Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CIDERA KEPALA DIRUANG PRABU KRESNA RSUD KOTA SEMARANG

Disusun oleh : Sri Patma Sari 1001072

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA SEMARANG 2013

CIDERA KEPALA

A. Pengertian Cidera kepala adalah kerusakan neurologis yang terjadi akibat adanya trauma pada jaringan otak yang terjadi secara langsung maupun efek sekunder dari trauma yang terjadi (Sylvia anderson Price, 1985). B. Etiologi Cidera kepala dapat disebabkan karena beberapa hal diantaranya adalah : 1. oleh benda / serpihan tulang yang menembus jaringan otak misal : kecelakaan, dipukul dan terjatuh. 2. trauma saat lahir misal : sewaktu lahir dibantu dengan forcep atau vacum. C. Manifestasi klinis Cidera otak karena terkenanya benda tumpul berat ke kepala, cidera akut dengan cepat menyebabkan pingsan (coma), yang pada akhirnya tidak selalu dapat disembuhkan. Karena itu, sebagai penunjang diagnosis, sangat penting diingat arti gangguan vegetatif yang timbul dengan tiba-tiba dan cepat berupa sakit kepala, mual, muntah, dan puyeng. Gangguan vegetatif tidak dilihat sebagai tanda-tanda penyakit dan gambaran penyakit, namun keadaannya reversibilitas. Pada waktu sadar kembali, pada umumnya kejadian cidera tidak diingat (amnezia antegrad), tetapi biasanya korban/ pasien tidak diingatnya pula sebelum dan sesudah cidera (amnezia retrograd dan antegrad). Timbul tanda-tanda lemah ingatan, cepat lelah, amat sensitif, negatifnya hasil pemeriksaan EEG, tidak akan menutupi diagnosis bila tidak ada kelainan EEG. Koma akut tergantung dari beratnya trauma/ cidera. Akibatnya juga beraneka ragam, bisa terjadi sebentar saja dan bisa hanya sampai 1 menit. Catatan kesimpulan mengenai cidera kepala akan lebih kalau terjadi koma berjam-jam atau seharian, apalagi kalau tidak menampakkan gejala penyakit gangguan syaraff. Menurut dokter ahli spesialis penyakit syaraf dan dokter ahli bedah

syaraf, gegar otak akan terjadi jika coma berlangsung tidak lebih dari 1 jam. Kalau lebih dari 1 jam, dapat diperkirakan lebih berat dan mungkin terjadi komplikasi kerusakan jaringan otak yang berkepanjangan. D. Patofisiologi Cidera kepala terjadi karena beberapa hal diantanya karena terjatuh, dipukul, kecelakaan dan trauma saat lahir yang bisa mengakibatkan terjadinya gangguan pada seluruh sistem dalam tubuh. Bila trauma ekstra kranial akan dapat menyebabkan adanya leserasi pada kulit kepala selanjutnya bisa perdarahan karena mengenai pembuluh darah. Karena perdarahan yang terjadi terus menerus dapat menyebabkan hipoksia sehingga tekanan intra kranial akan meningkat. Namun bila trauma mengenai tulang kepala akan meneyebabkan robekan dan terjadi perdarahan juga. Cidera kepala intra kranial dapat mengakibatkan laserasi, perdarahan dan kerusakan jaringan otak bahkan bisa terjadi kerusakan susunan syaraf kranial tertama motorik yang mengakibatkan terjadinya gangguan dalam mobilitas.

