Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS

TUMOR TONSIL

Pembimbing : Dr. Maranatha Lumban Batu, Sp.THT-KL

Disusun Oleh : Amelia Kristin Simanjuntak 0761050103

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN-BEDAH KEPALA LEHER PERIODE 26 SEPTEMBER 2011 - 22 OKTOBER 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA RUMAH SAKIT MARDI WALUYO METRO LAMPUNG 2011

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia dan rahmatNya saya dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Tumor Tonsil. Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. Saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua Dosen pembimbing di bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia dan Dosen Pembimbing di bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher di RS Mardi Waluyo Metro Lampung, dr.Maranatha Lumban Batu, Sp.THT-KL. Semoga Laporant ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Tuhan memberkati.

Lampung, 18 Oktober 2011

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I 1.1 PENDAHULUAN .. BAB II 2.1 Anatomi Hidung ................ 2.1.1 Perdarahan ........................... 2.1.2 Persarafan .......... 2.2 Histologi Hidung ........................ 2.2. 1 Mukosa Hidung ................. 2.2.2 Silia ........................... 2.2. 3 Area Olfaktorius ................. 2.3 Fisiologi Hidung ............. 2.3. 1 Fungsi Respirasi ................. 2.3.2 Fungsi Penghidu ......... 2.3. 3 Fungsi Fonetik .................. 2.3.4 Refleks Nasal ............ 2.4 Definisi ........... 2.5 Etiologi ...................... 2.6 Faktor Resiko ......................... 2.7 Gejala Klinis .............................. 2.8 Pemeriksaan Penunjang .......................... 2.9 Staging ........................................ 2.10 Tatalaksana ............................................ 2 5 6 6 6 8 9 9 10 11 11 11 12 13 13 13 14 15 16 1

2.11 Prognosis ........................................ 16 BAB III LAPORAN KASUS ....... BAB IV ANALISA KASUS ....... BAB V KESIMPULAN .............. DAFTAR PUSTAKA ...... 32 33 30 17

BAB I

PENDAHULUAN
Kanker tonsil muncul di ororfaring ( daerah di belakang mulut ) merupakan kanker yang jarang terjadi, hanya terjadi 1% dari semua jenis kanker yang terjadi dalam setiap tahun. Walaupun jarang terjadi, angka mortaliti dari kanker tonsil sangat tinggi. Dari sekitar 8000 kasus kanker tonsil yang terjadi setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar 3000 (sekitar 40%) terbukti fatal.

Faktor resiko paling sering dari kanker tonsil adalah tembakau, biasa dari mengkonsumsi rokok maupun mengkonsumsi tembakau secara langsung. Angka kejadian kanker tonsil meningkat pada pasien yang mengkonsumsi tembakau. Penatalaksanaan kanker tonsil bergantung pada ukuran dan stage dari kanker.

Penatalaksanaan yang umumnya diberikan pada kanker tonsil adalah melalui kemoterapi, radioterapi serta tindakan pembedahan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II. 1 ANATOMI

Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal.1 Tonsil palatina adalah massa jaringan limfoid yang terletak didalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Palatoglosus mempunyai origo seperti kipas dipermukaan oral palatum mole dan berakhir pada sisi lateral lidah. Palatofaringeus merupakan otot yang tersusun vertikal dan diatas melekat pada palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak. Otot ini meluas kebawah sampai kedinding atas esofagus. Otot ini lebih penting daripada palatoglosus dan harus diperhatikan pada operasi tonsil agar tidak melukai otot ini. Kedua pilar bertemu diatas untuk bergabung dengan palatum mole. Di inferior akan berpisah dan memasuki jaringan pada dasar lidah dan lateral dinding faring. 1

Gambar 1: Tonsil dan adenoid, penampang anterior dan sagital 2

Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas kedalam jaringan tonsil. Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilaris. Bagian luar tonsil terikat longgar pada muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali makan. 1,2,3

Walaupun tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih tonsil dapat meluas kearah nasofaring sehingga dapat menimbulkan insufisiensi velofaring atau obstruksi hidung walau jarang ditemukan. Arah perkembangan tonsil tersering adalah kearah hipofaring, sehingga sering menyebabkan sering terjaganya anak saat tidur karena gangguan pada jalan nafas. Secara mikroskopik mengandung 3 unsur utama yaitu: 1 Jaringan ikat/trabekula sebagai rangka penunjang pembuluh darah, saraf, dan limfa Folikel germinativum dan sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda dan Jaringan interfolikuler yang terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagai stadium.

