100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
261 tayangan27 halaman

Konsep dan Fungsi Pengawasan

Teks tersebut membahas konsep dasar kepengawasan, termasuk pengertian, istilah terkait, tujuan, fungsi, dan prinsip pelaksanaannya. Kepengawasan bertujuan untuk memastikan bahwa rencana dan aktivitas pelaksanaan berjalan sesuai target agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien."

Diunggah oleh

I Ketut Suena
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
261 tayangan27 halaman

Konsep dan Fungsi Pengawasan

Teks tersebut membahas konsep dasar kepengawasan, termasuk pengertian, istilah terkait, tujuan, fungsi, dan prinsip pelaksanaannya. Kepengawasan bertujuan untuk memastikan bahwa rencana dan aktivitas pelaksanaan berjalan sesuai target agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien."

Diunggah oleh

I Ketut Suena
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Kepengawasan
2.1.1 Pengertian Pengawasan
Terdapat

banyak istilah

yang berkaitan dengan pengawasan

(controlling) yaitu monitoring, correcting, evaluating dan supervision. Istilahistilah tersebut digunakan sebagai alat controlling atau pengawasan. Pengawasan
mengandung arti mengamati terus-menerus, merekam, memberikan penjelasan
dan petunjuk. Pengawasan mengandung arti pembinaan dan penelusuran
terhadap berbagai ketidaktepatan dan kesalahan. Pengawasan ini merupakan
kunci keberhasilan proses manajemen.
Pengawasan menurut Mockler (Stoner, 1996:529) adalah suatu usaha
sistematis untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan
perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan
kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menetukan
dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi
yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan
dipergunakan dengan paling efektif dan efisien dalam tujuan-tujuan organisasi.
Kegiatan pengawasan pada dasarnya membandingkan kondisi yang
ada

dengan

seharusnya

terjadi.

Apabila

dalam

prosesnya

terjadi

penyimpangan/hambatan/penyelewengan segera dilakukan tindakan koreksi.


Untuk memperoleh hasil lebih efektif, pengawasan dilakukan bukan hanya pada
akhir proses manajemen tetapi pada setiap tingkatan proses manajemen.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengawasan
merupakan proses untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan dalam
pelaksanaan rencana agar segera dilakukan upaya perbaikan sehingga dapat
memastikan bahwa aktivitas yang dilaksanakan secara riil merupakan aktifitas
yang sesuai dengan apa yang direncanakan.
2.1.2 Istilah-Istilah yang Terkait dengan Pengawasan
Monitoring dan evaluasi (monev) merupakan aktivitas pengawasan
yang pada keduanya dimiliki tujuan yang sama yaitu untuk memastikan

Manajemen Pendidikan

keberhasilan program. Namun dalam praktiknya terdapat perbedaan fungsi yaitu


bahwa monitoring merupakan upaya manajer melakukan pemantauan terhadap
lapangan untuk melihat dan memastikan kegiatan tersebut sudah berjalan atau
belum, dalam perjalanan kegiatan tersebut. Sedangkan evaluasi penekannya
pada aspek hasil yang dicapai setelah program tersebut selesai dilaksanakan.
Biasanya hasil monitoring menjadi informasi yang berharga sebagai bahan
evaluasi.
Dunn

(2000)

menjelaskan

bahwa

pemantauan

(monitoring)

merupakan prosedur analisis kebijakan yang digunakan untuk memberikan


informasi tentang sebab akibat dari kebijakan. Sedangkan evaluasi menurut
Cronbach (1990) merupakan kegiatan pemeriksaan yang sistematis dari
peristiwa-peristiwa yang terjadi dan akibatnya pada saat program dilaksanakan
dan diarahkan untuk memperbaiki program. Evaluasi memberikan gambaran
tentang keberhasilan program, hambatan-hambatan, kelemahan-kelemahan,
kelebihan-kelebihan

dan

dorongan

yang

ada

serta

akan

diketahui

kebermanfaatan program setelah dimiliki data dan informasi yang diperoleh dari
hasil monitoring.
2.1.3 Proses Pengawasan
Proses pengawasan meliputi tiga tahap yaitu: (1) menetapkan standar
pelaksanaan, (2) pengukuran pelaksanaan, (3) menetukan kesenjangan (deviasi)
antara pelaksanaan dengan standar dan rencana.
Mockler menyusun pengawasan menjadi 4 langkah kegiatan seperti
dalam gambar berikut:

Tetapkan
standard dan
metode
mengukur
prestasi kerja

Mengukur
prestasi
kerja

Apakah
prestasi kerja
sesuai
dengan
standar?

Tidak melakukan
apa-apa

Manajemen Pendidikan

Ambil
tindakan
korektif dan
evaluasi
ulang
standar

Gambar 1. Langkah-langkah dasar proses pengawasan


a. Menetapkan standar dan metode mengukur prestasi kerja, menetapkan
standar dimulai dari menetapkan tujuan atau sasaran secara spesifik dan
mudah diukur. Tujuan atau sasaran dan cara mencapai tujuan tersebut
merupakan standar dan metode kerja yang dapat digunakan untuk
mengukur prestasi kerja.
b. Pengukuran prestasi kerja, kegiatan yang dijalankan untuk mencapai
sasaran terus diukur keberhasilannya secara berulang bisa pengamatan
langsung atau melalui penggunaan instrumen survey berisi indikator
efektivitas kerja.
c. Menetapkan apakah prestasi kerja sesuai dengan standar, hasil
pengukuran menjadi bahan informasi untuk dibandingkan antara standar
dengan keadaan nyata lapangan.
d. Mengambil tindakan korektif bila hasil pengukuran menunjukkan terjadi
penyimpangan-penyimpangan, maka dilakukan langkah korektif.
2.1.4 Tujuan Pengawasan
Pengawasan secara umum bertujuan untuk mengendalikan kegiatan
agar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sehingga hasil pelaksanaan
pekerjaan diperoleh secara efisien dan efektif sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan dalam program kegiatan.
Menurut Fattah (1996:103) tujuan pengawasan menurut konsep sistem
adalah membantu mempertahankan hasil atau output yang sesuai syarat-syarat
sistem. Artinya melalui pengawasan apa yang telah ditetapkan dalam rencana
dan program, pembagian tugas dan tanggung jawab, pelaksanaanya serta
evaluasinya senantiasa dipantau dan diarahkan sehingga tetap berada dalam
ketentuan. Harsono (1996) menyatukan tujuan pengawasan pendidikan dan
kebudayaan

adalah

untuk

mendeteksi

sedini

mungkin

segala

bentuk

penyimpangan serta menindaklanjutinya dalam rangka mendukung pelaksanaan


prioritas pendidikan. Prioritas pendidikan yang dimaksud adalah pemerataan
kesempatan belajar, relevansi, peningkatan mutu dan kesangkilan dan
kemangkusan.

