Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya

sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah yang berjudul Bahan Tanam ini tepat pada waktunya. Makalah ini berisikan tentang informasi Bahan Tanam atau yang lebih khususnya membahas secara rinci tentang Bahan Tanam itu sendiri. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang apa itu yang dimaksud Bahan Tanam Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan Makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan Makalah ini dari awal hinggai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Malang , Maret 2013 Penyusun

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peradaban manusia sejak zaman kuno hingga kini selalu tergantung terhadap lingkungan.Keperluan akan makanan senantiasa menjadi masalah yang tak ada putusnya.kurang pangan seolah-olah sudah merupakan persoalan yang akrab dengan manusia,yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan.Sadar atau tidak baik primitive atau supermodren manusianya,ia pasti memerlukan bahan makanan untuk menyambung hidup.Namun probema bahan panagn tak hentihentinya mengendala,yang pada gilirannya memaksa manusia memikirkan cara terbaik untuk dapat memanfaatkan lingkungan untuk mengatasi masalah tersebut.Pemikiran seperti itu pada hakekatnya dimulai ketika fajar pertanian terbit,yang diharapkan akan mampu menerangi beban kehidupan pangan yang begitu sarat. Pada mulanya tindakan agronomi manusia berawal dari berburu dan mengumpulkan hasil hutan untuk dimakan.mereka berpindah-pindah tempat,hanya mengandalkan naluri yang purbais.Dari zaman ke zaman,teknologi purba yang demikian terus mengalami perkembangan hingga menjelma suatu ilmu yang disebut agronomi. Ilmu agronomi merupakan ilmu yang mempelajari cara pengolahan tanaman pertanian guna memperoleh produksi yang maksimum.Dalam agronomi salah satunya juga membahas tentang bahan tanam,dimana bahan tanam merupakan syarat yang paling utama untuk menanam atau membudidayakan suatu tanaman yang dikehendaki,agar mencapai kualitas dan hasil yang memuaskan. 1.2 Manfaat Kita dapat memperoleh hasil yang memuaskan bila kita mengetahui kualitas dari bahan tanam yang kita tanam,apabila bahan tanam yang akan kita tanam memiliki persiapan yang bagus maka kecil kemungkinan untuk mengalami resiko terhadap lingkungan sekitarnya yang akan dihadapinya .

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Defenisi Bahan Tanam Bahan tanam merupakan bagian tumbuhan yang ditanam, berupa biji, potongan batang (setek), atau belahan rumpun. Bagian tanaman yang dapat dijadikan bahan tanaman tergantung pada jenis tanamannya dapat berupa daun, ranting, cabang, batang, akar, rhizome, umbi, buah dan biji. Bahkan dengan teknologi tinggi jaringan tanaman bagian manapun dapat digunakan sebagai bahan tanaman. Semua organ tanaman dapat digunakan sebagai bahan tanam, namun harus efisien, tersedia dan berpotensi produksi tinggi. Bahan Tanam sangat menentukan produktifitas tanaman (+ > 50 %) baik kuantitas/kualitas sifat genetis dan daya tumbuh yang baik . bahan tanam dapat dibedakan menjadi dua yaitu benih dan bibit. Dalam hal ini kami lebih menekankan pada pembahasan mengenai bibit . 2.2 Bahan Tanam yang Baik Varietas tanaman yang baik sesuai keinginan petani dapat dirakit dengan menetapkan metode-metode pemuliaan tanaman.Benih ungggul yang di peroleh dari varietas hasil pemuliaan tanaman di sebut dengan benih penjenis,misalnya klon,galur-galur murni,atau varietas hibrida. Benih unggul adalah benih murni dari suatu varietas, berukuran penuh dan seragam, daya kecambah di atas 80% dengan bibit yang tumbuh kekar, bebas dari biji gulma, penyakit, hama, atau bahan lain. Benih seyogianya diberi label secara tepat. Untuk memperoleh benih bermutu, belilah benih bersertifikat yang murni dan berlabel, atau benih bermutu yang diproduksi petani, atau pilih sendiri dari pertanaman Anda. Setelah panen, bersihkan benih dan pilih yang berisi penuh dan seragam. Keringkan benih sampai kandungan airnya 12-14%, lalu simpan dalam karung atau kontainer secara kedap udara sampai musim tanam berikutnya (kualitas benih dapat bertahan setahun bila disimpan secara tepat). Benih yang disimpan tanpa

