Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA

UJI SILMULASI MODEL IN VITRO FARMAKOKINETIK OBAT


SETELAH PEMBERIAN SECARA ORAL

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4 B
AMALIA RAHMATIKA

( 1113102000053 )

BUKHORIA SAFITRI

( 1113102000006 )

FARIS MOHAMMAD HADININGRAT

( 1113102000071 )

SAGITA PRAJA

( 1113102000031 )

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN dan ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA SYARIF HIDAYATULLAH
NOVEMBER / 2016
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nasib obat didalam tubuh dikenal dengan istilah farmakokinetika. Fase
farmakokinetik ini merupakan salah satu unsur penting yang menentukan profil
keberadaan zat aktif pada tingkat biofase dan selanjutnya menentukan aktivitas
terapetik obat. Aktivitas suatu obat dalam tubuh tergantung pada lama keberadaan dan
perubahan zat aktif dalam tubuh. Obat yang masuk kedalam tubuh melalui berbagai
cara pemberian umumnya menalami absorpsi, distribusi dan pengikatan untuk samapai
ditempat kerja dan menimbulkan efek dan juga mengalami proses metabolisme dan
ekskresi.
Farmakokinetika dapat didefenisikan sebagai setiap proses yang dilakukan
tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Dalam arti
sempit farmakokinetika khususnya mempelajari perubahanperubahan konsentrasi dari
obat dan metabolitnya di dalam darahdan jaringan sebagai fungsi dari waktu. Tubuh
kita dapat dianggap sebagai suatu ruangan besar, yang terdiri dari beberapa
kompartemen yang terpisah oleh membran-membran sel. Sedangkan proses absorpsi,
distribusi danekskresi obat dari dalam tubuh pada hakekatnya berlangsung
denganmekanisme yang sama, karena proses ini tergantung pada lintasan obatmelalui
membran tersebut ( Tjay dan Rahardja, 2002 ).
Konsep dasar dari farmakokinetika adalah salah satunya memahami parameterparameter farmakokinetika, yaitu parameter farmakokinetika primer meliputi Volume
distribusi (Vd", klirens (Cl), dan kecepatan absorbsi(ka), sekunder meliputi kecepatan
eliminasi (Ke ) dan T1/2 dan turunan meliputi AUC dan Css. Dengan konsep-konsep
tersebut dilakukan simulasi in$itro dengan menggunakan suatu model farmakokinetika
untuk mengukur parameter-parameter farmakokinetika dan lebih memahami setiap
parameternya. Setelah dibuat suatu model farmakokinetik dalam praktikum ini dapat
digunakan untuk karakteristirisasi suatu obat dengan meniru suatu perilaku dan nasib
obat dalam sistem biologis jika diberikan dengan suatu pemberian rute utama dan
bentuk dosis tertentu
2

Oleh karena itu dibuatlah suatu model farmakokinetik dalam praktikum ini
sebagai struktur hipotesis yang dapat digunakan untuk karakteristik suatu obat dengan
meniru suatu perilaku dan nasib obat dalam sistem biologik jika diberikan dengan
suatu pemberian oral dan bentuk dosis tertentu. Dengan begitu, mahasiswa dapat lebih
jelas memahami kinerja obat dalam tubuh sesuai dengan teori model farmakokinetik

1.2 Tujuan
1. Dapat menjelaskan proses farmakokinetik obat didalam tubuh setelah pemberian
secara oral dengan simulasi model invitro farmakokinetik obat.
2. Mampu memplot data kadar obat dalam fungsi waktu
3. Mampu mnenetukan berbagai parameter farmakokinetik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Umum
Pengembangan suatu produk obat tidaklah bervariasi, dimana suatu proses
penggulangan sistemik farmasetik farmasetik atau biologis secara sistematis dikacaukan
untuk mendapatkan informasi spesifik yang menyangkut efek yang satu terhadap efek
yang lainnya. Penyampaian optimal dari pusat aktif ke tempat aksi tergantung pada
pengertian dari interaksi spesifik antara variable variable formulasi dan variable
variable biologis (Lachman, 1989).
Sifat sifat fisika kimia dari obat dan bahan bahan penambah menetapkan laju
pelepasan obat dari bentuk sediaan dan transport berikutnya melewati membrane
membrane biologis, sedangkan fisiologis dan kenyataan biokimia menentukan nasibnya
dalam tubuh. Absorbs didefinisikan sebagai jumlah obat yang mencapai sirkulasi umum
dalam lambung meliputi konsumsi makanan dan lemak tinggi, minuman dingin dan
obat obat antikolinergik. Gerakan peristaltic normal dari duodenum sangat membantu
absorbs, karena gerakan ini membawa partikel partikel obat kedalam kontak yang
lebih dekat dengan mukosa sel usus (Lachman, 1989).
Biofarmasetika bertujuan untuk mengatur pelepasan obat sedemikian rupa ke
sirkulasi sistemik agar diperoleh pengobatan yang optimal pada kondisi klinik tertentu.
Dengan memilih secara teliti rute pemberian obat dan rancangan secara tepat produk,
maka bioavailabilitas obat aktif dapat diubah dari absorbs yang sangat cepat dan
lengkap menjadi lambat, kecepatan absorbs yang diperlambat atau bahkan sampai tidak
terjadi absorbs sama sekali. Sewaktu obat mengalami absorbs sistemik berbagai proses
fisiologik normal yang berkaitan dengan distribusi dan eliminasi biasanya tidak
idpengaruhi oleh formulasi obat (Shargel, 1988).
Pada umumnya obat dalam bentuk garam yang dapat terionisasi lebih larut
dalam air dari pada asam atau bsa bebas. Derajat kelarutan obat dalam air juga
mempengaruhi laju pelarutan (Shargel, 1988).