Struktur histologi tonsil sesuai dengan fungsinya sebagai organ imunologi. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limposit yang sudah disentisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu: 1 Menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif Sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

Gambar 2: Anatomi tonsil 2

Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh: 2,3 Lateral muskulus konstriktor faring superior Anterior muskulus palatoglosus Posterior muskulus palatofaringeus Superior palatum mole Inferior tonsil lingual

Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik difus. Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme pertahanan tubuh yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik. Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan pusat germinal. 1

2. 1. 1. PERDARAHAN Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri karotis eksterna, yaitu:1 Arteri maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteri tonsilaris dan arteri palatina asenden; Arteri maksilaris interna dengan cabangnya arteri palatina desenden; Arteri lingualis dengan cabangnya arteri lingualis dorsal; Arteri faringeal asenden. Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh arteri lingualis dorsal dan bagian posterior oleh arteri palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh arteri tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh arteri faringeal asenden dan arteri palatina desenden. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah dan pleksus faringeal serta akan menuju vena jugularis interna. 1,2

2. 1. 2. ALIRAN GETAH BENING Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada. Eferen limfatik mengalir langsung ke kelenjar jugulodigastric dan node nimfa serviks atas dalam dan secara tidak langsung melalui kelenjar getah bening retropharyngeal 1

2. 1. 3. PERSARAFAN Persarafan tonsil didapat dari serabut saraf trigeminus (saraf maksilaris ) dan saraf glosofaringeus. 1

2. 1. 4. IMUNOLOGI TONSIL Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. Limfosit B membentuk kira-kira 50-60% dari limfosit tonsilar. Sedangkan limfosit T pada tonsil adalah 40% dan 3% lagi adalah sel plasma yang matang. Limfosit B berproliferasi di pusat germinal. Immunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD), komponen komplemen, interferon, lisozim dan sitokin berakumulasi di jaringan tonsilar. Sel limfoid yang immunoreaktif pada tonsil dijumpai pada 4 area yaitu epitel sel retikular, area ekstrafolikular, mantle zone pada folikel limfoid dan pusat germinal pada folikel limfoid. 1 Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.12,3

II. 2

FISIOLOGI TONSIL Fungsi tonsil yang sesungguhnya belum jelas diketahui tetapi ada beberapa teori yang dapat diterima antara lain : 2 Membentuk zat-zat anti dalam sel plasma pada waktu terjadi reaksi seluler. Mengadakan limfositosis dan limfositolisis. Menangkap dan menghancurkan benda-benda asing maupun mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan hidung.

II. 3

DEFINISI Kanker tonsil muncul di ororfaring ( daerah di belakang mulut ) merupakan kanker yang jarang terjadi, hanya terjadi 1% dari semua jenis kanker yang terjadi dalam setiap tahun. Walaupun jarang terjadi, angka mortaliti dari kanker tonsil sangat tinggi. Dari sekitar 8000 kasus kanker tonsil yang terjadi setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar 3000 (sekitar 40%) terbukti fatal. 4