kedap udara akan meningkat kadar airnya dan menurun daya tumbuhnya sejalan dengan waktu. Sepuluh Langkah untuk Memproduksi Benih 1. Pilih lahan yang subur. 2. Gunakan benih bermutu yang bersih dan bernas. 3. Olah tanah secara baik untuk mengendalikan gulma dan memperbaiki pengelolaan air. 4. Dalam cara tanam pindah, tanam bibit muda (15- 20 hari) dari persemaian yang bebas gulma dengan jarak tanam 22,5 x 22,5 cm. 5. Pakai pupuk N, P, K, S sesuai dengan kebutuhan tanaman. 6. Jaga agar pertanaman bebas gulma, hama, dan penyakit. 7. Pada saat anakan maksimum dan pembungaan, sisihkan tanaman yang offtype yang terlihat dari tinggi tanaman, waktu berbunga, dan keragaannya yang berbeda; sisihkan juga tanaman yang terserang hama/penyakit serta malai yang berubah warna. 8. Lakukan panen pada saat tanaman matang penuh (80-85% gabah berwarna seperti jerami). 9. Rontok, bersihkan, keringkan, dan beri label benih yang dipanen. 10. Simpan benih yang diberi label dalam container bersih yang tertutup dalam ruangan yang sejuk, kering, dan bersih. 2.3 Bibit berkualitas Bibit merupakan bahan tanam yang berasal dari bagian vegetative tanaman hidup. Bibit juga bisa berarti benih yang ditumbuhkan dulu sampai tingkat tertentu yang kemudian digunakan sebagai bahan tanam. Kelebihan penggunaan bibit : Mudah (diperoleh & digunakan) Sifat sama dengan induknya & cepat produksi Kelemahan penggunaan bibit Bibit stek, cangkok tidak mempunyai akar tunggang Sulit dalam distribusi/pengangkutan Untuk meminimalkan resiko kegagalan, maka sebaiknya harus dicermati

Karakteristik bibit yang prima, berkualitas dan cukup usianya dengan ciriciri sebagai berikut : Tumbuh subur dan normal sesuai dengan usia bibit seharusnya. Memiliki batang kokoh dengan percabangan tumbuh merata. Daun rimbun, berwarna hijau, tidak mengalami cacat akibat serangan hama dan penyakit. Perakaran tanaman tumbuh cukup rimbun dan tidak keluar dari media tanamnya. Batang atas dan batang bawah memliki ukuran seimbang. Setelah mengetahui ciri bibit yang berkualitas, tantangan berikutnya yang harus dihadapi dalam memulai tanaman buah dalam pot adalah darimana memperoleh bibit yang berkualitas. Meskipun bibit tanaman buah mudah diperoleh dari pedagang pinggir jalan atau di toko pertanian dan pameran pertanian, namun bibit-bibit yang diperoleh tidak terjamin kualitasnya. Bahkan, terkadang mengecewakan pembelinya. 2.4 Pembiakan Vegetatif Pembiakan vegetative merupakan prose salami, pada tanaman lain sedikit banyak dapat dilakukan secara buatan. Dalam pembiakan vegetative (aseksual) merupakan dasar dari pembikan vegetative yang memungkinkan tanamantanaman memuliakan dirinya dengan regenerasi jaringan-jaringan dari bagianbagian tanaman yang hilang. Pada pembiakan vegetatif ini , bagngian-bagian tanaman yang digunakan adalah cabang/batang, pucuk, daun, umbi dan akar yang dapat dilakukan dengan cara stek, cangkok, akulasi, rundukan dan kultur jaringan Keuntungan-keuntungan pembiakan vegetative antara lain adalah bahan-bahan heterozigot dapat dilestarikan tanpa pengubahan pembiakan vegetative lebih baik dibandingkan pembiakan secara generative. Karena pada pembiakan vegetative satu tumbuhan induk dapat menghasilkan beberapa individu baru dalam waktu yang cukup singkat, banyak tanaman yang dikembangkan secara vegetative dapat melestarikan sifat hasil yang dimiliki oleh tanaman induk.

