan kita akan melihat yang lebih mengerikan lagi," tambahnya. Selain itu, dia pun mengakui, hal ini akan berdampak ke perusahaan sekuritas, modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) perusahaan efek, hingga reksadana. Sanny pun menyatakan dampak ke depannya belum bisa dilihat. Hal ini dikarenakan efek

domino yang berdampak multiple. "Kita belum bisa melihat ke depannya bagaimana, soalnya ini dampaknya multiple," pungkasnya. (ade) Fiskal & Moneter Pemulihan Daya Beli & Penyerapan Anggaran Jaga Pertumbuhan Ekonomi Jum'at, 3 Oktober 2008 - 13:31 wib Nuria - Okezone JAKARTA - Perekonomian Indonesia dipastikan terganggu menyusul pelemahan ekonomi AS saat ini. Pemerintah harus mengutamakan kekuatan dalam negeri supaya target pertumbuhan ekonomi bisa tercapai. Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan, pemulihan daya beli dan penyerapan anggaran merupakan cara untuk menjaga perekonomian. "Agar target pertumbuhan kita tetap terjaga, akan lebih strategis jika pemerintah lebih berorientasi ke dalam dengan kekuatan sendiri," katanya kepada okezone, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Kinerja ekspor merupakan sumber untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Pelemahan ekonomi AS ikut menghambat ekspor. Bahkan, sebelum krisis finansial AS mencapai puncaknya, sudah terjadi penurunan permintaan produk ekspor di pasar global. "Automatis produk ekspor kita pun terkena dampaknya," pungkasnya. (ade) iskal & Moneter Presiden: RI Tak Akan Alami Krisis seperti '98 Senin, 6 Oktober 2008 - 18:36 wib Amirul Hasan - Okezone JAKARTA - Pemerintah optimistis krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat tidak akan membuat Indonesia mengalami krisis yang sama seperti pada 10 tahun lalu, atau dikenal dengan krisis '98. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, pengurus Kadin, pimpinan BUMN, pakar ekonomi, dan para pengusaha, di Gedung Setneg, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (6/10/2008). "Insya Allah krisis di Amerika tidak akan menyebabkan terjadinya krisis yang sama, sebagaimana 10 tahun lalu," katanya. Presiden menjelaskan, faktor prakondisi yang membentuk isu nonekonomi yang dialami krisis '98 tidak sama dengan saat ini. "Hal ini berani saya katakan agar kita bisa tenang dalam mengambil kebijakan," ungkapnya.

Kata Presiden, kondisi perekonomian Indonesia saat ini jauh lebih baik, dibuktikan dengan rata-rata pertumbuhan penerimaan pertahun dari sektor nonmigas yang meningkat sebesar 20,6 persen dan migas sebesar 22 persen. Di sisi lain, kesejahteraan pegawai dan PNS sudah meningkat. "Gaji PNS 2008 naik sebesar 20 persen dan akan naik kembali 15 persen pada 2009," paparnya. Meskipun demikian, Presiden mengingatkan semua pihak untuk waspada dan tidak lalai dalam mengelola perekonomian. "Krisis ekonomi pada 1998 harus bisa dijadikan pelajaran berharga," tegasnya. (ade) ekonomi global Asia Akan Selamatkan Dunia dari Resesi Selasa, 7 Oktober 2008 - 16:16 wib Nurfajri Budi Nugroho - Okezone MANILA - Pertumbuhan di Asia akan mencegah terperosoknya perekonomian dunia ke dalam jurang resesi. Hal itu dikatakan mantan direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Michel Camdessus. "Terima kasih kepada dinamisme di Asia, ekonomi global akan menghindari resesi," kata Camdessus (75) saat berbicara di Manila, Filipina, Selasa (7/9/2008), seperti dikutip dari