II. 4

ETIOLOGI dan FAKTOR RESIKO Etiologi masih belum diketahui akan tetapi bila dilihat dari faktor resiko maka yang paling sering dari kanker tonsil adalah tembakau, biasa dari mengkonsumsi rokok maupun mengkonsumsi tembakau secara langsung. Angka kejadian kanker tonsil meningkat pada pasien yang mengkonsumsi tembakau. Pada pasien yang mengkonsumsi alkohol angka faktor resiko terjadinya kanker tonsil meningkat. Ketika ada kombinasi antara konsumsi alkohol dengan tembakau akan meningkatkan angka faktor resiko dari kanker tonsil dua kali lipat dibandingkan pasien yang mengkonsumsi hanya satu bahan baik alkohol saja ataupun tembakau saja. 4 Faktor resiko lainnya dari kanker tonsil adalah : 4 - AIDS dan penyakit sistem imun - Salah satu atau semua anggota keluarga yang memiliki riwayat kanker orofaring oral. - Menguyah Betalnu (populasi orang Indian) - Higienisasi mulut yang kurang - Plak prekanker (area merah atau putih dari fimitation pada mulut) - Sifilis Secara statistik, pria lebih sering menderita kanker tonsil dibandingkan dengan wanita dan warna Afrika memiliki faktor resiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan Ras kaukasia. Sebagai tambahan, orang dari ekonomi rendah memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker tonsil dibandingkan dengan orang yang ekonominya tinggi. 4

II. 5

GEJALA KLINIS Gejala utama dari kanker tonsil adalah nyeri tengorokan dan nyeri menjalar dari kanker tonsil sampai ke telinga. Sakit pada mulut yang tidak sembuh sembuh juga merupakan gejala dari kanker tonsil. 4 Gejala klinis lainnya dari kanker tonsil : 4 Perdarahan Susah mengunyah Susah berbicara Susah menelan Sakit yang menjalar ke telinga Sakit pada wajah, mata, dan pergerakan rahang Bengkak pada kelenjar limfe di leher

II. 6

MACAM-MACAM TUMOR TONSIL DAN HISTOPATOLOGISNYA Seperti pada rongga mulut, lesi prekanker dapat muncul di orofaring, tetapi dengan tingakat yang lebih rendah. Lesinya termasuk leukoplakia sekunder hingga hiperkeratosis dengan atau tanpa perubahan atipikal, eritroplasia, liken planus, dan mukositis nikotin. Pada daerah orofaring, palatumnya sering mengalami perubahan. 5

A. KARSINOMA SEL SKUAMOSA Lebih dari 80% tumor ganas dari daerah orofaring adalah karsinoma sel skuamosa. Dengan jelas terlihat, tumor ini dapat eksofitik dan berukuran besar ataupun ulseratif dan sangat infiltratif. Secara histologi, karsinoma sel skuamosa di klasifikasikan menjadi nonkeratinosis, keratinosis, verukosa, spindle cell, dan karsinoma adenoid skuamosa. 5

- Karsinoma nonkeratinosis dan keratinosis Karsinoma nonkeratinosis dapat berdiferensiasi baik maupun buruk. Karsinoma ini menyebar melalui submukosa dan memiliki margin pushing. Karsinoma ini berasal dari mukosa saluran napas yaituu dari endodermal. Karsinoma sel skuamosa keratinosis sering berasal dari jaringan ektodermal. Umumnya lesinya cenderung bersifat ulseratif dan fungating, jarang menyebar ke submukosa, dan memiliki margin infiltrating. Karakteristik karsinoma sel skuamosa keratinosis tidak mempengaruhi angka metastasis nodus limfe atau

kesembuhan dari pasien. Secara umum, derajat diferensiasi dan keratinisasi dari tumor primer kurang relevan dibandingkan dengan lokasi tumor, ukuran, stage, dan luasnya invasi dari karsinoma. 5

