Anda di halaman 1dari 18

NANOMATERIAL BERLAPIS DAN BERPORI: SINTESIS, KARAKTERISASI DAN PERANANNYA SEBAGAI MATERIAL MULTI FUNGSI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Kimia Pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada

Oleh: Prof. Dr. rer. nat. Drs. Karna Wijaya, M.Eng.

NANOMATERIAL BERLAPIS DAN BERPORI: SINTESIS, KARAKTERISASI DAN PERANANNYA SEBAGAI MATERIAL MULTI FUNGSI

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Kimia Pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada

Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 9 Februari 2010 di Yogyakarta

Oleh: Prof. Dr. rer. nat. Drs. Karna Wijaya, M.Eng.

3 NANOMATERIAL BERLAPIS DAN BERPORI: SINTESIS, KARAKTERISASI DAN PERANANNYA SEBAGAI MATERIAL MULTI FUNGSI

Pengertian Nanomaterial Berlapis dan Berpori Sampai saat ini dikalangan para ahli material definisi nanomaterial masih belum ada kesepakatan, namun terminologi nanomaterial sendiri sering dikaitkan dengan material yang memiliki struktur berdimensi 1-100 nm serta sifat-sifat yang berbeda secara tipikal dengan molekul atau material dalam keadaan meruahnya. Realisasi nanomaterial memerlukan pendekatan nanoteknologi. Nanoteknologi didefiniskan sebagai sintesis dan aplikasi ide dari sains dan rekayasa ke pemahaman dan produksi alat dan material baru. Nanomaterial telah diinvestigasi lebih dari satu dekade secara multidisiplin dan interdisiplin melalui berbagai pendekatan nanoteknologi (Chow, et.al, 1996). Ilmu kimia, khususnya kimia material, sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan sintesis material juga telah berperan dan memberi kontribusi signifikan terhadap kemajuan terkini, terutama dalam kontrol dan pemberian sifat-sifat unik nanomaterial. Kebanyakan riset nanomaterial dewasa ini memfokuskan pada desain struktur, beberapa struktur nanomaterial, khususnya yang berbasis ikatan lemah dan sistem organik (nanosupramolecular materials), dirancang melalui pendekatan crystal engineering (nanoteknologi) di mana ikatan lemah dan komplementaritasnya, rekognisi molekul, self-assembly, preorganisasi serta self-replication memainkan peranan yang penting. Sebagai akibatnya, praktek nanomaterial cenderung menjadi suatu aktifitas interdsipliner yang memerlukan penguasaan prosedur riset kimia, fisika, biologi, matematika dan rekayasa yang memadai. Dengan rekayasa kristal berbagai jenis material berpori dan berlapis dengan dimensi nano telah berhasil disintesis, diidentifikasi sifat-sifatnya dan telah diterapkan dalam industri, bidang kedokteran, farmasi, pertanian dan sebagainya (Chow, et,al., 1996; Lehn, 1995).