2.5

Mengenali Bibit Vegetatif Proses perbanyakan vegetatif hampir pasti meninggalkan ciri khusus pada

bibit yang dapat dikenali diantaranya :


-

Bibit okulasi memiliki bekas tempelan mata tunas dibagian batang, bekas pemangkasan di atas bidang okulasi dan posisi batang menyerong pada bagian atas.

Bibit berasal dari sambung pucuk memiliki bekas luka berbentuk V pada bagian batang pokok. Bibit sambung susu pada bagian batang pokok terdapat bekas pertautan. Bibit cangkokan memiliki batang kekar, percabangan muncul dari tanah, dan diameter batang besar tidak seimbang dengan tinggi tanaman.

Sebab-sebab dilakukan perkembangbiakan vegetative:


-

Karena banyak tanaman yang tidak mempunyai sifat sebaik induknya bila dilakukan pembiakan secara generatif/menggunakan biji; ada perubahan pada mutunya.

Karena tanaman tidak menghasilkan biji atau hanya sedikit menghasilkan biji. Pembiakan vegetative tanaman dapat terjadi secara alamiah atau dibuat

oleh manusia. Secara alamiah perkembangan terjadi melalui pembelahan sel, spora, tunas, rhizome dan geragih sedangkan pembiakan vegetative buatan dimanfaatkan melalui cara stek, cangkok, akulasi dan menyambung. 2.6 Pembiakan Vegetatif Buatan 1. Rundukan Pembiakan vegetative dengan cara merunduk, sering juga disebut dengan cangkok tanah, cangkok runduk, atau memumbun. Memang pada prisipnya cara merunduk ini sama dengan mencangkok, karena keduanya sama-sama memerlukan media guna menumbuhkan akar pada cabang, tapi merundukkan tidak membuntukkan akarpada cabang, tetapi merunduhkan tidak membutuhkan pembungkus. Merunduk ini dilakukan pada tanaman-tanaman yang sulit untuk distek, misalnya pada apel liar untuk batang bawah sedangkan kita ingin perbanyak

tanaman itu dengan cepat dan dalam julah yang besar. Caranya ialah batang tanaman itu dirundukkan (Dibengkokkan) mendatar ketanah dan ditumbuhi tanah tipis. Setelah mata pada tiap-tiap ruas itu tumbuh dan tunas-tunasnya berakar, barulah batang itu dipotong untuk ditanam. Cara ini adalah sangat mudah dikerjakan dan tidak banyak memerlukan tenaga, sedangkan hasilnya pun tinggi (Hendro s., 1995). Tanaman yang dapat dikembangbiakan secara merunduk jenisnya sangat sedikit. Jenis tanaman yang mempunyai cabang panjang dan lentur yang umumnya bias dirundukkan. Tanpa disengaja tanaman seperti ini kadang-kadang juga dapat melakukan pembiakan vegetative sendiri atau sering juga disebut rundukan secara alamiah. Karena bagian tepi atau ujung cabang yang terkulai cenderung berakar bila bersetuhan dengan tanah (Wudianto, 2002) 2. Bagian-Stek (Cutting) Perbanyakan secara stek akan diperoleh tanaman yang baru yang sifatnya seperti induknya. Stek dengan kekuatan sendiri akan menumbuhkan akar dan daun sampai dapat menjadi tanaman yang sempurna dan menghasilkan bunga dan buah (Wudianto, 2002). 3. Stek akar Stek akar banyak yang digunakan pada tanaman perkebunan. Bagian akar yang kita ambil adalah cabang akar yang tidak jauh dari akar tunggang dan berasal dari tanaman yang berdaun banyak. Hal ini dimaksudkan agar akar yang digunakan mempunyai persiapan-persiapan karbohidrat, protein dan lemak sebagai cadangan makanan dari hasil fotosintesis dan sebagai sumber energy untuk pembentuk akar baru (Hardjadi, 1996). 4. Stek batang Batang yang dipilih untuk stek batang adalah biasanya mempunyai umur kurang lebih satu tahun. Cabang yang terlalu tua tentunya kurang baik untuk distek karena sulit untuk membentuk akar sehingga memerlukan waktu lama, sedangkan cabang terlalu muda (tekstur lunak) proses penguapan sangat cepat sehingga stek menjadi lemak dan akhirnya mati (Rukmana, 1996). Stek batang adalah stek yang menggunakan bagian dari batang tanaman, sebagian orang menyebutkan dengan stek cabang. Umumnya tanaman yang