Bioavailabilitas bahan aktif dalam suatu bentuk sediaan tergantung pada


beberapa factor yang meliputi disintegrasi produk produk obat dan pelepasan partikel
obat aktif, pelarut obat, absorbsi atau permeasi obat melintasi membrane sel. Factor
factor farmasetik yang mempengaruhi bioavailabilitas obat, untuk merancang suatu
produk obat yang akan melepaskan obat aktif dalam bentuk yang paling berada dalam
sistemik, farmasi harus mempertimbangkan jenis produk obat, sifat bahan tambahan
dalam produk obat, sifat fisikokimia obat itu sendiri.
Obat yang diberikan secara oral dapat dilakukan dengan mudah. Obat tersebut
akan masuk ke peredaran darah setelah mengalami absorbs di dalam saluran cerna. Dari
proses

tersebut

dapat

diperoleh

efek

sistemik.

Proses

absorbsinya

sangat

menguntungkan karena berikatan langsung dengan intensitas farmakologi yaitu onset


(mulai kerja) dan durasi (lama kerja obat) (Tjay, 2002).
Dalam farmakokinetik absorbsi obat dapat didefiniskan sebagai jumlah obat
yang mencapai sirkulasi umum dalam bentuk tidak berubah. Sebab itu obat yang
dimetabolisme atau secara kimia diubah pada tempat pemakaian atau dalam
persinggahannya, menurut definisi berarti tidak diabsorbsi dalam hal ini laju dan
besarnya absorbabsorbssama dengan bioavailabilitas obat (Tjay, 2002).
Terdapat beberapa teori mengenai struktur yang pasti dari membrane sel,
termasuk model unit membrane dan mozaik cair (dinamik). Banyak obat mengandung
substituent lipofilik dan hidrofilik. Obat obat yang lebih larut dalam lemak lebih
mudah melewati membrane sel daripada obat yang kurang larut dalam lemak atau obat
yang lebih larut dalam air. Bagi obat obat yang bersifat sebagai elektrolit lemah,
sebagai misal asam dan basa lemah, besarnya ionisasi mempengaruhi laju
pengangkutan obat (Shargel, 1988).
2.2. Farmakokinetik
Farmakokinetik secara definitif adalah ilmu yang mempelajari kinetika absorbsi
obat, distribusi, dan eliminasi (metabolisme dan ekskresi) (Shargel dan Yu, 2005).
Setelah obat masuk ke dalam tubuh, molekul obat akan diabsorbsi dari gastrointestinal.
Kecepatan absorbsi dan eliminasi menentukan kadar obat dalam darah yang dicapai
oleh sirkulasi sistemik, organ, jaringan dan sel. Setelah diabsorbsi, obat akan
5

mengalami metabolisme di dalam hati, dikeluarkan dari hati ke empedu atau mencapai
sirkulasi sistemik (Mutschler, 1991).
Sebelum obat mencapai tujuannya dalam tubuh yaitu: tempat kerja dan
menimbulkan efek, obat mengalami banyak proses, secara garis besar prosesproses
tersebut terbagi dalam tiga tingkat yaitu fase biofarmasetika, fase farmakokinetika, dan
fase farmakodinamika (Mutschler, 1991). Dalam tubuh obat mengalami beberapa
proses sebagai berikut :

2.2.1. Absorbsi
Absorbsi merupakan proses pengambilan obat dari permukaan tubuh (di
sini termasuk juga mukosa saluran cerna) atau dari tempat- tempat tertentu
dalam organ dalam ke dalam aliran darah (Mutschler, 1991).
Kecepatan absorbsi terutama tergantung pada bentuk dan cara pemberian
serta sifat fisik kimia dari obat. Obat yang diabsorbsi tidak semua mencapai
sirkulasi sistemik, sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus atau
mengalami metabolisme eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or
elimination). Obat yang demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang tidak
begitu tinggi meskipun absorbsi secara oralnya mungkin hampir sempurna.
Dengan

demikian

istilah

bioavailabilitas

menggambarkan

kecepatan,

kelengkapan absorbsi sekaligus metabolisme sebelum mencapai sirkulasi


sistemik (Ganiswarna, 2007).
Faktor-faktor

seperti

luas

permukaan

dinding

usus,

kecepatan

pengosongan lambung, pergerakan saluran cerna, dan aliran darah ketempat


absorbsi dapat mempengaruhi laju dan jumlah absorpsi obat dipengaruhi
beberapa faktor, misalnya formulasi, stabilitas obat terhadap asam lambung,
enzim pencernaan dan makanan (Shargel dan Yu, 2005).