- Karsinoma verukosa Karsinoma verukosa jarang terjadi pada daerah orofaring dan lebih sering terjadi di rongga mulut. Karsinoma ini memiliki berbagai gambaran histologi dari karsinoma sel skuamosa yang berdiferensiasi sempurna. Dari gambaran histologi menunjukkan diferensiasi yang sempurna, epitel berkeratin, lipatan papilomatous. Pertumbuhannya biasanya lambat, dan menimbulkan sedikit gejala. Nodus limfe membesar karena respon inflamasi dan mungkin dapat menjadi metastasis tumor. Lesinya dapat mengikis permukaan dasarnya, termasuk tulang, tetapi tidak menyebar ke permukaan lainnya. Atypism serta mitosis sel jarang terjadi, dan oleh karena itu multipel biopsi biasanya diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Biopsi yang dalam menunjukkan invasi yang lebih dalam yang akan lebih membantu mendiagnosa; dengan memiliki gambaran patologis dari lesi secara klinis sangat bermanfaat untuk mengkolerasikan gambaran patologinya dengan gambaran patologi kliniknya. Penatalaksanaan yang paling bagus adalah eksisi melalu pembedahan. Radioterapi tidak direkomendasikan karena dilaporkan karsinoma dapat berubah menjadi anaplastik yang lebih agresif. 5

- Karsinoma spindle cell Gambaran histopatologi dari karsinoma sel spindel adalah adanya bentuk spindel pada sel mesenkim yang menyerupai anapastik sarkoma, denga berbagai bentuk sel skuamosa. Komponen epidemoidnya dapat diabaikan. Mikroskopik elektron memperlihatkan karsinoma sel spindel adalah bagian dari karsinoma sel skuamosa dan bukan tumor jaringan ikat. Tumor ini menyebar ke kelenjar limfe dan terapinya sama dengan terapi pada karsinoma sel skuamosa. 5

B. LESI LIMFOSITIK Banyak jaringan limfoid dari daerah orofaringeal kadang ikut berperan dalam transformasi tumor ganas. Lesi limfositik paling sering terjadi adalah limfoma, yang muncul terutama pada tonsil palatina dan mungkin juga muncul di bawah lidah. Limfoma dapat unifokal ataupun terjadi pada berbagai area. Lesinya besar dengan riwayat perjalanan penyakit yang singkat. Tumor ini tidak muncul sebagai lesi ulseratif. Biasanya, tonsilnya membesar. Pada berbagai kasus, seluruh tonsilnya mengalami penyakit yang sama, dan tidak ada bukti bahwa tonsil tersebut sehat. Limfoma pada tonsil serta pada bagian bawah lidah merupakan gejala pertama awal dari limfoma sistemik yang mana akan menyebar ke seluruh bagian tubuh. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat didiagnosa lebih awal dan hanya pada tonsil palatina ataupun bagian bawah tonsil dapat muncul atau penyakit ini hanya terbatas pada area orofaringeal dan servikal saja. 5

Neoplasma Karsinoma sel skuamosa Limfoma (non-Hodgkins) Limfoma (Hodgkins) Lainnya

Kasus (%) 72 14 2 12

Tabel 2.1 Insidensi tumor tonsil berdasarkan jenis tumor 5

II. 7

STAGING Stage tumor tonsil manurut TMN 5 Primary Tumor (T) Tx To T1 T2 T3 : tumor tiadk dapat dinilai : tidak ditemukan gambaran tumor

Tis : karsinooma in siu : diameter tumor 2 cm atau kurang : diameter tumor >2cm tetapi <4cm : diameter tumor >4cm

T4

: diameter tumor >4cm dengan penyebaran ke antrum, muskulus pteryoid, kuli, leher, serta akar lidah

Keterlibatan Nodul (N) Nx : kelenjar limfe tidak dapat dinilai No : tidak ditemukan gambaran perbesaran kelenjar limfe N1 : perbesaran nodus ipsilateral diameter <3cm N2 : perbesaran nodus ipsilateral diameter tidak lebih dari 6cm N2a : satu gejala klinis disertai perbesaran kelenjar diameter 3- 6cm N2b : berbagai gejala klinis disertai perbesaran kelenjar diameter tidak lebih dari 6cm N3 : ipsilateral nodus masif, nodus bilateral atau kontralateral N3a : nodus ipsilateral, diameter >6cm N3b : nodus bilateral (setiap bagian leher harus diberikan stage, misalnya N3b;kanan, N2a : kiri) N3c : nodus kontralateral

