Anda di halaman 1dari 59

LAPORAN BULAN JANUARI 2013

SISTEM KEWASPADAAN PANGAN DAN GIZI (SKPG) KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN 2013
Kegiatan Pengembangan Ketersediaan dan Penanganan Rawan Pangan

Program Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat

DINAS PERTANIAN DAN KEHUTANAN KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS TAHUN ANGGARAN 2013

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

KATA PENGANTAR KATA PANTAR Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmatNya Laporan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) kabupaten Kepulauan Anambas bulan Januari 2013 dapat diselesaikan dengan baik. Tujuan penulisan laporan ini adalah sebagai dasar untuk mengetahui situasi pangan dan gizi daerah Kabupaten Kepulauan Anambas, yang ada akhirnya dapat dijadikan sebagai rekomendasi kebijakan dan perencanaan program yang berkaitan dengan pangan dan gizi serta rekomendasi kebijakan dan pelaksanaan intervensi bagi penanganan kerawanan pangan dan gizi. Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu pikiran, tenaga dan waktu untuk mendapatkan semua data dan informasi yang berkaitan dengan situasi pangan dan gizi masyarakat kabupaten Kepulauan Anambas terutama kepada tim SKPG atas kerjasama dan komitmennya, serta pihakpihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Demikian kami sampaikan, semoga laporan ini bermanfaat untuk kita semua.

Tarempa,

Januari 2013

Pejabat Pembuat Komitmen

NAWARLIS, A. Md NIP. 19651110 198803 1 026

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

ABSTRAK/RINGKASAN

Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) adalah serangkaian proses untuk mengantisipasi kejadian kerawanan pangan dan gizi melalui ruang lingkup kegiatan SKPG yang terdiri daripengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi, serta investigasi mendalam (indepth investigation) bagi desa yang diindikasikan akan terjadi kerawanan pangan dan gizi. Hasil analisis SKPG dapat dimanfaatkan sebagai bahan perumusan kebijakan, perencanaan, penentuan intervensi atau tindakan dalam penanganan kerawanan pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di tingkat kabupaten. Adapun tujuan kegiatan SKPG ini adalah untuk mendapatkan informasi dan data situasi pangan dan gizi masyarakat kabupaten Kepulauan Anambas yang selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk menyusun kebijakan pemerintah dalam merencanakan program yang berkaitan dengan pangan dan gizi. Analisis situasi pangan dan gizi bulanan disajikan berdasarkan tiga jenis indikator : (1) aspek ketersediaan, terdiri dari luas tanam, luas panen dan puso, (2) aspek akses pangan, dan (3) aspek pemanfaatan pangan. Berdasarkan analisa data aspek Ketersediaan pangan Kabupaten Kepulauan Anambas bulan Januari 2013 dari 7 Kecamatan , terdapat 3 kecamatan berwarna kuning yang termasuk dalam kondisi waspada yaitu kecamatan Jemaja Timur, Siantan, dan Siantan Selatan dan 4 kecamatan berwarna merah yang

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

termasuk dalam kondisi defisit pangan serealia (padi, jagung) dan umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar) yaitu kecamatan Jemaja, Palmatak, Siantan imur dan Siantan Tengah. Berdasarkan aspek akses terhadap pangan pada bulan Januari 2013 tidak ada Kecamatan yang berada dalam kondisi rawan. Seluruh Kecamatan (kecamatan Jemaja, Jemaja Timur, Palmatak, Siantan, Siantan Timur, Siantan Tengah dan Siantan Selatan) dalam kondisi aman. Berdasarkan Indeks Komposit Ketahanan Pangan (Bulanan) pada bulan Januari 2013, semua kecamatan yang ada di kabupaten kepulauan anambas berada dalam kondisi rawan.

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................................ 2 ABSTRAK/RINGKASAN . 3 DAFTAR ISI 5 DAFTAR TABEL .7 DAFTAR GAMBAR 8 I.PENDAHULUAN ................................................................................................................................... 9 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. LATAR BELAKANG .................................................................................................................. 9 TUJUAN................................................................................................................................ 12 SASARAN ............................................................................................................................. 13 KELUARAN ........................................................................................................................... 13 RUANG LINGKUP ................................................................................................................. 13

II. GAMBARAN UMUM SITUASI PANGAN DAN GIZI ............................................................................ 14 2.1. KETERSEDIAAN PANGAN ..................................................................................................... 14 2.1.1. PRODUKSI (LUAS TANAM, LUAS PANEN, LUAS PUSO) 15 2.1.2. KONSUMSI PANGAN 18 2.1.3. JUMLAH PENDUDUK .18 2.1.4. CADANGAN PANGAN ..19 2.2. AKSES TERHADAP PANGAN ................................................................................................. 20 2.2.1. PERKEMBANGAN HARGA PANGAN KOMODITAS UTAMA DAN STRATEGIS . 22 2.2.2. JUMLAH KELUARGA PRASEJAHTERA 23 2.3. PEMANFAATAN PANGAN .................................................................................................... 24 2.3.1. STATUS GIZI BALITA . 26 2.3.2. KASUS GIZI BURUK 28 III.METODE SKPG ................................................................................................................................. 31 3.1. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP SKPG .......................................................................... 31 5

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

3.2. 3.3.

ORGANISASI PELAKSANA SKPG ........................................................................................... 32 MEKANISME KERJA KEGIATAN SKPG................................................................................... 33

IV.HASIL PELAKSANAAN SKPG ............................................................................................................. 35 4.1. ANALISIS INDIKATOR SKPG .................................................................................................. 35

4.1.1. ASPEK KETERSEDIAAN PANGAN .......................................................................................... 35 4.1.2. ASPEK AKSES PANGAN ........................................................................................................ 39 4.1.3. ASPEK PEMANFAATAN PANGAN ......................................................................................... 41 4.1.4 INDEKS KOMPOSIT .............................................................................................................. 44 4.2. PETA SITUASI PANGAN DAN GIZI . 45 V.KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................................................ 47 5.1.KESIMPULAN ............................................................................................................................. 47 5.2. SARAN ...................................................................................................................................... 47 LAMPIRAN 1. SK PENETAPAN TIM POKJA SKPG 2. SUMBER DATA : ASPEK KETERSEDIAAN, AKSES DAN PEMANFAATAN PANGAN 3. HASIL PENGOLAHAN INDIKATOR ASPEK KETERSEDIAAN 4. HASIL PENGOLAHAN INDIKATOR ASPEK AKSES PANGAN 5. HASIL PENGOLAHAN INDIKATOR ASPEK PEMANFAATAN PANGAN

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

DAFTAR TABEL

Tabel.1

Luas Tanam, Luas Panen, Produksi, Rata-Rata Produksi Padi Menurut Kecamatan Di Kabupaten Kepulauan Anambas 2011 Luas Tanam, Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Palawija Menurut Kecamatan Di Kabupaten Kepulauan Anambas 2011 Luas Tanam, Luas Panen, Produksi Dan Rata-Rata Produksi Palawija Menurut Kecamatan Di Kabupaten Kepulauan Anambas 2011 Tingkat Konsumsi Energy Dan Protein Masyarakat Indonesia Luas Wilayah, Jumlah Penduduk Dan Kepadatan Menurut Kecamatan Dikabupaten Kepulauan Anambas Harga-Harga Beberapa Kebutuhan Pokok Menurut Bulan Di Kabupaten Kepulauan Anambas, 2011 Luas tanam tanaman Pangan kabupaten Kepulauan Anambas bulan Januari 2013 Luas panen tanaman pangan Kabupaten Kepulauan Anambas bulan Januari 2013 Luas puso tanaman pangan kabupaten kepulauan Anambas bulan Januari 2013 Identifikasi kecamatan berdasarkan aspek ketersediaan pangan bulanan Perkembangan harga pangan kabupaten kepulauan Anambas Januari 2013 Identifikasi kecamatan berdasarkan aspek akses pangan bulanan Aspek pemanfaatan pangan bulanan kabupaten Kepulauan Anambas Januari 2013 Identifikasi kecamatan berdasarkan aspek pemanfaatan pangan bulanan Skor komposit bulan Januari 2013