dikembangbiakan dengan stek cabang adalah tanaman berkayu. stek cabang ini meliputi stek cabang yang telah tua dan cabang yang setengah tua (Wudianto 2002). 5. Okulasi (Budding) Okulasi sering juga disebut dengan menempel, Oculatie (Belanda) atau Budding (Inggris). Cara memperbanyak tanaman dengan okulasi mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan stek dan cangkok. Kelebihannya adalah hasil okulasi mempunyai mutu lebih baik dari pada induknya. Bisa dikatakan demikian karena okulasi dilakukan pada tanaman yang mempunyai perakartan yang baik dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit dipadukan dengan tanaman yang mempunyai rasa buah yang lezat, tetapi mempunyai perakaran kurang baik. Tanaman yang mempunyai perakaran baik digunakan sebagai batang bawah. Sedangkan tanaman yang mempunyai buah lezat diambil mata tunasnya untuk ditempelkan pada batang bawah dikenal dengan sebutan batang atas. Beberapa kelebihan dari perbanyakan tanaman dengan cara okulasi yaitu : Dengan cara diokulasi dapat diperoleh tanaman yang dengan produktifitas yang tinggi. Pertumbuhan tanaman yang seragam. Penyiapan benih relatif singkat. Pada musim gugur daun pada tanaman karet daun yang gugur dari satu klon agar serentak pada waktu tertentu, dengan demikian akan memudahkan pengendalian penyakit Oidium hevea bila terjadi. Kelemahan dari perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cara okulasi yaitu : terkadang suatu tanaman hasil okulasi ada yang kurang normal terjadi karena tidak adanya keserasian antara batang bawah dengan batang atas (entres) perlu menggunakan tenaga ahli untuk pengokulasian ini. Bila salah satu syarat dalam kegiatan pengokulasian tidak terpenuhi kemngkinan gagal atau mata entres tidak tumbuh sangat besar.

6. Sambung pucuk(Grafting) Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satutanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock. Bagian tanaman yang disambungkan atau disebut batang atas (scion) dan merupakan sepotong batang yang mempunyai lebih dari satu mata tunas (entres), baik itu berupa tunas pucuk atau tunas samping. Penyambungan batang bawah dan batang atas ini biasanya dilakukan antara dua varietas tanaman yang masih dalam spesies yang sama. Misalnya penyambungan antar varietas pada tanaman durian. Kadang-kadang bisa juga dilakukan penyambungan antara dua tanaman yang berlainan spesiesnya tetapi masih dalam satu famili. Tanaman mangga (Mangifera indica) disambung denga tanaman kweni (Mangifera odorata). Tipe sambungan jika ditinjau dari bagian batang bawah yang disambung: 7. Sambung pucuk (top grafting) Sambung pucuk merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian atas atau pucuk dari batang bawah. Caranya sebagai berikut: Memilih batang bawah yang diameter batangnya disesuaikan dengan besarnya batang atas. Tanaman durian, belimbing dan sirsak sudah bisa disambung bila besarnya batang bawah sudah sebesar ujung pangkal lidi. Alpukat, manggis dan mangga disambung bila batangnya sudah sebesar pensil. Umur batang bawah pada keadaan siap sambung ini bervariasi antara 1-24 bulan, tergantung jenis tanamannya. Untuk durian umur 3-4 bulan, mangga dan alpukat umur 3-6 bulan. Manggis pada umur 24 bulan baru bisa disambung karena sifat pertumbuhannya lambat. Batang bawah dipotong setinggi 20-25 cm di atas permukaan tanah. Gunakan silet, pisau okulasi atau gunting setek yang tajam agar bentuk