E. Klasifikasi Cidera kepala diklasifikasikan menjadi dua : 1. Cidera kepala terbuka Luka terbuka pada lapisan-lapisan galea tulang tempurung kepala duramater disertai cidera jaringan otak karena impressi fractura berat. Akibatnya, dapat menyebabkan infeksi di jaringan otak. Untuk pencegahan, perlu operasi dengan segera menjauhkan pecahan tulang dan tindakan seterusnya secara bertahap. Fractura Basis Cranii Fractura ini dapat terletak di depan, tengah, atau di belakang. Gejala fractura di depan: a. Rhino liquore disertai lesi di sinus-frontalis pada ethmoidal, spenoidal, dan arachnoidal. b. Pneunoencephalon, karena pada fractura basis cranii udara dari sinus maksilaris masuk ke lapisan selaput otak encepalon. c. Monokli haematoma, adalah haematoma pada biji mata, karena pada orbita mata dan biji lensa mata memberi gejala pendarahan intracranialis pula. Fractura bagian tengah basis cranii antara lain memberi gejala khas menetesnya cairan otak bercampur darah dari telinga: otoliquor, melalui tuba eustachii. Gambaran rontgen sebagai tanda khas pada fractura basis cranii selalu hanya memperlihatkan sebagian. Karena itu, dokter-dokter ahli forensik selalu menerima kalau hanya ada satu tanda-tanda klinik. Gejala-gejala klinis lain yang dapat dilihat pada fractura basis cranii antara lain anosmia (I); gangguan penglihatan (II); gangguan gerakan-gerakan biji mata (III,IV, V); gangguan rasa di wajah (VI); kelumpuhan facialis (VII); serta ketulian bukan karena trauma octavus tetapi karena trauma pada haemotympanon. Pada umumnya, N. VIII - XII jaringan saraf otak tidak akan rusak pada fractura basis cranii. Kalau fractura disebut fractura impressio maka terjadi dislocatio pada tulang-tulang sinus tengkorak kepala. Hal ini harus selalu diperhatikan karena kemungkinan ini akibat contusio cerebri.

2. Cidera kepala tertutup Pada tulang kepala, termasuk di antaranya selaput otak, terjadi keretakankeretakan. Dalam keadaan seperti ini, timbul garis/linea fractura sedemikian rupa sehingga menyebabkan luka pada daerah periferia a. meningia media, yang menyebabkan perdarahan arteri. Haematoma dengan cepat membesar dan gambaran klinik juga cepat merembet, sehingga tidak kurang dari 1 jam terbentuk haematomaepiduralis. Penentuan diagnosis sangat berarti lucidum intervalum (mengigat waktu yang jitu dan tepat). Jadi, pada epiduralis haematoma, sebenarnya jaringan otak tidak rusak, hanya tertekan (depresi). Dengan tindakan yang cepat dan tepat, mungkin pasien dapat ditolong. Paling sering terdapat di daerah temporal, yaitu karena pecahnya pembulnh darah kecil/perifer cabang-cabang a. meningia media akibat fractura tulang kepala daerah itu (75% pada Fr. Capitis). a. Epiduralis haematoma Pada frontal, parietal, occipital dan fossa posterior, sin. transversus. Foto rontgen kepala sangat berguna, tetapi yang lebih penting adalah pengawasan terhadap pasien. Saat ini, diagnosis yang cepat dan tepat ialah CT scan atau Angiografi. Kadangkala kita sangat terpaksa melakukan "Burr hole Trepanasi", karena dicurigai akan terjadi epiduralis haematoina. Dengan ini sekaligus bisa didiagnosis dan dekompresi, sebab terapi untuk epiduralis haematoma adalah suatu kejadian yang gawat dan harus segera ditangani. b. Subduralis haematoma akut Kejadian akut haematoma di antara durameter dan corteks, dimana pembuluh darah kecil sinus vena pecah atau terjadi perdarahan. Atau jembatan vena bagian atas pada interval yang akibat tekanan lalu terjadi perdarahan. Kejadiannya keras dan cepat, karena tekanan jaringan otak sehingga darah cepat tertuangkan dan memenuhi rongga antara durameter dan corteks. Kejadian dengan cepat memberi tanda-tanda meningginya

