Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

DIFUSI OSMOSIS

Kelompok : IV
Disusun Oleh :

Alam Mulyasin
Indah Irawati
Naviza Oktarini
Novita Anggraeni

(10308141005)
(10308141007)
(10308141017)
(10308141019)

Biologi Subsidi 2010

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2010
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Osmosis adalah kasus khusus dari transpor pasif, dimana molekul
air berdifusi melewati membran yang bersifat selektif permeabel. Dalam
sistem osmosis, dikenal larutan hipertonik (larutan yang mempunyai
konsentrasi terlarut tinggi), larutan hipotonik (larutan dengan konsentrasi
terlarut rendah), dan larutan isotonik (dua larutan yang mempunyai
konsentrasi terlarut sama). Jika terdapat dua larutan yang tidak sama
konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua
larutan seimbang.
Proses osmosis juga terjadi pada sel hidup di alam. Perubahan
bentuk sel terjadi jika terdapat pada larutan yang berbeda. Sel yang
terletak pada larutan isotonik, maka volumenya akan konstan. Dalam hal
ini, sel akan mendapat dan kehilangan air yang sama. Sebaliknya, jika sel
berada pada larutan hipertonik, maka sel banyak kehilangan molekul air,
sehingga sel menjadi kecil dan dapat menyebabkan kematian. Hal inilah
yang menjadi tolak ukur bagi praktikan dalam pembuatan Laporan ini.
Sehingga pada Bab berikutnya akan dibahas bagaimana proses osmosis
terjadi pada tumbuhan.

B. TUJUAN PRAKTIKUM
Mengamati adanya peristiwa osmosis pada usus ayam.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. TINJAUAN TEORI
Dalam membandingakan dua larrutan yang konsentrasi zat
terlarutnya berbeda, larutan dengan konsentrais zat terlarut yang lebih
tinggi disebut sebagai hipertonik. Larutan dengan konsentrasi zat terlarut
yang lebih rendah disebut sebagai hipotonik. Inimerupakan istilah-istilah
relative yang hanya bermakana jika bila terdapat suatu perbandingan.
Misalnya, air PAM bersifat hipertonil terhadap air destilasi tetapi
hipotonik terhadap air laut. Dengan kata lain, air PAM mempunyai
konsentrasi zat terlarut lebih tinggi daripada air destilasi, tetapi
mempunyai konsentras yang lebih rendah jika dibamdinkan air laut.
Larutan-larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang sama disebut dengan
isotonic (isp berarti sama).

Gambar 1. Osmosis

Gambar tesebut adala 2 sel yang masing-masing memiliki


membrane plasma atau membran permeable selekttif dan pada gambar
tersebut terjadi perbedaan konsentrasi. Konsentrasi garam sebelah kanan
lebih tinggi, akibatnya volume pelarutnya lebih kecil dibandingkan dengan
sel yang sebelah kiri. Akibatnya, larutan dengan konsentrasi zat terlarut
yang lebih tinggi (hipertonik) memiliki konsentrasi air yang lebih rendah.
Oleh sebab itu

air akan berdifusi melintasi membrane dari larutan

hipotonik ke larutan hipertonik. Difusi air melintasi membrane permeable


selektif ini merupakan suatu kasus khusus transfor pasi yang disebut
Osmosis.
Arah osmosis hanya ditentukan oleh perbedaan konsentrasi zat
terlarut total. Air berpindah dari larutan hipotonik ke hipertonik sekalipun
larutan hipotoniknya memiliki lebih banyak zat terlarut. Air laut yang
memiliki zat terlarut yang sangat beragam, molekul airnya akan bergerak
ke larutan gula tunggal yang sangat tinggi konsentrasinya, karena
konsentrasi total zat terlarut air laut lebih rendah. Jika dua larutan isotonic,
air berpindah melintasi membrane yang memisahka larutan-larutan
tersebut pada laju yang sama untuk kedua arah, dengan kata lain tidak ada
selisih osmosis pada larutan isotonik.

B. HIPOTESIS
Peristiwa Osmosis terjadi ketika air mengalir dari larutan yang
hipotonik ke larutan yang hipertonik melalui membran semi permeabel.

