Anda di halaman 1dari 5

UJI BIOAVABILITAS DAN BIOEKIVALENSI OBAT

I. TUJUAN
Tujuan dari percobaan ini adalah:
1. Menentukan status bioekivalensi dari suatu produk obat yang diuji.
2. Merancang uji bioavabilitas dan bioekivalensi suatu produk obat.
II. PRINSIP
Prinsip pada percobaan kali ini adalah :
1. Bioavabilitas adalah suatu ketersediaan hayati atau suatu pengukuran laju
dan jumlah obat yang mencapai sirkulasi umum (persentase obat yang
diabsorbsi tubuh dari suatu dosis yang diberikan dan tersedia, untuk
melakukan efek terapeutisnya).
2. Bioekivalensi adalah sediaan yang laju dan jumlah absorpsinya tidak
berbeda secara bermakna apabila diberikan dalam dosis dan kondisi
percobaan yang sama (suatu proses dengan innovator produk yang telah
dipasarkan dan memiliki data valid tentang etikasi dan keamanannya).
III.

TEORI DASAR
Pada saat ini banyak produk obat dengan bahan

aktif yang sama

diproduksi dan dipasarkan oleh perusahaan yang berbeda. Obat yang dipasarkan
tersebut dapat berupa produk inovator, yaitu produk yang dipatenkan oleh pabrik
penemu,dan ada pula produk obat copy, yaitu produk yang mengandung zat aktif
yang sama dan telah memenuhi standar kesetaraan/ekivalensi dengan produk
inovator. Hasil penelitian biofarmasi telah membuktikan bahwa metode
pembuatan dan formulasi yang berbeda dari produk-produk yang berbeda tetapi
mengandung

zat

aktif

yang

sama

menyebabkan

profil

bioavailabilitas

(ketersediaan hayati) obat berbeda dan menghasilkan kualitas efek farmakologis


yang berbeda pula (Aiche dan Devissaguiet, 1993). Hal ini menunjukkan bahwa
konsep ekivalensi obat menjadi penting untuk menjamin mutu suatu obat.
Ekivalensi obat dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, diantaranya:

(1) ekivalensi farmasetik, yaitu kesetaraan antara produk obat dengan bentuk sediaan
yang sama yang memiliki zat aktif yang sama dalam dosis yang sama;
(2) ekivalensi biologis (bioekivalen), jika produk-produk obat tersebut memiliki
ekivalensi farmasetik dan pada pemberian dosis yang sama akan
menghasilkan bioavailabilitas yang sebanding; dan
(3) ekivalensi terapeutik, jika keduanya memiliki ekivalensi farmasetik dan pada
pemberian dosis yang sama akan menghasilkan efikasi klinik dan
keamanan yang sama (BPOM, 2004).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penelitian bioekivalensi agar hasil
yang diperoleh dapat digunakan antara lain adalah:
a. Subyek, yang meliputi penetapan kriteria inklusi dan ekslusi pada saat seleksi
subyek penelitian, perlakuan awal yang perlu dilakukan terhadap subyek
sebelum uji bioekivalensi dilaksanakan
b. Rancangan, antara lain berapa jumlah subyek yang akan diguna-kan, jenis
kelamin, dan rancangan penelitian
c. Perlakuan yang akan diberikan, yang meliputi dosis obat yang digunakan,
cara pemberian, rancangan pengambilan sampel seperti sampel apa yang akan
dikumpulkan (darah, plasma, atau urin) dan'waktu pengambilan sampel
Evaluasi hasil yang diperoleh, antara lain uji statistic yang akan digunakan
dan penetapan definisi dari bioekivalen sebelum uji dimulai (Udin, dkk.
2003).
Parameter farmakokinetik yang

digunakan untuk

evaluasi

status

bioekivalen suatu produk adalah:


a. AUC (area under the curve of concentration-time relationship, luas area
dibawah kurva hubungan konsentrasi dan waktu)
b. Cmaks (konsentrasi maksimum)
c. Tmaks (waktu untuk mencapai konsentrasi maksimum) (Sunoko, 2004).
Dalam praktek, Cmaks dan Tmaks diperoleh dari konsentrasi maksimum
hasil pengukuran konsentrasi dalam sampel yang diperoleh dan waktu tercapainya
konsentrasi maksimum tersebut. Perlu diperhatikan dalam penetapan Tmaks
bahwa pada daerah puncak kurva hubungan konsentrasi dan waktu profil kurva
relatif mendatar sehingga dengan adanya variabilitas metode penetapan kadar
yang digunakan maka nilai Tmaks yang diperoleh mungkin bukan merupakan

