Anda di halaman 1dari 31

BENTUK LAHAN ASAL STRUKTURAL

MAKALAH
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Geomorfologi Umum yang Dibimbing oleh Bapak Drs. Sudarno Herlambang, Msi

Oleh Kelompok 1 (Off B) :

Nurjunita F. N M. Luthfi Arrohman Fauzi F. Ainun Zahriyah

108351417255 108351417259 108351417264 108351417265

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN GEOGRAFI
Oktober 2009

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Sudarno Herlambang selaku dosen matakuliah Geomorfologi Umum yang telah mengarahkan penulis dan membimbing demi tercapainya makalah ini. Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah mendukung tercapainya makalah ini. Tidak ada suatu ucapan yang bermakna selain rasa tulus terima kasih dari penulis. Dalam penulisan makalah ini kami selaku penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan-kesalahan baik dari segi ejaan, definisi maupun konseptual di dalam makalah ini. Oleh karena itu penulis dengan hati terbuka berharap adanya masukan, saran, dan kritik yang bersifat membangun oleh pembaca demi terciptanya kesempurnaan makalah ini. Sehingga proses pembelajaran yang kami lakukan menjadi lebih bermanfaat baik bagi khalayak umum atau bagi mahasiswa. Akhir kata kami ucapkan terimakasih. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Malang, 17 Oktober 2009

Penulis,

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

KATA PENGANTAR...................................................................................... ii DAFTAR ISI..................................................................................................... iii I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah................................................................................ 1 1.3 Tujuan Makalah................................................................................... 2 II. PEMBAHASAN 2.1 Bentuk Lahan Asal Struktural............................................................... 3 2.2 Tenaga pembentukan Lipatan, Patahan, dan Lengkungan.................... 5 2.3 Ciri-ciri Bentuk Lahan Asal Struktural..... 9 2.4 Bentuk lahan di daerah struktur lipatan, patahan dan lengkungan... 9 2.5 Macam-macam bentuk lahan Struktural.. 17 2.6 Satuan Bentuk Lahan Struktural.... 18 2.7 Ciri-ciri Sesar......... 20 2.8 Pemanfaatan Bentuk Lahan Asal struktural... 22 III. PENUTUP 3.1 Kesimpulan. 24 3.2 Saran... 27 DAFTAR PUSTAKA 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Bentuk lahan atau landform adalah setiap unsur bentang lahan (landscape) yang dicirikan oleh ekspresi permukaan yang jelas, struktur internal atau kedua duanya menjadi pembeda yang mencolok dalam mendiskripsi fisiografi suatu daerah. Landform juga merupakan batas permukaan antara atmosfer, hidrosfer, biosfer, pedosfer, dan lakmus dimana kehidupan berada di atas bumi. Bentuk lahan merupakan kenampakan medan (terrain) yan terbentuk oleh proses alami, memiliki komposisi tertentu, memiliki julat (range) karakteristik fisikal dan visual tertentu dimanapun medan tersebut terjadi. Pembentukan lahan pada proses geomorfologis mempunyai banyak asal yang berguna untuk mengawali kajian tekstur lahannya. Salah satunya adalah bentuk lahan asal struktural. Bentuk lahan asal struktural merupakan proses pembentukan lahan yang disebabkan oleh adaya proses endogen. Misalnya proses pengangkatan, penurunan dan pelipatan kerak bumi. Contoh dari bentuk lahan asal struktural adalah pegunungan lipatan, pegunungan patahan dan pegunungan kubah.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana proses terbentuknya bentuk lahan asal struktural? 2. Bagaimana tenaga endogen pembentuk lipatan, patahan dan lengkungan? 3. Apa saja ciri-ciri bentuk lahan asal struktural? 4. Bagaimana bentuk lahan yang ada di daerah struktur lipatan, patahan dan lengkungan? 5. Apa saja macam-macam bentuk lahan struktural? 6. Apa saja satuan bentuk lahan asal struktural? 7. Apa saja ciri-ciri sesar? 8. Bagaimana pemanfaatan bentuk lahan asal struktural?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah Tujuan penulisan makalah ini adalah : 1. Mengetahui tentang bentuk lahan asal struktural. 2. Mengetahui Tenaga pembentuk lipatan, patahan dan lengkungan 3. Mengetahui ciri-ciri bentuk lahan asal struktural. 4. Mengetahui bentuk lahan di daerah struktur lipatan, patahan dan lengkungan. 5. Mengetahui macam-macam bentuk lahan struktural. 6. Mengetahui satuan bentuk lahan asal struktural. 7. Mengetahui ciri-ciri sesar. 8. Mengetahui pemanfaatan bentuk lahan asal struktural.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 BENTUK LAHAN ASAL STRUKTURAL Bentuk lahan asal proses struktural tersusun dari seseri lapisan, baik yang telah terusik oleh suatu tekanan maupun yang belum terusik. Terbentuk karena adanya proses endogen berupa tektonisme dan diatropisme. Proses ini meliputi pengangkatan, penurunan, pelengkungan, pelenturan dan pelipatan kerak bumi sehingga terbentuk struktur geologi lipatan dan patahan. Selain itu terdapat struktur horisontal yang merupakan struktur asli sebelum mengalami perubahan. dari struktur pokok tersebut dapat dirinci menjadi berbagai bentuk berdasarkan sikap lapisan batuan dan kemiringannya. Dapat digambarkan dengan diagram berikut ini: Menghasilkan: -lipatan -patahan -lengkungan -retakan

Tenaga Endogen

Tektonisme/ Diatropisme

Mengalami: -pengangkatan -penurunan - pelengkungan - pelenturan -pelipatan (kerak bumi)

Serta penjelasan lebih rincinya adalah sebagai berikut: Tenaga Endogen Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kulit bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata. Mungkin saja di suatu daerah dulunya permukaan bumi rata (datar) tetapi akibat tenaga endogen ini berubah menjadi gunung, bukit atau pegunungan. Pada bagian lain permukaan bumi turun menjadikan adanya lembah atau jurang. Secara umum tenaga endogen dibagi dalam tiga jenis yaitu tektonisme, vulkanisme, dan seisme atau gempa. Tektonisme Seperti telah dijelaskan, keragaman muka bumi dipengaruhi oleh adanya gerakangerakan di kerak bumi, baik gerakan mendatar maupun gerakan tegak. Gerakangerakan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk yang menghasilkan pola baru yang disebut struktur diastropik. Bentuk baru yang termasuk dalam struktur diastropik adalah pelengkungan, pelipatan, patahan, dan retakan. 6

a. Lipatan : lapisan kulit bumi yang mendapat tekanan arah mendatar akan membentuk lipatan. Punggung lipatan disebut antiklinal. Lembah lipatan disebut sinklinal.

