Anda di halaman 1dari 14

Wound Healing

A. Definisi Luka adalah kerusakan anatomi,diskontinuitas suatu jaringan olehkarena trauma dari luar.(Djohansyah Marzoeki, 1991).

Gambar Luka Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul : 1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ 2. Respon stres simpatis 3. Perdarahan dan pembekuan darah 4. Kontaminasi bakteri 5. Kematian sel B. Mekanisme terjadinya luka : 1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi)

2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak. 3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam. 4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil. 5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat. 6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar. 7. Luka Bakar (Combustio) C. Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka : 1. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan, pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal; Jackson Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% 5%. 2. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% 11%. 3. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% 17%. 4. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka.

D. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :


a.

Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit. Stadium II : Luka Partial Thickness : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal. Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

b.

c.

d.

E. Proses Penyembuhan Luka Teori proses penyembuhan luka menurutKozier (1995),Penyembuhan merupakan suatu sifat dari jaringan-jaringan yang hidup;hal ini juga diartikan sebagai pembentukan kembali (pembaharuan) dari jaringan-jaringan tersebut. Penyembuhan dapat dibagi dalam tiga fase: peradangan, proliferatif, dan maturasi(bernanah luka). Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan jalan proses peradangan, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling), kemerahan (redness), panas (heat), Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function).

Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase :

Proses Penyembuhan Luka 1. Fase Inflamasi(Peradangan) Fase peradangan akan segera dimulai setelah terjadinya luka dan akan berlangsung selama 3sampai 4 hari. Ada dua proses utama yang terjadi selama fase peradangan ini : hemostatis danphagositosis.Hemostatis (penghentian pendarahan) diakibatkan oleh vasokontriksi dari pembuluh darah yanglebih besar pada area yang terpengaruh, penarikan kembali dari pembuluh-pembuluh darah yangluka, deposisi/endapan dari fibrin (jaringan penghubung), dan pembentukan gumpalan bekudarah pada area tersebut. Gumpalan beku darah, terbentuk dari platelet darah (piringan keciltanpa warna dari protoplasma yang ditemukan pada darah), menetapkan matriks dari fibrin yangakan menjadi kerangka kerja untuk perbaikan sel-sel. Suatu keropong juga terbentuk pdapermukaan luka. Yang terdiri dari gumpalan-gumpalan serta jaringan-jaringan yang mati.Keropeng berguna untuk membantu hemostasis dan mencegah terjadinya kontaminasi pada lukaoleh mikroorganisme. Di bawah keropeng, sel-sel epithelial bermigrasi ke dalam luka melaluipinggiran luka. Sel-sel epithelial sebagai penghalang antara tubuh dengan lingkungan, mencegahmasuknya mikroorganisme.Fase peradangan juga melibatkan respon-respon seluler dan vaskuler yang dimaksudkan untukmenghilangkan setiap substansi-substansi asing serta jaringan-jaringan yang mati. Aliran darahke luka meningkat, membawa serta substansi serta nutrisinutrisi yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan. Sebagai hasilnya luka akan

