Anda di halaman 1dari 34

PEMERIKSAAN IKAN dan IDENTIFIKASI PENYAKIT IKAN

Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum
mata kuliah Parasitologi






Disusun oleh :
Muhammad Rizqi Hasany 230110120038
Afrah Haniyah Dafiq 230110120039
Firdha Octavia 230110120040


Kelas:
Perikanan A / Kelompok 13















UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2014

PEMERIKSAAN IKAN dan IDENTIFIKASI PENYAKIT IKAN
Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas laporan akhir praktikum
mata kuliah Parasitologi






Disusun oleh :
Muhammad Rizqi Hasany 230110120038
Afrah Haniyah Dafiq 230110120039
Firdha Octavia 230110120040


Kelas:
Perikanan A / Kelompok 13















UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR

2014
i

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga laporan akhir praktikum ini dapat kami
selesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Laporan akhir praktikum ini merupakan hasil praktikum yang telah kami
lakukan. Laporan ini berisi Pemeriksaan Ikan Dan Identifikasi Penyakit Ikan
yang merupakan salah satu bagian dari pokok bahasan pada mata kuliah
Parasitologi. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada:
Dosen - dosen pada mata kuliah Parasitologi yang telah membimbing kami
selama perkuliahan dan selama praktikum mata kuliah Parasitologi.
Asisten laboratorim mata kuliah Parasitologi yang turut membimbing dan
membantu selama proses pelaksanaan praktikum.
Seluruh kelompok praktikum mata kuliah Parasitologi dan anggota
kelompok 13 yaitu Muhammad Rizqi Hasany, Afrah Haniyah Dafiq, dan
Firdha Octavia yang dimana atas segala kerjasamanya laporan praktikum ini
dapat diselesaikan dengan baik.
Kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan pada laporan akhir yang
telah kami susun ini. Oleh karena itu, kami berharap Bapak dan Ibu dosen serta
para asisten laboratorium pada praktikum mata kuliah Parasitologi agar sekiranya
dapat memberikan saran dan kritik membangun agar kami dapat menghasilkan
tugas yang lebih baik di kesempatan berikutnya. Semoga laporan akhir ini
memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditentukan.

Jatinangor, 09 Juni 2014



Kelompok 13

ii

DAFTAR ISI
BAB HALAMAN
KATA PENGANTAR ............................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................... iii
DAFTAR TABEL .................................................................... iv
I PENDAHULUAN .................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................... 1
1.2 Tujuan ........................................................................... 2
1.3 Manfaat ......................................................................... 2
II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 3
2.1 Ikan Mas ........................................................................ 3
2.1.1 Klasifikasi Ikan Mas ..................................................... 3
2.1.2 Morfologi Ikan Mas ....................................................... 4
2.2 Ikan Ar ar ...................................................................... 5
2.2.1 Klasifikasi Ikan Ar ar ..................................................... 5
2.2.2 Morfologi Ikan Ar ar ...................................................... 6
2.3 Parasitologi .................................................................... 7
2.3.1 Deskripsi Parasit ............................................................ 7
2.3.2 Identifikasi dan Jenis Parasit .......................................... 8
III METODOLOGI ...................................................................... 15
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ........................................ 15
3.2 Alat dan Bahan .............................................................. 15
3.2.1 Alat................................................................................ 15
3.2.2 Bahan ............................................................................ 15
3.3 Prosedur Kerja ............................................................... 16
3.3.1 Pengamatan Ektoparasit ................................................. 16
3.3.2 Pengamatan Endoparasit ................................................ 16
IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 17
4.1 Data Kelompok Ikan Ar ar ............................................. 17
4.2 Data Kelas Ikan Ar ar .................................................... 17
4.3 Data Kelompok Ikan Mas .............................................. 20
4.4 Data Kelas Ikan Mas ...................................................... 20
4.4 Pembahasan Ar ar .......................................................... 23
4.6 Pembahasan Mas ........................................................... 24
V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................ 25
5.1 Kesimpulan.................................................................... 25
5.2 Saran ............................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 27

iii

DAFTAR GAMBAR
NO JUDUL HALAMAN
1 Gambar 1 Ikan Mas ................................................................... 3
2 Gambar 2 Ikan Ar ar .................................................................. 5



iv

DAFTAR TABEL
NO JUDUL HALAMAN
1 Alat dan Bahan ....................................................................... 15
2 Data Kelompok Ikan Ar ar ..................................................... 17
3 Data Kelas Ikan Ar ar ............................................................. 17
4 Data Kelompok Ikan Mas ....................................................... 20
5 Data Kelas Ikan Mas .............................................................. 20


1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Parasitologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai organisme yang
salah satu cara hidupnya merugikan organisme lain. Organisme yang hidup
sebagai parasit selama hidupnya memerlukan organisme lain sebagai tempat
hidupnya. Parasitologi juga mempelajari morfologi, klasifikasi dan biologi dari
hewan yang hidupnya berparasit.
Parasitologi ikan adalah ilmu yang mempelajari parasit pada ikan dalam arti
ikan sebagai inang atau sebagai perantara. Parasit pada ikan ada yang dari fillm
Arthropoda (serangga), Helminth (cacing), Protozoa (hewan bersel satu), Fungi
(jamur), dan Alga (ganggang).
Parasit merupakan organisme yang hidup pada atau di dalam organisme lain
dan mengambil makanan dari organisme yang ditumpanginya untuk berkembang
biak (Subekti dan Mahasri, 2010). Parasit dapat merugikan inangnya karena
mengambil makanan pada tubuh inangnya selain itu, parasit adalah suatu
organisme yang mengambil bahan untuk kebutuhan metabolismenya (makanan)
dari tubuh inangnya dan merugikan bagi inang tersebut. Sehingga parasit tidak
dapat hidup lama di luar tubuh inangnya (Alifuddin, 2004).
Prevalensi adalah besarnya persentase ikan yang terinfestasi dari ikan
contoh yang diperiksa (Karantina Ikan kelas II Tanjung Emas, 2009). Menurut
Diba (2009) menyatakan bahwa tinggi rendahnya tingkat prevalensi disebabkan
oleh keadaan endemik suatu parasit, kemampuan adaptasi parasit di tubuh inang
dan kecocokan inang untuk kelangsungan hidup parasit dan kualitas lingkungan.
Selain itu padat tebar yang rendah juga mempengaruhi keberadaan cacing
ektoparasit karena ruang gerak dan makanan bagi ikan masih dalam kondisi yang
normal sehingga tidak terjadi kompetisi dalam hal mencari makanan dan ruang
gerak.