2.2.2. Distribusi
Distribusi obat ke seluruh tubuh terjadi saat obat mencapai sirkulasi.
Selanjutnya obat harus masuk ke jaringan untuk bekerja ( Neal, 2006 ).
6

Distribusi obat dibedakan atas dua fase berdasarkan penyebarannya di dalam


tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ
yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, dan otak. Selanjutnya
distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencangkup jaringan yang perfusinya
tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit dan jaringan lemak.
Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama
(Ganiswarna, 2007).
2.2.3. Metabolisme dan Ekskresi
Sebelum dikeluarkan dari tubuh, obat mengalami proses metabolisme
(biotransformasi) terlebih dahulu. Biotransformasi atau metabolisme obat adalah
proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalisis
oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar artinya
lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah
di ekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif,
sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat
(Ganiswarna, 2007).
Metabolisme terjadi terutama di hati dan hanya dalam jumlah yang
sangat rendah terjadi dalam organ lain seperti dalam usus, ginjal, paru-paru,
limpa, otot, kulit atau dalam darah (Mutschler, 1991). Seperti halnya
metabolisme, ekskresi suatu obat dan metabolitnya menyebabkan penurunan
konsentrasi bahan berkhasiat dalam tubuh (Mutschler, 1991). Ekskresi ginjal
memegang tanggung jawab utama untuk eliminasi sebagian besar obat (Neal,
2006).

2.3. Model Farmakokinetik


Model farmakokinetik merupakan model matematika yang menggambarkan
hubungan antara dosis dan konsentrasi obat dalam setiap individu. Parameter dari
model menggambarkan faktor-faktor yang dipercaya penting dalam penentuan
observasi dari konsentrasi atau efek obat. Parameter tersebut antara lain terdiri dari
beberapa parameter antara lain parameter primer yang terdiri dari volume distribusi
(Vd); klerens (Cl); dan kecepatan absorbsi (Ka), parameter sekunder terdiri dari
7

kecepatan eliminasi (K); dan waktu paruh (T1/2), serta parameter-parameter turunan.
Model farmakokinetik tersebut mempunyai aplikasi langsung untuk terapi obat
berkenaan dengan menentukan aturan dosis yang sesuai (Aiache, 1993).
Kompartemen adalah suatu kesatuan yang dapat digambarkan dengan suatu
volume tertentu dan suatu konsentrasi. Perilaku obat dalam sistem biologi dapat
digambarkan dengan kompartemen satu atau kompartemen dua. Kadang-kadang perlu
untuk menggunakan multikompartemen, dimulai dengan determinasi apakah data
eksperimen cocok atau pas untuk model kompartemen satu dan jika tidak pas coba
dapat mencoba model yang memuaskan. Sebenarnya tubuh manusia adalah model
kompartemen multimillion (multikompartemen), mengingat konsentrasi obat tiap
organel berbeda-beda. (Hakim, L., 2014).
2.3.1. Model kompartemen satu terbuka
Pada model satu kompartemen terbuka, obat hanya dapat memasuki
darah dan mempunyai volume distribusi kecil, atau juga dapat memasuki cairan
ekstra sel atau bahkan menembus sehingga menghasilkan volume distribusi
yang besar (Gibson, 1991). Pada model satu kompartemen terbuka terlihat
seolah olah tidak ada fase distribusi, hal ini disebabkan distribusinya
berlangsung cepat.

2.3.2. Model kompartemen dua terbuka


Model dua kompartemen terbuka terdiri dari kompartemen pusat dan
perifer, biasanya kompartemen pusat adalah darah dan perifernya jaringan lain.
Pengelompokan kompartemen pusat maupun perifer tergantung pada obat yang
bersangkutan (Gibson, 1991). Distribusi obat dalam darah ke jaringan lunak dan
ke dalam jaringan dalam lain terjadi pada laju yang berbeda - beda. Keadan
tunak yang tercapai akan mengakhiri fase distribusi.