16

Tabel 2

17

Tabel 3

17

Tabel 4 Tabel 5

18 19

Tabel 6

23

Tabel 7

36 36

Tabel 8

Tabel 9

36

Tabel 10 Tabel 11

37 39

Tabel 12 Tabel 13

40 41

Tabel 14 Tabel 15

43 44

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5

Peta Kabupaten Kepulauan Anambas Peta ketersediaan Pangan Peta Akses Pangan Peta Pemanfaatan Pangan Peta Komposit

9 45 45 46 46

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

I. 1.1. LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN

Kabupaten Kepulauan Anambas merupakan kabupaten termuda di Propinsi Kepulauan Riau. Terbentuk pada tahun 2008, terdiri dari 7 kecamatan, yaitu kecamatan Siantan, Siantan Selatan, Siantan Timur, Siantan Tengah, Palmatak, Jemaja dan Jemaja Timur. Kabupaten yang merupakan batas terluar kepulauan Indonesia ini merupakan gugusan pulau-pulau besar dan kecil yang berada di tengah laut Cina Selatan, berbatasan langsung dengan Negara lain atau lautan Internasional.

Gambar 1. Peta Kabupaten Kepulauan Anambas

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Dilihat dari kondisi geografisnya yang terletak ditengah-tengah laut dan terdiri dari gugusan pulau-pulau dimana akses pangan sangat tergantung pada kondisi cuaca dan pasokan luar, boleh dikatakan Kabupaten Kepulauan Anambas termasuk daerah yang rawan pangan. Selama ini pasokan makanan di Kabupaten Kepulauan Anambas diperoleh dari luar, terutama dari Tanjungpinang dan Kalimantan karena keterbatasan produksi pertanian. Beras, sayur mayur, buah-buahan, gula, minyak dan hampir sebagian besar bahan makanan pokok kebutuhan masyarakat kepulauan Anambas diperoleh dari pedagang antar pulau yang datang melalui kapal-kapal Barang, kapal Ikan, kapal Perintis, Binaiyaa maupun kapal feri. Jika cuaca bagus, stok bahan makanan di pasaran stabil dan melimpah. Akan tetapi jika cuaca buruk, angin kuat dan ombak besar maka bisa dipastikan pasokan bahan makanan berkurang dan kalaupun ada harganya cukup mahal. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada musim angin utara, sekitar bulan September s/d Februari. Didorong oleh permasalahan yang dihadapi terutama masalah rawan pangan di Kabupaten Kepulauan Anambas, Pemerintah Kabupaten

Kepulauan Anambas dalam hal ini Dinas Pertanian dan Kehutanan yang membidangi Ketahanan Pangan mulai melakukan kegiatan-kegiatan kearah pengembangan suatu sistem sesuai dengan kebutuhan dan situasi setempat. Salah satunya adalah dengan melaksanakan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) adalah serangkaian proses untuk mengantisipasi kejadian kerawanan pangan dan gizi melalui

10

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

ruang lingkup kegiatan SKPG yang terdiri dari pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi, serta investigasi mendalam (indepth investigation) bagi desa yang

diindikasikan akan terjadi kerawanan pangan dan gizi. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) diawali dengan pelaksanaan kegiatan pengamatan situasi pangan, dengan teknik

penyediaan data/informasi terhadap penanganan masalah gangguan pangan yang berpeluang muncul setiap saat. Perkembangan situasi pangan dapat cenderung menjadi tidak menentu dan sulit dipastikan, baik sebagai akibat pengaruh alam maupun oleh adanya gejala instabilitas seperti krisis ekonomi, sosial dan politik, maka penerapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi diharapkan dapat dijadikan acuan dalam mendeteksi kondisi awal ketahanan ekonomi, social dan politik. Selain sebagai pendeteksi awal, SKPG berguna dalam perencanaan program pangan dan gizi yang mampu mengoptimalkan koordinasi lintas sektoral antar lembaga. Ketersediaan pangan yang stabil disuatu tempat, artinya pangan dapat terjangkau oleh daya beli masyarakat dan dapat dikonsumsi masyarakat sesuai dengan kebutuhan. Pengamatan situasi pangan dilaksanakan melalui kegiatan

pemantauan secara langsung atau melalui k pengumpulan data/informasi yang berhubungan dengan ketersediaan pangan yang selanjutnya akan diolah untuk menjadi bahan perumusan kebijakan dalam penanggulangan masalah kerawanan pangan.

11

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Implementasi pelaksanaanya SKPG pada akhirnya adalah hubungan yang terkoordinir dengan baik antara pemerintah daerah pusat secara fungsional. Pelaksanaan ini terkait dengan beberapa perangkat hukum antara lain : ( 1 ) UU No.7 Tahun 1996 tentang Pangan, ( 2 ) UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah, ( 3 ) UU No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. ( 4 ) PP No. 25 Tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Propinsi Sebagai Daerah Otonom, ( 5 ) Keppres No. 132 Tahun 2001 tentang Dewan Ketahanan Pangan, ( 6 ) Surat Edaran Menteri Kesehatan tanggal 27 juli 2002 No.1107/Menkes/ENII/2000 tentang Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) menjadi kewenangan Propinsi dan Kabupaten/Kota. Berdasarkan uraian diatas dan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan SKPG di Kabupaten Kepulauan Anambas, maka perlu disusun evaluasi pelaksanaan SKPG sebagai bahan masukan dan informasi bagi penentuan kebijakan ditahap selanjutnya. 1.2. TUJUAN Adapun tujuan kegiatan SKPG ini adalah untuk mendapatkan informasi dan data situasi pangan dan gizi masyarakat kabupaten Kepulauan Anambas yang selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk menyusun kebijakan pemerintah dalam merencanakan program yang berkaitan dengan pangan dan gizi.

12

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

1.3. SASARAN Adapun sasaran dari kegiatan SKPG ini adalah pemerintah dan masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas. 1.4. KELUARAN 1. Tersedianya informasi situasi pangan dan gizi bulanan dan tahunan 2. Tersedianya informasi hasil investigasi daerah/desa yang diindikasikan rawan pangan. 3. Tersusunnya rekomendasi kebijakan dan pelaksanaan intervensi bagi penanganan kerawanan pangan dan gizi. 4. Tersedianya laporan dan rekomendasi kebijakan dan perencanaan program yang berkaitan dengan pangan dan gizi. 1.5. RUANG LINGKUP Ruang lingkup kegiatan SKPG terdiri dari pengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi serta investigasi mendalam (indepth investigation) bagi desa yang diindikasikan akan terjadi kerawanan pangan dan gizi. Hasil analisis SKPG dapat dimanfaatkan sebagai bahan perumusan kebijakan, perencanaan, penentuan intervensi atau tindakan dalam penanganan kerawanan pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di kabupaten Kepulauan Anambas

13

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

II.

GAMBARAN UMUM SITUASI PANGAN DAN GIZI

2.1. KETERSEDIAAN PANGAN Aspek Ketersediaan (Food Availability) yaitu ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk semua orang dalam suatu negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor, cadangan pangan maupun bantuan pangan. Ketersediaan pangan ini diharapkan mampu mencukupi pangan yang didefinisikan sebagi jumlah kalori yang dibutuhkan untuk kehidupan yang aktif dan sehat. Ketersediaan Pangan adalah ketersediaan pangan secara fisik di suatu wilayah dari segala sumber, baik itu produksi pangan domestik, perdagangan pangan dan bantuan pangan. Ketersediaan pangan ditentukan oleh produksi pangan di wilayah tersebut, perdagangan pangan melalui mekanisme pasar di wilayah tersebut, stok yang dimiliki oleh pedagang dan cadangan pemerintah, dan bantuan pangan dari pemerintah atau organisasi lainnya. Produksi pangan tergantung pada berbagai faktor seperti iklim, jenis tanah, curah hujan, irigasi, komponen produksi pertanian yang digunakan, dan bahkan insentif bagi para petani untuk menghasilkan tanaman pangan. Pangan meliputi produk serealia, kacang-kacangan, minyak nabati, sayur-sayuran, buah-buahan, rempah, gula, dan produk hewani. Karena porsi utama dari kebutuhan kalori harian berasal dari sumber pangan karbohidrat, yaitu sekitar separuh dari kebutuhan energi per orang per hari, maka yang digunakan dalam analisa kecukupan pangan yaitu karbohidrat yang bersumber dari produksi pangan pokok serealia, yaitu padi, jagung, dan umbi-umbian (ubi

14

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

kayu dan ubi jalar) yang digunakan untuk memahami tingkat kecukupan pangan pada tingkat provinsi maupun kabupaten.