terlihat memerah dan bengkak.Selama migrasi sel, leukosit (khususnya netrophil) akan masuk ke dalam ruang interstitial.Kemudian akan digantikan makrofag selama 24 jam setelah luka, yang muncul dari monositdarah. Makrofag akan menelan puing-puing selular dan mikroorganisme dengan suatu proses yang dikenal sebagai phagositosis. Makrofag juga mengeluarkan suatu faktor angigenesis (AGF),yang merangsang pembentukan dari pucuk-puck epithelial pada ujung pembuluh darah yangmengalami luka. Jaringan kerja microcirculatory yang dihasilkan akan menopang prosespenyembuhan luka. Saat ini makrofag dan AGF dipertimbangkan sebagai hal yang penting padaproses penyembuhan (Cooper 1990 p. 171). Respon terhadap peradangan ini sangat pentingterhadap proses penyembuhan, dan mengukur bahwa penghalangan pada peradangan, sepertipengobatan dengan steroid, dapat menggantikan proses penyembuhan yang mengandungresiko. Selama tahapan ini pula, terbentuk suatu dinding tipis dari sel-sel epithelial di sepanjang luka. 2. Fase Proliferati Fase proliferatif (tahapan pertumbuhan sel dengan cepat), fase kedua dalam prosepenyembuhan, memerlukan waktu 3 hari sampai sekitar 21 hari setelah terjadinya luka.Fibroblast (sel-sel jaringan penghubung), yang mulai bermigrasi ke dalam luka sekitar 24 jamsetelah terjadinya luka, mulai mengumpulkan dan menjadikan satu kolagen dan suatu substansidasar yang disebut proteoglycan sekitar 5 hari setelah terjadinya luka. Kolagen merupakan suatusubstansi protein yang berwarna keputih-putihan yang menambah daya rentang pada luka. Satjumlah kolagen meningkat, maka daya rentang luka juga kan meningkat; oleh karena itu peluangbahwa luka akan semakin terbuka menjadi semakin menurun. Selama waktu tersebut, muncullahapa yang disebut sebagai pungung bukit penyembuhan di bawah garis jahitan luka yanglengkap. Pada luka yang tidak dijahit, kolagen baru seringkali muncul. Pembuluh-pembukuhkapiler tumbuh disepanjang luka, meningkatkan aliran darah, yang juga membawa serta oksigendan nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan. Fibroblast akan bergerak darialiran darah ke dalam wilayah luka, mengendapkan fibrin. Saat jaringan pembuluh kapiler berkembang, jaringan menjadi suatu benuk tembus cahaya yang berwarna kemerah-merahan.Jarinag tersebut, disebut sebagai jaringan granulsi, yang mudah pecah dan mudah mengalamipendarahan.Saat sisi

kulit dari luka tidak dijahit, wilayah luka tersebut harus ditutup dengan jaringanjaringangranulasi. Saat jaringan granulasi matang, sel-sel epithelial marginal akan bermigrasi kedalamnya, pertumbuhan sel yang cepat di sepanjang jaringan penghubung ini dipusatkan untuk menutup wilayah luka. Jika wilayah luka tidak tertutup oleh epithelisasi, wilayah luka tersebutakan ditutup dengan protein plasma yang mengering serta sel-sel yang telah mati. Hal inidisebut eschar . Pada awalnya, luka yang disembuhkan dengan tujuan sekunder merembes

kepengeringan serosanguineous. Kemudian jika tidak ditutup oleh sel-sel epithelial, maka akanditutup dengan jaringan-jaringan fibrinous yang berwarna abu-abu dan berukuran tebal yangpada akhirnya berubah menjadi jaringan bekas luka yang padat yang tebal 3. Fase Maturasi Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah ; menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi, warna kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan. Untuk mencapai penyembuhan yang optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang dipecahkan. Kolagen yang berlebihan akan terjadi penebalan jaringan parut atau hypertrophic scar, sebaliknya produksi yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut dan luka akan selalu terbuka. Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal. Meskipun proses penyembuhanluka sama bagi setiap penderita, namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing individu, lokasi serta luasnya luka. Penderita muda dan sehat akan mencapai

proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi, diserta penyakit sistemik (diabetes mielitus). Proses penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks karena dipengaruhi oleh banyak faktor baik dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Lamanya proses penyembuhan luka ini memang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain dan dipengaruhi oleh kedalaman luka. Tubuh yang sehat akan mempunyai kemampuan alami untuk memulihkan lukanya sehingga luka dapat sembuh secara normal tanpa bantuan obat. Dalam keadaan normal, luka yang tidak terlalu dalam dapat menutup dengan sendirinya dalam waktu 2-3 minggu.

