Anda di halaman 1dari 8

Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik

Mukhtar Lutfi

PENERAPAN ASAS HUKUM


DAN KEPENTINGAN POLITIK
Mukhtar lutfi
Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstract
In This written discuss about the factors unpply ideally when it accoss with the
political action.. It have any goal, firstly, it is analyzed descripti cally in the
phenomena, the factors didnt applied when it broked the political will, besides it
able to be in put to understand politic infaction toward fondations law, fanally it is
be materils to politician and lawyer.
The auther made a conclusion the factors un apply ideally and consistenly are the
politician not in site personality and performent. On the lieather in site was
doninated of powers (eksekutive legal). This law as the subject soscial not otonomy
that cause the application of law far fron democrasi prinsives.
Kata Kunci: Hukum dan Politik

Al-Risalah | Volume 10 Nomor 2 Nopember 2010

265

Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik

Mukhtar Lutfi

PENDAHULUAN

egara hukum diartikan sebagai suatu negara yang menerapkan prinsip


legalitas, yaitu segala tindakan negara melalui, berdasarkan dan sesuai
dengan hukum. Hukum mempunyai kedudukan tertinggi agar supaya
pelaksanaan kekuasaan negara tidak menyimpang dari undang undang,
dengan demikian kekuasaan akan tunduk pada hukum, bukan sebaliknya.
Hukum sebagai perangkat kaidah sosial yang salah satu tugasnya menciptakan
pergaulan hidup damai, dalam penegakannya kerap kali juga mesti memperhatikan
pertimbangan-pertimbangan etis yang dapat dijadikan sebagai patokan agar tidak
terjadi konflik ketika terjadi benturan-benturan penerapan beberapa perangkat hukum
(aturan). Selain itu, asas hukum dapat juga menjadi tuntunan bagi aparat hukum
lainnya pada saat menyelesaikan dan melakukan proses hukum terhadap setiap
sengketa hukum atau pelanggaran hukum yang diajukan kepadanya.
Negara hukum diartikan sebagai suatu negara yang menerapkkan prinsip
legalitas yaitu, segala tindakan negara melalui, berdasarkan dan sesuai dengan hukum
(Simorangkir,1983:36).
Hukum mempunyai kedudukan tertinggi agar supaya
pelaksanaan kekuasaan negara tidak menyimpang dari Undang-undang, dengan
demikian kekuasaan akan tunduk pada hukum, bukan sebaliknya.
Asas hukum sebagai tuntunan etis yang bersifat abstrak dalam hal melakukan
pertimbangan-pertimbangan hukum, secara ideal seharusnya berjalan dengan
konsisten serta tidak boleh dijadikan sebagai dalih untuk melakukan penyimpanganpenyimpangan hukum. Oleh karena, asas hukum memang diadakan untuk
melakukan harmonisasi bagi semua kepentingan-kepentingan hukum, guna lebih
mengarahkan tujuan-tujuan
hukum itu sendiri pada dasarnya yang lebih
propersional.
Hukum dengan perlengkapan dan otoritasnya yang ada padanya, melakukan
pengintegrasian terhadap proses-proses yang berlangsung dalam masyarakat, hukum
menerima asupan-asupan dari berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, budaya dan
lain-lain, untuk kemudian diolahnya menjadi keluaran-keluaran yang dikembalikan
kedalam masyarakat, pada waktu bahan yang diolah itu, yaitu dalam bentuk asupan
tadi, wujudnya berupa sengketa atau konflik.
Untuk menjalankan hukum, hukum membutuhkan suatu kekuatan pendorong,
ia membutuhkan kekuasaan kepentingan politik yang memberikan kekuatan
kepadanya untuk menjalankan fungsi hukum, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan
kekuasaan kepentingan politik itu untuk menunggangi hukum. Karena dalam
menerapkan hukum asas hukum harus mampu untuk menjadi saluran, agar keadilan
itu dapat diselenggarakan secara saksama dalam kehidupan masyarakat guna
stabilitas serta kerangka sosial terhadap kebutuhan-kebutuhan masyarakat, baik
dalam wujudnya bentuk norma-norma.
Realitas penerapan asas hukum terkadang mengalami benturan-benturan
dengan mengaitkan kepentingan politik, kekuasaan, dan otoritas, sehingga pada saat
yang bersamaan penerapan asas hukum tersebut tidak berjalan secara konsisten dan
ideal, kecenderungan ini akhirnya mengakibatkan hilangnya kepercayaan para warga
masyarakat terhadap perangkat hukum sebagai alat untuk menyelesaikan konflik
yang dipandang adil.
266