4 Nanomaterial Berlapis Anorganik dan Berpori dengan Basis Bahan

Nanomaterial jenis ini dibangun dari komponen-komponen anorganik. Dari kelompok nanomaterial berlapis yang secara meluas dipelajari antara lain clay, hidrotalsit, layered titanium (IV) phosphate dan vanadium pentoxide gel sedangkan dari kelompok nanomaterial berpori antara lain zeolit, pillared clay dan silica, Di Kluster Material, Jurusan Kimia FMIPA UGM, beberapa nanomaterial yang menjadi fokus penelitian antara lain clay, hidrotalsit, zeolite, silica dan pillared clay. Saya pribadi lebih berkonsentrasi kepada riset tentang clay, pillared clay, silica dan zeolit. Clay atau sering juga disebut nanoclay, merupakan senyawa aluminosilikat berarsitektur lapis dengan kation-kation antarlapis yang umumnya dapat dipertukarkan. Bentonit merupakan istilah perdagangan untuk sejenis clay yang mengandung montmorilonit (smektit) lebih dari 85%. Jenis clay ini ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan deposit tinggi. Fragmen sisa umumnya merupakan campuran dari mineral kuarsa atau kristobalit, feldspar, kalsit, gipsum, kaolinit, plagioklas, illit dan sebagainya. Secara struktural, montmorilonit memiliki struktur tiga lapis dengan lapisan oktahedral alumina sebagai pusat, tertumpuk di antara dua lapisan tetrahedral silika. Komposisi montmorilonit di dalam suatu bentonit berbeda-beda tergantung pada proses pembentukannya di alam dan asal daerah bentonit itu. Sifat-sifat umum dari bentonit antara lain: Berwarna dasar putih dengan sedikit kecoklatan atau kemerahan atau kehijauan, tergantung pada jumlah dan jenis fragmen-fragmen mineralnya, memiliki sifat fisik sangat lunak, ringan, mudah pecah, berasa seperti sabun, mudah menyerap air dan melakukan pertukaran ion. Berdasarkan komposisi kation-kation di dalam antar lapis bentonit yang mempengaruhi sifat mengembangnya, bentonit diklasifikasikan atas dua golongan besar yaitu:Natrium-bentonit (swelling bentonite). Bentonit jenis ini mengandung ion Na+ yang relatif lebih banyak dibandingkan ion Ca2+ dan Mg2+ dan mempunyai sifat mengembang bila terkena air, sehingga dalam suspensinya menambah kekentalan. Bentonit ini sering disebut sebagai bentonit Wyoming. Kalsium-bentonit (non-swelling bentonite).Bentonit jenis

5 ini mengandung ion Ca2+ dan Mg2+ yang relatif lebih banyak dibandingkan ion Na+ dan sedikit menyerap air. Bila didispersikan ke dalam air bentonit ini akan cepat mengendap. Montmorilonit memiliki kombinasi sifat pertukaran ion, interkalasi dan kemampuan dapat mengembang. Kapasitasnya sebagai penukar ion adalah dasar dari sifat interkalasi dan kemampuan mengembangnya. Berdasarkan kemampuan mineral untuk berinteraksi dengan bermacam-macam kation dan molekul netral, maka hampir semua proses interkalasi mungkin dapat terjadi. Sifat terpenting dari montmorilonit dalam desain sebagai adsorben dan katalis adalah kemampuannya untuk mengembang, yang dipengaruhi oleh sifat agen pengembang, kation penukar, muatan lapisan dan lokasi muatan lapisan. Montmorilonit juga dapat mengadsorpsi senyawa organik polar atau yang bersifat ionik di antara lapisannya. Adsorpsi senyawa organik membentuk material organik-anorganik dari montmorilonit. Basal spacing dari material ini tergantung pada ukuran dan kerapatan molekul organik (Figueras, 1988, Wijaya, 1993). Seperti juga clay, zeolit merupakan mineral yang kelimpahannya tinggi dan tersebar luas di Indonesia. Mineral ini ditemukan lebih dari 200 tahun yang lalu oleh Cronstedt di dalam bebatuan yang digunakan sebagai bahan bangunan. Spesies baru ini adalah suatu aluminosilikat kristalin berpori yang kemudian diberi nama zeolite atau batu yang dapat mendidih. Mordenit merupakan salah satu anggota group zeolit yang penyebarannya di alam cukup banyak. Mordenit termasuk kelompok zeolit mikropori (nanopori) dengan struktur kristal orthorombik dengan kanal-kanal atau saluransaluran terbuka yang memungkinkan air dan ion-ion berukuran besar keluar dan masuk saluran-saluran tersebut. Ukuran saluran-saluran tersebut beragam sehingga mordenit dapat berfungsi sebagai penyaring molekular dan adsorben. Selain mordenit, klinoptilolit merupakan anggota group zeolit yang juga banyak dijumpai di alam. Klinoptilolit merupakan kristal monoklinik dengan tingkat kekerasan 3,5 sampai 4 serta memiliki resistensi panas yang tinggi (Hamdan, 1992; May, 2006).

