Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN

Tuntutan penemuan obat baru semakin meningkat karena makin bervariasinya
jenis penyakit. Banyaknya kuman yang sudah kebal terhadap obat-obat tertentu dan
ditemukannya berbagai efek samping akibat pemakaian obat yang sudah dikenal,
mendorong penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan struktur obat yang telah ada
atau mencari dan menemukan obat baru (Block, 1991).
Metode pengembangan obat dapat melalui modifikasi molekul dengan optimasi
senyawa penuntun (lead compound) dan rancangan obat yang rasional (siswandono dan
Soekardjo, 2009). Variasi struktur mengakibatkan perubahan sifat fisika dan reaktifitas
yang dapat menimbulkan perubahan distribusi, metabolism, dan ekskresi senyawa
tersebut (Reksohadiprodjo, 1988). Sintesis merupakan bagian yang terpenting dalam
pencarian senyawa obat baru yang mempunyai khasiat lebih baik dan harga yang lebih
ekonomis. Sintesis dilakukan dengan penggabungan molekul, pengubahan gugus fungsi
atau penutupan gugus yang bersifat toksigenik senyawa penuntun yang telah diketahui
khasiat atau aktivitas biologinya.














2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Senyawa Penuntun (Lead Compound)

Senyawa penuntun merupakan senyawa yang digunakan sebagai Pangkal Tolak
modifikasi molekul. Senyawa penuntun adalah senyawa yang dapat menimbulkan
aktivitas biologis, seperti Aksi terapetik, Aksi Toksik, Regulasi Fisiologik, Hormon dan
Feromon, serta senyawa yang terlibat atau berpengaruh terhadap proses biokimia pada
hewan atau tumbuh-tumbuhan. (Siswandono dan Soekardjo, 1998). Senyawa penuntun
tersebut dikembangkan lebih lanjut, melalui modifikasi molekul sehingga didapatkan
turunan senyawa dengan aktivitas yang diinginkan
Senyawa penuntun bisa berasal dari tumbuhan, hewan, mikroba atau hasil sintesis.
Penemuan obat baru dari senyawa produk alam pada umumnya dilakukan dengan
penapisan bahan alam, ekstraksi, isolasi dan pemurnian senyawa yang terkandung,
menemukan struktur kimianya, kemudian dilakukan pengujian dengan sistem uji
biologis yang sesuai sehingga didapatkan senyawa penuntun.
Penelitian mengenai obat tradisional dibutuhkan untuk memberikan bukti ilmiah
mengenai khasiat suatu tanaman obat dan juga dapat digunakan sebagai sumber
senyawa penuntun untuk sintesis senyawa obat baru. Penggunaan obat tradisional
merupakan suatu kenyataan untuk mencapai kesembuhan atau pemeliharaan dan
peningkatan taraf kesehatan serta diwariskan secara turun-temurun dan tidak
dipisahkan dari kehidupan masyarakat meskipun tanpa dibuktikan secara ilmiah.
Seiring dengan semakin berkembangnya penggunaan tanaman obat dalam dunia
kesehatan dengan semboyan back to nature, keingintahuan masyarakat terhadap
khasiat dan manfaat tanaman obat pun semakin berkembang. Pengobatan tradisional
menggunakan tanaman obat hingga saat ini tetap digunakan karena tidak memiliki
resiko tinggi atau efek samping rendah sehingga lebih aman untuk dikonsumsi.
Uji pertama dan utama suatu senyawa bisa dianggap sebagai obat adalah uji
Farmakodinamik preklinik baik in vitro maupun in vivo. Untuk antibiotik selain harus
3

diuji khasiatnya pada jaringan hewan juga pada hewan secara keseluruhan. Uji ini
disebut uji in vivo (pd hewan hidup) dan in vitro.