Al-Risalah | Volume 10 Nomor 2 Nopember 2010

Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik

Mukhtar Lutfi

Tumbangnya Orde Baru dan tampilnya Gus Dur, merupakan wahana untuk
mewujudkan harapan menjadikan hukum sebagai panglima dalam kehidupan
bermasyarakat berbangsa dan bernegara (Ahmad Ali, 1999: 11). Demikian juga
tampilnya Gus Dur tidaklah bermakna bahw sikap otoriter dan dictator bukan lagi hal
yang harus ditakuti. Dalam konteks ini masalah penerapan asas hukum hanyalah salah
satu msalah hukum dari berbagai masalah yang ada.
Dalam konstatasi hukum dan kehidupan bernegara salah satu hal yang sejak
lama telah banyak melahirkan polemik. Determinan mana hukum dengan politik.
Apakah hukum determinan terhadap politik atau politik determinan terhadap hukum.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita harus masuk dalam kawasan politik
hukum, Dalam format politik hukum (rechts politiek) oleh para pakar dibidang ini
menerima bahwa hukum adalah produk politik (Moh.Mahfud, 1998: 7) Untuk itu
bagaimana wujud hukum yang oleh konfigurasi kekuasaan kepentingan politik yang
melingkupinya. Hal demikian aspek kepentingan politik hukum sangat besar
pengaruhnya dalam penegakan hukum, sehingga dalam hubungan tolak tarik antara
politik dan hukum, maka hukumlah yang terpengaruh oleh politik, karena substansi
politik memiliki konsentrasi energi yang lebih besar dari pada hukum. Sehingga jika
harus berhadapan dengan kepentinganpolitik, maka hukum berada dalam kedudukan
yang lebih lemah.
Dari uraian yang dikemukakan di atas, maka penulis hanya konsentrasikan
pada faktor yang menjadi atribut tidak dijalankannya asas hukum secara ideal ketika
berhadapan dengan kepentingan politik?
PEMBAHASAN
1. Pengertian Asas Hukum dan Fungsi Asas
Rusli Effendi, dkk (1991: 28), mengemukakan bahwa terminologi dalam bahasa
Inggerisnya adalah principle dan menurut kamus As. Homby (1972 :769) bahwa,
principle adalah basic-truth atau general law of couse and effect. Sedangkan menurut
kamus Henny Campbell Black yang di kutib dalam Achmad Ali (1997 :53) , bahwa
principle is a fundamental truth or doctrine, as of law a comprehensive rule or doctrine
which furnishes a basis or origin forr
others.
Lebih lanjut Rusli Effendi. dkk (1997:28) juga mengemukan bahwa asas hukum
merupakan sesuatu yang melahirkan peraturan-peraturan hukum, merupakan ratio
logis dari aturan ataupun peraturan hukum, pada sisi lain, Sajipto Raharjo, terkutib
dalam Rusdi effendi, dkk. (1991: 28) menuliskan bahwa asas hukum merupakan
jantungnya hukum, sehingga sebagai jantungnya hukum, maka tidak ada hukum yang
dapat dipahami tanpa mengetahui asas-asas hukum yang ada didalammua, asas
hukum berperan sebagai pemberi etis bagi aturan-aturan hukum , sistem hukum dan
tata hukum.
Lain pula halnya, Sudikno Mertokusumo (1985: 32) dalam bukumnya Ahmad
Ali bahwa, asas hukum adalah norma dasar yang dijabarkan dari hukum positif dan
yang oleh ilmu hukum tidak dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih umum,
tetapi merupakan pengendapan hukum positif dalam suatu masyarakat, dan asas
hukum itu tidak boleh dianggap sebagai norma-norma hukum yang konkret, akan
Al-Risalah | Volume 10 Nomor 2 Nopember 2010