Gambar 1. Struktur zeolit (Anonim1,-,), clay (U.S. Geological Survey Open-File Report 01-041, 2001) dan hidrotalsit (Anonim2,-)

Pillared clay adalah jenis material berpori hasil modifikasi clay. Secara kimiawi pillared clay didefinisikan sebagai derivat smektit yang kation-kationnya telah ditukar dengan kation-kation berukuran meruah dan kation-kation tersebut berperan sebagai pilar atau tiang penyangga misel. Beberapa macam kation telah dan dapat digunakan sebagai agen pemilar antara lain: ion-ion alkilamonium, amina bisiklis dan beberapa kation kompleks. Pillared clay menawarkan suatu rute dalam preparasi klas baru molecular sieves. Ukuran pori yang dapat dibentuk melalui pemilihan pilar dapat mencapai 2 nm, suatu ukuran yang melebihi ukuran pori zeolit yang dikenal saat ini. Di samping ukuran pori, pillared clay memiliki luas permukaan spesifik, volume total pori dan stabilitas termal yang komparabel terhadap zeolit. Stabilitas termal pillared clay dapat mencapai temperatur 500 oC. Berbeda dengan zeolit, pillared clay memiliki distribusi ukuran pori yang lebih lebar dengan bentuk relatif kurang homogen yang disebabkan oleh natur semi-kristalin pillared clay itu sendiri (Kato, 1991; Maes, 1995). Silika merupakan material berpori dengan komponen utama silisium dan oksigen. Silika gel adalah contoh popular material silika. Silika gel memiliki rumus kimia SiO2, suatu bahan yang serupa dengan penyusun pasir. Perbedaan antara silika gel dan pasir adalah bahwa pasir berstruktur kristalin dan tidak berpori, sedangkan silika gel memiliki struktur non-kristalin dan sangat berpori. Silika gel bersifat amorphous adsorptive dengan karakteristik kimia yang stabil dan memiliki struktur pori yang tidak seragam. Senyawa silika tergolong dalam material nanopori karena dimensi porinya rata-rata di bawah 100 nm (Maes, 1995).

(a)

(b)

Gambar 2. (a) Pillared Clay (Jones, 2007) dan (b) Silika (Herbal Analysis Service, 2006)

Silika gel ditemukan dan dipatenkan oleh seorang profesor kimia bernama Walter A. Patrick dari Universitas John Hopkins, Baltimore, Maryland pada tahun 1919. Silika gel telah digunakan dalam Perang Dunia I sebagai bahan adsorben pada masker gas. Silika gel memiliki sifat tidak berbau, tidak berasa, tidak beracun, inert, netral dan mempunyai kemampuan sorpsi yang tinggi terhadap air sehingga dapat mengurangi kelembaban udara. Selain itu silika gel juga memiliki stabilitas kimiawi, luas permukaan spesifik serta kekuatan mekanik yang tinggi (Kalapathi, 1998). Nanomaterial Berlapis dan Berpori dengan Basis Bahan Organik: Formasi material berlapis dan berpori dengan basis bahan-bahan organik melalui metode rekognisi molekul telah dikembangkan sejak lama namun baru dua dasawarsa ini menjadi lebih popular setelah Lehn (1995) mengembangkan konsep rekognisi molekul. Rekognisi molekul sering diartikan sebagai pengikatan kimiawi dengan suatu tujuan tertentu (binding with a certain purpose). Secara lebih luas rekognisi molekul didefinisikan sebagai the energy and the information involved in the binding and selection of substrate by a given receptor molecule (Lehn, 1995). Dalam rekognisi molekul, ikatan kimia lemah atau ikatan sekunder, seperti ikatan hidrogen, interaksi van der Waals, interaksi dipol dan synthon sebagai fragmen supramolekul yang merupakan hasil komplementaritas ikatan lemah memainkan peran yang sangat krusial. Melalui ikatan-ikatan kimia

