Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN 1.

1; TUJUAN Tujuan dari operasi orchiectomy atau kastrasi ialah untuk sterilisasi sexual, adanya neoplasma, dan pembedahan membuang testis dan spermatic cord yang rusak akibat traumatik. 1.2 TINJAUAN PUSTAKA Orchiectomy juga dikenal dengan Orchidectomy/kastrasi yaitu sebuah prosedur pembedahan untuk mengangkat (menghilangkan) testis hewan yang dilakukan pada hewan jantan dalam keadaan tidak sadar karena telah teranastesi. Testis merupakan organ primer dari alat reproduksi jantan yang menghasilkan spermatozoa dan hormon-hormon reproduksi, khususnya testosteron.Saat dewasa kelamin testis turun dari rongga perut ke dalam skrotum melalui kanalis inguinalis. Syarat kucing yang akan dilakukan kastrasi ialah harus dalam keadaan sehat. Sebagian besar kucing dikastrasi ketika berumur sekitar 5-8 bulan. Para ahli perilaku hewan menyarankan melakukan kastrasi pada kucing sebelum memasuki masa puber, karena dapat mencegah munculnya sifat/ perilaku kucing yang tidak dinginkan. Kastrasi tidak mempengaruhi pertumbuhan dari kucing karena pada umumnya kastrasi justru meningkatkan berat badan kucing atau cenderung menyebabkan obesitas, hal ini dapat dilihat dalam jangka panjang. Kegemukan atau obesitas ini terjadi karena adanya perubahan metabolisme hormon setelah kastrasi yang menyebabkan kucing tidak lagi agresif dan lebih suka diam/ tidur. Kastrasi yang dilakukan pada hewan memiliki manfaat yaitu untuk menurunkan populasi hewan karena dengan kastrasi hewan jantan menjadi steril, mengurangi sifat agresif dan sifat menjelajah dari hewan karena dikarenakan hilangnya hormon tertosteron yang diproduksi dalam testis. Selain itu kastrasi dapat mengurangi atau mencegah penyakit tertentu yang berhubungan dengan hormon androgen seperti penyakit prostat, kanker/tumor testis, hernia perianal dan mengurangi gangguan endokrin. Indikasi lain dilakukan prosedur orchiectomy adalah sebagai salah satu pilihan terapi dalam menangani kasus-kasus patologi pada testis atau scrotum. Kasus-kasus yang sering ditemukan antara lain: oedema scrotalis, tumor scrotalis, orchitis (peradangan pada testis), tumor testis (sertoli cell tumor), monorchyde, cryptorchyde, dermatitis scrotalis (exzeem scrotalis).

Metode kastrasi dibagi menjadi dua macam yaitu : 1 Metode terbuka Pada metode ini semua jaringan skrotum dan tunica vaginalis diinsisi dan testis serta spermatic cord dibuang tanpa pembungkusnya yaitu tunica vaginalis. Prosedur yang dipakai untuk anjing jenis besar dan dewasa. Kerugian utama cara ini adalah dengan terbukanya tunica vaginalis menyebabkan adanya hubungan dengan rongga abdomen sehingga memungkinkan terjadinya hernia skrotalis yang terutama berisi usus. Keuntungan cara ini adalah ikatan pembuluh darahnya lebih pasti (terjamin 2. Metode tertutup Metode pembedahan ini dilakukan dengan membunag testis dan spermatic cord tanpa membuka tunica vaginalis, yang biasanya dilakukan pada anjing jenis kecil atau masih muda, dan kucing. Keuntungan cara ini adalah dengan tidak dibukanya tunica vaginalis, maka dapat menghindari kemungkinan terjadinya hernia skrotalis. Keuntungan kastrasi, antara lain : 1. Mencegah Kelahiran Anak Kucing Yang Tidak Diinginkan Kastrasi memiliki keuntungan salah satunya adalah mencegah kelahiran anak kucing yang tidak diinginkan, dari perilaku seksualitas pejantan. Selain menjaga populasi kucing tetap terkendalikan, tindakan ini juga memungkinkan pemilik kucing bisa merawat kucing-kucingnya dengan maksimal. 2. Kurang Agresif Terhadap Kucing Lain Testosteron adalah hormon yang dihasilkan dalam testis pejantan. .Hormon ini mempengaruhi banyak pola-pola perilaku pada kucing jantan. Salah satu perilaku yang banyak dipengaruhi hormon testosteron adalah perilaku agresif. Perilaku agresif kucing yang telah dikastrasi cenderung berkurang. Sebagian besar perilaku Spraying/Urine marking hilang setelah dilakukan kastrasi 3 Tidak Suka Berkeliaran Kucing jantan dapat mengetahui dimana letak kucing betina yang sedang birahi melalui feromon. Kucing pejantan akan mencari, mendatangi betina meskipun jaraknya cukup jauh. Kucing jantan yang telah dikastrasi cenderung tidak bereaksi ataupun menanggapi feromon yang dikeluarkan kucing betina dan lebih suka diam di dalam rumah. 4. Peningkatan pertumbuhan Kucing yang dikastrasi sebelum dewasa kelamin akan meningkatkan perkembangan kerangka tulang dan memperbaiki kualitas perototan pada kucing. Kastrasi yang dilakukan

