Anda di halaman 1dari 4

MAESTRO

IDENTITAS BUKU: : Maestro : Alex Suhendra : Benedicta Rini W : Sheila : ANDI OFFSET : 2009 : vi + 314 halaman : Fiksi Judul Penulis Editor Penerbit Percetakan Cetak Tebal Jenis Buku

UNSUR INTRINSIK:

Tema : Kehidupan rumit seorang teaterawan terkemuka di Jogjakarta. Alur : Maju Sudut Pandang : Orang pertama pelaku utama. Penokohan : 1. Makkah : Sombong, acuh tak acuh, tak suka aturan, dan profesional dalam pekerjaan. Bukti : Aku adalah segalanya! Dan, tentu saja, segalanya adalah diriku! (Halaman 25), Aku kontroversial. Aku adalah pencuri ulung. ... . Tapi, persetan dengan semua tetek-bengek itu! Aku adalah kedua kubu itu. (Halaman 26) 2. Ibu Makkah : Baik dan lemah lembut. Bukti : Ibu tidak ingin kamu bawa terlalu banyak barang. Nanti kamu kerepotan di jalan. (Halaman 3) 3. Ayah Makkah : Tidak setia. Bukti : Ayah dan Ibu bercerai. Ada wanita lain. Dia adalah Si Penelepon pada malam keberangkatanku ke Yogyakarta. (Halaman 27) 4. Madinah : Baik dan perhatian. Bukti : Nanti, saat kamu kuliah, uang jajanmu jangan dihabisin semua, sisakan untuk beli handphone, biar kamu bisa SMS-an sama Dida. (Halaman 4) 5. Dida : Kekanak-kanakan. Bukti : Dida tidak bisa menyembuhkan marahnya dalam satu atau dua hari. (Halaman 14) 6. Om Sangkoro : Tegas dan pembohong. Bukti : Makkah, ada sesuatu yang kamu tidak tahu. Om ingin semuanya baik-baik saja. Tinggallah disini! ... (Halaman 233) 7. Bibi Ni : Baik dan sabar.

Bukti : Bibi Ni tidak menangis. Dia tidak terbata-bata. Kalimatnya keluar begitu lancar. (Halaman 278) 8. Restu : Penakut dan pembohong. Bukti : Dia diam mematung. Mulutnya melongo. Bibirnya gemetar. Keringat dinginnya mengucur. (Halaman 275) 9. Mela : Pembohong. Bukti : Maafkan aku, aku mengaku sebagai istrimu. Aku tahu kamu membenciku, tapi aku benar-benar mencintaimu. (Halaman 305) 10. Tiffani (Strawberry) : Pembohong. Bukti : ... Sorry, selama ini aku permainkan perasaanmu. Aku hanya pura-pura bisu. Ternyata kamu gampang dipermainkan. ... (Halaman 282) 11. Luki : Jahat. Bukti : Aku menyumpahi semua orang, Sangkoro, Restu, Luki, Mela, Tiffani, dan pemilik kamar sialan ini. (Halaman 282) 12. Si Wajah Senyum : Baik dan Selalu tersenyum. Bukti : ..., dia tersenyum. Karena dia selalu tersenyum, kupikir, dalam buku harianku nanti, namanya akan menjadi Si Wajah Senyum. (Halaman 74) Latar a. Tempat : 1. Kamar kos Makkah. Bukti : Namun, tak kutemukan pesan apa-apa. Kubuka pintu kamar. Menghidupkan lampu. (Halaman 59) 2. Rumah Makkah. Bukti : Makkah, ayo mandi, makan, terus shalat ashar. Sudah setengah empat... (halaman 1) 3. Jalan. Bukti : Aku berjalan diatas trotoar yang masih lembap. (Halaman 45) 4. Stasiun kereta api. Bukti : Pukul 19.17. Kami sampai di stasiun kereta. (Halaman 3) 5. Rumah Om Sangkoro. Bukti : Waktu bertamu ke rumah Om Sangkoro, Kupikir dia bakal kaget dan mendampratku habis-habisan, ... (Halaman 268) 6. Warung makan. Bukti : Pukul 20.16. Warung Steak Jalan Colombo. Aku makan dengan Lahap. (Halaman 66) 7. Cafe. Bukti : Orang-orang berseliweran. Orang-orang menyeduh sesuatu dalam minuman. (Halaman 89) 8. Kos Tiffani. Bukti : Teras rumah kos Tiffani. Sepi. Seperti biasa, ... (Halaman 199) 9. Rumah Eyang Putri.