2.1.1. PRODUKSI (LUAS TANAM, LUAS PANEN, LUAS TANAM)

Produksi adaah peningkatan produksi pangan dan kualitas pangan dapat dilakukan dengan program intensifikasi budidaya dan diversifikasi pangan antara lain dengan usaha pengolahan bahan pangan menjadi produk pangan yang menpunyai nilai tambah. Walau bukan termasuk daerah penghasil beras, namun kabupaten Kepulauan Anambas masih memiliki potensi yang dapat lebih

dikembangkan lagi pada sector ini. Tiga kecamatan, yaitu Jemaja Jemaja Timur dan Palmatak yang memiiki lahan sawah. Luas tanam padi di tahun 2011 adaah 54 ha dengan luas panen 54 ha, dengan total produksi pada tahun 2011 sebesar 324 ton. Angka ini mengalami kenaikan dari tahuntahun sebelumnya (tabel 1). Selain padi, juga terdapat palawija dengan luas panen 107 ha dengan produksi 1155 ton. produksi tanaman palawija pada tahun 2011 untuk komoditi jagung 225 ton, ubi kayu 735 ton, dan ubi jalar 420 ton (tabel 2 dan 3). Luas tanam adalah luas tanaman yang betul-betul ditanam (sebagai tanaman baru) pada bulan laporan, baik penanaman yang bersifat normal maupun penanaman yang dilakukan untuk mengganti tanaman yang dibabat/dimusnahkan karena terserang OPT atau sebab-sebab lain.

15

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Luas Panen adalah luas tanaman yang dipungut hasilnya paling sedikit 11 persen dari keadaan normal. Khusus untuk jagung dan kedelai, luas tanaman yang dipanen adalah yang bertujuan menghasilkan pipilan kering (jagung) dan biji kering (kedelai). Luas puso adalah luas tanaman yang mengalami kerusakan yang diakibatkan oleh serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan), DPI (dampak Perubahan Iklim) dan/atau oleh sebab lainnya (gempa bumi dll) sedemikian rupa sehingga hasilnya kurang dari 11 persen dari keadaan normal. Tabel.1. Luas tanam, luas panen, produksi, rata-rata produksi padi menurut kecamatan di kabupaten kepulauan Anambas 2011
LUAS NO KECAMATAN TANAM (ha) 1 2 3 4 5 6 7 Jemaja Jemaja Timur Siantan Selatan Siantan Siantan Timur Siantan Tengah Pamatak Jumlah total 2011 2010 2009 2008 54 45 36 23 54 41 28 10 324 246 190 136 6,0 6,0 6,8 6,8 7 45 2 LUAS PANEN (ha) 7 45 2 PRODUKSI (ton) 42,0 270,0 12 RATA-RATA PRODUKSI 6 6 6

Sumber : Kepulauan Anambas Dalam Angka 2012, Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas

16

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel.2. Luas tanam, luas panen, produksi, rata-rata produksi palawija menurut kecamatan di kabupaten kepulauan Anambas 2011
JAGUNG NO 1 2 3 4 5 6 7 KECAMATAN Jemaja Jemaja Timur Siantan Selatan Siantan Siantan Timur Siantan Tengah Pamatak Jumlah total 2011 2010 2009 2008 30 37 22 16 225 167 110 80 49 153 24 6 735 4800 810 300 Berlanjut/continue LUAS PANEN (ha) 2 20 8 PRODUKSI (TON) 15 150 60 UBI KAYU LUAS PANEN (HA) 7 7 9 16 3 3 4 PRODUKSI (TON) 105 105 135 240 45 4 60

Tabel 3.

Luas tanam, luas panen, produksi, rata-rata produksi palawija menurut kecamatan di kabupaten kepulauan Anambas 2011
UBI JALAR KACANG TANAH LUAS PANEN (HA) 3 1 3 PRODUKSI (TON) 9 8 15

NO

KECAMATAN

LUAS PANEN (ha) 6 8 8 6 28 21 21 1

PRODUKSI (TON) 90 120 120 90 420 525 735 15

1 2 3 4 5 6 7

Jemaja Jemaja Timur Siantan Selatan Siantan Siantan Timur Siantan Tengah Pamatak 2011 2010 2009 2008

Sumber : Kepulauan Anambas Dalam Angka 2012, Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas

17

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

2.1.2. KONSUMSI PANGAN Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan (rasa lapar) atau untuk memperoleh zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan masyarakat

(Sedioetama 1996). Konsumsi pangan merupakan factor utama untuk memenuhi kebutuhan gizi yang selanjutnya bertindak menyediakan energy bagi tubuh, mengatur proses metabolisme, memperbaiki jaringan tubuh serta untuk pertumbuhan. Tabel. 4. Tingkat Konsumsi Energi dan Protein masyarakat Indonesia.
Uraian Energi (Kalori) TKE Protein (gram) 2005 1996 99,8 55,23 106,2 25,2 2006 1927 96,3 53,66 103,2 24,4 2007 2015 100,7 57,66 110,9 26,2 2008 2038,2 101,9 57,49 110,6 26,6 2009 1927,5 96,4 54,36 104,5 26,6

TKP
Hewani (%)

Keterangan: TKE = Tingkat Konsumsi Energi; TKP= Tingkat Konsumsi Protein

Sumber : Survey Ekonomi Nasional (SUSENAS)

2.1.3. JUMLAH PENDUDUK Penduduk kabupaten Kepulauan Anambas pada tahun 2011 menurut proyeksi Badan Pusat Statistik ada sebanyak 39.318 jiwa dengan
18

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

kepadatan penduduk 61,98 jiwa.km2. kecamatan Siantan memiliki tingkat kepadatan penduduk tertingggi sebesar 231,97 jiwa/km2 dan terendah kecamatan Jemaja Timur dengan tingkat kepadatan sebesar 13,58 jiwa/km2 (tabel 5). Tabel 5. Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan menurut kecamatan di kabupaten Kepulauan Anambas, tahun 2011.
No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Jemaja Jemaja Timur Siantan Selatan Siantan Siantan Timur Siantan Tengah Palmatak Luas (Km2) 78,26 154,24 115,48 45,39 88,92 22,14 129,94 634,37 634,37 634,37 634,37 Jumlah Penduduk 5.818 2.094 3.352 10.529 3.400 2.824 11.301 39.318 37.411 35.645 33.586 Kepadatan (/km) 74,34 13,58 29,03 231,97 38,24 127,55 86,97 61.98 58.97 56.19 52.94

Jumlah/Total 2011 2010 2009 2008

Sumber : Kepulauan Anambas Dalam Angka 2012, Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas

2.1.4. CADANGAN PANGAN Cadangan pangan adalah persediaan bahan pangan pokok yang disimpan oeh pemerintah dan masyarakat yang dapat dimobiisasi secara cepat untuk keperluan konsumsi maupun menghadapi keadaan darurat dan antisipasi terjadinya gejolak harga. Cadangan pemerintah, masyarakat.
19

pangan

nasional

terdiri daerah

dari dan

cadangan cadangan

pangan pangan

cadangan

pemerintah

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Maksud

dan

tujuan

cadangan

pangan

adaah

menyediakan

cadangan pangan komoditi beras sebagai cadangan pangan pokok daerah dalam rangka mencegah dan menanggulangi keadaan darurat, pasca bencana serta mengantisipasi gejiolak harga beras yang signifikan. Pada Tahun 2013 Pemkab Anambas menyalurkan 3.121 jatah raskin untuk Rumah Tangga Sasaran (RTS). Jumlah tersebut terperinci 2.201 berasal dari APBD dan 920 RTS dari APBN. Jumlah penyaluran raskin untuk RTS yang berasal dari dana APBN menurun dibanding tahun 2011 yaitu 2.000 RTS. Penyebab turunnya penerimaan atau penyaluran raskin 2013 diperkirakan karena taraf hidup perekonomian masyarakat Anambas juga meningkat. Sehingga yang berhak menerima raskin berkurang. Sebagai pelengkap Pemkab Anambas melakukan penambahan kuota RTS sebanyak 2.201 RTS dari APBD, agar semua lapisan masyarakat mendapatkan bagian. Pendistribusiannya dilakukan tiap tiga bulan sekali. Untuk satu kepala keluarga sebanyak 15 kg. 2.2. AKSES TERHADAP PANGAN Aspek Akses Pangan (Food Acces) : yaitu kemampuan semua rumah tangga dan individu dengan sumberdaya yang dimiliki untuk memperoleh pangan yang cukup untuk kebutuhan gizinya yang dapat diperoleh dari produksi pangannya sendiri, pembelian ataupun melalui bantuan pangan. Akses rumah tangga dari individu terdiri dari akses ekonomi, fisik dan social. Akses ekonomi tergantung pada, pendapatan, kesempatan kerja dan harga. Akses fisik
20

akan mendapatkan jatah

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

menyangkut tingkat isolasi daerah (sarana dan prasarana distribusi), sedangkan akses social menyangkut tentang referensi pangan. Atau dapat dikatakan keterjangkauan dalam pengukuran ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga dilihat dari kemudahan rumah tangga memperoleh pangan yang dapat diukur dari pemilikan lahan. Cara memperoleh pangan juga dapat dengan memproleh produksi sendiri dan membeli.

Adapun faktor-faktor yang memepengaruhi Akses pangan dapat dikategorikan dalam faktor-faktor yang bersifat fisik antara lain kelancaran system distribusi, terpenuhinya sarana dan prasana transportasi sehingga tidak menimbulkan terjadinya isolasi daerah. Faktor yang bersifat ekonomi antara lain kemampuan atau peningkatan daya beli masyarakat atau individu dikarenakan adanya kesempatan kerja menyebabkan pendapatan tinggi sehingga harga pangan terjangkau. Faktor yang bersifat social antara lain tidak adanya konflik social yang disebabkan oleh buruknya adat atau kebiasaan, tinggi-rendahnya pengetahuan sehingga berpengarh pada

preferensi atau pemilihan jenis pangan. Suatu contoh adanya pengetahuan tentang asupan gizi pada komoditas pangan yang seharusnya dikonsumsi maka rumah tangga atau individu dengan pendapatan yang tinggi maka tidak mustahil rumah tangga/individu akan memilih komoditas pangan yang memiliki mutu dan kualitas.

21

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

2.2.1. PERKEMBANGAN HARGA PANGAN KOMODITAS UTAMA DAN STRATEGIS

Kabupaten kepulauan Anambas merupakan daerah yang terdiri dari pulaupulau yang tentunya mengakibatkan adanya penambahan ongkos transportasi yang cukup tinggi untuk berbagai barang yang masuk. Hal ini mengakibatkan harga berbagai barang mengalami penyesuaian harga atau dengan kata lain harga menjadi lebih tinggi.

Berdasarkan data Dinas perindustrian, perdagangan, koperasi dan UKM kabupaten Kepulauan Anambas yang terangkum dalam Anambas dalam angka 2012, Badan Pusat Statistik kabupaten Kepulauan Anambas, harga kebutuhan pokok telah tercatat dan apabila diperhatikan kenaikan harga yang terjadi cukup mengejutkan (tabel 6)

22

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel 6. Harga-harga beberapa kebutuhan pokok menurut bulan di Kabupaten Kepulauan Anambas, 2011.
JENIS TERIGU (1 KG) 7100 7200 7200 7200 7200 7200 7500 7500 7500 8000 8000 7200 (1 BTL) 9300 10300 10300 10300 9400 9200 9200 9200 9200 9000 9000 9300 (1 KG) 35000 35000 32000 33000 33000 32000 32000 32000 32000 34000 34000 34000 (1 KG) 80000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 100000 111000 111000 111000

NO

BULAN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember

BERAS (CITRA MANDIRI 1 KG) 11000 11000 10700 10700 9600 10300 10500 10500 10500 10000 11000 11000

GULA (1KG) 10800 10800 10800 10800 10000 9400 9400 9400 9400 10000 11000 11000

TELUR (1 BTR) 1500 1500 1250 1250 1000 1250 1250 1250 1250 1000 1000 1000

MINYAK GORENG

DAGING AYAM

DAGING SAPI

* Sumber : Anambas dalam angka 2012, Badan Pusat Statistik kabupaten Kepulauan Anambas

2.2.2. JUMLAH KELUARGA PRA SEJAHTERA

Keluarga pra sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya (basic need) secara minimal, seperti kebutuhan akan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan dan KB. Indicatornya adalah mereka tidak mampu untuk melaksanakan ha-hal sebagai berikut :

23

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

a. Melaksanakan ibadah menurut agama oleh masing-masing anggota keluarga b. Pada umumnya seluruh anggota keluarga, makan dua kali atau lebih dalam sehari. c. Seluruh anggota keluarga mempunyai pakaian berbeda di rumah, bekerja, sekolah atau berpergian. d. Bagian yang terluas dari lantai bukan dari tanah. e. Bila anak sakit dan atau pasangan usia subur ingin ber KB dibawa ke sasaran kesehatan.

Dari

data

Sistem

Informasi

Statistik

Pembangunan

Daerah

Tertinggal, tentang Jumah penduduk, keluarga, penduduk miskin dan keluarga prasejahtera dan sejahtera I, menurut kabupaten daerah tertinggal tahun 2011, di paparkan bahwa untuk kabupaten Kepulauan Anambas yang berjumlah

penduduk 39.588 pada pertengahan tahun, mempunyai jumah keluarga/Rumah tangga 11.046. jumlah penduduk miskin/pra sejahtera adalah 1.600 orang atau sekitar 3,95%.

2.3. PEMANFAATAN PANGAN


Aspek Pemanfaatan Pangan (Food Utilazation) yaitu penggunaan pangan untuk kebutuhan hidup sehat yang meliputi kebutuhan energi dan gizi, air dan kesehatan lingkungan. Efektifitas dari pemanfaatan pangan tergantung pada pengetahuan rumah tangga / individu sanitasi dan ketersediaan air, fasilitas kesehatan, serta penyuluahan gizi dan pemeliharaan balita.

24

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Pemanfaatan pangan/ konsumsi terkait dengan kualitas dan keamanan jenis pangan yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi. Ukuran kualitas pangan seperti ini sulit dilakukan karena melibatkan berbagai jenis makanan dengan kandungan gizi yang berbeda-beda, sehingga ukuran keamanan hanya dilihat dari ada atau tidaknya bahan makanan yang mengandung protein hewani dan/atau nabati yang dikonsumsi dalam rumah tangga. Oleh karena itu, ukuran kualitas pangan dilihat dari data pengeluaran untuk konsumsi makanan (laukpauk) sehari-hari yang mengandung protein hewani dan/atau nabati.