F. Tipe Penyembuhan Luka Luka dapat juga diklasifikasikan berdasarkan dari proses penyembuhan lukanya. Tipe penyembuhan luka dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu : a. Penyembuhan primer Penyembuhan luka dengan alat bantu seperti jaritan, klip atau tape. Pada penyembuhan primer ini, kehilangan jaringan minimal dan pinggiran luka ditutup dengan alat bantu. Menghasilkan skar yang minimal. Misalnya; luka operasi, laserasi dan lainnya. b. Penyembuhan sekunder Penyembuhan luka pada tepi kulit yang tidak dapat menyatu dengan cara pengisian jaringan granulasi dan kontraksi. Pada penyembuhan ini, terdapat kehilangan jaringan yang cukup luas, menghasilkan scar lebih luas, dan memiliki resiko terjadi infeksi. Misalnya pada leg ulcers, multiple trauma, ulkus diabetik, dan lainnya c. Penyembuhan primer yang terlambat/ tersier Ketika luka terinfeksi atau terdapat benda asing dan memerlukan perawatan luka/ pembersihan luka secara intensif maka luka tersebut termasuk penyembuhan primer yang terlambat. Penyembuhan luka tersier diprioritaskan

menutup dalam 3-5 hari berikutnya. Misalnya luka terinfeksi, luka infeksi pada abdomen dibiarkan terbuka untuk mengeluarkan drainase sebelum ditutup kembali, dan lainnya. G. Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka 1. Usia, Semakin tua seseorang maka akan menurunkan kemampuan penyembuhan jaringan 2. Infeksi, Infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka. 3. Hipovolemia, Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka. 4. Hematoma, Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka. 5. Benda asing, Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (Pus). 6. Iskemia, Iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri. 7. Diabetes, Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh. 8. Pengobatan, Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera, Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan, Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.

Namun, diperlukan perawatan luka yang baik untuk mendapatkan proses penyembuhan luka yang berlangsung normal. Salah satu bentuk perawatan luka yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan luka dan mencegah gesekan (trauma) berulang pada daerah yang terluka. Gesekan berulang ini akan menimbulkan kerusakan-kerusakan pada sel-sel kulit yang baru terbentuk, sehingga proses penyembuhan luka menjadi lebih lambat. Karena itu, dianjurkan agar selalu menjaga kebersihan luka dengan larutan antiseptik dan mengistirahatkan jari anda yang terluka untuk sementara hingga luka benar-benar telah menutup. Konsumsi vitamin A dan C secara alami ataupun dengan suplemen dapat membantu proses penyembuhan luka. Beberapa faktor yang dapat menghambat proses penyembuhan luka diantaranya adalah :

Usia. Semakin bertambah usia seseorang, semakin lama proses penyembuhan luka

Anemia Mengkonsumsi beberapa jenis obat-obatan, seperti obat anti inflamasi Penyakit kencing manis. Penyakit infeksi lain di dalam tubuh Malnutrisi (kekurangan gizi) Obesitas (kegemukan) dll

H. MANAGEMEN LUKA Manajemen luka sebelumnya tidak mengenal adanya lingkungan luka yang lembab. Manajemen perawatan luka yang lama atau disebut metode konvensional hanya membersihkan luka dengan normal salin atau ditambahkan dengan iodin povidine, kemudian di tutup dengan kasa kering. Tujuan manajemen luka ini adalah untuk melindungi luka dari infeksi . Ketika akan merawat luka di hari berikutnya, kasa tersebut menempel pada luka

dan menyebabkan rasa sakit pada klien, disamping itu juga sel-sel yang baru tumbuh pada luka juga rusak. Manajemen luka yang dilakukan tidak hanya melakukan aplikasi sebuah balutan atau dressing tetapi bagaimana melakukan perawatan total pada klien dengan luka. Manajemen luka ditentukan dari pengkajian klien, luka klien dan lingkungannya serta bagaimana kolaborasi klien dengan tim kesehatan. Tujuan dari manajemen luka yaitu sebagai berikut :

Mencapai hemostasis Mendukung pengendalian infeksi Membersihkan (debride) devaskularisasi atau material infeksi Membuang benda asing Mempersiapkan dasar luka untuk graft atau konstruksi flap. Mempertahankan sinus terbuka untuk memfasilitasi drainase Mempertahankan keseimbangan kelembaban Melindungi kulit sekitar luka Mendorong kesembuhan luka dengan penyembuhan primer dan penyembuhan sekunder