Jauh Metastasis (M) Mx : tidak dapat dinilai Mo : tidak jelas gambaran metastatis M1 : Metastasis luas seperti pad mata, kulit, pleura,kelenjar STAGE I STAGE II : T1N0M0 : T2N0M0

STAGE III : T3NOMO T1-T3, N1, MO STAGE IV : T4, N0 atau N1, M0 Tiap T, N2 atau N3, M0 T iap T, tiap N, M1

II. 8

TATALAKSANA Pada prinsipnya terdapat banyak macam tata laksana yang mungkin dilakukan : radioterapi, kemoterapi, dan pembedahan, atau kombinasi dari ketiga macam itu. Pilihan penatalaksanaan tergantung pada histologi, stadium tumor, dan keadaan umu pasien. 6

Radioterapi Pada tumor primer daerah leher, umumnya merupakan pilihan pertama. Tergantung pada stadium tumor, radiooterapi kadang-kadag dikombinasikan dengan kemoterapi. Hasilnya cukup baik, terutama pada karsinoma dengan stroma yang kaya limfosit (dibandingkan dengan karsinoma-nasofaring). Gejala sampingan pada radioterapi tidak ringan. Mukositis akut akibat penyinaran yang pada umumnya hampir selalu secara spontan menghilang, bisa menjadi begitu gawat, sehingga diperlukan pemberian makanan buatan sementara. Dengan dimatikannya kelenjar-kelenjar lendir dan liur yang berada di daerah penyinaran, keluhan mulut kering (xerostomi) tetap ada. Radioterapi eksternal diikuti dengan radioterapi internal pada tumor palatum molle, tumor tonsil dan dasar tonsil dapat merupakan alternatif yang baik. 6

Pembedahan Berupa reseksi tumor, sedapat mungkin dengan mengambil batas jaringan sehat yang luas (1,5cm). Hampir selalu dilakukan reseksi tumor primer sekaligus bersamaan dengan mengeluarkan kelenjar limfa leher. Di tempat reseksi timbul suatu luka cacat yang luas, yang umumnya tidak dapat ditutup secara primer. Oleh karena itu, digunakanlah jaringan dari tempat lain untuk menutup luka cacatnya. Untuk itu umumnya dipakai kulit yang diberi tangkai pembuluh darah atau dari potongan kulit berotot (misalnya, potongan myokutan dari muskulus pectoralis mayor). Demikianlah tindakan bedah dengan akibat fungsional dan kosmetik yang besar. Namun, sekarang dalam banyak kasus, dapa diperoleh hasil kosmetik dan fungsional yang cukup memuaskan. 6

Penatalaksanaan paliatif Ditujukan untuk menghilangkan gejala dan perbaikan atau mempertahankan fungsi. Kemoterapi dalam hal ini dapat digunakan.7 Kemoterapi melalui pemberian obat (bisa oral ataupun injeksi) berguna untuk membunuh sel kanker, dapat menyusutkan tumor yang merupakan prioritas dari tindakan pembedahan. Kemoterapi kanker tonsil biasanya menggunakan dua jenis

pengobatan : 5-flurouracil dan cisplatin. Dengan mengkonsumsi obat kombinasi, hasil pengobatannya mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan denga pengobatan dengan salah satu obat saja. Kemoterapi tidak sering digunakan sendiri pada penanganan kanker tonsil. Penelitian membuktikan, walaupun begitu kombinasi pengobatan kemoterapi dan radioterapi membantu dalam

penyembuhan kanker tonsil tingkat lanjut dengan menurunkan gejala klinis dari kanker tonsil. 7

II. 9

PROGNOSIS Karsinoma orofaring mempunyai derajat bertahan hdup kira-kira 40%. Mortalitas yang tinggi adalah akibat pasien sering terlambat berobat.7

BAB III LAPORAN KASUS

3. 1.