pada kucing yang muda akan memperkecil terjadinya stress yang dapat memnghambat pertumbuhan 5 Mengurangi Resiko Tumor & Gangguan Prostat Tumor dan gangguan prostat lebih sering terjadi pada anjing, pada kucing jarang sekali terjadi. Sebagian besar gangguan pada prostat berhubungan dengan hormon testosteron yang dihasilkan oleh testis. Tindakan kastrasi menyebabkan hewan tidak lagi menghasilkan hormon tersebut, sehingga resiko tumor dan gangguan pada prostat dapat dikurangi. Kelemahan dari kucing yang dikastrasi ialah terjadinya kegemukan atau obesitas. Rata-rata seekor kucing jantan yang dikastrasi membutuhkan asupan kalori sebanyak 25% untuk menjaga berat badannya. Kucing yang dikastrasi akan mengalami penurunan metabolisme basal sehingga meningkatkan deposit lemak dalam tubuh. Obesitas banyak terjadi pada kucing yang dikastrasi setelah dewasa kelamin. Beberapa komplikasi yang terjadi pasca operasi kastrasi ialah : 1 Kebengkakan pasca operasi yaitu pada prepusium dan skrotum yang terjadi karena drainase yang kurang tepat pada luka pasca operasi dan drainase sistem limfatik yang buruk, trauma bedah yang berlebihan atau terjadi infeksi. Pembengkakan pasca operasi dapat dikurangi dengan menghindari terjadinya trauma jaringan secara berlebihan dan memberikan terapi obat antiinflamsai, dan dapat diberikan terapi obat antimikroba bila pembengkakan disertai dengan adanya nanah Efek dari pembengkakan pasca operasi dapat mengurangi keinginan kucing untuk melakukan gerakan. Bila pembengkakan tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan masalah sekunder yaitu terjadinya phimosis, paraphimosis, selulitis, infeksi luka dan disuria 2 Perdarahan yang berlebih, Perdarahan dapat terjadi segera setelah atau beberapa hari setelah operasi. Perdarahan terjadi pada luka scrotum dianggap normal pada proses kastrasi, akan tetapi bila perdarahan hebat terus berlanjut selama lebih dari 15 menit maka bisa dikategorikan sebagai perdarahan berlebih. Perdarahan biasanya terjadi pada arteri testicularis tetapi bisa terjadi akibat adanya laserasi atau trauma pada cabang vena pudenda eksterna. .

BAB II METODOLOGI 2.1 Signalement a b c d e f g Jenis Hewan Jenis kelamin Nama hewan Bangsa Berat badan Umur Warna bulu : Kucing : Jantan : Sutikno : Domestic Short Hair : 2.6 kg :: Two colors (putih, cokelat), Tabby

