Anda di halaman 1dari 22

TUJUAN Agar mahasiswa dapat memahami langkah langkah analisis obat dalam cairan hayati.

II. DASAR TEORI Parameter farmakokinetika suatu obat dihitung dari konsentrasi obat dalam cuplikan hayati yang sesuai, dapat berupa : darah, urin, air ludah, dahak, cairan lainnya yang relevan atau mengandung obat, tetapi yang paling sering adalah darah atau urin. Cuplikan urin dapat digunakan dengan baik jika obat/metabolit diekskresikan cukup banyak dalam urin dan ditampung secara sempurna sampai waktu tak terhingga (t). Cuplikan darah sangat relevan, karena semua proses obat dalam tubuh melibatkan darah sebagai media, suatu alat ukur dari organ satu ke organ lain seperti absorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi. Oleh karena itu, agar nilai nilai parameter obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi kriteria, yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi dan akurasi. Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting hal mana nilainya tergantung dari alat ukur yang dipakai. Perolehan Kembali Perolehan kembali (recovery) adalah suatu tolak ukur efisiensi analisis dan dapat bernilai positive dan negative. Dirumuskan sebagai berikut : Perolehan kembali = kadar terukur x 100%

Kadar diketahui Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75 90%) atau lebih. Akurat Akurat atau tepat adalah bahwa hasil yang diperoleh adalah mendekati nilai yang sebenarnya. Misal dalam pengukuran sampel diperoleh nilai 100 ppm (kadar terukur), dan memang diketahui kadar sampel tersebut adalah 100 ppm (kadar sebenarnya). Akurat jika kadar terukur = kadar sebenarnya. Kesalahan sistematik merupakan tolak ukur inakurasi penetapan kadar. Kesalahan ini dapat berupa kesalahan konstan atau proposional. Rumus dari kesalahan sistematik adalah: Kesalahan sistematik = 100 P%

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak kurang dari 10%. Presisi Presisi/teliti adalah dalam tiap kali replikasi pengukuran diperoleh hasil yang sama atau mendekati. Misalnya dilakukan replikasi penetapan kadar sampel x, diperoleh seperti pada tabel berikut : Hasil 1 80 ppm 2 82 ppm 3 83 ppm Hasil pengukuran sampel dengan tiga replikasi didapatkan hasil yang mendekati, maka metode tersebut adalah teliti. Kesalahan acak (random analytical error) merupakan tolak ukur imprecision suatu analisis, dan dapat bersifat positive /negative. Kesalah acak identik dengan variabilitas pengukuran dan dicerminkan oleh tetapan variasi. Rumus dari kesalahan acak adalah : Kesalahan acak = simpangan baku x 100 % Harga rata rata Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut kesalahan acak kurang dari 10%. Sensitive Sensitive/peka adalah bahwa metode tersebut dapat/ mampu mengukur analit dalam kadar yang sangat kecil sekalipun. Selektif Bahwa metode tersebut selektif terhadap senyawa tertentu saja artinya metode terebut selektif menguukur kadar senyawa yang diinginkan dengan baik tanpa terganggu oleh senyawa pengotor yang lain. PEMBAHASAN Pada praktikum ini pertama tama dibuat kurva baku dari asam salisilat untuk mencari nilai a dan b dalam persamaan kurva baku y = a + bx. Kemudian dilakukan penetapan kadar asam salisilat. Sampel yang berupa darah ditambahkan Na2EDTA dengan tujuan untuk koagulasi darah agar tidak mengental. Kemudian sampel tersebut ditambahkan TCA 10% sebanyak 2 ml yang Percobaan

dihomogenkan. TCA 10% digunakan untuk deproteinisasi pada sampel darah. Apabila protein pada sampel tidak dihilangkan maka akan mengganggu absorbsi. Setelah itu, sampel disentrifuge 3000rpm selama 15 menit. Dalam praktikum ini, sentrifuge dilakukan sabanyak dua kali karena filtrat belum bening pada sentrifuge pertama. Sampel dipindahkan ketabung lain (filtrat atas atas saja) lalu ditambahkan TCA 10% 1 ml dan sentrifuge kembali. Setelah didapat filtrat bening, samel dibaca absorbansinya dengan = 256 nm menggunakan spektrofotometer uv-vis. Setelah itu, didapat kadar dan dapat dihitung recovery, kesalahan acak, dan kesalahan sistemik. Dari hasil analisis yang didapat, racovery pada sampel melebihi persyaratannya 90% 110%. Ini menunjukkan bahwa data tidak valid sehingga tidak dapat digunakan sebagai kinetika obat. Data recovery tersebut disimpulkan tidak efisien. Selanjutnya pada perhitungan kesalahan acak pada sampel 1,3, dan 6 hasilya melampaui dari 10% sedangkan pada sampel 2,4, dan 5 hasilnya kurang dari 10%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa data sampel 1,3, dan 6 tidak efisien sedangkan sampel 2,4, dan 5 teliti dan efisien. Perhitungan yang terakhir adalah kesalahan sistemik. Hasil yang didapat dari penelitian ini yaitu mee\lebihi persyaratan kesalahan sistemik 10%. Data ini dinyatakan tidak akurat dan tidak efisien. Dari ketiga perhitungan ini, data data yang diperoleh sebagian besar tidak valid. Hal ini disebsbkan beberapa faktor, antara lain : kesalahan pada waktu pembuatan larutan, kesalahan pada alat/instrumen yang digunakan, dan kesalahan pada praktikan sendiri. Dimana kurang teliti dalam menganalisis data yang diperoleh. Oleh sebab itu, diperlukan ketelitian dalam menggunakan alat dan mengamati data yang diperoleh selama percobaan berlangsung.

