Anda di halaman 1dari 4

Senyawa Berikatan Ion

Selain senyawa dengan ikatan kovalen, dikenal pula senyawa dengan jenis ikatan lain,
yaitu ikatan elektrovalen atau ikatan ion yang didasarkan atas tarikan elektrostatis antara ion
yang berlawanan muatan. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Kossel, Lewis dan Langmuir
yang menerapkan struktur Kristal dari zat padat.
Ion- ion terbentuk akibat perpindahan sempurna dari electron antara atom-atom, Energi
ionisasi merupakan pembentuk ion positif dari atom netralnya sedangkan afinitas electron
merupakan pembentuk ion negative dari pelepasan atom netral yang menarik electron. Gaya
antaraksi Coulomb terjadi akibat dari ion-ion yang saling tarik menarik jika antar ion saling
berlawanan muatannya dan tolak-menolak dengan atom yang sejenisnya.
Tidak semua senyawa berikatan kovalen murni atau berikatan ionik murni. Peralihan dari
ikatan kovalen murni ke ikatan ion dinyatakan dengan karakter ion. Karakter ion dinyatakan oleh
nilai-nilai keelektronegatifan dan juga perubahan warna dari suatu senyawa Kristal.
Energy Kisi Kristal dan Jari-jari Ion
a. Gaya antar ion , energy kisi Kristal dan siklus Born-Haber
Kisi Kristal adalah kumpulan dari satuan-satuan kecil yang disebut sel satuan dan ion-ion
dinyatakan sebagai titik-titik. Ikatan ion terjadi karena antaraksi elektrostatik antar ion yang
berlawanan muatan, contohnya :
Na
(g)
Na
+
(g)
+ e
-
I= 495,8 kJ/mol
Cl
(g)
Cl
-
(g)
E= -349 kJ/mol
Menurut M. Born (1918) Energi kisi didefinisikan sebagai energy yang dilepaskan bila satu mol
kation dan satu mol anion berupa gas didekatkan dari jarak tak terhingga sampai kedudukan
kesetimbangan dalam kisi Kristal atau perubahan dalam U untuk reaksi :
M
z+

(g)
+ X
z-

(g)
MX (padat)
Menurut Born dan lande selain energy tarikan harus diperhitungkan pula energy tolakannya,
maka energy kisi untuk N kation dan N anion dengan N= Bilangan Avogadro



A=tetapan Madelung , n= Eksponen Born , R= pemisahan ion dalam Kristal ada pada keadaan
setimbang.

Suatu cara untuk mendapatkan nilai energy Kristal dikemukakan oleh Born dan Haber
dengan menggunakan natrium klorida sebagai contohnya. Tahap tahap dalam siklus Born
Haber didasarkan dari seklus hokum Hess

Berdasarkan hokum Hess :
H = H
1
+ H
2
+ H
3
+ H
4
+ H
5

-410 = 108 +121 + 489 ( 365 + DH
5
)
Karena H
5
adalah eksoterm , maka nilainya negative , yaitu -763 kJ/mol dan nilai ini
adalah nilai energy kisi Kristal.
b. Ukuran ion dan jari-jari Kristal
Ukuran ion ditentukan oleh gaya tarik terhadap electron luar oleh muatan inti positif yang efektif
, muatan ini efektif = muatan inti nyata pengaruh electron penyaring atau electron dalam.
r
+
< r
atom netral
< r
-

