Anda di halaman 1dari 14

1

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ubi jalar (Ipomoea batatas L.) merupakan salah satu tanaman karbohidrat
non biji yang penting. Di Indonesia pada umumnya ubi jalar digunakan untuk
makanan sampingan atau untuk mengurangi kekurangan pangan, namun di Papua
dan Maluku ubi jalar digunakan sebagai makanan pokok sepanjang tahun. Selain
dimanfaatkan dalam bentuk umbi segar, ubi jalar juga dimanfaatkan sebagai
bahan baku industri saus, pati, kue dan etanol. Ubi jalar merupakan kelompok
pangan lokal yang berpotensi untuk dikembangkan yang menunjang program
diversifikasi pangan non beras menuju ketahanan pangan (Litbang Pertanian,
2011).
Di Jawa dan beberapa sentra produksi, ubi jalar umumnya ditanam di lahan
sawah irigasi dan nonirigasi pada musim kemarau setelah panen padi dan lahan
tegalan. Penanaman ubi jalar di lahan tegalan umumnya dilakukan pada awal atau
pertengahan musim hujan. Ubi jalar dipanen pada umur 4 bulan di dataran rendah
dan 6 bulan di dataran tinggi (Zuraida dan Supriyati, 2001).
1.2 Tujuan Magang Kerja
Tujuan dari magang kerja ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari
teknik budidaya tanaman ubi jalar di UPT Pengembangan Benih Palawija
Singosari Malang.
1.3 Manfaat
Manfaat dari magang kerja yang akan dilakukan di UPT Pengembangan
Benih Palawija Singosari Malang adalah agar mahasiswa sebagai pelaksana
magang kerja memperoleh informasi baru dan dapat mengembangkan wawasan
mengenai proses budidaya dan produksi tanaman ubi jalar di UPT Pengembangan
Benih Palawija Singosari Malang. Selain itu mahasiswa juga mendapat
pengalaman seputar duni kerja, khususnya dalam bidang pertanian.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Botani Ubi Jalar
Ubi jalar atau ketela rambat atau sweet potato diduga berasal dari benua
Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi
jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Ubi jalar
menyebar ke seluruh dunia terutama negara-negara beriklim tropika, diperkirakan
pada abad ke-16. Ubi jalar termasuk ke dalam kingdom Plantae, divisi
Spermatophyta,

subdivisi

Angiospermae,

kelas

Dicotyledonae,

ordo

Convolvulales, family Convolvulaceae, genus Ipomea, dan spesies Ipomoea


batatas L. (Rukmana, 1997).
Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di hara dalam tanah dan
akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007), akar penyerap hara berfungsi
untuk menyerap unsur-unsur hara yang ada dalam tanah, sedangkan akar lumbung
berfungsi sebagai tempat untuk menimbun sebagian makanan yang nantinya akan
terbentuk umbi. Kedalaman tanah akar tidak lebih dari 45 cm. Biasanya sekitar 15
persen dari seluruh akarnya yang terbentuk akan menebal dan membentuk akar
lumbung yang tumbuh agak dangkal. Ukuran umbi meningkat selama daun masih
aktif.
Menurut Suparno dan Santoso (2003) morfologi tanaman ubi jalar ini
dijelaskan berdasarkan akar, batang, daun, bunga, umbi dan warna yang nampak
pada ubi jalar sebagai berikut.
a. Akar tanaman
Ubi jalar terdiri atas akar serabut dan akar tunggang. Akar serabut tumbuh
pada ruas-ruas batang atau pada pangkal batang bila tanaman itu dibiakkan
dengan stek (vegetatif) dan berakar tunggang bila dibiakkan dengan biji
(generatif). Akar-akar serabut yang tumbuh pada pangkal batang atau stek maupun
pada ruas-ruas batang berpotensi untuk berkembang menjadi umbi (Logo, 2011).
b. Batang tanaman
Batang ubi jalar adalah menjalar panjang dan bercabang-cabang mencapai 1
hingga 5 meter, dengan diameter bervariasi antara 3 sampai 10 mm. Umumnya
batang ubi jalar bila dilukai akan mengeluarkan getah berwarna putih yang mana