VIII. KESIMPULAN No Kadar sebenarnya 1 2 3 4 5 150 150 150 150 150 195,36 193,19 193,21 206,44 211,6 130,24% 128,793% 128,81% 137,627% 141,067% Kadar terukur recovery Kesalahan sistemik 30,24% 28,793% 28,81% 37,627% 41,067% 10,57% 7,71% 10,96% 0,55% 2,47 Kesalahan acak

150

175,47

116,98%

16,98%

15,15%

Jadi dapat disimpulkan bahwa metode analisa ini tidak dapat digunakan untuk menentukan kadar asam salisilat dalam plasma darah karena hasilnya tidak efisien, tidak tepat, dan tidak teliti.

Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva, atau cairan tubuh lainnya). Dalam praktikum kali ini dilakukan penentuan jangka waktu larutan obat yang member respon tetap (khususnya untuk reaksi warna), pembuatan kurva baku, perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak, dan kesalahan sistemik. Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai criteria yaitu meliputi perolehan kembali, presisi, dan akurasisi. Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memperoleh nilai perolehan kembali yang tinggi (75% - 90% atau lebih), kesalahan acak dan kesalahan sistemik kurang dari 10%. Kepekaan dan selektivitas merupakan criteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula dari alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu dikerjakan untuk optimalisasi analisis meliputi :

a. Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan respon tetap (khususnya untuk reaksi warna) b. Penetapan panjang gelombang larutan obat yang member respon maksimum c. Pembuatan kurva baku d. Perhitungan nilai perolehan kembali, dengan rumus :

Perolehan kembali = kadar obat terukur x 100% kadar diketahui Faktor-faktor penentu dalam proses farmakokinetika adalah : a. Sistem kompartemen dalam cairan tubuh, seperti cairan intrasel, ekstrasel (plasma darah, cairan interstitial, cairan cerebrospinal), dan berbagai fasa lipofil dalam tubuh. b. Protein plasma, protein jaringan dan berbagai senyawa biologis yang mungkin dapat mengikat obat.

c. Distribusi obat dalam berbagai system kompartemen biologis, terutama hubungan waktu dan kadar obat dalam berbagai system tersebut, yang sangat menentukan kinetika obat. d. Dosis sediaan obat, transport antar kompartemen seperti proses absorpsi, bioaktivasi, biodegradasi dan ekskresi yang menentukan lama obat dalam tubuh.
Karena konsentrasi obat adalah elemen penting untuk menentukan farmakokinetika suatu individu maupun populasi konsentrasi obat diukur dalam sampel biologis seperti air susu, saliva, plasma, dan urine. Sensitivitas, akurasi, presisi dari metode analisis harus ada untuk pengukuran secara langsung obat dalam matriks biologis. Untuk itu metode penetapan kadar secara umum perlu divalidasi sehingga informasi yang akurat didapatkan untuk monitoring farmakokinetik dan klinik. Dalam sebuah analisis obat dalam cairan hayati, ada hal-hal penting dalam farmakokinetika yang digunakan sebagai parameter-parameter antara lain yaitu :

a. Tetapan (laju) invasi (tetapan absorpsi). b. Volume distribusi menghubungkan jumlah obat di dalam tubuh dengan konsentrasi obat (c) di dalam darah atau plasma. c. Ikatan protein d. Laju eliminasi dan waktu paruh (t) e. Bersihan (clearance) renal, ekstra renal, dan total f. Luas daerah di bawah kurva (AUC) g. Ketersediaan hayati

TUJUAN PERCOBAAN - Mempelajari langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati - Memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati - Memvalidasi prosedur analisis obat dalam cairan hayati II. DASAR TEORI Efek terapi suatu obat biasanya baru terlihat sesudah zat aktifnya melalui sistem pembuluh aorta lalu masuk ke hati dan kembali masuk ke peredaran darah dan didistribusikan ke seluruh jaringan badan. Ketersediaan hayati suatu obat dapat diukur pada keadaan pasien yang bersangkutan (secara in vivo) dengan menentukan kadar dalam plasma darah setelah mencapai keseimbangan antara serum cairan tubuh (kedaan tunak). Ada korelasi yang baik antara kadar obat dalam plasma dengan efek terapi.

1. 2. 3. 4.