8 lemah yang komplementer dan synthon berbagai macam struktur nanomaterial berlapis dan berpori dapat didesain dengan akurasi yang cukup tinggi. Di antara ikatan-ikatan kimia lemah tersebut ikatan hidrogen merupakan ikatan terkuat (beberapa mendekati 100 kJ/mol) dan pengarah ikatan terpercaya dalam desain nanomaterial berlapis dan berpori, sehingga ikatan ini paling banyak digunakan dalam rancangbangun struktur nanomaterial. Ikatan hidrogen adalah suatu interaksi atraktif antara suatu donor proton dan dan suatu akseptor proton. Gugus-gugus donor proton yang paling sering digunakan adalah C-H, N-H,O-H,S-H, P-H ,F-H,Cl-H, Br-H dan I-H, sedangkan dari gugus akseptor proton adalah N, O, P,S,F, Cl, Br dan I (Lehn, 1995). Secara prinsip dalam rekayasa nanosupramolekul berlapis dan berpori pemilihan bentuk dan ukuran pasangan molekul yang komplementer serta adanya dua atau lebih sub unit ikatan hidrogen akan sangat menentukan arsitektur final dan karakteristik nanomaterial. Beberapa contoh nanosupramolekul berlapis dan berpori yang terbentuk dari jalinan ikatan hidrogen rumit antara lain imidazolium-dimesylamida, 1-Adamantylammonium-dimesylamida, 2,6-diamino-4-pyridil-1,3,5-triazin-1-ium-dimesylamida, 2,4,6-Triamino-1,3,5-triazinium-dimesyalmida. Senyawa-senyawa ini diketahui memiliki struktur berlapis dan 2,6-Dimethylpyridiniumdimesylamida, 2,6-Diamino-4-oxo-3,4-dihidro-pirimidin-1-iumdimesylamida, acet-amidinium-2-thioxo-2,3-dihidro-pirimidin-2-umdimesyalamida ter-identifikasi memiliki struktur berpori dengan dimensi rata-rata di bawah 100 nm (Wijaya, 1999). Apakah suatu nanosupramolekul pada akhirnya akan terajut dengan struktur berpori atau berlapis belum dapat diperkirakan sepenuhnya.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 3. Struktur berpori dan berlapis yang terbentuk dari jejaring ikatan hidrogen (a) dan (b) (Wijaya, 1999), grafit (May et.al, 2006) dan fulerana (Generalic, 2004) adalah material berlapis dan berpori yang terbentuk dari ikatan kovalen antar karbon (c) dan (d).

Sementara ini teknik crystal engineering hanya mampu memprediksi dengan cukup akurat pada level satuan asimetriknya saja. Namun demikian, teknik ini telah terbukti memberi kontribusi yang signifikan dalam desain nanomaterial berbasis ikatan hidrogen dengan diversitas rajutan yang luas dan kompleks. Nanomaterial lain yang termasuk kelompok nanomaterial berlapis dan berpori berbasis bahan organik antara lain grafit dan fulerena (Gambar 3 (c) dan (d)). Grafit adalah alotrof karbon dan tergolong nanomaterial berlapis karena tersusun dari lapisan-lapisan yang dibentuk oleh cincin heksagonal karbon dengan jarak sekitar 0,35 nm satu sama lain (Ismunandar, 2006). Seperti grafit, fulerena juga termasuk alotrof karbon yang secara konseptual adalah lembaran graphene yang tergulung menjadi bola dengan ukuran pori di bawah 100 nm (Generalic,2004). Sintesis dan Karakterisasi Nanomaterial Metode sol-gel, interkalasi dan inklusi adalah metode preparasi yang sangat sering digunakan pada sintesis nanomaterial berlapis dan berpori. Metode ini juga digunakan untuk preparasi material derivat nanomateral berpori dan berlapis, misalnya nanokomposit. Metode sol-gel adalah metode preparasi padatan dengan teknik temperatur rendah yang melibatkan transisi dari suatu sistem dengan partikel-

10 partikel mikroskopik yang terdispersi dalam suatu cairan (sol) menjadi material makroskopik (gel) yang mengandung cairan. Pada saat cairan menguap maka yang tertinggal adalah material keras seperti gelas. Sol-gel merupakan material amorf dan tidak memiliki dimensi pori yang seragam. Sintesis sol-gel umumnya melalui tahap-tahap hidrolisis dan kondensasi. Sebagai contoh proses pembuatan nanosilika dengan teknik sol-gel dapat dituliskan sebagai berikut: Tahap hidrolisis alkoksida Si(OC2H5)4 + H2O Si(OC2H5)3(OH) + H2O Si(OC2H5)3(OH) + CH3OH Si(OC2H5)2(OH)2 + CH3OH