2.4. Parameter Farmakokinetik


Kompartemen farmakokinetik dari obat pada setiap tahap perlu ditetapkan
secara kuantitatif dan dijelaskan dengan bantuan parameter farmakokinetik. Parameter
farmakokinetik ditentukan dengan perhitungan matematika dari data kinetika obat di
dalam plasma atau di dalam urin yang diperoleh setelah pemberian obat melalui
berbagai rute pemberian, baik secara intravaskular atau ekstravaskular (Sukmadjaya,
2006).
Terdapat tiga jenis parameter farmakokinetik yaitu parameter primer, sekunder,
dan turunan. Parameter farmakokinetik primer meliputi kecepatan absorbsi, Vd
(volume distribusi), Cl (klirens). Parameter farmakokinetik sekunder antara lain adalah
9

t1/2 eliminasi (waktu paruh eliminasi), Ke (konstanta kecepatan eliminasi). Sedangkan


parameter farmakokinetik turunan harganya tergantung dari dosis dan kecepatan
pemberian obat (Donatus, 2008). Parameter farmakokinetik meliputi :
2.4.1. Parameter pokok

Tetapan kecepatan absorbsi (Ka)


Tetapan kecepatan absorbsi menggambarkan kecepatan absorbsi, yaitu
masuknya obat ke dalam sirkulasi sistemik dari absorbsinya (saluran cerna
pada pemberian oral, jaringan otot pada pemberian intramuskular).

Klirens (Cl)
Klirens adalah volume darah yang dibersihkan dari kandungan obat per
satuan waktu (Neal, 2006).

Volume distribusi (Vd)


Volume distribusi adalah volume yang menunjukkan distribusi obat (Neal,
2006).

2.4.2. Parameter Sekunder

Waktu paro eliminasi (t1/2)


Waktu paro adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah jumlah obat di
dalam tubuh menjadi seperdua selama eliminasi (atau selama infus yang
konstan) (Katzung, 2001).

Tetapankecepatan eliminasi ( Kel )


Kecepatan eliminasi adalah fraksi obat yang ada pada suatu waktu yang
akan tereliminasi dalam satu satuan waktu. Tetapan kecepatan eliminasi
menunjukkan laju penurunan kadar obat setelah proses kinetik mencapai
keseimbangan (Neal, 2006).

2.4.3. Parameter Turunan

Waktu mencapai kadar puncak ( tmax )


Nilai ini menunjukkan kapan kadar obat dalam sirkulasi sistemik mencapai
puncak.
10

Kadar puncak (Cp max)


Kadar puncak adalah kadar tertinggi yang terukur dalam darah atau serum
atau plasma. Nilai ini merupakan hasil dari proses absorbsi, distribusi dan
eliminasi dengan pengertian bahwa pada saat kadar mencapai puncak
proses-proses tersebut berada dalam keadaan seimbang.

Luas daerah kurva kadar obat dalam sistemik vs waktu (AUC)


Nilai ini menggambarkan derajad absorbsi, yakni berapa banyak obat
diabsorbsi dari sejumlah dosis yang diberikan. Area dibawah kurva
konsentrasi obat-waktu (AUC) berguna sebagai ukuran dari jumlah total
obat yang utuh tidak berubah yang mencapai sirkulasi sistemik (Shargel
dan Yu, 2005).

2.4.4. Orde Reaksi


Laju suatu reaksi kimia atau proses kimia diartikan sebagai kecepatan
terjadinya suatu reaksi kimia. Untuk reaksi kimia berikut :
Obat A Obat B

Apabila jumlah obat A berkurang dengan bertambahnya waktu reaksi


berjalan searah dengan tanda maka laju reaksi dapat dinyatakan sebagai :

-Da/dt

Dengan

demikian,

apabila

jumlah

obat

bertambah

dengan

bertambahnya waktu, maka laju reaksi dapat pula dinyatakan sebagai : +dB/dt
Pada umumnya hanya obat induk (obat yang aktif farmakologik) yang
ditentukan dalam percobaan. Sedangkan metabolit obat atau hasil urai obat tidak
dapat atau sangat sukar ditentukan secara kuantitatif. Oleh karena itu, laju reaksi
ditentukan melalui percobaan dengan cara mengukur obat A dalam jarak waktu
yang ditetapkan. Orde reaksi menunjukkan cara bagaimana konsentrasi obat
pereaksi mempengaruhi laju suatu reaksi kimia (Shargel dan Yu, 2005). Tetapan
laju reaksi terdiri atas:

11

2.5. Spektrofotometer UV-Visibel


Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari
spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan
panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukuran intenditas cahaya
yang ditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi, spektrofotometer digunakan untuk
mengukur energi secara relative jika energi tersebut ditransmisikan, direflesikan atau
diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang
digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan
kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi (atom atau molekul) dengan
cahaya atau radiasi elektromagnetik (REM). Peralatan yang digunakan dalam
spektrofotometri disebut spektrofotometer.
Spektrofotometri Sinar Tampak (UV-Vis) adalah pengukuran energi cahaya
oleh suatu sistem kimia pada panjang gelombang tertentu. Sinar ultraviolet (UV)
mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, dan sinar tampak (visible)
mempunyai panjang gelombang 400-750 nm. Metode pengukuran menggunakan prinsip
spektrofotometri adalah berdasarkan absorbsi cahaya pada panjang gelombang tertentu
melalui suatu larutan yang mengandung kontaminan yang akan ditentukan
konsentrasinya. Proses ini disebut absorbsi spektrofotometri, dan jika panjang
gelombang yang digunakan adalah gelombang cahaya tampak, maka disebut sebagai

12

kolorimetri, karena memberikan warna. Prinsip kerja dari metode ini adalah jumlah
cahaya yang di absorpsi oleh larutan sebanding konsentrasi kontaminan dalam larutan.
Spektrofotometer terdiri atas spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer
menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer
adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditranmisikan atau yang diabsorpsi.
Spektrofotometer tersusun atas sumber spektrum yang kontinyu, monokromator, sel
pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur
pebedaan absorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding.