Pemanfaatan Pangan erat kaitannya dengan mutu dan keamanan pangan. Mutu dan keamangan pangan tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan manusia, tetapi juga terhadap produktivitas ekonomi dan

perkembangan sosial baik individu, masyarakat maupun negara. Selain itu mutu dan keamanan pangan terkait erat juga dengan kualitas pangan yang dikonsumsi, yang secara langsung berpengaruh terhadap kualitas kesehatan serta pertumbuhan fisik dan intelgensi manusia.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pangan antara lain fasilitas dan layanan kesehatan dengan cara peningkatan fasilitas kesehatan yang memadai dan mempermudah layanan kesehatan, sanitasi dan ketersediaan air dengan kecukupan air bersih hal ini dikarenakan air yang kurang bersih rentan penyakit. Faktor lain yang berpengaruh terhadap penyerapan pangan yaitu pengetahuan ibu rumah tangga yang mana pola makan dan pola asuh kesehatan berdampak pada seberapa besar jumlah asupan gizi yang dikonsumsi. Apabila faktor-faktor tersebut terpenuhi tidaklah

25

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

mustahil bahwasannya hasil yang diharapkan seperti peluang harapan hidup dari terpenuhinya gizi balita akan memiminkan angka kematian bayi sebagi penerus generasi. Dari beberapa hasil observasi penyerapan pangan, bentuk dari ketahanan pangan menitik beratkan pada pola konsumsi yang diharapkan mampu memenuhi gizi maupun energi, diversifikasi pangan dan adanya jaminan keamanan pangan. Berkaitan dengan keamanan pangan, dari instansi atau badan pengawasan pangan telah melakukan beberapa kegiatan antara lain (a) penyuluhan kepada produsen makanan jajanan dan pedagang melalui pelatihan rencana penjaminan mutu, serta keamanan, mutu, dan gizi pangan; (b) operasionalisasi pengawasan bahan pangan/pangan melalui pengkajian; (c) penyebaran dan publikasi informasi keamanan dan mutu pangan melalui media cetak maupun elektronik; (d) penetapan dan pengusulan peraturan daerah tentang pengendalian Keamanan, mutu dan gizi pangan; (e) inventarisasi institusi daerah yang memiliki kompetensi dalam menangani keamanan, mutu, dan gizi pangan segar, olahan, siap saji dan pangan jajanan.

2.3.1. STATUS GIZI BALITA Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh

keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit.

26

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Penilaian status gizi dibagi menjadi dua yaitu (1) Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisika; (2) Penilaian status gizi secara tidak langsungdapat dibagi menjadi tiga penilaian yaitu survei konsumsi makanan, statistikvital, dan faktor ekologi. Penilaian antropometri secara umum digunakan untuk melihatketidakseimbangan asupan energi dan protein. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh. Beberapa indeks antropometri yang digunakan untuk menggambarkan prevalensi status gizi diantaranya: Berat Badan Menurut Umur (BB/U). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi. 1. Konsumsi Makanan dan Penyakit Infeksi Konsumsi makanan dan penyakit infeksi yang kurang memenuhi syarat gizi merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan status gizi anak. Gangguan gizi yang kronis pada masa anak akan tampak akibatnya terhadap pertumbuhan pada usia selanjutnya bila tidak segera ditanggulangi. 2. Tingkat Pendapatan Tingkat pendapatan juga menentukan pola makan apa yang dibeli dengan uang tersebut. Jika pendapatan meningkat, pembelanjaan untuk membeli makanan juga meningkat. Dengan demikian pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kualitas makanan yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap status gizi.

27

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

2.3.2. KASUS GIZI BURUK Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita.

Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk. Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :

1. Kurangnya asupan gizi dari makanan. Hal ini disebabkan terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi yaitu kemiskinan. 2. Akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi. Hal ini disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.

Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu:

1. Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat 2. Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan asuh anak 3. Pengelolaan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab gizi buruk pada balita, yaitu:

1. Keluarga miskin
28

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

2. Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak 3. Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan dan diare.

Indikasi Gizi Buruk

Untuk KEP ringan dan sedang, gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus, kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor.

Tipe Gizi Buruk

Tipe gizi buruk terbagi menjadi tiga tipe yaitu Kwasiorkor, Marasmus dan Marasmic-Kwashiorkor.

Kwasiorkor, mempunyai cirri-ciri :

1. Edema (pembengkakan), umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 2. Pandangan mata sayu 3. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 4. Terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 5. Terjadi pembesaran hati 6. Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk

29

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

7. Terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) 8. Sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut 9. Anemia dan diare.

Marasmus, memiliki ciri-ciri:

1. Badan nampak sangat kurus seolah-olah tulang hanya terbungkus kulit 2. Wajah seperti orang tua 3. Mudah menangis/cengeng dan rewel 4. Kulit menjadi keriput 5. Jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (baggy pant/pakai celana longgar) 6. Perut cekung, dan iga gambang 7. Sering disertai penyakit infeksi (umumnya kronis berulang) 8. Diare kronik atau konstipasi (susah buang air).

Marasmic-Kwashiorkor

Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.

Hingga saat ini di kabupaten Kepulauan Anambas belum ditemukan adanya kasus gizi buruk.

30

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

III.

METODE SKPG

3.1. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP SKPG Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu atau sekumpulan individu di suatu wilayah untuk memperoleh pangan yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat dan aktif.Kerawanan pangan dapat diartikan juga sebagai kondisi suatu daerah, masyarakat atau rumah tangga yang tingkat ketersediaan dan keamanan pangannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan sebagian masyarakat. Pada dasarnya keadaan rawan pangan dan gizi merupakan bagian akhir dari suatu rentetan peristiwa yang terjadi melalui proses perubahan situasi. Rawan pangan ialah suatu keadaan di suatu daerah dimana banyak penduduk mengalami kekurangan pangan. Rawan gizi ialah suatu keadaan dimana banyak penduduk mengalami kekurangan gizi. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) adalah serangkaian proses untuk mengantisipasi kejadian kerawanan pangan dan gizi melalui ruang lingkup kegiatan SKPG yang terdiri daripengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi, serta investigasi mendalam (indepth investigation) bagi desa yang diindikasikan akan terjadi kerawanan pangan dan gizi. Hasil analisis SKPG dapat dimanfaatkan sebagai bahan perumusan kebijakan, perencanaan, penentuan intervensi atau tindakan dalam penanganan kerawanan pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di tingkat kabupaten.

31

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

3.2. ORGANISASI PELAKSANA SKPG Kerawanan pangan adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu atau sekumpulan individu di suatu wilayah untuk memperoleh pangan yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat dan aktif.Kerawanan pangan dapat diartikan juga sebagai kondisi suatu daerah, masyarakat atau rumah tangga yang tingkat ketersediaan dan keamanan pangannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan sebagian masyarakat. Pada dasarnya keadaan rawan pangan dan gizi merupakan bagian akhir dari suatu rentetan peristiwa yang terjadi melalui proses perubahan situasi. Rawan pangan ialah suatu keadaan di suatu daerah dimana banyak penduduk mengalami kekurangan pangan. Rawan gizi ialah suatu keadaan dimana banyak penduduk mengalami kekurangan gizi. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) adalah serangkaian

proses untuk mengantisipasi kejadian kerawanan pangan dan gizi melalui ruang lingkup kegiatan SKPG yang terdiri daripengumpulan, pemrosesan, penyimpanan, analisis, dan penyebaran informasi situasi pangan dan gizi, serta investigasi mendalam (indepth investigation) bagi desa yang diindikasikan akan terjadi kerawanan pangan dan gizi. Hasil analisis SKPG dapat dimanfaatkan sebagai bahan perumusan kebijakan, perencanaan, penentuan intervensi atau tindakan dalam penanganan kerawanan pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di tingkat kabupaten.