Bloomberg. Camdessus mengepalai IMF saat krisis keuangan melanda Asia 10 tahun lalu. IMF mengucurkan pinjaman hingga USD100 miliar kepada Thailand, Indonesia, dan Korea Selatan, setelah mata uang negara tersebut runtuh. Sebagai imbal baliknya, pemerintah tiga negara itu harus memotong pengeluaran, menaikkan suku bunga, dan menjual perusahaan-perusahaan milik negara. Sementara dikutip dari AFP, menurut Camdessus resesi global dapat dihindari dengan rencana yang terkoordinasi, untuk memulihkan kepercayaan pasar yang hancur oleh krisis subprime mortgage. Jika para pemimpin dunia dapat mengoordinasikan kebijakan-kebijakan mereka saat ini, untuk menghidupkan kembali kepercayaan di pasar internasional, maka pemulihan diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun depan. Camdessus juga mengatakan, berkat pertumbuhan Asia, perekonomian dunia diperkirakan bakal tumbuh sekira tiga persen pada tahun depan. Selain itu, Camdessus juga memuji langkah Eropa mengoordinasikan tindakan mereka untuk menghidupkan kembali kepercayaan, sembari memastikan inflasi dalam keadaan terkendali. (jri) ekonomi global

Menkeu AS: Krisis Global Takkan Cepat Pulih Kamis, 9 Oktober 2008 - 09:18 wib Rani Hardjanti - Okezone JAKARTA - Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Paulson menyatakan, krisis ekonomi yang telah mengglobal akan berlangsung lama. Menurutnya, saat ini gonjangan ekonomi sudah sangat serius. Meski Pemerintah Amerika, yang merupakan pusat hentakan ekonomi telah mencanangkan program bailout USD700 miliar, namun paket penyelamatan tersebut tidak akan berfungsi dalam waktu yang singkat. "Goncangan ini tidak akan cepat pulih. Masing-masing negara perlu melakukan tindakan lanjutan untuk memenuhi kebutuhan likuditas, mengetatkan kebijakan, dan menyelamatkan warga," ujarnya, seperti dikutip dari CNBC.com, Kamis (9/10/2008). Sebelum Henry menyatakan hal tersebut, International Monetary Fund (IMF) telah mengatakan sebelumnya, bahwa ekonomi dunia akan melemah secara perlahan tapi pasti. Amerika adalah negara yang akan memimpin kemerosotan tersebut. "Saat ini, ekonomi dunia memasuki fase baru yang paling berbahaya sejak 1930," seperti dikutip dari Associated Press (AP). Proyeksi IMF mengenai pertumbuhan ekonomi global yang dipatok tumbuh lima persen akan meleset. Lembaga donor internasional ini pun langsung memangkas proyeksi hanya tumbuh 3,9 persen hingga akhir 2008. Proyeksi pada 2009, justru semakin melemah. Tahun depan ekonomi dunia hanya tumbuh di kisaran tiga persen. Ekonomi Amerika yang pada akhir tahun lalu hanya mencatat pertumbuhan ekonomi hanya dua persen, pada tahun ini diperkirakan melemah menjadi hanya 1,6 persen. Pertumbuhan akan semakin melambat pada semester pertama tahun 2009. Pertumbuhan hanya 0,1 persen. Keadaan ini terburuk sejak 1991, dimana ekonomi didera resesi. (rhs) ekonomi global Keadidayaan Amerika Mulai Terkikis Selasa, 7 Oktober 2008 - 09:08 wib Widi Agustian - Okezone JAKARTA - Peran Amerika dalam kancah perekonomian dunia tak lagi sebesar 1970. Kini produk domestik bruto AS yang telah terkoreksi daya beli (purchasing power parity) menyisakan kekuatan hanya 21 persen saja. Dengan demikian, dampak kemerosotan ekonomi di AS ini diperkirakan akan merembet ke hampir negara di seluruh penjuru dunia. Kondisi ini juga sebagai konsekuensi berbagai negara yang mengikuti irama ekonomi negara penganut paham liberal ini.