Ketersediaan hayati digunakan untuk member gambaran mengenai keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari bentuk sediaan dan digambarkan dengan kurva kadarwaktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan biologic atau larutan sperti darah dan urine. Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan: Jumlah atau bagian obat yang diabsorbsi dari bentuk sediaan. Kecepatan obat diabsorbsi. Masa kerja obat berada di dalam cairan biologik atau jaringan, bila dihubungkan dengan respon pasien. Hubungan antara kadar obat dalam darah dengan efektivitas terapi/efek toksik. Penentuan ketersediaan hayati kebanyakan hanya untuk bentuk sediaan obat seperti tablet dan kapsul yang digunakan peroral untuk memperoleh efek sistematik. Hal ini bukan berarti ketersediaan hayati tidak ada dalam bentuk sediaan obat yang lain selain bentuk padat/penggunaan bentuk obat melalui rute lain selain melalui mulut (Anief, 1995). Pengetahuan tentang konsentrasi obat dalam serum dapat menjelaskan mengapa seorang penderita tidak memberikan reaksi terhadap terapi obat, atau mengapa penderita mengalami suatu efek yang idak diinginkan. Sebagai tambahan, praktisi mungkin ingin menjelaskan ketelitian dari aturan dosis. Pada pengukuran konsentrasi obat dalam serum, suatu konsentrasi tunggal dari obat dalam serum dapat tidak menghasilkan informasi yang berguna kecuali jika faktorfaktor lain dipertimbangkan, sebagai contoh, aturan dosis obat yang meliputi besaran dan jarak pemberian dosis, rute pemberian obat, serta waktu pengambilan cuplikan (puncak, palung, atau keadaan tunak) hendaknya diketahui. Mengkin ada ketervatasan dalam hal jumlah cuplikan darah yang dapat diambil, keseluruhan volume darah yang diperlukan untuk penetapan kadar, dan waktu untuk melakukan analisis obat, pengukuran konsentrasi serum hendaknya juga mempertimbangkan biaya penetapan kadar, resiko, dan ketidaksenangan penderita, dan kegunaan informasi yang diperoleh. Metode analisis yang digunakan untuk penetapan kadar obat dalam serum hendaknya telah sahih, berkenaan dengan hal-hal berikut seperti spesifitas, linieritas, kepekaan, ketepatan, ketelitian, dan stabilitas (Sahrgel, 1985). Untuk menganalisis darah total, komponen sel darah harus dilisis demikian sehingga kandungannya bercampur merata dengan sonikator atau ditentukan dalam jangka waktu tertentu lalu disonikasi. Plasma berbeda dengan serum, serum adalah plasma yang fibrinogennya telah dihilangkan dengan proses penjendalan, sedangkan plasma diperoleh dengan menambahkan suatu pencegah penjendalan ke dalam darah. Bila

darah tidak diberi antikoagulan terjadilah penjendalan dan bila contoh seperti dipusingkan maka beningannya adalah serum (James, 1991). Penilaian ketersediaan hayati dapat dilakukan dengan metode menggunakan data darah, data urin, dan data farmakologis atau klinis, namun lazimnya dipergunakan data darah atau data urin untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiatnya telah diketahui cara dan validitasinya. Jika cara dan validitas belum diketahui, dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul dapat diukur secara kuantitatif. Parameter-parameter yang berguna dalam penentuan ketersediaan hayati suatu obat meliputi data plasma, data urin, efek farmakologi akut, respon klinik. Ketersediaan hayati dilakukan baik terhadap bahan aktif yang telah disetujui maupun obat dengan efek terapeutik yang belum disetujui oleh FDA untuk dipasarkan. Setelah ketersediaan hayati dan parameter-parameter farmakokinetika dari bahan aktif diketahui aturan dosis dapat diajukan untuk mendukung pemberian label obat (Syukri, 2002).

PEMBAHASAN Pada percobaan ini bertujuan untuk mempelajari dan memahami langkah-langkah analisis obat dalam cairan hayati serta memvalidasi prosedur analisis obat dalam cairan hayati. Metode validasi ini menggunakan metode Bratton-Marshall yang berdasarkan pembacaan serapan, melalui warna tampak pada spektrofotometri visible. Hal ini dikarenakan terjadinya reaksi antara asam salisilat dengan FeNO3 yang membentuk kompleks warna. Metode yang digunakan adalah dengan spektrofotometer visible, karena gugus kromofor dan pembentuk kompleks warna yang dapat menyerap sinar tampak. Pada pembuatan larutan stok Na Salisilat, konsentrasinya adalah 100 g/%, maka pembuatannya dapat dilakukan dengan melarutkan 100 mg Na Salisilat dalam aquadest ad 100 mL. Pada proses sentrifuge, tujuannya adalah agar partikel lain mengendap sehingga tidak menganggu pembacaan absorbansi. Penentuan operating time digunakan untuk mengetahui kapan waktu pembacaan yang dapat menghasilkan absorbansi maksimum yang menunjukkan reaksi sempurna. Penetapan maksimum untuk memperoleh yang memberikan serapan maksimal dalam rentan 500 - 580 nm. Sedangkan pembuatan kurva baku serapan vs kadar untuk perhitungan kadar dengan persamaan y = bx + a. Kurva baku yang baik jika nilai r-nya mendekati 1. Parameter-parameter validasinya adalah akurasi yang dapat diperoleh dari perolehan kembali dan presisi yang ditentukan dari nilai CV. Metode spektrofotometri visible divalidasi agar hasil analisis yang diperoleh sesuai dengan ketentuan yang ada. Parameter yang dilakukan pada metode ini adalah presisi dan

akurasi. Dimana akurasi merupakan ketelitian metode analisis atau kedekatan antara nilai terukur dengan nilai yang diterima baik nilai konvensi, nilai sebenarnya, atau nilai rujukan. Sedangkan presisi merupakan ukuran keterulangan metode analisis dan biasanya diekspresikan sebagai simpangan baku relative dari sejumlah sampel yang berbeda signifikan secara statistic. Presisi sering diekspresikan dengan SD atau standar deviasi relatif dari serangkaian data. Nilai RSD umumnya akan memenuhi criteria jika nilainya 1 2 %, digunakan untuk senyawa-senyawa aktif dalam jumlah yang banyak, sedangkan untuk senyawa-senyawa dengan kadar sekelumit, RSD berkisar 5 15 %. Syarat keberterimaan akurasi dilihat dari perolehan kembali (recovery) adalah 80 120 %. Berdasarkan percobaan diperoleh nilai bahwa nilai perolehan kembalinya adalah 95,6 %, 111,2 %, 23,04 %. Hasil perolehan kembali ada di kisaran range sehingga hasil validasi metode penetapan kadar Na Salisilat valid. Dan didapat nilai CV 116,67 %. IX. KESIMPULAN 1. Menggunakan metode spektrofotometer visible, karena gugus kromofor dan pembentuk kompleks warna yang dapat menyerap sinar tampak. 2. Berdasarkan percobaan diperoleh nilai bahwa nilai perolehan kembalinya adalah 95,6 %, 111,2 %, 23,04 %. Hasil perolehan kembali ada di kisaran range sehingga hasil validasi metode penetapan kadar Na Salisilat valid. Dan didapat nilai CV 116,67 %.

