Anda di halaman 1dari 21

1

Pretest


1. Apa yang di maksud infeksi oportunistik
2. Apa yang di maksud infeksi nosokomial
3. Sebutkan contoh infeksdi oportunistik..
4. Sebutkan fungsi CD4 secara sederhana..

2
Pendahuluan
Infeksi oportunistik (IO) adalah infeksi yang
timbul akibat penurunan kekebalan tubuh
dimana pada orang normal infeksi ini terkendali
oleh kekebalan tubuh
Banyak penderita dengan HIV pertama
terdiagnosa setelah penurunan imunitas lanjut
dan memperlihatkan penyakit oportunistik.
Pada umumnya kematian pada orang dengan
HIV/AIDS (ODHA) disebabkan oleh infeksi
oportunistik sehingga IO perlu dikenal dan
diobati.
3
Pola Infeksi Oportunistik

Indonesia

Frekuensi
Kandidiasis mulut 80,8%
Tuberkulosis 40,1%
CMV 28,8%
Ensefalitis Toksoplasma 17,3%
PCP 13,4%
Herpes Simplex 9,6%
MAC 4,0%
Kriptosporodiosis 2,0%
Histoplasmosis paru 2,0%

Medan (2005)

Frekuensi
Kandidiasis mulut 72,7%
Pneumonia 45,4%
Tuberkulosis paru 27.3%
Ensefalitis Toksoplasma
9,6%

4
5
6
Penyebab Demam Pada Penderita HIV
(Daerah Tropis)
TUBERKULOSIS
BAKTERIEMIA
(SALMONELLA,PNEUM
OKOKUS)
MALARIA
KRIPTOKOKUS
PNEUMOCYSTIS
JIROVECI.
LIMFOMA
MAC
PENICILLIUM
MARNEFFEI (ASIA)
VISCERAL
LEISMANIA(BANGLADE,
INDIA,BRAZIL,NEPAL,
SUDAN,ETIOPIA)
CMV
7
Tuberkulosis
Merupakan penyebab demam paling sering
pada ODHA di negara berpenghasilan rendah.
CD4 RENDAH Lebih sering TB milier & ekstra
paru
CD4 < 200 JARANG KAVITAS.
RO : LIMFADENOPATI, EFFUSI, INFILTRAT DI
LAP TENGAH DAN BAWAH,TB MILIER.
10% Ro : normal
8
5-20% ODHA YANG MENDAPAT OAT & ARV
BERKEMBANG MENJADI IMUNOREKONSTITUSI
SINDROM yaitu perburukan klinis dan
radiologis yang ditandai dengan
demam,batuk,limfadenopati,infiltrat
baru,efusi dan abses pada CNS.