2.5.1. Prinsip Kerja dari Spektrofotometer


Prinsip kerja spektrofotometer adalah interaksi antara obat atau molekul
dengan radiasi elektromagnetik (REM) yang energinya sesuai. Interaksi tersebut
dapat membuat molekul suatu obat menghamburkan REM, menyerap REM atau
mengemisikan REM. Apabila terjadi penyerapan REM sebagai interaksi antara
molekul dengan REM, maka akan penyerapan tersebut akan diemisikan oleh
molekul tersebut. Interaksi tersebut akan meningkatkan energi potensi elektron
(eksitasi) pada tingkat aksitan (ground state). Namun, posisi molekul yang
mengalami eksitasi tersebut tidaklah stabil. Sehingga dengan cepat molekul
tersebut akan kembali ke ground state dan akan mengemisikannya. Apabila pada
molekul yang sederhana tadi hanya terjadi transisi elektronik pada suatu macam
gugus maka akan terjadi suatu absorbsi yang merupakan garis spektrum.
2.5.2. Tipe Instrumen Spektrofotometri UV-Vis
Double beam spektrofotometer: mengandung sumber cahaya UV-Visible,
cahaya UV-Visible akan melewati dua sel dan dektetor (photomultipier) untuk
mengetahui banyaknya cahaya yang melewati sel. Prinsip dari spektrofotometer
adalah absorbansi pada panjang gelombang tertentu yang diatur oleh pengguna
dan membaca pajang gelombang UV-Vis yang masuk. Double beam memiliki
variable panjang gelombang atau multiwavelength. Spektrofotometer di kontrol
dan memberikan kemampuan fleksibilitas yang baik, contoh membentuk grafik
kalibrasi untuk menentukan konsentrasi yang tidak diketahui. Kalkulasi dari
spetrofotometer UV-Vis Double beam adalah :
13

Keterangan I0 = cahaya yang ditransmisikan awal I = Cahya


ditransmisikan pada sampel

Single beam spektrometerUV-vis: Memiliki prinsip yang sama dengan double


beam, tetapi pertama melakukan absropsi terhadap blanko, kemudian bar sampel
yang dideteksi (Rosaleen J. Andreson dkk, 2004). Pada Single beam
berdasarkan pada sinar tunggal yang akan ditentukan jumlahnya pada satu
panjang

gelombang

(Hobart

H.

Willlard

dkk,

1998)

2.5.3. Komponen Spektrofotometer UV-Vis

Sumber cahaya/ radiasi


Dua sumber radiasi yang digunakan dalam spktrofotometer yang mana
diantaranya dapat menyediakan selang panjang gelombang dari 200 - 800
nm. Untuk pengukuran di atas 320 nm, sumber radiasi dari bahan
tungsten halogen dan pengukuran di bawah 320 nm, sumber radiasi dari
bahan deuterium.

Monokromator
Digunakan untuk memperoleh sumber sinar yang monokromatis. Alatnya
dapat berupa prisma ataupun grating. Untuk mengarahkan sinar
monokromatis yang diinginkan dari hasil penguraian ini dapat digunakan
celah. Jika celah posisinya tetap, maka prisma atau gratingnya yang
dirotasikan untuk mendapatkan yang diinginkan.

Sel absorbsi.
Pada pengukuran di daerah tampak kurvet kaca atau kurvet kaca corex
dapat digunakan, tetapi untuk pengukuran pada daerah UV kita harus
menggunakan sel kuarasa karena gelas tidak tembus daerah cahaya pada
daerah ini. Umumnya tebal kurvetnya adalah 10 mm, tetapi yang lebih
kecil ataupun yang lebih besar dapat digunakan. Sel yang digunakan
biasanya berbentuk persegi, tetapi bentuk silinder dapat juga digunakan.

Detektor
Peranan detector penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya
pada berbagai panjang gelombang. Pada spektrofotometer, tabung
14

pengganda electron yang digunakan prinsip kerjanya telah diuraikan.


Setiap detector menyerap tenaga foton yang mengenainya dan mengubah
tenaga tersebut untuk dapat diukur secara kuantitatif seperti sebagai arus
listrik

atau

perubahan-perubahan

panas.

Kebanyakan

detector

menghasilkan sinyal listrik yang dapat mengaktifkan meter atau pencatat.