X. DAFTAR PUSTAKA Anief, Moh. 1995. Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan. UGM. Yogyakarta Munson James, W. 1991. Analisis Farmasi. Airlangga University Press. Surabaya Shargel. 1985. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Airlangga University Press. Surabaya Syujri, Y. 2002. Biofarmasetika. UII Press. Yogyakarta

Tujuan 1. Dapat memahami langkah-langkah analisa parasetamol dalam cairan hayati. 2. Dapat melakukan analisa parasetamol dalam cairan hayati. B. Dasar Teori Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan / atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva atau cairan tubuh lainnya). Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai kriteria yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi dan akurasi.

Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan sistematik kurang dari 10% (Pasha dkk, 1986). Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula dari alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu dikerjakan untuk optimalisasi analisis meliputi: 1. Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap (khusus untuk reaksi warna). 2. Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan resapan maksimum (parasetamol). 3. Pembuatan kurva baku (parasetamol). 4. Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistematik. Parasetamol Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik danantipiretik yang populer dan digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, dan demam. Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi. Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin danibuprofen, parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arteriosus pada janin. N-acetyl-para-aminofenol (parasetamol):

Farmakokinetika Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25% parasetamol terikat protein plasma, dan dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati. Sebagian asetaminofen 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. Selain itu dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Obat ini

diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi.

Pembahasan Pada praktikum kali ini, kami melakukan uji analisis parasetamol dalam cairan hayati. Menggunakan larutan parasetamol dengan konsentrasi larutan induk 0,5 mg/ml dan 1 mg/ml. Dan dibuat pula satu seri konsentrasi larutan parasetamol dalam darah 50, 100, 150, 200 ppm dari konsentrasi larutan induk 0,5 mg/ml dan 300, 400 ppm dari konsentrasi larutan induk 1 mg/ml. Konsentrasi yang telah dibuat dicampur dengan 1 ml darah dan divortex agar dapat bercampur secara merata dan terbentuk ikatan antara obat dengan protein plasma. Kemudian diambil 0,1 ml dari tiap-tiap kadar dan diencerkan dengan 0,9 ml air. Pengenceran ini diasumsikan sebagai pengenceran yang terjadi karena proses masuknya makanan dan minuman ke dalam tubuh. Setelah pengenceran, perlu ditambahkan dengan antikoagulan, yaitu TCA. Kemudian dilakukan proses sentrifugasi. TCA berfungsi untuk mengendapkan protein dalam plasma darah, sehingga yang tersisa dibagian atas atau yang dikenal dengan supernatan hanyalah ikat obat dengan plasma. Supernatan yang diperoleh dari hasil proses sentrifus dipindahkan ke dalam tabung reaksi dan ditambahkan dengan HCl 6N sebanyak 0,5 ml dan NaNO2 10% sebanyak 1 ml. Kemudian didiamkan selama 5 menit dan setelah itu ditambahkan NaOH 10% sebanyak 2,5 ml, lalu didiamkan selama 3 menit. Penambahan NaOH bertujuan untuk penetralan. Reaksi yang terjadi adalah: HCl (aq) + NaNO2 (aq) HNO2 (aq) + NaCl (aq) 2 HNO2 (aq) 2 H+ (aq) + 2 NO2 (g) Reaksi penetralan: 2 H+ (aq) + NaOH (aq) Na+ (aq) + H2O (l) Setelah perlakuan di atas, sampel diambil untuk diukur serapannya pada spektrofotometer dengan panjang gelombang maksimum 435 nm. Pada grafik yang diperoleh, dapat dilihat bahwa kurva terus menaik hingga konsentrasi 200 ppm, tetapi pada konsentrasi 300 dan 400 ppm kurvanya menurun kembali, sehingga data ini dihilangkan. Hasil yang kami dapatkan adalah terjadi penurunan absorbansi pada konsentrasi 300 dan 400 ppm, yang seharusnya linear (semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula absorbansinya/sebanding).Hal ini kemungkinan dikarenakan konsentrasi larutan induk yang berbeda (0,5 dan 1 mg/ml). Sedangkan regresi yang kami dapatkan adalah: r = 0,827751; a = 3,568 x 10-2; dan b = 4,0634 x 10-4. Tetapi, apabila data yang ke-6 dan ke-7 dihilangkan lalu

dicari regresinya kembali, maka nilai regresinya menjadi a= -6,76 x 10-3; b= 9,31 x 10-4; dan r= 0,99344. Dilihat dari kelinearannya dan nilai kepercayaan yang besar, maka kami menggunakan nilai regresi ini dalam perhitungan selanjutnya. Dari hasil perhitungan yang diperoleh, didapatkan bahwa konsentrasi yang terukur mendekati konsentrasi yang diketahui, sehingga didapatkan % perolehan kembali/recovery yang besar (mendekati 100%). G. Kesimpulan Dari berbagai hasil yang kami dapatkan, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: Langkah-langkah analisis parasetamol dalam cairan hayati: 1. Dibuat satu seri larutan parasetamol dalam darah yang di vortex, setelah itu dilakukan pengenceran sekaligus ditambahkan TCA. Kemudian di sentrifus. 2. Supernatan diambil dan ditambahkan HCl dan NaNO2, didiamkan 5 menit. Baru kemudian ditambahkan NaOH. 3. Diukur serapannya pada spektrofotometer. 4. Dihitung konsentrasi terukur sesuai dengan absorbansi dan dihitung pula nilai perolehan kembali, kesalahan sistematika, dan kesalahan acaknya.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen FKUI. 1995. Farmakologi dan Terapi edisi IV. Jakarta: Gaya Baru. Walpole, R.E. Pengantar Statistika. Azrifitria, dkk. 2007. Modul Praktikum Biofarmasetika dan Farmakokinetika. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

A.