Manajemen Pendidikan

Pengawasan sesungguhnya bertujuan untuk:


1. Membuat pihak yang diawasi merasa terbantu sehingga dapat mencapai
visi dan misinya secara lebih efektif dan efisien.
2. Menciptakan

suasana

keterbukaan,

kejujuran,

partisipasi

dan

akuntabilitas.
3. Menimbulkan suasana saling percaya dalam dan di luar lingkungaan
operasi organisasi.
4. Meningkatkan akuntabilitas organisasi.
5. Meningkatkan kelancaran operasi organisasi.
6. Mendorong terwujudnya good governance.
2.1.5 Fungsi Pengawasan
Pengawasan yang efektif berfungsi sebagai Early warning system
atau sistem peringatan dini yang sanggup memberikan informasi awal mengenai
persiapan program,

keterlaksaan program, dan keberhasilan program. Dunn

(2000: 510) memerinci terdapat empat fungsi pengawasan, yaitu: eksplanasi,


akuntansi, pemeriksaan, dan kepatuhan.
a) Fungsi eksplanasi, yaitu menjelaskan bagaimana kegiatan dilakukan,
termasuk di dalamnya hambatan dan kesulitan serta alasan terdapatnya
permedaan hasil-hasil dari suatu kegiatan.
b) Fungsi akuntansi, yaitu melalui pengawasan dapat dilakukan auditing
terhadap penggunaan sumber daya dan tingkat output yang dicapai. Hal
tersebut

menjadi

informasi

yang

bermanfaat

untuk

melakukan

perhitungan program lanjutan atau program baru yang memiliki relevansi


tinggi terhadap efektivitas program atau bahkan untuk pengembangan
program
c) Fungsi pemeriksaan, yaitu menelaah kesesuaian pelaksanaan kerja
nyata dengan rencana.
d) Fungsi kepatuhan, yaitu menilai sejauh mana para pelaksana taat
dengan aturan sehingga dapat diketahui tingkat disiplin kerja pegawai
dinilai dari kepatuhan (compliance).
Sedangkan, Nawawi (1983) mengemukakan fungsi pengawasan,
sebagai berikut.

Manajemen Pendidikan

1. Memperoleh data yang telah diolah dapat dijadikan dasar bagi usaha
perbaikan dimasa yang akan datang.
2. Memperoleh cara bekerja yang paling efisien dan efektif atau yang paling
tepat dan paling berhasil sebagai cara yang terbaik untuk mencapai tujuan.
3. Memperoleh data tentang hambatan-hambatan dan kesukaran-kesukaran
yang dihadapi agar dapat dikurangi atau dihindari.
4. Memperoleh data yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan usaha
pengembangan organisasi dan personil dalam berbagai bidang.
5. Mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah dicapai.
2.1.6 Prinsip Kerja Pelaksanaan Pengawasan
LAN RI (2005: 117) merinci prinsip kerja pelaksanaan pengawasan,
sebagai berikut.
1.

Prinsip kesisteman, yaitu pengawasan ditujukan untuk menghasilkan


good

governance,

sehingga

harus

memperhatikan

keseluruhan

komponen secara sistemik.


2.

Prinsip akuntabilitas, yaitu segala yang ditugaskan meminta


pertanggungjawaban dari setiap orang yang diserahi tanggungjawab
dalam pelaksanaan tugasnya.

3.

Prinsip organisasi, yaitu tugas manajemen ada pada setiap level


organisasi dan pengawasan merupakan tugas setiap pimpinan yang
berada pada organisasi sesuai denggan tugas pokok fungsinya masingmasing.

4.

Prinsip

koordinasi,

yaitu

pengawasan

dilakukan

dengan

memperhatikan pengaturan kerja sama yang baik antar komponen.


Setiap bagian memiliki tugas pokok fungsi masing-masing, akan tetapi
untuk menjaga sinergitas sistem maka tiap bagian harus dapat
mewujudkan kegiatan terpadu dan selaras dengan tujuan organisasi
melalui koordinasi yang baik.
5.

Prinsip komunikasi, yaitu pengawasan menjadi sarana hubungan


antara pusat dengan daerah serta pimpinan dengan bawahan, sehingga
perlu dikembangkan komunikasi yang intensif dan empatik agar kerja
sama terus berlanjut secara harmonis.

Manajemen Pendidikan

6.

Prinsip pengendalian, yaitu pengawasan menjadi sarana mengarahkan


dan membimbing secara teknis administratif maupun memecahkan
persoalan kerja agar tercapai efektivitas kerja.

7.

Prinsip integritas, yaitu kepribadian pengawasan yang melaksanakan


pengawasan dengan mentalitas yang baik dan penuh kejujuran,
simpatik, tanggung jawab, cermat, dan konsisten.

8.

Prinsip

objektivitas,

yaitu

melaksanakan

pengawasan

dengan

berdasarkan keahlian secara profesional tidak terpengaruh secara


subyektif oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
9.

Prinsip futuristik, yaitu pengawasan harus dapat memprediksi


kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan dan sadar
betul apa yang diperbuat akan menentukan massa depan, sehingga ia
menghindari penyimpangan-penyimpangan atau kebocoran karena akan
menjadi bumerang bagi masa depan.

10. Prinsip preventif, yaitu pengawasan dilakukan agar penyimpanganpenyimpangan dapat dicegah dan kalaupun terjadi dapat dideteksi
secara dini sehingga penyelesaiannya dapat cepat teratasi.
11. Prinsip refresif, yaitu apabila terjadi penyimpangan dan kebocoran,
pengawas harus tegas dengan menegakkan sanksi atau hukuman sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
12. Prinsip edukatif, yaitu kesalahan atau penyimpingan/kebocoran yang
dilakukan segera diperbaiki dan dilakukan saran yang membangun
kepercayaan diri agar tidak terulang kembali kesalahan untuk kedua
kalinya.
13. Prinsip korektif, yaitu kesalahan/penyimmpangan/kebocoran dicari
penyebabnya dan selanjutnya dicari solusi untuk memperbaiki
kesalahan agar tujuan dapat tercapai.
14. Prinsip 3 E (Ekonomis, Efisien, dan Efektif), yaitu pengawasan
dilakukan dengan cara-cara yang benar, waktu yang tepat dan penuh
perhitungan sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara
ekonomis, efisien, dan efektif.

Manajemen Pendidikan

2.1.7 Manfaat Pengawasan


Pengawasan diharapkan menjadi alat atau sarana yang berguna untuk
menghilangkan

atau

mengurangi

kebocoran-kebocoran,

penyimpangan-

penyimpangan, pemborosan, dan penyalahgunaan kekuasaan dan kewenangan


yang terjadi pada suatu organisasi.
2.1.8 Jenis Pengawasan
Terdapat empat jenis pengawasan (Engkoswwara, Aan Komariah,
2010: 223), sebagai berikut:
1) Pengawasan melekat, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh atasan
langsung yang memiliki kekuasaan (power) dilakukan terus-menerus
secara preventif dan represif dan efisien terhindar dari penyimpanganpenyimpangan.
2) Pengawasan fungsional, yaitu pebgawasan yang dilaksanakan oleh
pihak tertentu yang memahami substansi kerja objek yang diawasi dan
ditunjuk khusus (exsclusively assigned) untuk melakukan audit secara
independen terhadap objek yang diawasi. Dimana, pengawas fungsional
melaksanakan tugas kepengawasan secara komprehensif mulai dari
pemeriksaan, verifikasi, konfirmasi, survey, monitoring, dan penilaian
terhadap objek yang berada dalam pengawasan.
3) Pengawasan masyarakat, yaitu pengawasan yang dilakukan masyarakat
kepada negara sebagai bentuk social control terhadap penyelenggaraan
pemerintahan dan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan dalam
pemerintahan.

Pengawasan

masyarakat

dapat

dilakukan

melalui

pengawasan langsung masyarakat maupun melalui media massa.


4) Pengawasan

legislatif, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh

DPR/DPRD sebagai lembaga negara yang bertugas mengawasi tindakan


pemerintah. Pengawasan jenis ini disebut juga sebagai pengawasan
politik yamg dilakukan pihak legislatif.
Jenis-jenis pengawasan juga dapat ditinjau dari 3 segi (Hawa, dkk,
2011), sebagai berikut.
1) Pengawasan dari segi waktu

Manajemen Pendidikan

Pengawasan dari segi waktu dapat dilakukan secara preventif dan


reprensif. Pengawasan preventif lebih dimaksudkan sebagai pengawasan
yang dilakukan terhadap suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan
sehingga dapat mencegah terjadinya penyimpangan. Pengawasan ini
dilakukan

pemerintah

dengan

maksud

untuk

menghindari

adanya

penyimpangan pelaksanaan keuangan negara yang akan membebankan dan


merugikan negara lebih besar. Disisi lain, pengawasan ini juga dimaksudkan
agar sistem pelaksanaan anggaran dapat berjalan sebagaimana yang
dikehendaki. Pengawasan preventif akan lebih bermanfaat dan bermakna
jika dilakukan oleh atasan langsung, sehingga penyimpangan yang
kemungkinan dilakukan akan terdeteksi lebih awal. Sedangkan, pengawasan
represif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan setelah
kegiatan itu dilakukan. Pengawasan model ini lazimnya dilakukan pada
akhir tahun anggaran, dimana anggaran yang telah ditentukan kemudian
disampaikan

laporannya.

Setelah

itu,

dilakukan

pemeriksaan

dan

pengawasannya untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyimpangan.


Alat yang dipakai dalam pengawasan secara preventif ialah perencanaan
budget, sedangkan pengawasan secara reprensif ialah alat budget dan
laporan.
2) Pengawasan dilihat dari segi objektif
Pengawasan dari segi objektif ialah pengawasan terhadap produksi
dan sebagainya. Ada juga yang mengatakan pengawasan dari segi objektif
merupakan pengawasan secara administrative dan pengawasan operatif.
Contoh pengawasan administratif ialah pengawasan anggaran, inspeksi,
pengawasan order, dan pengawasan kebijaksanaan.
3) Pengawasan dari segi subyek
Pengawasan dari segi subyek terdiri dari pengawasan intern dan
pengawasan ekstern.
a. Pengawasan intern
Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang
atau badan di dalam unit organisasi yang bersangkutan. Pengawasan dalam
bentuk ini dapat dilakukan dengan cara pengawasan atasan langsung atau

Manajemen Pendidikan

pengawasan melekat (built in control) atau pengawasan yang dilakukan


secara rutin oleh inspektorat jenderal pada setiap kementerian dan
inspektorat wilayah untuk setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan
menempatkannya di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri.
Pengawasan intern dalam perusahaan biasanya dilakukan oleh bagian
pengawasan perusahaan (internal auditor). Laporan tertulis dari bawahan
kepada atasan pada umumnya terdiri dari:
1.

Laporan harian

2.

Laporan mingguan

3.

Laporan bulanan

4.

Laporan khusus

5.

Laporan harian

b. Pengawasan ekstern
Pengawasan ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit
pengawasan yang berada di luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal
ini di Indonesia adalah Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK)

dari

pengaruh kekuasaan manapun. Dalam menjalankan tugasnya, BPK tidak


mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat pengawasan intern
pemerintah, sehingga sudah sepantasnya di antara keduanya perlu
terwujud harmonisasi dalam proses pengawasan keuangan negara. Proses
harmonisasi demikian tidak mengurangi independensi BPK untuk tidak
memihak dan menilai secara objektif aktivitas pemerintah.
4) Pengawasan Aktif dan Pasif
Pengawasan dekat (aktif) dilakukan sebagai bentuk pengawasan
yang dilaksanakan di tempat kegiatan yang bersangkutan. Hal ini berbeda
dengan pengawasan jauh (pasif) yang melakukan pengawasan melalui
penelitian dan pengujian terhadap surat-surat pertanggungjawaban yang
disertai dengan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran. Di sisi lain,
pengawasan berdasarkan pemeriksaan kebenaran formil menurut hak
(rechmatigheid) adalah pemeriksaan terhadap pengeluaran apakah telah
sesuai dengan

peraturan, tidak kadaluarsa

dan hak

itu terbukti

kebenarannya. Sementara, hak berdasarkan pemeriksaan kebenaran materil

Manajemen Pendidikan

mengenai maksud tujuan pengeluaran (doelmatigheid) adalah pemeriksaan


terhadap pengeluaran apakah telah memenuhi prinsip ekonomi, yaitu
pengeluaran tersebut diperlukan dan beban biaya yang serendah mungkin.
Dalam dunia pendidikan, pengawasan sendiri mencakup dua kategori,
yaitu:
1. Pengawasan yang dilakukan setiap unit manajemen sebagai langkah
prosedural suatu manajemen program. Pengawasan jenis ini dilaksanakan
sebagai upaya pengendalian yang dilakukan manajer agar ia dapat
memonitor efektivitas perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan
dapat mengambil tindakan korektif sesuai dengan kebutuhan.
2. Pengawasan yang dilakukan oleh pengawas sekolah sebagai pengawas
fungsional dengan menerapkan konsep supervisi yaitu untuk melaksanakan
pembinaan terhadap personil sekolah agar mereka dapat melaksanakan
tugasnya secara profesional dan dapat mengembangkan diri secara optimal.
Pengawasan jenis ini dilakukan oleh pengawas sekolah sebagai tenaga
fungsional yang berfungsi melakukan bantuan profesional.
2.2 Pengawasan dalam Bidang Pendidikan
Dalam perspektif suatu kebijakan, kepengawasan pendidikan telah
mengalami beberapa perubahan seiring dengan berubahnya filosofi maupun
sistem pemerintahan. Landasan yuridis formal yang berhubungan dengan
pengawasan

pendidikan

merujuk

pada

SK

Menpan

Nomor

91/KEP/M.PAN/10/2001 mengenai jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan


Angka Kreditnya dan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 097/U/2002 tentang Pedoman Pengawasan Pendidikan,
Pembinaan Pemuda dan Pembinaan Olah Raga.
2.2.1 Definisi Pengawas
Terdapat beberapa defdinisi tentang pengawas, antara lain:
1. Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara Nomor 91/KEP/M.PAN/10/2001 tentang jabatan Fungsional
Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya adalah Pegawai Sipil yang
diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat

10

Manajemen Pendidikan

yang berwenang untuk melakukan pengawasan pendidikan pada satuan


pendidikan pra sekolah, sekolah dasar, dan sekolah menengah.
2. Kepmendiknas Nomor 097/U/2002, tentang Pedoman Pengawasan
Pendidikan Pembinaan Pemudan dan Pembinaan Olah Raga pasa 1 ayat 4
berbunyi: Pengawas adalah salah satu fungsi manajemen untuk menjaga
agar kegiatan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi dalam
rangka mencapai tujuan dapat berjalan dengan efektif dan efisien sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Selanjutnya ayat 12 berbunyi: Pengawasan Teknis adalah kegiatan
pengawasan yang dilakukan oleh pengawas sekolah, penilik pada
penidikan luar sekolah, pembinaan pemuda dan pembinaan olah raga
untuk

memantau,

menilai,

dan

memberi

bimbingan

terhadap

penyelenggaraan pendidikan, pembinaan pemuda, dan pembinaan olah


raga.
4. Berdasarkan peraturan perundangan tersebut, maka yang disebut dengan
pengawas adalah pejabat yang berwenang melakukan pengawasan pada
satuan pendidikan melalui usaha memantau, menilai, memberi bimbingan
dan pembinaan secara efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan yang berkwalitas.
5. Pengawasan dalam bidang pendidikan menunjukan bahwa karakteristik
khas mengandung konsep supervisi yang kental dengan adanya tugas
pembinaan. Menjadi keliru dan menyalahi aturan, apabila mekanisme
kerja pengawas hanya memantau, memeriksa dan melaporkan saja karena
esensi pengawasan di bidang pendidikan terletak pada unsure pembinaan.
2.2.2 Tugas dan Tanggung Jawab Pengawas
Adapun tugas dan tanggung jawab pengawas meliputi:
1. Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
91/KEP/M.PAN/10/2001: Tugas pokok pengawas sekolah ialah menilai
dan membina penyelenggaraan pendidikan pada sejumlah sekolah
tertentu baik negeri maupun swasta yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Tugas menilai dan membina bukanlah suatu pekerjaan yang sederhana,
diperlukan kemampuan analisa yang cermat dan pemikiran-pemikiran

11

Manajemen Pendidikan

professional dalam menentukan solusi pemecahan masalah pendidikan


yang menuntutnya adanya kompetensi dan profesionalisme kerja
pengawas pendidikan.
3. Dalam melaksanakan tugas menilai dan membina, sangat dihindari
sikap menjudgement (mengadili) tanpa adanya penilitian terlebih
dahulu tentang suatu hal.
2.2.3 Fungsi Pengawas
Adapun fungsi pengawas meliputi:
1. Keputusan

Mneteri

Negara

Aparatur

Negara

Nomor

91/KEP/M.PAN/10/2001: pejabat fungsional yang berkedudukan


sebagai pelaksana teknis dalam melakukan pengawasan pendidikan
terhadap sejumlah sekolah tertentu yang ditunjuk dan ditetapkan.
2. Kepmendiknas Nomor 097/U/2002, pasal 5: (a) pengamatan dan
pemantauan terhadap kegiatan penyelanggaraan dan pengelolaan
pendidikan, pembinaan untuk mengetahui permasalahan, hambatan dan
kendala pelaksanaan pendidika; (b) pemeriksaan terhdadp satuan kerja
dilingkungan dinas.
3. Secara umum, pengawas berfungsi sebagai pemerbaik dan peningkat
kwalitas pendidikan. Dengan demikian segala aktifitas sekolah yang
berkaitan dengan upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas
pendidikan menjadi bagian bidang garapan pengawas.
2.2.4 Kualifikasi Pengawas
Pegawai Negeri Sipil yang akan diangkat untuk pertama kali dalam
jabatan pengawas sekolah harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Syarat Umum
1) Pendidikan serendah-rendahnya sarjana (S1) atau Diploma IV yang
sesuai dengan kualifikasi yang telah ditentukan, kecuali bagi pegawai
negeri sipil yang berasal dari guru dan ditempatkan didaerha terpencil
dapat berijazah serendah-rendahnya Diploma 1 yang sesuai dengan
kualifikasi yang ditentukan.
2) Berkedudukan dan berpengalaman sebagai guru sekurang-kurangnya
selama 6 bulan secara berturut-turut.

12

Manajemen Pendidikan

3) Telah mengikuti pendidikan dan platihan kedinasan di bidang


pengawasan sekolah dan memperoleh surat tanda tamat pendidikan
dan pelatihan (STTPL).
4) Setiap unsur penilaian, pelaksanaan pekerjaan dalam daftar penilaian
pelaksanaan pekerjaan sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2
tahun terakhir.
5) Usia setinggi-tingginya 5 tahun sebelum mencapai batas usia pension
jabatan pengawas sekolah.
b. Syarat Khusus
1) Pengawas sekolah taman kanak-kanak/sekolah dasar/sekolah dasar
luar biasa
(1)Berkedudukan serendah-rendahnya guru madya.
(2)Berpengalaman

sebagai

guru

taman

kanak-kanak/sekolah

dasar/madrasah ibtidaiyah/madrasah diniyah, sekolah luar biasa.


2) Standar kompetensi pengawas sekolah terdiri dari empat komponen,
yaitu:
(1)Komponen pengawasan sekolah, meliputi:
Mampu menyususn program pengawasan sekolah.
Mampu menilai hasil belajar atau bimbingan siswa dan
kemampuan guru.
Mampu mengumpulkan dan mengolah data sumber daya
pendidikan, PBM, bimbingan, dan lingkungan sekolah yang
berpengaruh terhadap perkembangan siswa.
Mampu menganalisis hasil bimbingan dan belajar siswa, guru
serta sumberdaya pendidikan.
Mampu membina gurur dan personil lain di sekolah.
Mampu menyusun laporan dan evaluasi pengawasan.
Mampu melaksanakan pembinaan lainnya di sekolah selain
PBM dan bimbingan.
Mampu mengevaluasi hasil pengawasan dari seluruh sekolah
yang diawasinya.
(2)Komponen pengembangan profesi

13

Manajemen Pendidikan

Memiliki kemampuan untuk menulis karya ilmiah/hasil


penelitian/pengkajian/survey evaluasi di komponen pendidikan
sekolah.
Memiliki kemampuan menulis karya tulis berupa tinjauan atau
ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri di komponen pendidikan
sekolah.
Memiliki kemampuan menulis tulisan ilmiah popular di
komponen pendidikan sekolah pada media masa.
Memiliki

kemampuan

menulis

makalah

yang

akan

disampaikan pada pertemuan ilmiah.


Memiliki kemampuan dalam menulis buku pelajaran atau
model.
Memiliki

kemampuan

untuk

menciptakan

pedoman

pengawasan pendidikan di sekolah.


Memiliki kemampuan untuki membuat petunjuk teknis
pengawasan sekolah.
Menciptakan karya seni monumental.
Menemukan teknologi tepat guna.
(3)Komponen teknik proseional
Menguasai substansi materi pelajaranyang diajarkan guru atau
bimbingan sesuai dengan tugasnya.
Menguasai pengembangan materi pelajaran dan bimbingan.
(4)Komponen penguasaan wawasan pendidikan
Menguasai hakekat pendidikan.
Memahami pengelolaan pendidikan dasar dan menengah.
Memahami undang-undang Sisdiknas.
Memahami program pembangunan nasional dan renstra di
komponen pendidikan.
Memahami kemajuan dan perkembangan iptek.
Dua fokus perhatian dari kualifikasi ini adalah bahwa pengawas
semestinya memiliki latar belakang pendidikan kepengawasan karena mereka
diberi tanggung jawab merancang, melaksanakan, memonitor, dan menilai

14

Manajemen Pendidikan

program

kepengawasan

yang

membutuhkan

kemampuan

manajemen

pendidikan. Halyang lain adalah pengawas telah mengikuti pendidikan


kedinasan dengan dibuktikan dengan adanya STTPL.
2.2.5 Jenis Pengawas
Keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 020/U/1998 ditegaskan hal-hal yang berkaitan dengan jenis pengawas
sekolah yaitu:
1) Pengawas Sekolah Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar Dan Sekolah
Dasar Luar Biasa
2) Pengawas Sekolah Rumpun Mata Pelajaran/Mata Pelajaran
3) Pengawas Sekolah Pendidikan Luar Biasa
4) Pengawasa Sekolah Bimbingan Dan Konseling.
Ditinjau dari jabatan yaitu:
1) Pengawas sekolah pratama
2) Pengawas sekolah muda
3) Pengawas sekolah madya
4) Pengawas sekolah utama
Diversifikasi kategori dan jabatan pengawas sekolah tersebut
membawa implikasi terhadap kualitas layanan kepengawasan yang menjadi
tugas, tanggung jawab dan wewenangnya. Karena itu kualifikasi pengawas
untuk tiap jenis pengawasan harus dirancang dengan merujuk kepada
mekanisme kepengawasan bidang garapan sekolah dan inovasi/ kebijakan
pendidikan.
2.3 Supervisi Pendidikan dalam Praktik Pengawasan
Dalam praktik pengawasan pendidikan, pengawas fungsional memiliki
tugas membina dan mengembangkan karier para guru dan staf lainnya serta
membantu memecahkan masalah profesi yang dihadapi oleh mereka secara
profesional. Tugas tersebut ditinjau dari kajian konseptual merupakan kajian
konsep supervisi.
2.3.1 Konsep Dasar Supervisi Pendidikan

15

Manajemen Pendidikan

Secara etimologi istilah supervisi atau dalam bahasa inggris disebut


dengan supervision sering didefinisikan sebagai pengawasan. Supervisi
pendidikan dikenal dengan sebutan instructional supervision dipandang
sebagai kegiatan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu
proses dan hasil pembelajaran. Carter good govermance dictionary of education
mengemukakan bahwa supevisi adalah segala uasaha pejabat dalam memimpin
guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya, untuk memperbaiki pengajaran:
termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan dan jabatan-jabatan guru-guru,
menyeleksi dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan
metode-metode mengajar serta evaluasi pengajaran.
Secara morfologis, supervisi terdiri dari dua kata yaitu super
berarti atas atau lebih dan visi berarti lihat, pandangan, tilik, atau awasi.dari
dua kata tersebut dapat dimaknai beberapa substansi supervisi sebagai berikut:
1. Kegiatan dari pihak atasan yang berupa melihat, menilik dan menilai
serta mengawasi dari atas terhadap perwujudan kegiatan atau hasil kerja
bawahan.
2. Suatu upaya yang dilakuakan oleh orang dewasa yang memiliki
pandangan yang lebih tinggi berupa pengetahuan, keterampilan dna
sikap-sikap untuk membantu mereka yang membutuhkan pembinaan.
3. Suatu kegiatan untuk mentransformasikan berbagai pandangan inovatif
agar dapat diterjemahkan dalam bentuk kegiatan yang terukur.
4. Suatu bimbingan profesional yang dilakukan oleh pengawas agar guruguru dapat menunjukan kinerja profesional.
Jadi, supervisi merupakan pengawasan yang dilakukan oleh orang
yang ahli/profesional dalam bidangnya sehingga dapat memberikan perbaikan
dan peningkatan/pembinaan agar pembelajran dapt dilakukan dengan baik dan
berkualitas. Supervisi pendidikan merupakan suatu proses memberikan layanan
profesional pendidikan melalui pembinaan yang kontinu kepada guru dan
personil sekolah lainnya untuk memperbaiki dan meningkatkan efektivitas
kinerja personilia sehingga mencapai pertumbuhan peserta didik.
Sambel (Mobley: 2005) mengungkapkan bahwa para supervisor perlu
mengembangkan supervisi efektif yang ciri-cirinya yaitu:

16

Manajemen Pendidikan

1. Adanya Delegasi
2. Adanya Keseimbangan
3. Adanya Komunikasi
4. Mengembangkan keterampilan-keterampilan teknis yang berhubungan
dengan peranan supervisor sebagai penjamin mutu.
2.3.2 Sasaran Supervisi Pendidikan
1. Sasaran supervisi pendidikan adalah proses pembelajaran. Pelaku utama
dalam suatu PBM adalah guru dan peserta didik. Disamping itu, terdapat
anggapan bahwa guru merupakan ujung tombak pembelajaran, sehingga
untuk menjadikan PBM itu efektif maka perlu dilakukan pembinaan
terhadap guru agar mereka dapat melakukan tugasnya secara profesional.
2. Sasaran supervisi pendidikan adalah pengelolaan pendidikan secara
efektif. Pelaksanaan dan penanggung jawab pendidikan yang utama adalah
kepala sekolah. Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang
memfasilitasi

terwujudnya

budaya

akademik

yang

mendukung

pelaksanaan PBM.
3. Sasaran supervisi pendidikan secara umum adalah seluruh sumber daya
pendidikan yang mengupayakan terwujudnya PBM efektif.
2.3.3 Fungsi-fungsi Supervisi Pendidikan
Secara resiprokal, fungsi supervisi pendidikan dapat dilihat pada

Penelitian

Penilaian

Pengembangan

Perbaikan
gambar dibawah ini:

17

Manajemen Pendidikan

Gambar 2. Fungsi supervisi pendidikan


1. Fungsi Penelitian: bahwa supervisor tidak bekerja atas prasangka tetapi
menempuh produser yang tepat seperti merumuskan masalah yang
dihadapi, mengumpulkan data untuk mendapat informasi yang valid
tentang permasalahan yang bersangkutan dengan masalah, pengolahan
data, penarikan kesimpulan sebagai bahan untuk mengambil keputusan
tentang suatu permasalahan.
2. Fungsi Penilaian: kesimpulan hasil penelitian dijadikan bahan evaluasi
apakah objek penelitian tersebut memiliki kekuatan, kelemahan, dan
menemukan solusi yang tepat untuk memutuskan suatu masalah.
3. Fungsi Perbaikan: apabila hasil penelitian menunjukan terdapat
kekurangankekurangan yang harus segera ditangani, maka supervisor
melakukan langkahlangkah strategis dan operasional sebagai upaya
melakukan perbaikan-perbaikan.
4. Fungsi Pengembangan: dua kondisi yang dihadapi supervisor adalah
kekurangankekurangan dan prestasi yang dimiliki personil. Kekurangan
dilakukan perbaikan dan prestasi yang ditunjukan guru perlu mendapat
pengakuan dan pengembangan.
2.3.4 Teknik-teknik Supervisi Pendidikan
Berbagai teknik dapat digunakan supervisor dalam membantu guruguru meningkatkan situasi belajar mengajar, baik secara kelompok (group
techniques) maupun secara perorangan (individual techniques) ataupun dengan
cara langsung/bertatap muka dan cara tidak langsung melalui media komunikasi
(visual, audial, audio visual).
1. Teknik Supervisi Individual
Teknik ini adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru
tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. Teknik
Supervisi individual meliputi: kunjungan kelas, observasi kelas, pertemuan
individual, kunjungan antar kelas dan menilai diri sendiri.
a) Kunjungan kelas
Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh para
supervisor maupun kepala sekolah dan pembina lainnya dalam rangka

18

Manajemen Pendidikan

mengamati pelaksanaan pembelajaran sehingga diperoleh data yang akan


digunakan dalam pembinaan guru. Tujuan dari pelaksanaan kunjungan kelas
ini adalah untuk membantu guru mengatasi kesulitan atau masalah guru.
Untuk

pelaksanaannya

bisa

dengan

pemberitahuan

maupun

tanpa

pemberitahuan terlebih dahulu atau dengan undangan dari guru. Dalam


pelaksanaan kunjungan kelas kriteria yang baik adalah harus memiliki
tujuan-tujuan

tertentu,

mengungkapkan

aspek-aspek

yang

dapat

memperbaiki kemampuan guru, menggunakan instrumen tertentu untuk


mendapatkan daya objektif, terjadinya interaksi, pelaksanaan kunjungan
tidak mengganggu kegiatan belajar-mengajar dan yang terpenting adalah
diikuti dengan program tindak lanjut. Tahap-tahap yang dilalui pada
pelaksanaannya, antara lain: tahap persiapan, tahap pengamatan, dan tahap
akhir kunjungan. Dari ketiga tahap yang dilalui di atas diharapkan dapat
menghasilkan tindak lanjut yang baik serta harus dijalani.
b) Observasi kelas
Observasi kelas merupakan melihat dan memperhatikan secara
teliti terhadap gejala yang tampak. Sasaran dari observasi kelas adalah
proses pembelajaran yang sedang berlangsung dengan tujuan untuk
memperoleh daya yang sesubyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam
situasi pembelajaran. Secara umum yang mendapat pengamatan selama
proses pembelajaran adalah usaha-usaha dan aktivitas antara guru-siswa,
cara penggunaan media pembelajaran, reaksi mental para siswa dalam
proses pembelajaran, dan keadaan media yang dipakai dari segi material.
Tahap-tahap yang harus dilalui dalam proses observasi kelas,
antara lain:
1) Persiapan observasi kelas
2) Pelaksanaan observasi kelas
3) Penutupan pelaksanaan observasi kelas
4) Penilaian hasil observasi kelas
5) Tindak lanjut
6) Pertemuan Individual

19

Manajemen Pendidikan

Satu pertemuan, percakapan, dialog dan tukar pikiran antara


supervisor-guru atau guru-guru mengenai usaha meningkatkan kemampuan
profesional guru. Dengan tujuan untuk memberikan kemungkinan
pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan masalah yang dihadapi,
mengembangkan hal mengajar yang lebih baik, memperbaiki segala
kelemahan dan kekurangan diri sendiri dan menghilangkan segala
prasangka yang tidak baik.
c) Kunjungan antar kelas
Kegiatan ini dilakukan guru yang satu berkunjung ke kelas yang
lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Melalui kunjungan ini diharapkan
guru akan memperoleh pengalaman baru dari sesama guru mengenai proses
pembelajaran. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam kunjungan antar kelas
ini antara lain:
1) Guru yang akan dikunjungi harus yang lebih berpengalaman atau
dengan seleksi terlebih dahulu agar mampu memberikan pengalamanpengalaman baru bagi guru yang akan mengunjungi.
2) Menyediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan
tersebut.
3) Supervisor mengikuti kegiatan ini dengan cermat.
4) Kemudian mengaplikasikannya ke kelas guru bersangkutan sesuai
dengan situasi yang tengah dihadapi.
5) Adakan

perjanjian-perjanjian

untuk

melaksanakan

kunjungan-

kunjungan berikutnya.
d) Menilai diri sendiri
Penilaian diri sendiri memberikan informasi yang obyektif
mengenai peranan seorang guru di kelas dan memberikan kesempatan
kepada guru untuk mempelajari metode pembelajaran dalam mempengaruhi
murid. Dengan demikian guru akan terdorong untuk mengembangkan diri
secara professional. Ada beberapa cara untuk menilai diri sendiri, antara
lain:
1) Guru membuat suatu pandangan atau pendapat yang disampaikan
kepada murid untuk menilai pekerjaan atau aktivitas.

20

Manajemen Pendidikan

2) Menganalisis tes-tes terhadap unit kerja.


3) Mencatat murid-murid dalam suatu catatan baik murid beraktivitas
sendiri atau kelompok.
2. Teknik Supervisi Kelompok
Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program
supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Guru-guru yang sekiranya
sesuai dengan analisis kebutuhan, memiliki masalah atau kelemahan yang
sama. Teknik supervisi kelompok ada beberapa hal, antara lain: Kepanitiaankepanitiaan, Kerja kelompok, Laboratorium kurikulum, Baca terpimpin,
Demonstrasi pembelajaran, Dharmawisata, Studi/kuliah, Diskusi panel,
Perpustakaan jabatan, Organisasi profesional, Buletin supervisi, Pertemuan
guru, Lokakarya.
Beberapa teknik yang dapat digunakan supervisor pendidikan
(Engkoswara, Aan Komariah, 2010: 230), antara lain:
a) Kunjungan Sekolah (School Visit) bermanfaat untuk mengetahui
situasi dan kondisi sekolah secara kuantitatif dan kualitatif.
b) Kunjungan Kelas (Class Visit) atau observasi kelas bermanfaat untuk
dapat memperoleh gambaran tentang kegiatan belajar mengajar di
kelas.
c) Kunjungan

antar

kelas/sekolah

(Intervisitation);

supervisor

memfasilitasi guru untuk saling mengunjungi antar kelas atau antar


sekolah. Tujuannya agar guru mengetahui pengalaman guru lain atau
sekolah lain yang lebih efektif dalam perbaikan dan peningkatan
pembelajaran. Dalam pertemuan ini dilakukan dialog mengenai
inovasi-inovasi atau hal-hal yang menarik dari isi kunjungan.
d) Pertemuan Pribadi (Individual Conference); setelah melakukan
observasi kelas, supervisor melakukan pertemuan pribadi berupa
percakapan, dialog atau tukar pikiran tentang temuan-temuan
observasi.
e) Rapat guru; saat supervisor menemukan beberapa permasalahan yang
sama dihadapi hampir seluruh guru, maka sangat tidak efektif bila
dilakukan pembicaraan individual sehingga dibahas dalam rapat guru.

21

Manajemen Pendidikan

f) Penerbitan Buletin Profesional; supervisor dapat menjadi penggagas


pembuatan buletin supervisi sebagai wahana supervisor dan guru-guru
mengembangkan profesinya dengan media tulisan.
g) Penataran; penataran yang dilakukan supervisor atau pihak lain untuk
mengembangkan profesionalisme guru harus dimanfaatkan dan
ditindaklanjuti supervisor sebagai upaya pelayanan profesional.
2.4 Dialog Profesional Penjaminan Mutu
2.4.1 Pentingnya Dialog
Dialog supervisi adalah suatu metode utama untuk menggugah dan
meningkatkan profesionalisme guru. Esensinya adalah komunikasi yang efektif
antara supervisor dengan supervisi. Menemukan aspek pekerjaan seorang
pengawas tidak melibatkan komunikasi akan menjadi kesulitan yang tinggi
karena tidak mungkin seorang pengawas dapat menyampaikan pesan-pesan
inovasinya tanpa adanya dialog-dialog yang efektif. Serta bagaimana mungkin
supervise dapat mengungkapkan isi hati, harapan, problema, dan ide-idenya
tentang perbaikan dan peningkatan kualitas tanpa berkomunikasi.
Komunikasi dalam tatanan kerja pembinaan profesional guru addalah
dialog, yaitu percakapan antara supervisor dengan supervisi. Dalam praktiknya
mereka adalah kekuatan tim untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peran
yang berbeda dengan kata lain terjadi sinergi antara mereka. Kata sinergi berasal
dari bahasa Yunani Sunergos, dimana sun berarti bersama dan ergon
berarti bekerja. Sehingga, sinergi berarti interaksi dari dua individu atau lebih
atau kekuatan yang memungkinkan kombinasi tebaga mereka melebihi jumlah
tenaga individu mereka.
Dengan dialog terjadi interaksi antar supervisor dan supervisi serta
interaksi ini menimbulkan kesan pada kedua belah pihak. Pihak supervisor dapat
mengetahui pola pikir dan gambaran cara kerja supervisi yang dapat dijadikan
bahan bagi usaha pembinaan. Di sini diharapkan tumbuh kepercayaan supervisor
kepada supervisi bahwa mereka dapat melaksanakan komitmennya sebaik
mungkin. Dengan berjalannya dialog yang menimbulkan delegasi profesional
melalui komitmen yang dibangun guru dan pengawas secara strategik terjadi
suatu

22

proses

Manajemen Pendidikan

penyelidikan

atau

pengawasan

yang membangun

suatu

keseimmbangan. Secara teknis menimbulkan keseimbangan antara kerja


administrative dengan edukatif secara strategic dapat memahami secara realistik
keberadaan supervisi dalam kiprahnya sebagai professional. Di samping itu, bagi
supervisi bahwa dialog profesional merupakan peringatan bahwa ada sosok yang
disebut supervisor yang memperhatikan pekerjaan mereka agar berjalan sesuai
dengan standar yang ditetapkan, sehingga mereka tidak bisa main-main dengan
tugas profesionalnya. Hal terpenting dari itu adalah bagi supervisi yang matang
dan bertanggungjawab, keberadaan dialog ini menjadi arena aktualisasi diri dan
usaha membuat kontrak profesional yang menyepakati poin-poin penting
pembelajaran yang akan disampaikan secara bertanggungjawab kepada peserta
didik, baik itu metode baru, media, penilaian, atau bentuk-bentuk interaksi
pedagogic dengan peserta didik.
2.4.2 Mengapa Harus Dialog?
Supervisor

menghadapi

berbagai

persoalan

kompleks

yang

berhubungan dengan perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan. Problema


yang dihadapi guru yang menjadi perhatian supervisor dangat beragam dan tidak
dapat dipecahkan dalam satu kebijakan yang seragam. Oleh sebab itu,
diperlukan suatu dialog diantara keduanya.
Beragam gaya mengajar, gaya berinteraksi, tingkat motivasi, dan
komitmen serta tingkat pemahaman guru tentang pembelajaran dan kebijakankebijakan baru implemantasi pembelajaran menajdi pertimbangan tersendiri
perlunya dialog profesional. Dalam tataran persepsi guru memiliki interpretasi
yang beragam tentang inovasi baru, misalnya CTL tentunya akan berbeda pula
dalam mengimplementasikannya dan juga berbeda dalam permasalahannya.
Disinilah perlunya mengapa dialog professional perlu dilaksanakan.
Dialog yang dikembangkan merujuk pada pemecahan masalah yang
dihadapi yang sifatnya interaksi multi-arah dan terjadi melalui tatap muka.
Dialog memungkinkan supervisor dan supervisi menemukan cara-cara yang
sesuai dengan karakteristik problema maupun kesanggupan pemecahannya.
Tujuan terpentibg dari dialog supervisi adalah menjamin mutu pendidikan dapat
berkembang

melalui

komitmen

implemantasi profesional guru.

23

Manajemen Pendidikan

supervisi

untuk

pemecahan

problema

2.4.3 Isi Dialog


Dialog supervisi pendidikan digunakan untuk menjamin mutu arahan
pada upaya perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan yang dimulai dari
observasi kelas yang dilakukan oleh pengawas.
Pengawas melakukan observasi kelas dan ditemukan berbagai fakta
yang berhubungan dengan kinerja guru. Oleh karena itu, isi dialog sangat
beragam sesuai temuan di kelas. Dialog secara umum meliputi kinerja
pengajaran guru dalam proses kognitif, interaksi pedagosis dan iklim di kelas.
2.4.4 Melakukan Dialog yang Efektif
Dialog supervisi untuk menjamin mutu pendidikan diarahkan pada
teori individual cinference sebagai tidak lanjut dari observasi kelas (class visit).
Walaupun tidak menutut kemungkinan pengawas menemukan problema guru
dari situasi di luar kelas.
Dialog supervisi pada dasarnya mengembangan teori komunikasi
antara pribadi yang efektif yang belibatkan banyak unsur akan tetapi hubungan
antar pribadilah yang paling penting. Hubungan antar pribadi terdiri dari tiga
factor yaitu saling percaya, sikap seportif, dan sikap terbuka. Selain itu konsep
yang terdiri dari kosep dari yang meliputi persepsi pribadi, self image, dan self
esteem, menyusul rasa empaty dan simpati merupakan pola factor yang cukup
menonjol dalam komunikasi antar pribadi (Rahmat, 1998:80-135).
Individual conference merupakan dialog antar supervisor dengan
supervisi

tentang

temuan-temuan

kinerja

guru

hasil

observasi

kelas.

Pelaksanakan dialog menganut prinsip dasar REACH (Respect, Empathy,


Autable,

Clarity,

Humble)

yang

berarti

merengkuh

atau

meraih

(Prijosaksono,2005:2).
Hukum pertama dalam berdialog adalah respect yaitu sikap hormat
dan sikap menghargai terhadap lawan bicara kita. Baik supervisor maupun
supervisi perlu mengembangkan sikap ini, sehingga tejadi saling respect diantara
mereka dan merasa dihargai dan dianggap penting.
Hukum kedua adalah Empahty yaitu kemampuan kita dalam
menempatkan dari kita dalam situasi atau kondisi yang diharapkan oleh orang
lain. Rasa empathy akan mempermudahkan dalam penerimaan pesan mudah

24

Manajemen Pendidikan

menangkap dan menginterprestasikan pesan. Rasa emphty merupakan sifat


perhatian. Perhatian kepada supervise, cepat memberikan respon kepada
supervisi, berkomunikasi dengan baik dan benar, melayani dengan ramah dan
menarik, memahami aspirasi supervisi, bersikap penuh simpatik, cepat
memperhatikan keluhan supervise dan mengatasinya. Bila hal ini dilakukan,
supervise (1997) mengungkapkan seek first to understand then be understood to
build the skills of emhatetic listening thant isprires and trust.
Dialog empathy memungkinkan supervisor dapat menyapaikan pesan
dengan sikap positif dan siap penerima masukan secara terbuka di samping
komunikasi juga merasa nyaman. Pernyataan ini harus direguk bersama,
andaikan supervesor tidak merasa nyaman sehingga langsung marah-marah atau
menunjukan muka ditekuk maka ia tidak dapat menumbuhkan rasa nyaman
terhadap supervise. Akibatnya komunikasi tidak akan berjalan dengan baik dan
professional karena itu, suatu kesadaran penuh sangat penting dimiliki oleh
supervesor untuk melekukan secara egaliter dan kesejawatan dengan supervisi.
Keterbukaan dan kesejajaran sangat penting dalam diskusi karena itu berarti
supervesor dan sipervisi berada pada posisi yang sama. Tidak ada yang lebih
tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Supervesor harus bisa menahan
kebiasaannya berbicar banyak dari pada supervise. Jika komunikasi sudah
berjalan terbuka dan sejajar galihlah semua yang diketahui oleh supervisi.
Disamping supervisor mendapatkan pengetahuan yang lebih dari supervisi, juga
sebagai usaha dalam menangani masalah yang solusinya lahir dari meraka yang
menjadi komitmen mereka supervrsor hanyalah sebagai hasil janji mereka.
Hukum ketiga adalah Audible. Makna dari audible antara lain dapat
didengar dan dimengerti dengan baik. Untuk mendengar dan dimengerti maka
sebelunya harus menjadi pendengar yang baik. Supervisor hendadknya tidak
bertele-tele dalam berbicara tetapi harus fokus pada informasi yang penting.
(Prijosaksana,2005:2) mengungkapkan cara komunikasi yang Audible yaitu:
1) Buat pesan anda mudah mengerti.
2) Fokus pada informasi yang penting.
3) Gunakan ilustrasi untuk membantu dalam menjelaskan isi dan pesan
tersebut.

25

Manajemen Pendidikan

4) Tarulah perhatian pada fasilitas yang ada dan lingkungan disekitar


anda.
5) Antisipasi kemungkinan masalah yang akan muncul.
6) Selalu menyiapkan rancangan atau pesan cadangan.
Hukum keempat adalah kejelasan (crlrity) dari pesan yang kita
sampaika. Kejelasan yang dimaksud adalah kejelasan suara (volume dan
frekuensinya).

Dan

menggunakan

istilah

yang

tidak

familiar.

(Prijosaksana,2005:2) memberikan tip menyiapkan pesan agar jelas, yaitu :


1) Menentukan goal yang jelas
2) Luangkan waktu untuk mengorganisaikan ide.
3) Penuhi tuntutan kebutuhan formal bahasa yang kita pakai.
4) Buat pesan anda jelas dan meyakinkan.
5) Pesan yang disampaiukan harus fleksibel.
Hukum kelima dalam mengembangkan dialog dengan guru adalah
sikap rendah hati (humble). Dalam berdialog hindari hal-hal yang bersifat
melambungkan diri dengan mengecikan orang lain. Sikap ini memungkikan
supervisor tidak dihargai dan sulit untuk menagkap perhatian dan hal positif dari
guru.Siakp rendah hati yang dikembangkan supervisor tidak menurunkan
kewajiban dan kepercayaani guru, justru sebaliknya guru akan sebakin percaya.
2.4.5 Mekanisme yang bisa Dikembangkan
Mekanisme yang dikembangkan dalam dialog supervisi merujuk pada
tiga pola dialog supervise seprti pada gambar berikut:
1

2.

Gambar 3. Mekanisme dalam dialog supervisi

1) Mulailah dari hal yang positif dari diri guru (tidak memulai dialog dari hal
yang bersifat negative), mungkin penampilan fisiknya, volume suaranya
ataupun yang menjadi kelebihan guru yang dilihat dari kelemahan yang
ditemukan. Giring pembicaraan yang mengarah penyadaran guru akan

26

Manajemen Pendidikan

kelemahan yang dirasakan upayakan supervisor tidak mengetahuinya, tapi


guru yang menmukan dari apa yang dirasakan sendiri. Diskusikan apa yang
dilontarkan guru sebagai kelemahan sehingga jelas dengan problema yang
dihadapi. Arahakn supervisor menemukan cara-cara yang dapat dilakukan
sendiri dengan cara dan persepsi guru sendiri sehingga menjadi sebuah
komitmen.
2) Dalam hal tidal menemukan kelemahan, jangan segan-segan, mengatakan
akan kelebihan guru dan di dialogkan upaya-upayakan pengembangan lebih
lanjut.

27

Manajemen Pendidikan

Anda mungkin juga menyukai