267

Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik

Mukhtar Lutfi

tetapi perlu dipandang sebagai dasar-dasar umum atau petunjuk-petunjuk bagi


hukum yang berlaku, yakni dasar-dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan
hukum positif
Suatu asas hukum bukanlah suatu ketentuan hukum, asas bukanlah hukum
namun hukum tidak dapat dimengerti tanpa asas, asas adalah gejala yang mengarah
penentuan moral kita pada hukum, asas adalah hal-hal yang umum dengan segala
sesuatu yang relatif yang mendampinginya yang tidak lolos dari kebutuhan (John, Z.
Loudoe, 1985:127)
Untuk memperjelas pemahaman manyangkut asas hukum, pandangan tentang
asas hukum itu tidak boleh dianggap sebagai norma-norma hukum yang kongret,
akan tetapi perlu dipandang sebagai dasar-dasar umum atau petunjuk-petunjuk bagi
hukum yang berlaku. Meskipun setiap produk asas hukum memuat kehendak serta
keputusan penguasa atau penentu kebijakan politik, tidaklah kemudian berarti kaidah
asas hukum tersebut merugikan kepentingan masyarakat banyak serta menyimpang
dari kaidah-kaidah hukum pada umumnya.
Pembentukan hukum yang praktis perlu berorientasi pada asas-asas hukum
tersebut dengan kata lain, asas hukum adalah dasar-dasar atau petunjuk arah dalam
pembentukan hukum positif, berkenaan dengan asas hukum, dimana fungsi asas
hukum dapat dilihat atas tiga fungsi sebagaimana dijelaskan oleh Achmad Ali
(1999:55) adalah sebagai berikut:
a. Fungsi Taat Asas (konsisten)
Fungsi taat asas dari hukum itu adalah bagaimana konsistensi dapat terjamin
dalam sistem hukum. Contohnya dalam hukum asas perdata dianut asas pasif bagi
hakim, artinya hakim hanya memeriksa dan mengadili pokok persengketaan yang
ditentukan oleh para pihak yang berperkara.
b. Fungsi Mengatasi Konflik
Fungsi ini merupakan fungsi penting dari asas hukum, Asas lex superior
deroyal legi inferiori adalah asas yang mengatur bahwa peraturan hukum yang lebih
tinggi hirarkinya harus didahulukan dari pada peraturan hukum yang lebih rendah.
Jika suatu peraturan walikota bertentangan dengan peraturan-peraturan Gunernur
maka harus diberlakukan peraturan Gubernur.
c. Fungsi Rekayasa Sosial
Rusli Effendy, dkk. (1991:100),Mengemukakan bahwa dilihat dari fungsi
hukum sebagai alat perekayasa sosial (a tool of social engineering), maka sebenarnya
suatu asas hukumpun dapat difungsikan sebagai alat perekayasa sosial. Hal ini
tentunya tergantung pada inisiatif dan kreativitas para pelaksana dan penentu
kebijakan hukum, sebagai contoh untuk ini adanya asas tidak ada keharusan untuk
mewakilkan sebaliknya diganti dengan asas keharusan untuk mewakilkan, sebagai
salah satu bentuk rekayasa sosial dibidang asas hukum, oleh karena itu dengan asas ini
proses pengadilan setidaknya dapat berlangsung cepat, serta juga dapat mengaktifkan
lebih banyak penggunaan sarjana hukum.
Mengingat banyaknya jenis asas hukum, sebagaimana yang dikemukakan oleh
Rusli Effendi (1991: 101) yaitu; a) Asas Nemo Judex indoneus in propria Causa, asas ini
menganut pandangan bahwa tidak seorangpun dapat menjadi hakim yang baik dalam
perkaranya, b) Asas Audi Et Alteram Partem, asas ini pada dasarnya bahwa bila ada
perkara dengarlah juga pihak lain, hakim diwajibkan untuk tidak memutuskan dulu
268