Parasetamol

Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik yang populer dan digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, dan demam. Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Ia aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi. Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam obat jenis NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atauduktus arteriosus pada janin. Farmakokinetik Parasetamol yang diberikan secara oral diserap secara cepat dan mencapai kadar serum puncak dalam waktu 30 120 menit. Adanya makanan dalam lambung akan sedikit memperlambat penyerapan sediaan parasetamol lepas lambat. Parasetamol terdistribusi dengan cepat pada hampir seluruh jaringan tubuh. Lebih kurang 25% parasetamol dalam darah terikat pada protein plasma. Waktu paruh parasetamol adalah antara 1 3 jam. Parasetamol diekskresikan melalui urine sebagai metabolitnya, yaitu asetaminofen glukoronid, asetaminofen sulfat, merkaptat dan bentuk yang tidak berubah. Sebagian asetaminofen 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat. Selain itu dapat mengalami hidroksilasi. Metabolit hasil hidroksilasi ini dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis eritrosit. Obat ini diekskresi melalui ginjal, sebagian kecil sebagai parasetamol (3%) dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi. B. Analisis Parasetamol Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan / atau metabolitnya di dalam cairan hayati (darah, urin, saliva atau cairan tubuh lainnya). Oleh karena itu agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai kriteria yaitu meliputi perolehan kembali (recovery), presisi dan akurasi. Persyaratan yang dituntut bagi suatu metode analisa adalah jika metode tersebut dapat memberikan nilai perolehan kembali yang tinggi (75-90% atau lebih), kesalahan acak dan sistematik kurang dari 10%. Kepekaan dan selektivitas merupakan kriteria lain yang penting dan nilainya tergantung pula dari alat pengukur yang dipakai. Dalam percobaan ini akan dilakukan langkah-langkah yang perlu dikerjakan untuk optimalisasi analisis meliputi:

1. Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap (khusus untuk reaksi warna). 2. Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan resapan maksimum (parasetamol). 3. Pembuatan kurva baku (parasetamol). 4. Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistematik. Ketersediaan hayati merupakan kecepatan dan jumlah obat yang mencapai sirkulasi sistemik dan secara keseluruhan menunjukkan kinetic dan perbandingan zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang diberikan. Ketersediaan hayati obat yang diformulasi menjadi sediaan farmasi merupakan bagian dari salah satu tujuan rancangan bentuk sediaan dan yang terpenting untuk keefektifan obat tersebut. Pegkajian terhadap ketersediaan hayati ini tergantung pada absorpsi obat ke dalam sirkulasi umum serta pengukuran dari obat yang terabsorpsi tersebut. Dalam menaksir ketersediaan hayati ada tiga parameter yang biasanya diukur yang an profil konsentrasi dalam darah dan waktu dari obat yang diberikan. Konsentrasi puncak (Cmax), menggambarkan konsentrasi obat tertinggi dalam sirkulasi sistemik. Konsentrasi ini tergantung pada konstanta absorbsi, dosis, volume distribusi dan waktu pencapaian konsentrasi obat maksimum dalam darah. Konsentrasi puncak sering kali dikaitkan dengan intensitas respon biologis dan harus di atas MEC dan tidak melebihi MTC. Waktu untuk konsentrasi puncak (tmax) menggambarkan lamanya waktu tersedia untuk mencapai konsentrasi puncak dari obat sirkulasi sistemik. Parameter ini tergantung pada konstanta absorbs yang menggambarkan permulaan dari level puncak dari respon biologis dan bias digunakan sebagai perkiraan kasar untuk laju absorbsi. Luas daerah di bawah kurva (AUC), merupakan total area di bawah kurva konsentrasi vs waktu yang menggambarkan perkiraan jumlah obat yang berada dalam sirkulasi sistemik. Bila membandingkan suatu formulasi untuk acuan, parameter ini menggambarkan jumlah ketersediaan hayati dan biasa digunakan sebagai perkiraan kasar jumlah obat diabsorbsi. Ketersediaan hayati merupakan suatu penerapan baru yang kegunaannya tidak perlu diragukan lagi. Penerapan ketersediaan hayati berkembang dalam dua arah, yaitu: 1. Farmasi klinik yang berkaitan dengan rasionalisasi keadaan individu penderita, artinya penyesuaian pasologi yang tepat pada setiap penderita, dengan mempertimbangkan perubahan farmakokinetika in vivo, baik karena interaksi obat maupun karena fungsi fisiolagi. 2. Farmasetika yang berkaitan dengan rasionalisasi pengembangan suatu obat, yaitu penyesuaian optimal jalur pemberian obat dan bentuk sediaan terhadap karakteristik farmakokinetika zat aktif. Kedua arah pengembangan tersebut tercakup dalam lingkup penelitian biofarmasetika dan berkaitan dengan penyesuaian pada kurva profil kadar zat aktif dalam darah penderita dan efek yang diteliti. Data ketersediaan hayati digunakan untuk menentukan: 1. 2. Banyaknya obat yang diabsorbsi dari formulasi sediaan. Kecapatan obat yang diabsorbsi.

3. 4.