2.2 Alat dan bahan Alat yang dipergunakan dalam operasi kastrasi ialah tampon, gunting tajam tumpul, gunting tajam-tajam, scalpel handle, scalpel blade, jarum bulat, jarum segitiga, towel clamp, pinset anatomis, pinset chirurgis, needle holder, syringe 1 cc, drape, arteri clamp. Bahan yang diperlukan antara lain acepromazine sebagai sedative, premedikasi yang digunakan ialah atropin sulfat. Xylazine dan Ketamine sebagai anastesi. Selain itu juga digunakan alkohol 70%, iodine, benang catgut, benang cromic, atriopin, asam tolfenamic, acepromazine maleat ( ACP ), amoxisilin, limoxin, wound gard, dan Ns. 2.3 Langkah Kerja a. Pembuatan tampon dan sterilisasi alat-alat bedah Pembuatan tampon dilakukan dengan membungkus kapas dengan kain kasa, kemudian dibungkus dengan koran untuk disterilisasikan. Alat-alat bedah yang dipergunakan untuk operasi juga disterilsasikan. Sterilisasi pada alat-alat bedah bertujuan untuk menghilangkan seluruh kontaminasi yang terdapat pada alat-alat bedah supaya jaringan yang diincisi tidak terkena infeksi. Peralatan bedah yang disterilkan ialah towel clamp, pinset anatomis dan chirurgis, needle holder, arteri clamp, jarum, gunting tajam tajam, gunting tajam tumpul, dan scalpel handle. Selanjutnya, alat-alat bedah dimasukkan ke dalam kotak aluminium dan dibungkus dengan kertas koran dan disterilkan dengan autoklaf. Drape yang dibuat untuk menutupi area yang tidak dibedah juga disterilkan dibungkus dengan kertas koran.

b.

Pengukuran dosis obat yang digunakan selama operasi pembedahan ; Sedative Pemberian sedatif difungsikan untuk memudahkan pengekangan hewan saat akan dilakukan pencukuran. Sedatif yang digunakan ialah acepromazine. Acepromazine tergolong phenothiazine. Golongan ini bekerja pada susunan syaraf pusat dan menghasilkan efek penenang pada hewan. Kerugiaan penggunaan acepromazine adalah dapat juga menyebabkan ataksia, dan prolapsus membran niktitan, Efek samping acepromazine yaitu hipotensi, anemia dan dehidrasi. Acepromazine digunakan sebagai tranquilizer pada anjing, kucing Acepromazine dan bersifat menurunkan anti-kholinergik, vasomotorik. anti-emetik, Dapat juga antispasmodik, antihistamin, dan memblok alpha-adrenergik. Acepromazine menyebabkan hipotensi berpengaruh terhadap respirasi, denyut jantung dan suhu tubuh. Efek dari pemberian acepromazine akan terjadi setelah 20-30 setelah injeksi Dosis yang dibutuhkan ialah : dosis/kg BB x BB Konsentrasi (mg/ml) Acepromazine maleat = 0,02 x 2,6 = 0,052 ml ; Premedikasi Premedikasi dalam proses operasi bertujuan untuk memudahkan dalam anestesi dan membuat hewan menjadi lebih tenang, mengurangi dosis anastesi, mengurangi efek-efek otonomik dan efek samping yang tidak diinginkan, serta mengurangi nyeri pre-operasi. Tujuan pemberian premedikasi adalah untuk mengurangi sekresi kelenjar ludah, meningkatkan keamanan pada saat pemberian agen anestesi, memperlancar induksi anestesi, mencegah efek bradikardi dan muntah setelah ataupun selama anestesi, mendepres reflek vagovagal, mengurangi rasa sakit dan gerakan yang tidak terkendali selama recovery. Operasi kastrasi menggunakan atropin sulfat sebagai obat yang digunakan sebagai premedikasi. Atropin Sulfat merupakan obat premedikasi golongan antikolinergik yang paling sering digunakan Atropin sebagai prototip antimuskarinik mempunyai kerja menghambat efek asetilkolin pada syaraf postganglionik kolinergik dan otot polos yang memiliki b efek, pada susunan