Keterangan: a. lipatan tegak b. lipatan miring c. lipatan rebah d. lipatan menggantung e. lipatan isoklin f. lipatan kelopak

b. Patahan : terjadi karena adanya tekanan atau gerakan tektonik secara horizontal maupun vertikal pada kulit bumi yang rapuh. Daerah patahan merupakan daerah yang rawan gempa karena rapuh. Patahan sering disebut juga sesar. Sesar ada bermacam-macam tipenya, tergantung dari gerakan relatif blok di satu sisi sesar terhadap yang lain, diantaranya: - Sesar Normal hasil pergeseran kerak bumi sisi satu dengan sisi lainya, dimana pada posisi hangingwall turun ke bawah dari sisi footwallnya, sesar ini hasil dari gaya ekstensi kerak bumi. - Sesar Naik (thrust fault) hasil pergerakan kerak bumi sisi satu dengan sisi lainya, dimana pada posisi hangingwall terdorong ke atas dari sisi footwallnya, sesar ini hasil dari gaya kompresi kerak bumi. - Sesar geser (strike-slip or transform, or wrench fault) 7

sesar permukaan dimana footwall bergerak ke kiri atau kekanan atau pegerakan lateral dengan sedikit pergerakan vertikal.

c. Pelengkungan : lapisan kulit bumi yang semula mendatar jika mendapat tekanan vertikal akan membentuk struktur melengkung. Lengkungan tersebut dapat mengarah ke atas yang disebut kubah (dome) dan dapat mengarah ke bawah yang disebut basin.

Gambar dome dan basin.

d. Retakan : terjadi karena gaya regangan yang menyebabkan batuan menjadi retakretak.

2.2 TENAGA PEMBENTUK LIPATAN, PATAHAN DAN LENGKUNGAN 1. Tenaga Pembentuk Lipatan Daerah yang berstruktur lipatan, kubah, dan struktur patahan, pada dasarnya disebabkan oleh tenaga endogen. Hanya saja tenaga endogen pembentuk ketiga daerah struktur lipatan, kubah, dan patahan tidak sama. Pada daerah berstruktur lipatan, disebabkan oleh tenaga endogen yang arahnya mendatar berupa tekanan, sehingga batuan sedimen yang letak lapisanlapisannya mendatar berubah menjadi terlipat atau 8

bergelombang. Daerah yang berstruktur demimikian disebut daerah lipatan, dalam bahasa Inggris disebut folded zone. Untuk memberikan kejelasan tentang daerah lipatan, berikut ini disajikan ilustrasi dalam Gambar: (Sudardja & Akub, 1977: 115).

Gambar. Daerah lipatan

Pada gambar di atas, dengan mudah dapat dilihat bahwa suatu lipatan tersebut memilik beberapa bagian, sebagai akibat dari adanya lipatan tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah antiklinal, sinklinal, sayap antiklin. Di samping itu juga ada berupa sumbu antiklinal dalam kaitannya dengan menentukan posisi suatu lipatan yaitu dip (kemiringan) dan strike (jurus), serta sumbu sinklinal. Berbicara mengenai lipatan ada beberapa macam sebagai akibat dari kekutan yang membentuknya, yaitu lipatan tegak, miring, menggantung, isoklin, rebah, kelopak, antiklinoriun, dan sinklinorium. Di dunia ini banyak terdapat daerah lipatan yang memperlihatkan bentukan topografi yang jelas, lipatan yang terkenal adalah Sirkum Pasifik dan lipatan Alpina. Kedua lipatan tersebut mempunyai kelanjutan di Indonesia. Lipatan Alpina di Indonesia berupa sistem pegunungan Sunda yang terbentang di Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Nusra, Maluku, dan berakhir di P Banda. Lipatan ini merupakan busur dalam yang Indonesia bersifat volkanis dan busur luar yang non vulkanis. Demikian pula dengan lipatan Sirkum Pasifik dari Pilipina bercabang ke Kalimantan dan Sulawesi dan seterusnya.

2. Tenaga Pembentuk Patahan Tenaga pembentuk daerah yang berstruktur patahan, adalah tenaga endogen yang mengakibatkan kulit bumi bergerak mendatar dengan berlawanan arah atau bergerak ke bawah atau ke atas, yang sering disebut dengan kekar, rekahan atau retakan yang cukup besar. Kulit bumi mengalami sesar dimana patahan yang disertai dengan pergeseran kedudukan lapisan yang terputus hubungannya (fault). 9

Berdasarkan gerakan atau pergeseran kulit bumi terdapat tiga macam sesar (Mulfinger & Snyder, 1979: 341), yaitu: a. Dip slip fault, yaitu sesar yang tergeser arahnya vertikal (sesar vertikal), sehingga salah satu dari blok terangkat dan membentuk bidang patahan. b. Strike slip fault, yaitu sesar yang pergeserannya ke arah horisontal (sesar mendatar), sehingga hasil dari aktivitas ini kadangkala dicirikan oleh kenampakan aliran air sungai yang membelok patah-patah. c. Oblique slip fault, yaitu sesar yang pergeseran vertikal sama dengan pergeseran mendatar, yang sering disebut sesar miring (oblique). Pergeseran kulit bumi pada tipe ini membentuk celah yang memanjang, kalau terjadi di dasar laut/samudera terbentuk palung laut, dan bila di daratan bisa berupa ngarai. Lobeck (1939: 559) mengemukakan ada beberapa jenis sturktur patahan, yaitu: a. Patahan Normal (normal fault) b. Patahan bertingkat (step fault) c. Patahan terserpih (fault splinter) d. Patahan membalik (reverse fault) e. Patahan kelopak (thrust fault) f. Patahan kelopak majemuk (multi thrust fault) g. Patahan mendatar (foult with horizontal movement) h. Patahan lipatan (fault passing in to a fold). Dari masing-masing jenis patahan di atas secara visual dapat diperhatikan dalam Gambar berikut ini:

10

3. Tenaga Pembentuk Kubah/dome Tenaga pembentuk daerah yang berstruktur kubah adalah tenaga endogen mempunyai arah tegak lurus ke arah luar bumi, sehingga daerah yang luas mengalami pencembungan akibat tenaga tersebut. Seperti juga lipatan, dome juga mempunyai Dip, tetapi dip pada dume menuju kesemua arah. Kalau boleh diumpamakan bahwa dome tersebut ibarat kuali yang ditelungkupkan. Kalau tenaga yang tegak lurus tersebut menuju pusat bumi, maka bentuk yang dihasilkan merupakan kebalikan dari dome, yaitu berupa basin atau cekungan ibarat kuali yang menghadap ke atas. Berikut ini merupakan ilustrasi antara dome dan basin (Sudardja & Akub 1977: 122).