Lama obat berada dalam cairan biologi atau jaringan dan dikorelasikan dengan respon Hubungan antara kadar obat dalam darah dan efikasi klinis serta toksisitas.

pasien. Metode penilaian ketersediaan hayati. Penelitian ketersediaan hayati pada sukarelawan dapat dilakukan dengan beberapa metode: a. b. c. d. Metode dengan menggunakan data darah Data urin Data efek farmakologis Data respon klinis

Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis untuk penetapan kadar obat dan sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim digunakan untuk menilai ketersediaan hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiat telah diketahui cara dann validitasnya. Jika cara dan validitasnya belum diketahui dapat digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul dapat diukur secara kuantitatif, seperti efek pada kecepata denyut jantung atau tekanan darah yang dapat digunakan sebagai indeks ketersediaan hayati obat. Untuk evaluasi ketersediaan hayati menggunakan data respon klinis dapat mengalami perbedaan antar individu akibat farkokinetika dan farmakodinamik obat yang berbeda. Factor farmakodinamik yang berpengaruh meliputi: umur, toleransi obat, interaksi obat dan factor-faktor patofisiologik yang tidak diketahui. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan hayati oabat yang digunakan secara oral: 1) a. Sifat fisikokimia zat aktif. Bentuk isomer; alkaloid-alkaloid dan steroid-steroid terdapat dalam bentuk isomer, seperti

misalnya isomer d atau l. seringkali yang aktif atau diaktif hanya salah satu saja, misalnya detambutol, d-propoksipen, d-amfetamin, l-kloramfenikol. b. Polimorfisme; bentuk kristal yang kurang stabil lebih mudah larut dan kemudian cepat terabsorbsi daripada bentuk kristalnya yang stabil, misak kloramfenikol mempunyai 2 bentuk polimorf A dan B; kristal bentuk A bersifat tidak aktif. c. d. Ukuran partikel; bila ukuran partikel lebih kecil maka luas permukaan akan besar sehingga Hidrat dan solvate; kadang kadang beberapa bahan obat cenderung untuk mengikat obat obat akan cepat melarut dan diabsorbsi. beberapa molekul pelarut. Ikatan ini disebut solvate, dan kalau pelarutnya adalah air maka ikatan ini disebut hidrat. Ampisilin anhidrat lebih mudah larut dibandingkan ampisilin trihidrat, sehingga pemakaian peroral akan memberiakan blood level yang tinggi. e. Bentuk garam, ester dan lainnya; gugusan estolat dari eritromisin estolat dapat menyebabkan hepatotoksisitas, sedangkan stearatnya tidak. Tapi sifat fisik eritromisin mempersulit pengisian dalam jumlah yang cukup ke dalam kapsul yang berukuran wajar. Pemadatan yang tidak tepat atas bahan baku ini sebaliknya dapat menimbulkan persoalan disolusi dan ketersediaan hayati. f. Kemurnian; bahan baku penisilin yang tidak murni bias mengandung mikrokontaminan berupa hasil degradasi penisilin sendiri bahkan inferior ini yang dapat menyebabkan alergi. Namun meskipun telah menggunakan bahan bahan baku murni jika cara dan kondisi produksi dalam hal

ini kebersihan,temperature, dan kelembapan kurang baik, bahan penisilin akan menimbulkan efek samping yang sama. Bahan bahan pembantu; banyak obat obatan dimana pengaruh bahan bahan pembantu dapat merubah secara drastic pola absorbsinya dan oleh karena itu efek terapi dan toksisitasnya juga berpengaruh, seperti meningkatnya toksisitas fenitoin setelah bahan pembantu yang semula dipakai CaSO4 diganti dengan laktosa. 2) a. Cara cara prosesing Formulasi obat yang sudah baik dalam suatu pabrik bisa sama sekali berubah bila dibuat oleh

pabrik lain dengan menggunakan alat alat yang berbeda. Hal ini menjadi masalah kritis apabila digunakan untuk memproduksi tablet tablet dengan kadar zat khasiat yang rendah seperti digoksin 0,25 mg/tablet 200 mg. b. Ruangan dan kondisi kondisinya ( temperature, kelembaban, penerangan, dan sebagainya ) yang memenuhi syarat. Misalnya pada pembuatan sediaan tetrasiklin yang merupakan bahan baku yang kurang stabil pada kondisi tertentu sehingga dapat mengakibatkan penguraian tetrasiklin menjadi nonaktif, hepatotoksik, dan nefrotoksik. c. d. Tenaga tenaga yang kompeten. Dikerjakan dengan system produksi dan system control yang baik. Dalam hal ini persyaratan

persyaratan Good Manufacturing Practices ( GMP ) menjadi penting.

Pembahasan Pada praktikum kali ini, kami melakukan uji analisis parasetamol dalam urin. Sebelum meminum paracetamol probandus berpuasa selama 6 jam. Hal ini dilakukan agar parasetamol yang diberikan secara oral diserap secara cepat dan mencapai kadar serum puncak, adanya makanan dalam lambung akan sedikit memperlambat penyerapan sediaan parasetamol lepas lambat.Menggunakan larutan parasetamol dengan konsentrasi larutan induk 0,01 mg/ml. Konsentrasi yang telah dibuat diukur serapannya menggunakan spektrofotometer. Setelah perlakuan di atas, sampel diambil untuk diukur serapannya pada spektrofotometer dengan panjang gelombang maksimum 252 nm. Hasil nilai serapan tersebut dimasukkan dalam rumus regresi linear y = bx + a , dimana y adalah nilai serapan dan nilai x yang diperoleh adalah konsentrasi paracetamol dalam urin (mg/mL). Dari nilai x tersebut ditentukan nilai Ln(Du-Dukum) kemudian dimasukkan dalam grafik regresi linear antara waktu dan Ln(Du-Dukum). Dari hasil perhitungan regresi yang diperoleh, didapatkan nilai b = -0,60961 untuk dihitung nilai t1/2 dan diperoleh sebesar 1,1368 jam. Hasil tersebut memenuhi syarat t1/2 untuk paracetamol yaitu 1-3 jam. Waktu paruh sangat penting untuk menentukan interval dosis BAB V KESIMPULAN

1. 2. 3.