Tahap kondensasi prekursor menjadi jejaring oksida Si(OC2H5)3(OH) + Si(OC2H5)3(OH) (OC2H5)3Si-O-Si(OC2H5)3 + H2O Parameter yang harus diperhatikan pada sintesis sol-gel adalah pH. Perubahan pH akan mengakibatkan perubahan jejaring dan group ruang (space group) nanomaterial (Ismunandar, 2006). Interkalasi adalah insersi reversibel spesies tamu ke dalam material berlapis dengan tetap mempertahankan fitur inang (Kato, 1991). Inklusi adalah terminologi untuk insersi spesies tamu ke dalam material berpori. Interkalasi termasuk reaksi temperatur rendah atau Chimie Douce di mana topotaktik reaktan masih dipertahankan dalam produknya. Pertukaran ion juga termasuk dalam kelompok reaksi Chimie Douce (Ismunandar, 2006). Teknik interkalasi, pertukaran ion atau inklusi ini disukai karena relatif mudah dan memiliki reprodusibilitas yang cukup tinggi. Pillared clay disintesis melalui teknik pertukaran ion dan interkalasi bermacam-macam oksida, seperti Al2O3, Fe2O3, TiO2 dan Cr2O3 ke dalam antara lapis atau galeri clay sehingga terbentuk pori-pori dengan dimensi tertentu. Fenomena dasar yang digunakan dalam preparasi pillared clay adalah pertukaran kation interlamelar dengan spesies kationik meruah yang berfungsi sebagai prop untuk menjaga agar struktur tetap terbuka.

11

Gambar 4. Skema ilustrasi proses interkalasi spesies kimia ke dalam galeri clay (Ogawa, 2005)

Melalui proses hidrolisis dan dehidrasi secara perlahan-lahan kationik-kationik meruah akan terkonversi menjadi oksida-oksida stabil yang berfungsi sebagai penyangga antarlapis clay. Ukuran pori, luas permukaaan spesifik, stabilitas termal, jejari pori dan volume total pori yang terbentuk ditentukan dari ukuran pilar yang terbentuk dan spasi di antara pilar dalam galeri clay serta jenis kation meruah yang digunakan.Karakteristik pillared clay ini dapat diidentifikasi melalui metode analisis X-ray diffractometry, electron microscopy, porosimetry dan analisis termal. Determinasi dimensi dan distribusi pori didasarkan kepada studi isotherm adsorpsi-desorpsi nitrogen pada 77 K. Morfologi permukaan nanomaterial dianalisis dengan metode electron microscopy, dimensi pilar dan galeri ditentukan dengan metode X-ray diffractometry dan respon panas dalam bentuk reaksi eksoterm atau endoterm dan/atau kehilangan berat karena panas diukur dengan metode thermal analysis (Wijaya, 1993; Widihati, 1999). Kokristalisasi antara dua spesies yang berkomplementer merupakan teknik dalam crystal engineering yang paling popular dalam sintesis nanomaterial atau nanosupramolekul berpori dan berlapis dengan basis bahan-bahan organik. Kokristalisasi adalah pengkristalan bersama spesies kimia di dalam pelarut tertentu. Produk kokristalisasi adalah Kristal tunggal. Melalui seleksi secara cermat, kristal tunggal terbaik diambil kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis X-ray single crystal. Dari studi X-ray single crystal, arsitektur final kristal dapat diungkap.

12

Gambar 5. Kokristalisasi (D: donor proton, H: proton, A: akseptor proton) antara 2,6-diaminopiridin dan dimesyalamin (Wijaya, 1999).

Polimerisasi secara in situ adalah salah satu teknik preparasi nanokomposit dari material berlapis. Teknik polimerisasi ini biasanya diawali dengan pertukaran ion antara monomer dengan exchangeable cations atau dengan interkalasi monomer secara langsung ke dalam antar lapis atau pori-pori matriks kemudian diikuti dengan polimerisasi in situ.

Gambar 6. Skema ilustrasi proses elektropolimerisasi in situ nanomaterial berlapis (Holze, 2006)

Polimerisasi secara in situ ini menyebabkan perubahanperubahan sifat produk (nanokomposit) secara dramatis, misalnya perubahan konduktivitas dan kepolaran matriks. Keberhasilan polimerisasi dapat diidentifikasi antara lain dengan menggunakan teknik analisis X-ray diffractometry, IR-Spectrophotometry dan analsis termal.