Berdasarkan pembentukannya dome, digolongkan menjadi beberapa macam, yaitu: a. Dome yang berintikan batuan beku yang terdiri dari dua jenis, yaitu dome laccolith dan batolith. Terjadi karena penerobosan magma ke dalam kulit bumi, sehingga lapisan kulit bumi yang terletak di atasnya terdesak yang mengakibatkan kulit bumi tersebut cembung. Adapun bentuk dome beserta lapisannya dapat diilustrasikan seperti gambar berikut (Sudardja & Akub 1977: 122).

b. Dome atau kubah garam. Kubah garam terjadi akibat intruisi massa garam ke dalam lapisan batuan. Jadi kubah ini mempunyai inti berupa garam. Diatasnya kadangkadang terdapat lapisan tudung berupa gips, batu gamping atau dolomit yang pejal. Pada umum nya kubah garam ini kecil-kecil dengan garis tengah 1 6 km dengan ketinggian 100 kaki dari daerah sekitarnya. Banyak di antaranya mempunyai nilai ekonomis. Bentuk dome seperti ini banyak terdapat di Jerman (Harz Mountains), Sayap kanan pegunungan 11

Karpatia (Rumania), Mesir, Persia, Spanyol, Maroko, dan Aljazair. Terjadinya diduga bahwa lapisan garam yang terletak jauh di dalam lapisan bumi, mendapat tekanan yang keras sehingga keadaanya menjadi plastis dan pada bagian di bagian kulit bumi yang lemah ia naik dan mendorong lapisan batuan yang ada di atasnya, sehingga cembung ke atas. Kubah garam ini meskipun berstruktur kubah, sering kali memperlihatkan permukaan yang cekung, karena garam merupakan lapisan yang mudah larut, akibatnya lapisan yang terletak di atasnya mudah ambruk. Jadi dalam hal ini dapat dikatakan bahwa daerah itu berstruktur positif tetapi topografi negatif. c. Kubah akibat pengangkatan regional pada daerah yang luas. Kubah pada golongan ini adalah akibat adanya pengangkatan regional didaerah yang luas. Ukurannya luas dengan dip yang landai hingga hampir mendatar. Kubah ini mungkin terjadi sebagai akibat dari desakan batuan volkanis dari dalam atau kerena proses epirogenesisi d. Kubah kriptovolkanis (Cryptovolcanic domes). Kubah ini terjadi sebagai akibat dari desakan gas dari dalam bumi yang tergerak secara tiba-tiba,tetapi dengan kekuatan kecil. Karena kekuatannya yang kecil sehingga tidak sampai ke luar, melainkan hanya mendorong lapisan kulit bumi hingga cembung. 2.3 CIRI CIRI BENTUK LAHAN ASAL STRUKTURAL 1. Dip dan strike batuan resisten-non resisten jelas 2. Horison kunci jelas 3. Terdapat sesar, kekar, rekahan, gawir sesar, sesar bertingkat 4. Ada materi intrusif: dike, kubah granitik

2.4 BENTUK LAHAN DI DAERAH STRUKTUR LIPATAN, PATAHAN DAN LENGKUNGAN Bentuklahanan yang merupakan hasil bentukan asal struktural, seprti telah dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa disebabkan oleh tenaga endogen (tenaga yang berasal dari dalam bumi) yang bisa berupa proses tektonik atau diastrofisme. Proses ini meliputi pengangkatan, penurunan, dan pelipatan kulit bumi, sehingga terbentuk struktur geologi berupa lipatan dan patahan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan untuk mendasari interpretasi dan identifikasi bentuk struktural adalah: 12

a. Perbedaan daya tahan (resistensi) lapisan batuan terhadap tenaga yang bekerja. Lapisan batuan yang resisten akan menghasilkan relief yang berbeda dengan batuan yang kurang atau tidak resisten. b. Pola aliran pada bentukan struktural umumnya terkontrol oleh struktur. c. Dalam melakukan identifikasi dan pengenalan terhadap bentukan struktural, dasar pengenalan struktur adalah: - Perlapisan (stratifikasi) batuan - Attitude atau sikap lapisan (posisi bidang lapisan terhadap bidang horizontal yang meliputi dip,strike, dip slope, face slope, dan scrap. - Pola aliran - Kontinuitas - Dislokasi - Morfologi permukaan Bentuklahan hasil bentukan struktural ditentukan oleh tenaga endogen yang menyababkan deformasi perlapisan batuan dengan menghasilkan lipatan, kubah, dan patahan serta perkembangannya. Deformasi perlapisan batuan ini menyebabkan adanya deformasi sikap perlapisan yang semula horisontal menjadi miring atau tegak dan membentuk lipatan. Penentuan nama suatu bentuklahan struktural pada dasarnya di dasarkan pada sikap perlapisan batuan (dip dan strike). Dip adalah sudut perlapisan batuan yang diukur terhadap bidang horisontal dan tegak lurus terhadap jurus (strike). Sedangkan jurus (strike) merupakan arah garis perpotongan yang dibentuk oleh perpotongan antara bidang perlapisan dengan bidan horizontal. Adapun mengenai Ilustrasi tentang dip dan strike disajikan pada Gambar berikut:

Gambar. Dip dan Strike 13

1. Bentuk Lahan Di Daerah Struktur Lipatan Pertama kali yang harus disadari bahwa suatu daerah yang berstruktur lipatan, oleh tenaga eksogen dihancurkan melalui proses denudasional, sehingga permukaan menjadi rata. Oleh karena itu kenanpakan topografi seperti antiklinal dimungkinkan bukan menjadi punggungan topografi, demikian pula sinklinal ditemukan bukan merupakan lembah. Di samping itu, dimungkinkan pula terjadi pembalikan relief (inversion of relief) sebagai akibat dari bekerja ulangnya tenaga endogen. Berikut ini disajikan mengenai perataan relief oleh tenaga eksogen dan pembalikan relief seperti pada Gambar:

Gambar.Perataan relief Dari gambar tersebut tampak jelas bahwa proses eksogen telah bekerja secara mak-simal, sehingga terjadi perataan relief pada daerah lipatan (Sudardja & Akub, 1977: 118)

Berdasarkan pada gambar di atas, maka relief pertama berupa daerah struktur lipatan, dimana antiklin merupakan punggung pegunungan lipatan, tetapi setelah mengalami proses geomorfik terjadi sebaliknya, yaitu terbentuk lembah antiklin dan pegunungan sinklin. Bentukan khas yang terdapat pada daerah berstruktur lipatan yang berkenaan dengan pembentukan lipatan kulit bumi belum dijumpai pembentukan baru, pada umumnya telah mengalami beberapa siklus geomorfologi, sehingga bentanglahan yang ada banyak yang dijumpai multisiklis. Walaupun di banyak tempat dipermukaan bumi ini telah mengalami proses demikian, di daerah yang berstruktur lipat dapat dijumpai beberapa bentukan yang merupakan bentukan khasnya. Adapun bentukan-bentukan khas tersebut berikut ini disajikan secara satu persatu. a. Bentukan berupa pola aliran trellis Pada bagian terdahulu telah dikemukan mengenai pola pengaliran trellis itu terdiri atas lembahlembah besar yang sejajar sat sama lain (lembah subsekwen), dan anak-anak sungainya yang bermuara tegak lurus pada sungai yang sejajar tersebut. Anak-anak sungai tersebut merupakan lembah obsekuen, resekwen atau konsekwen. Di bawah ini merupakan pola pengaliran pada struktur lipatan. 14