Al-Risalah | Volume 10 Nomor 2 Nopember 2010

Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik

Mukhtar Lutfi

sebelum kedua belah pihak yang berperkara didengarkan lebih dahulu, c) Asas Unus
Testis Nullus Testis, asas satu saksi bukan saksi, ini merupakan asas yang universal
sifatnya yang dianut di seluruh dunia dan sifatnya universal dan d) Asas Legalitas,
asas ini menyatakan bahwa tidak ada perbuatan yang dapat dihukum kecuali jika
sudah ada undang-undang yang sebelumnya telah mengancam sanksi atas perbuatan
itu.
2. Asas Hukum dengan Kepentingan Politik
Menurut Curzon (1979 :44) bahwa, hukum dan politik memiliki keterkaitan
yang erat yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, beberapa ajaran hukum
normatif-dogmatik berpandangan, hukum sebagai alat politik bukan merupakan
gejala universal, walaupun Achmad Ali sendiri tidak sepakat dengan pendapat
demikian, karena menurutnya dalam kenyataannya (sein) adalah tidak mungkin
menghindarkan hukum untuk digunakan sebagai alat politik, terutama jika dikaitkan
dengan konsep negara hukum, serta dikaitkan dengan fungsi hukum sebagai alat
rekayasa yang memang menghendaki peran aktif penguasa politik. Politik hukum
merupakan langkah kebijakan politik (political policy) penguasa dalam
memberlakukan kaedah-kaedah karena keberadaan politik hukum tidak terlepas dari
mansa politik (Laica Marzuki, 1999).
Torboni dan Syamsul Arifin (1994 :38) mengemukakan bahwa ada lima
kerangka dalam memahami politik, yaitu ; 1) Mewujudkan kebaikan bersama, 2)
Politik berkaitan dengan penyelenggaraan negara, 3) mencari dan mempertahankan
kekuasaan dalam masyarakat, 4) Politik sebagai kegiatan yang berkaitan dengan
pelaksanaan kebijakan umum, dan 5) Politik dalam rangka mencari atau
mempertahankan sumber-sumber yang dianggap penting.
Namun dalam Realitas kehidupan masyarakat yang cukup kompleks dengan
berbagai permasalahan dan kepentingan, terutama kepentingan politik dikaitkan
dalam menerapkan asas hukum yang berlaku, disatu sisi tidak jarang menimbulkan
konflik kepentingan politik, sehingga berangkat dari asumsi inilah, maka fungsi
hukum sangat dibutuhkan sebagaai basis untuk menetralisir berbagai komflik
kepentingan politik ketimbang diterapkan asas-asas hukum yang berlaku.
Dalam hubungan tolak tarik antara politik dan hukum, maka hukumlah yang
terpengaruh oleh pihak politik harus subsiste politik memiliki konsentrasi energi yang
lebih besar dari pada hukum (Satjipto Raharjo, 1985 :71). Namun kenyataan bahwa,
pada sisi perspektif hukum yang berfungsi sebagai instrumen politik, terlihat hukum
dijadikan oleh para politisi sebagai alat untuk mengakomodasikan kebijaka-kebijakan
atau kemauan-kemauan politik (political will) mereka sendiri. Adaupun fungsi hukum
sebagai instrumen politik dalam realitas kehidupan masyarakat dapat dilihat pada
dimensi kehidupan kenegaraan suatu negara sebagai basis untuk mempertahankan
status quo untuk mengemudikan jalannya pemerintahan. Pemerintah mempunyai
tugas menyeleksi untuk menetapkan pokok-pkok pikiran dari nilai-nilai hukum yang
terdapat dalam masyarakat dan merumuskan peraturan-peraturannya melalui badan
yang berwenang, sesudah itu pemerintah masih memikirkan tentang daya guna dan
hasil guna peraturan yang dibuat, agar supaya dapat
mencapai cita-cita
ketenteraman dan kesejahteraan masyarakat.(bambang Poernomo, 1986 : 102)
Al-Risalah | Volume 10 Nomor 2 Nopember 2010