32

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

3.3. MEKANISME KERJA KEGIATAN SKPG Kabupaten Kepulauan Anambas membentuk Pokja/Tim SKPG dengan susunan Pokja/Tim sebagai berikut: 1. 2. Sekretaris : Kepala Bidang Ketahanan Pangan Anggota terdiri dari instansi terkait, yaitu : Dinas Pertanian dan Kehutanan Badan Pusat Statistik Dinas Kesehatan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Dinas Sosial

Tugas umum Tim SKPG di tingkat kabupaten antara lain: a. Menemukenali secara dini dan merespon kemungkinan timbulnya masalah pangan dan gizi b. Menyiapkan bahan perumusan kebijakan dan intervensi penanganan rawan pangan dan gizi. c. Menggalang kerjasama dengan berbagai institusi termasuk kalangan swasta serta lembaga swadaya masyarakat dalam implementasi rencana tindak lanjut dan intervensi penanggulangan kerawanan pangan dan gizi. Secara khusus tugas Tim SKPG di tingkat kabupaten antara lain: a. Melakukan pertemuan-pertemuan koordinasi teknis konsolidasi data dan informasi pangan dan gizi secara regular (bulanan dan tahunan). b. Melakukan pengolahan dan analisis data bulanan dan tahunan c. Menyiapkan bahan dan menyusun laporan situasi pangan dan gizi bulanan dan tahunan.
33

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

d. Melaporkan hasil analisa bulanan dan tahunan kepada Tim Pokja pangan dan Gizi Tingkat Provinsi. e. Melakukan investigasi kedalaman masalah pangan dan gizi berdasarkan hasil analisis bulanan dan merumuskan langkah-langkah intervensi.

34

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

IV.

HASIL PELAKSANAAN SKPG

4.1. ANALISIS INDIKATOR SKPG Analisis situasi pangan dan gizi bulanan disajikan berdasarkan tiga jenis indicator (1) aspek ketersediaan, (2) aspek akses pangan, dan (3) aspek pemanfaatan pangan. 4.1.1. ASPEK KETERSEDIAAN PANGAN Pada bulan Januari 2013, di Kabupaten Kepulauan Anambas hanya ada 1 kecamatan yang melakukan budidaya tanaman padi-padian, yaitu kecamatan Jemaja Timur, dengan luas tanam 32 ha. Tidak ada panen pada bulan ini tetapi terjadi puso seluas 2 ha. Terjadinya puso disebabkan karena pada saat ini curah hujan sangat tinggi, yang mengakibatkan areal persawahan terendam banjir, ditambah dengan air pasang sehingga padi

mengalami kerusakan/puso. Untuk tanaman palawija ( jagung, ubi kayu, ubi jalar dapat dilihat pada tabel 7, 8 dan 9) Budidaya tanaman pangan secara keseluruhan baik itu padi-padian dan umbi-umbian : mempunyai luas tanam sebagai berikut : Jemaja Timur 36 ha, Siantan 12 ha dan Siantan Selatan 8 ha.

35

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel.7. Luas Tanam Kabupaten Kepulauan Anambas Januari 2013


Luas Tanam No Kecamatan Padi Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar ha 6 0 0 0 0 0 0 3 Total ha 7 0 36 0 12 0 0 8

ha ha Ha 1 2 3 4 5 0 0 0 1 Jemaja 32 4 0 2 Jemaja timur 0 0 0 3 Palmatak 0 1 11 4 Siantan 0 0 0 5 Siantan timur 0 0 0 6 Siantan tengah 0 0 5 7 Siantan selatan *Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kepulauan Anambas

Tabel. 8 Luas Panen Kabupaten Kepulauan Anambas Januari 2013


No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Siantan Siantan timur Siantan selatan Siantan tengah Palmatak Jemaja Jemaja Timur Jumlah Padi 0 0 0 0 0 0 0 0 Luas panen (ha) Jagung Ubi kayu 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 2 Ubi jalar 0 0 0 0 0 0 0 0

*Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kepulauan Anambas

Tabel. 9. Luas Puso Kabupaten Kepulauan Anambas Januari 2013


No 1 2 3 4 5 6 7 Kecamatan Siantan Siantan timur Siantan selatan Siantan tengah Palmatak Jemaja Jemaja Timur Jumlah Padi 0 0 0 0 0 0 2 2 Jagung 0 0 0 0 0 0 0 0 Luas puso (ha) Ubi kayu 0 0 0 0 0 0 0 0 Ubi jalar 0 0 0 0 0 0 0 0

*Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutan Kabupaten Kepulauan Anambas

36

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel 10. Identifikasi Kecamatan berdasarkan aspek ketersediaan pangan bulanan

37

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel 10 diatas adalah hasil analisis data kecamatan berdasarkan aspek ketersediaan pangan. Peta dibuat berdasarkan data bulan Januari tahun 2013 yang dikumpulkan yang selanjutnya diolah melalui proses komputerisasi yang terdiri dari data luas tanam, luas puso kemudian didapatlah skor untuk mendapatkan data kecamatan yang termasuk rawan, waspada atau aman. Pada tabel 10 tergambar dari 7 kecamatan, terdapat 2 kecamatan

berwarna kuning yang termasuk dalam kondisi waspada yaitu kecamatan Siantan, dan Siantan Selatan dan 5 kecamatan berwarna merah yang termasuk dalam kondisi defisit pangan serealia (padi, jagung) dan umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar) yaitu kecamatan Jemaja Timur, Jemaja, Palmatak, Siantan Timur dan Siantan Tengah. Hasil ini diperoleh melalui perhitungan penjumlahan bobot rasio luas

tanam (persentase luas tanam bulan berjalan dibandingkan dengan rata-rata luas tanam bulan bersangkutan 4 tahun terakhir) dengan rasio luas puso (persentase luas puso bulan berjalan dibandingkan dengan rata-rata luas puso bulan bersangkutan 5 tahun terakhir). Warna merah pada peta disebabkan luas tanam pada bulan Januari 2013 lebih kecil bila dibanding rata-rata luas tanam bulan bersangkutan 5 tahun terakhir. Hal ini mengindikasikasikan kemungkinan adanya alih fungsi lahan yang sebelumnya merupakan lahan pertanian menjadi lahan perkebunan. Namun pada kenyataannya 7 Kecamatan tersebut tidak mengalami defisit pangan hal ini disebabkan Kecamatan tersebut memiliki kemampuan daya beli cukup tinggi sehingga ketersediaan pangan di wilayah tersebut dapat tercukupi.

38

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

4.1.2. ASPEK AKSES PANGAN Aspek akses pangan dinilai dengan pendekatan perkembangan harga pangan komoditas utama dan strategis (Beras, Jagung, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Gula Pasir, Minyak Goreng, Daging Ayam dan Telur). Data diperoleh dari hasil survei harga di seluruh Kecamatan setiap bulan oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Kepulauan Anambas. Tabel 11. Perkembangan harga pangan Kabupaten Kepulauan Anambas Januari 2013
Harga Rata2 Bulan Berjalan di Tingkat Konsumen Beras Kualitas Sedang Rp/kg 1 2 3 4 5 6 7 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan 12,500 12,500 12,000 12,000 12,500 12,000 12,500 Rp/kg 8,300 8,300 8,000 8,000 8,400 8,000 8,300 Jagung Minyak Gula Goreng Curah Rp/kg 12,500 12,500 12,000 12,000 12,500 12,000 12,500 Rp/Liter 14,500 14,500 14,000 14,000 14,500 14,000 14,500

No

Kecamatan

Ubi Kayu Rp/kg 6,400 6,500 6,300 6,000 6,500 6,200 6,500

Ubi Jalar Rp/kg 10,000 9,800 10,500 10,000 10,000 10,000 10,400

Daging Ayam Rp/kg 32,000 32,000 30,000 30,000 32,000 30,000 33,000

Telur

Rp/kg 28.900 28.900 25.500 25.500 28.900 25.500 28.900

*Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutan Kabupaten Kepulauan Anambas

Berdasarkan aspek akses terhadap pangan pada bulan Januari 2013 tidak ada Kecamatan yang berada dalam kondisi rawan. Seluruh Kecamatan (kecamatan Jemaja, Jemaja Timur, Palmatak, Siantan, Siantan Timur, Siantan Tengah dan Siantan Selatan) dalam kondisi aman. Secara umum harga komoditi di semua wilayah Kecamatan Kabupaten Kepulauan Anambas aman terhadap rawan pangan. Ini dimungkinkan adanya stabilitas harga yang cukup baik.