Setiap pencatat harus menghasilkan sinyal yang secara kuantitatif
berkaitan dengan tenaga cahaya yang mengenainya.

Hasil Keluaran
Dalam instrumen manual diperoleh hasil keluaran secara tetap dari
beberapa bentuk yang mana menunjukan transmitansi secara langsung
atau dugunakan sebagai penunjuk nol dalam sirkuit potensiometri.
Potensiometri biasanya dikalibrasi dalam satuan transmitansi dan dalam
satuan absorbansi. Instrumen modern lebih digunakan karena mempunyai
hubungan keluaran digital pada mikroprosesor yang memberikan nilai
absorbansi secara langsung atau dapat dikalibrasi dalam satuan
konsentrasi setelah larutan standar diukur

Gambar 1. Komponen Alat Spektrofotometer Uv-Vis

2.5.4. Hukum Lambert-Beer


Jika intensitas cahaya Io pada panjang gelombang tertentu dilewatkan
melalui larutan yang mengandung bahan yang mengabsorpsi cahaya dapat
diukur

dengan

detektor.

Hukum

Lambert

Beer

digunakan

untuk

menggambarkan absorpsi cahaya pada panjang gelombang tertentu yang


diberikan oleh absorpsi spesi dalam larutan :

15

Keterangan :
A

= absorbansi

= absorptivitas molar (L mol -1 cm -1 )


1

= panjang laluan sinar melalui larutan (cm)

= adalah konsentrasi spesi (molal)

2.6. Uraian Bahan


2.6.1. Parasetamol (Gennaro, 1990)
Nama Resmi

: Acetaminophen

Sinonim

: Paracetamol

RM

: C8H9NO2

BM

: 151,16

Pemerian

: Berupa hablur atau serbuk hablur putih, rasa pahit, berbau,


serbuk Kristal dengan sedikit rasa pahit.

Kelarutan

: Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%)P,


dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan
alkalihidroksida.

OTT

: Ikatan hydrogen pada mekanismenya perah dilaporkan oleh


karena itu parasetamol dihubungkan dengan permukaan dari
nilon dan rayon.

FD

: Efek analgesic parasetamol yaitu menghilangkan atau


mengurangi

nyeri

ringan

sampai

sedang.

Parasetamol

menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga


berdasarkan efek sentral. Efek anti inflamasinya sangat lemah.
Farmakokinetik : Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran
cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam
waktu jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam.

16

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan

3.2.1Alat:

Timbangan

Vial

Beker gelas

Labu ukur

Batang pengaduk

Spektrofotometer UV Vis

Alat disintegrasi
Syringe
3.2.2 Bahan:

Paracetamol

NaOH 0,1 N

3.2 Prosedur Kerja

1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Dibuat larutan NaOH dengan menghitung sejumlah NaOH yang akan dibutuhkan
untuk membuat sebanyak 4 L larutan.
a. 0,1 N =

= 16 gram
b. NaOH 4 gram dilarutkan dalam labu ukur dan di add sampai 4 L.
3. Disiapkan 2 beker gelas yang diisi NaOH sebanyak 200 ml.
4. Dimasukkan ke dalam tabung disintegrasi.
5. Ditimbang paracetamol sebanyak 500 mg, kemudian dilarutkan dalam NaOH 100 ml,
dan dihomogenkan.
6. Diambil larutan paracetamol sebanyak 10 ml, kemudian dimasukkan ke dalam plastic
dialysis bag yang bagian bawahnya telah diikat.
7. Diikat bagian atas plastic dialysis bag, kemudian plastic dialysis bag yang sudah
berisi larutan paracetamol diikatkan pada alat disintegrasi.

17

8. Alat disitegrasi dinyalakan. Pada setiap 1 menit sekali cuplikan diambil 20 ml dan
dibuang , kemudian digantikan dengan 20 ml NaOH. Proses ini dilakukan selama 35
menit. Pada menit ke 10, 20, 25, 30 dan 35, cuplikan diambil 20 ml ( 15 ml dibuang
dan 5 ml di masukkan dalam vial ), dan diganti dengan 20 ml NaOH.
9. Cuplikan yang telah diambil dimasukkan ke dalam vial.
10. Diencerkan 10x ayitu diambil 1 ml kemudian diencerkan sampai 10 ml dalam labu
ukur.
11. Lalu diukur absobansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV Vis pada
panjang gelombang 258nm.
12. Dilihat data hasil pengukuran dan diplot data kadar obat terhadap waktu.
13. Dihitung parameter farmakokinetiknya.