Beberapa dekade ini, metode konvensional sudah tidak digunakan lagi, walaupun masih ada rumah sakit tertentu terutama di daerah yang jauh dari kota masih menerapkannya. Manajemen luka yang lama diganti dengan manajemen luka terbaru yang memiliki tujuan salah satunya yaitu menciptakan lingkungan luka yang lembab untuk mempercepat proses penyembuhan luka (moist wound healing). Moist wound healing merupakan suatu metode yang mempertahankan lingkungan luka tetap lembab untuk memfasilitasi proses penyembuhan luka . Lingkungan luka yang lembab dapat diciptakan dengan occlusive dressing/ semiocclusive dressing . Dengan perawatan luka tertutup (occlusive dressing) maka keadaan yang lembab dapat tercapai dan hal tersebut telah diterima secara universal sebagai standar baku untuk berbagai tipe luka. Alasan yang rasional teori perawatan luka dengan lingkungan luka yang lembab adalah :

Fibrinolisis; Fibrin yang terbentuk pada luka kronis dapat dengan cepat dihilangkan (fibrinolitik) oleh netrofil dan sel endotel dalam suasana lembab.

Angiogenesis; Keadaan hipoksi pada perawatan tertutup akan lebih merangsang lebih cepat angiogenesis dan mutu pembuluh kapiler. Angiogenesis akan bertambah dengan terbentuknya heparin dan tumor nekrosis faktor alpha (TNF-alpha)

Kejadian infeksi lebih rendah dibandingkan dengan perawatan kering (2,6% vs 7,1%)

Pembentukan

growth

factors

yang

berperan

pada

proses

penyembuhan dipercepat pada suasana lembab. Epidermal Growth Factor (EGF), Fibroblast Growth Factor (FGF) dan Interleukin 1/Inter-1 adalah substansi yang dikeluarkan oleh magrofag yang berperan pada angiogenesis dan pembentukan stratum korneum. Platelet Derived Growth Factor (PDGF) dan Transforming Growth Factor- beta (TGF-beta) yang dibentuk oleh platelet berfungsi pada proliferasi fibroblast

Percepatan pembentukan sel aktif; Invasi netrofil yang diikuti oleh makrofag, monosit, dan limfosit ke daerah luka berfungsi lebih dini.

Keuntungan lainnya menggunakan moist wound healing juga akan mengurangi biaya perawatan pada klien dan mengefektifkan jam perawatan perawat di rumah sakit . Untuk menciptakan kelembaban lingkungan luka maka diperlukan pemilihan balutan luka atau dressing yang tepat. Dressing yang ideal digunakan untuk menciptakan lingkungan lembab, yaitu occlusive dressing/ semiocclusive dressing . Occlusive dressing adalah penutupan luka dengan menggunakan balutan tertentu seperti transparan film atau hidrokoloid untuk menciptakan lingkungan luka yang lembab . Occlusive dressing memberikan pengaruh pada luka dengan menjaga kelembaban di dasar luka. Kelembaban tersebut akan melindungi permukaan luka dengan mencegah kekeringan (desiccation) dan cedera tambahan . Selain itu, balutan tertutup juga dapat mengurangi risiko infeksi.

Menurut penelitian Holm (1998) pada luka pembedahan abdominal ditemukan perbedaan signifikan angka kejadian infeksi pada perawatan luka dengan occlusive dressing (3%) dan perawatan luka konvensional (14%) . Penelitian yang dilakukan oleh Kim et al pada tahun 1996, menunjukkan bahwa balutan hidrokoloid dengan occlusive dressing lebih efektif, efisiensi waktu dan cost efektif daripada kasa basah dan kering . Tujuan manajemen luka selain mempertahankan keseimbangan

kelembaban (moist wound healing) dengan occlusive dressing adalah mempersiapkan dasar luka sebelum dilakukan pemasangan graft atau flap konstruksi. Menurut Scnultz et al (2003), mempersiapkan dasar luka atau disebut wound bed preparation adalah manajemen luka untuk mempercepat