banyaknya getah ini bervariasi tergantung pada jenisnya. Warna batang ubijalar
juga beragam dengan warna kuning, hijau atau ungu. Sifat-sifat lainnya morfologi
batang ubi jalar ini juga bervariasi dalam hal sifat terpilin, panjang ruas dan
keadaan berbulu. Secara hirarki padatanaman ubijalar memungkinkan memiliki
percabangan primer, sekunder, tertier dan quarter (Logo, 2011).
Ubi jalar berbatang lunak, tidak berkayu, berbentuk bulat, dan bagian tengah
bergabus. Batang ubi jalar beruas-ruas dan panjang ruas antara 1-3 cm. Setiap ruas
ditumbuhi daun, akar dan tunas atau cabang. Panjang batang utama sangat
beragam, tergantung pada varietasnya, yakni berkisar 2-3 m untuk varietas ubi
jalar merambat dn 1-2 m untuk varietas ubi jalar tidak merambat (bertipe tegak).
Diameter ubi jalar juga bervariasi, untuk varietas ubi jalar yang merambat
umumnya mempunyai diameter batang yang kecil, sedangkan untuk ubi jalar
bertipe tegak memiliki diameter batang yang berukuran sedang (Juanda dan
Cahyono, 2000).
c. Daun
Daun ubi jalar berbentuk bulat hati, bulat lonjong dan bulat runcing
tergantung varietasnya. Daun ubi jalar yang berbentuk bulat hati memupunyai tepi
daun rata, berlekuk dangkal atau menjari, daun ubi jalar yang berbentuk oval
memiliki tepi daun yang rata, berlekuk dangkal atau berlekuk dalam. Sedangkan
daun ubi jalar yang berbentuk bulat runcing memiliki tepi daun rata, berlekuk
dangkal atau berlekuk dalam.
Daun ubi jalar memiliki tulang daun menyirip, kedudukan daun tegak agak
mendatar dan bertangkai tunggal yang melekat padda batang. Ukuran daun
bervariasi, tergantung varietasnya. Daun ubi jalar berwarna hijau tua dan hijau
kuning, sedangkan warna tangkai daun dan tulang daun bervariasi, yakni antara
hijau dan ungu sesuai dengan warna batangnya (Logo, 2011).
d. Bunga
Ubi jalar berbentuk terompet pada ketiak daun, dengan panjang 3-5 cm dan
lebarnya 3-4 cm. Daun kelopak bunga lonjong, runcing kurang lebih 1 cm.
Didalam bunga terdapat satu tangkai putik dengan kepala putik pada bagian ujung
panjang 2-2.5 cm. Tangkai putik berbentuk tabung yang langsung berhubungan
dengan bakal buah yang terdapat pada pangkal mahkota bunga (corolla). Kepala

putik letaknya lebih tinggi dari kepala sari sehingga penyerbukan akan terjadi oleh
bantuan serangga atau angin. Buahnya adalah buah kotak berbentuk seperti telur
(Logo, 2011).
e. Umbi
Umbi pada ubijalar bermacam-macam bergantung pada jenis atau varietasnya
tetapi pada umumnya umbi ubijalar dibagi menjadi dua yaitu umbi kecil dengan
berat < 80 gram per umbi dan umbi besar dengan berat > 80 gram per umbi. Umbi
ubijalar selalu memiliki mata tunas sehingga memungkinkan untuk mendapatkan
bahan tanaman berupa stek dengan menginduksi tunas dari umbinya yang terdapat
pada umbi ubijalar memiliki variasi bentuk dan warna yang beragam. Kulit umbi
dapat berwarna putih sampai merah tua atau ungu, kuning atau bercak berwarna
yang tidak teratur dibagian tengah umbi (Logo, 2011).
2.2 Syarat Tumbuh Ubi Jalar
Ubi jalar dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan apabila persyaratan
iklimnya sesuai selama pertumbuhannya. Suhu minimum untuk pertumbuhannya
adalah 10C, suhu maksimum 40C dan suhu optimumnya adalah 21C 27C
(Wargiono, 1980). Secara geografis tanaman ubi jalar dapat tumbuh baik mulai
dari 40 lintang utara sampai 32 lintang selatan (Purseglove, 1968). Di Indonesia
tanaman ubi jalar dapat ditanam mulai dari pantai sampai ke pegunungan dengan
ketinggian 1700 meter di atas permukaan laut (dpl), suhu rata rata 27C dan
lama penyinaran 11 12 jam per hari (Juanda dan Cahyono, 2000).
Tanaman ubi jalar dapat tumbuh subur apabila iklim panas dan lembab. Ubi
jalar memerlukan paling sedikit empat bulan musim panas dan jumlah sinar yang
cukup selama periode pertumbuhannya (Raj, 1987, dalam Desmaini, 1989). Curah
hujan tahunan yang diperlukan oleh ubi jalar selama pertumbuhannya adalah
sebanyak 750 mm - 1500 mm, namun dibutuhkan juga masa - masa kering untuk
pembentukan umbi (Juanda dan Cahyono, 2000). Ubi jalar dapat tumbuh di
berbagai jenis tanah, namun hasil terbaik akan didapat bila ditanam pada tanah
lempung berpasir yang kaya akan bahan organik dengan drainase yang baik.
Perkembangan umbi akan terhambat oleh struktur tanah bila ditanam pada tanah
lempung berat, sehingga dapat mengurangi hasil dan bentuk umbinya sering
berbenjol - benjol dan kadar seratnya tinggi. Apabila ditanam pada lahan yang
4