syaraf pusat, merangsang medulla oblongata dan pusat lain di otak, menghilangkan tremor, perangsang respirasi akibat dilatasi bronkus. Keuntungan antikolinergik sebagai premedikasi adalah mengurangi sekresi kelenjar saliva terutama bila dipakai obat anastetik yang menimbulkan hipersekresi kelenjar saliva, menurunkan keasaman cairan gastrium, menghambat bradikardia oleh stimulasi vagal, menurunkan motilitas intestinal,. kerugiannya adalah peningkatan kecepatan metabolisme, peningkatan denyut jantung, dapat menyebabkan bradikardia atau takikardia dan dilatasi pupil Perhitungan dosis atropin sulfat Atropine Sulfat = dosis/kg BB x BB Konsentrasi (mg/ml) = 0,04 x 2,6 1 = 0,104 ml Pemberian premedikasi dilakukan 15 menit sebelum diinduksi dengan anastesi ; Anastesi Anestesi menurut arti kata adalah hilangnya kesadaran rasa sakit. Anestasi umum tidak hanya menghilangkan rasa sakit akan tetapi juga menghilangkan kesadaran. Anestesi umum diperlukan untuk pembedahan karena dapat menyebabkan penderita mengalami analgesia dan tidak sadarkan diri sedangkan otot-otot mengalami relaksasi dan penekanan reflek yang tidak dikehendaki. Anestesi yang dipergunakan ialah kombinasi ketamin-xilazine. Kombinasi antara ketamin dan xilazine merupakan kombinasi terbaik bagi kedua agen ini untuk menghasilkan analgesia. Banyak hewan yang teranastesi secara baik dengan menggunakan kombinasi ini. Anastesi dengan ketamin xilazine memiliki efek lebih pendek jika dibandingkan denga pemberian ketamin saja, tetapi kombinasi ini menghasilkan relaksasi muskulus yang baik tanpa konfulsi. Emesis sering terjadi pasca pemberian ketamin xilazine, tetapi hal ini dapat diatasi dengan pemberian atropin 15 menit sebelum pemberian ketamin xilazine. Efek anastesi akan timbul setelah 10-30 menit, dan kembalinya kesadaran timbul setelah 1-2 jam . Perhitungan dosis ketamin dan xilazine

Ketamin = dosis/kg BB x BB Konsentrasi (mg/ml) = 10 x 2,6 100 = 0,26 ml Xylazine = dosis/kg BB x BB Konsentrasi (mg/ml) = 2 x 2,6 20 = 0,26 ml ; Asam tolfenamic Asam Tolfenamic = dosis/kg BB x BB Konsentrasi (mg/ml) = 4 x 2,6 80 = ; Amoxisilin Amoxisilin = 0,5 ( Topikal ) ; limoxin Limoxin c. Persiapan Hewan Kucing jantan yang dikastrasi dipuasakan selama 8-12 jam sebelum dilakukan pembedahan, yang bertujuan untuk menghindari muntah saat diinduksi anastesi. Kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatan secara umum dan khusus memeriksa daerah skrotum untuk memastikan testis ada pada tempatnya dan hewan itu tidak sedang menderita hernia skrotalis. Setelah diberikan sedativ, Bulu hewan di daerah yang akan dioperasi dicukur. Kaki kucing diikat menggunakan tali pada kursi. Pada daerah yang tidak dioperasi ditutup menggunakan kain drape. Pada lokasi yang akan = 0,1 x 2,6 = 0,26 ml 0,13 ml

diincis diolesi antiseptik alkohol dibiarkan selama 10 menit dan dilanjutkan dengan pemberian povidone iodine dibiarkan selama 15 menit d. Teknik Operasi Teknik operasi kastrasi menggunakan metode kastrasi terbuka. Skrotum dari salah satu testis dipegang lalu didorong ke arah cranial scrotum dan ditahan sementara, kemudian dibuat incisi pada kulit scrotum, fascia spermatica, dan tunica vaginalis diatas testis pada daerah raphae median. Keluarkan testis dengan menggunakan dua buah mosquito forceps jepit spermatic cord menuju kearah testis, dan diligasi spermatic cord sedekat mungkin dengan ostium vaginalis, menggunakan benang catgut chromic. Dengan menggunakan scalpel dipotong spermati cord searah yang menuju kearah testi, melalui irisan tadi dibuat irisan untuk mengeluarkan testis satunya dengan dorongan seperti diatas. Kulit dijahit dengan pola jahitan terputus sederhana menggunakan benang silk. Ke dalam daerah sayatan disemprotkan amoxisilin. e. Perawatan Pasca Operasi Hewan pasca operasi ditempatkan dalam kandang yang bersih dan kering. Luka operasi dibersihkan dengan wound grad dan NS, dan tiap 2 hari sekali diinjeksi asam tolfenamic secara subkutan dan limoxin secara intramuscular. kucing diperiksa secara kontinyu selama 7 hari yaitu dengan mengukur suhu, menghitung pulsus, respirasi, nafsu makan, urinasi, defekasi serta kondisi luka. Jahitan luka dapat dibuka setelah bekas operasi kering dan benar-benar telah tertutup.