18

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.1 Hasil
4.1.1

Tabel Hasil Pengamatan


Waktu (menit)

Cp (g/ml)

Log Cp

10

2,025

0,306425

20

2,612

0,416973

25

2,847

0,454387

30

2,916

0,464788

35

2,821

0,450403

Antilog

Ekstrapolasi

Residu

0,5221

0,215675

3,327361598

1,64314153

0,4931

0,076127

3,112432919

1,191589938

0,4786

0,024213

3,010232221

1,057334816

4.1.2

Ekstrapolasi

Antilog Residu

Kurva log Cp vs t, kurva absorpsi dan kurva eliminasi

log Cp

kurva logCP vs t
0,5
0,45
0,4
0,35
0,3
0,25
0,2
0,15
0,1
0,05
0

10 20 25 30 35

4
waktu

19

Jadi, didapatkan persamaan regresi linear :


y = 0,0061x + 0,2733
R = 0,797

absorpsi
0,25

C res

0,2
0,15
0,1

absorbsi

0,05
0
0

waktu

Jadi, didapatkan persamaan regresi linear :


y = -0,0129x + 0,3425
R = 0,9954

Axis Title

eleminasi
0,466
0,464
0,462
0,46
0,458
0,456
0,454
0,452
0,45
0,448

Series1

0,5

1,5
Axis Title

20

2,5

Jadi, didapatkan persamaan regresi linear :


y = -0,0029x + 0,5511
R = 1
4.1.3

Parameter Farmakokinetik

Persamaan kurva absorpsi : y = -0,0129x + 0,3425

Persamaan kurva eliminasi : y = -0,0029x + 0,5511

Ka

Ke

b = 2,303

b = 2,303

Ka = 0,029/menit

-0,0029 = 2,303

Ke = 0,006 /menit

Do = 500 mg/100 ml

-0,0129 = 2,303

= 5 mg/ml x 10 ml

0,133 0,02950.000

= 50.000 ppm

800(0,029 0,006)

AUC =

10,48

Vd = 800 ml

=10,48

10,48

= 0,006 - 0,029

= 1746 361,379
= 1384,621
Cp =

Cp10 =

.
.

)
.

=
)

0,006)

= 0,006
= 115,5 menit

( e-0,006x10 e-0,029x10 )

F1450

2,025 = 800 (0,023) (0,941-0,748)


2,025 =
2,025 =

1450
18,4

0,693
0,693

( e-ket e-kat )

F0,02950.000

2,025 = 800 (0,029

T1/2

( e-ket e-kat )

(0,193)

279,85
18,4

21

F = 0,133

Tmax =

2,3 log(

2,3 log(

= 0,029

Cl

0,029
)
0,006

0,006

klirens = Vd x ke
= 800 x 0,006
1,57

= 0,023

= 4,8 ml/menit

= 68,42 menit

Cpmax = B ( e-ketmax e-katmax )


= 10,48 (e-0,006x68,42 e-0,029x68,42)
= 10,48 (0,663-0,137)
= 5,512 g/ml

4.2 Pembahasan
Jalur pemberian obat secara ekstravaskular berbeda dengan intravaskular,
dimana umumnya obat mengalami absorpsi. Setelah obat masuk ke sirkulasi sistemik
obat akan didistribusikan, sebagian mengalami pengikatan dengan protein plasma dan
sebagian dalam bentuk bebas. Obat bebas selanjutnya didistribusikan sampai ditempat
kerjanya dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi obat
diekskresikan dari dalam tubuh melalui organ-organ ekskresi, terutama ginjal. Seluruh
proses yang meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi disebut
farmakokinetik dan proses ini berjalan serentak (Zunilda,.dkk,1995).
Pemberian obat secara ekstravaskular berulang, merupakan cara pemberian obat
yang sangat lazim digunakan dalam pengobatan, terutama per oral. Seperti halnya
pemberian secara intravena berulang, obat akan terakumulasi ditubuh jika pemberian
berikutnya dilakukan ketika obat masih tersisa didalam tubuh. Seberapa besar
akumulasinya, tergantung interval pemberian obat, relatuf terhadap waktu paro
eliminasinya. Semakin pendek interval pemberian obat dengan waktu paro eliminasi
obat semakin tinggi akumulasinya, demikian sebaliknya (Hakim,2012).
Pada praktikum kali ini dilakukan simulasi invitro model farmakokinetika rute
oral model kompartemen satu terbuka dengan menggunakan paracetamol yang
22

dianggap sebagai obat. Percobaan ini disimulasikan dengan keadaan yang ada didalam
tubuh dimana obat diberikan secara per oral. Langkah awal dilakukan dengan
menimbang sebesar 500 mg paracetamol kemudian dilarutkan menggunakan NaOH
kedalam labu 100 ml. kemudian diamati/di ukur nilai konsentrasi obat pada menit
ke 10, 20, 25, 30, dan 35 pada 2 wadah yang berbeda didalam alat disintegration tester.
Jumlah NaOH yang terdapat didalam alat sebanyak 800 ml diasumsikan sebagai Vd
(Volume Distribusi) . Masukakan 10 ml paracetamol kedalam masing-masing wadah.
Setelah itu setiap menit larutan dicuplik dan diganti sebanyak 20 ml dianggap sebagai
nilai klirens. Jadi setiap 5 menit laju ekskresinya 100 ml. Dan setiap menit ke 10, 20,
25, 30, dan 35 dari 20 ml yang diambil, 5 ml ditampung didalam vial lalu diukur
menggunakan spektrofotometer UV-Vis.
Setelah dilakukan pengukuran, ternayata kadar yang didapatkan terlalu tinggi
melebihi rentang kadar kurva standar 0,2-0,8 sedangkan hasil yang didapatkan yaitu
0,9. Untuk itu dilakukan pengenceran sebanyak 10 kali pengenceran. Setelah itu diukur
kembali menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Konsentrasi yang dihasilkan pada
menit 10, 20, 25, 30 meingkat dari 2,025; 2,612;2,847;