BAB III
METODE

A. ALAT DAN BAHAN


1) Alat

: Beaker glass 100 ml, benang, pisau dan silet

2) Bahan

Larutan glukosa 30%

Air

Usus ayam masing-masing dengan panjang 6


cm sebanyak 4 buah

B. CARA KERJA
1) Disiapkan 4 beaker glass 100 ml
2) Dua beaker glass diisi dengan larutan glukosa 100 ml dan dua
lainnya diisi dengan air sebanyak 100 ml
3) Ikat salah satu ujung dengan benang, kemudian dalam usus
tersebut dimasukkan larutan glukosa 30 % sebanyak 2,5 ml, ikat
ujung keduanya dengan benang. Jarak ikatan pertama dengan
kedua 5 cm. Kerjakan sebanyak dua buah
4) Lakukan hal yang sama pada dua usus lainnya diisi dengan air
sampai penuh, dengan jarak ikatan pertama dan kedua 5 cm
5) Lakukan pengamatan berturut-turut dalam waktu 0, 20 ,dan 40
menit
6) Catat hasil pengamatan pada Tabel pengamatan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PENGAMATAN


Lembar Pengamatan Percobaan
Hasil Pengamatan
Waktu/ Menit

Usus Berisi Air

Usus Berisi Larutan


Glukosa 30 %

Tenggelam,

Tenggelam,

pucat,

pucat,

lembek,

melengkung

keras/tegang,
melengkung

20

40

Tenggelam, lebih

Mengapung,

terang,

melengkung,

lembek,

lurus

keras, pucat

Tenggelam,

Mengapung,

semakin lembek,

melengkung,

lurus,

lebih

terang

semakin

keras,

pucat

4.2 PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan diatas, telah dimasukkan 2,5 ml glukosa 30
% kedalam usus ayam 1 (direndam dalam 100 ml air) dan 2,5 ml air
dimasukkan kedalam usus ayam 2 (direndam dalam 100 ml glukosa). Pada
0 menit pertama, usus ayam yang berisi air memiliki ciri : Tenggelam,
pucat, lembek dan melengkung, sedangkan usus ayam yang berisi larutan
glukosa : tenggelam, pucat, keras/tegang dan melengkung.

Setelah 20 menit kemudian, usus ayam yang berisi air mulai ada
perubahan, yang tadinya melengkung setelah 20 menit diamati menjadi
lurus dan semakin lembek. Sedangkan usus ayam yang berisi glukosa
tetap melengkung,tetap keras namun agak sedikit mengapung.
Pada pengamatan terakhir, yaitu setelah 40 menit. Usus ayam yang
berisi air menjadi penyet, lurus dan air didalam usus tersebut tinggal
sedikit. Sedangkan pada usus ayam yang berisi glukosa tetap keras dan
melengkung. Melengkungnya usus ayam yang berisi glukosa dikarenakan
masih adanya larutan yang mengisi usus tersebut.
Dari percobaan yang telah dilakukan, usus mengalami perubahan.
Usus yang berisi air mengalami pengurangn berat dan usus yang berisi
larutan glukosa tetap keras. Hal ini terjadi karena air bersifat hipotonis
maupun hipertonis terhadap usus.
Pada usus yang dimasukkan kedalam larutan glukosa terjadi
pengurangan berat atau lembek. Hal ini disebabkan glukosa bersifat
hipertonis terhadap usus. Sedangakn pada usus yang dimasukkan kedalam
air tetap dalam keadaan keras. Hal ini disebabkan air bersifat hipotonis
terhadap usus.
Dari penjelasan tersebut, diketahui bahwa usus ayam yang berisi
air menjadi lembek dan usus ayam yang berisi glukosa tetap keras. Hal ini
dikarenakan larutan dengan konsentrasi zat terlarut yang lebih tinggi
(hipertonik) memiliki konsentrasi air yang lebih rendah. Oleh sebab itu, air
akan berdifusi melintasi membrane dari larutan hipotonik ke larutan
hipertonik. Difusi air melintasi membrane permeabel selektif ini
merupakan suatu kasus khusus transport pasif yang disebut Osmosis.

BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa usus yang berisi


air mengalami pengurangan berat (lembek) terjadi karena Glukosa bersifat
hipertonis terhadap usus. Sedangkan usus yang berisi glukosa tetap keras
karena air bersifat hipotonis terhadap usus.
Molekul berukuran kecil dapat melewati membran sel dengan dua
cara, yaitu dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, atau bisa juga
menuruni gradien konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell., Reece., Mitchell. 2002. Biologi Jilid I. Jakarta : Erlangga.


Campbell., Reece., Mitchell. 2003. Biologi Jilid II. Jakarta : Erlangga.
Firdaus, L.N., Wulandari, Sri., Bey, Yusnida. 2006. Fisiologi Tumbuhan.
Pekanbaru : Pusat Pengembangan Pendidikan Universitas Riau.
Yulianto, Eko. 2011. Osmosis dan Difusi.
http://konsepbiologi.wordpress.com/2011/07/16/osmosis-dandifusi/. Diakses Minggu, 30 Oktober 2011.