Konstanta eliminasi menunjukkan kecepatan eliminasi obat dalam tubuh. Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengeliminasi obat dari tubuh. Waktu paruh dan kecepatan eliminasi dapat ditentukan dengan mengetahui konsentrasi

obat dalam urin (cairan biologis)

DAFTAR PUSTAKA Rustiani, E., Rokhmah, NN., Fatmi, M., 2011. Penuntun Praktikum Farmakokinetik. Bogor: Universitas Pakuan Isselbacher, dkk., Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: penerbit Buku Kedokteran. Shargel Leon, Yu Andrew B.C. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetik Edisi ke-2. Airlangga University Press.

Tujuan Mahasiswa mampu menentukan kadar parasetamol dalam darah dengan Spektrofotometri dan HPLC. Dasar Teori Untuk memberikan efek biologis, obat dalam bentuk aktifnya harus berinteraksi dengan reseptor atau tempat aksi atau sel target, dengan kadar yang cukup tinggi. Sebelum mencapai reseptor, obat terlebih dahulu harus melalui proses farmakokinetik. Fasa farmakokinetik meliputi proses fasa II dan fasa III. Fasa II adalah proses absorpsi molekul obat yang menghasilkan ketersediaan biologis obat, yaitu senyawa aktif dalam cairan darah yang akan didistribusikan kejaringan atau organ tubuh. Fasa III adalah fasa yang melibatkan proses distribusi, metabolisme dan ekskresi obat, yang menentukan kadar senyawa aktif pada kompartemen tempat reseptor berada. Faktor faktor penentu dalam proses farmakokinetik adalah : 1. Sistem kompartemen dalam cairan tubuh, seperti : cairan intrasel, ekstrasel (plasma darah, cairan interstitial, cairan cerebrospinal) dan berbagai fasa lipofil dalam tubuh. 2. Protein plasma, protein jaringan dan berbagai senyawa biologis yang mungkin dapat mengikat obat. 3. Distribusi obat dalam berbagai sistem kompartemen biologis, terutama hubungan waktu dan kadar obat dalam berbagai sistem tersebut, yang sangat menentukan kinetika obat. 4. Dosis sediaan obat, transport antar kompartemen seperti proses absorpsi, bioaktivasi, biodegradasi dan ekskresi yang menentukan lama obat dalam tubuh (Siswandono, 1998). Karena konsentrasi obat adalah elemen penting untuk menentukan farmakokinetika suatu individu maupun populasi, konsentrasi obat diukur dalam sample biologi seperti air susu, saliva, plasma dan urine. Sensitivitas, akurasi, dan presisi dari metode analisis harus ada untuk pengukuran secara langsung obat dalam matriks biologis. Untuk itu metode penetapan kadar secara umum perlu divalidasi sehingga informasi yang akurat didapatkan untuk monitoring farmakokinetik dan klinik (Shargel, 1999). Pengukuran konsentrasi obat di darah, serum, atau plasma adalah pendekatan secara langsung yang

paling baik untuk menilai farmakokinetik obat di tubuh. Darah mengandung elemen seluler mencakup sel darah merah, sel darah putih, keping darah, dan protein seperti albumin dan globulin. Pada umumnya serum atau plasma digunakan untuk pengukuran obat. Untuk mendapatkan serum, darah dibekukan dan serum diambil dari supernatan setelah disentrifugasi. Plasma diperoleh dari supernatan darah yang disentrifugasi dengan ditambahkan antikoagulan seperti heparin. Oleh karena itu serum dan plasma tidak sama. Plasma mengalir keseluruh jaringan tubuh termasuk semua elemen seluler dari darah. Dengan berasumsi bahwa obat di plasma dalam kesetimbangan equilibrium dengan jaringan, perubahan konsentrasi obat akan merefleksikan perubahan konsentrasi perubahan konsentrasi obat di jaringan (Shergel, 1999). Dalam sebuah analisis obat dalam cairan hayati, ada hal - hal penting dalam farmakokinetika yang digunakan sebagai parameter parameter, antara lain yaitu : Tetapan (laju) invasi atau tetapan absorpsi. Volume distribusi menghubungkan jumlah obat di dalam tubuh dengan konsentrasi obat ( C ) di dalam darah atau plasma. Ikatan protein. Laju eliminasi dan waktu paruh dalam plasma (t1/2). Bersihan (Cleareance) renal, ekstrarenal dan total. Luas di bawah kurva dalam plasma (AUC), dan Ketersediaan hayati.
Dalam sebuah analisis obat dalam cairan hayati, ada hal-hal penting dalam farmakokinetika yang digunakan sebagai parameter-parameter antara lain yaitu :

a. Tetapan (laju) invasi (tetapan absorpsi). b. Volume distribusi menghubungkan jumlah obat di dalam tubuh dengan konsentrasi obat (c) di dalam darah atau plasma. c. Ikatan protein d. Laju eliminasi dan waktu paruh (t) e. Bersihan (clearance) renal, ekstra renal, dan total f. Luas daerah di bawah kurva (AUC) g. Ketersediaan hayati