jari-jari Kristal umumnya lebih kecil dari jari-jari ion , karena bertambahnya muatan
memperbesar gaya tarik antara ion-ion. Jari-jari ion juga berubah dengan berubahnya bilangan
koordinasi. Jari-jari ion berubah secara teratur untuk unsure-unsur dalam satu golongan dari atas
ke bawah dari susunan berkala, karena muatan inti positif diimbangi oleh efek saringan dari
electron valensi dari inti.
Susunan yang paling stabil adalah apabila ion saling bersinggungan dan tersusun secara
simetrik. Ada 2 faktor yang mempengaruhinya yaitu ukuran relative dari ion-ionnya dan secara
keseluruhan harus netral listrik. Susunan yang paling stabil untuk bilangan koordinasi 2 adalah
bentuk linier, karena mengurangi tolakan antar dua ion , susunan yang paling stabil untuk
bilangan koordinasi 3,4,6 dan 8 adalah coplanar,tetrahedral , octahedral dan kubus.
Perbandingan jari-jari ion secara garis besar dapat digunakan untuk meramalkan struktur
suatu Kristal ion. Perbandingan jari-jari ion>0,732 memberikan struktur kubus sedangkan
perbandingan antara 0,732 dan 0,414 akan memberikan struktur octahedral. Bilangan koordinasi
ion positif tak selalu harus sama dengan bilangan koordinasi ion negative,
Skala keelktronegatifan

- Peralihan antara ikatan kovalen dan ikatan ion
Suatu senyawa AB yang memiliki ikatan ekstrim akan mengalami peralihan ikatan dan
parameter yang dapat digunakan adalah keelektronegatifan relative dari atom A dan B. kedua
struktur tersebut memiliki pasangan electron dan konfigurasi inti yang sama, sehingga dapat
terjadi resonansi.
Ikatan kovalen biasa bersifat adiktif, artinya energy ikatan A-B adalah harga rata-rata dari
energy ikatan A-A dan B-B. Bila didefinisikan besarannya :
= D (A B ) { D (A-A) + D (B-B) }
Karakteristik Ikatan Ion
Ikatan ion terjadi antara ion dan sejumlah ion tetangga. Arahnya tak terarah dan struktur
ionnya terutrama ditentukan oleh geometri dan kenetralan muatan listrik dari struktur secara
keseluruhan.
Molekul tak terjadi dalam struktur ionic, karena electron terlokalisasi dalam orbital atom
dari ion. Dalm ion kompleks seperti [ NO
3
]
-
atau [CO
3
]
2-
. Ikatan kovalen terdapat dalam ion
kompleks, tetapi ikatan ion terjadi antara ion-ion ini dengan kation, seperti dalam NaNO
3
dan
CaCO
3
.
Padatan ionic merupakan Kristal keras dengan gaya kompresi dan gaya ekspansi yang
rendah, tetapi titik leleh yang tinggi. Bahan tersebut merupakan isolator listrik dalam keadaan
padat, tetapi bila berupan lelehan atau dalam larutan yang pelarut yang sesuai, zat dapat
menghantarkan arus listrik. Sifat ini membedakan padatan ionic dari padatan kovalen dan
padatan Van Der Walls.
Kelarutan Dari Senyawa Ionik
Pada umumnya padatan ionic larut dalam air sedangkan padatan kovalen tidak larut. Namun
demikian penurunana kelarutan tak selalu dapat dikaitkan dengan kenaikan karakter kovalen
AgF > AgCl > AgBr > AgI
2
(dari kiri kekanan kelarutan berkurang, karakter ion dan polarisasi
bertambah )
CaF
2
> CaCl
2
> CaBr
2
> CaI
2
( dari kiri kekanan kelarutan bertambah karakter ion dan polarisasi
bertambah)
Masalah kelarutan padatan ionic harus ditinjau dari segi antaraksi antara ion-ionnya. Ada
2 jenis antaraksi, yaitu antara ion dan molekul air disatu pihak, dan antara ion dalam Kristal.
Kedua jenis antaraksi tersebut naik dengan semaikin kecilnya ion dan semakin besarnya muatan.
G
0
d
= H
0
d
- T S
0
a
Hubungan antar kearutan dan energy Kristal dinyatakan sebagai perubahan entalpi :
H
0
d
+ H
0
c
= H
0
h

H
0
h
= perubahan entalpi hidrasi standar
H
0
c
= energy Kristal standar
Bila G
d
negative , maka padatan dapat larut.