Gambar. Pola pengaliran di da erah struktur lipatan dengan pola pengaliran subsekuen, resekuen, dan pola aliran konsekuen, (Lobeck, 1939: 170)

b. Bentukan berupa punggungan antiklinal (anticlinal ridge) Merupakan punggungan atau pegunungan yang bertepatan dengan sinklinal. Pada umumnya deretan pegunungan itu sejalan dengan sumbu/strike dari antiklinal itu. Bentuk punggungannya membulat dan relief halus, dengan lerengnya berupa dip dari struktur c. Bentukan berupa lembah antiklinal (anticlinal valley), merupakan lembah-lembah yang berkembang sepanjang sumbu antiklinal. Bentukan ini benar-benar menunjukkan pembalikan relief. d. Bentukan lembah sinklinal (synclinal valley), merupakan lembah yang berkembang sepanjang sumbu sinklinal. e. Bentukan punggungan sinklinal (synclinal ridge) Merupakan punggungan yang berkembang sepanjang sumbu sinklin. Inipun menunjukkan adanya pembalikan relief yang sempurna. Punggungannya biasanya lebar dengan lereng yang curam. f. Bentukan berupa punggungan homoklinal (homoclinal ridge) Punggungan homoklinal merupakan punggungan yang terdapat disetiap antiklinal/sinklinal akibat pengirisan lembah pada saya dan sepanjang sayap itu., dengan sendirinya punggungan ini akan berupa cuesta atau hogback tergatung kepada besarnya kemiringan struktur. Bisanya bentukan ini dibatasi oleh adanya pergantian kekerasan lapisan batuan yang berselang seling antara lapisan batuan lunak dan lapisan yang keras. Cuesta adalah bentuk punggungan atau bukit yang kemiringan lerengnya tidak sama sebagai akibat dari kedudukan lapisan-lapisan batuan pembentuknya yang landai. Cuesta mempunyai lereng belakang (back slope) yang landai dan lereng muka (inface) lebih curam. Apabila cuesta dengan kedudukan lapisan batuan itu cukup curam dan kedua lereng bukit mempunyai kemiringan yang hampir sama, maka dinamakan Hogback. Sedangkan bila kedudukan lapisan itu mendatar, bukit 15

yang demikian dinamakan messa. Messa yang berukuran kecil disebut butte. Berikut ini bentuk bentukan seperti cuesta, hogbeck, messa, butte, tersebut disajikan dlam Gambar:

g. Bentukan berupa lembah homoklinal (homoclinal valley) Merupakan lembah yang berkembang pada sayap antiklin atau sinklin. Sayap antiklin yang berkembang menjadi lembah ini disebabkan oleh proses erosi/denudasi yang kuat.Suatu sinklin atau antiklin tidak memanjang tanpa batas, tetapi dapat menghilang atau berakhir secara berangsur-angsur. Tempat dimana sinklin atau antiklin berakhir, dinamakan ujung antiklin atau pluging point). Kenampakan ini akan sangat jelas terlihat pada bentukan cuesta atau hogback. Jika ada kenampakan cuesta atau hogback yang berhadapan ini menunjukkan bahwa di antara kedua bentukan tersebut adalah antiklinal dan sebaliknya jika kedua bentukan tersebut saling membelakangi, maka di antaranya terletak sinklinal. Untuk memperjelas bentukan yang telah dikemukan yang berkaitan dengan daerah berstruktur lipatan, berikut ini disajikan secara visual seperti dalam Gambar yaitu rangkaian bentuk punggungan dan lembah pada daerah berstruktur lipatan

16

Perlu diingat bahwa ujung antiklinal biasanya agak membulat dan lerengnya melandai. Tetapi terkadang juga ada yang curam dan kemudian menghilang secara tiba-tiba. Sementara itu ujung sinklinal berakhirnya kelihatan lebih jelas, karena menghilang dengan tiba-tiba, di samping makin menyempit dan dibatasi dengan tebing yang curam. Guna memperjelas bagaimana cuesta yang terdapat pada ujung antiklin, dapat dilihat pada Gambar:

Gambar. Cuesta pada ujung antiklinal

2. Bentuk Lahan Di Daerah Struktur Patahan Dimuka telah pula dijelaskan secara panjang lebar, bahwa patahan itu terjadi oleh tekanan atau tarikan yang menyertai bentuk lipatan, kubah, kerutan yang disertai dengan pergesesran. a. Flexure Flexeure adalah suatu bentukan yang terjadi jika pergeseran ke arah vertikal antara dua blok batuan yang besar, hanya melampaui jarak yang tidak panjang, sehingga antara dua massa batuan yang bergeser tersebut tidak sampai putus, melainkan hanya terjadi atau membentuk takikan saja. Kemudian mengenai apakah sesar itu mampu membuat suatu morfologi yang jelas? Berkaitan dengan pertanyaan tersebut ada dua pandangan yang satu sama lainnya mempunyai perbedaan. Pandangan yang menjelaskan bahwa gradasi lebih cepat dari pada sesar dalam mbentuk morfologi, sehingga sesar yang ada dianggap bukan hasil patahan secara langsung, tetapi akibat erosi di atas sesar atau patahan yang telah ada baik yang lama maupun yang masih baru. Sesar yang ada sekarang telah tererosi sejak zaman Mesozoicum, pada saat awal terjadi pelipatan (Spurr , dalam Lobeck: 1930: 540). Pandangan yang kedua, menyatakan bahwa sesar dapat mengalahkan degradasi sehingga dapat membentuk morfologi secara langsung. Pada dasarnya keduanya mempunyai persamaan bahwa permukaan 17