13 Nanomaterial sebagai Material Multifungsi, beberapa Capaian Riset Nanomaterial berlapis dengan struktur nano seperti clay, grafit dan hidrotalsit melalui nanoteknologi seperti self assembly dan metode-metode preparasi lainnya dapat dikonversi menjadi material unggul, salah satunya adalah nanokomposit dengan sifat-sifat mekanik, kimia dan fisika yang tinggi. Beberapa contoh seperti smektit terinterkalasi ion organoamonium dapat digunakan untuk menyerap kontaminan dalam bentuk spesies organik yang sukar larut di dalam air dan nanokomposit clay-polymer dipakai sebagai komponen interior kendaraan. Di dalam bidang industri, zeolit dimanfaatkan sebagai katalis pada pemrosesan minyak bumi (petroleum processing), katalis dalam konversi hidrokarbon menjadi bahan-bahan kimia yang lebih bernilai ekonomi (petrochemicals) dan katalis dalam teknologi C1. Selain itu zeolit dapat dibentuk menjadi membran pemisah gas berdimensi rendah dan banyak juga diterapkan dalam bidang pertanian, peternakan dan perikanan sebagai adsorben dan pengatur unsur hara. Pillared clay merupakan nanokomposit berpori berguna sebagai bahan pengolah air limbah, matriks antibakteri, katalis perengkah dan fotokatalis. Silika dengan pori-pori eksotisnya dapat dimanfaatkan sebagai adsorben dan molecular sieves atau melalui insersi ligan dapat dibentuk menjadi nanokomposit yang berpotensi sebagai adsorben kation-kation logam berat. Di Kluster Material, Jurusan Kimia FMIPA UGM sendiri, dengan bantuan dana penelitian dari UGM, DP2M-DIKTI dan Kementrian Ristek, fokus penelitian nanomaterial kami arahkan pada preparasi/sintesis dan studi fenomena fisikokimia clay, pillared clay dan zeolit akibat modifikasi dan aplikasi material termodifikasi, misalnya nanokomposit sebagai bahan fotofungsional, antibakteri patogenik, adsorben limbah tekstil dan pemurnian biodiesel serta bioetanol, katalis perengkah, fotokatalis dan katalis esterifikasi dalam proses pembuatan biodiesel. Bahan fotofungsional yang telah kami kembangkan di sini adalah dari jenis optical data storage berbasis senyawa azobenzena dan salisiledenanilina yang terinterkalasi di dalam pillared smectite. Melalui radiasi sinar UV, gejala-gejala fotokromisme senyawa-senyawa tersebut di dalam matriks pillared

14 clay yang merupakan basis optical data storage dapat diamati. Sebagai bahan berpori, zeolit dapat difungsikan sebagai matriks kation-kation Ag+, Cu++ dan Zn++ dan TiO2 yang bersifat antibacterial terhadap E.coli dan S. Aureus (Wijaya, 2006). Fenomena yang serupa juga diamati bila matrik zeolit diganti dengan clay dan pillared clay. Nanokomposit TiO2-zeolit dan TiO2-pillared clay melalui prinsip fotokatalitik dapat diterapkan sebagai fotokatalis dalam remediasi zat warna dan polutan limbah tekstil (Wijaya, 2006; Wijaya, 2006). Hasilhasil penelitian melalui kerjasama penelitian Hibah Pekerti dengan Jurusan Kimia, Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) menunjukkan bahwa pillared clay dapat dimanfaatkan menjadi matriks antibakteri patogenik dan katalis esterifikasi pada pembuatan biodiesel dari minyak jelantah. Kerjasama dengan Universitas Sriwijaya pada penggunaan pillared clay terimpregnasi logam nikel dan molibdenium, walaupun baru menampakkan kemajuan yang sedikit, telah membuktikan bahwa nanokomposit tersebut berpotensi untuk dipakai sebagai katalis hidrorengkah. Dengan dana Hibah Bersaing dan Kompetensi kami juga melakukan riset-riset sejenis. Setelah dimodifikasi dengan asam mineral kuat dan/atau ammonium nitrat, baik clay, pillared clay maupun zeolit memiliki natur sebagai katalis asam padat yang efektif dan komparabel terhadap katalis homogen konvensional seperti asam sulfat pada sintesis biodiesel dari berbagai jenis minyak dan lemak. Patut dicatat di sini bahwa hasilhasil kajian terdahulu secara kimia komputasi terhadap fenomena keasaman zeolit yang teraktivasi asam mendemonstrasikan bahwa zeolit ternyata dapat ditingkatkan keasamannya melalui teknik pengasaman sederhana, sesuatu yang sejalan dengan hasil-hasil penelitian eksperimental terkini (Wijaya, 2009). Melalui kerjasama riset dengan kolega-kolega kami di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta, walaupun belum dipublikasikan, suatu pencapaian yang signifikan pada penggunaan nanosilika berbasis tetraethylorthosilicate (TEOS) sebagai adsorben zat warna dan nanokomposit silika-etilendiamina untuk adsorpsi kation logam berat telah mulai terlihat.