tekanan dalam jaringan otak (TIK = Tekanan Intra Kranial). Pada kejadian akut haematoma, lucidum intervalum akan terasa setelah beberapa jam sampai 1 atau 2 hari. Tanda-tanda neurologis-klinis di sini jarang memberi gejala epileptiform pada perdarahan dasar duramater. Akut hematoma subduralis pada trauma kapitis dapat juga terjadi tanpa Fractura Cranii, namun pembuluh darah arteri dan vena di corteks terluka. Pasien segera pingsan/ koma. Jadi, di sini tidak ada "free interval time". Kadang-kadang pembuluh darah besar seperti arteri dan sinus dapat juga terluka. Dalam kasus ini sering dijumpai kombinasi dengan intracerebral haematoma sehingga mortalitas subdural haematoma akut sangat tinggi (80%). c. Subrachnoidalis Haematoma Kejadiannya karena perdarahan pada pembuluh darah otak, yaitu perdarahan pada permukaan dalam duramater. Bentuk paling sering dan berarti pada praktik sehari-hari adalah perdarahan pada permukaan dasar jaringan otak, karena bawaan lahir aneurysna pelebaran pembuluh darah. Ini sering menyebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Gambaran klinik tidak menunjukkan gejala-gejala penyakit tetapi terjadi gangguan ingatan karena timbulnya gangguan meningeal. Akut Intracerebralis Haematoma terjadi karena pukulan benda tumpul di daerah korteks dan subkorteks yang mengakibatkan pecahnya vena yang besar atau arteri pada jaringan otak. Paling sering terjadi dalam subkorteks. Selaput otak menjadi pecah pula karena tekanan pada durameter bagian bawah melebar sehingga terjadilah "subduralis haematoma", disertai gejala kliniknya. d. Contusio Cerebri Di antara yang paling sering adalah bagian yang berlawanan dengan tipe centralis - kelumpuhan N. Facialis atau N. Hypoglossus, atau kelumpuhan syaraf-syaraf otak, gangguan bicara, yang tergantung pada lokalisasi kejadian cidera kepala. Contusio pada kepala adalah bentuk paling berat, disertai dengan gegar otak encephalon dengan timbulnya tanda-tanda koma, sindrom gegar otak pusat encephalon dengan tanda-

tanda gangguan pernapasan, gangguan sirkulasi paru - jantung yang mulai dengan bradikardia, kemudian takikardia, meningginya suhu badan, muka merah, keringat profus, serta kekejangan tengkuk yang tidak dapat dikendalikan (decebracio rigiditas). F. Pemeriksaan diagnostik 1. Spinal X ray Membantu menentukan lokasi terjadinya trauma dan efek yang terjadi (perdarahan atau ruptur atau fraktur). 2. CT Scan Memeperlihatkan secara spesifik letak oedema, posisi hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia serta posisinya secara pasti. 3. Myelogram Dilakukan untuk menunjukan vertebrae dan adanya bendungan dari spinal aracknoid jika dicurigai. 4. MRI (magnetic imaging resonance) Dengan menggunakan gelombang magnetik untuk menentukan posisi serta besar/ luas terjadinya perdarahan otak. 5. Thorax X ray Untuk mengidentifikasi keadaan pulmo. 6. Pemeriksaan fungsi pernafasan Mengukur volume maksimal dari inspirasi dan ekspirasi yang penting diketahui bagi penderita dengan cidera kepala dan pusat pernafasan (medulla oblongata). 7. Analisa Gas Darah Menunjukan efektifitas dari pertukaran gas dan usaha pernafasan.

G. Pengobatan Penderita trauma saraf spinal akut yang diterapi dengan metilprednisolon (bolus 30 mg/kg berat badan dilanjutkan dengan infus 5,4 mg/kg berat badan per jam selama 23 jam), akan menunjukkan perbaikan keadaan neurologis bila preparat itu diberikan dalam waktu paling lama 8 jam setelah kejadian ( golden hour). Pemberian nalokson (bolus 5,4 mg/kg berat badan dilanjutkan dengan 4,0 mg/kg berat badan per jam selama 23 jam) tidak memberikan perbaikan keadaan neurologis pada penderita trauma saraf spinal akut. Metilprednisolon yang diberikan secara dini dan dalam dosis yang akurat, dapat memperbaiki keadaan neurologis akibat efek inhibisi terjadinya reaksi peroksidasi lipid. Dengan kata lain, metilprednisolon bekerja dengan cara:

1. Menyusup masuk ke lapisan lipid untuk melindungi fosfolipid dan komponen


membran lain dari kerusakan.

