Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Teks, Naskah dan Wacana

I. Teks
Luxemburg, et.al. (1992) mendefinisikan teks sebagai ungkapan bahasa yang terkandung aspek
isi, sintaksis, pragmatic dan merupakan suatu kesatuan. Berdasarkan pendapat Luxemburg, et al.
tersebut, terdapat tiga hal yag harus ada dalam sebuah teks. Tiga hal tersebut, yaitu: isi, sintaksis,
dan pragmatik.
Isi dalam sebuah teks berkaitan dengan konten. Sebuah teks yang baik harus
mengungkapkan gagasan-gagasan atau gambaran-gambaran yang ada dalam kehidupan.
Gagasan-gasasan atau gambaran-gambaran tersebut dituangkan dalam bentuk bahasa yang
berupa penceritaan, lazimnya dalam bentuk drama dan prosa maupun untaian kata-kata, seperti
dalam bentuk puisi. Pengarang dalam menuangkan gagasan-gagasannya dapat secara eksplisit
maupun implisit dalam menunjukkan isi sebagai pesan yang disampaikan dalam teks.
Isi dalam teks juga sangat berkaitan dengan semantik. Semantik merupakan salah satu
kajian dalam bahasa yang berkaitan dengan makna. Isi dalam teks tidak ubahnya adalah makna-
makna yang disampaikan pengarang. Pengungkapan makna ini dapat dilakukan secara terang-
terangan, lugas, jelas maupun dengan tersembunyi melalui simbol-simbol. Berkaitan dengan
makna dalam teks, Luxemburg, et.al. (1992) menyatakan bahwa kesatuan semantik yang dituntut
sebuah teks ialah tema global yang melingkupi semua unsur. Dengan kata lain, tema berfungsi
sebagai ikhtisar teks atau perumusan simboliknya. Meskipun demikian, menunjukkan tema saja
belumlah memadai. Masih diperlukan penafsiran menyeluruh untuk menelaah sebuah teks
sebagai satu kesatuan. Hal ini terkait dengan keberadaan sebuah cerita maupun puisi yang
merupakan satu kesatuan ide/gagasan.
Unsur yang kedua adalah sintaksis. Sintaksis dalam tatabahasa diartikan sebagai
tatakalimat. Secara sintaksis, sebuah teks harus memperlihatkan pertautan. Pertautan itu akan
tampak apabila unsur-unsur dalam tatabahasa yang berfungsi sebagai penunjuk (konjungsi)
secara konsisten dipergunakan. Dalam hal ini dapat kita simak melalui penceritaan berikut.
Unsur ketiga pembangun sebuah teks adalah pragmatik. Pragmatik berkaitan dengan
situasi atau keadaan bahasa yang digunakan dalam keadaan tertentu. Dalam hal ini, Luxemburg,
et.al. (1992) mengungkapkan bahwa pragmatik bertalian dengan bagaimana bahasa
dipergunakan dalam suatu konteks sosial tertentu. Teks merupakan suatu kesatuan bilamana
ungkapan bahasa oleh para peserta komunikasi dialami sebagai suatu kesatuan yang bulat. Lebih
lanjut dikatakannya bahwa pragmatik merupakan ilmu mengenai perbuatan yang kita lakukan
bilamana bahasa dipergunakan dalam suatu konteks tertentu. Hal yang diungkapkan Luxemburg
tersebut bertalian erat dengan ketuntasan dalam memahami sebuah teks. Makna kesatuan bulat
mengarah pada keutuhan dari sebuah teks. Membaca teks merupakan satu tindakan atau kegiatan
yang dimulai dari bagian awal hingga bagian akhir dari sebuah teks, yaitu: selesai atau
tamat. Sebuah contoh, apabila kita membaca novel Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang
Jatuh yang ditulis Dewi Lestari maka kegiatan yang kita lakukan adalah membaca keseluruhan
dari teks novel ini. Mulai membaca bagian Cuap-cuap Penerbit, Cuap-cuap Penulis, Bagian
Daftar Isi, isi keseluruhan novel yang terdiri atas 33 keping subjudul, hingga Komentar
Nonpakar yang merupakan akhir dari teks novel ini. Begitu halnya kalau kita membaca puisi,
cerpen, maupun drama maka keselurahan dari teks tersebut harus kit abaca dengan seksama.
Dengan demikian akan diperoleh pemahaman yang tepat tentang isi atau garis besar dari
penceritaan tersebut.
II. Naskah
Naskah dan teks merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Naskah merupakan
wadah sedangkan teks merupakan isi dari naskah tersebut. Selain itu naskah bersifat khas dalam
pengertian tidak ada duanya karena setiap naskah tidak ada yang sama persis meskipun dengan
penulis dan jenis naskah yang sama.
Pengertian naskah dalam kajian sastra lama mengandung matra khas dan lama.