Uji in vitro dan in vivo

Yang dimaksud uji in vitro adalah uji pada mikroba jika antibiotik; pada sel kanker
dari hewan untuk obat anti kanker; pada plasmodium untuk obat anti malaria; pada
jamur contoh candida pada obat anti keputihan/candidiasis; pada cacing untuk obat
cacing; pada virus untuk obat antivirus; pada bagian organ tertentu dari hewan contoh
obat asma bronkodilator diuji pada otot polos trachea marmot; pada jantung hewan
dalam chamber utk obat angina dan aritmia; dll.
Sedangkan uji in vivo digunakan hewan utuh dan kondisi hidup (baik sadar atau
teranestesi). Syarat hewan yg digunakan sangat banyak tgt jenis obatnya, missal yang
jelas harus dilakukan control terhadap galur/spesies, jenis kelamin, umur, berat badan
(mempengaruhi dosis), dan harus dilakukan pada minimal 2 spesies yakni
rodent/hewan mengerat dan non rodent. Alasannya karena sistem fisiologi dan
patologi pada manusia merupakan perpaduan antara rodent dan non rodent.
Contoh-contoh senyawa alam yang dikembangkan dan dapat dimanfatkan sebagai
obat :
1. Senyawa alam kumarin yang dikembangkan menjadi warfarin, sehingga dapat
dimanfaatkan sebagai antikoagulan

KUMARIN WARFARIN
2. Kokain senyawa yang terdapat dalam daun koka dikembangkan menjadi prokain,
berfungsi sebagai anestetika local (turunan asan para aminobenzoat)

4



3. Morfina yang dikembangkan menjadi petidin, sebagai analgetika narkotika


1. Senyawa penuntun dan hasil metabolisme obat.

Hubungan pra obat, metabolisme dan aktivasi obat
Banyak contoh obat yang setelah mengalami proses metabolisme di tubuh
menghasilkan metabolit aktif. Senyawa induk obat tersebut disebut pra-obat, yang
pada in vitro tidak menimbulkan aktivitas biologis. Pra-obat bersifat labil, di dalam
tubuh (in vivo) mengalami perubahan, melalui proses kimia atau enzimatik, menjadi
senyawa aktif, kemudian berinteraksi dengan reseptor menghasilkan respons
farmakologis.
Penemuan bahwa efek obat kadang-kadang ditimbulkan oleh metabolitnya,
mempunyai peran penting dalam penggunaan metabolit itu sendiri sebagai obat, oleh
karena :
a. Metabolit kemungkinan menimbulkan toksisitas atau efek samping lebih rendah
dibanding pra-obat.
b. Secara umum metabolit mengurangi variasi respons klinik dalam populasi yang
disebabkan perbedaan kemampuan metabolisme oleh individu-individu atau oleh
adanya penyakit tertentu.
5

Contoh:
Sulfonamida
Penemuan zat warna azo prontosil merupakan awal dari pengobatan infeksi
dengan turunan sulfonamida. Pada in vitro prontosil tidak aktif terhadap
mikroorganisme tetapi pada in vivo aktif. Penemuan bahwa prontosil adalah pra-
obat dan bentuk yang mendapatkan turunan sulfonamida yang lebih unggul,
dengan cara modifikasi molekul sulfanilamid. Sampai sekarang telah tersedia
berbagai macam turunan sulfonamida yang digunakan sebagai obat antiinfeksi,
seperti sulfadiadzin, sulfametoksazol, dan sulfaguanidin.


DARI SULFONAMIDA DITEMUKAN BANYAK GOL. SULFONAMIDA


Kloralhidrat, senyawa hipnotik, pada manusia dimetabolisme menjadi senyawa
aktif trikloroetanol, bentuk glukuronida dan asam trikloroasetat. Sekarang
digunakan trikloroetanol atau garamnya asam trikloroetanol fosfat (triklofos)
sebagai pengganti kloralhidrat, karena kloralhidrat mempunyai rasa tidak enak
dan menimbulkan efek samping iritasi saluran cerna.
Dengan cara yang sama metilfenobarbital diubah menjadi metabolit aktif
fenobarbital, sementara primidon dioksidasi menjadi fenobarbital.
Asetosal adalah pra-obat dari asam salisilat, yang menimbullkan efek iritasi
terhadap mukosa saluran cerna lebih kecil dibanding asam salisilat.
6

Fenasetin, obat anelgesik dan antipiretik, terutama dimetabolisis dalam tubuh
menjadi metabolit aktif, N-asetil-p-aminofenol (asetaminofen) dan dalam jumlah
kecil metabolit glukuronida dari 2-hidroksifenasetin yang tidak aktif.
Sekarang fenasetin digunakan oleh asetaminofen karena bersifat nefrotoksik dan
menimbulkan efek samping methemoglobin yang lebih besar dibanding
asetaminofen.