Dalam penetapan kadar obat dalam darah (cairan tubuh), metode yang digunakan harus tepat, dan dalam pengerjaannya diperlukan suatu ketelitian yang cukup tinggi agar diperoleh hasil yang akurat. Sehingga nantinya dapat menghindari kesalahan yang fatal. Dalam analisis ini, kesalahan hasil tidak boleh lebih dari 10% (tergantung pula alat apa yang digunakan dalam analisis) (Ritschel, 1976). Cepat, simpel, dan sensitive telah membuat spektrofotometer UV-VIS menjadi suatu metode analisis

farmasetika yang sangat popular untuk pengukuran secara kuantitatif obat dan metabolit dalam sampel biologi. Salah satu alasan penting atas g/ml.kepopulerannya karena sensitivitas dari metode ini 1-10 Identifikasi kualitatif dari obat atau metabolit menggunakan spektrofotometri UV-VIS berdasarkan pada panjang gelombang maksimum yang max). Perhitungan konsentrasi obat atau metabolitdiabsorpsi ( max. Pada absorpsi yang maksimum,menggunakan hukum Beer pada sensitivitas optimum akan didapat. Karena perubahan absorbansi minimal untuk sedikit perubahan panjang gelombang, error diminimalkan. Hasilnya akurasi dan presisi yang baik didapatkan (Smith,1981). HPLC merupakan istilah yang dipakai di dunia internal yang mengandung dualisme pengertian, yaitu High Performance Liquid Chromatography atau High Pressure Liquid Chromatography. Jika ditinjau dari sistem peralatannya, maka HPLC termasuk kromatorafi kolom karena dipakai fase diamnya yang diisikan atau terpacking di dalam kolom. Tetapi, bila ditinjau dari proses pemisahannya, HPLC dapat digolongkan sebagai kromatografi adsorbsi atau partisi, tergantung daripada butiran-butiran adsorben yang ada pada kolom (Roth, 1994). HPLC telah berkembang ke arah yang lebih luas, yaitu proses pemisahan berdasarkan aktifitas, filtrasi gel, dan ion yang berpasangan, akan tetapi proses pemisahannya tetap dilaksanakan di dalam kolom isertai pemakaian pelarut pengimbangan dengan tekanan tinggi (Khopkar, 2002). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam analisis dengan HPLC : Dipilih pelarut pengimbang atau pelarut pengembang campur yang sesuai untuk komponen yang dipisah Berkaitan dengan pemilihan pelarut pengembang (solvent) maka kolom yang dipake juga harus diperhatian Detektor yang memadai Pengetahuan dasar HPLC yang baik serta pengalaman dan keterampilan kerja yang baik (Roth, 1994). Berdasarkan sistem peralatannya maka HPLC termasuk kromatografi kolom karena dipakai pada fase diam yang terpacking di dalam kolom, sedangkan berdasarkan proses pemisahannya HPLC digolongkan sebagai kromatografi adsorpsi dan kromatografi partisi. Prinsip kromatopgrafi partisi didasarkan pada partisi linarut antara dua pelarut yang tidak bercampur yang ada pada fase diam dan fase gerak. Jika linarut ditambahkan ke dalam sistem yang terdiri dari dua pelarut yang tak bercampur dan keseluruhan sistem dibiarkan setimbang, linarut akan tersebar antara dua fase menurut persamaan : K = Cs Cm K adalah koefisien distribusi dan Cs dan Cm adalah konsentrasi linarut berturut-turut dalam fase diam dan fase gerak (Johnson dan Stevenson, 1978). Parasetamol atau asetaminophen, N-asetil-4Aminofeno (C8H9NO2), dengan BM 151,16 dan mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 1001,0% C8H9NO2. Pemerian hablur atau serbuk hablur berwarna putih tidak berbau dan rasa pahit. Kelarutan dalam 70 bagian air dan 7 bagian etanol (95%) P dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam larutan alkalihidroksida. Khasiat dan kegunaan yaitu analgetikum, antipiretikum (Anonim, 1995) Gambar struktur parasetamol:

Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu 1/2 jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersbar ke sluruh cairan tubuh. Dalam plasma, 25 % parasetamol terikat protein plasma. Parasetamol digunakan sebagai analgesik dan antipiretik. (Anonim,1995). Parasetamol sejumlah 10-15 gram dapat menyebabkan nekrosis hepatoseluler berat dan kadang-kadang nekrosis tubuli ginjal. Kadar dalam darah antara 4-10 jam setelah minum obat, yang mencapai 300 g/ml dapat menyebabkan kerusakan hati (Wenas, 1999). Anonim, 1995, Farmakope Indonesia, ed. IV, Departemen Kesehatan Republik Indonesia , Jakarta Ritschel, W. A, 1976, Handbook of Basic Pharmacokinetics, 1st edition, hal 78, Drug Inteligence Publication Inc. Hamillton, USA. Roth, Herman J., 1994, Analisis Farmasi, ed. II, hal 424-425, UGM Press, Yogyakarta Smith, R & Steavary, 1981, Text Book of Biopharmaceutics Analysis A Description of Methods for The Determination of Drug in Biological Fluid, hal 80, Les & Febiger, Philadelphia Siswandono, Bambang Soekardjo, 1998, Prinsip-Prinsip Rancangan Obat, hal 85, Airlangga University Press, Surabaya Shergel, L., Yu, B.C. Andrew., 1999, Applied Biopharmaceutics & Pharmacokinetics, edisi 4, hal 30-32, Appleton & Lange, USA Wenas, 1999, Kelainan Hati Akibat Obat, Buku Ajar Penyakit Dalam, jilid 1, edisi 3, 363-369, Gaya Baru, Jakarta