Pengertian lama mengacu pada ketradisionalan wujud naskah yaitu terkait alas tulis; aksara,
proses produksi yang memiliki jarak waktu dan budaya. Naskah beralas tulis yang umumnya
mudah lapuk, berkemungkinan direproduksi, isinya panjang, kebanyakan bersifat fiksi, dan
memiliki mobilitas yang cukup tinggi. Sedangkan istilah matra lama memiliki pengertian bahwa
naskah berupa peninggalan tertulis.
Naskah merupakan salah satu objek kajian filologi. Untuk lebih mengetahui pengertian
secara mendalam, berikut ini dibahas beberapa pengertian naskah yang dikutip dari Hendijawa,
(2010) antara lain:
1. Menurut Poerwadarminta dalam Eni Kusumastuti Damayanti (2000: 7) naskah adalah
karangan tulisan tangan baik itu asli maupun salinannya.
2. Menurut Djamaris dalam Eni Kusumastuti Damayanti (2000: 8) naskah adalah semua
peninggalan tertulis nenek moyang pada kertas lontar, kulit kayu, dan rotan.
3. Dalam Kamus Besar Umum Indonesia edisi III, 2005 naskah yaitu: a) Karangan yang
masih ditulis dengan tangan, b) karangan seseorang yang belum diterbitkan diterbitkan,
c) bahan-bahan berita yang siap untuk diset, dan d) rancangan.
4. Dalam KBBI tahun 1997 dalam Ikke Kusumawati (2003: 10) naskah adalah karangan
yang masih ditulis dengan tangan. Sebagaimana pula yang diungkapkan oleh Baried
dalam Supartinah (2003: 9) bahwa naskah berarti tulisan tangan.
5. Menurut Barried dalam Venny Indria Ekowati (2003:10) naskah adalah tulisan tangan
yang menyimpan berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya bangsa
masa lampau.
6. Menurut Onions dalam Venny Indria Ekowati (2003:11) naskah dapat dianggap sebagai
padanan kata manuskrip.
7. Dalam library and Information Science, suatu naskah adalah semua barang tulisan tangan
yang ada pada koleksi perpustakaan atau arsip; misalnya surat-surat atau buku harian
milik seseorang yang ada pada koleksi perpustakaan.
8. Dalam situs Wiklipedia.com suatu naskah manuskrip (bahasa Latin manuscript: manu
scriptus ditulis tangan), secara khusus adalah semua dokumen yang ditulis tangan,
dibedakan dari dokumen cetakan atau perbanyakannya dengan cara lain. Kata naskah
diambil dari bahasa Arab nuskhatum yang berarti sebuah potongan kertas.
9. Dalam Kamus Bahasa Melayu Nusantara, 2003 naskah yaitu:
a. Karangan dan sebagainya yang bertulis tangan atau ditaip (diketik); manuskrip
b. Karya (karangan) asli seseorang penulis yang belum dicetak atau diterbitkan, teks asal
c. Rang (undang-undang, perlembagaan, dan sebagainya); rancangan
d. Penjodohan bilangan (kata-kata penggolong) untuk buku, majalah, surat kabar, dsb;
buah; eksamplar
e. Bahan-bahan berita yang siap untuk diset; kopi

III. Wacana
1. Edmondson dalam Tarigan (1981:4) menjelaskan bahwa wacana adalah suatu
peristiwa berstruktur yang dimanifestasikan dalam perilaku linguistik (yang
lainnya), sedangkan teks adalah suatu urutan ekspresi-ekspresi linguistik
terstruktur yang membentuk suatu keseluruhan yang padu uniter.
2. Stubbs dalam Tarigan (1983:10) menjelaskan bahwa wacana adalah organisasi
bahasa di atas kalimat atau di atas klausa, dengan kata lain unit-unit linguistik
yang lebih besar dari kalimat atau klausa, seperti percakapan atau teks-teks
tertulis. Secara singkat apa yang disebut teks bagi wacana adalah kalimat bagi
ujaran atau utterance.
3. Deese dalam Tarigan (1984:72) menjelaskan bahwa wacana adalah seperangkat
proposisi yang saling berhubungan untuk menghasilkan rasa kepaduan atau rasa
kohesi bagi penyimak atau pembaca. Kohesi atau kepaduan itu sendiri harus
muncul dari isi wacana, tetapi banyak sekali rasa kepaduan yang dirasakan oleh
penyimak atau pembaca harus muncul dari cara pengutaraan atau pengutaraan
wacana itu.
4. Kridalaksana dalam Tarigan (1984:208) menjelaskan bahwa wacana (discourse)
adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan
gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk wacana
yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.) paragraf, kalimat atau kata yang
membawa amanat yang lengkap.
5. Brown dalam Tarigan (1980:189-190) menjelaskan bahwa analisis wacana adalah
telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Kita menggunakan bahasa
dalam kesinambungan atau untaian wacana. tanpa konteks, tanpa hubungan
wacana yang bersifat antarkalimat dan suprakalimat maka kita sulit
berkomunikasi dengan tepat satu sama lain.
Berdasarkan pengertian teks, naskah dan wacana dapat dilihat bahwa satu sama
lain saling berhubungan. Dalam sebuah naskah, teks merupakan isi. Dalam sebuah
wacana, teks juga merupakan isi.