IDENTITAS Nama : Tn. E 176424 40 tahun Perempuan Islam GBI RT 01/RW 01, Sep. Surabaya 13 Oktober 2011

No. Rekam medik : Umur Jenis Kelamin Agama Alamat Tanggal masuk : : : : :

3. 2.

ANAMNESIS Anamneis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 13 Oktober 2011 Keluhan Utama : sakit menelan 1 bulan Keluhan Tambahan : Leher terasa kering, demam, benjolan paa lipatan paha

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit pasien mengeluh sakit menelan. Sakit menelan ini semakin lama semakin mengganggu pasien sampai membuat pasien tidak nafsu makan dan bila tidur pasien suka mengorok. Pasien sudah pernah berobat ke Puskesmas sebelumnya dan diberikan 3 jenis obat yaitu antibiotik, paracetamol dan obat penghilang nyeri akan tetapi keluhan tidak berkurang. Selain keluhan tersebut pasien juga mengeluh leher terasa kering dan juga demam serta ada benjolan pada paha. Demam yang dirasakan hilang timbul sejak 1 bulan juga. Benjolan pada lipatan paha awalnya dirasakan pasien 7 bulan sebelum masuk Rumah sakit di lipatan paha kanan dan kiri, akan tetapi sejak 3 bulan sebelum masuk Rumah Sakit benjolan di lipat paha kanan menghilang tetapi di lipat paha kiri masih ada. Besar benjolan berdiameter 2,5 cm dengan konsistensi kenyal dan mobile serta jumlah benjolan hanya satu.

Riwayat darah tinggi disangkal, riwayat kencing manis disangkal, riwayat asma disangkal, tidak ada riwayat alergi terhadap obat.

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien belum pernah menderita penyakit ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga : Dalam keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

Riwayat Kebiasaan Pribadi : Pasien suka mengkonsumsi makanan yang panas dan minuman yang dingin.

3. 3.

PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi napas Suhu : Tampak sakit sedang : Compos mentis : 110/70 mmHg : 72 kali/menit : 20 kali/menit : 37,8 c

Kepala Mata Thoraks Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi

: Normocephali : Konjungtiva anemis +/+, sklera tidak ikterik

: Pergerakan dinding dada simetris kanan = kiri : Vokal fremitus simetris kanan = kiri : Sonor kanan = kiri : Bunyi nafas dasar vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/Bunyi jantung I dan II normal, gallop (-), murmur (-)

Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : Perut tampak datar : Bising usus 4 kali permenit : Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba membesar : Timpani, nyeri ketok (-)

Genitalia Anggota gerak Kulit

: Tidak diperiksa : Atrofi (-), normotonus : Dalam batas normal : Teraba perbesaran kelenjar getah bening di inguinal dextra berdiameter 2,5 cm dan berjumlah 1 dengan konsistensi kenyal dan mobile

Kelenjar getah bening

Refleks fisiologis Biceps Triceps APR KPR : ++/++ : ++/++ : ++/++ : ++/++

Refleks patologis : -/-

B. Status THT Telinga KANAN Daun telinga ; Bentuk Infeksi Trauma Tumor Pre auriculae : Fistel Auricula accessories Abses Sikatrik Retro auriculae : Pembengkakan Abses Fistel Sikatrik Nyeri tekan Infra auriculae : (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Normotia (-) (-) (-) Normotia (-) (-) (-) KIRI

Parotis Liang telinga : Liang telinga Warna Sekret Serumen Kelainan lain Membran timpani : Utuh / tidak Warna Refleks cahaya Posisi Perforasi Kelainan lain : Jaringan granulasi Polip Kolesteatoma Tumor

Tidak teraba membesar

Tidak teraba membesar

Lapang Merah muda (-) (-) (-)

Lapang Merah muda (-) (-) (-)

Utuh Putih keabuan (+) Normal (-)

Utuh Putih keabuan (+) Normal (-)

(-) (-) (-) (-)

(-) (-) (-) (-)

