P. 1
Cairan Otak 2

Cairan Otak 2

|Views: 90|Likes:
Dipublikasikan oleh Sarita Sharchis

More info:

Published by: Sarita Sharchis on Apr 12, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2013

pdf

text

original

Cairan Otak

Oleh: Saud Tobing,dr,MS Bagian Patologi Klinik FK-UKI

Fisiologi
Cairan otak atau Liquor Cerebrospinalis (Cerebrospinal fluid) disekresi oleh plexus choroideus dan sel-sel ependym (VentrikaI-II) melalui proses ultrafitrasi dari plasma darah kedalam vertikal otak dan secara transport aktif. LCS dari Ven. I-II melalui foramen monroi→ Ven.III, melalui aquaductus Sylvii→ Ven.IV, melalui for. Luschhka dan magendi→ ruang subarachnoid. FUNGSI: 1. Sebagai pelindung mekanik (bantalan) terhadap trauma dari luar. 2. Sebagai pengatur volume intrakranial 3. Wadah nutrisi dan saluran ekskretorik untuk metabolik jaringan syaraf.

Indikasi LP Meliputi:
A. Indikasi diagnostik : Adanya gejala iritasi meningeal (mis: dugaan mengitis, polimelitis, encephalitis, dll) Adanya dugaan perdarahan subarachnoid Kejang-kejang (Tumor otak) Adanya tanda-tanda prnyakit medula spinalis Untuk diagnosa banding antara infark otak dan pendarahan intra serebral. B. Indikasi terapeutik : Pemberian antibiotik Anestesi spinal Untuk mengeluarkan eksudat atau darah dari ruang subarachnoid

. pada anak-anak sering dilakukan pada segmen L4-L5 Punksi suboccipital Punksi ventrikal pada bayi yang fonatellanya masih terbuka Kontra Indikasi Punksi: Absolut: tidak ada Relatif: Punksi dapat dilakukan tetapi harus hati-hati yaitu pada: a. Jantung berat  Cara membedakan: warna LCS akibat perdarahan dengan trauma punksi Cairan Otak Warna merah Setelah dicentrifuge. Perdarahan intracranial yang baru terjadi c. Peny. berkurang pada tbg 2. yang di bagi dalam 3-4 tabung penampung. Botol penmpung sebaiknya steril dan terang. mungkin tbg 2 Bentuk eritrosit normal Perdarahan subarachoid Merah homogen pada semua tabung Endapan pada semua tbg Bentuk eritrosit tak teratur/krenasi Cara Pengambilan LCS:      Sebaiknya LCS diambil pagi hari. karna mungkin terkontaminasi darah punksi Jumlah cairan diambil dengan punksi dipakai untuk berbagai pemeriksaan biasanya 10-15 ml. Tindakan harus secara asepsis dan steril. dilihat dasar tbg Pemeriksaan sedimen Trauma punksi Merah terutama pada tbg 1. Tetesan pertama di buang.3 Endapan pada tbg 1.Lokalisasi punksi cairan otak: Lumbal punksi (lebih sering) yaitu antara L3-L4. Tumor otak b.

000/mm3. dehidrasi atau berkurangnya cairan otak. Makroskopis:  Normal Warna jernih seperti kristal.Setiap Tabung diberi nomor 1. sel eritrosit >100. Penurunan tekanan cairan: shock. Tekanan cairan otak: Dewasa: 100-200 mm H2O Jika tekanan kurang dari 50mm H2O atau lebih dari 250mm H2O: abnormal Anak-anak: 50-100mm H2O Tekanan LCS meningkat akibat: Meningitis. bilirubin atau bakteri  Cairan otak Xanthochrome warna pink. 2. hidrosefalus dsb. tapi dapat juga ditemukan pada meningitis TBC.2.3. sumbatan canalis cerebrospinalis. 1987).Umumnya ditemukan pada perdarahan subarachnoid. Perdarahan intracranical.  Warna keruh akibat adanya pus. Tumor/abscess/oedema otak. Cerebral sifilis dan poliomielitis. darah. dan 4 sesuai urutan pengisian tabung Tabung1→ Untuk pemeriksaan makroskopik. analisa kimia Tabung2→ Pemeriksaan jumlah sel dan hitung jenis Tabung3→ Untuk pemeriksaan kultur rutin Tabung4→ Pemeriksaan lain yang lebih khusus Pemeriksaan cairan otak : 1.  Warna Xanthochrome sering disertai kadar protein > 150 mg/dl. Tekanan awal >250mm H2O menunjukkan peningkatan tek intrakranial. orange atau kuning mengarah pada sel eritrosit lisis dan penghancuran hemoglobin. Peningkatan awal tanda khas cryptococcal meningitis (hayward.bilirubin > 15mg/dl  FROINS SYNDROME: Protein tinggi Pleositosis limfositik Mudah membeku karena banyak fibrinogen .

