Anda di halaman 1dari 18

Tata Guna dan

Pengembangan Lahan
Raja Jusmartinah, ST., MT.
PWK Adi Buana Surabaya
Tata Guna lahan Perkotaan
Menurut Undang-Undang Bina Marga secara umum
suatu tata guna lahan dibagi dalam Wisma,
Karya, Marga, Suka dan Penyempurna. Uraiannya
adalah :

Wisma. Unsur ini merupakan bagian ruang kota
yang dipergunakan untuk tempat berlindung
terhadap alam sekelilingnya untuk melakukan
kegiatan sosial dalam komunitas/keluarga.

Karya. Unsur ini merupakan syarat yang utama
bagi eksistensi suatu kota, karena unsur ini
mewadahi aktifitas perkotaan dan merupakan
jaminan bagi kehidupan masyarakatnya.
Marga. Unsur ini merupakan bagian ruang
perkotaan dan faslitas kota yang berfungsi
menyelenggarakan hubungan suatu tempat
dengan tempat lainnya di dalam kota (hubungan
internal) serta hubungan antara kota-kota itu
dengan kota-kota atau daerah lain (hubungan
eksternal). Di dalamnya termasuk jaringan jalan,
terminal, parkir, jaringan telekomunikasi dan
energi.
Suka. Unsur ini berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan penduduk kota akan fasilitas-fasilitas
hiburan, rekreasi, olahraga, pertamanan,
kebudayaan dan kesenian.
Penyempurna. Elemen ini merupakan bagian
penting bagi kota tetapi belum secara tepat
tercakup ke dalam empat unsur sebelumnya. Di
dalamnya termasuk fasilitas kesehatan,
pendidikan, keagamaan, dan pemakaman kota.

Definisi lahan sendiri dapat ditinjau
dari beberapa segi
Dari segi fisik geografi, lahan merupakan
wadah bagi sebuah hunian yang
mempunyai kualitas fisik yang penting
dalam penggunaannya
Dari Segi ekonomi lahan adalah sumber
daya alam yang mempunyai peranan
penting dalam suatu produksi (Lichfield
dan Drabkin, 1980:12)

Tata Guna Lahan (land use)
adalah suatu upaya dalam merencanakan
penggunaan lahan dalam suatu kawasan yang
meliputi pembagian wilayah untuk pengkhususan
fungsi-fungsi tertentu, misalnya fungsi
pemukiman, perdagangan, industri, dll.

Rencana tata guna lahan merupakan kerangka
kerja yang menetapkan keputusan-keputusan
terkait tentang lokasi, kapasitas dan jadwal
pembuatan jalan, saluran air bersih dan air
limbah, gedung sekolah, pusat kesehatan, taman
dan pusat-pusat pelayanan serta fasilitas umum
lainnya
Perencanaan Tata Guna Lahan


strategi dalam perencanaan pemanfaatan
sumberdaya lahan yang efisien,
berkeadilan dan berketanjutan guna
mencegah dampak negatif dari kegiatan
yang dilakukan, yang dijabarkan dalam
empat bidang prospektif sebagai berikut:
Perencanaan dan Pengembangan
Sumberdaya Lahan dan Tata Ruang.
Peraturan Daerah Pertanahan.
Penataan Kelembagaan Pertanahan.
Sistem lnformasi dan Pendataan.


Definisi tata guna tanah/lahan :
pengaturan dan penggunaan yang
meliputi penggunaan di permukaan
bumi di daratan dan permukaan
bumi di lautan.