2. Senyawa penuntun dan hasil eksplorasi efek samping
Setiap obat memiliki efek terapi pengobatan, juga efek samping yang tidak
diinginkan. Efek samping yaitu keadaan yang dapat mempengaruhi orang sehat. Efek
terapeutik di sini dikurangi bahkan di hilangkan keadaan Patologinya, sehingga efek
sampingnya yang dapat di terima sebagai efek terapeutik. Sebagai contoh :
Obat antihistamin yang memiliki efek samping sebagai efek sedative. Di olah
sedemikian rupa sehingga menghasilkan zat penenang.
Pengembangan efek samping prometazine (antihistamin), untuk menenukan
klorpromazine sebagai zat sedative.
Eksplorasi dan eksploitasi. Efek samping hipoglikemik Karbutamid yang
memiliki efek samping antibakteri

3. Senyawa penuntun dan studi proses dasar kehidupan
Senyawa penuntun dapat menghasilkan studi-studi seperti studi biologi mol,
biokima & endrokinologi pada mamalia, misalnya : prazat & zat antara hormon
vitamin, neurotransmitter, senyawa yang cocok di gunakan sebagai modifikasi
molekul.
Replikasi DNA, transkipsi DNA menjadi mRNA dan translasi mRNA menjadi
protein dan hormone

4. Analisis mekanisme aksi senyawa multiprotein
Senyawa multi protein adalah obat yang menimbulkan dua atau lebih aksi yang
berbeda. Mekanisme dan reseptor yang berbeda. Senyawa yang memiliki struktur mol
berbeda mempunyai sifat fisika-kimia yang berbeda serta konformasi yang berbeda.
7

Molekul agonis yang berinteraksi dengan dua jenis, contoh :
Spektrum histamin
Tipe 1 : Menaikkan sekresi asam lambung menaikkan kontraksi otot polos
Tipe 2 :Spasmogenik otot polos, menaikkan premeabilitas vaskuler dan dilatasi
pembuluh kapiler

2.2 Modifikasi Molekul

Dari penelitian produk alam dan turunannya serta sejenis sintetiknya, dapat
dirumuskan suatu hipotesis tentang kemungkinan adanya hubungan antara struktur kimia
dan efek biologis seri senyawa tersebut. Pengamatan ini digunakan sebagai petunjuk
pemikiran dalam perencanaan struktur sebagai upaya menemukan obat baru yang lebih
poten, lebih spesifik, dan kurang toksis.
Variasi struktur mengakibatkan perubahan sifat fisika dan reaktivitas kimia, yang
mungkin menyebabkan perubahan ditribusi dalam sel dan jaringan, perjalanan sampai ke
lokasi aktif dari enzim dan reseptor, laju reaksi dengan lokasi aktif, serta pola metabolism
dan ekskresi senyawa tersebut. Perubahan struktur kimia yang sangat kecil mungkin
menemukan efek biologis yang semula tersembunyi atau tertutup oleh efek lain.
Modifikasi mungkin menemukan efek samping yang semula tidak terduga, yang
kemudian efek samping tersebut dapat digunakan sebagai penuntun dalam
desain/rancangan obat. Modifikasi struktur diarahkan pada eksplorasi dan eksplotasi
senyawa penuntun dengan tujuan utama yaitu:
1. Usaha mengembangkan senyawa pengganti bagi senyawa yang telah ada,
misalnya produk alam seperti vitamin, hormone, neurotransmitor, dan lain-lain.
Senyawa pengganti harus lebih poten, aman, dan spesifik, serta efek samping
lebih kecil.
2. Usaha mengubah spektrum senyawa penuntun. Usaha ini diarahkan untuk
mengubahagonis menjadi antagonis, seperti: hormone menjadi anti hormone,
kolinergik menjadi anti kolinergik, dan lain-lain. Usaha ini meliputi pula
menemukan spektrum baru, usaha memisahkan efek samping dan di kembangkan
8

menjadi efek terapetik. Menggabungkan aksi obat yang berbeda dan mendapatkan
aksi selektif pada jenis atau organ organisme.
3. Usaha mengatur farmakokinetik senyawa. Usaha ini mengatur ketersediaan
biologis dengan cara memodifikasi molekul, meliputi usaha untuk mengatur
hubungan antara kadar dan waktu,distribusi obat pada berbagai kompartemen,
usaha menimbulkan efek yang cepat pada pemberian intravenous.