Walaupun demikian, diharapkan pada akhirnya akan membawa dampak yang positif nantinya bagi negara-negara berkembang seperti indonesia. Besarnya dampak ini terhadap Indonesia sendiri tentunya tergantung dari seberapa besar keterkaitan dengan AS. Beberapa pihak mengatakan bahwa kondisi ini sebetulnya sudah mulai dirasakan sejak runtuhnya kredit macet perumahan di Amerika Serikat yang dikenal dengan kasus Subprime Mortgage sejak pertengahan 2006 yang telah memberikan sentimen negatif bagi pasar modal seluruh dunia. "Di samping itu perilaku eksekutif keuangan di Amerika Serikat juga telah memberikan sumbangan atas besarnya dampak yang terjadi saat ini," ujar Direktorat Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi Simon sembiring melalui, situs Departemen ESDM, di Jakarta, Selasa (7/10/2008). Di sisi lain, lanjutnya, telah muncul kekuatan baru ekonomi, seperti China dan India. Bagian lain dari dunia seperti Eropa, Brazil, serta Australia nampaknya juga cukup solid untuk menghadapai dampak yang akan terjadi. (rhs) ekonomi global IMF: Ekonomi Dunia Masuki Fase Berbahaya Sejak 1930 Rabu, 8 Oktober 2008 - 21:44 wib Rani Hardjanti - Okezone WASHINGTON - International Monetary Fund (IMF) menyatakan ekonomi dunia akan melemah secara perlahan tapi pasti. Amerika adalah negara yang akan memimpin kemerosotan tersebut. Dalam keterangan tertulisnya yang dirilis Rabu (8/10/2008) waktu setempat, IMF menyatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akan meleset. "Saat ini, ekonomi dunia memasuki fase baru yang paling berbahaya sejak 1930," seperti dikutip dari Associated Press (AP). Proyeksi IMF mengenai pertumbuhan ekonomi global yang dipatok tumbuh lima persen akan meleset. Lembaga donor internasional ini pun langsung memangkas proyeksi hanya tumbuh 3,9 persen hingga akhir 2008. Proyeksi pada 2009, justru semakin melemah. Tahun depan ekonomi dunia hanya tumbuh di kisaran tiga persen. Pernyataan IMF ini dirilis sebelum Bank Sentral Amerika, Bank Sentral Eropa (Europe Central Bank/ECB), dan Bank Sentral Inggris (Bank of England/BoE). The Fed menurunkan suku bunganya sebesar setengah persen, dari dua persen menjadi 1,5 persen. Sedangkan BoE dan ECB masing-masing setengah persen menjadi 4,5 dan 3,75 persen.

Ekonomi Amerika yang pada akhir tahun lalu hanya mencatat pertumbuhan ekonomi hanya dua persen, pada tahun ini diperkirakan melemah 1,6 persen. Pertumbuhan akan semakin melambat pada semester pertama tahun 2009. Pertumbuhan hanya 0,1 persen. Keadaan ini terburuk sejak 1991, dimana ekonomi didera resesi. IMF dan para ekonom dunia mempercayai, ekonomi Amerika akan melemah tajam pada triwulan akhir tahun ini dan triwulan pertama pada 2009. Saat itulah momen yang rawan terjadi resesi. Yang menjadi indikator utama yakni, pelaksanaan paket bailout USD700 miliar.(rhs) (mbs) ektor Riil Antisipasi Krisis Finansial AS Pemerintah Harus Fokus di Sektor Riil Rabu, 8 Oktober 2008 - 17:41 wib JAKARTA - Pemerintah didesak untuk fokus dalam pembangunan di bidang infrastruktur, pertanian, dan pertambangan agar krisis finansial di Amerika Serikat (AS) tidak berdampak bagi Indonesia. Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa mengatakan, tiga sektor tersebut menjadi kunci utama dalam mempertahankan kinerja ekonomi. "Insentif seperti pengurangan pajak harus diberikan oleh pemerintah agar kinerja pengusaha tidak terpengaruh krisis keuangan AS," katanya, dalam diskusi dampak krisis finansial AS, di Jakarta, Rabu (8/10/2008). Selain itu, Erwin menyatakan, pemerintah juga perlu melakukan komunikasi dengan seluruh kelompok khususnya sektor usaha kecil dan menengah (UKM) untuk meminimalkan dampak krisis keuangan. Dia menyebutkan, sektor tersebut tidak boleh diabaikan di tengah krisis keuangan yang sekarang sedang terjadi. "Apapun kebijakan pemerintah, jangan sampai pelaku UKM yang dikorbankan seperti meningkatkan suku bunga perbankan," ujarnya. Selain itu, dia menyatakan kebijakan menaikkan tarif impor untuk produk-produk yang diproduksi secara massal seperti tekstil dan sepatu harus dilakukan. Tujuannya, kata Erwin, agar produksi dalam negeri bisa bersaing dengan produk impor seperti dari China. Apalagi, tambahnya, harga produk impor seperti tekstil lebih murah dibandingkan produksi dalam negeri. (Eko Budiono /Sindo/ade) Finance Pasar Modal Sektor Pertama Terkena Imbas Krisis AS Rabu, 8 Oktober 2008 - 17:03 wib Mochammad Wahyudi - Okezone

JAKARTA - Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang disuspensi hari ini menjadi bukti bahwa pasar modal adalah sektor yang pertama kali merasakan efek buruk dari krisis di Amerika Serikat. "Untuk konteks Indonesia, penularan krisis AS akan melalui aliran arus modal dan itu ada di pasar modal," ucap peneliti Indef M Fadhil Hasan, saat diskusi Antisipasi Krisis Keuangan Global, di Restoran Bebek Bali, Senayan, Jakarta, Rabu (8/10/2008). Untuk itu, Indef menilai agak kurang tepat jika beberapa waktu lalu Presiden SBY mengadakan rapat sidang kabinet yang diperluas untuk menyusun satu strategi perdagangan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan diversifikasi perdagangan dan mempertahankan perolehan devisa. Ini karena pemerintah beranggapan penularan krisis global pada perekonomian domestik akan melalui transmisi perdagangan dengan segala turunannya. Padahal, pengalaman memperlihatkan transmisi dan efek penularan suatu krisis tidak terjadi melalui perdagangan, melainkan melalui aliran modal. Dampak terhadap sektor tersebut akan terasa sebagai sebuah second-round effect yang imbasnya tidak signifikan dalam jangka pendek. "Arus barang dan jasa sudah merasakan dampaknya. Ekspor impor perikanan, tekstil, dan alas kaki sudah melemah. Ten comandement SBY untuk mengantisipasi ini juga terlihat normatif," ungkap Fadhil. Indef sendiri mencoba menawarkan beberapa rekomendasi dengan menempatkan lingkup pasar uang dan kondisi moneter sebagai prioritas pertama. Kemudian rekomendasi fiskal, lalu kelembagaan dan pencegahan kejatuhan pertumbuhan. (ade) Fiskal & Moneter Daya Tahan Ekonomi RI Tangkal Krisis AS Selasa, 7 Oktober 2008 - 11:58 wib Lamtiur Kristin Natalia Malau - Okezone JAKARTA - Dampak krisis finansial global yang disebabkan oleh Amerika Serikat (AS) diyakini bisa ditangkal oleh daya tahan ekonomi Indonesia yang masih bisa dibilang bagus. "Saya yakin daya tahan ekonomi kita cukup kuat untuk menahan kondisi ini. Pertanyaannya selalu seberapa lama, besar efeknya? Kita lihat selalu ada siklus, kalau tidak bukan ekonomi namanya. Berapa lama ekonomi kita di bawah, enam bulan, setahun, dua tahun?," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), kepada wartawan di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Selasa (7/10/2008). JK menambahkan, untuk itu diperlukan adanya percepatan penyerapan anggaran. "Pasti.