irisan menjadi rapi. Batang bawah kemudian dibelah membujur sedalam 22,5 cm. Batang atas yang sudah disiapkan dipotong, sehingga panjangnya antara 7,5-10 cm. bagian pangkal disayat pada kedua sisinya sepanjang 2-2,5 cm, sehingga bentuk irisannya seperti mata kampak. Selanjutnya batang atas dimasukkan ke dalam belahan batang bawah. Pengikatan dengan tali plastikyang terbuat dari kantong plastik kg selebar 1 cm. Kantong plastik ini ditarik pelan-pelan, sehingga panjangnya menjadi 2-3 kali panjang semula.Terbentuklah pita plastik yang tipis dan lemas. Pada waktu memasukkan entres ke belahan batang bawah perlu diperhatikan agar kambium entres bisa bersentuhan dengan kambium batang bawah. Sambungan kemudian disungkup dengan kantong plastik bening.Agar sungkup plastik tidak lepas bagian bawahnya perlu diikat.Tujuan penyungkupan ini untuk mengurangi penguapan dan menjaga kelembaban udara di sekitar sambungan agar tetap tinggi. Tanaman sambungan kemudian ditempatkan di bawah naungan agar terlindung dari panasnya sinar matahari. Biasanya 2-3 minggu kemudian sambungan yang berhasil akan tumbuh tunas. Sambungan yang gagal akan berwarna hitam dan kering. Pada saat ini sungkup plastiknya sudah bisa dibuka.Namun, pita pengikat sambungan baru boleh dibuka 3-4 minggu kemudian. Untuk selanjutnya kita tinggal merawat sampai bibit siap dipindah ke kebun. 2. Sambung samping (side grafting) Pada dasarnya, pelaksanaan sambung samping sama seperti pelaksanaan model sambung pucuk. Sambung samping merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian samping batang bawah. Caranya sebagai berikut: Batang bawah dipilih yang baik. Ukuran batang atas tidak perlu sama dengan batang bawah, bahkan lebih baik dibuat lebih kecil. Pada batang bawah dibuat irisan belah dengan mengupas bagian kulit tanpa mengenai kayu atau dapat juga dengan sedikit menembus bagian kayunya. Irisan kulit batang bawah dibiarkan atau tidak dipotong.

Batang atas dibuat irisan meruncing pada kedua sisinya. Sisi irisan yang menempel pada batang bawah dibuat lebih panjang menyesuaikan irisan di batang bawah dari sisi luarnya.

Batang atas tersebut disisipkan pada irisan belah dari batang bawah. Dengan demikian, batang bawah dan batang atas akan saling berhimpitan. Kedua lapisan kambium harus diusahakan agar saling bersentuhan dan bertaut bersama.

Setelah selesai disambungkan, sambungan tersebut diikat dengan tali plastik. Untuk menjaga agar tidak terkontaminasi atau mengering, sambungan dan batang atas ditutup dengan kantong plastik.