Hidung KANAN Bentuk Vestibulum nasi Cavum nasi Mukosa Konka inferior & media Besar Warna Permukaan Meatus inferioa & media Septum Eutrofi Merah muda Licin Sekret (-) Ditengah Eutrofi Mmerah muda Licin Sekret (-) Ditengah Biasa Normal Lapang Merah muda Biasa Normal Lapang Merah muda KIRI

Sekret Kelainan lain

Sekret (-) Massa (-)

Sekret (-) Massa (-)

Tenggorokan Mukosa Uvula Faring Warna merah muda Ditengah, deviasi (-) Warna merah muda, arcus faring

simetris, massa (-), granul (-) Tonsil T3-T1 dengan warna hiperemis dan massa bergranul Refleks muntah (+)

Mulut Deviasi : (-)

Leher Kelenjar Submandibula Tidak teraba membesar

Kelenjar Cervicalis anterior (superior, media, Tidak teraba membesar inferior) Kelenjar Cervicalis posterior Kelenjar supraclavcula Thyroid Tumor Abses submandibula Abses cervical Tidak teraba membesar Tidak teraba membesar Tidak teraba membesar (-) (-) (-)

3. 4.

RESUME Pasien datang dengan keluhan 1 bulan sebelum masuk Rumah Sakit pasien mengeluh sakit menelan. Selain keluhan tersebut pasien juga mengeluh leher terasa kering dan juga demam serta ada benjolan pada paha. Demam yang dirasakan hilang timbul sejak 1 bulan juga. Benjolan pada lipatan paha awalnya dirasakan pasien 7 bulan sebelum masuk Rumah sakit di lipatan paha kanan dan kiri, akan tetapi sejak 3 bulan sebelum masuk Rumah Sakit benjolan di lipat paha kanan menghilang tetapi di lipat paha kiri masih ada. Besar benjolan berdiameter 2,5 cm dengan konsistensi kenyal dan mobile serta jumlah benjolan hanya satu. Riwayat darah tinggi disangkal, riwayat kencing manis disangkal, riwayat asma disangkal, tidak ada riwayat alergi terhadap obat. Pasien sudah pernah berobat ke Puskesmas sebelumnya dan diberikan 3 jenis obat yaitu antibiotik, paracetamol dan obat penghilang nyeri akan tetapi keluhan tidak berkurang. Pasien suka mengkonsumsi makanan yang panas dan minuman yang dingin.

STATUS GENERALIS Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi napas Suhu Mata : : : : : : : Tampak sakit sedang Compos mentis 110/70 mmHg 72 kali/menit 20 kali/menit 37,8 c Konjungtiva anemis +/+, sklera tidak ikterik : Teraba perbesaran kelenjar getah bening di inguinal dextra berdiameter 2,5 cm dan berjumlah 1 dengan konsistensi kenyal dan mobile

Kelenjar getah bening

STATUS THT Pada tonsil didapatkan pembesaran tonsil T3-T1, warna hiperemis, konsistensi kenyal, mobile

3. 5.

DIAGNOSA A. Diagnosa Kerja : Suspek tumor tonsil

B. Diagnosa Banding : Limfoma non Hodgkin Limfoma Hodgkin Karsinoma sel skuamosa

3. 6.

PENATALAKSANAAN Rawat jalan MM : Opicef 2x1 Sanorin obat kumur 3x sehari Revival 2x1