Kemarin Presiden juga sudah menginstruksikan itu. Sebenarnya September-Desember itu penyerapan anggaran tertinggi setiap tahun, karena di situ sudah masuk termin ke-3, termin ke-4 project itu yang ditender pada Februari dan Maret," tambahnya. Sementara untuk revisi keputusan presiden (Kepres) No. 80 tahun 2003 untuk percepatan penyerapan anggaran akan dilakukan tahun depan. Di mana saat ini sedang dalam proses pembahasan. "Itu ada gap waktu, katakanlah minimum paling cepat 45 hari atau 60 hari baru bisa ketahuan," jelasnya. JK pun mengharapkan proses tersebut bisa dilakukan secepatnya, karena saat ini sudah menggunakan sistim online dan bukan manual lagi. "Jadi lebih cepat proses tendernya. Kita ingin percepat, tidak lagi butuh waktu dua bulan untuk tender," pungkasnya. (ade) Finance Rupiah Bisa Terperosok Lebih Dalam Selasa, 7 Oktober 2008 - 13:31 wib YOGYAKARTA - Rupiah berpotensi terus melemah ke posisi yang lebih dalam. Pelemahan ini semakin cepat terjadi, jika kepanikan masyarakat dan pelaku bisnis menarik uangnya dan memindahkan ke luar negeri secara besar-besaran. "Masih sangat berpotensi untuk terus turun. Apalagi orang-orang kaya yang punya uang panik dan memindahkan uang mereka ke luar negeri," kata pakar ekonomi Universitas Gajah Mada (UGM) Sri Adingsih, di Yogyakarta, Selasa (7/10/2008). Dia menambahkan, kondisi perekomonian Indonesia saat ini masih cukup lemah dan rapuh terbukti dengan turunnya indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin 6 Oktober kemarin, yang sempat mencapai sekitar 10 persen. Padahal, untuk negara-negara lain termasuk AS hanya turun berkisar empat hingga enam persen. Turunnya rupiah akibat krisis keuangan AS ini memang belum akan terasa dalam waktu dekat, mengingat sudah mendekati tutup tahun. Namun dalam jangka panjang dampaknya bisa turut memicu melonjaknya angka kemiskinan dan pengangguran. "Jika tak diantisipasi dengan baik tentu kemiskinan dan pengangguran akan naik," katanya. Sri Adingsih menjelaskan, dengan krisis ekonomi AS yang akan turut berdampak pada stabilitas ekonomi Indonesia seharusnya pemerintah dan Bank Indonesia (BI) bisa menjaga kondisi makroekonomi. Selain itu juga bisa menenangkan pelaku pasar agar tidak panik. "Kalau panik ini bisa memicu tindakan irasional. Makanya autoritas harus menjaga semuanya agar tak panik," pungkasnya. (Satria Nugraha/Trijaya/rhs) Finance Rupiah Jatuh Hingga Rp9.640 per USD Selasa, 7 Oktober 2008 - 16:53 wib Rani Hardjanti - Okezone

JAKARTA - Mata uang dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap seluruh mata uang dunia, termasuk rupiah. Pelemahan rupiah pun tidak terbendung. Rupiah pada perdagangan Selasa (6/10/2008) ditutup melemah 60 poin ke posisi Rp9.640 per USD. Bank Indonesia (BI) sebelumnya menyatakan akan terus menjaga nilai tukar rupiah di pasar valuta asing. Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono menyatakan, akan merespons gejolak ekonomi Amerika Serikat (AS) secara wajar, utamanya dalam hal penjagaan terhadap rupiah. Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang lainnya juga melemah seperti euro, namun menguat terhadap yen Jepang. Para analis global berpendapat, saat ini para investor tidak perlu merasa optimistis bahwa perekonomian akan kembali pulih dan tidak usah terlalu takut terhadap krisis ekonomi Amerika. (rhs) Finance Rupiah Anjlok, Tak Perlu Khawatir Rabu, 8 Oktober 2008 - 17:29 wib Mochammad Wahyudi - Okezone JAKARTA - Melemahnya rupiah hingga menembus Rp9.700 per dolar AS dinilai tidak perlu dikhawatirkan. Karena, pelemahan nilai tukar tersebut bisa menguntungkan kegiatan ekspor. "Bank Indonesia (BI) jangan terlalu khawatir dengan nilai tukar. Karena kalau nilai tukar