269

Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik

Mukhtar Lutfi

Keberadaan hukum dalam realitas masyarakat yang otonomi kekuatan


politiknya begitu kuat mempengaruhi sub-sistem lainnya (termasuk budaya dan
ekonomi)Sumaryati Hartono (1991). Sehingga kerapkali mengambil sikap ambivalen
(mendua) ketika pada satu sisi hukum harus memperjuangkan idealisme hukum dan
di sisi lain hukum ditekankan untuk mengakomodasikan kepentingan-kepentingan
politik. Segala aktifitas atau sikap yang berhubungan dengan kekuasaan yang
bermaksud untuk mempengaruhi dengan jalan mengubah atau mempertahankan
suatu macam bentuk susunan masyarakat.
Standar ganda (double standar) yang dimainkan hukum ini sebagai
konsekuensi logis dari pengaruh kepentingan politik, yang pada akhirnya menggiring
hukum pada suatu format tujuan dipersimpangan jalan, artinya hukum
diperhadapkan pada dua alternatif, ibarat makan si buah malakama, antara
mempertahankan ideologi hukum dengan memenuhi keinginan para politisi, sehingga
usaha penegakan hukum, para partisipan bertindak berdasarkan pembatasanpembatasan tertentu yang diatur dalam peraturan perundangan yang merupakan
salah satu perwujudan sistem dan struktur sosiaal tertentu, sistem struktur tertentu
memungkinkan adanya usaha penegakan hukum yang merugikan golongan atau
individu tertentu dan tidak ditujukan untuk mencapai keadilan sosial dan
kesejahteraan rakyat (Arif gosita, 1983 : 107)
Berkaitan hal tersebut di atas, termasuk pula penerapan asas hukum itu sendiri
yang terkadang menjadi dilematis ketika harus mengorbankan arti asas hukum demi
kepentingan politik. Sebagai illustrasi pada kasus SK menteri Penerangan Republik
Indonesia yang dikeluarkan oleh Harmoko ketika itu sebagai justifikasi untuk
mencabut surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) majalah Tempo, yang
dimenangkan samapai tingkat kasasi (Mahkama Agung), jika disimak sangat
bertentangan dengan asas lex superior derogat legi inferiori (aturan yang lebih rendah
tidak boleh bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi hirarkinya). Begitu
pula kasus Mukhtar Pakpahan yang betul betul sangat transparan melanggar asas
hukum dimana Mukhtar Pakpahan yang diputus bebas oleh hakim Agung Andoyo,
kemudian diberikan peluang kembali oleh MA kepada pihak kejaksaan untuk
mengajukan PK ini (sangat bertentangan), sebab dalam Kitab Undang undang Hukum
Acara Pidana (KUHP) sangat bertentangan dengan pasal 263 yang mengatur bahwa
yang hanya dapat mengajukan permohonan PK adalah pihak terpidana atau ahli
warisnya.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa, dari illustrasi di atas beberapa kasus
agaknya penerapan asas hukum tidak sepenuhnya diterapkan terutama ketika itu
berhadapan dengan kepentingan politik, tidak dijalankannya asas hukum secara
konsisten dan ideal sebagai salah satu faktor karena hukum itu sendiri tidak otonom.
Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh tangan-tangan politik, sehingga terlihat kesan
bila hukum berhadapan dengan politik, maka hukum tersebut akan tunduk di bawah
keinginan politisi. Ketidak otonomnya hukum terutama di negara-negara berkembang,
seperti di Indonesia ini adalah lantaran sistem kemasyarakatan , termasuk sistem
politik dan pemerintahan tidak mengenal adanya pemisahan kekuasaan yang terpisah
secara tajam, antara lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Misalnya, pada
prakteknya cenderung kita lihat lembaga legislatif juga diperankan oleh para eksekutif