2. Mempertahankan kestabilan dan keutuhan membran. 3. Mencegah perembetan kerusakan sel-sel lain di dekatnya. 4. Mencegah berlanjutnya iskemia pascatrauma. 5. Memutarbalikkan proses akumulasi kalsiun intraseluler. 6. Menghambat pelepasan asam arakhidonat.
H. Diagnosa keperawatan 1. Gangguan perfusi jaringan b/ d oedema cerebri, meningkatnya aliran darah ke otak. 2. Gangguan rasa nyaman nyeri b/ d peningkatan tekanan intra kranial. 3. Perubahan persepsi sensori b/ d penurunan kesadaran, peningkatan tekanan intra kranial. 4. Gangguan mobilitas fisik b/ d spastisitas kontraktur, kerusakan saraf motorik. 5. Resiko tinggi infeksi b/ d jaringan trauma, kerusakan kulit kepala. 6. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/ d haluaran urine dan elektrolit meningkat.

7. Gangguan kebutuhan nutrisi b/ d kelemahan otot untuk menguyah dan menelan. 8. Gangguan pola nafas b/ d obstruksi trakeobronkial, neurovaskuler, kerusakan medula oblongata.

I. Intervensi Diagnosa Gangguan b/ d Tujuan Gangguan perfusi jaringan Intervensi - Pantau status neurologis secara teratur. Rasional Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi,

perfusi jaringan tidak dapat diatasi setelah oedema dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam dengan KH : Mampu mempertahankan cerebri, meningkatnya

aliran darah ke -

otak. -

tingkat kesadaran Fungsi sensori dan motorik membaik.

perluasan dan perkembangan kerusakan SSP Menentukan tingkat kesadaran - Evaluasi kemampuan rangsang nyeri). Mengukur kesadaran kemampuan untuk berespon pada rangsangan eksternal. - Kaji respon motorik terhadap perintah yang sederhana. Dikatakan sadar bila pasien mampu meremas atau melepas tangan pemeriksa. Peningkatan tekanan darah - Pantau TTV dan catat hasilnya. sistemik yang diikuti dengan penurunan tekanan darah diastolik merupakan tanda peningkatan TIK . Peningkatan ritme dan disritmia merupakan tanda adanya depresi atau trauma batang otak pada pasien yang tidak mempunyai kelainan jantung sebelumnya. Nafas yang tidak teratur menunjukan adanya peningkatan TIK

membuka mata (spontan, secara keseluruhan dan

Ungkapan keluarga yang - Anjurkan orang terdekat untuk berbicara dengan klien menyenangkan klien tampak mempunyai efek relaksasi pada beberapa klien koma yang akan menurunkan TIK Pembatasan cairan - Kolaborasi pemberian cairan sesuai indikasi melalui IV dengan alat kontrol diperlukan untuk menurunkan Oedema cerebral: meminimalkan fluktuasi aliran vaskuler, tekanan darah (TD) dan Gangguan d rasa Rasa nyeri berkurang setelah - Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya, lokasinya dan lamanya. TIK Mengidentifikasi karakteristik nyeri merupakan faktor yang penting untuk menentukan terapi yang cocok serta mengevaluasi keefektifan dari terapi. - Catat kemungkinan patofisiologi yang khas, misalnya adanya infeksi, trauma servikal. Pemahaman terhadap penyakit yang mendasarinya membantu dalam memilih intervensi yang sesuai. - Berikan kompres dingin pada kepala Perubahan Fungsi persepsi sensori - Evaluasi secara teratur Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi. Fungsi cerebral bagian atas

nyaman nyeri b/ dilakukan tindakan peningkatan keperawatan selama 2 x 24 jam intra dengan KH : pasien mengatakan nyeri berkurang. Pasien menunjukan skala nyeri pada angka 3. Ekspresi wajah klien rileks. tekanan kranial.

persepsi sensori kembali normal setelah b/ d penurunan dilakukan perawatan selama 3x kesadaran, peningkatan tekanan kranial. intra 24 jam dengan KH : mampu mengenali orang dan lingkungan sekitar. Mengakui adanya perubahan dalam kemampuannya.

perubahan orientasi, kemampuan berbicara, alam perasaan, sensori dan proses pikir.

biasanya terpengaruh lebih dahulu oleh adanya gangguan sirkulasi, oksigenasi. Perubahan persepsi sensori motorik dan kognitif mungkin akan berkembang dan menetap dengan perbaikan respon secara bertahap

- Kaji kesadaran sensori dengan sentuhan, panas/ dingin, benda tajam/ tumpul dan kesadaran terhadap gerakan.