sangat subur akan banyak tumbuh daun tetapi hasil umbinya sangat sedikit
(Wargiono, 1980).
Derajat kemasaman (pH) tanah yang baik untuk pertumbuhan ubi jalar
berkisar antara 5,5 - 7,5 (Wargiono, 1980). Menurut Tsuno, (1977, dalam
Desmaini, 1989) pH tanah optimum untuk pertumbuhan tanaman ubi jalar adalah
6,1 - 7,7 akan tetapi ubi jalar masih tahan tumbuh pada pH tanah yang relatif
rendah.
2.3 Jenis Ubi Jalar
Menurut Suparman (2007), pada umumnya jenis ubi jalar dibagi menurut
umurnya, bentuk daunnya, dan warna umbinya meliputi:
1. Menurut umurnya, jenis ubi jalar dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Ubi jalar genjah, yaitu ubi jalar yang dapat dipanen setelah umur tanam 3-5
bulan.
b. Ubi jalar dalam, yaitu ubi jalar yang baru dapat dipanen stelah umur 8-10
bulan.
2. Menurut daun, dan warna umbi, jenis ubi jalar yaitu:
a. Berdaun lebar tidak berombak, atau berombak sedikit, bentuknya bulat.
Batangnya tidak berbulu. Umbi besar dan gemuk, kulit gabus berwarna putih
atau merah muda. Di bagian tengah daging umbi berwarna kuning.
b. Daun berombak dan yang masih muda berwarna jingga. Batang tidak berbulu.
Daging umbi berwarna kuning muda agak kemerah-merahan.
c. Daun agak berombak, batang tidak berbulu, kulit umbi berwarna merah tua,
daging umbi berwarna putih berbintik jingga.
d. Daging daun sebelah atas berbulu tebal, kulit umbi berwarna merah tua,
daging umbi berwarna putih terdapat sedikit bintik jingga.
e. Daun sangat berombak, batang berbulu tebal, umbi kecil panjang, berwarna
merah muda atau kuning muda.
f. Daun berombak dengan batang tak berwarna, umbinya besar, berwarna putih
sampai merah muda.
g. Daun berombak dengan bentuk kecil, batang tak berbulu berwarna jingga,
umbinya berwarna kuning muda sampai merah muda.
3. Menurut varietas ubi jalar, yaitu:
5