270

Al-Risalah | Volume 10 Nomor 2 Nopember 2010

Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik

Mukhtar Lutfi

itu sendiri yang juga melakukan intervensi terhadap lembaga yudikatif dan
seterusnya.
Maka politik hukum, merupakan langkah kebijakan politik (political policy)
penguasa dalam memberlakukan kaidah-kaidah. Oleh karena asas hukum itu dapat
dipengaruhi produk kebijakan politik penguasa, sehingga pada setiap asas hukum
yang dirancang sedemikian rupa akan terpengaruh kehendak kepentingan politik.
Kepentingan politik bertujuan atau mempunyai obyek untuk menyelenggarakan
peraturan-peraturan hukum yang tepat (legislatif) dalam suatu keadaan, situasi, dan
waktu yang tertentu. Namun dalam instansi terakhir politik hukumlah yang
menentukan apakah pembaharuan hukum tersebut sudah dapat dilaksanakan
seluruhnya atau sebahagian atau masih belum waktunya untuk dilaksanakan.
Hanya saja menurut Laica marzuki (1999), bahwa meskipun setiap produk
undang-undang memuat serta keputusan penguasa atau penentu kebijakan politik,
tidaklah kemudian berarti kasus hukum tersebut merefleksikan visi dan kehendak
penguasa yang cenderung a priori merugikan kepentingan rakyat banyak serta
menyimpang dari asas-asas hukum pada umumnya. Adalah ideal apabila visi
kepentingan politik yang tercermin di dalamnya sesuai dengan persepsi kesadaran
hukum (budaya hukum) masyarakat banyak. Sebab berjalnnya suatu sistem hukum
berjalan dengan baik bila mana di dalamnya didukung oleh ketiga komponen yaitu
substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukumnya (Lawrence, 1975 :11)
Untuk itulah bahwa hukum tidak dapat hanya dipandang sebagai pasal-pasal
yang bersifat imperatif atau keharusan-keharusan yang bersifat das sollen, melainkan
harus dipandang sebagai subsistem yang dalam kenyataan bukan tidak mungkin
sangat ditentukan oleh politik, baik dalam perumusan materi dan pasal-pasalnya
maupun dalam implementasi dan penegakannya.
Maka optik sosiologi hukum agaknya muskil untuk menerapkan asas-asas
hukum secara konsisten dan ideal dalam suatu konteks masyarakat yang sangat
didominasi oleh sentral-sentral kekuasaan (lembaga eksekutif), terutama ketika
idealitas asas hukum sangat bertentangan atau berseberangan dengan kepentingankepentingan politik yang ada.
PENUTUP
Faktor yang menjadi hambatan tidak dijalankannya asas hukum secara ideal
dan konsisten ketika mengalami benturan dengan kepentingan politik adalah karena
hukum sebagai perangkat sosial sesungguhnya tidak otonom dan senantiasa berada di
bawah pengaruh kekuatan politik dan akhirnya mengakibatkan lunturnya
kepercayaan masyarakat terhadap penerapan asas hukum yang diterapkan.
Disamping itu pula para penegak hukum di negara kita, karena lebih menekankan
pada kepribadian kepada kepentingan penguasa sehingga akibatnya penerapan
hukum yang tampil jauh dari prinsip-prinsip keadilan.
Ketidak otonomnya hukum tersebut disebabkan oleh keberadaan hukum yang
terkadang dijadikan sebagai alat perjuangan politik kalangan yang di lembaga
eksekutif dan disamping karena sistem politik dan pemerintahan tidak mengenal
pemisahan kekuasaan yang terpisah secara tajam.
Al-Risalah | Volume 10 Nomor 2 Nopember 2010

271

Penerapan Asas Hukum dan Kepentingan Politik

Mukhtar Lutfi

DAFTAR PUSTAKA
Ali. Achmad., Menang Dalam Perkara Perdata. Ujungpandang: Ukhuwah Grika,
1997
--------Peranan Pengadilan sebagai Pranata sosial, Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum,
Ujungpandang, Lephas Unhas, 1999.
Curzon.LB., Jurisprudence. M&E Hand books, 1979
Deliar Nur, Pengantar Pemikiran politik. Jakarta: Rajawali, 1983
Effendi, Rusli dkk., Teori hukum. Ujungpandang: Hasanuddin University Press,
1991
Gosita, Arif., Masalah Korban Kejahatan. Jakarta: Akademika Pressindo, 1983
Isjwara,F. Pengantar Ilmu Politik. Bandung: Bina Cipta, 1982
Iskandar Siahaan., Politik Dalam Perspektif Hukum. Jakarta: Ind Hill co, 1984
Laica Marzuki., Materi Kuliah Politik pada Program Pascasarjana Universitas
hasanuddin, Ujungpadang, 1999
Loudoe, John Z., Menemukan Hukum Melalui Tafsir dan Fakta.
Mahfud.MD., Politik hukum di Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1998
Mertokusomo, Sudikno., Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Yogyakarta: Liberty: ,
1986
Poernomo, Bambang., Pelaksanaan Pidana Penjara dengan Sisitem Pemasyarakatan,
Yogyakarta: Liberty, 1982
Raharjo, Satjipto., Beberapa Pemikiran Tentang Ancaman antar Disiplim dalam
Pembinaan Hukum Nasional, Bandung: Angkasa, 1985
Setiardjo, Gunawan., Dialektika Hukum dan Moral Dalam Pembangunan masyarakat
Indonesia, jakarta: Konisius, 1990
Simorangkir,JCT., Hukum dan Konstitusi Indonesia, Jakarta: Gunung Agung, 1983
Sumaryati Hartono., Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional. Bandung:
Alumni, 1991
Torboni dan Syamsul Arifin., Islam Pluralisme Budaya dan Politik Refleksi Teologi
untuk Aksi Dalam Keberagaman dan Pendidikan, Yogyakarta: Sipress, 1994

272

Al-Risalah | Volume 10 Nomor 2 Nopember 2010