Anda di halaman 1dari 29

5

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengenalan Unit Motor Grader

Gambar 2.1 Motor Grader GD 825A-2
Sumber: product knowledge komatsu

Motor grader berfungsi sebagai alat untuk membuat jalan,seperti membentuk
jalan, meratakan jalan dan finishing, karena Motor Grader GD 825A-2 di lengkapi
beberapa alat-alat perlengkapan kerja yang terpasang pada Motor Grader GD 825A-2
yang di gunakan untuk memenuhi pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Blade motor grader ini dapat di atur sedemikian rupa sehinggafungsinya bisa
dirubah menjadi angle dozer, bulldozer, ini jelas lebih flexible daripada jenis dozer.
Variasi posisi blade ini tidak berarti bahwa motor grader adalah variasi dari bentuk
dozer, karena dalam dalam pekerjaan penggusuran tanah, bulldozer jauh lebih efektif
daripada grader, hal ini disebabkan tenaga yang tersedia dan juga titik berat pada
blade billdozer. Sudut blade yang di pakai dalam pekerjaan perataan mendatangkan
problem tersendiri terhadap roda-roda motor grader, alasan inilah yang menyebabkan
mengapa dalam perencanaan motor grader, roda-rodanya dapat di atur (flexible),
dengan cara memiringkan roda-roda bagian depan. Miringnya roda-roda tersebut
yang membentuk sudut dengan arah gerakan memberikan kestabilan dalam
pengendalian



6

2.2 Final drive motor grader secara umum
Ketika Motor Grader beroperasi dengan blade membentuk sudut ke arah
depan atau dengan articulate chassis, maka akan terbentuk reaksi dalam hal ini. Gaya
yang timbul dari arah depan akan di paksa di teruskan ke sisi samping dan mesin
akan cenderung berputar ( berbelok ) ke kanan atau ke kiri tergantung pada sudut
yang terjadi saat mesin beroperasi. Dengan hal ini mesin membutuhkan kemampuan
untuk menahan (gaya dari depan) dan mesin mampu berjalan dengan lurus ke depan,
sehingga secara umum, motor grader di desain tidak memakai differential.










Gambar 2.2 articulate chasiss
Sumber: Intermediate komatsu assembly final drive-2.

Namun Motor Grader GD 825A-2 adalah tipe artikulit, sehingga ketika mesin
beroperasi dengan beban hanya menumpu di bagian salah satu sisi (di artikulasikan),
roda-roda belakang cenderung slip ke samping. Dengan alasan ini , mesin di lengkapi
dengan differential, tetapi pada unit motor grader juga di lengakapi differential lock
yang dapat di operasikan pada jalan yang tidak sempurna seperti (becek, licin,
amblas, jalanan berbatu, salju )



7


2.3 Komponen Wheel Rear Axle







Gambar 2.3. Komponen power train dan rear axle di motor grader
Sumber: product knowledge komatsu

Keterangan gambar : (6) Transmission
(17) Rear axle
(18) Drive shaft
(19) Final drives
(20) Tandem
(21) Chain assembly
(22) Wheel group
(23) Parking brake.

2.3.1 Fungsi Transmisi
Secara umum transmisi sebagai salah satu komponen sistem pemindah
tenaga (power train)mempunyai fungsi sebagai berikut :

1. Meneruskan tenaga / putaran mesin dari kopling ke poros propeler.
2. Merubah momen yang dihasilkan mesin sesuai dengan kebutuhan (beban
mesin dan kondisi jalan).
3. Memungkinkan kendaraan dapat berjalan mundur (reserve) pada kendaraan
lebih dari 2 roda.
8


2.3.2 Fungsi Drive Shaft
Meneruskan putaran dari propeller shaft menuju bevel gear, yang mana
putaran dari drive shaft membuat reduksi semakin meningkat ketika bevel
gearberputar.

2.3.3 Fungsi Rear axle
Rear axle akan menyangga beban dan meneruskan tenaga penggerak ke roda
belakang yang disebut juga driving axle.

2.3.4 Fungsi Final drive
Final drive berfungsi sebagai meneruskan tenaga akhir menuju track atau
roda. Final drive/gardan terdiri dari drive pinion gear dan ring gear. Drive pinion
gear dibuat lebih kecil dari ring gear, karena untuk mereduksi putaran agar diperoleh
momen putar yang lebih besar, dan fungsi dari drive pinion sendiri adalah untuk
memberi putaran awal yang diberikan oleh poros propeller yang nantinya akan
diteruskan oleh ring gear putarannya. Ring gear (gigi matahari) itu sendiri akan
meriduksi putaran yang diberikan oleh pinion gear yang nantinya akan memutar side
gear (roda gigi samping)yang akan mengubah gerak putar menjadi gerak lurus pada
sistem final drive Sebuah final drive adalah bagian dari sistem transmisi daya antara
poros drive dan diferential. Fungsinya adalah untuk mengubah arah gaya yang
ditransmisikan oleh poros melewati 90 derajat ke as roda mengemudi. Pada saat yang
sama. Memberikan pengurangan tetap antara kecepatan poros penggerak dan poros
penggerak roda. Pengurangan atau rasio gigi dari drive akhir ditentukan dengan
membagi jumlah gigi pada gigi cincin dengan jumlah gigi pada gigi pinion.




9



Gambar 2.4 Tandem di motor grader
Sumber: internet

2.4 Cara Kerja Sitstem Final Drivedan Tandem
Final drive adalah sebuah sistem planetary gear yang dapat meningkatkan
torsi ke roda, dan final drive mentransfer torsi ke roda. Setiap roda digerakkan oleh
rantai yang menghubungkan kendaraan roda gigi akhir ke 9procket roda pada setiap
poros roda. Final drive ini juga memberikan titik tumpu point untuk setiap roda
tandem. Differential menggerakan sun gear dan shaft. Planet gear digerakkan oleh
Sun gear Planet gear berputar pada bagian dalam ring gear. Planet gear mengerakan
Carrier. Carrier meneruskan putaran ke poros output kedua sprocket bergerak ke
masing-masing poros output dari final drive. Sprocket ini berada di tengah tandem
yang bergerak di antara roda. Chain yang berada di antara center dan sprocket roda
menggerakan setiap roda pada tandem drive.

2.5 Cara kerja Diferential lock
Differential lock umumnya digunakan pada motor grader. Differential jenis
ini dapat diaktifkan dan dikunci menggunakan differential switch pada kabin
operator. Bila operator mengingin kan machine bergerak lurus maka differential harus
di kunci. Hal ini mengakibatkan semua torsi dipindahkan ke empat roda tandem pada
semua kondisi pijakan. Untuk mengurangi radius belok machine dan untuk
mengurangi keausan pada ban maka differential lock harus dimatikan.
10

Differential untuk motor grader memiliki clutch antara side gear kiri dan
differential housing. Saat differential terkunci, solenoid akan mengalirkan oli ke
belakang piston untuk meng-engage kan clutch sehingga side gear kiri akan
berputar dengan kecepatan yang sama dengan rotating housing. Pinion gear tidak
akan berputar pada porosnya sebab spider shaft dan side gear berputar dengan
kecepatan yang sama. Pinion gear akan menahan side gear satunya. Kedua axle shaft
(kiri dan kanan) kemudian akan berputar dengan kecepatan yang sama dengan
rotating housing. Bila differential switch di-off-kan, solenoid akan menutup aliran oli
menuju clutch pack sehingga kedua side gear akan berputar bebas. Differential lock
mendorong salah satu dari side gear agar berputar bersama rotating housing. Ini
mengakibatkan differential bekerja seperti solid axle dan memindahkan semua torsi
ke kedua roda (kiri dan kanan). Hal ini menyebabkan kedua roda berputar dengan
kecepatan yang sama, tanpa terpengaruh kondisi pijakan.

Gambar 2.5 Differential lock
sumber: internet
2.6 Cara kerja differential
2.6.1 Pada saat jalan lurus.
Pada saat kendaraan jalan lurus pada jalan datar tahanan gelinding (rolling
resistance) pada kedua roda penggerak (drive gear) relatif sama.
Bila tahanan kedua poros axle belakang sama (A dan B) , pinion tidak
berputar sendiri tetapi ring gear, differential case dan poros pinion berputar bersama
dalam satu unit. Dengan demikian pinion hanya berfungsi untuk menghubung-kan
11

side gear bagian kiri dan kanan, sehingga menyebabkan kedua drive wheel berputar
pada rpm yang sama.

Gambar 2.6 Pada saat jalan lurus
Sumber: Intermediate komatsu assembly final drive-2.

2.6.2 Pada saat membelok.
Pada saat kendaraan membelok ke kiri tahanan roda kiri lebih besar dari pada
roda kanan. Apabila differential case berputar bersama ring gear maka pinion akan
berputar pada porosnya dan juga pergerak mengelilingi side gear sebelah kiri,
sehingga putaran side gear sebelah kanan bertambah, yang mana jumlah putaran side
gear satunya adalah 2 kali putaran ring gear.
Hal ini dapat dikatakan bahwa putaran rata-rata kedua roda gigi adalah sebanding
dengan putaran ring gear.







Gambar 2.7 Pada saat membelok
Sumber: modul learning, innovation and development (reman)

12


2.7 Planetary gear set
Planetary gear set digunakan pada berbaga sistem, contohnya torque divider,
planetary transmission, final drive dan lainlain. Dinamakan planetary gear set
karena operasinya menyerupai sistem tatasurya. Berikut adalah gambar komponen-
komponen planetary gear set.

Gambar 2.8 planetary gear
Sumber: shop manual basic powertrain komatsu

a) Komponen pada planetary gear set adalah:
1) Planet gear disebut juga planetary gear, pinion atau idler gear. Selain
berputar pada porosnya, planet gear juga berputar mengelilingi sun gear.
2) Carrier.
3) Ring gear.
4) Sun gear disebut juga centered gear.

Agar planetary gear dapat bekerja syaratnya yaitu:
- Diberi input putaran
- Salah satu komponen harus ditahan (ring gear, carrier atau sun gear).
2.8 Bearing
Bearing adalah suatu komponen yang berfungsi untuk mengurangi gesekan
pada machine atau komponen-komponen yang bergerak dan saling menekan antara
satu dengan yang lainnya, atau mengurangi gesekan data keausan serta hilangnya
tenaga akibat bagian yang saling berputar.
13










Gambar 2.9 Bearing.
Sumber: Shop Manual Guidance For Reusable Part, Bearing.

Bila gerakan dua permukaan yang saling berhubungan terhambat, maka akan
menimbulkan panas. Hambatan ini dikenal sebagai gesekan (friction). Gesekan yang
terus menerus akan menyebabkan panas yang makin lama semakin meningkat dan
menyebabkan keausan pada komponen tersebut. Gesekan yang tidak terkontrol dapat
menyebabkan kerusakan pada komponen dan alat tidak 13ias bekerja.
Bearing digunakan untuk menahan / menyangga komponen-komponen yang
bergerak. Bearing biasanya dipakai untuk menyangga perputaran pada shaft, dimana
terjadi sangat banyak gesekan.








Gambar 2.10 bearing pada output shaft
Sumber: dokumentasi pribadi
14

Tabel 2.1 Proses pembongkaran final drive motor grader GD825A-2
No Langkah kerja Gambar
1. Lepaskan baut (11), kemudian
lepaskan drive shaft (12) dari coupling


2. Tarik keluar coupling (13) dari pinion
shaft


3. Lepaskan tube (14) bersama dengan o-
ring


4. 1) lepaskan pipe (17) bersama dengan
o-ring


15

5. Lepaskan tube (19) dan (20) kemudian
lepaskan flanges (21) dan (22)


6. Lepaskan side case mounting bolts
(23) dan washer (24), kemudian
gantung dan lepaskan side case
assembly (25) dari center case

7. Lepaskan bolt (26) kemudian lepaskan
plate (27)

8. Gantung dan lepas carrier assembly

9. Lepaskan holder (34) dan shim (35)

16

10. Lepaskan sprocket (36) dari shaft

11. Lepas bearing (37) dari shaft

12. 1) tarik keluar rear axle shaft
assembly (38)
2) lepaskan bolts (39), washer (40)
dan plate (41)


17

15. Lepaskan washer (42), o-ring (43) dan
shim (44)

16. Gantung dan lepaskan flange (45)

17. 1)Tarik keluar bushing (47)
2)lepaskan washer (49) dari side case
(48)


18. Tarik keluar bearing (51) dari shaft
(50)

18


19. Lepaskan ring gear (52) dari center
case


20. Lepaskan snap ring (53) from axle
shaft, kemudian lepaskan collar (54)
dan sun gear (55)

21. Lepaskan axle shaft (56) dari center
case

19

22. Remove cover (57)


23. Lepaskan bevel pinion assembly (58)
bersama dengan shim


24. Gantung bevel gear assembly (60)

20

25.
1) lepaskan bolts (65), kemudian
lepaskan cage (62) dan (63)
2) lepaskan shim (64)
cek nomor dan ketebalan dari shim
di kiri dan kanan, dan simpan pada
tempat yang aman.
3) naikkan bevel gear assembly dan
lepaskan dari center case (61)
4) lepaskan bolts (67), kemudian
lepaskan gear (66)




Tabel 2.2 Proses pemasangan final drivemotor grader GD 825A-2
1. Pasang bevel pada cover center case.

2. Pasang washer pada bagian belakang
cover center case.


21

3. Pasang set gear, kemudian pasang
cross shaft pada bagian atas set gear.


4. Assembly pinion gear untuk di pasang
pada center case.

5. Pasang pinion gear di ke 4 sisi shaft.

6. Pasang set gear di bagian atas.

22

7. Pasang bagian case untuk melengkapi
center case tersebut.



8. Tumpuk plate dan disc dengan di
selingi oleh oli.

10. Pasang bearing inner ke pinion, tetapi
bearing panasi terlebih dahulu agar
memuai.


11. -Kemudian pasang case yang telah
terpasang outer bearing , setelah itu
pasang bearing inner di cage.
-Setelah itu just dengan cara di tekan
sampai mendapatkan starting torque
1,3kg/m3.




23



12. Case shaft flange di olesi lnp.
lnp berfungsi sebagai pelumas
flange agar tidak terjadi keausan,
karena grader tidak di lengkapi
dengan suspensi.




13. Gabungkan case shaft flange dengan
pasangannya bagian atas.

14. -Setelah itu pasang bushing warna
hitam.
-Kemudian pasang plate, kemudian
kencangkan 4 bolt torque 30-40 kg,
agar bushing rapat untuk menentukan
ketebalan shim.

24

15. Selanjutnya lepas 4 bolt dan bushing
di ukur dengan deeph . Kemudian
hasil ukuran deeph di tambah 0.1.


16. Setelah itu pasang shim sesuai dengan
hasil pengukuran contoh tebal shim
0.5,0.2,0.1. Pasang plate dengan
keseluruhan baut dengan bolt torque
36 kg (96kg/m3).



17. -Selanjutnya shaft di beri bearing yang
telah di panasi dan di beri spacer.
-Kemudian gabungkan shaft dengan
carrier , pasang holder dan bolt 36.
Dengan torque 96 kg/m3.


18. Gabungkan carrier dan flange.




25

19. Pasang sprocket.



20. Pasang holder di sprocket tetapi
jangan terlalu kencang , untuk di
pasang shim dan menentukan rotating
torque. Kencangkan dengan bolt 24.



21. Lakukan pengejustan dengan cara
rotating torque 1.3 kg/m3.
(rotating torque > 1,5kg/m3 di tambah
shim )
(rotating torque < 1.3 kg/m3 di
kurangi shim)


22. Center case assy pasang di housing.

26

23. Cage di pasang di samping kanan kiri
housing.
-Setelah itu pasang shim di ke 2 cage ,
semisal pemasangan pertama 2 mili.
-Jika rotating torque center sudah di
dapat 1,3 kg/m3 dengan catatan
bearing inner di center case tidak ada
yang bunyi pada saat di putar. Setelah
itu angkat case assy.

24. Cage di pasang di samping kanan kiri
housing
- Selanjutnya pasang shim di ke 2 cage
,semisal pemasangan pertama 2 mili.
-Jika rotating torque center sudah di
dapat 1,3 kg/m3 dengan catatan
bearing inner di center case tidak ada
yang bunyi pada saat di putar .setelah
itu angkat case assy.


25. Pasang gear pada sisi kanan dan kiri
housing.



27

26. Pasang shaft, sun gear dan ring gear.



27. Pasang final drive assy.




28. Pasang coupling ke pinion shaft.

28

29. Pasang drive shaft ke coupling.


2.9 Sifat-sifat mekanik bahan
Deformasi terjadi bila bahan mengalami gaya. Regangan (strain) e,
adalah besar deformasi persatuan panjang, dan tegangan (stress), adalah gaya
persatuan luas. Selama deformasi, bahan menyerap energi sebagai akibat adanya
gaya yang bekerja sepanjang jarak deformasi. Kekuatan (strength) adalah ukuran
besar gaya yang diperlukan untuk mematahkan atau merusak suatu bahan.
Keuletan (ductility) dikaitkan dengan besar regangan permanen sebelum
perpatahan, sedangkan ketangguhan (toughness) dikaitkan dengan jumlah energy
yang diserap bahan sampai terjadi perpatahan. Seorang insinyur perancang
menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi oleh sifat-sifat mekanik tersebut.
Untuk pipa baja, misalnya umumnya dipersyaratkan kekuatan yang tinggi. Dapat
juga dipersyaratkaan keuletan yang tinggi untuk meningkatkan ketangguhan.
Karena kekuatan dan keuletan umumnya tidak sejalan, ahli mekanik tersebut
kadang kala harus memadu keduanya untuk mencapai optimasi persyaratan.
(Candra Irawan).
Regangan elastic yang merupakan satu-satunya gejala deformasi dibawah
kekuatan luluh, akan terus naik dengan naiknya tegangan sampai terjadi
deformasi plastic.
a) Keuletan atau besar regangan plastic sampai perpatahan, dapat dinyatakan
dalam presentasi perpanjangan. Sebagaimana halnya regangan besaran ini
tidak berdimensi.
b) Kekuatan dan kekerasan ialah ketahanan suatu bahan terhadap deformasi
plastic atau tegangan pada waktu patah.
29

c) Kekerasan di definisikan sebagai ketahanan bahan terhadap penetrasi pada
permukaannya.
d) Ketangguhan adalah suatu energi yang diperlukan untuk mematahkan bahan.

2.10 Gaya Gesekan
Gaya gesekan adalah gaya yang timbul akibat persentuhan langsung antara
dua permukaan benda, arah gaya gesekan berlawanan dengan kecenderungan arah
gerak benda. Besarnya gaya gesekan ditentukan oleh kehalusan atau kekasaran
permukaan benda yang bersentuhan.
1. Gaya gesekan yang terjadi sewaktu benda tidak bergerak disebut gaya gesekan
statis.
2. Gaya gesekan yang terjadi sewaktu benda bergerak disebut gaya gesekan kinetis.
Besar gaya gesekan statis lebih besar dari gaya gesekan kinetis.

2.11 Analisa Patahan
Patah atau yang lebih dikenal dengan kata rupture pada dunia teknik,
dapat disebabkan oleh gaya luar secara spontan. Dalam banyak kasus patah
disebabkan oleh kelelahan pada area dimana stress lebih besar dari batas
kelelahan dan terjadi dalam waktu yang lama.
Untuk mata yang terlatih bentuk rupture akan menceritakan sejarah
terjadinya patah tersebut. Pengamatan yang hati-hati terhadap bentuk patahan
akan menjelaskan banyak faktor berguna, seperti patah ini karena fatigue rupture
atau forced rupture, titik mula patah, arah main stress, besar stress, dan lain-lain.
Dalam teknik mesin ada ilmu yang menginvestigasi dan menganalisa kerusakan
dari suatu komponen berdasarkan data-data yang ada. Jenis-jenis failure :
a) Rupture (putus, patah) :
Forced rupture adalah jenis kerusakan yang disebabkan oleh aplikasi
beban satu arah secaratiba-tiba. Terlihat hasil permukaan kasar.


30




Gambar 2.11 contoh forced fracture
Sumber: modul learning, innovation and development (reman)

Fatigue rupture (70% penyebab kerusakan pada metal part),
adalah kerusakan dimana patahan berasal dari crack membesar
secara perlahan akibat aplikasi beban berulang-ulang dalam
waktu yang lama. Terlihat halusnya pada permukaan yang rusak



Gambar 2.12 contoh fatigue fracture
Sumber: modul learning, innovation and development (reman)

b) Surface deterioration (kerusakan permukaan)
Wear adalah berkurangnya lapisan material akibat kontak antara
dua permukaan atau lebih.
Surface fatigue adalah terkelupasnya permukaan disebabkan
oleh stress yang melebihi batas lelah.
31

Plastic yielding adalah deformasi akibat beban yang besar.
2.12 Pengamatan Rupture
Penyebab sejarah terjadinya rupture dapat ditunjukkan pada permukaan
yang patah. Tampilan permukaan yang patah ditentukan oleh:
a) Bidang geser dan deformasi plastic, menceritakan apakah rupture tersebut
disebabkan oleh gaya yang tiba-tiba atau kelelahan bahan.
b) Bentuk garis ombak (beach mark), menunjukkan bentuk dan besarnya
tegangan (stress), juga kekersan material.
c) Posisi, jumlah dan bentuk stress nuclei beach mark dan lokasi dari final zone,
menentukan tipe stress, arah stress, rupture starting point dan besarnya stress
raiser. Stress raiser adalah nama umum untuk menyebut faktor penyebab
konsentrasi stress.

2.13 Fatigue Rupture
Fatigue rupture dapat diketahui dengan cara melihat ciri-ciri yang
dimiliki yaitu, retakan yang terjadi perlahan lahan selama beberapa jam, hari dan
bulan atau tahun. Kerusakan yang halus, tanda retakan dan warna yang cerah
atau mengkilat..
Nucleus atau awal mula crack dapat diketahui dengan cara melihat titik
dimana beach mark mengembang (convergen), dan posisinya bersebrangan
dengan final rupture zone, juga nucleus biasanya berada pada titik dimana rachet
mark mengembang.





Gambar 2.13 fatigue crack growth
Sumber: modul learning, innovation and development (reman)

32


2.14 MAI NTENANCE (PERAWATAN)
Maintenance adalah suatu kegiatan service untuk mencegah timbulnya keausan
tidak normal (kerusakan) sehingga umur alat dapat mencapai atau sesuai umur yang
direkomendasikan oleh pabrik.

2.14.1. Tujuan
Agar suatu alat selalu dalam keadaan siaga siap pakai (High Avaibility :
berdaya guna Physic yang tinggi).
Agar suatu alat selalu dalam kondisi yang prima, berdaya guna mekanis
yang paling baik (Best Performance).
Mencegah gangguan produksi.
Mengurangi biaya perbaikan yang lebih besar.
2.14.2. Klasifikasi Maintenance
1. Preventive Maintenance
Preventive Maintenance adalah perawatan yang dilakukan dengan tujuan untuk
mencegah kemungkinan timbulnya gangguan atau kerusakan pada alat / machine.
Perawatan ini dilakukan tanpa perlu menunggu tanda-tanda terjadinya kerusakan.
2. Periodic Maintenance
Periodic Maintenance pelaksanaan service yang harus dilakukan setelah
peralatan bekerja untuk jumlah jam operasi tertentu. Jumlah kerja jam ini adalah
sesuai dengan jumlah yang ditunjukkan oleh pencatat jam operasi (service meter)
yang ada pada alat tersebut. Untuk Periodic Maintanance ini, meliputi :

A. Periodic Inspection
Periodic Inspection adalah pemeriksaan atau inspeksi harian sebelum unit di
operasikan dan pemeriksaan mingguan, hal ini untuk mengetahui keadaan mesin
apakah aman untuk di operasikan. Dalam pelaksanaan Periodic Maintanance
33

terutama dalam pelaksanaan harian (Daily Maintenance), bisa menggunakan alat
bantu, antara lain :
Check sheet : suatu form (daftar) yang di pergunakan untuk mencatat
hasil operasi dari tiap-tiap mesin dalam satu hari operasi
Daily check : suatu form (daftar) seperti halnya check sheet,
perbedaannya hanya pada ukurannya yaitu Pocket Size sehingga
operator atau service man akan dengan mudah mencatatnya
B. Periodic Service
Perawatan unit yang teratur adalah sangat penting demi menjamin
pengoperasian yang bebas dari kerusakan dan memperpanjang umur unit. Waku dan
uang yang di keluarkan untuk melaksakan periodic service (perawatan berkala) akan
di kompensasi dengan secukupnya dengan memperpanjang umur unit dan
berkurangnya ongkos operasi unit. Semua angka yang menunjukan jumlah jam kerja
pada keterangan yang tertera pada check sheet adalah didasarkan pada angka-angka
yang dilihat pada service meter. Jadi, periodic service adalah suatu usaha untuk
mencegah timbulnya kerusakan yang dilakukan secara berkala atau continue