39

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel 12. Identifikasi Kecamatan berdasarkan aspek akses pangan bulanan

40

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

4.1.3. ASPEK PEMANFAATAN PANGAN

Indikator ketiga dari situasi Pangan dan Gizi adalah aspek pemanfaatan pangan. Hasil dari pemanfaatan/penyerapan pangan merupakan gambaran dari

status gizi seseorang terutama pada anak-anak. Dalam hal ini indikator status gizi balita yang dinilai di masing-masing Kecamatan yang dikumpulkan setiap bulan melalui kegiatan penimbangan di posyandu yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Anambas. Tabel 13. Aspek pemanfaatan pangan bulanan Kabupaten Kepulauan Anambas Januari 2013
Jumlah Puskesmas Kecamatan No (Digabung jika lebih dari 1 puskesmas) S 1 1 2 3 4 5 6 7 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan 2 3 879 312 1647 1758 536 445 542 D 4 384 123 1014 378 162 250 162 N 5 242 88 686 178 110 204 103 BGM 6 8 4 13 2 0 9 0 2T 7 6 4 25 0 0 22 0 Balita Terdaftar Jumlah Balita Ditimbang Jumlah Balita Naik BB Jumlah Balita BGM Jumlah Balita Tidak Naik BB

*Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Anambas

Pada tabel 14.. Identifikasi Kecamatan berdasarkan Aspek Pemanfaatan Pangan Bulanan menunjukkan bahwa ada 6 Kecamatan (kecamatan Jemaja,

Jemaja Timur, Palmatak, Siantan, Siantan Timur dan Siantan Selatan) dalam kondisi rawan sedangkan kecamatan Siantan Tengah berada dalam kondisi aman. Situasi di atas sangat dipengaruhi oleh peran serta masyarakat yang datang ke posyandu untuk menimbang anak balitanya.Selanjutnya persentase

41

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

kenaikan BB juga menentukan situasi Aspek Pemanfaatan Pangan. Penimbangan BB Balita yang dilakukan secara rutin setiap bulan akan membantu proses pemantauan pertumbuhan anak sehingga kondisi rawan tidak akan terjadi. Oleh sebab itu wawasan masyarakat tentang pentingnya menimbang BB anak Balitanya secara rutin di Posyandu atau pos pelayanan kesehatan lainnya dapat

dipertahankan melalui upaya promosi sampai ke tingkat Desa dan dapat terus disosialisasikan agar deteksi dini status kesehatan balita dapat segera diketahui yang pada akhirnya situasi aman dapat tercapai.

42

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel 14. Identifikasi Kecamatan berdasarkan Aspek Pemanfaatan Pangan Bulanan

43

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

4.1.4.

INDEKS KOMPOSIT

Indeks Komposit adalah penggabungan ketiga indikator diatas (dikompositkan) menjadi satu informasi situasi pangan dan gizi wilayah. Biasanya tingkat kerawanan berdasarkan tiga nilai indicator dapat

diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu wilayah resiko tinggi, sedang dan ringan.

Tabel 15. Skor komposit bulan Januari 2013


SKOR KOMPOSIT BULANAN 6 7 6 7 6 7 5 6 KETERANGAN KOMPOSIT BULANAN Rawan Rawan Rawan Rawan Rawan Rawan Rawan INDEKS KOMPOSIT BULANAN (IKB) 3 3 3 3 3 3 3

NO 1 1 2 3 4 5 6 7

KECAMATAN 2 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan

IK 3 3 2 3 2 3 3 2

IA 4 1 1 1 1 1 1 1

IP 5 3 3 3 3 3 1 3

Dari hasil penggabungan ketiga indikator tersebut diperoleh hasil bahwa situasi pangan dan gizi di Kabupaten Kepulauan Anambas bulan

Januari 2013 bulan Januari 2013 semua kecamatan yang ada di kabupaten Kepulauan Anambas berada pada warna merah (rawan) perlu penanganan segera. Kondisi di atas lebih banyak dipengaruhi oleh situasi ketersediaan pangan, salah satunya luas tanam pada beberapa komoditi yaitu Padi, Jagung, ubi kayu dan ubi jalar yang luas tanamnya lebih kecil dibanding dengan luas tanam rata-rata 5 tahun pada bulan berjalan yaitu pada bulan Januari sehingga persentase perbandingannya menghasilkan nilai minus (-)

44

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

selanjutnya bobot yang didapat tinggi yaitu skor 3. Sedangkan pada aspek akses pangan tidak begitu mempengaruhi. 4.2. PETA SITUASI PANGAN DAN GIZI

Gambar 2. Peta Ketersediaan Pangan

Gambar 3. Peta Akses Pangan

45

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Gambar 4. Peta Pemanfaatan Pangan

Gambar 5. Peta Komposit

46

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

V. 1. KESIMPULAN

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan analisa data aspek Ketersediaan pangan Kabupaten Kepulauan Anambas bulan Januari 2013 dari 7 Kecamatan , terdapat 3 kecamatan berwarna kuning yang termasuk dalam kondisi waspada yaitu kecamatan Jemaja Timur, Siantan, dan Siantan Selatan dan 4 kecamatan berwarna merah yang termasuk dalam kondisi defisit pangan serealia (padi, jagung) dan umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar) yaitu kecamatan Jemaja, Palmatak, Siantan timur dan Siantan Tengah. Berdasarkan aspek akses terhadap pangan pada bulan Januari 2013 tidak ada Kecamatan yang berada dalam kondisi rawan. Seluruh Kecamatan (kecamatan Jemaja, Jemaja Timur, Palmatak, Siantan, Siantan Timur, Siantan Tengah dan Siantan Selatan) dalam kondisi aman. Identifikasi Kecamatan berdasarkan Aspek Pemanfaatan Pangan Bulanan menunjukkan bahwa ada 6 Kecamatan (kecamatan Jemaja, Jemaja Timur,

Palmatak, Siantan, Siantan Timur dan Siantan Selatan) dalam kondisi rawan sedangkan kecamatan Siantan Tengah berada dalam kondisi aman. Berdasarkan Indeks Komposit Ketahanan Pangan (Bulanan) pada bulan Januari 2013, semua kecamatan yang ada di kabupaten kepulauan anambas berada dalam kondisi rawan.

47

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

2. SARAN 1. Meningkatkan produksi dengan intensifikasi dan diversifikasi pangan dan memanfaatkan potensi sumberdaya lokal 2. Meningkatkan pendapatan keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi rumah tangga 3. Pengembangan sistem Distribusi dan stabilitas harga pangan 4. Pengembangan ketersediaan pangan. 5. Meningkatkan peran serta masyarakat untuk menimbang Berat Badan balitanya di posyandu.

48

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

LAMPIRAN

49

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

1. SUMBER DATA a. Aspek Ketersediaan : Dinas Pertanian dan Kehutanan kabupaten Kepulauan Anambas b. Aspek Akses : Dinas Pertanian dan Kehutanan kabupaten Kepulauan Anambas c. Aspek Pemanfaatan : Dinas Kesehatan kabupaten Kepulauan Anambas d. Data Umum : Anambas dalam angka 2012, Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Anambas.