bumi ini terbentukkarena adanya ketidak stabilan, apakah stabil dalam hal geologi dan geomorfologi yang stabil atau tidaak stabil. Pada daerah yang stabil, dimana morfologi akibat sesar merupakan hal yang biasa. Jadi kedua pandangan tersebut masing-masing mempunyai kebenaran, artinya ada morfologi yang langsung merupakan akibat sesar dan ada pula yang disebabkan oleh erosi di atas daerah yang berstruktur patahan. b. Tebing Tidak setiap tebing merupaakan hasil patahan, karena ada yang disebabkan oleh hal yang lain. Misalnya tebing pada cuesta, hogback, messa, butte , tebing pada kelokan meander dan lain sebagainya terjadi bukan karena sesar. Tebing akibat patahan disebut Fault scrap, sedangkan terjadi bukan kerena patahan disebut Escarpment. Jadi Scarp ada dua yaitu fault scrap dan escarpment. Tebing yang terjadi ada hubungannya dengan sesar ada dua macam (Lobeck, 1930: 563), yaitu. Fault scarp yaitu tebing yang terjadi langsung kerena sesar. Tebing seperti ini mungkin mengalami pemunduran oleh erosi, pelapukan atau masswasting. Oleh karena itu ada tebing muda, dewasa dan tua dalam perkembangannya. Fault line scarp, yaitu tebing yang terjadi oleh pengerjaan erosi pada garis patahan, karena di kiri kanan garis patahan itu terdapat batuan yang berlainan daya tahannya terhadap erosi. Kenyataanya, tebing bisa terbentuk tersusun atau bertebing majemuk ataupun bertingkat c. Horst (blok patahan yang relatif naik) dan graben (bagian dari blok patahan yang relatif turun). Bentuk horst dan graben (slank dan horst). Graben adalah suatu depresi patahan yang sempit dan memanjang serta dibatasi oleh suatu bidang patanhan. Sedangkan Hosrt merupakan blok memanjang yang muncul dan lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Graben dan horst ini mempunyai jenis yang bervariasi, yaitu: 1. Graben sederhana/tunggal, 2. Horst sederana/tunggal, 3. Graben campuran 4. Horsrt campuran, 5. Graben resekuen 6. Asosiasi Graben dengan fenomena volkanis 18

d. Bentukan khas pada sesar normal Betukan topografi pada sesar normal, keadaanya berlain-lainan tergantung kepada batuannya, apakah batuannya homogim atau batan yang berlapis-lapis dengan kekerasan yang berbeda-beda pula sesuai dengan meterial batuan penyusunnya. Pada batuan homogin, bentukan yang dihasilkan oleh sesar tersebut adalah berupa pegunungan yang terangkat atau dimiringkan sepanjang bidang patahan, kemudian pada batuan yang berlapis-lapis akat terdapat topografi yang berlainan. Jika daerah tersebut berupa antiklinal yang terpatahpatah atau merupakan suatu deretan hogbacks atu berupa deretan pegununan homoklinal ataupu merupatan deretan cuesta tergantung kapada kemiringan lapisan batuan yang tersesarkan. e. Bentukan khas pada sesar naik bersudut besar Akibat sesar naik dengan sudut yang besar menghasilakan bentukan dengan pengulangan pelapisan. Jika mengalami erosi akan terbentuk pula pola pengaliran yang sama dengan di daerah pelipatan atau daerah tersebut berlapislapis, dimana perlapisannya miring silih berganti antara lapisan satu dengan lapisan yang lainnya (lapisan keras dan lapisan yang lebih lunak. Bentukan morfologinya adalah seperti pada Gambar:

f. Bentukan khas pada sesar naik bersudut kecil (kelopak/thrust fault) Bentukan yang terjadi pada kondisi ini biasanya kurang jelas, karena pergesesran yang terjadi meliputi daerah yang jauh, sebagai akibat dari pergerakan massa kulit bumi yang relatif jauh dengan sudut kemuringan yang kecil, patahan ini terjadi pada jenis trust fault (Lobeck, 1939: 559). Setelah kelopak tererosi, terkadang yang tinggal hanya sisa-sia berupa bukit kecil karena ada bagian batuan yang resisten. Bukit-bukit kecil tersebut diberi nama klippe, yaitu secara topografi merupakan sisa kelopak (nappe outlier) yang sama dengan cuesta outlier dan plateau outlier. Tetapi secara struktur tidak sama, karena perlapisannya mempunyai perbedaan, yaitu lapisan yang lebih tua ada di 19

atas lapisan yang lenih muda, sebagai akibat dari lapisan yang tebal menyusup ke bawah. 3. Bentuk Lahan Di Daerah Struktur Patahan Bentukan khas di daerah struktur kubah dan antiklin adalah berbentuk elips dan bentuknnya tergantung pula oleh kemiringan lapisan-lapiasn batuan penyusunnya serta tingkat erosi yang telah terjadi pada daerah tersebut. Seperti halnya di daerah struktur lipatan , pada struktur kubahpun pada umumnya telah mengalami erosi pada tingkat lanjut dalam arti erosi yang bekerja sudah sangat intensif. Berbicara mengenai bentukan khas, perlu mengingat kembali tentan pembalikan relief seperti yang telah dibicarakan pada bagian terdahulu. Dari hasil pembalikan relief tersebut akan dapat membedakan kubah secara struktur dan kubah secara topografi. Kaitannya dengan keadaan tersebut, maka akan ditemukan struktur positif dengan topografi negatif, struktur positif dengan topografi positif; dan struktur negatif dengan topografi positf. Adapun bentukan-bentukan yang khas pada daerah dengan struktur kubah adalah dalam hal: a. Pola pengaliran Pola pengaliran biasanya radial pada kubah muda dengan lembah termasuk lembah konsekuen. Pola pengaliran anular pada kubah usia dewasa. Pola ini memperlihatkan sungai-sungai besar membentuk lingkarann dan anak-anak sungai bermuara tegak lurus dengan sengai induk. Lembah-lembah besar melingkar berupa lembah subsekuen, sedangkan lembah-lembah cabangnya berupa lembah resekuen/ konsekwen. Perlu diketahui pula pola pengaliran yang sempurna seperti di atas hanya terjadi pada daerah dengan struktur kubah yang luas dan pada kubah yang kecil (tidak luas) sungai-sungai tudak akan terbentuk. Berikut ini disajikan mengenai pola pengaliran di daerah dome/kubah yang luas b. Terdapat bentukan Cuesta, Hogback, Messa, Butte, Flat iron. Messa, butte, dan flat iron ini pada dasarnya adalah suatu bukit sisa yang ada di daehar yang berstruktur kubah. Biasanya bukitsisa ini material batuannya adalah resisten, sehingga dengan meterial yang resisten terhadap erosi membentuk topografi yang menjulang dibandingkan dengan deerah sekelilingnya. 2.5 MACAM-MACAM BENTUK LAHAN STRUKTURAL 1. 2. Bentang alam dengan struktur mendatar (lapisan horizontal) Dataran rendah, adalah daerah yang memiliki elevasi antara 0-500 kaki dari permukaan air laut. 20

3.

Dataran tinggi (pletau), adalah daerah yang menempati eleevasi diatas 500 kaki diatas permukaan air laut, berlereng sangat landai atau datar berkedudukan lebih tinggi daripada bentang alam di sekitarnya.

4.

