Anda di halaman 1dari 9

BAB III

METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan Beserta Fungsi
a. Alat
Gunting : untuk memeotong daun
Cangkul : untuk menggali dan mengambil tanah
Pisau : untuk memotong bawang
Polybag : wadah media tanam
Timbangan : menimbang berat umbi
Gembor : untuk menyiram tanaman
b. Bahan
Umbi Bawang merah : sebagai bahan tanam
Pupuk kandang : sebagai sumber nutrisi bagi tanaman pada media tanam
Tanah : sebagai media tanam
Air : sebagai pelarut unsur hara dalam tanah sehingga dapat diserap
tanaman
3.2 Cara Kerja
Menyiapkan polybag ukuran 5 kg melubangi alas dan sampingnya

Mengaduk dan mencampur tanah dengan pupuk kandang dengan ukuran 1:5

Memasukkan tanah kedalam polibag

Menyaiapkan 5 benih bawang merah, potong 1/3, mendiamkan selama 2 x 48 jam hingga
getah menjadi kering serta menimbang bobotnya

Menanam benih pada polybag dengan perlakuan per polybag 4 umbi

Melakukan pengamatan selama 6 minggu dan melakukan perawatan

Pada waktu perawatan diberikan perlakuan berupa pemotongan 0%, 10%, 25%, 50% dan
75% daun pada tanaman yang berada di polybag berbeda

Melakukan pemeliharaan hingga panen


Setelah itu melakukan pemanenan

Melakukan penimbangan bobot umbi setelah panen

Mencatat hasilnya
3.3 Analisis Perlakuan
Perlakuan bertujuan untuk melihat berapa pengaruh kerusakan tanaman pada hasil
produksi tanaman. Diujikan dengan bawang merah yang dipotong daunnya beberapa
persen tergantung tingkat kerusakan, dan dilihat berapa produksi bawang merah dengan
kerusakan. Dengan ini bisa diperkirakan berapa produksi yang dapt dihasilkan dengan
jumlah hama dan jumlah kerusakan pada tanaman. Untuk pemotongan 1/3 bagian bahan
tanam bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan pengeringan getah agar saat ditanam
bahan tanam tidak menjadi busuk. Pada beberapa model pemotongan akan didapatkan
beberapa hasil yang berbeda. Tujuan pemotongan ialah untuk mengeluarkan getah sehingga
pertumbuhan menjadi lebih cepat. Pada perlakuan penanaman di polybag yaitu tiap polybag
di beri masing-masing 4 bibit. Kemudian dilakuakan pengamatan selama 6 minggu hingga
pada fase panen. Kemudian menimbang kembali bobot umbi setelah panen untuk mengetahui
perbedaan penimbangan anatar sebelum dan sesudah masa tanam.















BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Tabel dan Grafik Hasil Pengamatan
Tabel
Perlakuan Jumlah Tanaman Bobot awal Umbi Bobot akhir Umbi
0 % pemotongan 3 hidup, 1 mati 14,9 gr 2,3 gr
10 % pemotongan 4 hidup, 0 mati 8 gr 0,2 gr
25 % pemotongan 2 hidup, 2 mati

9,4 gr 4,1 gr
50 % pemotongan 1 hidup, 3 mati 13 gr 10,7 gr
75 % pemotongan 4 hidup, 0 mati 10,3 gr 1,8 gr

Grafik

4.2 Klasifikasi Alium Ascalonicum L
Menurut Rahayu dan Berlian (1999) tanaman bawang merah dapat diklasifikasikan
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Liliales
Family : Liliaceae
Genus : Alium
Spesises : Alium ascalonicum L.
4.3 Dokumentasi Hasil Pengamatan
Penanaman dilakukan tgal 11 apr 2014
PENGAMATAN I 14 Apr 2014
3 hari setelah penanaman

PENGAMATAN II 28 apr 2014
2 Minggu setelah pengamatan I


PENGAMATAN III 5 mei 2014
Seminggu setelah pengamatan II
Pada pengamatan ke III dilakukan perlakuan pemotongan daun sesuai kelompok perlakuan