objektif 10x 2.BEKUAN: (N) cairan otak tidak ada bekuan Bekuan halus→ Meningitis TBC Bekuan lebih kasar→ meningitis purulent Bekuan massif → Subarachnoid tersumbat Tidak terjadi bekuan → ensefalitis dan poliomielitis KEKERUHAN: Bandingkan tabung berisi LCS dengan tabung berisi aquadest. Cari K. Orang dewasa (N) : 0 – 5 sel/ul.anak : 0 – 30 sel/ul PLEOSITOSIS : jumlah sel lekosit yg tinggi. Isap larutan Turk pekat sampai garis 1 pada pipet lekosit 3. Turk pekat  CARA: 1. M. Isap cairan otak sampai garis 11 4. Sifilitika Poliomielitis. ensefalitis. IN . Mis: 200 sel/ul Ple. Purulenta akut  ALAT dan BAHAN: . sifilitika 500 sel/ul : M.TBC M.K. Hitung dalam seluruh bidang . (N): jernih Pleositosis tidak selalu disertai adanya kekeruhan mis: Encefalitis M. buang 3 tetes dan isi kamar hitung tunggu 5 menit 5. Ringan pada: Poliomielitis.Pipet lekosit . Hitung Fuchs – Rosenthal atau K. karena lekosit cepat lisis. < 200 sel/ul → tidak terkihat kekeruhan 200 – 500 sel/ul → sedikit keruh > 500 sel/ul kekeruhan jelas 3.Reagen : Lar. Kocok. bila >10 abnormal Anak.H.TBC dan M. MIKROSKOPIS Menghitung jumlah sel : Hitung jumlah lekosit 30 menit setelah punksi.H dbawah mikroskop.

Dominan sel netrofil : M. Jamur. tbc. Lues dan Multipel sclerosis. Kombinasi sel dominan : M. bakteri piogen.R : N/Vol X pengenceran N/16x0. hitung dlm 100 sel *BAKTERIOSKOPI: Gram & Ziehl-Nielsen 2.2 X 10/9 → 150N/144 → N/3  MENGHITUNG JENIS SEL.Reagen: Rq.Bila ada darah tdk bermakna * KUALITATIF : tes Nonne & Pandy (bed side test) TEST NONNE atau Nonne Apelt / Ross – Jones . Kadar protein Pem. Yg paling sering: Pem. reaksi meningeal aseptik virus dan M. M. 10 menit) endapan 1 tetes pada kaca objek → sedian apus. keringkan → pewarnaan Wright atau Giemsa. Kadar glukosa Pem.Tujuan: menilai ada/tidaknya globulin .Cara kualitatif dan kuantitatif . ditengah sel spt ada Kotoran. tidak ada inti dalam sel (PMN) CIRI: inti sudah hancur. Cara: Lcs disentrifuse (1500 RPM. CIRI: bulat kosong. meningoencefalitus virus.nonne (lar NH4 sulfat .PEMERIKSAAN KIMIA. Dominan sel monosit dan/atau limfosit: meningoencefalitis virus . PROTEIN: Paling penting . Bila jumlah hitung sel <50sel/ul → sediaan apus utk hitung jenis tdk perlu Tapi dalam KH dibuat perbandingan sel PMN dan MN (N): limfosit (MN) → 60 – 70 %.tbc/jamur. RUMUS: F. Kadar chlorida PEM. Bila jumlah sel > 50sel/ul buat sediaan apus. bakterial subacut.