15 Konklusi dan Perspektif ke Depan Nanomaterial Berpori dan Berlapis Di depan telah kita paparkan beberapa fakta tentang natur yang unik dan multifungsi dari nanomaterial berbasis bahan organik dan anorganik, Prioritas riset kami terletak pada produk material hasil self-assembly antara spesies organik atau anorganik dengan matriks anorganik. Melalui seleksi secara hati-hati spesies tamu dan inang serta dengan pengontrolan interaksi spesies tamu dan inang sifat-sifat derivat dapat secara ekstrim diubah sehingga dapat diaplikasikan untuk berbagai macam tujuan. Ke depan dengan dimotivasi dan terinspirasi oleh keberhasilan mendesain nanomaterial berpori dan berlapis serta insersi spesies tamu ke dalam galeri atau pori nanomaterial, diharapkan berbagai tipe senyawa interkalasi dan inklusi baru dengan fungsi-fungsi yang lebih spesifik akan dapat disintesis. Dalam hal riset nanomaterial berlapis, keberhasilan mengkonversi padatan berlapis menjadi padatan nanopori dengan sifat-sifat mikrostruktur dan adsorptif baru telah ditindaklanjuti dan dikembangkan terus, namun pengontrolan yang berpresisi tinggi terhadap orientasi dan distribusi spesies tamu di dalam antarlapis masih merupakan harapan dan akan terus dipelajari di masa datang. Studi dinamika antarmuka, khususnya dinamika cairan molekular dan polimer dalam ruang terbatas, seperti antar lapis atau pori nanomaterial telah meningkatkan atensi teoritik dan eksperimental, karena hasil kajian ini memiliki implikasi saintifik dan rekayasa yang luas. Studi dinamika antarmuka juga relatif sangat sulit dikerjakan karena sifat menyatu antara fasa spesies tamu yang meruah dengan antarmuka nanomaterial yang menyebabkan hingga saat ini hanya sedikit aparatus analitik yang mampu mengungkap dinamika tersebut dengan ketelitian tinggi. Dengan mengingat keterbatasan alat analisis yang ada, pendekatan dari ranah kimia komputasi melalui modeling dan simulasi kiranya akan banyak membantu dan menjadi solusi alternatif masalah tersebut (Figueras, 1988; Chow, et.al., 1995). Dalam era kimia hijau dewasa ini (Santosa, 2009), nanomaterial berlapis dan berpori serta semua derivatnya dituntut pula memiliki karakteristik hijau (biodegradable dan renewable). Oleh karena itu

16 riset-riset yang berorientasi kepada rekayasa smart-eco nanomaterial harus selalu menjadi prioritas para peneliti. Melalui pemanfaatan bahan-bahan baku sintetik maupun bahan-bahan baku yang berbasis local genius material yang bersifat ramah lingkungan dan relatif mudah diperoleh di sekitar kita, maka kiranya mimpi indah kita bersama tentang pewarisan dunia yang lebih hijau kepada anak cucu kita akan segera menjadi realita.