2.3 Sistematika Modifikasi

Prosedur modifikasi molekul dengan pendekatan pada gugus fungsional,
merupakan hal yang sering dilakukan atas dasar pendekatan ini, maka sistematika
modifikasi antara lain dapat dilakukan sebagai berikut (Nogrady, 1985; Silverman,
1992)
1) Homologasi dan percabangan rantai
Sebagai contoh: mengubah panjang rantai hidrokarbon akan mengubah
titik lebur, titik didih, volume molekuler, kelarutan, koefisien distribusi atau
partisi lipida-air, aktivitas permukaan, dan sifat fisika kimia yang lain. Sifat
umum dalam memperpanjang rantai adalah menaikkan lipofilisitas sesuai dengan
kenaikan jumlah gugus metilina. Banyak penelitian lipofisitas sesuai dengan
kenaikan jumlah gugus metilina. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kenaikan
panjang rantai parallel dengan kenaikan aktivitas, meskipun hubungannya tidak
selalu berbentuk garis lurus, melainkan ada titik optimumnya.

2) Pemasukan ikatan rangkap
Ikatan rangkap dua dan rangkap tiga karbon-karbon pada rantai alkil,
menambah ketegangan rantai alkil, menambah ketegangan rantai karbon,
mengurangi kelenturan rantai, dan terbentuk isomer cis-trans. Perubahan ini
menyebabkan perubahan aktivitas obat. Karena terjadinya perubahan pada pusat
aktif. Ikatan asetilena jauh lebih pendek dibandingkan ikatan tunggal atau ikatan
dua.

9

3) Perubahan cincin rantai
Perubahan cincin rantai tidak selalu menghasilkan senyawa dengan
aktivitas yang mirip. Misalnya antara amfetamin dengan tranilsipromina, ternyata
amfetamin menunjukkan aktivitas biologis yang berbeda dengan tranilsipromina.
Tranilsipromina menghambat enzim monoamine oksidase yang kuat, sedangkan
amfetamin merangsang susunan syaraf pusat dan penghambat monoamine
oksidasenya hanya 1/5000 kali tranilsipromina.

4) Mempertahankan Topologi Struktur
Zat penenang trisiklik dan antidepresan trisiklik Nampak mempunyai
topologi struktur yang sama. Modifikasi molekul untuk pengembangan obat
tersebut harus mempertahankan topologi struktur tersebut. Klorpromazine
mempunyai topologi struktur yang ditandai adanya sudut sebesar 55
o
, sehingga
pengembangannya agar mempunyai efek yang sama dengan klorpromazine(
sebagai trankuiliser) maka molekul yang baru harus mempertahankan sudut
tersebut. Amitriptilin mempunyai topologi struktur yang di tandai adanya sudut
sebesar 50
o
dan adanya sudut sebesar 30
o
pada molekulnya, sehingga
pengembangan obat tersebut agar mepunyai efek yang sama dengan amitriptilin
(Efek utama trankuiliser dengan efek samping anti depresan), maka struktur
molekul yang baru harus mempertahankan sudut-sudut tersebut. Imipramin
mempunyai topologi struktur yang di tandai adanya sudut sebesar 50
o
, sudut
sebesar 30
o
, dan sudut sebesar 20
o
. untuk pengembangan obat agar mempunyai
aktivitas biologis yang sama dengan imipramid (antidepresan), maka ketiga sudut
tersebut perlu dipertahankan pada molekul baru tersebut.