a. Varietas Borobudur
Ubi jalar varietas Borobudur memiliki umur antara 3,5-4 bulan. Tipe batang
menjalar, ruas batang sedang, kulit umbi tebal, getah umbi banyak. Warna pupus
daun hijau, warna daun muda hijau muda, warna daun hiaju tua.
Warna pusat tulang daun muda hijau muda, bagian atas dan bawah berwarna
hijau. Tulang daun tua bagian atas dan bawah berwarna hiaju. Tulang tangkai
daun muda bagian atas dan bawah berwarna hijau. Warna batang muda hijau dan
batang tua berwarna hijau keunguan.
Warna daging umbi jingga. Bentuk daun lebar berbentuk hati. Batang
berbentuk bulat pipa. Umbi berbentuk bulat. Tahan terhadap hama dan penyakit
dengan rata-rata hasil 25 ton/ha dalam bentuk umbi basah.
b. Varietas Prambanan
Umur panen 4-4,5 bulan. Tipe batang menjalar dengan ruas sedang. Kulit
umbi tebal dengan getah yang banyak. Pupus daun berwarna hijau keunguan,
daun muda dan tua berwarna hijau. Pusat tulang daun berwarna hijau. Warna
tulang daun muda atas hijau sedang yang bawah hijau keunguan. Warna tulang
daun tua, tangkai daun dan warna batang adalah hijau. Warna umbi keseluruhan
jingga. Daun berbentuk hati dan sedang, bentuk batang bulat pipa. Bentuk umbi
lonjong. Tahan terhadap hama dan penyakit. Rata-rata hasil panen sebanyak 28
ton/ha dalam bentuk basah.
c. Varietas menurut asal usul meliputi:
Tabel 1. Macam-macam Varietas Menurut Asal Usul (Suparman, 2007)
Jenis
Tanjung kait
Sebulan
Samarinda
Kangkung hitam
Koma hitam
Nanas putih
Kuntul
Portorico
Serdang
Jarak
South queen

Bentuk
panjang
bulat telur
bulat panjang
bulat panjang
Bulat
Bulat
bulat panjang
bulat panjang
Bulat
bulat panjang
bulat panjang

Warna Daging
merah tua
putih
putih
merah muda
merah muda
putih kuning
Putih
merah muda
merah muda
putih kuning
Kuning

Warna Kulit
putih
putih
putih
Kuning
putih
kuning muda
kuning
merah muda
merah muda
putih kuning
putih kuning

2.4 Fase Pertumbuhan Ubi Jalar

Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman ubi jalar berupa bibit yang
ditanam sampai umbi siap untuk dipanen (sekitar 100-150 hari) tergantung
varietas dan lingkungan tumbuh. Kurun waktu pembentukan umbi dapat
dibedakan menjadi tiga fase tumbuh, yaitu fase awal pertumbuhan, fase
pembentukan umbi, dan fase pengisian umbi.
a. Fase awal pertumbuhan
Fase pertumbuhan awal berlangsung sejak bibit yang berupa stek ditanam
sampai berumur 4 minggu. Ciri-ciri setelah bibit ditanam, pertumbuhan akar muda
berlangsung cepat, sedangkan pertumbuhan batang dan daun masih lambat
(Sarwono, 2005).
b. Fase pembentukan umbi
Fase pembentukan umbi berlangsung sejak tanaman berumur 4-8 minggu.
Rata-rata fase ini berlangsung antara 4-6 minggu setelah tanam, tergantung
varietas dan keadaan lingkungan tumbuh. Saat umur 7 minggu sekitar 80% umbi
telah terbentuk. Pembentukan umbi dicirikan dengan pembentukan batang dan
daun yang berlangsung cepat, sehingga batang tanaman tampak lebih lebat
(Sarwono, 2005).
c. Fase pengisian umbi
Fase pengisian umbi berlangsung antara umur 8-17 minggu setelah tanam,
dan ketika tanaman berumur 8-12 minggu setelah tanam, proses pembentukan
tanaman berhenti membentuk umbi baru karena telah dimulainya proses
pembesaran umbi yang telah terbentuk sebelumnya. Tanaman yang telah
memasuki proses pembentukan dan pengisian umbi dengan ciri berkurangnya
pertumbuhan batang dan daun. Pengisian umbi berhenti saat tanaman berumur 13
minggu setelah tanam. Sementara mulai umur 14 minggu daun tanaman mulai
menguning dan rontok, dan tanaman dapat dipanen umbinya saat berumur 17
minggu setelah tanam (Sarwono, 2005). Selama umbi mengalami penambahan
ukuran, pembentukan cabang dan daun berangsur-angsur berkurang dan daun
yang ada akan mengalami penuaan sehingga akan terjadi penurunan laju
fotosintesis. Penuaan daun terutama disebabkan oleh kekurangan persediaan
substrat untuk pertumbuhan potensial bagi tajuk dan penyerapan oleh akar akibat
menurunnya laju fotosintesis. Pada periode ini pertumbuhan tajuk tanaman

mengalami

hambatan

karena

sebagian

karbohidrat

digunakan

untuk

perkembangan umbi (Hahm dan Hozyo, 1993).