Bentang alam dengan struktur miring, dibagi menjadi 2 : a. Cuesta, kemiringan antara kedua sisi lerengnya tidak simetri denag sudut lereng yang searah perlapisan batuan kurang dari 300 (Tjia, 1987). b. Hogback, sudut antara kedua sisinya relative sama, dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan lebih dari 300 (Yjia, 1987). Hotback memiliki kelerengan scarp slope dan dip slope yang hamper sama sehingga terlihat simetri.

2.6 SATUAN BENTUK LAHAN ASAL STRUKTURAL 1. Pegunungan sesar Pegunungan ini merupakan hasil deformasi oleh sesar. Pada tahapan muda pegunungan patahan memperlihatkan gawir-gawir terjal yang memisahkan antara satu blok pegunungan dengan blok yang lain atau antara blok pegunungan dengan blok lembah. Umumnya bidang gawir tajam relatif rata, belum tersayat oleh lembah-lembah. Bentuk blok dapat persegi, berundak, atau membaji tergantung kepada pola sesar. Pada tahapan dewasa menyebabkan adanya pengikisan pada bagian muka atau punggungan blok dengan beberapa kenampakan bagian muka dari blok masih lebih terjal dari pada bagian punggungan,masih terlihat adanya kelurusan garis dasar sesar, adanya triangular facets yang merupakan sisa-sisa bidang sesar stelah terkikis, adanya dataran aluvial berupa kipas aluvial yang terletak berjajar dalam garis lurus sepanjang kaki bidang muka dan blok, serta munculnya mata air. Pada tahapan tua, daerah pegunungan patahan menjadi mendatar dan kehilangan bentuk simetrinya, dengan daerah aluvial yang meluas.

2. Gawir sesar yaitu tebing patahan memanjang terjadi karena adanya dislokasi. Merupakan gejala struktur yang terbentuk akibat gejala sesar yang baru, yang biasanya disertai dengan adanya perpindahan secara vertical, adanya jalur yang 21

hancur, pelurusan sungai, dan sebagainya. Fault scarps atau gawir sesar yaitu suatu gawir memanjang mengikuti zona sesar,dapat ditemukan pada zona sesar turun atau sesar naik,dalam keadaan tertentu scarps dapat ditemukan pada sesar geser bila suatu bukit yang terpotong.dalam peta topografi scarps dapat ditunjukkan oleh adanya kelurusan kontur yang rapat. 3. Pegunungan atau perbukitan antiklinal adalah pegunungan yang tersusun dari batuan plastis, terdiri atas unit-unit punggung lipatan. Lembah yang terdapat dipuncak antiklin setelah tererosi disebut combe. 4. Pegunungan atau perbukitan sinklinal, tersusun dari batuan plastis, terdiri atas lembah-lembah lipatan. 5. Pegunungan/perbukitan monoklinal adalah pegunungan lipatan yang yang terjadi karena adanya tekanan pada satu titik saja yang tingginya >500m disebut pegunungan monoklinal, <500m disebut perbukitan monoklinal. Monoklinal (homoklinal yang lerengnya 110 disebut cuesta. 6. Pegunungan/perbukitan kubah (Dome) Kubah diartikan sebagai struktur dari suatu daerah yang luas dengan sifat lipatan regional dengan sudut kemiringan yang kecil. Ada beberapa sebab terjadinya kubah, antara lain oleh intrusi garam atau diapir, intrusi lakolit, dan intrusi batuan beku seperti batolit. Dalam tahapan muda pegunungan kubah akan dikikis oleh sungai-sungai namun belum dalam, bentuk kubah masih utuh, pengikisan dimulai di puncak dengan membentuk cekungan erosi. Kadang-kadang inti kubah yang keras tampak di dasar cekungan erosi kubah. Pada tahapan dewasa, pengikisan di puncak makin meluas dan mendalam. Undak-undak gawir terbentuk sesuai dengan banyaknya lapisanlapisan yang resistan, serta punggungan-punggungan dengan lapisan miring (hogbacks) terbentuk. Pada tahapan tua, mempunyai bentuk akhir dari pengikisan kubah akan membentuk peneplane. Pola aliran annular hampir-hampir hilang. Kubah besar dan tinggi dihasilkan oleh intrusi-intrusi batolit; yang lebih kecil dihasilkan oleh intrusi lakolit, dan berbentuk kubah landai yang dihasilkan oleh sill. Kubah-kubah kecil dapat dihasilkan oleh intrusi garam atau diapir lempung.

22

7. Pegunungan/perbukitan plato, merupakan tanah datar dengan struktur horisontal, dengan ketinggian >500 m untuk pegunungan dan <500 m untuk perbukitan. Pada umumnya dikelilingi oleh kelompok volkan atau rangkaian pegunungan. 8. Teras struktural, merupakan permukaan bertingkat yang terjdi oleh pengangkatan yang berulang-ulang pada suatu tempat, misalnya step fault. 9. Perbukitan mesa adalah perbukitan yang puncaknya datar dengan struktur horisontal sebagai akibat proses erosi. Perbukitan yang mirip mesa tetapi puncaknya lebih sempit disebut butte. Mesa dan bute berasal dari plato yang tererosi. 10. Graben (slenk) adalah tanah patahan yang turun sehingga permukaannya lebih rendah dari daerah sekitar. Terjadi karena daerah tersebut mengalami penurunan/penenggelaman.

11. Sembul (horst) adalah tanah patah yang lebih tinggi dari daerah sekitar, terjadi karena pengangkatan (up lift). Kenampakan dominan pada bentuk lahan asal struktural adalah adanya sesar yang disebabkan oleh pergeseran posisi lapisan (dislokasi) batuan di suatu tempat.

Gambar. Graben dan Horst

2.7 CIRI CIRI SESAR Kenampakan dominan bentuk lahan struktural = sesar 1. Trapezeoidal facet, betuk daerah yang menyerupai trapesium. 2. Triangle facet, Kenampakan lereng bukit yang menyerupai jajaran segitigasegitiga yang memanjang lurus dan biasanya latar depannya berupa topografi 23

relatif datar dengan endapan kipas alluvial,hal ini terjadi sebagai hasil sisa erosi setelah terjadi perubahan slope akibat sesar turun. 3. Hanging valley, suatu lembah yang letaknya diatas lembah yang sekarang ada.

4. Breksi sesar, diartikan sebagai breksi yang terbentuk akibat pengaruh langsung dari suatu sesar,yang komponennya tersusun dari hancuran batuan yang tersesarkan.breksi sesar lebih banyak terbentuk pada batuan yang lebih mudah remuk.breksi sesar dapat dipakai untuk menentukan arah gerakan sesar dengan memperhatikan susunan dan sifat penyebaran ukuran fragmennya,bila ditemukan gradasi orientasi fragmenya,maka kearah kasar menunjukkan arah geseran blok dihadapannya.suatu breksi sesar yang dapat terlihat oleh batuan beku,apabila sewaktu terjadinya pergeseran disertai dengan injeksi magma atau berupa intrusi maupun lelehan,pada zona sesar tersebut.