turun, maka ekspor sangat tertolong. Bahkan, Indonesia bisa head to head dengan China merebut pasar," ucap anggota Komisi XI DPR Drajad Wibowo, saat diskusi Indef bertajuk Antisipasi Krisis Keuangan Global, di Jakarta, Rabu (8/10/2008). Dia menambahkan, sebaiknya memang rupiah dibiarkan terdepresiasi, asalkan semuanya sudah terlaksana secara gradual dan terukur. Terkait dampak imported inflation akibat melemahnya rupiah, menurutnya hal tersebut bisa dimitigasi oleh pihak BI. Adapun batas aman volatilitas rupiah berada di kisaran Rp9.600-Rp10.000 per dolar AS. Hal yang sama pun pernah dilakukan Eropa dan Australia. Bahkan Australia melakukan pemotongan suku bunganya (cutting rate) hingga 100 basis poin (bps) untuk melemahkan nilai tukar mata uangnya. "Ini dilakukan agar daya saing ekspornya tetap terjaga," ucap Drajad. Menurutnya, langkah moneter ini merupakan cara tercepat untuk menyelamatkan neraca pembayaran Indonesia. Karena, jika langkah penyelamatan itu dilakukan melalui makro

ekonomi terlalu lama. Terlebih lagi, kebijakan-kebijakan yang beberapa hari lalu diambil pemerintah belum terlihat konkret. "Kebijakan diversifikasi ekspor tidak bisa dilaksanakan secara instan. Karena butuh pendalaman akan pasarnya dulu," ungkapnya. Hal yang sama juga dilakukan China. Namun bedanya, menurut Drajad, China bisa lebih cepat dalam menemukan pasar yang tepat. Yakni, dengan cara melakukan perdagangan ilegal dalam bentuk penyelundupan. "Ini dilakukan terhadap negara-negara yang sistem pengawasannya mudah ditembus, termasuk Indonesia," pungkasnya. Sementara itu, pada penutupan perdagangan hari ini rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Setelah sebelumnya sempat nyaris menembus posisi Rp9.700 per USD. Adapun rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah 60 poin ke posisi Rp9.595 per USD. (ade) Finance Pelemahan Rupiah Masih Wajar Selasa, 7 Oktober 2008 - 18:44 wib Berita Lainnya JAKARTA - Kepala ekonom BNI Tony Prasetianto menilai pelemahan rupiah sebesar 275 poin (2,96 persen) ke posisi Rp9.560 terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan valuta asing (valas) Selasa (7/10/2008) terbilang wajar. Sebab, euro, dolar Australia, dan mata uang Asia lain juga melemah terhadap USD. "Namun kewaspadaan harus ditingkatkan," ujar dia dalam pesan singkatnya, di Jakarta, Selasa (7/10/2008). Saat rupiah menginjak Rp9.700 per USD, Tony memberikan dua pilihan yang bisa dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk meredam pelemahannya. Pertama, mengintervensi pasar dengan menggunakan cadangan devisa atau kedua menaikkan suku bunga acuan (BI Rate). Namun upaya intervensi bisa jadi sia-sia lantaran sentimen negatif dari eksternal saat ini susah dilawan dengan cadangan devisa. "Jadi sebaiknya memang dengan menaikkan BI Rate," kataTony. Dalam hal ini, BI telah menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 9,5 persen. Kendati mendukung upaya penaikan BI Rate setelah inflasi September tercatat hampir satu persen tersebut, Tony menilai besaran kenaikan masih terlampau kecil. Idealnya, ujar dia, adalah menjadi 9,75 persen. Dalam perspektif lain, Tony melihat, kebijakan menaikkan BI Rate kurang tepat untuk