2.5 Teknik Budidaya Ubi Jalar
2.5.1

Pemilihan Varietas Unggul


Pemilihan varietas unggul sangat penting dalam praktek budidaya tanaman,

akerna akan menentukan hasil dan kualitas dari umbi. Selain itu, kelebihan
varietas unggul juga memiliki umur yang genjah, bentuk dan warna umbi yang
menarik, kandungan gizi yang tinggi serta tahan terhadap serangan hama dan
penyakit, sehingga lebih menguntungkan. Juanda dan Cahyono (2000),
mengatakan bahwa varietas ubi jalar yang termasuk varietas unggul memiliki
kriteria sebagai berikut (1) produktivitas tinggi, daya hasil diatas 25 ton/ha; (2)
mempunyai daya adaptasi luas atau stabil pada berbagai tekanan lingkungan; (3)
daya tahan terhadap serangan hama dan penyakit tinggi; (4) umur panen pendek,
sekitar 3-4 bulan; (5) tekstur umbi masir dan memiliki rasa manis; (6) karakter
tanaman sesuai dengan kebutuhan industri.
Rekomendasi tiga varietas unggul yang disarankan oleh Balai Penelitian
Tanaman Aneka Kacang dan Umbi (BALITKABI) adalah Papua Patippi, Papua
Solossa, dan Sawentar.
2.5.2

Penyiapan Bibit
Tata cara penyiapan bibit ubi jalar yaitu dengan menentukan tanaman yang

sudah berumur 2 bulan atau lebih, keadaan pertumbuhannya sehat dan normal,
kemudian potong batang tanaman untuk dijadikan stek batang sepanjang 20 cm
25 cm dengan menggunakan pisau yang tajam, dan dilakukan pada pagi hari,
setelah itu kumpulkan stek pada suatu tempat kemudian buang sebagian daunnya
untuk mengurangi penguapan yang berlebihan dan yang terakhir adalah ikat bahan
tanaman rata-rata 100 stek/ikatan lalu simpan ditempat yang teduh selama 1-7 hari
dengan tidak bertumpuk (Juanda dan Cahyono, 2000).
2.5.3

Penyiapan Lahan
Penyiapan lahan bagi ubi jalar sebaiknya dilakukan pada saat tanah tidak

terlalu basah atau tidak terlalu kering agar strukturnya tidak rusak, lengket, atau
keras. Penyiapan lahan dapat dilakukan dengan cara tanah diolah terlebih dahulu
hingga gembur, kemudian dibiarkan selama 1 minggu. Tahap berikutnya tanah

dibentuk guludan-guludan, kemudian tanah langsung diolah bersamaan dengan


pembuatan guludan. Ukuran guludan disesuaikan dengan keadaan tanah. Pada
tanah yang ringan (pasir mengandung liat) ukuran guludan adalah lebar bawah
60 cm, tinggi 30 cm 40 cm, dan jarak antar guludan 70 cm 100 cm (Juanda
dan Cahyono, 2000).
2.5.4

Penanaman
Tahap penanaman ubi jalar yaitu membuat larikan-larikan dangkal dengan

arah memanjang disepanjang puncak guludan dengan cangkul sedalam 10 cm,


atau buat lubang dengan tugal, jarak antar lubang 25 cm 30 cm, kemudian
membuat larikan atau lubang dengan tugal sejauh 7 cm 10 cm dikiri dan kanan
lubang tanam untuk tempat pupuk. Tanamkan bibit ubi jalar ke dalam lubang
hingga pangkal batang terbenam tanah - bagian, kemudian padatkan tanah
dekat pangkal stek. Masukkan pupuk dasar berupa urea bagian + TSP seluruh
bagian + KCL bagian dari dosis anjuran kedalam lubang kemudian tutup
dengan tanah tipis-tipis (Juanda dan Cahyono, 2000).
2.5.5

Pemeliharaan
Pemeliharaan ubi jalar terdiri dari pengairan, penyulaman, pemupukan,

penyiangan gulma, pembumbunan, dan pengendalian hama dan penyakit.