Setelah batang atas menunjukkan pertumbuhan tunas, kurang lebih 2 minggu setelah penyambungan, kantong plastik serta tali plastik bagian atas sambungan dibuka lebih dulu, sedangkan tali plastik yang mengikat langsung tempelan batang atas dan kulit batang bawah dibiarkan, sampai tautan sambungan cukup kuat. Bilamana sudah dipastikan bahwa batang atas dapat tumbuh dengan baik,

bagian batang bawah di atas sambungan dipotong. Pemotongan perlu dilakukan supaya tidak terjadi kompetisi kebutuhan zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan lanjutan dari batang Setelah memperoleh bibit yang sesuai kriteria, maka langkah selanjutnya adalah menaruhnya di tempat yang sejuk. Bibit juga memerlukan waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan iklim lingkungan barunya.

BAB VI KESIMPULAN Semua organ tanaman dapat digunakan sebagai bahan tanam, namun harus efisien, tersedia dan berpotensi produksi tinggi. Bahan Tanam sangat menentukan produktifitas tanaman (+ > 50 %) baik kuantitas/kualitas sifat genetis dan daya tumbuh yang baik . bahan tanam dapat dibedakan menjadi dua yaitu benih dan bibit. Dalam hal ini kami lebih menekankan pada pembahasan mengenai bibit. Bahan tanam yang baik itu bisa di dapat melalui: 1. Benih unggul Varietas tanaman yang baik sesuai keinginan petani dapat dirakit dengan menetapkan metode-metode pemuliaan tanaman.Benih ungggul yang di peroleh dari varietas hasil pemuliaan tanaman di sebut dengan benih penjenis,misalnya klon,galur-galur murni,atau varietas hibrida. 2. Bibit berkualitas Bibit merupakan bahan tanam yang berasal dari bagian vegetative tanaman hidup. Bibit juga bisa berarti benih yang ditumbuhkan dulu sampai tingkat tertentu yang kemudian digunakan sebagai bahan tanam Pembiakan vegetative merupakan prose salami, pada tanaman lain sedikit banyak dapat dilakukan secara buatan. Dalam pembiakan vegetative (aseksual) merupakan dasar dari pembikan vegetative yang memungkinkan tanamantanaman memuliakan dirinya dengan regenerasi jaringan-jaringan dari bagianbagian tanaman yang hilang. Keuntungan-keuntungan pembiakan vegetative antara lain adalah bahanbahan heterozigot dapat dilestarikan tanpa pengubahan pembiakan vegetative lebih baik dibandingkan pembiakan secara generative. Karena pada pembiakan vegetative satu tumbuhan induk dapat menghasilkan beberapa individu baru dalam waktu yang cukup singkat, banyak tanaman yang dikembangkan secara vegetative dapat melestarikan sifat hasil yang dimiliki oleh tanaman induk

DAFTAR PUSTAKA Basri Jumin, 1998. Dasar-dasar agronomi. Rajawali Press, Jakarta. Hendro sunaryono, 1995. Pengantar Pengetahui dasar Hortikultura. Penerbit sinar baru, Bandung. http://k4107078.wordpress.com/2008/03/18/perkembangbiakan-vegetatif/ http:// www.worldagroforestry.org/ Sea/ Publications/ Files/ book/ BK0094-06/ BK 0094-06-1.PDF http://id.wikipedia.org/wiki/Benih Pracaya, 1996. Bertanam Mangga. Penebar Swadaya, Jakarta. Setyati Hardjadi, 1995. Pengantar agronomi, PT. Gramedia, Jakarta. Saptarani, Eti Widayanti dan Lila Sari, 1999. Cara Bercocok Tanaman Secara Vegetatif. Sinar Mas, Jakarta. Rini Wudianto, 1996. Membuat Setek, Cangkok dan okulasi. PT. Penebar Swadaya, Jakarta. Rahmat Rumana, 1996. Bertanam Sayuran. Kanisius, Yogyakarta. Raharja, P.C. dan Wahyu Wiryanta, 2003. Aneka Cara Memperbanyak Tanaman. Penerbit PT. Agro Media Pustaka. Depok.

MAKALAH DASAR BUDIDAYA TANAMAN BAHAN TANAM

OLEH : GALIH SATRIA SAKTI NIM KELAS : 125040200111123 :G

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013