menghadapi dampak krisis keuangan di Amerika Serikat (AS) yang bersumber dari gagal bayar kredit perumahan tersebut. Krisis semacam itu, perlu dihadapai dengan menurunkan suku bunga acuan atau pelonggaran likuiditas, seperti yang dilakukan bankbank sentral negara maju. "Tetapi karena yang kita hadapi sekarang adalah rupiah yang melemah tajam, tidak ada pilihan lain kecuali menaikkan BI Rate," terangnya. Lebih lanjut dia mengatakan, pelemahan rupiah akan berakhir saat AS mengumumkan daftar perusahaan lain yang bangkrut akibat kredit macet perumahan tersebut. Di saat itu, reli penguatan USD akan berakhir dan rupiah kembali menguat. "Hal ini akan menghindarkan rupiah dari kemungkinan Rp10.000 per USD," kata dia. Pada perdagangan hari ini, nilai tukar mata uang Asia lain juga mayoritas terkoreksi terhadap USD, seperti rupee India melemah 6,22 persen, won Korea turun 17,84 persen, ringgit Malaysia melemah 2,15 persen, peso Filipina melemah 2,5 persen, dolar Singapura melemah 4,07 persen, bath Thailand melemah 1,77 persen, dan dolar Taiwan melemah 0,98 persen. (Meutia Rahmi /Sindo/ade) Finance Rupiah Nyaris Rp9.700, BI & Investor Adu Kuat Rabu, 8 Oktober 2008 - 14:16 wib Rani Hardjanti - Okezone JAKARTA - Sama parahnya dengan indeks harga saham gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah juga sama babak belurnya. Nilai tukar rupiah terjungkal mendekati Rp9.700 per USD, dengan bergerak dikisaran Rp9.650 per USD. Sebelum libur Lebaran, biasanya rupiah hanya bergerak di level Rp9.300-an. Bahkan, berdasarkan data yahoo finance, nilai tukar rupiah diperdagangkan di level Rp9.840 per USD. "Saat ini Bank Indonesia dan investor adu kuat. Kalau USD menguat sedikit, investor langsung jual dolar dan BI melalui bank pelat merah langsung intervensi. Begitu saja perdagangan hari ini," ujar pakar valuta asing (valas) Farial Anwar, saat berbincang dengan okezone, di Jakarta, Rabu (8/10/2008). Namun, secara keseluruhan, menurutnya, tidak ada yang memikirkan keuntungan di saat kondisi pasar karut marut. "Keuntungan bagi pelaku pasar saat ini nomor 200. Yang ada hanya penyelamatan aset," ujar Farial. Menurutnya, walaupun para pemegang kebijakan moneter di Bank Indonesia dan pemerintah telah menyatakan akan mengambil sikap, namun hal itu direspons negatif oleh pasar. "Karena kebijakannya tidak ada konkret," pungkasnya. (rhs) ekonomi global

Wall Street Demam 5 Hari Berturut-Turut Rabu, 8 Oktober 2008 - 08:42 wib Candra Setya Santoso - Okezone NEW YORK - Bayangkan, dalam lima hari berturut-turut, indeks saham di Wall Street terus melemah, setelah pasar mencemaskan krisis kredit di sektor keuangan Amerika. Pasalnya, kondisi itu dikhawatirkan akan menyeret perekonomian terbesar dunia tersebut ke jurang resesi. Seperti dikutip Associted Press (AP), Rabu (8/10/2008), kalangan pelaku pasar menilai Gubernur Bank Sentral Amerika Ben Bernanke tidak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan perekonomian AS yang terus memburuk. Meski Bernake telah memberikan sinyal akan menurunkan tingkat suku bunga acuan (The Fed rate), namun pasar tetap gamang. Sektor finansial mengalami pukulan paling berat dalam perdagangan di lantai bursa, yang diwarnai dengan penurunan paling dalam sub-indeks keuangan dalam sedasawarsa terakhir. Saham Bank of America anjlok 26 persen menjadi USD23,77 per lembar saham dalam satu hari, setelah bank itu menyatakan akan mengurangi dividen dan menggelontorkan dana USD10 miliar guna menahan laju kerugian di sektor kredit. "Pasar saat ini benar-benar bingung. Investor tak peduli lagi apa yang dikatakan pemerintah atau The Fed. Kami di sini sekarang tidak tahu kapan krisis ini akan berakhir," kata analis Federated Investors Linda Duessel, di Pittsburgh. Akibatnya, indeks Dow Jones ambruk 508,39 poin menjadi 9.447,11. Sementara indeks Standard & Poor's 500 merosot 60,66 poin menjadi 996,23. Pertama kali indeks acuan ini ditutup di bawah level 1.000 dalam lebih dari lima tahun. Demikian juga dengan indeks Nasdaq yang melorot 108,08 poin menjadi 1.754,88. (rhs) Finance Pasar Finansial RI Kacau Balau Rabu, 8 Oktober 2008 - 13:48 wib Rani Hardjanti - Okezone JAKARTA - Kacau balau. Itulah kata yang bisa merefleksikan kondisi