50

2. HASIL PENGOLAHAN INDIKATOR ASPEK KETERSEDIAAN


Form A11 Aspek Ketersediaan Pangan Bulanan Tabel A11.1 Luas Tanam Komoditas Pangan KEPULAUAN ANAMBAS JANUARI 2013 Luas Tanam No Kecamatan Padi 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 2 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan ha 3 0 32 0 0 0 0 0 Jagung ha 4 0 4 0 1 0 0 0 Ubi Kayu ha 5 0 0 0 11 0 0 5 Ubi Jalar ha 6 0 0 0 0 0 0 3 Total ha 7 0 36 0 12 0 0 8

Kabupaten Bulan Tahun

Luas Tanam Rata2 5 thn pada bulan berjalan ha 8 3.4 8.4 2.7 1.7 1.7 1.8 2.4

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel A11.2 Kabupaten Bulan Tahun

Luas Puso Komoditas Pangan KEPULAUAN ANAMBAS JANUARI 2013 Luas Puso Luas Puso Rata2 5 thn pada bulan berjalan ha 8 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

No

Kecamatan Padi Jagung ha 4


0 0 0 0 0 0 0

Ubi Kayu ha 5
0 0 0 0 0 0 0

Ubi Jalar ha 6
0 0 0 0 0 0 0

Total ha 7

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan

ha 3
0 2 0 0 0 0 0

52

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel A11.3

Skor Ketersediaan Pangan Bulanan KEPULAUAN ANAMBAS JANUARI 2013 Luas Tanam Rata2 5 thn pada bulan berjalan ha Luas Puso Rata2 5 thn pada bulan berjalan ha 6= A11.2.8 0 0 0 0 0 0 0 Persentase luas tanam bulan berjalan dibandingkan dengan rata-rata luas tanam bulan bersangkutan 5 tahun terakhir % [r] # Bobot 7 = (3 4) / 4 * 100 8 -100.0 3 328.6 1 -100.0 3 605.9 1 -100.0 3 -100.0 3 233.3 1 Persentase luas puso bulan berjalan dibandingkan dengan rata-rata luas puso bulan bersangkutan 5 tahun terakhir % [r] # Bobot 9 = (5 - 6) / 6 * 100 0.0 200.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

Kabupaten Bulan Tahun

No

Kecamatan

Luas Tanam

Luas Puso

Skor Komposit

Keterangan Komposit

Indeks Ketersed iaan (IK)

ha 3= A11.1.7 0 36 0 12 0 0 8

1 1 2 3 4 5 6 7 8

2 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan

4 = A11.2.8 3.4 8.4 2.7 1.7 1.7 1.8 2.4

ha 5= A11.2. 7 0 2 0 0 0.00 0 0

# 11 = 8+10 5 4 5 3 5 5 3

10 2 3 2 2 2 2 2

Rawan Rawan Rawan Waspada Rawan Rawan Waspada

3 3 3 2 3 3 2

53

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

3. HASIL PENGOLAHAN INDIKATOR ASPEK AKSES PANGAN


Form A2 Aspek Akses Pangan Bulanan Tabel A2.1 Harga Komoditas Bulanan Kabupaten Bulan Tahun KEPULAUAN ANAMBAS JANUARI 2013 Harga Rata2 Bulan Berjalan di Tingkat Konsumen No Kecamatan Beras Kualitas Sedang Rp/kg 3 12,500 12,500 12,000 12,000 12,500 12,000 12,500 Jagung Rp/kg 4 8,300 8,300 8,000 8,000 8,400 8,000 8,300 Ubi Kayu Rp/kg 5 6,400 6,500 6,300 6,000 6,500 6,200 6,500 Ubi Jalar Rp/kg 6 10,000 9,800 10,500 10,000 10,000 10,000 10,400 Gula Rp/kg 7 12,500 12,500 12,000 12,000 12,500 12,000 12,500 Minyak Goreng Curah Rp/Liter 8 14,500 14,500 14,000 14,000 14,500 14,000 14,500 Daging Ayam Rp/kg 9 32,000 32,000 30,000 30,000 32,000 30,000 33,000 Telur Rp/kg 10 28,900 28,900 25,500 25,500 28,900 25,500 28,900

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

2 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan

54

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

Tabel A2.2 Harga Rata-rata Komoditas 3 Bulan Sebelumnya Kabupaten Bulan Tahun KEPULAUAN ANAMBAS JANUARI 2013 Harga Rata2 3 Bulan Sebelumnya di Tingkat Konsumen No Kecamatan Beras Kualitas Sedang Rp/kg 11 12,500 12,500 12,000 12,000 12,500 12,000 12,500 Jagung Rp/kg 12 8,300 8,300 8,000 8,000 8,400 8,000 8,300 Ubi Kayu Rp/kg 13 6,400 6,500 6,300 6,000 6,500 6,200 6,500 Ubi Jalar Rp/kg 14 10,000 9,800 10,500 10,000 10,000 10,000 10,400 Gula Rp/kg 15 12,500 12,500 12,000 12,000 12,500 12,000 12,500 Minyak Goreng Rp/Liter 16 14,500 14,500 14,000 14,000 14,500 14,000 14,500 Daging Ayam Rp/kg 17 32,000 32,000 30,000 30,000 32,000 30,000 33,000 Telur Rp/butir 18 28,900 28,900 25,500 25,500 28,900 25,500 28,900

1 1 2 3 4 5 6 7 8

2 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan

55

Laporan SKPG Bulan Januari 2013


Tabel A2.3 Skor Akses Pangan Bulanan Kabupa ten Bulan Tahun KEPULAUAN ANAMBAS JANUARI 2013 Persentase Kenaikan Harga Komoditas dibanding rata-rata 3 Bulan Sebelumnya di Tingkat Konsumen Ber as Kual itas Sed ang # U bi K ay u # Skor / Bobot Mi ny ak G or en g # Da gin g Sa pi # Skor Kom posit Ketera ngan Kompo sit Indeks Akses (IA)

No

Kecamatan

Beras Kualitas Sedang

Jagung

Ubi Kayu

Ubi Jalar

Gul a

Minyak Goreng

Daging Ayam

Telur

Ja gu ng

Ubi Jala r

Gul a

Telu r

% [r]

% [r]

% [r]

% [r]

1 1 2 3 4 5 6 7 8

2 Jemaja Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan

19 = (311) / 11 * 100 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

20 = (4-12) / 12 * 100 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

21 = (513) / 13 * 100 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

22 = (6-14) / 14 * 100 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

% [r] 23 = (715) / 15 * 100 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

% [r]

% [r]

% [r] 26 = (1018) / 18 * 100 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

24 = (8-16) / 16 * 100 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

25 = (9-17) / 17 * 100 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0

27 1 1 1 1 1 1 1

28 1 1 1 1 1 1 1

29 1 1 1 1 1 1 1

30 1 1 1 1 1 1 1

31 1 1 1 1 1 1 1

32 1 1 1 1 1 1 1

33 1 1 1 1 1 1 1

34 1 1 1 1 1 1 1

35

8 8 8 8 8 8 8

Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman

1 1 1 1 1 1 1

56

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

4. HASIL PENGOLAHAN INDIKATOR ASPEK PEMANFAATAN PANGAN


Form A3 Aspek Pemanfaatan Pangan Bulanan KEPULAUAN ANAMBAS JANUARI 2013 Jumlah Balita Naik BB N 5 384 123 1,014 378 162 250 162 242 88 686 178 110 204 103 Jumlah Balita Tidak Naik BB 2T 7 8 4 13 2 0 9 0 6 4 25 0 0 22 0 N/D (%) 8= 5/4*100 63.0 71.5 67.7 47.1 67.9 81.6 63.6

Kabupaten Bulan Tahun

No

Puskesmas Kecamatan (Digabung jika lebih dari 1 puskesmas)

Jumlah Balita Terdaftar S

Jumlah Balita Ditimbang D 4

Jumlah Balita BGM BGM 6

Pencapaian

Skor / Bobot

Skor Kompos it 2T/D (#) 13 14 1 1 1 1 1 1 1 5 5 5 5 5 4 5

Keterangan Komposit

Indeks Pemanfa atan (IP)

1 1 2 3 4 5 6 7 8 Jemaja

3 879 312 1,647 1,758 536 445 542

BGM/D (%) 9= 6/4*100 2.1 3.3 1.3 0.5 0.0 3.6 0.0

2T/D (%) 10 = 7/4*100 1.6 3.3 2.5 0.0 0.0 8.8 0.0

N/D (#) 11 3 3 3 3 3 2 3

BGM/ D (#) 12 1 1 1 1 1 1 1

Rawan Rawan Rawan Rawan Rawan Aman Rawan

3 3 3 3 3 1 3

Jemaja timur Palmatak Siantan Siantan timur Siantan tengah Siantan selatan

57

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

58

Laporan SKPG Bulan Januari 2013

59