Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS SULFAT (SO

4
2-
) SECARA TURBIDIMETRI DENGAN
SPEKTROFOTOMETER UV-VIS
Dian Anggraeni, NIM : 12231029

INTISARI
Pengujian Kandungan sulfat (SO
4
2-
) telah dilakukan pada 3 sampel air yang diambil dari
air sungai daerah turi, air sungai daerah degolan dan air sawah daerah candisari. Ion sulfat
(SO
4
2-
) dianalisis dengan metode turbidimetri (kekeruhan) dan diukur serapannya dengan alat
spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 420 nm. Analisis data menggunakan metode
kurva kalibrasi dengan persamaan regresi linear y = 0,003x 0,004 dan koefisien determinasi
(R
2
) sebesar 0,980. Kandungan Sulfat (SO
4
2-
) pada sampel 1, 2, dan 3 masing-masing adalah
17,513; 12,385 dan 22,128 ppm. Berdasarkan Permenkes No.416/MENKES/PER/IX/1990, yaitu
400 ppm untuk kualitas air bersih dan Permenkes No.429/MENKES/PER/IV/2010, yaitu 250
ppm untuk kualitas air minum, maka ketiga sampel air masih berada di bawah ambang batas.

Kata Kunci : sulfat (SO
4
2-
), spektrofotometer UV-Vis, kurva kalibrasi

1. PENDAHULUAN
Sulfat merupakan sejenis anion poliatom
dengan rumus SO
4
2-
yang memiliki massa
molekul 96,06 satuan massa atom. Ion sulfat
terdiri dari atom pusat sulfur yang dikelilingi
oleh empat atom oksigen dalam susunan
tetrahedral. Ion sulfat bermuatan negatif dua
dan merupakan basa konjugat dari ion
hidrogen sulfat (bisulfat), HSO
4
-
, yang
merupakan basa konjugat dari asam sulfat,
H
2
SO
4.
Sulfat didalam lingkungan (air) dapat
berada secara ilmiah dan atau dari aktivitas
manusia, misalnya dari limbah industri dan
limbah laboratorium. Secara ilmiah sulfat
biasanya berasal dari pelarutan mineral,
misalnya gips (CaSO
4
.2H
2
O) dan kalsium
sufat anhidrat ( CaSO
4
). Selain itu dapat
juga berasal dari oksidasi senyawa organik
yang mengandung sulfat adalah antara lain
industri kertas, tekstil dan industri logam
(Aprianti M. , 2008).
Ion sulfat adalah salah satu anion utama
yang muncul di air alami atau alam. Sulfat
adalah salah satu ion penting dalam
ketersediaan air karena efek pentingnya bagi
manusia saat ketersediaannya dalam jumlah
besar. Untuk hal tersebut direkomendasikan
batas maksimal sulfat dalam air sekitar 250
mg/l untuk air yang dikonsumsi manusia.
Menyebabkan Laxative apabila kadarnya
berupa Magnesium dan Sodium. Senyawa
sulfat bersifat iritasi pada saluran
pencernaan (saluran gastro intestinal),
apabila dalam bentuk campuran Magnesium
atau Natrium pada dosis yang tidak sesuai
aturan ( (Adinata, 2012).
Peningkatan kadar sulfat dapat ditentukan
dengan timbulnya bau, rasa tidak enak dari
air serta masalah korosi pada perpipaan. Hal
ini diakibatkan oleh reduksi sulfat menjadi
hidrogen sulfida dalam kondisi anaerobic.
H
2
SO
4
merupakan asam kuat yang
selanjutnya akan bereaksi dengan logam-
logam yang merupakan bahan dari pipa yang
digunakan sehingga terjadi korosi.
Sementara itu, masalah bau disebabkan
karena terbentuknya H
2
S yang merupakan
suatu gas yang berbau (Aprianti M. , 2008).
Pemantauan paparan sulfat sangat
berpengaruh pada kualitas air yang nantinya
dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Oleh karena itu, konsentrasi sulfat perlu diuji
dan dianalisis. Tujuan dari pengujian ini
adalah untuk menentukan penanganan yang
efektif terhadap air limbah sebelum dialirkan
ke badan air.

2. METODE PERCOBAAN
Alat
Peralatan yang digunakan pada
praktikum kali ini adalah alat-alat gelas,
alat-alat plastik, dan neraca analitik (Ohaus).
Alat analisis yang digunakan adalah
spektrofotometri UV-Vis (Hitachi U-2010).

Bahan
Bahan yang digunakan pada
praktikum ini adalah kristal BaCl
2
(Merck),
Natrium sulfat anhidrat (Merck), asam asetat
glasial (Merck), MgCl
2
. 6H
2
O (Merck),
KNO
3
(Merck), CH
3
COONa . 3H
2
O
(Merck), akuades, sampel limbah air
permukaan sesuai SNI 6989.59:2008.

Cara Kerja
Pengujian sulfat pada limbah air
permukaan dilakukan dengan membuat
larutan penyangga pH (Buffer) dan larutan
induk sulfat 100 ppm dari larutan induk
sulfat 1000 ppm. Selanjutnya dibuat larutan
deret standar dari larutan induk 100 ppm
dengan variasi konsentrasi 0 ppm; 10 ppm;
20 ppm dan 30 ppm. Larutan deret standar
dan sampel di masukkan ke dalam
erlenmeyer lalu ditambahkan 4 ml larutan
penyangga pH (Buffer) dan 0,1 gram BaCl
2
.
Larutan diaduk dengan magnetik stirer
hingga didapat kekeruhan yang konstan.
Larutan deret standar dan sampel yang telah
selesai dipreparasi, diukur absorbansinya
dengan spektrofotometer UV-Vis pada
panjang gelombang 420 nm.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum kali ini adalah analisa sulfat
(SO
4
2-
) secara turbidimetri dengan
spektrofotometer UV-Vis. Pada metode
turbidimetri (kekeruhan) ini digunakan
reagen kondisi (buffer) dan kristal barium
klorida. Prinsipnya yaitu terbentuknya
koloid BaSO
4
berupa larutan keruh karena
anion sulfat akan bereaksi dengan barium
klorida dalam suasana asam membentuk
koloid barium sulfat. Penambahan kristal
BaCl
2
bertujuan agar ion sulfat dalam
sampel berikatan dengan ion Ba
2+
dari
kristal sehingga terbentuk garam BaSO
4
.
Kelarutan garam ini sangat kecil dalam air
sehingga akan mengendap dalam bentuk
endapan koloid putih. Pengukuran
spekrofotometri tidak dapat dilakukan jika
sulfat berada dalam bentuk endapan. Oleh
karena itu, ditambahkan reagen kondisi
(buffer) untuk menstabilkan koloid yang
terbentuk sehingga garam BaSO
4
berada
dalam bentuk koloid tersuspensi. Semakin
tinggi konsentrasi sulfat dalam sampel maka
akan semakin keruh pula larutan yang
terbentuk.

SO
4
2-
+ BaCl
2
putih BaSO
4
+ 2Cl
-


Larutan ini kemudian diukur dengan
menggunakan spektrofotometer UV-Vis
pada panjang gelombang 420 nm. Batas
kadar sulfat terlarut yang terdapat dalam air
yang dapat diukur adalah 1-40 mg/L pada
panjang gelombang 420 nm (SNI 06-2426-
1991).
Sebelum pengukuran absorbansi
dilakukan, terlebih dahulu harus diketahui
panjang gelombang optimum dan waktu
kestabilan warna dari suspensi koloid yang
akan diukur. Panjang gelombang optimum
adalah panjang gelombang yang
memberikan nilai absorbansi tertinggi.
Panjang gelombang maksimalnya adalah
420 nm.
Analisis data pada pengujian ini
menggunakan metode kurva kalibrasi, seperti
pada Tabel 1 dan Gambar 1.

Tabel 1.Absorbansi Larutan Standar
Standar Konsentrasi Absorbansi
1 0 0
2 10 0,033
3 20 0,065
4 30 0,12


Gambar 1. Kurva Kalibrasi Konsentrasi
Vs Absorbansi sulfat (SO
4
2-
)
Data pengukuran ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi konsentrasi larutan standar
maka semakin tinggi pula nilai
absorbansinya. Hubungan ini membentuk
garis linier dalam grafik yang menunjukan
bahwa absorbansi adalah fungsi dari
konsentrasi. Garis regresi yang diperoleh
memiliki persamaan y = 0,003x - 0,004
dengan nilai R
2
sebesar 0,980. Nilai ini
menunjukan bahwa linearitas dari kurva
adalah baik dan dapat digunakan dalam
penentuan konsentrasi sampel.

Tabel 2. Konsentrasi Dan Absorbansi
Sampel
Berdasarkan hasil yang didapat,
praktikum ini menunjukkan bahwa kadar
sulfat pada sampel limbah air permukaan
yang diambil masih berada dibawah ambang
batas menurut permenkes
No.416/MENKES/PER/IX/1990, yaitu 400
ppm untuk kualitas air bersih dan permenkes
No.429/MENKES/PER/IV/2010, yaitu 250
ppm untuk kualitas air minum. Namun
demikian, sampel limbah air ini tetap tidak
baik untuk dikonsumsisebelum diolah lebih
lanjut karena dari segi fisik telah berwarna
keruh sehingga tidak sesuai dengan
parameter air bersih. Di sisi lain, ditinjau
dari segi kualitas air bersih, penelitian ini
menunjukkan bahwa kadar sulfat ini masih
dapat diterima oleh lingkungan karena daya
dukung lingkungan masih sanggup untuk
menetralkannya. Namun, sampel ini tidak
hanya mengandung sulfat sehingga belum
dapat disimpulkan apakah sampel ini ikut
berkontribusi dalam mencemari lingkungan
perairan sekitar atau tidak.
4. KESIMPULAN
Sampel limbah air permukaan yang
diambil dari tiga titik (air sungai daerah turi,
air sungai daerah degolan dan air sawah
daerah candisari) telah dianalisis kandungan
sulfatnya dengan spektrofotometer UV-Vis.
Sampel dari ketiga titik tersebut masih
berada dibawah ambang batas menurut
permenkes No.416/MENKES/PER/IX/1990,
yaitu 400 ppm untuk kualitas air bersih dan
permenkes No.429/MENKES/PER/IV/2010,
yaitu 250 ppm untuk kualitas air minum.

DAFTAR PUSTAKA

Adinata, H. (2012). Penentuan Kandungan
Fosfat, Sulfat dan Sulfida Air Sungai
Siak dan Sungai Kampar dari Hasil
Penyaringan Konvensional yang
Dimodifikasi untuk Mendapatkan Air
Baku Air Minum. FMIPA-UR,
Pekanbaru.
Aprianti, M. (2008). Analisis Kandungan
Boron, Seng, Mangan dan Sulfat
dalam Air Sungai Mesjid sebagai Air
Baku PDAM Dumai. FMIPA-
UR,Pekanbaru.
Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia
Analitik. UI-Press, Jakarta.

0
0.033
0.065
0.12
y = 0.0039x - 0.0043
R = 0.9809
-0.05
0
0.05
0.1
0.15
0 20 40
Konsentrasi Vs Absorbansi
Sampel Lokasi Absorbansi
Konsent
rasi
Titik 1
air sungai
turi 0,064
17,513
ppm
Titik 2
air sungai
degolan 0,044
12,385
ppm
Titik 3
air sawah
candisari 0,082
22,128
ppm