5. Milonit, Adalah microbreccia, biasanya berstruktur foliasi halus atau laminasi gerusan. Di lapangan mylonite dapat ditemukan menyerupai lempung pada bidang sesar.terbentuk pada daerah lebih dalam dari pada breksi sesar,akan tetapi bila dijumpai bersamaan dengan breksi sesar, maka akan menunjukkan adanya perubahan kondisi tekanan yang tidak merata.terbentuk pada tekanan yang tinggi 6. Jalur mata air pada tebing sesar, sebagai butiran permeabal tersingkap. Mata air yang timbul akibat terpotongnya suatu formasi akuifer,dapat menunjukkan suatu indikasi sesar,penjajaran mata air akan lebih dimungkinkan oleh keterdapatan suatu jalur sesar.mata air panas diluar jalur gunung api dapat mengindikasikan sesar aktif,hal ini terbentuk dari akibat gesekan atau tekanan 24

yang membesar pada kedalaman yang mana formasi akuifer terpotong oleh sesar sehingga air panas muncul kepermukaan sebagai indikasi sesar aktif. 7. Slicken side, permukaan alur yang licin pada permukaan sesar karena gesekan.

8. Cermin sesar, permukaan mengkilap pada permukaan batuan karena gesekan. Yaitu kenampakan-kenampakan adanya suatu kesan goresan halus dan licin,akibat gesekan kedua blok batuan yang tersesarkan.goresan yang sifatnya licin ini dapay pula berbentuk kasar dan tidak perlu selalu rata,cermin sesar ada kecenderungan lebih banyak terbentuk pada sesar geser dimana pembentukannya dengan tekanan yang relative tinggi,tanpa gelombang energi atau gerakan yang tidak merata baik kecepatan maupun arahnya.cermin sesar dapat ditemukan sebagai bidang sesar dan sulit dibedakan dengan bidang kekar gerus atau bidang foliasi batuan. 9. Kelurusan, terdapat pola permukaan yang lurus karena patahan pada sesar. 10. Gawir sesar, merupakan dinding patahan yang terjal dan memanjang. 11. Perbedaan topografi yang menyolok pada daerah patahan. 12. Lapisan batuan tidak kontinu (omisi) karena adanya patahan.

2.8 PEMANFAATAN BENTUK LAHAN ASAL STRUKTURAL Patahan Cara paling sederhana melihat patahan di permukaan bumi adalah ada suatu daerah tinggi dengan lapisan atau jenis batuan penyusun tertentu kemudian di sebelahnya ada jurang yang permukaan lembahnya tersusun dari jenis batuan berbeda. Bisa disimpulkan di daerah tersebut telah terjadi patahan. Demikian juga jika tebing salah satu sungai tersusun oleh pelapisan batuan yang ketinggiannya berbeda dengan sisi satunya, hal itu menunjukkan indikasi patahan pada sungai itu. Di bawah permukaan, patahan bisa diprediksi melalui kenampakan di permukaan bumi, kemudian dibuat kemungkinan pola lapisannya ke arah dalam. Adapun untuk bagian yang lebih dalam digunakan pengukuran dengan seismik pantul. 25

Manfaat : Bidang Industri Patahan, baik yang terjadi di bawah permukaan maupun di bawah bumi yang cukup dalam, mempunyai banyak manfaat. Manfaat itu di antaranya terjadinya jebakan atau daerah tempat terakumulasinya minyak bumi. Akibat tertutup patahan, minyak bumi tidak bisa mengalir ke tempat dengan tekanan lebih rendah. Jebakan bisa ditemukan lewat eksplorasi dengan cara seismik. Salah satu daerah yang terkenal dengan jebakan seperti ini adalah daerah Kutai, Kalimantan. Hal lain, banyak eksploitasi pertambangan menjadi mudah karena adanya patahan. Bila di suatu daerah terdapat tambang batu bara dan di salah satu sisi terjadi patahan, pola lapisan batu bara akan semakin terlihat. Tambang batu bara seperti ini ada di Australia. Bidang Pertanian Patahan juga sangat bermanfaat untuk bidang pertanian, terutama di pegunungan kapur selatan. Misalnya, di Kecamatan Besuki, Campurdarat, atau Pakel dan sekitarnya di Tulungagung terlihat hamparan sawah atau ladang luas yang dibatasi bukit kapur. Hamparan sawah itu dahulu merupakan pegunungan kapur. Akibat patahan, bagian atas dari blok yang turun mengalami proses sedimentasi sehingga permukaan tanah bisa dijadikan sawah. Hal serupa terjadi di perladangan di Malang selatan. Sebagai Obyek Wisata Sering kali di suatu tebing mengucur mata air maupun air terjun. Hal ini juga disebabkan patahan. Oleh karena itu, patahan atau sesar di suatu daerah perlu disikapi dengan arif. Memang betul, patahan merupakan salah satu sumber gempa bumi tektonik. Namun, masyarakat Indonesia tidak bisa menolak atau menghindarinya. Untuk itu perlu dilakukan usaha memetakan arah patahan dengan lebih teliti, khususnya di suatu daerah yang ada indikasi patahan (bisa dilihat di peta geologi). Pemetaan ini bermanfaat untuk memberi saran ke penduduk, swasta, ataupun pemerintah jika mereka hendak membangun perumahan atau gedung. Bangunan hendaknya tidak memotong atau dibangun di atas jalur patahan. Dengan demikian, jka terjadi gempa bumi dampak kerusakan bisa diminimalisir.

26

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 1. Bentuk lahan asal proses struktural tersusun dari seseri lapisan, baik yang telah terusik oleh suatu tekanan maupun yang belum terusik. Terbentuk karena adanya proses endogen berupa tektonisme dan diatropisme. Proses ini meliputi pengangkatan, penurunan, pelengkungan, pelenturan dan pelipatan kerak bumi sehingga terbentuk struktur geologi lipatan dan patahan. Selain itu terdapat struktur horisontal yang merupakan struktur asli sebelum mengalami perubahan. dari struktur pokok tersebut dapat dirinci menjadi berbagai bentuk berdasarkan sikap lapisan batuan dan kemiringannya. 2. Tenaga pembentuk lipatan, patahan dan lengkungan adalah: a. Pada daerah berstruktur lipatan, disebabkan oleh tenaga endogen yang arahnya mendatar berupa tekanan, sehingga batuan sedimen yang letak lapisanlapisannya mendatar berubah menjadi terlipat atau bergelombang. b. Tenaga pembentuk daerah yang berstruktur patahan, adalah tenaga endogen yang mengakibatkan kulit bumi bergerak mendatar dengan berlawanan arah atau bergerak ke bawah atau ke atas, yang sering disebut dengan kekar, rekahan atau retakan yang cukup besar. Kulit bumi mengalami sesar dimana patahan yang disertai dengan pergeseran kedudukan lapisan yang terputus hubungannya (fault). c. Tenaga pembentuk daerah yang berstruktur kubah adalah tenaga endogen mempunyai arah tegak lurus ke arah luar bumi, sehingga daerah yang luas mengalami pencembungan akibat tenaga tersebut 3. Ciri-ciri bentuk lahan asal struktural adalah sebagia berikut: a. b. c. d. 4. Dip dan strike batuan resisten-non resisten jelas Horison kunci jelas Terdapat sesar, kekar, rekahan, gawir sesar, sesar bertingkat Ada materi intrusif: dike, kubah granitik

Bentuk lahan di daerah struktur lipatan, patahan dan lengkungan Bentuklahanan yang merupakan hasil bentukan asal struktural, seprti telah dikemukakan pada bagian terdahulu bahwa disebabkan oleh tenaga endogen (tenaga yang berasal dari dalam bumi) yang bisa berupa proses tektonik atau 27

diastrofisme. Proses ini meliputi pengangkatan, penurunan, dan pelipatan kulit bumi, sehingga terbentuk struktur geologi berupa lipatan dan patahan. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan untuk mendasari interpretasi dan identifikasi bentuk struktural adalah: a. Perbedaan daya tahan (resistensi) lapisan batuan terhadap tenaga yang bekerja. Lapisan batuan yang resisten akan menghasilkan relief yang berbeda dengan batuan yang kurang atau tidak resisten. b. Pola aliran pada bentukan struktural umumnya terkontrol oleh struktur. c. Dalam melakukan identifikasi dan pengenalan terhadap bentukan struktural, dasar pengenalan struktur adalah: - Perlapisan (stratifikasi) batuan - Attitude atau sikap lapisan (posisi bidang lapisan terhadap bidang horizontal yang meliputi dip,strike, dip slope, face slope, dan scrap. - Pola aliran - Kontinuitas - Dislokasi - Morfologi permukaan 5. Bentuklahan hasil bentukan struktural ditentukan oleh tenaga endogen yang menyababkan deformasi perlapisan batuan dengan menghasilkan lipatan, kubah, dan patahan serta perkembangannya. Deformasi perlapisan batuan ini menyebabkan adanya deformasi sikap perlapisan yang semula horisontal menjadi miring atau tegak dan membentuk lipatan. Penentuan nama suatu bentuklahan struktural pada dasarnya di dasarkan pada sikap perlapisan batuan (dip dan strike). Dip adalah sudut perlapisan batuan yang diukur terhadap bidang horisontal dan tegak lurus terhadap jurus (strike). Sedangkan jurus (strike) merupakan arah garis perpotongan yang dibentuk oleh perpotongan antara bidang perlapisan dengan bidang horizontal. 6. Macam-macam bentuk lahan struktural 1. Bentang alam dengan struktur mendatar (lapisan horizontal) 2. Dataran rendah, adalah daerah yang memiliki elevasi antara 0-500 kaki dari permukaan air laut. 3. Dataran tinggi (pletau), adalah daerah yang menempati eleevasi diatas 500 kaki diatas permukaan air laut, berlereng sangat landai atau datar berkedudukan lebih tinggi daripada bentang alam di sekitarnya. 28

4. Bentang alam dengan struktur miring, dibagi menjadi 2 : a. Cuesta, kemiringan antara kedua sisi lerengnya tidak simetri denag sudut lereng yang searah perlapisan batuan kurang dari 300 (Tjia, 1987). b. Hogback, sudut antara kedua sisinya relative sama, dengan sudut lereng yang searah perlapisan batuan lebih dari 300 (Yjia, 1987). Hotback memiliki kelerengan scarp slope dan dip slope yang hamper sama sehingga terlihat simetri 7. Satuan bentuk lahan asal struktural : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pegunungan blok sesar. Gawir sesar. Pegunungan/perbukitan antiklinal. Pegunungan/perbukitan sinklinal. Pegunungan/perbukitan monoklinal. Pegunungan/perbukitan kubah. Pegunungan/perbukitan plato. Teras structural. Perbukitan mesa.

10. Graben (slenk). 11. Sembul (horst). 8. Ciri-ciri Sesar: 1. Trapezidal facet. 2. Triangle facet. 3. Hanging valley. 4. Breksi besar. 5. Milonit 6. Jalur mata air pada tebing sesar. 7. Slicken slide. 8. Cermin sesar. 9. Kelurusan. 10. Gawir sesar. 11. Perbedaan topografi 12. Lapisan batuan tidak kontinu 9. Pemanfaatan bentuk lahan asal struktural Bidang Industri 29

Eksploitasi pertambangan menjadi mudah karena adanya patahan. Bila di suatu daerah terdapat tambang batu bara dan di salah satu sisi terjadi patahan, pola lapisan batu bara akan semakin terlihat. Tambang batu bara seperti ini ada di Australia. Bidang Pertanian Patahan juga sangat bermanfaat untuk bidang pertanian hamparan sawah itu dahulu merupakan pegunungan kapur. Akibat patahan, bagian atas dari blok yang turun mengalami proses sedimentasi sehingga permukaan tanah bisa dijadikan sawah. Hal serupa terjadi di perladangan di Malang selatan. Sebagai Obyek Wisata Sering kali di suatu tebing mengucur mata air maupun air terjun. Hal ini juga disebabkan patahan.

3.2 Saran Desain bangunan di sekitar jalur patahan perlu diperhitungkan untuk mengantisipasi aktifnya patahan, yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan gempa. Misalnya, bangunan didesain untuk tahan goncangan dan dibuat dari bahan yang ringan. Walaupun merupakan salah satu sumber bencana yang perlu diwaspadai, patahan di bumi banyak manfaatnya. Tanpa adanya patahan, kenampakan atau morfologi daratan di Indonesia, khususnya Jatim, tidak akan seperti sekarang. Tanpa adanya patahan, ladang pertanian dan tempat rekreasi tidak akan menarik dan lebih bisa dimanfaatkan seperti sekarang.

30

DAFTAR PUSTAKA

Herlambang,Sudarno, 2004, Dasar-dasar Geomorfologi, Bahan Ajar Jurusan geografi. Buranda,J.P. 1990, Geologi Umum, Buku penunjang Perkuliahan Jurusan geografi http://adityamulawardhani.blogspot.com/2009/bentang-alam-struktural.html http://viq-pangea.blogspot.com/2009/04/macam-macam-proses-endogen.html http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=135&fname=geo106_03.htm http://sunarhadi.blog.friendster.com/ http://maulanusantara.wordpress.com/2009/09/02/gempa-bumi/

31