keuangan Tanah Air saat ini. Indeks harga saham gabungan disuspensi dan rupiah terperosok tajam. "Tidak ada seorang pun yang bisa memprediksikan apa yang akan terjadi," ujar pengamat valuta asing Farial Anwar, saat dihubungi okezone, di Jakarta, Rabu (8/10/2008). Dia mengatakan, kepanikan di bursa saham dunia menjadi suatu wabah yang mengerikan. Kepanikan terjadi tidak hanya di bursa global, tapi sudah menular di Indonesia. Akibatnya, pasar saham mengalami koreksi signifikan pada indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga mencapai level 1.451,669 dan berujung pada penghentian

sementara perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). "Apa yang dilakuan oleh BEI sudah benar. Jika tidak kemerosotan akan semakin mendalam dan bisa membahayakan ekonomi Indonesia," imbuhnya. Kondisi ini lanjutnya, berawal dari pasar Amerika dan Eropa. Di negera belahan barat itu telah terjadi krisis likuiditas yang amat sangat. Dalam pinjam meminjam uang, antarinstitusi sudah tidak ada yang saling percaya. "Selanjutnya, mereka mencari cara bagaimana mendapat uang tunai. Para investor pun menarik dananya dari pasar bursa secara besar-besar," terang Farial. Akibatnya, pasar Indonesia yang didominasi oleh aliran dana panas atau hot money menjadi sasaran empuk untuk melakukan spekulasi. (rhs) Finance Dirut BEI: Pasar Tidak Rasional Rabu, 8 Oktober 2008 - 13:29 wib Candra Setya Santoso - Okezone JAKARTA - Suspensi perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dilakukan lantaran pasar bergerak irasional. Transaksi hanya bergerak pada kisaran di bawah Rp1 triliun. "Transaksi di bawah 1 triliun dan kami rasa itu terlalu kecil. Sedangkan volume perdagangan juga masih kecil. Jadi, direksi memutuskan untuk menghentikan perdagangan pada sesi kedua ini," ujar Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Erry Firmansyah dalam jumpa pers di Gedung BEI, Jalan Sudirman, Jakarta, Rabu (8/10/2008). Keputusan menghentikan sementara perdagangan, menurut Erry, sudah dikonsultasikan dengan Menneg BUMN Sofyan Djalil yang kini menjadi PLT Menko Perekonomian. "Kami juga mendapat telepon dari Pak Sofyan untuk menghentikan perdagangan pada sesi kedua ini. Kita telah konsultasi dengan Pak Fuad Rahmany (Kepala Bapepam) dan Pak Robinson (kepala biro di Bapepam) terkait ini," ungkap dia. Penghentian ini, juga mempertimbangkan terpuruknya bursa saham di Asia. "Contohnya Nikkei sudah anjlok 10 persen, Singapura juga anjlok sampai 6,5 persen," imbuh dia. Mengenai perdagangan esok hari, Erry mengatakan pihaknya belum bisa memastikan apakah akan dibuka atau masih ditutup. "Untuk perdagangan besok, kita akan diskusikan lagi apakah akan dibuka atau tidak. Direncanakan pukul 15.00 WIB nanti kita akan bertemu dengan para broker untuk bicarakan ini," jelas Erry. Saat ini, menurutnya, pasar -terutama para investor- masih sangat panik. Kata Erry, ada

sesuatu hal yang dikhawatirkan oleh investor lokal maupun investor asing. "Jadi sangat beragam. Kita tidak bisa bilang apakah investor lokal yang lebih banyak trading ataukan investor asing," tandasnya, tanpa menjelaskan kekhawatiran yang dimaksud. Seperti diberitakan sebelumnya, BEI menghentikan sementara perdagangan pada pukul 11.06.14 WIB, karena terjadi penurunan signifikan pada indeks harga saham gabungan (IHSG). IHSG memasuki level 1.470, terendah sejak 18 September 2006, di level 1.510,825. Indeks saham bergerak di kisaran seperti pada 11 September-7 Agustus 2006, atau berada di kisaran 1.465,710-1.402,191. Sebagai informasi, pada posisi sesi pertama pembukaan, tepatnya 10.40 JATS, IHSG berada di level 1.472,71 atau turun tajam 147,01 poin atau anjlok sangat dalam sebesar 9,08 persen. (jri)