penyembuhan endogenous atau untuk memfasilitasi keefektifan pengukuran terapeutik lainnya. Falanga (2004) menyatakan bahwa manajemen luka dengan wound bed preparation memiliki tahapan-tahapan yang disingkat dengan TIME, yaitu; tissue management (manajemen jaringan), infection or inflammation control (pengendalian infeksi), moisture balance (keseimbangan kelembaban), dan edge of wound (pinggiran luka) . Pelaksanaan wound bed preparation dengan TIME, yaitu; 1. Manajemen jaringan Cara melakukan manajemen jaringan adalah dengan debridemen surgikal (sharp debridement), conservative sharp wound debridement (CSWD), enzimatik debridemen, autolitik debridemen, mekanik debridemen, kimiawi debridemen dan biologikal atau parasit debridemen 2. Mengendalikan infeksi dan inflamasi Dapat mengenal dan mengatasi tanda inflamasi (tumor, rubor, calor, dolor) dan tanda infeksi (eksudat purulen). Balutan yang dapat digunakan untuk mengembalikan powder/paste/sheet keseimbangan dressing, bakteri yaitu; cadexomer tulle iodine gras,

povidine

iodine

impregnated

chlorhexidine impregnated tulle gras, madu luka, silver impregnated dressing.

3. Mempertahankan keseimbangan kelembaban Berdasarkan penelitian Winter tahun 1962, menyatakan kelembaban pada lingkungan luka akan mempercepat proses penyembuhan luka. Dengan demikian, untuk menciptakan lingkungan luka yang lembab maka diperlukan pemilihan balutan atau dressing yang tepat. Pemilihan balutan akan dipengaruhi oleh hasil pengkajian luka yang dilakukan, seperti; apakah luka kering, eksudat minimal, sedang atau berat, oedem yang tidak terkontrol. Berikut balutan yang dapat mengoptimalkan keseimbangan kelembaban yang dapat digunakan secara occlusive/ tertutup atau compression/ kompresi.

Luka kering; hidrogel, hidrokoloid, interaktif balutan basah Minimal eksudat; hidrogel, hidrokoloid, semipermeabel film, kalsium alginate

Eksudat sedang; kalsium alginat, hidrofiber, hidrokoloid pasta, powder dan sheet, foams

Eksudat berat; balutan hidrofiber, foam sheet/cavity, ektra balutan absorben kering, kantung luka/ostomi

4. Kemajuan tepi luka Epitelisasi pada tepi luka memerlukan perhatian khusus terhadap adanya pertumbuhan kuman dan hipergranulasi yang dapat menghambat epitelisasi dan penutupan luka. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengontrol hipergranulasi sehingga tepi luka dapat menyatu, antara lain;

Pemberian topikal antimikroba untuk mengtasi keseimbangan bakteri Hipertonik impregnated dressing untuk mengendalikan edema dan keseimbangan bakteri

Tekanan lokal menggunakan foam dressing dan perban kompresi atau tape fiksasi

Konservatif debridemen luka tajam (CSWD) Kimiawi debridemen dengan silver nitrat atau cooper sulfate Topikal kortikosteroid

DAFTAR PUSTAKA Carville K. Wound care: manual. 5th ed. Osborne Park:Silver Chain Foundation; 2007.p.20-9 Rainey J.Wound care: a handbook for community nurses. Philadelphia: Whurr Publisher; 2002. p. 10-1. Wound Care Solutions Telemedicine. Wounds. [Online]. 2010 [citez 2010 april 31]; Availabel from; URL http://www.woundcaresolutions-

telemedicine.co.uk/wounddefinition.php Gitarja WS. Perawatan luka diabetes: seri perawatan luka terpadu. Bogor: Wocare Indonesia; 2008. P. 18-3. Clinimed. Theory of moist wound healing. [Online]. 2010 [Cited 2010 April 20]. Availabel from; URL http://www.clinimed.co.uk/wound-care/education/wound-essentials/theory-ofmoist-wound-healing.aspx http://cupu.web.id/pengertian-luka-wound-dan-wound-healing-proses-penyembuhan-luka/