17 REFERENSI Anonim1,-, www.kyowa-chem.co.jp/img/photo1.0gif, diakses 25 Desember 2009. Anonim2,-,www.iza-online.org/.../images/Mordenite3.jpg, diakses 25 Desember 2009. Chow, G.M.,and Gonsalves, K.E., 1995, Nanotechnology: Molecularly Designed Materials, ACS, Washington Figueras, F., 1988, Pillared Clays as Catalysts, Catal.Rev.- Sci. Eng, 30(3), 457-499. Generalic, E., 2004, www.ktf-split.hr/ glossary/ image/ fullerene.gif, diakses 25 Desember 2009. Hamdan, H., 1992, Introduction to Zeolites: Synthesis, Characterization, and Modification, Universiti Sains Malaysia, 35-50. Hamdani,S.,Tahir,I.,Wijaya,K., 2005, Kajian Teoritis Sifat Kompleksasi Thiacrown Ether 18S6 dan 18-UT-6 Terhadap Senyawa-Logam Transisi HgCl2 Dengan Methode Semiempirik PM3, Alchemy, Vol.4, No.1, 50-55. Herbal Analysis Service, 2006, www. herbalanalysis. co. uk /silicagel.gif, diakses 25 Desember 2009 Holze,R.,2006, Polyaniline-clay nanocomposites as corrosion protection , www. tu-chemnitz.de/.../projekte/ bilder/hung1.jpg, diakses 25 Desember 2009. Ismunandar,2006, Padatan Oksida Logam: Struktur, Sintesis, dan Sifat-Sifatnya,Penerbit ITB,Bandung Jones,W., 2007, http://www.ch.cam.ac.uk/resources/ pages/wj/ index.html, diakses 25 Desember 2009 Santoso, S.J., 2009, Kimia Hijau Sebagai Pilar Utama Pembangunan Lestari, Pidato Pengukuhan Guru Besar UGM Kalaphati, U., Proctor, A., and Schultz, J., 1998, A Simple Method for Production of Silica from Rice Hull Ash, Biosource Technology, 72, 257-262. Kato,C., 1991, Synthesis of Novel Functional Intercalations Compounds and Their Application, Memoirs of The School of Science and Engineering, 55, Waseda University Lehn,J -M., 1995, Supramolecular Chemistry : Concepts and Perspectives, VCH, Weinheim

18 Maes, N., and Zhu,Y., 1995, The Use of Adsorption Isotherm for the Determination of the Micropore-Size Distribution, J. of. Porous Materials, 2, 97-105,Kluwer Academic Publishers, Boston May,Y.W., and Yu,Z.Z (editor), 2006, Polymer Nanocomposite, Woodhead Publishing Limited, England Ogawa,M., 2005, www. dept.edu.waseda.ac.jp/../intercalation.jpg, diakses 25 Desember 2009. U.S.Geological Survey Open-File Report 01-041, 2001, http://pubs. usgs.gov/of/2001/of01041/htmldocs/clays/smc.htm, diakses 25 Desember 2009 Widihati, I.A.G., Wijaya,K., Yahya, M.U., 2004, Sintesis Lempung Montmorillonit Terpilar-Fe2O3 dan Kajian Sifat Kimia Fisikanya, J.Sains dan Sibernatika, 17(1). Wijaya, K., 1999, Nichkovalente Disulfonylamin-Derivate: OniumSalze und Coronaplexe, Disertasi, TU-Braunschweig, Germany Wijaya,K, 1993, The Preparation of Pillared Saponite-Salicylidene aniline Intercalation Compounds and Their Photofunctional Properties, Thesis S2, Waseda University. Wijaya,K., Sugiharto,E., Fatimah,I.,Tahir,I., dan Rudatiningsih, 2006, Fotodegradasi Zat Warna Alizarin S Menggunakan TiO2-Zeolit Dan Sinar UV, Indo. J. Chem (terakreditasi, ISSN 1411-9420), Vol.6, No.1, 32-37. Wijaya,K., Tahir, I dan Haryanti, N., 2006, Sintesis Fe2O3-Montmorillonit dan Aplikasinya Sebagai Fotokatalis untuk Degradasi Zat Pewarna Congo Red, Indo.J. Chem (terakreditasi, ISSN 1411-9420), Vol.5, No.1, 41-47. Wijaya,K.,Tahir,K, Awalina.L, 2006, Preparasi dan Uji Kualitatif Cu- Al2O3-Montmorillonit Sebagai Bahan Antibakteri Staphylococcus Aureus, Prosiding Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia 2006 (979-9579-84-x), UNNES, Semarang. Wijaya, K., Wibowo,H.,Utoro,M., 2009, Preparation of Palmdiesel from Waste Cooking Palm Oil Catalyzed by H-Zeolite and NaOH, International Chemistry, Seminar Proceeding (ISSN No. 1410, 8313), UGM.