2,916. Dan mengalami

penurunan pada menit terakhir yaitu menit ke 35 dengan kadar 2,821. Untuk itu pada
fase ke 35 diketahui bahwa obat mengalami fae eliminasi. Pemberian berulang ini
dimaksudkan agar kadar obat didalam darah selalu berada dalam kadar terapetik, yaitu
kadar obat berada didalsm kisaran terapetik yang secara klinik telah dibuktikan
berkolerasi dengan efek terapi obat (Hakim,2012).
Dalam rute ekstravaskular ini terjadi proses absorpsi, distribusi dan
eliminasi(metabolisme dan ekskresi). Jadi , hampir semua obat pada dosis terapi
mengikuti kinetika orde 1, artinya kecepatan proses-proses tersebut sebanding dengan
jumlah obat yang ada (yang tinggal). Jadi jumlah obat yang diabsorpsi, distribusi, dan
eliminasi persatuan waktu makin lama makin sedikit, sebanding dengan jumlah obat
yang masih belum mengalami proses tersebut (Setiawati,2005).
Hasil yang diperoleh sesuai dengan literatur karena ketika obat baru saja
diberikan kepada subjek (pada t=0), kadar obat didalam darah C=0, karena belum ada
proses absorpsi. Kemudian, karena jumlah obat yang diabsorpsi pada waktu awal lebih
besar dari jumlah obat yang dieliminasi. Kadar obat didalam darah terus meningkat,
sampai mencapai kadar puncak (Cmax). Pada kadar puncak ini, kecepatan absorpsi
23

sama dengan kecepatan eliminasi obat. Waktu yang diperlukan untuk mencapai Cmax
adalah Tmax. Begitu mencapai kadar puncak, kadar obat terus menurun, sebab jumlah
obat yang tersedia untuk diabsorpsi makin berkurang, sehingga menyebabkan
penurunan keceepatan absorpsi. Selanjutnya ketika waktu terus berjalan, menyebabkan
jumlah obat ditempat absorpsi sangat kecil. Mulai saat itu penurunan kadar obat
didalam darah mencerminkan eliminasi obat (Shargel dkk.,2005).

24

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Persamaan kurva absorpsi y = -0,0129x + 0,3425 R = 0,9954 dan persamaan kurva
eliminasi y = -0,0029x + 0,5511 R = 1.
2. Hasil dari parameter farmakokinetik nilai Ka = 0,029 / menit, nilai Ke = 0,006
/menit, nilai F = 0,133, nilai T1/2 = 115,5 menit, nilai T max = 68, 42 menit, nilai Cl
= 4,8 mL/menit, nilai Cpmax = 5.512g/ml.
3. Konsentrasi yang dihasilkan dari pengukuran menggunakan spektrofotometer UVVis pada menit ke 10, 20, 25, dan 30 terjadi peningkatan yaitu 2,025; 2,612; 2,847;
2,916. Pada menit ke 35 terjadi penurunan yaitu 2,821.
4. Pada menit ke 35 terjadi penurunan yang berarti obat mengalami fase eliminasi pada
menit ke 35.
5.2 Saran
Pengambilan cuplikan dan pemasukan cairan pengganti dilakukan dengan hatihati.

25

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV. Jakarta : Depkes RI.
Hakim, L. 2013. Farmakokinetika. Yogyakarta : Bursa Ilmu.
Martin, A., J. Swarbrick, dan A. Cammarata. 1993. Farmasi Fisik Jilid 2.EdisiKetiga. Jakarta
: Penerbit Universitas Indonesia.
Paradkar, A. dan S. Bakliwal. 2008. Biopharmaceutics & Pharmacokinetics. India: Nirali
Prakashan. Publications, Inc.: Hamilton, Illinois.
Ritschel, W.A. 2004. Handbook of Basic Pharmacokinetics, Drug Intelligence.
Shargel, L. dan A. B. C. Yu. 2005.Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.Edisi
Kedua.Surabaya : Airlangga University Press.
Sweetman

S.C.

2007.

Martindale

: The Complete Drug Reference 35th Edition

ElectronicVersion ). London: The Pharmaceutical Press


Tjay, T.H. dan K. Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek
Sampingnya. Edisi Kelima Cetakan Pertama.Jakarta : Penerbit PT Elex Media

26