Semua sistem sensori dapat terpengaruh dengan adanya perubahan yang melibatkan peningkatan atau penurunan sensitivitas atau kehilangan sensasi untuk menerima dan berespon sesuai dengan stimuli.

- Bicara dengan suara yang lembut dan pelan. Gunakan kalimat pendek dan sederhana. Pertahankan kontak mata.

Pasien mungkin mengalami keterbatasan perhatian atau pemahaman selama fase akut dan penyembuhan. Dengan tindakan ini akan membantu pasien untuk memunculkan komunikasi.

- Berikan lingkungan

Mengurangi kelelahan,

tersetruktur rapi, nyaman kejenuhan dan dan buat jadwal untuk klien jika mungkin dan tinjau kembali. memberikan kesempatan untuk tidur REM (ketidakadaan tidur REM ini dapat meningkatkan gangguan persepsi sensori). - Gunakan penerangan siang atau malam. Memberikan perasaan normal tentang perubahan waktu dan pola tidur. - Kolaborasi pada ahli fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara dan terapi kognitif. Pendekatan antar disiplin ilmu dapat menciptakan rencana panatalaksanaan terintegrasi yang berfokus pada masalah klien Gangguan mobilitas fisik b/d spastisitas kontraktur, kerusakan saraf motorik. Pasien dapat melakukan mobilitas fisik setelah mendapat perawatan dengan KH : tidak adanya kontraktur, footdrop. Ada peningkatan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit. Mampu mendemonstrasikan aktivitas yang memungkinkan - Pertahankan kesejajaran tubuh secara fungsional, seperti bokong, kaki, tangan. Pantau selama penempatan alat atau tanda penekanan dari Penggunaan sepatu tenis hak tinggi dapat membantu mencegah footdrop, penggunaan bantal, gulungan alas tidur dan bantal pasir dapat - Periksa kembali secara fungsional pada kerusakan yang terjadi. Mengidentifikasi fungsional dan mempengaruhi pilihan intervensi yang akan dilakukan.

kemampuan dan keadaan kerusakan secara

dilakukannya

alat tersebut.

membantu mencegah terjadinya abnormal pada bokong.

- Berikan/ bantu untuk latihan rentang gerak

Mempertahankan mobilitas dan fungsi sendi/ posisi normal ekstrimitas dan menurunkan terjadinya vena statis.

- Bantu pasien dalam program latihan dan penggunaan alat mobilisasi. Tingkatkan aktivitas dan partisipasi dalam merawat diri sendiri sesuai kemampuan.

Proses penyembuhan yang lambat seringakli menyertai trauma kepala dan pemulihan fisik merupakan bagian yang sangat penting. Keterlibatan pasien dalam program latihan sangat penting untuk meningkatkan kerja sama atau keberhasilan program. Cara pertama untuk menghindari nosokomial infeksi.

Resiko tinggi infeksi b/ d jaringan trauma, kerusakan kulit kepala.

Tidak terjadi infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam dengan KH : Bebas tanda- tanda infeksi Mencapai penyembuhan luka tepat waktu

- Berikan perawatan aseptik dan antiseptik, pertahankan teknik cuci tangan yang baik. - Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan, daerah yang terpasang alat invasi, catat karakteristik

Deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap

drainase dan adanya inflamasi.

komplikasi selanjutnya. Menurunkan pemajanan

- Batasi pengunjung yang atau cegah pengunjung yang mengalami infeksi saluran nafas atas.

terhadap pembawa kuman

dapat menularkan infeksi infeksi.

Terapi profilaktik dapat - Kolaborasi pemberian atibiotik sesuai indikasi. digunakan pada pasien yang mengalami trauma, kebocoran LCS atau setelah dilakukan pembedahan untuk menurunkan resiko terjadinya infeksi nosokomial.

Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/ d haluaran urine dan elektrolit meningkat.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam ganguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat teratasi dengan KH : Menunjukan membran

- Kaji tanda klinis dehidrasi atau kelebihan cairan.

Deteksi dini dan intervensi dapat mencegah kekurangan / kelebihan fluktuasi keseimbangan cairan. Kehilangan urinarius dapat menunjukan terjadinya dehidrasi dan berat jenis urine adalah indikator hidrasi dan fungsi renal.

mukosa lembab, tanda vital - Catat masukan dan normal haluaran urine adekuat dan bebas oedema. haluaran, hitung keseimbangan cairan, ukur berat jenis urine.

- Berikan air tambahan/

Dengan formula kalori

bilas selang sesuai indikasi

lebih tinggi, tambahan air diperlukan untuk mencegah dehidrasi.

- Kolaborasi pemeriksaan Ht dan albumin serum.

Hipokalimia/ fofatemia perpindahan intraselluler selama pemberian makan awal dan menurunkan fungsi jantung bila tidak diatasi.

lab. kalium/fosfor serum, dapat terjadi karena

Gangguan kebutuhan nutrisi b/ d kelemahan otot untuk menguyah dan menelan

Pasien tidak mengalami gangguan nutrisi setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam dengan KH : Tidak mengalami tandatanda mal nutrisi dengan nilai lab. Dalam rentang normal. Peningkatan berat badan sesuai tujuan.

- Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah dan menelan, batuk dan mengatasi sekresi. - Auskultasi bising usus, catat adanya penurunan/ hilangnya atau suara hiperaktif.

Faktor ini menentukan terhadap jenis makanan sehingga pasien harus terlindung dari aspirasi. Fungsi bising usus pada umumnya tetap baik pada kasus cidera kepala. Jadi bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau berkembangnya komplikasi seperti paralitik ileus.

- Jaga keamanan saat pasien, seperti meninggikan kepala

Menurunkan regurgitasi

memberikan makan pada dan terjadinya aspirasi.

selama makan atatu selama pemberian makan lewat NGT. - Berikan makan dalam porsi kecil dan sering dengan teratur. Meningkatkan proses pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan dapat meningkatkan kerjasama pasien saat makan. - Kaji feses, cairan lambung, muntah darah. Perdarahan subakut/ akut dapat terjadi dan perlu intervensi dan metode alternatif pemberian makan. - Kolaborasi dengan ahli gizi. Gangguan nafas obstruksi trakeobronkial, neurovaskuler, kerusakan medula oblongata. b/ pola Tidak terjadi gangguan pola d nafas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x 24 jam dengan KH : Memperlihatkan pola nafas normal/ efektif, bebas sianosis dengan GDA dalam batas normal pasien. - Angkat kepala tempat tidur sesuai aturan posisi - Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernafasan. Catat ketidakteraturan pernafasan. Metode yang efektif untuk memberikan kebutuhan kalori. Perubahan dapat menunjukan komplikasi pulmonal atau menandakan lokasi/ luasnya keterlibatan otak. Pernafasan lambat, periode apneu dapat menendakan perlunya ventilasi mekanis. Untuk memudahkan ekspansi paru dan

miring sesuai indikasi.

menjegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas.

- Anjurkan pasien untuk latihan nafas dalam yang efektif jika pasien sadar. - Auskultasi suara nafas. Perhatikan daerah hipoventilasi dan adanya suara- suara tambahan yang tidak normal. (krekels, ronki dan whiszing).

Mencegah/ menurunkan atelektasis.

Untuk mengidentifikasi adanya masalah paru seperti atelektasis, kongesti atau obstruksi jalan nafas yang membahayakan oksigenasi serebral atau menandakan adanya infeksi paru (umumnya merupakan komplikasi pada cidera kepala).

- Kolaborasi untuk pemeriksaan AGD, tekanan oksimetri.

Menentukan kecukupan oksigen, keseimbangan asam-basa dan kebutuhan akan terapi.

- Berikan oksiegen sesuai indikasi.

Mencegah hipoksia, jika pusat pernafasan tertekan. Biasanya dengan mnggunakan ventilator mekanis