Bukti : ..., kamu di rumah Eyang Putri sekarang, di Cirebon. (Halaman 301) 10. Panggung teater. Bukti : ... mereka semakin riuh ketika kakiku terlihat dan saat seluruh tubuhku diterpa lampu sorot. (Halaman 294) b. Waktu : 1. Pagi hari. Bukti : Pukul 05.08. Adzan subuh sudah lewat setengah jam. (Halaman 184) 2. Siang hari. Bukti : Pukul 13.08. Aku bangun terlalu dini. (Halaman 39) 3. Sore hari. Bukti : Sore hari, senjakala lebih tepatnya karena aku bisa melihat cat tembok putih jadi merah kekuningan ... (Halaman 45) 4. Malam hari. Bukti : Pukul 20.16. Warung Steak Jalan Colombo. Aku makan dengan lahap. (Halaman 74) 5. Dini Hari. Bukti : Pukul 01.19 aku tiba di Yogyakarta. (Halaman 12) c. Suasana : 1. Menegangkan. Bukti : Karena, dia tidak bisa menolak permintaan anak haramnya.. Ni! Om Sangkoro membentak. Dia terlonjak dari sofa . Aku tergeragap. Oh, Tuhan apa yang sedang ku perbuat? (Halaman 277) 2. Mengharukan. Bukti : Kini aku berdiri. Sendirian. Madinah khusyuk mengaji di samping peti mati Eyang Putri. Kulihat dua kakak laki-laki Ibu dan Bibi Ni yang ikut menderas doa-doa. (Halaman 231) 3. Menggembirakan. Bukti : Telepon genggamku masih kutempelkan di telinga. Aku masih belum bisa melepas kegembiraan semuku. (Halaman 33)

Amanat yang terkandung: 1. Kesombongan dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang amat rumit. 2. Menjadikan dunia menjadi yang terdepan dan mengenyampingkan Tuhan justru akan mempersulit hidup. 3. Menyianyiakan hidup dengan hal-hal yang tidak bermanfaat sangatlah tidak baik.

SINOPSIS Kelak, kamu akan jadi seorang Pahlawan. Tapi, kamu harus membayarnya dengan sangat mahal karena kamu telah mengetahuinya sebelum sempat kamu merasakannya sendiri. Berawal dari kepindahan Makkah, dari Bandung ke Jogjakarta, untuk menjejak dunia kuliah. Sebuah kamar telah dirapikan Om Sangkoro untuk Makkah, tapi dia menolak dan memilih untuk mengikuti suara gemerisik radio yang muncul dari kepalanya. Sebuah kamar

yang tidak patut ditinggali itulah yang menjadi pilihan Makkah. Kasur jebol, sarang laba-laba, meja berserakan, debu menebal di sana-sini, suasana yang justru membuat dia betah. Kondisi semakin aneh ketika Makkah menemukan sebuah buku harian yang kemudian menjadi kitab sucinya, hingga mengalahkan kesucian Al-Quran. Buku yang kelak akan mengantarkan Makkah kepada petaka inilah, kemudian mengubahnya menjadi sosok gothic yang merajai dunia teater di kota Jogjakarta. Tidak hanya itu, Makkah juga pendiri band indie bernama Abrakadabra yang akan masuk dapur rekaman. Ketenaran tersebut kemudian membuat kelompok teaterawan terkemuka, SNtNG [Say No to Next Generation] untuk merekrutnya dalam pertunjukan teater monolog. Makkah tidak pernah menyangka sebelumnya jika ajakan SNtNG akan membuat hidupnya menjadi amat rumit. Ia bertemu Abracadabra yang lain, bertemu Lucki si anak haram, bertemu Tiffani si gadis marsupilami yang berpura-pura bisu, dan bertemu Mela yang sangat ia cintai. Pada akhirnya, Ia mengetahui bahwa ia telah dikhianati oleh orang-orang yang ada disekitarnya. Tak pelak, ia pun tercebur dan bermain-main di kubangan buatan. Cinta, persahabatan, lawan, cita-cita, dan harapan menjadi abu-abu. Lalu ketika semua semakin mengerucut Makkah menjelma bak bola yang berada di dalam kotak yang lalu digoncangkan. Dia bergerak cepat, menyerbu, resah, galau, tak suka aturan, dan menggeliat dengan frekuensi berbeda.

Pendapat para sastrawan

Novel ini adalah dunia Alex atau bagaimana seorang bernama Alex melihat dunia. Sepert dua buah televis dijejerkan, sutu full colour, satu hitam putih, dan di tengahtengahnya adalah radio tua dengan frekuensi putus-putus, katanya, membuka dunia. Tak mudah untuk dimasuki. Tapi, jika Anda berhasil masuk, mungkin Anda akan betah berdiam di sana berlama-lama. (GUNAWAN MARYANTO, penulis dan pegiat Teater Garasi) Aku suka cara dia bercerita. Gambarannya detail. Matanya seperti mata kamera film. Jelas, mengalir, dan aku sulit berhenti di tengah jalan. Coba saja. (M.AHMAD JALIDU, sutradara teater)