BAB III ANALISA KASUS

Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien datang dengan keluhan sakit menelan 1 bulan disertai tenggorokan terasa kering, demam dan benjolan pada lipat paha kanan dan kiri. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa gejala klinis dari tumor tonsil Limfoma non Hodgkin mempunyai keluhan sulit menelan dan adanya pembengkakan pada kelenjar limfe sekunder seperti cincin Waldeyer unilateral yang menandakan adanya respon imunologik terhadap antigen yang ada. Pasien berjenis kelamin wanita dan berusia 40 tahun, hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa faktor resiko tumor tonsil meningkat pada pria. Pada penatalaksanaan pasien diatas diberikan antibiotik berupa opicef untuk mengatasi infeksi yang terjadi di tonsil. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa penatalaksanaan dari tumor tonsil dapat dilakukan melalui 3 cara yaitu kemoterapi, radioterapi maupun tindakan akan tetapi karena pasien menolak maka diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Untuk mendapatkan diagnosis pasti dari jenis tumor tonsil harus dilihat gambaran histologi dari jaringan yang diambil sehingga pada pasien ini sebaiknya dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi untuk mendapatkan diagnosis pasti yang dapat dilakukan dengan pengambilan langsung jaringan tonsilnya ataupun dapat melakukan tindakan pembedahan tonsilektomi dahulu kemudian hasilnya diperiksa ke Patologi anatomi untuk mendapatkan diagnosis pasti dari pasien ini.

BAB III 3. 1. KESIMPULAN Dapat disimpulkan bahwa Kanker tonsil muncul di ororfaring ( daerah di belakang mulut ) merupakan kanker yang jarang terjadi, hanya terjadi 1% dari semua jenis kanker yang terjadi dalam setiap tahun. Walaupun jarang terjadi, angka mortaliti dari kanker tonsil sangat tinggi. Dari sekitar 8000 kasus kanker tonsil yang terjadi setiap tahun di Amerika Serikat, sekitar 3000 (sekitar 40%) terbukti fatal.

Pada pasien ini penatalaksanaannya sesuai dengan teori yaitu diberikan antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder dan juga diberikan tambahan vitamin karena pasien menolak untuk dilakukan tindakan pembedahan, radioterapi maupun kemoterapi. Setelah dilakukan pemeriksaan dan informed concert tentang penyakit pasien,pasien akhirnya di rawat jalan sejak tanggal 13 Oktober 2011.

3. 2.

SARAN Pada wanita maupun pria dewasa yang memiliki pembengkakan tonsil unilateral haruslah memeriksakan diri ke dokter karena hal ini merupakan salah satu dari gejala keganasan dari tonsil. Sebaiknya kita menjauhi faktor-faktor resiko dari terjadinya tumor tonsil seperti konsumsi tembakau maupun alkohol untuk menurunkan terjadinya tumor tonsil. Sebaiknya dilakukan biopsi untuk mendapatkan diagnosis pasti dari keluhan yang dialami oleh pasien sehingga membantu dalam penatalaksanaan terhadap pasien. Bila setelah biopsi terbukti adanya keganasan maka segara dilakukan tindakan pembedahan untuk mencegah terjadinya perluasan dari sel-sel kanker yang akan memperburuk prognosis dari pasien itu sendiri. Setelah dilakukan tindakan pembedahan sebaiknya pasien dirawat inap agar dapat diobservasi tanda-tanda vital, ada tidaknya perdarahan sehingga setelah keluar dari Rumah Sakit diharapkan keadaan pasien baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anil KL. Otolaryngology head and neck surgery in Current Diagnosis & Treatment. Management of adenotonsillar disease. 2nd edition. New York: McGrawHill; 2007 2. Tonsil and adenoid anatomy. Edisi Juni 2011. Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/article/1899367-overview, 16 Oktober 2011 3. The fauces. Edisi 2009. Diunduh dari

http://education.yahoo.com/reference/gray/subjects/subject/243, 16 Oktober 2011 4. Tonsil cancer : Sign, Symptoms and Treatment. Diunduh dari

www.canceranswer.com/Tongue.Base.Tonsil.htm , 16 Oktober 2011 5. Charles W. Cummings, M.D, john M. Fredrickson, M.D, Lee A. Harker, M.D. Otolaryngology Head and Neck Surgery. Third Edition. 1993. Mosby 6. P.van den broek, L. Feenstra. Buku saku ilmu kesehatan Tenggorokan, Hidung, Telinga edisi 12. Editor ; Prof. Dr. Nurbaiti iskandar, SpTHT. EGC 7. Tonsil Cancer. Diunduh dari www.cancerresearhuk.com/tonsilcancer.com , 16 Oktober 2011