Definisi tata guna tanah perkotaan :
pembagian dalam ruang dari peran
kota; kawasan tempat tinggal,
kawasan tempat bekerja dan
rekreasi. (Jayadinata, 1999:10).
Penggunaan lahan
adalah suatu aktivitas manusia pada lahan yang
langsung berhubungan dengan lokasi dan kondisi
lahan (Soegino, 1987:24).
suatu proses yang berkelanjutan dalam
pemanfaatan lahan bagi maksud-maksud
pembangunan secara optimal dan efisien
(Sugandhy, 1989:1).
Jayadinata: penggunaan lahan adalah wujud atau
bentuk usaha kegiatan pemanfaatan suatu
bidang tanah pada satu waktu.
Edy Darmawan (2003:12) : pengaturan
penggunaan lahan untuk menentukan pilihan
terbaik dalam bentuk pengalokasian fungsi
tertentu, sehingga dapat memberikan gambaran
secara keseluruhan bagaimana daerah pada
suatu kawasan tersebut seharusnya berfungsi
Pengertian Pola Tata Guna Lahan
model susunan tata guna lahan dalam konteks
keruangan suatu kota, dalam penggunaan media
atau lahan untuk fungsi kota
Perbedaan pola keruangan ini menurut Bintarto
(1977:56) disebabkan oleh: luas daerah kota,
unsur topografi, faktor sosial, faktor budaya,
faktor politik dan faktor ekonomi.
pada garis besarnya, pola keruangan kota dibagi
menjadi 2 (dua), yakni:
a. inti kota (core the city) dan
b. selaput kota (intergruments),
dimana pada kedua daerah tersebut masih dapat
dijumpai daerah-daerah kosong (interstices).
teori dalam pola tata guna lahan perkotaan
Teori Jalur Sepusat (Concentric Zone
Theory) yang dikemukakan oleh EW.
Burgess.
Teori Sektor (Sector Theory), konsep
yang dikemukakan Humer Hoyt
Teori Pusat lipat Ganda (Multiple Nuclei
Theory). Teori yang dikemukakan oleh
Harris dan Ullman
Beberapa keuntungan dalam penataan penggunaan lahan
menjadi kelompok fungsional adalah:
Menjamin keamanan dan kenyaman atas terjadinya
dampak negatif karena adanya saling pengaruh antar zone.
Memudahkan penataan, perencanaan dan penggunaan
lahan secara mikro yang ditentukan oleh kesamaan fungsi
dan karakter pada setiap zone-nya.
Memudahkan implementasi dalam pengawasan dan kontrol
pelaksanaannya. Beberapa kelemahan dari pembagian
kelompok kawasan ini adalah:
Karena pembagian zone yang sudah sesuai dengan
fungsinya, pencapaian dari satu tempat ke tempat lain
menjadi jauh dan memerlukan waktu yang lama.
Dibutuhkan sarana prasarana transportasi yang besar dan
kemungkinan terjadi kepadatan lalu lintas pada peak hours.
Timbulnya kesenjangan keramaian dan sepinya kegiatan di
kawasan tertentu, sehingga ditemukan kawasan mati pada
jam-jam tertentu.
Kepadatan zone yang tak seimbang menyebabkan
pemanfaatan lahan tidak optimal.
Perubahan Guna Lahan
Pengertian konversi lahan atau
perubahan guna lahan adalah alih
fungsi atau mutasi lahan secara
umum menyangkut tranformasi
dalam pengalokasian sumber daya
lahan dari satu penggunaan ke
penggunaan lain (Tjahjati,
1997:505).
Perkembangan dan perubahan pola tata
guna lahan pada kawasan permukiman
dan perkotaan dipengaruhi oleh:

Faktor manusia, yang terdiri dari: kebutuhan
manusia akan tempat tinggal, potensi manusia,
finansial, sosial budaya serta teknologi.
Faktor fisik kota, meliputi pusat kegiatan sebagai
pusat-pusat pertumbuhan kota dan jaringan
transportasi sebagai aksesibilitas kemudahan
pencapaian.
Faktor bentang alam yang berupa kemiringan
lereng dan ketinggian lahan.
SIKLUS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN
Anthony J. Catanese (1986:317)
mengatakan bahwa dalam perencanaan
penggunaan lahan sangat dipengaruhi
oleh manusia, aktifitas dan lokasi,
perubahan struktur penggunaan lahan melalui
proses perubahan penggunaan lahan kota,
meliputi:
Perubahan perkembangan (development change), yaitu
perubahan yang terjadi setempat dengan tidak perlu
mengadakan perpindahan, mengingat masih adanya
ruang, fasilitas dan sumber-sumber setempat.

Perubahan lokasi (locational change), yaitu perubahan
yang terjadi pada suatu tempat yang mengakibatkan
gejala perpindahan suatu bentuk aktifitas atau
perpindahan sejumlah penduduk ke daerah lain karena
daerah asal tidak mampu mengatasi masalah yang timbul
dengan sumber dan swadaya yang ada

Perubahan tata laku (behavioral change), yakni
perubahan tata laku penduduk dalam usaha
menyesuaikan dengan perkembangan yang terjadi dalam
hal restrukturisasi pola aktifitas.
HUBUNGAN MANUSIA - LINGKUNGAN DAN
PERUBAHAN