Tmaks yang sebenarnya. Tidak optimalnya frekuensi pengambilan sampel dapat


menyebabkan penetapan nilai Tmaks yang tidak akurat (Hosiana, dkk, 2000).
Bioavailabilitas suatu obat adalah laju dan jumlah relatif obat yang
mencapai sirkulasi umum tubuh (sistem peredaran darah). Laju relatif obat yang
mencapai sistem peredaran darah (laju absorbsi) dapat ditentukan dari konstanta
laju absorbsi, sedangkan jumlah relatif obat yang terabsorbsi dapat ditentukan dari
availabilitas absolut atau availabilitas relatif. Manfaat dari biavailabilitas
diantaranya adalah dapat diketahui waktu yang dibutuhkan suatu obat agar dapat
memberikan efek terapi dan seberapa banyak obat tersebut dapat terserap oleh
tubuh (Sulastri, 2006).
Dasar untuk menentukan bioavailabilitas suatu obat terlebih dahulu harus
diketahui profil disolusinya. Disolusi tablet ialah jumlah atau persen zat aktif dari
sediaan padat yang larut pada waktu tertentu dalam kondisi baku. Kondisi yang
dimaksud misalnya, dalam suhu, kecepatan, pengadukan, dan komposisi media
tertentu. Uji disolusi merupakan suatu metode fisika kimia yang penting sebagai
parameter dalam pengembangan produk dan pengendalian mutu sediaan obat yang
didasarkan pada pengukuran kecepatan pelepasan dan melarut zat aktif dari
sediaannya. Uji disolusi digunakan untuk uji bioavailabilitas secara in vitro,
karena hasil uji disolusi berkorelasi dengan ketersediaan hayati obat dalam tubuh
(Sunoko, 2004).
Bioavalabilitas absolut merupakan rasio ketersediaan zat aktif dalam
sirkulasi sistemik suatu sediaan obat terhadap pemberian i.v. parenteral.
Bioavailabilitas absolut jika diberikan pada dosis yang berbeda, membutuhkan
suatu koreksi, sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut :

Bioavailabilitas absolut sama dengan F. Di mana F adalah fraksi obat yang


terabsorpsi. Oleh karena tidak semua zat aktif tersedia dalam pemberian i.v., maka
timbulah pengertian bioavailabilitas relatif.
Bioavailabilitas relatif merupakan rasio ketersediaan dalam sistemik suatu
produk obat dibandingkan dengan standar dengan jenis zat aktif dan rute

pemberian yang sama. Bioavailabilitas relatif jika diberikan pada dosis yang
berbeda membutuhkan suatu koreksi, sehingga persamaan adalah sebagai berikut:

(Shargel, 1985).
Nilai FABS antara 0-100%, sedangkan FREL dapat lebih dari 100 % (Sunoko,
2004).
Uji Bioekivalensi (BE) merupakan data ekivalensi untuk melihat
kesetaraan sifat dan kerja obat didalam tubuh suatu obat copy dibandingkan
dengan obat innovator sebagai pembanding. Dua produk obat disebut bioekivalen
jika keduanya mempunyai bioekivalensi farmaseutik dan alternatif farmaseutik
dan pada pemberian dengan dosis yang sama akan menghasilkan bioavailabilitas
yang sebanding sehingga efek dalam efikasi maupun keamanan akan sama
(BPOM, 2004).
Uji bioavailabilitas dan bioekivalensi (BA/BE) mensyaratkan pelaksanaan
sesuai dengan pedoman praktek laboratorium yang benar (Good Laboratory
Practice) dan pedoman cara uji klinik yang baik (Good Clinical Practice). Setiap
laboratorium pengujian, untuk menyusun proposal uji BA/BE diharuskan
melakukan penelitian dan kajian pustaka, karena dalam pedoman uji bioekivalensi
tidak menentukan produk yang harus diuji maupun inovator atau komparatornya
demikian pula dengan metode yang digunakan (BPOM, 2004).
Uji BA-BE umumnya menggunakan matriks darah dan pengukuran kadar
obat dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), sedangkan urin dapat
digunakan apabila kadar obat yang utuh dalam urin lebih besar dari 40%.
(Shargel, 2005).
DAFTAR PUSTAKA

Abdou, A.M. 1989. Dissolution, Bioavailability &. Bioequivalence. Easton,


Pennsylvania: Mack Publishing Company.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2005. Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan Indonesia No. HK 00.05.3.1818 Tentang Pedoman Uji
Bioekivalensi. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Raini, M., Daroham M., dan Pudji L. 2010. Uji Disolusi dan Penetapan Kadar
Tablet Loratadin Inovator dan Generik Bermerek. Media Litbang
Kesehatan. 20(2) : 59-64.
Rusdiana, T., Y. W Wardhana dan I. Sopyan. 2013. Penuntun Praktikum
Biofarmasetik- Farmakokinetik, Vol 2. Jatinangor: Fakultas Farmasi
Universitas Padjadjaran.