Pengairam dilakukan setiap 15-30 menit hingga tanah cukup basah, kemudian air
tersebut dialirkan ke salurang pembuangan, pengairan dilakukan secara rutin
hingga

tanaman berumur

1-2 bulan. Pada

periode

pembentukan

dan

perkembangan umbi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi
atau dihentikan. Waktu pengairan yang paling baik adalah pagi dan sore hari.
Penyulaman dilakukan apabila ada bibit yang mati, dilakukan dengan cara
mencabut bibit yang mati kemudian diganti dengan bibit yang baru. Pemupukan
susulan dilakukan pada saat umur tanaman 45 hari setelah tanam. Penyiangan dan
pembumbunan dilakukan pada saat umur tanaman 1 bulan setelah tanam
kemudian diualang pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah tanam. Penyiangan
dan pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan gulma dengan cangkul,
lalu menggemburkan tanah di sekitar guludan kemudian lakukan pengairan
hingga tanah cukup basah. Pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan

10

dengan cara kultur teknis diantaranya mengatur waktu tanam yang tepat, sanitasi
kebun, dan pola pergiliran tanaman (Juanda dan Cahyono, 2000).
2.5.6

Panen dan Pasca Panen

2.5.6.1 Panen
Tanaman ubi jalar dapat dipanen bila ubinya sudah tua. Kriteria ubi jalar
matang fisiologis, amtara lain bila kandungan tepungnya sudah maksimum
ditandai dengan kadar serat yang rendah dan bila direbus rasanya enak serta tidak
berair. Penentuan waktu panen ubi jalar didasarkan atas umur tanaman. Jenis atau
varietas ubi jalar berumur pendek dipanen pada umur 3-3,5 bulan, sedangkan
varietas berumur panjang dipanen pada umur 4,5-5 bulan.
Tata cara penen ubi jalar melalui tahap-tahap yaitu menentukan pertanaman
ubi jalar yang telah siap dipanen. Potong batang ubi jalar dengan menggunakan
parang atau sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan keluar petakan sambil
dikumpulkan. Gali guludan dengan cangkul hingga terkuak ubinya. Ambil dan
kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil. Bersihkan ubi dari tanah
atau kotoran dan akar yang masih menempel, kemudian lakukan seleksi dan
sortasi ubi yang seragam. Setelah itu masukkan ubi ke dalam wadah atau karung
goni, lalu angkat ke tempat penampungan hasil (Widyastuti, 2000).
2.5.6.2 Pasca Panen
Penanganan pasca panen ubi jalar biasanya ditujukan untuk mempertahankan
daya simpan. Penyimpanan ubi jalar yang paling baik dilakukan dalam pasir atau
abu. Tata cara penyimpanan ubi jalar dalam pasir atau abu adalah dengan cara
mengangin-anginkan ubi yang baru dipanen di tempat yang berlantai kering
selama 2-3 hari. Siapkan tempat penyimpanan berupa ruangan khusus atau
gudang yang kering, sejuk, dan peredaran udaranya baik, kemudian tumpuk ubi di
lantai gudang, kemudian timbun dengan pasir kering atau abu setebal 20 cm 30
cm hingga permukaan ubi tertutup (Widyastuti, 2000).

10

11

3. METODE DAN PELAKSANAAN


3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan magang kerja akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan
bulan September 2016 di UPT Pengembangan Benih Palawija Singosari, yang
beralamat di Jalan Raya Randuagung No. 120A, Singosari, Malang.
3.2 Metode Pelaksanaan