Kontrol 0%

10 % pemotongan daun

25 % pemotongan daun

50 % pemotongan daun

75 % pemotongan daun


4.4 Pembahasan dengan Literatur
Dari hasil praktikum didapatkan yang memiliki bobot umbi paling tinggi adalah
dengan pemotongan umbi 50%, yang kedua 25%, ketiga tanpa pemotongan dan yang
keempat adalah dengan pemotongan 75% dan yang paling rendah adalah dengan
pemotongan 10%. Data yang diperoleh tersebut tidak sesuai dengan literature yang
didapatkan. Selisih antara umbi yang tertinggi ke bobot umbi yang kedua cukup jauh. Dari
data pengamatan umbu dengan pemotongan 50% memiliki berat tertinggi padahal
dengan hilangnya 50% daun seharusnya terjadi gangguan terhadap proses fisiologis
tanaman.
Hubungan anatara intensitas luka, kerusakan dengan hasil tanaman yaitu semakin
besar intensitas luka maka kerusakan yang terjadi semakin tinggi dan hasil produksi
suatu tanaman akan semakin rendah. Hal ini karena kerusakan daun yang semakin tinggi
menyebabkan terganggunya proses pengiriman hasil fotosisntesis untuk pembent ukan
umbi, sehingga berat umbi menjadi berkurang ( Arifin. 1993 )
Dalam PHT, pengendalian hama merupakan satu kesatuan system pengelolaan
ekosistem pertanian dengan penekanan pada upaya memadukan secara optimal semua
teknologi pengendalian hama yang cocok dan mendorong fungginya proses
pengendalian alami yang mampu mempertahankan populasi hama pada tingkat
keseimbangan rendah. Tujuannya adalah : menurunkan status hama, menjamin
keuntungan petani, melestarikan kualitas lingkungan dan menyelesaikan masalah hama
secara berkelanjutan ( Pedigo dan Higley 1992).
Pertanyaan :
a. Dari histogram yang diperoleh menunjukkan gambaran respon tanaman terhadap besarnya
luka dan kerusakan tanaman. Bagaimana analisa terhadap histogram tersebut ?. Apakah
sudah sesuai dengan respon tanaman terhadap besarnya luka ?. Mengapa demikian ?
b. Bagaimanakah hubungan antara intensitas luka dengan hasil tanaman ?
c. Setelah memepelajari hubungan antara tingkat luka dan kerusakan dengan hasil tanaman,
apa yang perlu direkomendasikan pada pertanaman yang terinfestasi hama dengan tingkat
kerusakan tertentu terutama dalam hal pengendalian hama apakah sudah sesuai dengan
konsep PHT ?. Hubungkan dengan Aras Ekonomi (AE) dan Aras Luka Ekonomi (ALE)
serta apakah perlu penggunaan pestisida ?.
Jawaban :
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa terdapat hubungan antara tingkat luka
atau kerusakan terhadap produksi tanaman. Parameter yang dilihat yatu perlakuan (%) dan
berat umbi (gr) pada masing-masing perlakuan. Pada umbi yang tidak dilukai dapat
diketahui bahwa berat umbi yang didapat sebesar 2,3 gr, pada umbi yang diberi perlakuan
10% luka didapatkan berat sebesar 0,2 gr, pada umbi yang diberi perlakuan 25% luka yang
diperoleh berat umbi sebesar 4,1 gr, pada umbi yang diberi perlakuan 50% luka yang
diperoleh berat umbi sebesar 10,7 gr, sedangkan pada umbi yang diberi perlakuan 75% luka
yang diperoleh berat umbi sebesar 1,8% gr. Dari data yang diperoleh tersebut dapat
disimpulkan bahwa perbedaan luka berpengaruh terhadap berat umbi yang dihasilkan,
namun besarnya luka tidak mempengaruhi besarnya kehilangan hasil bawang yang
dihasilkan. Hal tersebut tidak sesuai dengan literatur yang ada. Berdasarkan hasil penelitian
yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa semakin besar luka pada suatu tanaman
menyebabkab produksi atau hasil dari tanaman akan semakin rendah. Luka yang terdapat
pada tanaman tersebut mengalami gangguan sehingga proses metabolisme tidak dapat
berlangsung secara optimal.
Hubungan antara intensitas luka, kerusakan dan hasil tanaman saling terkait antara
satu dengan yang lain. Luka berupa penyimpangan yeng terjadi pada tanaman karen aktivitas
atau serangan hama dapat menyebabkan adanya kehilangan ( hasil ) pada tanaman, hal inilah
yang disebut dengan kerusakan (Untung, 2010). Apabila dikaitkan dengan konsep
Pengendalian Hama Terpadu (PHT) maka ketika terjadi suatu serangan dengan tingkat
kerusakan tertentu maka perlu adanya pemahaman dan penerapan dasar teori Ambang
Ekonomi (AE) Ambang Luka Ekonomi (ALE). Berdasarkan literatur yang didapatkan bahwa
nilai ALE dan AE sangat diperhitungkan dalam hal ekonomi. Dari nilai ALE dapat dihitung
nilai AE yang besarmya 3/4 atau 2/3 ALE, sedangkan ALE dihitung dengan menggunakan
titik impas (BEP). ALE adalah suatu populasi atau intensitas serangan dimana nilai hasil
kehilangan dapat diselamatkan dengan pengendalian hama yaitu menggunakan pestisida.
Maka dari itu semakin tinggi ALE / AE penggunaan pestisida semakin jarang atau sedikit
dan sebaliknya (Untung, 2010).



BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil praktikum didapatkan yang memiliki bobot umbi paling tinggi adalah
dengan pemotongan umbi 50%, yang kedua 25%, ketiga tanpa pemotongan dan yang
keempat adalah dengan pemotongan 75% dan yang paling rendah adalah dengan
pemotongan 10%. Data yang diperoleh tersebut tidak sesuai dengan literature yang
didapatkan. Selisih antara umbi yang tertinggi ke bobot umbi yang kedua cukup jauh. Dari
data pengamatan umbu dengan pemotongan 50% memiliki berat tertinggi padahal
dengan hilangnya 50% daun seharusnya terjadi gangguan terhadap proses fisiologis
tanaman.
Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa terdapat hubungan antara tingkat luka
atau kerusakan terhadap produksi tanaman. Parameter yang dilihat yatu perlakuan (%) dan
berat umbi (gr) pada masing-masing perlakuan. Pada umbi yang tidak dilukai dapat diketahui
bahwa berat umbi yang didapat sebesar 2,3 gr, pada umbi yang diberi perlakuan 10% luka
didapatkan berat sebesar 0,2 gr, pada umbi yang diberi perlakuan 25% luka yang diperoleh
berat umbi sebesar 4,1 gr, pada umbi yang diberi perlakuan 50% luka yang diperoleh berat
umbi sebesar 10,7 gr, sedangkan pada umbi yang diberi perlakuan 75% luka yang diperoleh
berat umbi sebesar 1,8% gr. Dari data yang diperoleh tersebut dapat disimpulkan bahwa
perbedaan luka berpengaruh terhadap berat umbi yang dihasilkan, namun besarnya luka tidak
mempengaruhi besarnya kehilangan hasil bawang yang dihasilkan.














DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M. 1993. Pengambilan keputusan pengendalian ulat grayak Spodoptera litura (F.)
berdasarkan ambang ekonomi dan teknik penarikan contoh pada kedelai, pp. 49-84.
Dalam M.Syam et al. (eds.). Risalah Seminar Puslitbang Tanaman Pangan April
1992 Maret 1993. Puslitbang Tanaman pangan. Bogor
Pedigo, Alvin and Higley, Thomas. 1992. Management of Onion for Agriculture Research.
One Rich Publishing, New York.
Rahayu, E, dan Berlian,N. V. A, 1999. Bawang Merah. Penebar swadaya, Jakarta,
Hlm4.
Untung, Kasumbogo. 2010. Diklat Dasar-Dasar Ilmu Hama Tanaman Jurusan Hama dan
Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta.