Anda di halaman 1dari 5

PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

KOMODITAS KEDELAI VAR. TANGGAMMUS


KELAS AB

Oleh:
Tanzilal Azizis Saikha

135040201111213

Mikky Napda Eli Ando

135040200111224

Yuni Intan Anastya

135040201111156

Stevani Pratiwi

135040201111236

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

Latar Belakang
Kedelai merupakan tanaman pangan yang penting sebagai sumber protein nabati.
Permintaan dan kebutuhan masyarakat relatif tinggi, sedangkan produksi dalam negeri belum
mencukupi, untuk mengatasinya pemerintah masih melakukan impor. Impor ini pun dari tahun
ke tahun terus meningkat. Hal ini disebabkan karena produksi yang masih rendah, untuk itu
diupayakan penelitian terus-menerus untuk meningkatkan produktivitas.
Kedelai dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein yang murah bagi masyarakat
dalam

upaya

meningkatkan

kualitas

sumberdaya

manusia

Indonesia.

Sejalan

dengan pertambahan jumlah penduduk maka permintaan akan kedelai semakin meningkat.
Untuk itu diperlukan program khusus peningkatan produksi kedelai dalam negeri.
Praktikum teknologi produksi tanaman (TPT) ini dilakukan karena melihat pembudidayaan
tanaman kedelai yang cukup mudah dan memiliki harga ekonomis tinggi seperti yang dijelaskan
pada paragraf diatas, sehingga peluang bisnisnya cukup menjanjikan. Selain itu, kedelai juga
digemari oleh pasar dalam negeri maupun luar negeri sehingga pemasaran dari hasil tanaman
kedelai sangatlah baik dan menjanjikan. Selain itu praktikum ini dilakukan untuk memberikan
pengetahuan dan bekal kepada mahasiswa agar kelak ketika sudah lulus sarjana bisa
mengembangkan budidaya tanaman, khususnya tanaman kedelai.

Persipan Lahan
Areal lahan untuk penanaman kedelai dapat dialokasikan pada tanah kering (tegalan) dan
tanah sawah bekas tanaman padi. Pananaman kedelai di lahan tegalan biasanya menggunakan
pola pergiliran tanaman: pagi gogo dan ubi kayu

kedelai dan ubi kayu

ubi kayu.

Penanaman kedelai di lahan sawah tadah hujan biasanya menerapkan pola tanam antara lain:
kedelai

padi sawah kedelai dan jagung diberakan. Sedangkan penanaman kedelai di lahan

sawah berpengairan teknis (irigasi) menggunakan pola tanam: padi sawah

padi sawah

kedelai
jagung atau padi sawah

padi sawah

kedelai. Sementara penanaman kedelai di lahan

sawah bekas tebu menggunakan pola tanam: tebu

kedelai.

Tata cara penyiapan lahan sebagai pra-penanaman kedelai dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu pengolahan tanah minimum dan pengolahan tanah intensif.
1. Pengolahan Tanah Minimum
Cara pengolahan ini sangat sederhana dan biasanya dipraktikkan pada lahan
sawah bekas tanaman padi ataupun tebu. Pertimbangan penyiapan lahan tanah minimum
ini didasarkan pada tujuan sebagai berikut:

Memanfaatkan penggunaan air seefisien mungkin, terutama pada daerah-daerah


yang lahannya tidak berpengairan teknis.

Mengejar waktu tanam agar lebih cepat dan tepat sesuai dengan kondisi wilayah.

Memanfaatkan waktu seefisien mungkin untuk mempraktikkan pola tanam


tahunan yang serasi, misalnya padi

padi

kedelai.

Terbatasnya ketersediaan tenaga kerja untuk mengolah tanah.

Tata cara penyiapan lahan secara minimum adalah:

Babat (bersihkan) jerami padi, kemudian kumpulkan pada suatu tempat


penampungan untuk dibiarkan sampai kering.

Buat saluran drainase arah melintang di sekeliling lahan. Ukuran saluran ini lebar
dan dalamnya 30 cm, dengan lebar petakan untuk tempat penanaman kedelai
antara 3 10 meter atau tergantung pada keadaan lahan.

Biarkan tanah dikeringangin selama 7 10 hari.

Lahan siap ditanami benih kedelai.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian di Puslitbang Tanaman Pangan menunjukkan


bahwa penyiapam lahan tanpa olah tanah memberikan hasil panen kedelai yang tidak
berbeda nyata dibandingkan dengan lahan yang diolah terlebih dahulu.
2. Pengolahan Tanah Intensif
Pengolahan lahan-lahan kering (tegalan) biasanya dilakukan secara intensif.
Tujuan pengolahan tanah ini di antaranya adalah untuk mengendalikan (mematikan)
rumput-rumput liar, memperoleh struktur tanah yang gembur, memperbaiki aerasi dan
drainase tanah, serta menciptakan medium pertumbuhan yang optimal bagi tanaman
kedelai.
Tata cara pengolahan tanah secara intensif adalah sebagai berikut:

Bersihkan areal lahan dari rumput-rumput liar ataupun jerami.

Kumpulkan rumput-rumput liar atau limbah yang tidak berguna pada suatu tempat
penampungan.

Olah tanah dengan cara dicangkul atau dibajak sedalam 15 20 cm sambil


membenamkan rumput-rumput liar yang sudah lapuk.

Buat parit keliling selebar 40 cm dan dalamnya 30 cm.

Buat parit arah melintang dengan ukuran lebar 30 cm dan dalamnya 25 cm.

Buat petakan-petakan untuk tempat penanaman kedelai pada ukuran lebar 3 10


meter, tinggi 20 30 cm, dan parit (saluran) selebar dan sedalam 25 cm.

Gemburkan tanah sambil membuang rumput-rumput liar dan kerikil, kemudian


tanah diratakan.

Lahan siap ditanami benih kedelai.


Lahan-lahan yang asam (pH < 5,5) perlu dilakukan pengapuran bersamaan

dengan kegiatan penyiapan lahan (pengolahan tanah). Jenis dan dosis pengapuran adalah
Calcit atau Dolomit atau kapur pertanian sebanyak 2,0 4,5 ton/hektar atau tergantung pH
tanah. Lahan sawah Supra Insus pengapuran dianjurkan hanya 300 kg/hektar. Cara
pengapuran tanah adalah dengan disebar merata pada permukaan tanah, kemudian
dibalikkan pada kedalaman 20 30 cm dan disiram (diairi) hingga cukup basah.
Pra-penyiapan lahan untuk kedelai edamame dan koramame perlu dilakukan
seintensif mungkin. Lahan diolah sedalam 30 40 cm, kemudian dipersiapkan dalam
bentuk bedengan-bedengan selebar 100 cm, tinggi 30 cm dan dilengkapi parit (saluran)

selebar 30 40 cm. Bersamaan dengan kegiatan pengolahan tanah ini dilakukan


pengapuran sebanyak 20 ton/hektar dan pemberian pupuk kandang 20 40 ton/hektar.