2



1.2 Tujuan
1. Mengetahui cara mengidentifikasi penyakit ikan
2. Mengetahui spesies penyakit ikan
3. Perhitungan prevalensi dan intensitas parasit pada Ikan Mas
4. Perhitungan prevalensi dan intensitas parasit pada Ikan Ar ar
1.3 Manfaat
1. Mahasiswa mengetahui cara mengidentifikasi penyakit ikan
2. Mahasiswa mengetahui berbagai spesies penyakit ikan
3. Mahasiswa mengetahui cara perhitungan prevalensi dan intensitas parasit
pada ikan


3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ikan Mas
Ikan mas (Cyprinus Carpio Linn) merupakan ikan air tawar yang
mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi, pemeliharaannya mudah dan banyak
diminati masyarakat karena dagingnya enak dan gurih serta kandungan proteinnya
cukup tinggi (Bijanti, 2005).
Kandungan gizi ikan mas per 100 gram berat badan yaitu berupa kalori
sebanyak 95 kalori; protein 4,5 gram; lemak 0,2 gram; karbohidrat 23,1gram;
kalsium 42 miligram; fosfor 134 miligram; besi 10 miligram; vit B1 0,22
miligram dan air 71,0 gram (Khairuman et al., 2002).
Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum,
badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed)
dan mulutnya terletak di ujung tengah (terminal), dan dapat di sembulka, di
bagian mulut di hiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang di
antaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam (Susanto,2007).

2.1.1 Klasifikasi Ikan Mas
Klasifikasi ikan mas menurut Saanin (1984) dikelompokkan ke dalam:
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio
(Linnaeus, 1758)


Gambar 1. Ikan Mas


4



2.1.2 Morfologi Ikan Mas
Tubuh ikan mas digolongkan (3) tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor.
Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung
yang tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup
insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Cahyono, 2000).
Adapun karakteristik morfologi ikan mas, sebagai berikut:
1. Secara umum ikan mas mempunyai tubuh Bilateral Simetris. Yang artinya,
tubuhnya terdiri dari dua belahan yang sama. Dan jika tubuh ikan mas
dibelah, maka hasil kedua belahan sama.
2. Bentuk tubuh ikan ini cenderung memanjang. Selain itu, ia juga memipih
tegak atau dikenal dengan istilah comprossed.
3. Mulut ikan mas ada pada bagian tengah ujung kepala terminal atau berada
tepat di ujung hidung. Mulut tersebut bisa disembulkan atau dikenal
dengan istilah protaktil.
4. Pada wilayah anterior mulut ikan mas terdapat dua pasang sungut.
5. Adapun pada ujung dalam mulutnya, dijumpai gigi kerongkongan atau
pharyngeal teeth. Gigi ini terdiri atas tiga baris gigi geraham.
6. Umumnya hampir semua tubuh ikan mas tertutupi sisik. Namun perlu juga
disebutkan, ada beberapa varietas yang sisiknya sedikit.
7. Jika dicermati, sisik pada ikan mas cenderung berukuran besar Sisik ini
termasuk sisik jenis sikloid atau lingkaran.
8. Sisik ini juga digolongkan sebagai Ctenoid yakni sisik dengan bentuk
layaknya sisir. Bentuk ini lazim ditemui pada ikan dengan jari-jari sirip
yang keras.
9. Bentuk sirip ekor pada ikan mas dikenal dengan istilah emarginate yakni
berpinggiran berlekuk tunggal.
10. Dorsal atau sirip punggung ikan mas agak memanjang. Bagian
belakangnya memiliki jari kera dan di bagian akhir yakni pada sirip ketiga
juga keempat, jari tersebut menjadi bergerigi.
11. Letak sirip punggung pada ikan ini agak berseberangan dengan ventral
atau permukaan sirip perutnya.
5



12. Sirip perut ini cenderung dekat dengan sirip dada atau subabnominal.
13. Pada sirip dada ikan mas, dijumpai operculum dan properkulum.
14. Adapun sirip pada duburnya (anal) memiliki ciri layaknya sirip punggung.
Berjari keras dan pada bagian akhirnya sirip berubah bergerigi.
15. Pada lina lateralis/gurat isi/garis rusuk ikan mas digolongkan lengkap.
Lina lateralis ini ada pada pertengahan tubuh. Bentuknya melintang, mulai
dari bagian tutup insang hingga ke ujung belakang area pangkal ekor.
16. Organ Insang ikan mas terdiri atas tapis insang, tulang lengkung insang
serta lembaran daun insang.
17. Ikan mas tidak mempunyai lambung. Oleh sebab itu ia menggunakan
lambung palsu. Lambung ini berfungsi untuk menampung makanan.

2.2 Ikan Ar ar
Ikan Ar-ar (Carassius carracius) pertama kali dibudidayakan oleh
masyarakat Cina pada tahun 960-1729. Awalnya bentuk ikan ar-ar seperti ikan
Mas (Cyprinus carpio L), bedanya ikan ar-ar tidak memiliki sepasang sungut di
mulutnya (Bachtiar 2002).
Ikan ar-ar merupakan ikan hias air tawar yang hidup di perairan dengan air
yang mengalir tenang serta berudara sejuk (Bachtiar 2002). Ikan ini merupakan
hewan omnivora (Watson et al 2004) dan bukan hewan kanibal sehingga dapat
dipelihara secara koloni dalam satu lingkungan pemeliharaan (Iskandar dan
Sitanggang 2003).

2.2.1 Klasifikasi Ikan Ar ar
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Ordo : Clupeiformes
Family : Cyprinidae
Genus : Carassius
Spesies : Carassius carracius
(Freyhof 2004).
Gambar 2. Ikan Ar ar

6




2.2.2 Morfologi Ikan Ar ar
Ikan ar-ar memiliki organ interna dan eksterna yang keseluruhan organ
tersebut memiliki ciri dan fungsi tertentu untuk mendukung kelangsungan hidup
ikan (Yanong 2003). Insang merupakan salah satu organ interna ikan ar-ar yang
memiliki peranan penting bagi kelangsungan hidup ikan. Peranan penting tersebut
adalah sebagai media pertukaran gas (Campbell et al 2004). Insang terdiri dari
lamela insang primer, lamela insang sekunder dan tulang rawan insang. Lamela
primer adalah lamela yang bersentuhan langsung dengan tulang rawan insang dan
lamela sekunder merupakan percabangan dari lamela primer (Yanong 2003).
Insang akan mengoptimalkan ekstraksi oksigen dari air dan merupakan
tempat untuk melepaskan karbon dioksida. Ikan memompa air melalui mulut dan
5 keluar diantara celah insang lewat gerakan terkoordinasi dari rahang dan
operculum (penutup insang), agar terjadi ventilasi.
Ventilasi yang dimaksudkan berupa aktivitas inhalasi dan ekshalasi atau
proses mengambil oksigen dan melepaskan karbon dioksida lewat pernafasan.
Ketika ventilasi terjadi, darah mengalir dengan arah yang berlawanan dengan
aliran air yang mengalir, oksigen akan masuk ke dalam aliran darah dan CO2 akan
dibuang ke air (Campbell et al 2004).
Usus merupakan salah satu organ interna ikan yang mengambil peranan
dalam sistem pencernaan. Usus berbentuk seperti tabung memanjang yang
melingkar-lingkar dan mengisi sebagian besar rongga abdomen. Makanan yang
ditangkap oleh mulut akan masuk ke dalam rongga mulut, melewati faring,
esofagus, bola usus (intestinal bulb), usus kemudian sisa makanan yang tidak
diserap akan dikeluarkan lewat anus (Sarbahi 1951).

7




2.3 Parasitologi
Parasitologi adalah suatu ilmu cabang Biologi yang mempelajari tentang
semua organisme parasit. Tetapi dengan adanya kemajuan ilmu, parasitologi kini
terbatas mempelajari organisme parasit yang tergolong hewan parasit, meliputi:
protozoa, helminthes, arthropoda dan insekta parasit, baik yang zoonosis ataupun
anthroponosis.
Organisme parasit adalah organisme yang hidupnya bersifat parasitis; yaitu
hidup yang selalu merugikan organisme yang ditempatinya (hospes). Parasit
ukurannya jauh lebih kecil dari hospesnya juga tidak menghendaki hospesnya
mati, sebab kehidupan hospes sangat essensial dibutuhkan bagi parasit yang
bersangkutan.

2.3.1 Deskripsi Parasit
Parasit adalah hewan atau tumbuhan yang hidup atas pengorbanan dari
induk semangnya (hewan atau tumbuhan lain). Jadi parasit itu hidup dengan satu
yaitu menyakiti induk semangnya. (Alifudin, 1996)
Dalam perikanan, parasit merupakan organisme yang menumpang pada ikan
untuk mencari keuntungan dalam mempertahankan hidupnya. Semua organisme
dalam air memiliki potensi sebagai inang bagi parasit. Dalam jumlah kecil,
parasit tidak akan membahayakan ikan namun jika kondisi lingkungan
memungkinkan maka parasit akan bereproduksi dengan cepat.
Bila ditinjau dari sudut ketergantungan parasit terhadap inang dapat
dibedakan dalam beberapa kelompok :
a. Tempat di tubuh ikan, maka dikenal dengan bentuk parasit yang disebut
ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang menyerang
bagian luar tubuh ikan atau dibagian yang masih bersentuhan dengan air dan
udara seperti sisik, insang, sirip, kulit, operculum (penutup insang) dan rongga
mulut. Endoparasit adalah parasit yang hidupnya di dalam tubuh inang sperti
alat pencernaan (usus), peredaran darah (sel darah), otak, otot daging, mata,
dan organ tubuh seperti ginjal, hati, gelembung renang. Endoparasit ini terbagi
8



dua yaitu interseluler, didalam rongga tubuh ikan dan intraseluler di dalam sel
inang, contoh bakteri.
b. Waktu terdapatnya pada tubuh inang, dibagi atas parasit temporer, parasit
stationer, periodik dan permanen. Parasit temporer adalah kelompok
parasit yang berada pada tubuh inang ketika waktu mengambil makanan saja,
bila sudah kenyang parasit akan meninggalkan inang dan hidup bebas,
contohnya nyamuk, lintah, dan pacet. parasit stasioner adalah parasit yang
sebagian atau seluruh hidupnya menetap pada hospes, apabila menetap selama
satu stadium siklus hidupnya disebut Parasit Stasioner Berkala (Stasioner
Periodik) dan apabila selama hidupnya menetap dan berparasit pada hospes
disebut Parasit Stasioner Permanen. Parasit periodik adalah parasit yang
hanya hidup pada inang sebagai bagian dari siklus hidupnya saja dan ada
stadium yang hisup bebas. Parasit permanen adalah parasit yang selama
hidupnya berada pada tubuh inang dari telur hingga dewasa, contohnya kutu
rambut.
c. Kelangsungan hidup pada inang, dibagi atas dua kelompok yaitu parasit
oblogatif dan fakultatif. Parasit obligatif adalah parasit yang seluruh
hidupnya bergantung dengan inang dari mulai larva hingga dewasa, bilamana
ketika masih dalam bentuk telur atau larva tidak mendapatkan inang maka
stadium larvanya akan mati. Parasit fakultatif adalah sekolompok parasit
yang sebagian siklus hidupnya tanpa membutuhkan inang, seperti beberapa
jenis cacing yang larvanya berada di alam sedangkan ketika dewasanya berada
dalam usus.

2.3.2 Identifikasi dan Jenis Parasit
Filum Protozoa
Trichodina sp
Trichodina sp merupakan jenis protozoa dari kelompok Ciliata yang
memiliki bulu getar. Trichodina sp mempunyai bentuk tubuh seperti cawan,
berdiameter 5m, dengan bulu getar terangkai pada kedua sisi sel (Irianto 2005).
Trichodina sp. Merupakan parasit yang mudah memisahkan diri menjadi dua
9



bagian yang lebih kecil dan kemudian masing-masing bagian akan kembali
memperbanyak diri.
Trichodina sp merupakan ektoparasit yang menyerang/menginfeksi kulit
dan insang, biasanya menginfeksi semua jenis ikan air tawar. Populasi Trichodina
sp di air meningkat pada saat peralihan musim, dari musim panas ke musim
dingin. Berkembang biak dengan cara pembelahan yang berlangsung di tubuh
inang, mudah berenang secara bebas, dapat melepaskan diri dari inang dan
mampu hidup lebih dari dua hari tanpa inang. Parasit ini berukuran 50nm,
berbentuk bundar dengan sisi lateral berbentuk lonceng, memiliki cincin dentikel
sebagai alat penempel dan memiliki silia di sekeliling tubuhnya. Ikan yang
terinfeksi mengalami iritasi pada kulit, produksi lendir berlebih, insang pucat,
megap-megap sehingga ikan sering menggantung di permukaan air atau di pinggir
kolam, nafsu makan menurun, gerakan ikan lemah, sirip ekor rusak dan berawama
kemerahan akibat pembuluh darah kapiler pada sirip pecah.
Diagnosa penyakit dilakukan dengan membuat preparat basah dari lendir
dan insang ikan yang terinfeksi, pengamatan di bawah mikroskop dengan
pembesaran objektif 10x (Zainun 2008).

Oodinium sp
Oodinium sp merupakan jenis Flagellata yang masuk kategori
protozoa,tetapi beberapa sumber mengatakan bahwa Oodinium spini masuk
kategori algae karena memiliki klorofil . Oodinium sp merupakan salah satu
parasit yang sering menyerang pada kondisi ikan yang sedang stress. Oodinium sp
dapat menyerang ikan air tawar maupun laut, dimana untuk air tawar disebabkan
oleh Oodinium pilularis atau Oodinium limneticum dan untuk ikan air laut
disebabkan oleh Oodinium ocellatum. Oodinium akan mencari ikan sebagai inang
dengan segera, karena Oodinium akan mati dalam waktu 24 jam jika tidak
menemukan inangnya. Oodinium akan menempel pada ikan dengan menggunakan
flagellum yang kemudian akan membentuk batang (kaki) penghisap yang masuk
ke dalam kulit dan selaput lendir pada insang ikan. Batang (kaki) penghisap ini
10



akan merusak sel-sel disekitamya dan menghisap nutrisi pada daging ikan (inang)
sebagai makanannya.
Gejala klinis pada Oodinium di mulai dari sirip ikan, tahapan lebih lanjut
akan terlihat seperti memakai bedak atau bertaburan tepung, ini yang disebut
velvet. Pada tahapan berikutnya, potongan sisik atau kulit dari ikan akan
terkelupas, pada mata akan terlihat adanya selaput seperti kabur dan kemudian
menyerang seluruh bagian tubuh. Sedangkan Kabata (1985), menjelaskan bahwa
infeksi Oodinium sp disebabkan karena penetrasi akan rizoid ke sel epitel inang,
sehingga menyebabkan nekrosis, pendarahan dan mengalami infeksi sekunder
oleh bakteri dan jamur.

Vorticella sp
Vorticella sp. merupakan protozoa dari filum Ciliophora. Vorticella sp.
memiliki bentuk lonceng terbaiik dengan tangkai bersilia yang mengandung fibril
yang disebut myoneme (Kabata 1985). Cara reproduksinya dengan cara
pembelahan. Vorticella sp. tidak hanya hidup di perairan air tawar saja, tetapi juga
di perairan laut dan dapat menempel pada tumbuhan dan hewan.

Filum Arthropoda
Argulus sp
Argulus sp atau kutu ikan merupakan parasit ikan dari golongan udang-
udangan keluarga Branchira. Sifat parasitik Argulus sp cenderung temporer.
Mereka mancari inangnya secara acak dan dapat berpindah dengan bebas pada
tubuh ikan atau bahkan meninggalkannya. Argulus sp diketahui dapat berahan
selama beberapa hari diluar tubuh ikan.
Argulus sp menempel pada ikan dengan menggunakan alat penghisap
khusus. Selanjutnya binatang ini akan menancapkan mulut jarumnya pada tubuh
ikan untuk menyuntikan anti koagulan darah. Baru kemudian parasit tersebut
mengkonsumsi darah dari inangnya.


11



Tingkat serangan Argulus sp sangat tergantung pada ukuran ikan dan
jumlah individu parasit yang menyerang. Meskipun demikian, sering tidak
menimbulkan ancaman kematian pada ikan yang bersangkutan. Akan tetapi luka
yang ditimbulkannya dapat menjadi rentan fterhadap serangan jamur dan bakteri.

Ergasilus sp
Ergasilus sp ini mirip dengan lernae, mereka mempunyai salah satu ujung
yang bercagak membentuk pengait, yang akan digunakan untuk menusuk kulit
pada bagian insang ikan. Ergasilus sp berukuran 1.5 mm. Hanya Ergasilus sp
betina yang akan menyerang dan menempel pada ikan sebagai parasit, sedangkan
Ergasilus sp jantan akan berenang bebas sebagai plankton. Ikan akan kehilangan
banyak darah, dan kadang akan disertai dengan infeksi lain seperti insang
membusuk (gill rot). Ergasilus sp berkembang berawal pada tahap larva yang
dikenalkan pada akuarium / kolam melalui makanan hidup.

Cymothoa sp
Parasit ini memasuki ikan melalui insang, dan kemudian menempel di lidah
ikan. Parasit betina menempel di lidah, sementara parasit jantan menempel di
lengkungan insang di bawah dan di belakang parasit betina. Cymothoa sp betina
memiliki panjang sekitar 829 milimeter (0.31.1 in) dan lebar sekitar 414 mm
(0,160,55 in), sementara yang jantan memiliki panjang sekitar 7.515 mm (0.3
0.6 in) dan lebar sekitar 37 mm (0,120,28 in). Parasit ini menghisap darah
melalui cakarnya di depan, sehingga lidah ikan mengalami atrofi akibat
kekurangan darah. Cymothoa sp kemudian menggantikan lidah ikan dengan
menempelkan tubuhnya sendiri ke otot potongan lidah. Ikan yang menjadi inang
kemudian mampu menggunakan parasit tersebut seperti lidah biasa. Tampaknya
parasit ini tidak mengakibatkan kerusakan lain bagi ikan yang menjadi inangya.
Begitu Cymothoa sp menjadi lidah pengganti, beberapa parasit menghisap darah
inangnya, sementara banyak parasit lainnya yang memakan ingus inangnya.

12



Lernea sp
Lernea sp. menurut Handajani (2005), merupakan salah satu ektoparasit
yang termasuk ke dalam phylum Arthopoda, kelas Crustacea, subkelas
Entomostraea, ordo Copepoda, family Lemaideae, 50 Igenus Lemea, spesies
Lernea sp. Kordi (2004) menjelaskan bahwa parasit Lernea sp. sepintas mirip
sebuahi jarumyang menancap pada tubuli ikan, sehingga sering disebut kutu
jarum. Handajani (2005) juga menyebutkan bahwa Lernea sp. adalah parasit yang
menancapkan kepalanya kedalam tubuh ikan dengan menggunakan semacam
perangkat mirip jangkar.
Ikan yang terserang penyakit ini memperlihatkan gejala klinis antara lain :
organ tubuh yang diserang Lernea sp. Nampak seperti cacing yang
bergelantungan. Bagian kepala dengan jangkamya berada dalam daging ikan
sedangkan bagian badannya dengan 2 kantong telur keluar bebas. Pertumbuhan
ikan semakin menumn dan terhambat, badannya kums. Bila Lernea sp dicabut
meninggalkan bekas luka bempa sebuah lubang kecil pada tubuh ikan (Daelani
2001).

Filum Helminthes
Dactylogyrus sp
Dactylogyrus sp. merupakan parasit yang penting pada ikan air tawar dan
ikan air laut. Juga merupakan parasit yang penting pada carp fry. Hidup di
insang,tergolong Monogenea, punya kaki paku dan beracetabulum. Parasit yang
matang melekat pada insang dan bertelur disana. Dactylogyrus sp. merupakan
cacing Trematoda dari sub-kelas Monogenea. Spesiesnya berparasit pada hewan
air berdarah dingin atau pada ikan, amfibi, reptil, kadang-kadang pada
invertebrata air. Distribusinya luas, memiliki siklus hidup langsung dan
merupakan parasit ekstemal pada insang, sirip, dan rongga mulut. Bisa juga
ditemukan pada traktus urinaria. Cacing ini bersifat ovipara dan memiliki haptor
yaitu organ untuk menempel yang dilengkapi dengan 2 pasang jangkar dan 14 kait
di lateral. Intensitas reproduksi dan infeksi memuncak pada musim panas. Telur
pada umumnya memliki operkulum dan filamen disalah satu ujungnya yang
13



berfungsi untuk melekatkan telur pada hospes atau benda lain. Larva
(oncomiridium) mempunyai silia dan eye spot lebih dari satu. Larva akan
berenang dan menempel pada tubuh hospes kemudian menjadi dewasa di hospes
(Kabata 1985).
Kabata (1985) menyebutkan bahwa klasifikasi Dactylogyrus sp.
digolongkan kelas Monogenea, subkelas Polyonchoinea, ordo Dactylogyridea,
family Dactylogyridae, genua Dactylogyrus dan spesies Dactylogyrus sp.
Bentuk Dactylogyrus sp. adalah parasit yang memiliki sepasang bintik mata,
saluran usus yang tidak jelas, sepasang jangkar yang tidak memiliki penghubung.
Sesuai dengan pernyataan Kabata, (1985) bahwa Dactylogyrus sp. memiliki 2
pasang mata yang kadang - kadang tampak seperti titik hitam dan memiliki
saluran usus, mata dan vagina tidak jelas serta sepasang jangkar tanpa bar
(penghubung).
Kabata (1985) juga menjelaskan siklus hidup parasit dimulai dari cacing
dewasa bertelur, menetas menjadi larva bersilia (onchomiracidium), melekat pada
insang kemudian menjadi cacing dewasa. Gejala klinis pada ikan yang terserang
Dactylogyrus sp. Yaitu nafsu makan menurun, insang bengkak, megap-megap di
permukaan air, lendir berlebihan, pucat, sukar bernafas, dan terkadang insang
sampai terbuka keluar.

Gyrodactylus sp
Parasit ini merupakan organisme yang menyerang tubuh ikan bagian luar.
Gyrodactylus sp menginfeksi tubuh dan sirip ikan. Gyrodactylus sp merupakan
cacing parasit ikan yang menempel pada tubuh inang. Cacing Monogenea
berkembangbiak dengan menghasilkan satu telur setiap beberapa saat. Telur
mereka menyebar di air atau menempel pada substrat dasar. Larva menetas dari
telur dan mengalami tahap berenang sebelum menginfeksi inang baru.
Gyrodactylus sp berkembangbiak dengan melahirkan anakan yang sudah
mengandung anakan lagi. Semua anakan hasil reproduksi ini mampu menginfeksi
ikan tanpa adanya inang perantara (Awik dkk 2007)
14



Clinostonum sp
Parasit ini seringkali ditemukan pada benih ikan gurame, dan
menyebabkan sakit bintilan. Bintil-bintil ini mengandung cercaria Clinostonum
sp. Dan menyebabkan ikan gurame yang terinfeksi terhambat pertumbuhannya.
Daur hidup Clinostonum sp terdiri dari beberapa fase yakni pertama yaitu
fase telur (dalam air), kedua fase miracidium, sporocyst dan redia (dalam siput),
ketiga fase cercaria dan kista/metacercaria (dalam air), serta keempat fase dewasa
(dalam hewan vertebrata, ikan, ternak, burung, dan manusia)
Digenea yang telah diketahui mendekati 400 genera dan sedikitnya 4000
spesies yang menyerang ikan. Parasit ini memperlihatkan inang spesifisitas yang
tinggi terutama pada inang antara yang pertama dan pada inang akhir. Organ yang
diserang pada inang akhir adalah organ internal seperti saluran gastrointernal dan
organ yang berdekatan seperti hati dan empedu, paru-paru, gelembung renang
serta saluran darah.



15

BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum mengenai pemeriksaan ikan dan identifikasi parasit ini dilakukan
di laboratorium Akuakultur di gedung Dekanat FPIK Unpad. Pada tanggal 08 Mei
2014 dan 19 Mei 2014 mulai pukul 10.00 12.00 WIB.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Nama Alat Fungsi
a. Baki
b. Cawan Petri
c. Gunting
d. Mikroskop
e. Penggaris
f. Penusuk
g. Pinset
h. Pipet tetes
i. Pisau bedah
j. Timbangan
analitik
a. Untuk menyimpan alat praktikum
b. untuk tempat meletakkan sample ikan
c. untuk membedah bagian dorsal (perut) ikan
d. untuk melihat parasit
e. untuk mengukur Total Length (TL)
f. untuk mematikan ikan
g. untuk mengambil sample
h. untuk memberi tetesan air pada sample
i. untuk memotong sample
j. untuk mengukur bobot ikan


3.2.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Ikan mas
Ikan ar ar
Aquades



16



3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Pengamatan Ekotoparasit
Pengamatan ektoparasit ini dilakukan pada bagian eksternal tubuh ikan
yaitu, sisik, lendir pada sirip, dan insang.
Alat dan bahan disiapkan
Ikan ditimbang bobotnya dan diukur panjangnya
Ikan diambil sisiknya menggunakan pisau bedah
Sisik ikan diletakkan pada object glass kemudian diberi 1 ml aquades (1
tetes)
Sisik ikan diamati dibawah mikroskop
Parasit yang ditemukan dicacat jenis dan jumlahnya
Keempat poin di atas diulangi untuk pengamatan parasit pada lender ikan.
Untuk pengamatan pada insang, insang yang telah diambil menggunakan
pinset dicacah terlebih dahulu menggunakan pisau bedah sebelum diberi I
ml aquades dan diamati dibawah mikroskop.
3.3.2 Pengamatan Endoparasit
Pengamatan endoparasit ini dilakukan pada bagian internal tubuh ikan yaitu
otot dan saluran pencernaan ikan.
Alat dan bahan disiapkan
Ikan di timbang bobotnya dan diukur panjangnya
Ikan diambil ototnya menggunakan gunting dan pinset
Otot ikan dicacah menggunakan pisau bedah agar pengamatan lebih mudah
Otot ikan diletakkan pada object glass kemudian diberi 1 ml aquades (1
tetes)
Otot ikan diamati dibawah mikroskop
Parasit yang ditemukan dicacat jenis dan jumlahnya
Kelima poin di atas diulangi untuk pengamatan parasit pada saluran
pencernaan ikan (usus).


17

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Data Kelompok Ikan Ar ar
Kelompok : 13
Hari/Tanggal : Senin / 19 Mei 2014
Spesies ikan : Carassius carracius
Hasil pengamatan kelompok kami, parasit yang berada pada ikan Ar ar sebagai
berikut:
Kel Ikan Panjang Jenis Parasit
Ekto Endo
Sirip/sisik Insang Otot Usus
13
Ar ar 1 6 cm Ektoparasit Dactylogyrus - 3 - -
Ar ar 2 6 cm Ektoparasit Gyrodactylus - 1 - -
Ar ar 3 6cm Ektoparasit Dactylogyrus - 1 - -

4.2 Data Kelas Ikan Ar ar
Hari/Tanggal :Senin / 19 Mei 2014
Spesies ikan : Carassius carracius
Hasil pengamatan kelompok 27 kelompok, parasit yang berada pada ikan Ar ar
sebagai berikut:
Kel Ikan Panjang Jenis Parasit
Ekto Endo
Sirip / Sisik Insang Otot Usus
1
Arar 1 5,5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

1

Gyrodactylus

1

Arar 2 4,5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

1

Gyrodactylus

2


1

Arar 3 5,2 cm Ektoparasit
Dactylogyrus 1 2

Gyrodactylus

1

2
Arar 1 6 cm
Ektoparasit Gyrodactylus 2

Endoparasit
Sparganum
mansoni
3

Sparganum
proliferasi
1

Arar 2 5,5 cm Ektoparasit Gyrodactylus 1

Arar 3 6 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

1

Gyrodactylus 1

18



3
Arar 1 4,6 cm Ektoparasit Dactylogyrus

1

Arar 2 6 cm - -

Arar 3 5,5 cm - -

4
Arar 1 4,5 cm Ektoparasit Dactylogyrus

2

Arar2 5,5 cm - -

Arar 3 5 cm Ektoparasit Dactylogyrus

1

5
Arar 1 5,5 cm - -

Arar2 5 cm Ektoparasit Dactylogyrus

4

Arar 3 5,1 cm Ektoparasit Gyrodactylus

3

6
Arar 1 5 cm Ektoparasit Dactylogyrus

2

Arar2 5,5 cm - -

Arar 3 6 cm Ektoparasit Dactylogyrus

3

7
Arar 1 6,2 cm Ektoparasit Dactylogyrus

2

Arar2 4,2 cm Ektoparasit Dactylogyrus

1

Arar 3 4 cm - -

8
Arar 1 5,7 cm Ektoparasit Dactylogyrus

1

Arar2 5,8 cm
Ektoparasit Tricodina 1

Endoparasit Acarus

1
Arar 3 6,4 cm - -

9
Arar 1 5,8 cn - -

Arar2 5,7 cm Ektoparasit Dactylogyrus

1

Arar 3 - Ektoparasit Dactylogyrus

1

10
Arar 1 6,5 cm - -

Arar2 5,5 cm Ektoparasit Dactylogyrus 1 1

Arar 3 6,5 cm Ektoparasit Dactylogyrus 1 2

11
Arar 1 - Ektoparasit Gyrodactylus

2

Arar2 - - -

Arar 3 - - -

12
Arar 1 5,5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

1

Gyrodactylus

1

Arar 2 5,5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

2

Gyrodactylus

3

Arar 3 5,5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

3

Gyrodactylus

2

13
Arar 1 6 cm Ektoparasit Dactylogyrus

3

Arar 2 6 cm Ektoparasit Gyrodactylus

1

Arar 3 6 cm Ektoparasit Dactylogyrus

1

14
Arar 1 6 cm Ektoparasit Dactylogyrus

6

Arar2 6 cm - -

Arar 3 5,5 cm Ektoparasit Dactylogyrus

2

15
Arar 1 5,5 cm - -

Arar2 5 cm Ektoparasit Dactylogyrus

3

Arar 3 4,5 cm Ektoparasit Trichodinella

3

16
Arar 1 5,7 cm
Ektoparasit Dactylogyrus

4

Endoparasit Sparganum

2
Arar 2 5,6 cm Ektoparasit
Dactylogyrus 1 5

Gyrodactylus 2 1

Arar 3 5,6 cm
Ektoparasit
Dactylogyrus

12

Gyrodactylus

6

Endoparasit Sparganum

4
17
Arar 1 - Ektoparasit Dactylogyrus

1

Arar2 - Ektoparasit Dactylogyrus

5

Arar 3 - - -

19



18
Arar 1 5,6 cm - -

Arar2 5,7 cm Ektoparasit Gyrodactylus 2

Arar 3 5,7 cm
Ektoparasit Dactylogyrus 2

Endoparasit Sparganum

2
19
Arar 1 - - -

Arar2 - Ektoparasit Dactylogyrus

5

Arar 3 - Ektoparasit Dactylogyrus 1

20
Arar 1 5 cm - -

Arar2 4,8 cm Ektoparasit Dactylogyrus 1

Arar 3 5 cm Ektoparasit Lernea 1

21
Arar 1 5 cm - -

Arar2 5,3 cm Ektoparasit Dactylogyrus

1

Arar 3 5,2 cm Ektoparasit Dactylogyrus

4

22
Arar 1 5,6 cm - Dactylogyrus

3

Arar2 5,7 cm Ektoparasit Dactylogyrus

4

Arar 3 5,7 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

3

Gyrodactylus

2

23
Arar 1 6,5 cm - -

Arar2 5,5 cm - -

Arar 3 5,5 cm - -

24
Arar 1 5 cm Ektoparasit Dactylogyrus 1 3

Arar 2 5,5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus 3 3

Gyrodactylus

3

Arar 3 5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus 2 1

Gyrodactylus

3

25
Arar 1 5,5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

9

Gyrodactylus

1

Chilodinela

1

Arar 2 5 cm Ektoparasit
Dactylogyrus

3

Gyrodactylus

1

Arar 3 5 cm Ektoparasit Dactylogyrus

1

26
Arar 1 4,9 cm - -

Arar2 5,5 cm - -

Arar 3 5,5 cm Ektoparasit Dactylogyrus

2

27
Arar 1 6,5 cm - -

Arar2 5,5 cm - -

Arar 3 5,5 cm - -


(Ektoparasit)

Intensitas Parasit = _Jumlah parasit yang ditemukan_
Jumlah ikan yang terinfeksi
= 179 = 2,5
71

Pravelensi = _Jumlah ikan yang terinfeksi_ x 100 %
Jumlah ikan yang diperiksa
= _71_ x 100 %
81
= 87 %
20



(Endoparasit)
IntensitasParasit = _Jumlah parasit yang ditemukan_
Jumlah ikan yang terinfeksi
= 13 = 2,1
6

Pravelensi = _Jumlah ikan yang terinfeksi_ x 100 %
Jumlah ikan yang diperiksa
= _13_ x 100 %
81
= 16 %
4.3 Data Kelompok Ikan Mas
Kelompok : 13
Hari/Tanggal : Kamis / 8 Mei 2014
Spesies ikan : Cyprinus carpio
Hasil pengamatan kelompok kami, parasit yang berada pada ikan Mas sebagai
berikut:
Kel
Bobot
(gram)
TL
(cm)
Jenis Parasit
Bagian Tubuh
Ektoparasit Endoparasit
Kulit Sisik Sirip Insang Usus Otot
13 150 20
Dactylogyrus
sp
- - - 3 - -

4.4 Data Kelas Ikan Mas
Hari/Tanggal : Kamis / 8 Mei 2014
Spesies ikan : Cyprinus carpio
Hasil pengamatan 27 kelompok, parasit yang berada pada ikan Mas sebagai
berikut:
Kel
Bobot
(gram)
TL
(cm)
Jenis Parasit
Bagian Tubuh
Ektoparasit Endoparasit
Kulit Sisik Sirip Insang Usus Otot
1 122 19 Dactylogyrus sp - - - 7 - -
2 191 22
Dactylogyrus sp - - - 3 - -
Gyrodactylus sp 2 - - - - -
21



3 161 19 Dactylogyrus sp - - - 16 - -
4 179 18,5 Dactylogyrus sp - - - 12 - -
5 216 21,5 Dactylogyrus sp - - - 1 - -
6 186 21
Dactylogyrus sp - - - 24 - -
Myxobolus sp - - - 6 - -
7 175 21
Gyrodactylus sp - - - 3 -
Lerneae sp - 1 - - - -
8 188 19,7 Dactylogyrus sp - - - 6 - -
9 102 19 Dactylogyrus sp - - - 1 - -
10 176 25
Gyrodactylus sp - - - 4 - -
Dactylogyrus sp - - - 7 - -
Trichodina sp - - - 1 - -
Argulus sp - - 1 - - -
11 374 26
Gyrodactylus sp - - - 1 - -
Dactylogyrus sp - - - 2 - -
12 220 30
Camallanus sp - - - - 2 -
Dactylogyrus sp - - - 7 - -
Gyrodactylus sp 1 - - 1 - -
Ichthyophthirius
sp
- - - 8 - -
Rhabditis sp - - - 2 - -
Trichodina sp - - - 3 - -
13 150 20 Dactylogyrus sp - - - 3 - -
14 165 27
Camallanus sp - - - - 2 -
Dactylogyrus sp - - - 2 - -
15 107 18
Dactylogyrus sp - - - 9 - -
Gyrodactylus sp - - - 1 - -
Ichthyopthirius
sp
- - - 1 - -
Diplozoon sp - - - 1 - -
Trichodina sp - - - 11 - -
16 144 24
Dactylogyrus sp - - - 6 - -
Gyrodactylus sp - - - 5 - -
17
Gyrodactylus sp - - - 1 - -
Dactylogyrus sp - - - 2 - -
22



18 293 24,3
Gyrodactylus sp - - - 4 - -
Dactylogyrus sp - - - 3 - -
Tricodina sp - - - 1 - -
19 168,58 20,3 Dactylogyrus sp - 2 - 3 - -
20 188,75 20,5 Lerneae sp 1 - - - - -
21 211,90 22,2 Dactylogyrus sp - - - 6 - -
22 136,97 19,4
Gyrodactylus sp - - - 4 - -
Dactylogyrus sp - - - 2 - -
23 170,40 21
Argulus sp 1 - - - - -
Dactylogyrus sp - - - 7 - -
24 137,05 18 Dactylogyrus sp - - - 3 - -
25 207,85 22,5 Dactylogyrus sp - - - 37 - -
26 145,20 20 Dactylogyrus sp - - - 12 - -
27 175 21 Dactylogyrus sp - - - 11 - -

(Ektoparasit)
IntensitasParasit = _Jumlah parasit yang ditemukan_
Jumlah ikan yang terinfeksi
= 262 = 9,8
27

Pravelensi = _Jumlah ikan yang terinfeksi_ x 100 %
Jumlah ikan yang diperiksa
= _27_ x 100 %
27
= 100 %
(Endoparasit)
IntensitasParasit = _Jumlah parasit yang ditemukan_
Jumlah ikan yang terinfeksi
= _4_ = 2
2
Pravelensi = _Jumlah ikan yang terinfeksi_ x 100 %
Jumlah ikan yang diperiksa
= _2_ x 100 %
27
= 0,7 %

23



4.5 Pembahasan Arar
Bagian tubuh ikan yang dapat terinfeksi oleh parasit adalah bagian luar
dan dalam, bagian luar tubuh ikan yang biasa terserang parasit mencakup sirip,
sisik dan insang, sedangan bagian dalam tubuh ikan yang biasanya terserang
adalah otot dan usus.
Pada ikan yang kami amati, kami dapat mengidentifikasi bahwa ikan Ar ar
yang kami amati terdapat parasit yang hidup di bagian tubuh luar ikan yaitu
insang. Pada ikan Ar ar 1 terdapat Dactylogyrus sebanyak 3 spesies, Ar ar 2
terdapat Gyrodactylus 1 spesies dan Ar ar 3 terdapat Dactylogyrus 1 spesies
sehingga jumlah parasit yang didapatkan dari 3 ikan Ar ar ada 5 spesies parasit.
Dari 27 kelompok yang mengikuti praktikum ada berbagai macam jenis
parasit yang didapatkan dari setiap individu ikan Ar ar, tetapi kebanyakan spesies
yang didapatkan adalah Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Setiap kelompok pun
mendapatkan jumlah parasit yang diderita berbeda-beda. Kelompok 1
mendapatkan 10 spesies, kelompok 2 mendapatkan 9 spesies, kelompok 3
mendapatkan 1 spesies, kelompok 4 ; 7 ; 8 mendapatkan 3 spesies, kelompok 5
mendapatkan 7 spesies, kelompok 6 ; 10 ; 13 ; 21 mendapatkan 5 spesies,
kelompok 9 ; 11 ; 20 ; 26 mendapatkan 2 spesies, kelompok 12 ; 22 mendapatkan
12 spesies, kelompok 14 mendapatkan 8 spesies, kelompok 15 ; 17 ; 18 ; 19
mendapatkan 6 spesies, kelompok 16 mendapatkan 37 spesies, kelompok 23 ; 27
tidak mendapatkan spesies, kelompok 24 mendapatkan 19 spesies dan kelompok
25 mendapatkan 16 spesies. Jadi jumlah spesies yang didapatkan dari 81 ikan Ar
ar adalah 192 spesies parasit yang hidup.
Dari semua jumlah ikan yang terjangkit parasit dapat dihitung berapa
intensitas dan pravelensi parasit pada seluruh ikan tersebut. Parasit yang ada
dibagian luar tubuh ikan memiliki intensitas sebesar 2,5 dan pravelensi sebesar
87%, sedangkan parasit dibagian dalam tubuh ikan memiliki intensitas sebesar 2,1
dan pravelensi sebesar 16%.

24



4.6 Pembehasan Ikan Mas
Ikan mas yang kami amati memiliki bobot sebesat 150 gram dan panjang
total 20 cm. Pada ikan in, kami dapat mengidentifikasi bahwa ikan mas yang kami
amati terdapat parasit yang hidup di bagian tubuh luar ikan yaitu insang. Pada
insang tersebut terdapat Dactylogyrus sebanyak 3 spesies.
Dari 27 kelompok yang mengikuti praktikum ada berbagai macam jenis
parasit yang didapatkan dari setiap individu ikan mas, tetapi kebanyakan spesies
yang didapatkan adalah Gyrodactylus dan Dactylogyrus. Setiap kelompok pun
mendapatkan jumlah parasit yang diderita berbeda-beda. Kelompok 1
mendapatkan 7 spesies, kelompok 2,19 mendapatkan 5 spesies, kelompok 3
mendapatkan 16 spesies, kelompok 4 ; 26 mendapatkan 12 spesies, kelompok 5 ;
9 ; 20 mendapatkan 1 spesies, kelompok 6 mendapatkan 30 spesies, kelompok 7 ;
14 mendapatkan 4 spesies, kelompok 8 ; 21 ; 22 mendapatkan 6 spesies,
kelompok 10 mendapatkan 13 spesies, kelompok 11 ; 13 ; 17 ; 24 mendapatkan 3
spesies, kelompok 16 mendapatkan 37 spesies, kelompok 23 ; 27 tidak
mendapatkan spesies, kelompok 12 mendapatkan 24 spesies dan kelompok 15
mendapatkan 23 spesies, kelompok 16 ; 27 mendapatkan 11 spesies, kelompok 18
; 23 mendapatkan 8 spesies, dan kelompok 25 mendapatkan 37 spesies. Jadi
jumlah spesies yang didapatkan dari 27 ikan mas adalah 266 spesies parasit yang
hidup.
Dari semua jumlah ikan yang terjangkit parasit dapat dihitung berapa
intensitas dan pravelensi parasit pada seluruh ikan tersebut. Parasit yang ada
dibagian luar tubuh ikan memiliki intensitas sebesar 9,8 dan pravelensi sebesar
100%, sedangkan parasit dibagian dalam tubuh ikan memiliki intensitas sebesar 2
dan pravelensi sebesar 0,7%.





25

BAB V
KESIMPULAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Ikan mas (Cyprinus Carpio Linn) merupakan ikan air tawar yang
mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi.
Ikan ar-ar merupakan ikan hias air tawar yang hidup di perairan dengan air
yang mengalir tenang serta berudara sejuk (Bachtiar 2002).
Parasitologi adalah suatu ilmu cabang Biologi yang mempelajari tentang
semua organisme parasit.
Parasit adalah hewan atau tumbuhan yang hidup atas pengorbanan dari
induk semangnya (hewan atau tumbuhan lain).
Jumlah spesies yang didapatkan dari 81 ikan Ar ar adalah 192 spesies
parasit yang hidup.
Jumlah parasit yang hidup diluar tubuh ikan Ar ar 179 spesies.
Jumlah parasit yang hidup didalam tubuh ikan Ar ar 13 spesies.
Parasit yang ada dibagian luar tubuh ikan Ar ar memiliki intensitas sebesar
2,5 dan pravelensi sebesar 87%.
Parasit dibagian dalam tubuh ikan Ar ar memiliki intensitas sebesar 2,1 dan
pravelensi sebesar 16%.
Jumlah spesies yang didapatkan dari 27 ikan mas adalah 266 spesies
parasit yang hidup.
Jumlah parasit yang hidup diluar tubuh ikan mas 262 spesies.
Jumlah parasit yang hidup didalam tubuh ikan mas 4 spesies.
Parasit yang ada dibagian luar tubuh ikan memiliki intensitas sebesar 9,8
dan pravelensi sebesar 100%.
Parasit dibagian dalam tubuh ikan memiliki intensitas sebesar 2 dan
pravelensi sebesar 0,7%.


26



5.2 Saran
Praktikan harus lebih teliti mengambil sampel karena bisa saja pada bagian
tubuh yang dianggap tidak terdapat parasit, terdapat parasit namun tidak teramati,
dan harus belajar lebih cepat dalam mengidentifikasi penyakit agar praktikum
berjalan tepat waktu.
Praktikan harus lebih teliti dalam perhitungan intensitas parasit dan
prevalensi agar hasil perhitungannya akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.
Praktikan benar-benar melakukan praktikum ini sesuai prosedur yang ada,
sehingga hasil yang diperoleh bisa dipertanggung jawabkan. Karena ilmu yang
bisa kita peroleh dari praktikum ini sangat banyak dan bermanfaat bagi kita
kedepannya.











27

DAFTAR PUSTAKA

Alfiany, Rizky. 2013. Penyakit yang biasa muncul pada ikan lele.
http://rizkyalfiany.blogspot.com/2013/04/penyakit-yang-biasa-muncul-
pada-ikan.html (diakses 4 juni 2014)
Andi, Mahatir. 2013. Patogen Pada Ikan. http://sukseszona.blogspot.com/
2013/12/patogen-pada-ikan.html (diakses 5 juni 2014)
Anonim. 2011. BIOLOGI DAN MORFOLOGI IKAN MAS(Cyprinus carpio L).
http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/02/biologi-dan-morfologi-ikan-
mascyprinus.html (diakses 4 juni 2014)
Anonim. 2013. Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Mas. http://tentang-ikan.blogspot.
com/2013/11/klasifikasi-dan-morfologi-ikan-mas.html (diakses 4 juni 2014)
Anonim. 2013. Parasit dan Penyakit Ikan. http://parasitologiperikanan.
blogspot.com/ (diakses 4 juni 2014)
Herupradoto, Bimo Aksono dkk. 2010. Karakterisasi Protein Spesifik Aeromonas
hydrophila Penyebab Penyakit Ulser pada Ikan Mas. Jurnal Veteriner. Vol.
11 No. 3 : 158-162
Permana, Aang. 2010. Klasifikasi Ikan Mas. http://masperfish.wordpress.com
/2010/07/17/ikan-mas/ (diakses 4 juni 2014)
Prayoga, Rifdo dkk. 2013. PARASIT DAN PENYAKIT IKAN Pemeriksaan Parasit
Pada Ikan Lele, Ikan Ar-Ar, Ikan Mas, Ikan Nilem dan Ikan Tambakan.
http://allaboutfisheriesteory.wordpress.com/2013/06/16/parasit-dan-
penyakit-ikan-pemeriksaan-parasit-pada-ikan-lele-ikan-ar-ar-ikan-mas-ikan-
nilem-dan-ikan-tambakan/ (diakses 4 juni 2014)



28

Wiyatno, Ferlyn Hendra dkk. 2012. Identifikasi Dan Prevalensi Ektoparasit Pada
Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes Altivelis) Di Karamba Jaring Apung Unit
Pengelola Budidaya Laut Situbondo. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Vol. 4 No. 1