11

12

Metode pelaksanaan pada magang kerja ini meliputi beberapa kegiatan antara
lain:
1. Berpatisipasi dalam pelaksanaan praktek budidaya ubi jalar sesuai Standart
Operasional Prosedur di UPT Pengembangan Benih Palawija.
2. Mengikuti seluruh kegiatan dan pengamatan di lapangan yang dilakukan pihak
UPT dengan 5 hari kerja dalam seminggu dan 7 jam kerja setiap harinya.
3. Observasi lapang
Observasi keadaan umum di UPT Pengembangan Benih Palawija
Singosari, Malang yang meliputi lokasi, luas area, struktur organisasi, jumlah
tenaga kerja, dan kegiatan yang dilakukan.
4. Partisipasi aktif
Partisipasi aktif filakukan dengan ikut serta dan berperan aktif dalam
kegiatan-kegiatan budidaya ubi jalar di UPT Pengembangan Benih Palawija
Singosari.
5. Diskusi dan wawancara
Diskusi dan wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi
dan keterangan mengenai praktek budidaya ubi jalar yang dilakukan di UPT
Pengembangan Benih Palawija Singosari.
6. Pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan kegiatan pengolahan data pengamatan yang
berkaitan dengan tujuan yang diperoleh selama magang kerja, baik berupa
data primer maupun data sekunder.
a. Data primer
Data primer berasal dari hasil ikut serta dan praktek langsung dalam
proses budidaya ubi jalar di lapang yang dilakukan oleh UPT
Pengembangan Benih Palawija Singosari.
b. Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari hasil studi pustaka dan literatur yang
berfungsi sebagai pelengkap informasi mengenai budidaya ubi jalar.
3.3 Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan yang dilakukan secara umum bertujuan untuk mengatahui dan
mempelajari teknologi budidaya ubi jalar beserta teknik pengolahannya, yang

12

13

dilakukan dengan cara mengikuti seluruh kegiatan yang dilaksanakan di UPT


Pengembangan Benih Palawija Singosari.

DAFTAR PUSTAKA
Edmond, J.B. Ammerman, G.R. 1971. Sweet Potato Production, Processing and
Marketing Wesport Connection : The AVI Publishing Company Inc.
Hahm, SK., Hozyo, Y. 1993. Sweet Potato and Yan in IRRI, Proc Symp On.
Potensial Productifity of Field crop under different Enfironman, Los
Banos, Philipines.
Juanda, D., Cahyono, B. 2000. Ubi Jalar, Budidaya dan Analisis Usahatani.
Yogjakarta, Kanisius 56 Hal.

13

14

Litbang Pertanian (2011). Kajian keterkaitan produksi, perdagangan dan konsumsi


ubi
jalar
untuk
meningkatkan
partisipasi
konsumsi
file:///C:/Users/ASUS/Pictures/Ubi%20Jalar%20Deptan.htm,
Logo, Opalina. 2011. Deskripsi Morfologi Beberapa Jenis Ubi Jalar (Ipomoea
batatas (L.) Lam) Berdasarkan Pola Pemanfaatan Oleh Suku Dani di
Distrik Kurulu Kabupaten Jayawijaya. Manokwari: Jurusan Budidaya
Pertanian Fakultas Pertanian Dan Teknologi Pertanian Universitas Papua
Manokwari.
Rukmana, Rahmat. 1997. Ubi Jalar: Budi Daya Dan Pascapanen. Yogyakarta:
Kanisius.
Wargiono, J. 1980. Ubi Jalar dan Cara Bercocok Tanam. Buletin Teknik No. 5
Lembaga Pusat Penelitian Pertanian Bogor. Hal 23.
Widyastuti, C.A. 2000. Pengetahuan Wanita tentang Ubi Jalar dan Kontribusinya
terhadap Kelestraian Keanekaragaman Ubi Jalar di Lembah Baliem. Studi
Kasus di Desa Waga-waga, Kecamatan Kurulu, Kabupaten Jayawijaya,
Irian Jaya. Thesis. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
Sarwono, B. 2005. Ubi Jalar. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sonhaji, A. 2007. Mengenal dan Bertanam Ubi Jalar. Bandung: Gaza Publishing.
Suparman. 2007. Bercocok Tanam Ubi Jalar. Azka Mulia Media.
Purseglove, J.W. 1968. Tropical Crops Dicotyledons 2. London: Longmans.
Zuraida, N. dan Y. Supriyati. 2001. Usahatani Ubi Jalar Sebagai Bahan Pangan
Alternatif dan diversifikasi Sumber Karbohidrat. Buletin AgroBio. 4(1):
13-23.

14