Tx = TB non HIV ,lamanya pengobatan bisa
sampai 1 tahun dan hindarkan ARV Nevirapin,
Ok Interaksi obat dan Hepatotoksik.
9
Bakateremia
Terutama disebabkan Streptokokus pneumonia,
Stafilokokus aureus dan non Typhi salmonella.
Gejala mulai dari ringan sampai berat berupa
syok septik.
Diagnosa dengan kultur darah.
Local guideline digunakan untuk menetapkan
antibiotik empirik yang dipakai. Bila tidak ada
digunakan kombinasi sefalosporin generasi Ke- 3
dengan Quinolon atau aminoglikosida, sambil
menunggu hasil kultur.
Relaps sering terjadi terutama pada Salmonella
10
Malaria
HIV(+)meningkatkan risiko dan beratnya infeksi
malaria.
CD4<200 mempunyai risiko 2-4x dibanding
CD4>500 sel/mm3.
Study di Afrika Selatan HIV (+) risiko kematian
akibat malaria meningkat 5x dibanding non HIV.
Terapi sama dengan penderita non HIV.
Penggunaan cotrimoksazol untuk profilaksis
PCP (Passive Case Detection) juga efektif
mengurangi infeksi malaria.
11
Mycobacterium Avian Complex (MAC)
Merupakan IO utama pada penderita HIV(+) dengan
imunosupresi berat di negara maju.
Insidens lebih rendah di Afrika dan Asia.
Jarang pada CD4>100 sel/mm3,biasanya pada CD4<50
sel/mm3.
Gejala: demam, keringat malam,BB menurun,nyeri
abdomen dan diare.Diare bisa berat dan kronis
malabsorbsi dan wasting.
Diagnosis: kultur darah
Terapi:
Rifabutin 300mg/Azitromisin 500-600 mg/ Klaritromisin
2x500 mg/h + Etambutol 15 mg/kg BB :12 bulan
12
Kriptokosis
Biasanya menyebabkan meningitis.
Bisa tanpa demam pada 50% kasus.
Dapat juga diseminata, ditandai dengan demam,
fungaemia, kelainan kulit dan pneumonia.
Diagnosis:
Sistemik Ag kriptokokus serum.
Meningitis CSF Ag kriptokokus.
Terapi:
Sistemik Flukonazol 200-400 mg/h(10mgg).
Meningitis Amfoterisin B 0,7-1 mg/KgBB(2mgg)
13
Pneumocystis Jirovici Pneumonia (PJP)
Subakut beberapa minggu bulan : gejala demam,
batuk kering, sesak nafas yang memburuk, BB turun
CD4<200.
Ro: Sering tdk khas, dpt berupa bilateral infiltrat
interstisial diffuse (10% kasus gambaran radiologis
normal).
Lebih sering di negara industri.
Diagnosis: Gejala,radiologis,isolasi kuman dari sputum
atau BAL (Bakteri As. Laktat), LDH (lactate
Dehydrogenase) meningkat.
Terapi : Kotrimoksazol sebaiknya Infus, bila (-)
Oral(Forte)3 x sehari.
14
Penicillinosis
Penyebab demam sub-akut
CD4<100 sel/mm3.
Gejala: demam + anemia, BB menurun, lesi kulit khas
papular rash dgn umbilikasi sentral,bisa disertai
batuk, limfadenopati, hepatomegali
Ro: difus retikulonoduler (alveolar Infiltrat)
Diagnosis:
- lesi kulit yg khas
- biopsi : kulit, hati atau sum-sum tulang.
Terapi: Amfoterisin B 0,6 mg/kg bb(2 mgg) dilanjutkan
itrakonazol 200 mg 2x /h(10 mgg).
15
Visceral Leishmaniasis
Etiologi : L. donovani,L. braziliensis,L. aethopica,L.
chagasi ditularkan oleh Phlebotomus sand fly.
90% terdapat di India, Bangladesh, Brazil, Sudan,
Nepal.
Gejala:demam,hepatosplenomegali,pansitopeni.
HIV(+) meningkatkan risiko 100-2000 x,terutama
CD4<200 sel/mm3 .
Diagnosis: amastigotes di darah atau jaringan
Terapi: seperti penderita non HIV (fluconazole,
itraconazole, ampothericine B)
16
Cytomegalovirus (CMV)
Dijumpai pada CD4<50 sel/mm3.
Kebanyakan melibatkan retina dan menyebabkan
penglihatan menurun dengan progresif, kolitis,
poliradikulopati atau ensefalitis, interstisial
pneumonia
Demam bukan gejala dominan
Dignosis: Klinis dan funduskopi, Histologi/sitologi,
deteksi antigen
Terapi: gansiklovir/vangansiklovir 2x900 mg (4
mgg)
17
Diare Kronik
BAB cair 3 kali atau lebih secara terus menerus
atau periodik >1 bulan pada penderita infeksi
HIV yang simptomatis
Etiologi: Infeksi kriptosporodiosis, Isospora beli,
Gyardia Lamblia, Salmonella spp, Shigella
flexeneri, Campilobacter spp, Entamoeba
hystolitica, CMV, Strongyloides stercoralis, MAC
Proses Keganasan : Lymfoma, Sarkoma Kaposi
Idiopatik : di duga infeksi HIV sendiri
18
Sarcoma Kaposi
19
Terapi :
Cotrimoksazole Forte (empiris) 2x1 membrantas
inf. Bakteri dan parasit (3mgg) atau
Metronidazole 3x500mg
Simptomatis : Loperamid, codein
Diagnosa :
Pemeriksaan kultur tinja dan darah, miksorskopis
tinja/sesuai dengan hasil kultur
kriptosporodiosis:
- Tdk ada pengobatan yang efektif
- Tx: ARV meningkatkan daya tahan tubuh

20
21