5) Penetapan dasar isoterisme
Konsep isoterisme kimia diuraikan oleh Langmuir pada tahun 1919, yang
menyatakan terdapat kesamaan sifat fisika kimia dengan struktur elektrolit pada
atom, gugus, radikal, dan molekul. Kesamaan ini sering terdapat pada atom yang
terletak pada lajur vertical system periodic, pada atomo-atom tersebut lapisan
electron terluar identik atau hamper identik, dan atom yangbtidak terlalu jauh
10

terpisah vasiasi ukuran dan masanya tidak besar. Dengan kata lain, isoster adalah
atom atau gugus yang mempunyai konfigurasi electron terluar yang sama,
misalnya isoster untuk atom O adalah NH atau CH2 (electron terluar) untuk atom
O adalah 6, N adalh 5, C adalh 4, dan H adalah 1 (Silverman, 1992). Contoh
modifikasi molekul dengan penggantian isoter yang menghasilkan efek yang
sama adalh: Asetilkolin dengan isoter NH2 menjadi karbakol menghasilkan
senyawa yang mempunyai durasi (lama kerja) yang lebih lama dibandingkan
asetilkolin karena adanya pasangan electron bebas pada NH2 memperlama
hidrolisa senyawa baru tersebut (karbakol). Tolbutamid menjadi klorbutamid.
Penggantian gugus CH2 pada tolbutamid (antidiabetik oral) dengan isoster Cl
pada klorbutamid membuat masa kerja (durasi) kloebutamid lebih lama
dibangdingkan gugus CH3

2.4 Modifikasi Molekul Obat

Merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk penemuan obat baru.
Dasar modifikasimolekuler : pemilihan senyawa pemandu / lead compound
(senyawa dengan aktivitas biologis sudah diketahui), kemudian diuji senyawa lain
yang mirip, homolog atau analog


Pendekatan ekstratermodinamika
Rancangan obat, terdiri dari:
1. Studi interaksi obat-reseptor
2. Kuantitatif dan penerapan studi orbital molekul
Struktur kimia dari senyawa mengakibatkan tanggapan biologis, yang dapat dihubungkan
secara matematika.
Rumus matematika dari aktivitas biologis tersebut tergantung susunan struktur kimianya
Persamaan Crum. Brown&Frazer, 870 :
= f (c) . dimana : = ukuran efek biologis
C = cirri-ciri struktur kimia
11

RICHET 1893, memberikan hipotesis aksi narkotika kelarutan senyawa organic
berbanding terbalik dengan kelarutan dalam air
MEYER OVERTON, memberikan hipotesisAksi narkotik senyawa organik sejajar
dengan koefisien partisi minyak air yang dibuktikan dengan kelarutan senyawa netral
dalam air sejajar dengan koefisien partisi oktanol-air.
Pendekatan diskoneksi
Di laboratorium kimia organic tentu saja ahli kimia organic sintetik sangat intens
melakukan penelitian semisintetik. Demikian juga halnya ahli kimia industri telah banyak
menghasilkan produk sintetik seperti : bahan-bahan farmasi, berbagi surfaktan, pupuk
kimia, polimer, zat warna, pewangi dan masih banyak yang lainnya. Berbagai cara telah
dilakukan oleh para ahli agar sintesis senyawa organik melalui proses sintetik. Dewasa
ini telah berkembang suatu metode sintetis organic melalui pendekatan pemutusan
(diskoneksi) atau pendekatan sinton atau retrosintesis. Retrosintesis adalah proses
pembelahan molekul target sintesis menuju ke material start yang tersedia melalui
serangkaian pemutusan ikatan (diskoneksi) dan perubahan gugus fungsi atau
interkonversi gugus fungsional (IGF)
Retrosintesis merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah struktur dari
molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana melalui jalur yang
berakhir pada suatu material start ysng sesuai dan mudah didapatkan untuk keperluan
sintesis (Smith, 1994)
Dengan cara ini, struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih dahulu yang
dikenal sebagai molekul target (MT). selanjutnya MT dipecah/dipotong/diputus dengan
seri diskoneksi.
Diskoneksi merupakan operasi balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang
dibayangkan dari suatu ikatan agar memutus molekul ke dalam material start yang
mungkin. Diskoneksi seringkali tidak mudah dilaksanakan, tetapi ikatan yang diputuskan
haruslah berhubungan dengan reaksi-reaksi yang dipercaya serta metodenya dapat
dikerjakan di laboratorium. dari hasil diskoneksi, akan didapatkan bahan awal (Stratinr
Material) atau sinton yang tersedia atau disediakan melalui suatu reaksi Interkonversi
Gugus Fungsi (IGF).
12