fluorescent treponemal antibodi (FTA). Tes Triptofan : hasil positif pada 95 % pada kasus meningitis TBC. Fenol → kekeruhan Cara: 1ml Rq.Prinsip Rx: Globulin(LCS) + NH4 sulfat → cincin putih . (N) tidak keruh/halus * KUANTITATIF: Fotokolorimetri atau Turbidimetri (lebih bermakna dari kualitatif) Protein : Ventrikel 5. Tes-tes kimia pada Meningitis TBC : 1.SEROLOGIS: Neurosifilis : VDRL. tumor. baterial. . *PEM. Fenol dalam air) Alat : 1 tabung serologis Prinsip Rx: Albumin&globulin + lar. Pandy (Lar. (N): 50-80mg/dl ( ½ dari plasma) Menurun: M. normal dan neurosifilis *PEM. (N):118-132mEq/l Hipoklorida sering pada meningiti *LACTATE: Meningkat pada M. Purulenta dan Perdarahan subarachnoid/sumbatan(Syn. Tujuan: menilai ada tidaknya albumin dan globulin Reagen: Rq. Pandy dlm tbg serologi + 1 tetes LCS → keruh Pelaporan: (+) : keruh jelas (protein meningkat) ( -) : Tdk ada kekeruhan.Alat: 1 tabung serologis .Cara: tbg serologi diisi 1ml Rq..CHLORIDA: Lebih tinggi dari plasma. Nonne kemudian teteskan melalui dinding Tbg 1ml LCS → cincin putih diantara 2 cairan ( globulin meningkat) TEST PANDY. Tes menurut Levinson : 90% penderita meningitis tuberculosis memberikan hasil positif 2. Menetap: encefalitis.15mg/dl Cysterna magna 10-15mg/dl Lumbal 15-40mg/dl Bila protein 200 – 1000mg/dl: M. purulenta.Froin) *PEM.GLUKOSA: LCS segar.

2 6-16 0.5 2-6 mEq/L mEq/L mEq/L mEq/L mEq/L mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl mg/dl .5 118-132 2.5-1.1-0.0-3.Tabel nilai normal LCS Tekanan Volume Berat Jenis Sel Protein Albumin Alfa-1 globulin Alfa-2 globulin Beta globulin Gamma globulin Elektrolit : Natrium Kalium Klorida Kalsium Magnesium Kreatinin Kolesterol Glukosa Glutamin Asam 5-Hydroxyindol asetat Besi Laktat Tiroksin Urea Asam urat Seng 70-150 mm H20 90-150 ml 1.5 1-2 10-18 0.006-1.5-4.4-3.1-2.2-0.6 50-80 6-16 1.5-4.2 0.7 2.1 0.008 0-5 sel/mm³ (terutama limfosit) 20-50 mg/dl 50-70% 3-9% 4-10% 10-18% 3-9% 144-154 2.

Limfosit) Banyak eritrosit Biasanya N bisa SPI 50 25-400 N 15-75 N N Perdarahan sub Arachnoid Tumor otak Biasanya 50-1000 N N N atau N atau sedikit N . Koagulum sarang laba-laba Jernih Jernih  kadang ada Koagulum Mengandung darah/Xantrokro mik Biasanya jernih/kadang Xantokromik BL PROT SEL PER MM³ 100-20.000 (terutama Netrofil/PMN) 10-500 (TU. Sering < 100 50-500 Ensefalitis (virus) Neuroshypilis N atau sedikit N atau N atau sedikit N atau bisa 25-2000 (TU. Limfosit) 10-500 (TU.GAMBARAN CAIRAN OTAK PADA PENYAKIT-PENYAKIT NAMA PENYAKIT Meningitis bakterial akut Meningitis aseptik oleh virus Meningitis TBC TEKANAN Biasanya MAKROSKOPIK Keruh  Purulen Jernih / sedikit keruh Jernih/ sedikit keruh . Limfosit) PROTEIN (mg/100ml) 50-1000 GLUKOSA (mg/100ml) < 40 CHLORIDA (m Eg/L) Sedikit N atau agak Biasanya N atau N atau sedikit Sering < 40 N ata sedikit .

cetakan pertama. Dallas Hall.. : Cerebrospinal fluid analysis ( American FamilyPysician Mark M.M. Seehusen.M. Karen Munson Kajudin M.D : Clinical Diagnosis and Management by Laboratory methods. Jean Jorgensen : Penuntun Laboratorium WHO untuk pemeriksaan semen manusia. cetakan II.D Gandasoebrata R Hardjoeno : Penuntun laboratorium klinik. Speicher & Jack W. Edisi ke 2. 1999 : Cairan tubuh. Balai Penerbit FKUI.AFP. and September 15. Jilid II. 1990.J.B Saunders & Co.KEPUSTAKAAN Carl E. 1982.D.Fomin. : Clinical Methods ( The history physical.M.com Demitri A.ncbi. 2001 : Urinalysis and Body Fluids. chapter 19.Willis John Bernard Henry. EGC. 1st ed 1995. kenneth Walker. Siti Boediana Kresno.www. Pemilihan uji laboratorium yang efektif. Balai penerbit FKUI. 1988 : Ilmu Penyakit Dalam. PT Dian Rakyat. M.reeves.2003. cetakan ke sembilan. and laboratory examinations).com H.. Smith : Dr.. Third Edition www. W.D.K Soeparman & Sarwono . 20th edition. Lembaga penerbitan Universitas Hasanuddin. W. cetakan ke-1. Edisi bahasa Indonesia. 1996 Dean A.

Jaringan ikat Transeluler: 1% : LCS dan rongga serosa Intra okuler.sulfat . dlm tulang.F: kation (penting)→K+ dan magnesium Anion (utama) → fosfat organic. Peritoneum dan sinovial Komposisi: I.F: 20% dari BB : Plasma darah : 4% Interstitial : 11%: di antara sel.C. pleura. tulang dan jaringan tanpa lemak 2. protein.C.C.KESEIMBANGAN AIR DAN ELEKTROLIT ASPEK FISIOLOGIS Tubuh manusia terdiri dari:1.tubuh tanpa jaringan lemak:air.F: 40% dari BB E.jaringan lemak: orang gemuk sedikit mengandung air banding orang kurus Distribusi air: I.

Mental B. air) ASPEK PATOLOGIS Causa kekurangan air intrasel: 1.Ggn. hati dan paru. hidrosefalus . ginjal. encefalitis.Intake tdk mencukupi: koma. luka bakar Sal cerna: muntah.Primer (faal ginjal normal) A. HCO3 Organ utama pengatur keseimbangan cairan dan elektrolit : Jantung.Kehilangan berlebihan: kulit: keringat. Osmoreseptor di otak: idiopaik Kerusakan otak: tumor otak.Intersitial (= plasma): kation (penting) →Na+. Osmolaritas cairan: Osmolaritas plasma ↑ → volume sel berkurang (kekurangan air) Osmolaritas plasma ↓ → volume sel ↑ (kel. disfagia Ggn. diare C. kalsium Anion (penting) → Cl-.

2. rasa haus hebat Laboran: Ht ↑. kejang muntah.insipidus. Na plasma ↑ BJ plasma↑.Diuresis osmotik: Glukosa.Sekunder (ggn faal ginjal) A.Ggn kemampuan konsentrasi: D.hipokalemia nefrofatik Hiperkalsemia nefrofatik B. mudah marah Depressi. manitol dan urea Akibat kekurangan air: cairan ekstrasel jadi hipertonis terhadap cairan intrasel Gejala: Disfungsi SSP Kulit kering. delirium Laboran: Na plasma↓ dan volume urin ↑ . BJ Urin↑ Kelebihan air: Osmolaritas cairan tubuh ↓ → air intra sel ↑ Causa: Ggn ginjal dan curah jantung rendah → ADH↑ Gejala: bingung.

luka bakar C. Ggn ginjal intrinsik .gagal ginjal kronik dgn hilang Na Gejala: Anoreksia.obat diuretik .Kehilangan lewat ginjal A. pusing Tek.diuresis osmotik . Vena jugularis ↓.gagal ginjal akut .Sal.insufisiensi adrenal primer B. cerna: muntah. thoracocentesis 2. diare B.Tanpa ggn ginjal intrinsik . oligouria dll Laboran: Na↓ .Kekurangan garam: Causa: 1.kehilangan non renal A. mual. kulit : keringat. Paracentesis.

ggn ritme jantung Kelumpuhan yg lemas (flaccid) .S Gejala: oedema. lemah Parestesi. Pergerakan ion k antara intrasel dan ekstrasel dipengaruhi pH dan insulin.Kelebihan garam Causa: gagal jantung. Penyakit hati Gagal ginal. Kalium ↓: apatis. N.tetani. Ht (N) Nacl urin ↓ Penetapan Na: Fotometer Ion selective electrode Kalium.

sal. Insulin berlebih Kalium ↑: causa: intake berlebihan Ekskresi melalui ginjal ↓: a.ginjal: alkalosis metabolik.cerna: muntah. cushing sindrom. intoksikasi vitamin D Ca↓: sindroma hiperventilasi (akut alkalosis) . tumor paratiroid Sarcoidosis.Diet kurang K B. aldosteronism c. diare yg hebat KALSIUM(Ca).Causa: A.akibatnya syaraf dan otot sangat peka → cardiac arrest. Luka bakar. trauma. CL↓: muntah2. Gagal ginjal b. obat diuretik. diare.Cusshing sidrom (hiperfungsi kortek adrenal) d.pencahar b. sepsis Hiperkalemia menyebabkan potensial membran eksitasi menurun.Kehilangan ion K: a. CHLORIDA. Ca↑: hiperparathyroidisme. Adrenal insufisiensi c. CL↑: pemberian KCL berlebih Keadaan hiperventilasi.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->