Pedoman yang sangat penting untuk meripta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi
adalah sebagai berikut :
1. Analisis :
a. Mengenal gugus fungsional dan molekul target (MT)
b. Melakukan diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi-
reaksi yang mungkin.
c. Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil pemutusan (sinton) tersedia sebagai
starting Material.
2. Sintesis :
a. Membuat rencana berdasarkan analisis Starting Material dan kondisi sintesis.
b. Bila tidak berhasil dalam sintesis dilakukan pengkajian ulang analisis.
Dengan demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis
dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik maupun
jenis-jenisnya serta mekanismenya. Ada kalanya pada waktu melakukan analisis terhadap
bahan awal (Starting Material) hasil diskoneksi harus diperoleh dari suatu hasil sintetik
yang dikenal dengan IGF tadi, karena reaksoi senyawa organik tidak lain dan tidak bukan
adalah transformasi gugus fungsional.
dari penjelasan ini, jelaslah bahwa diskoneksi pada hakekatnya adalah merupakan
kebalikan langkah sintetik (retrosintesis). Ikatan yang didiskoneksi adalah yang diyakini
reaksi tersebut dapat dapat berlangsung berdasarkan kaedah-kaedah dan jenis-jenis reaksi
yang mungkin.
(Adapted by: Organic Synthesis :The disconnection Approach; Stuart Warren, Kimia
Organik Fisik; Marhan Sitorus)
Contoh pendekatan diskoneksi :
1. Keton, sebagai material start dapat menghasilkan vitamin A, dan senyawa parfum.


Keton
13


SINTESIS :


Meripta sintesis
Dengan strategi analisis dan sintesis
1. Analisis
a. Kenali gugus fungsional dalam molekul target
b. Diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi yang di ketahui
c. Ulangi secukupnya untuk mendapat material start tersedia
2. Sintesis
a. Tulis reaksi menurut analisis dengan menambah reagen.
b. Periksa reaksi rasional dengan kondisi telah dipilh
Untuk meripta, haruslah :
Mekanisme reaksi organik
Reaksi dapat dipercaya
Tersedia senyawa
Paham streokimia
Prinsip dasar :
sintesis senyawa aromatic. Diskoneksi interkonversi gugus fungsional (IGF) sinton,
contoh :
1. Benzokaina = molekul target 1
14

Analisis1.


Analisis 2 :




Analisis 3 :



SINTESIS :


2. Hawthorn blossom perfume = molekul target 2
Analisis :
15



SINTESIS :



Berikut merupakan contoh molekul target (MT)
1. Benzil aseton yang digunakan sebagai pembuatan parfum

16

Analisis :



SINTESIS :



2. Paracetamol (N-asetil p aminofenol) = molekul target

Paracetamol
Analisis :
17



SINTESIS :


















18

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Senyawa penuntun merupakan senyawa yang digunakan sebagai Pangkal Tolak
modifikasi molekul. Senyawa penuntun adalah senyawa yang dapat menimbulkan
aktivitas biologis, seperti Aksi terapetik, Aksi Toksik, Regulasi Fisiologik, Hormon dan
Feromon, serta senyawa yang terlibat atau berpengaruh terhadap proses biokimia pada
hewan atau tumbuh-tumbuhan. (Siswandono dan Soekardjo, 1998). Senyawa penuntun
tersebut dikembangkan lebih lanjut, melalui modifikasi molekul sehingga didapatkan
turunan senyawa dengan aktivitas yang diinginkan
Prosedur modifikasi molekul dengan pendekatan pada gugus fungsional,
merupakan hal yang sering dilakukan atas dasar pendekatan ini, maka sistematika
modifikasi antara lain dapat dilakukan sebagai berikut (Nogrady, 1985; Silverman, 1992)
1. Homologasi dan percabangan rantai
2. Pemasukan ikatan rangkap
3. Perubahan cincin rantai
4. Mempertahankan Topologi Struktur
5. Penetapan dasar isoterisme
Modifikasi molekul obat merupakan metode yang paling banyak digunakan untuk
penemuan obat baru. Dasar modifikasimolekuler : pemilihan senyawa pemandu / lead
compound (senyawa dengan aktivitas biologis sudah diketahui), kemudian diuji senyawa
lain yang mirip, homolog atau analog.